Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 2 of 離合集散
Stats:
Published:
2018-01-28
Words:
3,278
Chapters:
1/1
Kudos:
6
Hits:
102

Ambiguitas

Summary:

“Apanya yang kehidupan sebelumnya? Datang-datang seolah langsung tahu semua yang terjadi.”

Terlepas dari monolog keluhan yang kulontarkan, pria yang memberiku jurnal ini, Munechika-san, adalah orang yang baik.

Notes:

AN: Tsuru(maru) centric. OOC warning

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Ini jelas-jelas kutukan.

Di dalam genggamanku, sebuah jurnal berlapis kulit coklat tua berada. Jurnal pemberian pria yang mengaku mengerti keanehan yang mengganggu kepalaku. Jurnal itu diberikannya di pertemuan pertama kami. Waktu itu aku masih terbaring di atas kasur putih karena kecelakaan dua setengah bulan yang lalu.

Semua orang terdekatku selalu menceritakan kekhawatiran luar biasa yang menghantui mereka ketika mendengar beritaku di televisi. Tetapi begitu mereka mengunjungiku semuanya menghela napas lega.

Minggu cerah di akhir Maret ini setidaknya sedikit menenangkanku. Ditambah dengan suasana taman yang hidup, semuanya bisa membuatku cukup untuk mengsugesti diri ini bahwa semuanya baik-baik saja.

Ramalan cuaca hari ini dikabarkan akan tetap cerah hingga sore. Suhu tidak akan mencapai 14 derajat celcius dan matahari akan menyertai semua umat manusia selama satu hari penuh tanpa dihalangi oleh awan menjengkelkan. Ini yang kubutuhkan. Tidak bagus mengekang diri sendiri dengan berbagai pikiran negatif dan menganggap hal semacam itu adalah sedatif.

Aku mengambil napas dan mengeluarkannya perlahan. Di umurku yang ke 22 tahun, ini pertama kalinya aku dikalutkan oleh masalah yang sebenarnya bukan masalahku. Kasarnya sih begitu. Tetapi seperti apapun caraku menolak hal tersebut, pada akhirnya aku memang terikat dengan masalah itu. Aku harus menyelesaikannya sekarang.

Hei, kau.

Apa kau suka dengan kejutan? Bagaimana kalau ada kejutan itu adalah reinkarnasi?

Apa kau akan menelannya bulat-bulat? Atau masih membiarkan kepalamu untuk berpikir secara rasional?

 

 

 

 

 

Pukul 9.37 pagi.

Begitu yang jam kecil di pergelangan tanganku bertutur. Tiga menit lagi, kereta akan datang sesuai jadwal yang kudapatkan dari aplikasi peta online. Orang itu, Mikazuki Munechika—tolong jangan tertawakan namanya yang aneh, akan sampai di stasiun pada pukul 9.40. Dia sudah memberitahuku lewat LINE mengenai hal ini, dan kini setidaknya aku harus memasang wajah terbaik dalam pertemuan terakhir ini.

Bukannya aku sengaja untuk menyambutnya dengan tangan terbuka, tetapi aku tidak enak kalau sampai mengabaikan seseorang tanpa memberitahu alasan dengan jelas. Aku harus mengakhirinya hari ini.

Sambil berpura-pura sibuk dengan menggeser layar ponselku, sesekali aku mencuri pandang ke seluruh sudut yang dapat ditangkap oleh mataku. Tidak seperti yang kusangka, ada banyak orang yang hadir di taman seperti ini sekarang. Anak-anak yang keluar pun adalah mereka yang terlihat akan masuk SD musim semi nanti. Di sebelah sana ada sepasang anak perempuan berpakaian seragam yang sedang main ayunan—tebakanku mereka adalah anak kembar. Di sudut sana ada anak laki-laki yang sedang membalikan badannya ke arah pohon dan menghitung mundur. Di depan mereka ada sekelompok anak yang lebih kecil—aku rasa mereka baru TK, yang sedang bermain pasir dengan pengawasan orang tua mereka. Semuanya normal.

Sekarang aku mengalihkan perhatianku kepada orang yang lebih dewasa. Ada beberapa anak remaja perempuan yang sedang berbincang-bincang. Sepasang kekasih yang sedang berjalan berdampingan juga ada. Tak luput juga beberapa orang yang alergi dengan serbuk bunga sudah bersiap-siap dengan masker mereka. Sesekali, orang yang berjalan cepat tanpa melepaskan pandangan mereka dari layar gawai mereka. Semuanya normal.

Aku sedikit kaget kalau semuanya ... normal.

Tetapi di sisi lain, aku merasa semua kenormalan ini diam-diam menertawakan keabnormalanku seperti biasanya. Dan aku tidak nyaman dengan itu. Tepat seperti ketika orang-orang memandangku aneh karena kulit dan rambutku berwarna pucat bak orang sakit. Atau ketika mereka menunjuk ke arahku karena memiliki mata yang berwarna seperti kulit yang memar—ungu kemerahan. Sangat ... tidak normal.

Menjadi albino adalah kejutan besar yang pertama kali kuterima dalam hidupku. Dan jujur saja aku tidak suka dengan kejutan macam itu. Setelahnya, aku mencoba untuk membiasakan diri dengan berbagai kejutan agar tidak sentimen seperti diriku saat masih kecil. Aku menggunakan kontak lensa, mengenakan pakaian yang hampir menutupi seluruh tubuhku, dan sebisa mungkin tidak menatap wajah orang lain kalau tidak diperlukan. Bisa dikatakan hal itu berhasil, tetapi tetap saja aku masih tidak menyukai beberapa kejutan yang muncul. Yang sekarang tengah membombardirku sekarang ini adalah salah satunya.

Bayang-bayang dari hari-hari di mana aku mengangkat senjata—pedang, dan melawan musuh asing demi melindungi sesuatu yang abstrak. Dari jurnal milik Munechika-san, aku baru sadar kalau mereka adalah pihak yang ingin mengubah sejarah demi kepentingan mereka sendiri.

Lalu, dalam bayangan itu, aku merupakan menifestasi dari burung jenjang yang dituangkan ke dalam karya seni tersohor di seluruh negeri. Bahkan saking tersohornya, ketika pemilikku membawaku menuju liang lahat, mereka sampai menggali peristirahatan tuanku dan mengambil aku.

Kurasa hidupku di masa yang lampau menyenangkan juga ya, awalnya aku berpikir begitu.

Tetapi terlepas dari itu, jujur aku tidak memiliki ketertarikan dengan dongeng reinkarnasi macam itu—kalau pun aku tahu, lalu apa yang harus kulakukan? Apa esensinya terlalu mengingat kehidupan sebelumnya? Mengangkat pedang ditengah jalan sampai aku diciduk polisi karena membawa senjata tajam? Mengejar sesuatu yang tidak bisa kudapatkan di kehidupan lampau? Meluruskan sejarah? Aku juga sudah memikirkan puluhan kemungkinan lainnya yang bisa kulakukan dengan ingatan masa lalu itu, tetapi tidak ada satu pun yang terdengar logis untuk kulakukan kecuali yang terakhir.

Itu pun aku tidak punya minat dengan sejarah.

Meski kuakui aku tidak memiliki ketertarikan dengan reinkarnasi sendiri, ada satu aspek yang berhasil menarik perhatianku, yaitu penggambaran sifat diriku. Baik aku yang sekarang maupun aku yang dulu, ada satu kesamaan yang tak kuduga tetap melekat pada diriku. Tak lain adalah kegemaran untuk mengejutkan orang lain. Gambaran aneh, yang Munechika-san sebut sebagai kilas balik, yang kudapatkan memang sepotong demi sepotong. Jika potongan itu bercerita tentang aku yang menjalani keseharianku, sebagian besar diantaranya merupakan gambaran tentang mengejai seseorang. Jujur saja, aku suka dengan penggambaran itu.

...yah, tetapi bagaimanapun juga, rasanya masih tidak terbayang aku di kehidupan semacam itu tetaplah aku yang ada di zaman di mana manusia dikatakan sampai pada masa keemasannya.

Aku kembali membuka jurnal secara acak. Aku sudah menyelisiknya beberapa hari yang lalu, jadi yang kulakukan sekarang cuma agar terlihat sedikit sibuk saja. Isinya terlalu membingungkan. Serapih apapun tulisan yang ada di dalam jurnal ini, bagiku ini sama saja dengan memaksakan kepalaku untuk memasukan semua rumus matematika yang kupelajari dari SD hingga SMA dalam waktu 5 menit.

“Apanya yang kehidupan sebelumnya? Datang-datang seolah langsung tahu semua yang terjadi.”

Terlepas dari monolog keluhan yang kulontarkan, pria yang memberiku jurnal ini, Munechika-san, adalah orang yang baik.

Haah.

Aku bosan, tetapi aku tidak boleh gegabah di tempat seperti ini. Karenanya, aku menggerakan kakiku ke depan dan ke belakang agar bisa sedikit mengusir kebosanan. Di saat aku hendak mengecek ponselku lagi, suara bising kereta yang merapat menuju peron terdengar. Aku langsung bangkit dan mengambil langkah agak tergesa-gesa menuju pintu stasiun.

Penampilannya mudah membaur dan hampir saja aku tidak melihatnya. Kini Munechika-san berdiri didepan stasiun. Harus kuakui, walau aku merasa asing dengannya, namun di sisi lain terasa akrab dengan sosoknya.

Melihat gerak-geriknya yang lebih mirip anak kecil yang hilang dari orang tuanya ketika festival musim panas tiba, aku berjalan pelan-pelan mendekatinya. Aku mencoba sebisa mungkin untuk membaur dengan suasana di sekitarku. Apa? Tentu saja aku akan menjadikannya korban pertama di hari yang cerah ini. Tidak ada hari seorang Tsuru Kuninaga yang terlewatkan tanpa mengejutkan seseorang.

Kini aku sudah berjarak 10 meter darinya, tetapi entah bagaimana seorang yang mengaku detektif kriminal ini masih bisa celingukan tanpa menyadari keberadaanku. Keputusanku untuk mengagetkannya sudah bulat ketika sebuah sensasi aneh yang merekah di dadaku tiba-tiba membuat kakiku menghentikan langkah tanpa kuperintah.

Aku langsung memalingkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Sudah sekitar 5 detik dari awal munculnya perasaan tidak mengenakan dan ingin membuatku berlari. Kini aku sadar, memang aku ini aneh ketika mendapati diriku menatap pundak seorang pria yang mungkin seumuran denganku berjalan melewatiku. Aku tidak mengenalnya, hanya saja aku seperti pernah melihatnya. Tidak, bahkan aku merasa kalau aku mengenalnya. Surai rambut coklat tua yang perlahan berubah menjadi merah terang pada ujungnya, lalu kulit sawo matang itu—

“Wa! Hahaha, apa aku mengagetkanmu?”

Aku terkejut ketika mendengarnya. Bahkan pundakku sampai terangkat beberapa senti ketika mendengar seruannya. Padahal Munechika-san yang ingin kukagetkan. Kini mengagetkanku. Ia menampakan senyuman tak bersalah atas kejutannya. Sepertinya ia di masa ini tidak masalah mengagetkan orang lain.

“Duh, padahal aku yang ingin mengagetkanmu dulu, tapi malah kau yang mengagetkanku,” kilahku.

“Kalau begitu, aku minta maaf karena sudah mencuri kesempatanmu. Sebagai gantinya, nanti akan kutraktir secangkir kopi di kafe nanti.” Wah, aku tak menyangka akan mendapat traktiran seperti ini. “Ngomong-ngomong, kenapa tidak jadi mengagetkanku?”

“Itu,...” aku sedikit mencuri pandang dari arah di mana pria bersurai coklat tua gradasi merah itu pergi, dengan harapan agar bisa menemukan sosoknya dan menjadikannya alasan. Tetapi sosoknya kini sudah menghilang, mungkin tidak menghilang sepenuhnya tetapi berbaur dengan kerumunan orang di sekitar sini. “Tadi aku tiba-tiba lagi melamun saja.”

“Jangan melamun tiba-tiba seperti itu. Bisa-bisa kakimu membawamu ke arah jalanan dan semuanya akan berakhir begitu saja.”

“Seram sekali kata-katamu, Munechika-san. Aku tidak akan mengulangnya lagi, deh.”

Munechika-san terkekeh pelan. “Nah, bagaimana kalau mengantarku ke kafe rekomendasimu? Sekalian aku membayar hutang karena sudah mengagetkanmu.”

 

 

 

 

Munechika-san ini orangnya agak,.. aneh. Caranya tertawa dan aksen bicaranya tidak seperti orang hampir menginjak usia kepala tiga. Malah lebih cenderung seperti orang yang sudah uzur namun memiliki suara yang dapat membuat banyak wanita terpukau.

Aku juga tidak mengerti kenapa dirinya yang tidak ditugaskan menjadi detektif di kotaku bisa tahu mengenai kecelakaanku dan menemuiku empat mata. Jangan-jangan dia memiliki kemampuan lebih dalam hal ketelitian? Entahlah. Aku baru mengenalnya beberapa waktu terakhir, bertegur sapa hanya dengan frekuensi seperlunya lewat teknologi mutakhir daripada bertemu langsung. Berdasarkan semua itu, aku menyimpulkan bahwa aku ragu dugaanku mengenai sifat telitinya benar.

Selanjutnya, aku tidak mengerti kenapa ia bersikeras meminum teh daripada kopi seperti sekarang. Teh lokal, tepatnya.

Bahkan ia sampai berdebat agak sengit dengan waitress hanya karena tidak ada teh lokal yang dia inginkan, dan dengan sangat terpaksa ia memesan teh chai.

Jujur saja sebenarnya selama mereka berdebat, aku menutup wajahku dengan buku menu. Di kota kecil seperti ini, tentu saja penyebaran gosip itu lebih cepat daripada kecepatan suara. Bisa-bisa aku diteriaki dan ditertawakan oleh tetangga saat ia menyiram tanaman pada saat petang hari nanti.

“Ini pertemuan kedua kita setelah kau mengingat masa lalumu, ya,” dia membuka pembicaraan. Aku tidak bisa menghitungnya sebagai basa-basi, jadi langsung saja kutanggapi dengan serius.

“Sebenarnya, aku masih mencoba untuk mengingatnya, haha,” kilahku. Aku sedikit ragu kalau kata-kataku ini cukup meyakinkannya.

“Tidak apa-apa kok. Tidak usah memaksakan diri untuk mengingat semuanya.”

Syukurlah ia tidak mencurigainya. Aku juga tidak mau kerepotan membagi tempat disudut kepalaku demi memori aneh itu.

“Bagaimana kabar—“

“Anu, Munechika-san—“

Ketika aku mencoba mengatakan tujuanku yang sebenarnya, Munechika-san juga mengangkat suara. Ini bukan hal yang kuprediksi sebelumnya, jadi aku merasa aneh dan tidak enak dengannya. “Silakan kau dulu,” reflekku menyahut.

“Tidak. Sepertinya kau ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Aku tidak akan menyela kok. Silakan sampaikan semua yang ingin kau sampaikan.”

Aku menelan salivaku dan mengambil napas dalam-dalam. “Munechika-san, sebenarnya akhir-akhir ini aku berpikir bagaimana kalau kita berteman biasa saja tanpa ada embel-embel teman ... dari kehidupan sebelumnya.”

Ia tidak menjawab dalam beberapa detik ke depan. Ekspresi wajahnya hanya berubah sedikit, namun menunjukan keterkejutan setelah mendengarkanku. Selang beberapa detik, dari caranya mengubah ekspresinya, aku makin ragu untuk memprediksikan berbagai kemungkinan yang akan dihasilkan ketika aku mengutarakan hal-hal yang radikal. “Aku tidak kaget mendengarnya dari orang yang hanya kutemui sekali sebelumnya. Justru aku yang memang terlihat seperti orang aneh ya, hahaha.”

“Bukan seperti itu.” Aku tidak suka dengan tawanya yang seakan menganggap kalimatku hanya candaan. Aku ingin sedikit menaikan nada bicaraku sambil berkata, ‘aku serius loh.’

“Aku... bagaimana aku menjelaskannya ya...”

“Pelan-pelan saja. Aku akan mendengarkan baik-baik kok. Aku tidak akan mematukmu kok hahaha.”

Baiklah, kalau dia berkata seperti itu, setidaknya dia sudah mendeklarasikan dirinya siap untuk apapun yang kuucapkan. “Begini, aku merasa kalau semua ucapanku waktu aku masih di rumah sakit itu hanya bualan semata. Aku yakin itu hanya halusinasi setelah kecelakaan saja. Jadi,...”

Sampai titik ini, Munechika-san sama sekali tidak berniat hendak memotong pembicaraanku. Wajahnya meleburkan semua ekspresi menjadi satu, yaitu wajah datar yang menjebak. Mungkin kedua mata hitam pekatnya yang memiliki central heterochromia berwarna kuning secerah bulan purnama mengutukku karena hendak mengucapkan sesuatu yang buruk sehingga aku susah menyusun kalimat agar dapat menyampaikan semua maksudku dengan benar. “Jadi, aku rasa mungkin pertemuan ini adalah yang terakhir. Setidaknya sebagai seseorang yang di kehidupan sebelumnya pernah bertemu denganmu.”

Berhasil. Aku berhasil mengutarakannya. Sekarang tinggal menunggu reaksinya lalu aku bisa menentukan langkah selanjutnya.

“Kenapa kau berpikir seperti itu, Tsurumaru Kuninaga?”

Aku tidak mengerti sejak kapan kebiasaan menyebut nama orang yang diklaim sebagai diriku di kehidupan sebelumnya itu bermula, tetapi itu menggangguku. “Karena aku pikir semua ini hanya kebetulan semata. Aku yakin saat itu aku hanya kebetulan sedang meracau yang aneh-aneh setelah kecelakaan itu. Di saat itu, kebetulan kau datang dan mengaku mengerti semua racauan itu. Karena itu, aku minta maaf atas semua ucapan tidak jelas pada waktu itu.”

Aku pada waktu itu, maksudku pasca kecelakaan yang menimpaku, aku mengalami keanehan yang bahkan membuat dokter yang menanganiku sampai memberi rekomendasi kenalan psikiaternya setelah aku diperbolehkan pulang. Tak lain semua itu karena berasal dari semua ceritaku tentang ingatan baru yang kudapatkan setelah kecelakaan.

“Beberapa waktu terakhir ini, aku telah mencari tahu tentang hal semacam ini di mana-mana. Memori palsu. Aku juga menemukan yang namanya konfabulasi, di mana otakku bahkan tidak sadar kalau ingatanku itu palsu. Yah, walaupun aku begitu tidak yakin kecelakaan dapat memicunya. Karenanya, aku menolak menyebut semua itu sebagai ingatan.”

Beberapa detik berlalu setelah aku mengatakan segalanya dan Munechika-san masih tetap pada posisinya. Aku yakin ini terlalu mengagetkannya. “Jadi, aku harap kau anggap saja ucapanku dulu itu hanya angin. Tapi, aku tidak keberatan jika kita mulai berteman tanpa embel-embel kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya.”

“Apa itu tidak apa-apa?”

“Tentu saja! Aku tidak keberatan berteman dengan siapa p—“

“Maksudku apa kau tidak merasa ingin tahu lebih dalam mengenai kehidupanmu yang sebelumnya? Itu artinya kau menolak semua ingatan itu, bukan?”

“Sebenarnya aku ragu dengan reinkarnasi itu sendiri, Munechika-san.” Terus terang saja aku mengaku. “Aku bukan orang yang religius. Tidak ada bukti konkrit yang bisa membuatku menelan fantasi semacam itu. Aku lebih bisa menerima keadaan kalau kecelakaan itu menyebabkan diriku mengalami gegar otak dan munculnya halusinasi sebagai efek sampingnya daripada,.. yah ingatan yang mengaku merupakan ingatanku dari kehidupan sebelumnya.”

“Tetapi kalau aku katakan aku pernah menemui orang yang mengakui memiliki keanehan sepertimu, bagaimana? Apa kau masih bersikukuh dengan pendapatmu?”

“Selama tidak ada bukti konkrit—“

“Apa kau sudah membaca baik-baik jurnalku?”

Aku tidak tahu apa orang ini juga punya hobi untuk memotong saat lawan bicaranya mengeluarkan pendapat, tetapi ini membuatku sedikit jengkel. Mata Munechika-san terarah kepada jurnalnya yang kuletakkan di sampingku. Awalnya memang ingin kuberikan langsung kepadanya secepat mungkin setelah bertemu.

“Semua yang kutulis di dalamnya itu nyata.”

Mungkin memang benar kalau aku harus mengatakan kejutan yang radikal sekalian. Aku tidak peduli lagi dengan norma.

“Munechika-san, aku tidak tertarik pada imajinasimu.”

Aku bersyukur kali ini cukup dengan satu kalimat, dia bisa berhenti memaksakan logika anehnya padaku. Tetapi sepertinya aku sedikit keterlaluan. Karena ia sampai tidak berkata apa-apa lagi hingga pesanan teh chainya dan kopi affogatoku sampai.

Kalau boleh mengaku, hatiku masih penasaran dengan penjelasannya mengenai jurnal yang susah dimengerti itu. Tetapi aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan menganggap hal semacam itu serius. Bahkan anak SD juga bisa membuat jurnal fantasi mereka seperti yang ditulis Munechika-san.

Munechika-san ini orangnya aneh. Aku masih tidak bisa mengerti kenapa orang sepertinya terjebak dalam fantasi anehnya. Walaupun dia orangnya aneh, jujur saja, aku tidak sampai hati untuk menertawakan keanehannya.

 

 

 

 

“Sekali lagi aku minta maaf, Munechika-san. Sayang sekali, aku ada janji mendadak dengan adik tingkatku.”

Aku bangga sekali dengan kelihaianku dalam memelintir fakta di saat-saat krusial. Aku yakin orang yang baru bertatap muka satu  atau dua pertemuan denganku masih belum bisa membedakan perkataanku yang sesungguhnya dengan yang dusta. Mungkin aku berbakat menjadi aktor cameo pentas  drama panggung.

“Tidak apa-apa,” balasnya singkat tanpa mengurangi senyuman di wajahnya. Aku sedikit kasihan orang sebaik ini harus kujebak kebohongan. “Ada hal yang harus kuurus juga sore ini. Maaf kalau aku tidak mengatakannya sejak awal.”

“Kalau ada waktu senggang atau kau ingin mendapatkan udara segar bebas dari polusi kota, hubungi aku dan datanglah kesini! Aku akan dengan senang hati mengantarmu.”

“Hahaha, sepertinya aku baru bisa dapat liburan setelah musim semi yang selanjutnya. Terima kasih untuk hari ini, Kuninaga.”

“Serahkan padaku!” dan aku menyunggingkan senyum tercerah yang dapat kutampilkan.

“Terima kasih untuk hari ini. Jangan terburu-buru di jalanan seperti 2 bulan yang lalu, Tsurumaru Kuninaga.”

Hah.... Nama itu lagi.

“Hidup itu butuh yang namanya kejutan, Munechika-san. Kau seharusnya menunggu kabar mengejutkan dariku!”

“Hahaha, baik, aku akan menunggunya. Sampai jumpa.”

Ia lalu melambaikan tangan dan pergi ke dalam stasiun. Akhirnya urusan ini berakhir. Ia memang mengatakan sampai jumpa, tetapi aku tidak berharap untuk bertemu dengannya suatu saat nanti masih membahas fantasi gilanya.

Kereta akan datang dalam waktu 3 menit lagi. Meski begitu, Munechika-san terlihat tenang tanpa khawatir akan ketinggalan kereta bahkan masih menyempatkan berbicara cukup        denganku. Malah di dalam stasiun dia masih celingak-celinguk layaknya anak hilang. Aku yakin stasiun kotaku ini sudah kecil dan cukup simpel, sehingga tidak mungkin membuat siapapun tersesat.

“Hati-hati memegang tiketnya ya! Kalau kau takut tersesat, coba tanya kepada petugas di stasiun. Jangan percayai orang aneh yang menawarkan apapun, ya?”

“Siap, Mama!”          

Lagi-lagi perasaan aneh ini. Aku masih tidak mengerti kenapa kepalaku yang menolak mentah-mentah fantasi gila Munechika-san malah merasakan perasaan aneh sejak berpapasan dengan orang yang memiliki rambut coklat dengan warna merah terang pada ujungnya siang tadi. Mungkin ini tanda-tanda aku akan masuk angin atau migrain. Pulang nanti aku harus istirahat.

Aku berbalik dan melangkahkan kakiku ke arah apartemen yang berjarak 15 menit dari stasiun. Aku harus bergegas kalau mau mendapatkan istirahat yang cukup dan siapa tahu bisa menghilangkan segala kegilaan hari ini.

Sejujurnya, aku masih penasaran dengan sosok yang membuat hatiku seperti ada yang mengganjal lagi. Kutolehkan kepalaku menuju arah di mana sekiranya sumber perasaan aneh dihatiku berasal, dan yang kutemui hanya ibu yang sedang menceramahi anaknya sebelum melakukan perjalanan sendirian dengan kereta.

...ya, aku tahu. Kau akan menganggapku pedofil bukan?

Bah. Menjijikan.

Aku makin yakin kalau perasaan aneh yang mendadak ini merupakan salah satu efek dari imajinasinya Munechika-san yang secara tidak langsung memengaruhi alam bawah sadarku. Aku memang benar-benar harus beristirahat dengan tenang agar bisa menghilangkannya.

“Jaga barang bawaanmu baik-baik, ya. Jangan sampai ada yang tertinggal. Mama titip salam untuk Kak Mitsu.”

Anehnya, aku malah memperlambat langkahku agar aku dapat mendengar percakapan mereka lebih lama. Anak itu mendadak terlihat gelisah. “Mama, keretanya sudah datang loh. Tiketnya! Tiketnya!”

Ah, aku paham kok.

Siapa yang tidak gelisah kalau keretanya sudah datang tetapi kau belum menyiapkan tiketmu?

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya, tetapi aku dapat mendengar langkah terburu-buru yang menjauh. Aku memang tidak dapat memastikan kalau suara langkah itu miliknya, tetapi aku yakin sepenuh hati kalau suara itu milik kakinya.

...hah, aku ini kenapa sih?

Didorong oleh rasa penasaran dan tidak nyaman, baru pada detik ini aku membalikan tubuhku dan memerhatikan sosoknya. Mungkin umur anak ini sekitar 10 tahun. Tingginya kira-kira sedadaku. Rambutnya berwarna biru tua. Walau ia membawa tas yang cukup besar, anak ini tampak tidak keberatan membawanya.

“SADA-CHAN!”

Aku cukup kaget sang ibu berani berteriak memanggil nama anaknya. Anak itu—asumsikanlah namanya Sada, membalikan punggungnya dan menengok ke arah ibunya sambil memamerkan senyumannya.

Sayangnya, senyumannya tak bertahan dalam waktu lebih dari 3 detik hingga akhirnya mata anak ini cukup tajam untuk membalas tatapan orang dewasa yang diam-diam memerhatikannya—yang tak lain adalah aku. Kedua bola matanya yang berwarna kuning-oranye cerah tampak terbelalak tidak percaya. Tetapi itu wajar. Siapa orang yang merasa senang ketika tahu dirinya bertatap wajah dengan stalkernya? Oh Tuhan. Pasti aku telah membuat sebuah luka traumatis di hati anak itu.

Aku langsung membalikan punggungku. Aku tidak mau dijuluki pedofil atau stalker. Aku sudah cukup puas beradu argumen dengan Munechika-san akan hal yang tidak nyata hari ini. Tidak perlu ditambah hal yang lebih aneh lagi.

Aku harus mampir ke apotek untuk membeli obat pusing. Pasti aku sedang berhalusinasi karena lelah. Aku dapat memastikan kalau alasanya karena lagi-lagi aku merasa kenal dengan bocah di stasiun itu.

Notes:

Thanks to kak Vanya yang mau balas chatku jam 2 pagi cuma buat bahas konfabulasi <_ _>

 

Terima kasih kepada reader-san yang sudah baca sampai sini ^^
Bagaimana? Mungkin rasanya sedikit aneh kalau Tsurumaru yang selalu digambarkan belingsatan malah jadi serius nan skeptis kayak di ff ini (aku juga ngaku kok uwu). Aku bahkan jadi ngebayangin tsuru ff ini semacam saudara jauhnya Makishima Shogo hahaha. Yang mungkin karena saking seriusnya malah jadi OOC ^^a tetapi aku harap kalian tetap terhibur membacanya.

Ambiguitas di judul bukan berarti ambigu yang dalam konteks NSFW dan sejenisnya wkwk. Ambiguitas di sini lebih kepada konsep aimai (曖昧) dalam masyarakat Jepang sendiri, di mana mereka mengedepankan ambiguitas dalam bersosialisasi agar dapat menjaga perasaan lawan bicara. Ada macam-macam bentuk aimai ini, tapi yang aku ambil cuma sebatas nggak menyatakan ya, tidak, dan maksud secara gamblang.

Dan, sampai jumpa di ff selanjutnya ^^/

Series this work belongs to: