Actions

Work Header

Meeting You Again

Summary:

Sebelum dieksekusi oleh orang yang dicintainya, Itadori mengatakan jika ia ingin bertemu dengan pria itu lagi di kehidupan selanjutnya, jika ada.

Work Text:

Seminggu setelah pelaksanaan eksekusi Itadori Yuuji dilakukan, ‘tak sekalipun Gojo Satoru dapat melewati malam dengan tenang. Mimpi buruk—tidak, lebih tepatnya ingatan ketika ia mengakhiri sendiri hidup wadah sang Raja Kutukan, selalu terbayang jelas dalam setiap kesempatan mata terpejam. Gojo bersyukur dengan fakta ia yang menggunakan penutup mata tidak dipandang aneh, sebab kain hitam itu tidak lagi untuk mengatasi The Six Eyes miliknya, melaikan befungsi sebagai penyamar gelapnya kantung mata. Bahkan, boleh jadi sudah menyaingi mata panda anak muridnya Okkotsu Yuuta.

Gojo Satoru yang paling kuat. Gojo Satoru yang paling agung. Biar ia sempat tersegel dalam sebuah kotak. Biar Itadori Yuuji yang berhasil mengeluarkannya. Tetap saja nama Gojo Satoru lah yang diagung-agungkan. Itulah mengapa ia juga yang ditunjuk untuk mengesekusi Itadori Yuuji.

“Yuuji, ayo kabur bersama.” Siapa sangka Gojo akan mengatakan itu ketika ia dihadapkan oleh Itadori yang sudah siap menyerahkan hidupnya. Siapapun yang mendengar hal itu pasti akan berpikir jika Gojo telah kehilangan sebagian kewarasannya ketika masih terkurung di kotak. Namun, Itadori tidak berpikir begitu. Kala itu hanya mereka berdua dalam ruangan tertutup. Gojo meminta sendiri agar ia dibiarkan melakukan pengeksekusian privat. Para petinggi menyanggupi dengan syarat jika ia mencoba melakukan hal macam-macam, maka Gojo Satoru juga akan dieksekusi atas pengkhianatan. Jelas itu cuma omong kosong. Siapa yang lebih berkuasa untuk membinasakan The Six Eyes? Bahkan Kenjaku hanya mampu menyegelnya.

“Sensei, tidak apa,” kata Itadori. Ia mengadah, menemukan Gojo yang sudah melepas penutup matanya. Sepasang manik biru cerah itu menyimpan banyak emosi di dalamnya.

“Yuuji.” Gojo sangat marah pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia dapat membunuh orang yang menyelamatkannya? Bagaimana mungkin dia dapat membunuh muridnya? Bagaimana mungkin dia dapat membunuh Itadori Yuuji-nya? Jika saja kedua tangan Itadori tidak dikekang saat ini, ingin sekali pemuda itu menangkup wajah Gojo.

“Sensei, terima kasih sudah jadi guruku, berjuang buatku, mengajariku banyak hal, dan percaya padaku.  Aku senang bisa bertemu denganmu. Kalau kehidupan selanjutnya itu ada, aku mau ketemu sama Gojo-sensei lagi. Hehehe. Eh, sensei jangan menangis.” Gojo sungguh tidak bisa berkata-kata dan tidak bisa menghentikan air matanya. Jika Itadori ingin mengakhiri hidupnya, jika memang itu caranya menebus dosa-dosanya di Shibuya, Gojo tidak dapat menghentikannya. Sebab hidup Itadori Yuuji bukan miliknya sejak awal.

 “Ryouki Tenkai…”

“…sampai bertemu lagi, Gojo-sensei.”

“…Muryoukusho.” **

Hari ke sepuluh adalah puncaknya. Gojo jatuh dalam kesedihan tanpa batas. Ini adalah hukuman yang pantas untuk pengemban teknik tanpa batas sepertinya. Topeng yang ia kenakan sehari-hari tidak lagi mempan untuk mengelabui orang sekitarnya. Mereka muak, muak melihat Gojo Satoru dengan kepura-puraannya. Tapi, ‘tak satupun berani menegur. Tidak, tidak ada hak mereka mencampuri. Mereka semua mengikuti pria itu untuk bersikap normal. Jika itu bisa membuat semua menjadi sedia kala.

Fushiguro Megumi sudah tidak tahan. Ia kehilangan dua rekannya sekaligus dan dia tidak baik-baik saja. Gojo Satoru kehilangan Itadori Yuuji. Sudah pasti pria itu sama hancurnya, sama sakitnya dengan Fushiguro. Karena si pemimpin muda Zenin tahu seperti apa Itadori untuk Gojo. Hari itu Fushiguro berniat mengunjungi gurunya. Karena aneh melihat pria itu tidak muncul tanpa kabar. Ketika misi yang dikerjakan Fushiguro sudah selesai, ia langsung mampir ke kediaman Gojo. Rumah itu memang sepi karena penghuninya hanya satu. Itupun sering tidak ada di tempat.

 

Fushiguro masuk lebih jauh menuju basement. Dia ingat Itadori mengatakan selama “kematian”nya, wadah Sukuna itu menghabiskan waktu di tempat ini. Di saat sibuk menerka-nerka bagaimana kehidupan Itadori saat itu, Fushiguro menemukan Gojo terbarin di sofa sembari memeluk hoodie milik Itadori. Ia terlihat damai, membuat perasaan Fushiguro tidak tenang. Karena Gojo selalu was-was akan sekitarnya. Saat sudah di samping pria itu, tidak ada tanda-tanda Gojo menyadari kehadiran Fushiguro. Fushiguro mencoba menyentuh bahu Gojo untuk membangunkan pria itu, saat ia menyentuhnya tidak ada penghalang yang biasa terpasang.

Aneh. Benar-benar aneh. Fushiguro mulai resah. Gojo Satoru tidak pernah menonaktifkan tekniknya. Bahkan untuk orang-orang di dekatnya. Hanya Itadori Yuuji yang entah sadar atau tidak, ia sendiri yang mampu menyentuh Gojo Satoru.

“S, sensei…” Fushiguro mencoba mengeluarkan suaranya yang terasa sangkut di tenggorokan.

“Gojo-sensei!” Masih tidak ada jawaban. Sang murid pun  mencoba menggoyang-goyangkan tubuh gurunya demi mendapat respons.

“Gojo Satoru!” Kali ini Fushiguro berhasil mengeluarkan suaranya lebih keras dan Gojo masih tidak merespons.

Fushiguro sudah menghentikan usahanya  membangunkan Gojo. Kepala tertunduk dengan kedua tangan mengepal erat. Fushiguro Megumi sekali lagi kehilangan orang terpenting dalam hidupnya. Siapa lagi yang akan meninggalkannya nanti? Tidak cukupkah yang sudah-sudah?

Berita kematian Gojo Satoru tidak langsung tersebar. Para petinggi mencoba menutup-nutupi hal tersebut. Ieri Shoko yang menangani otopsi Gojo dipaksa tutup mulut atas penyebab meninggalnya pria itu.

Orang-orang menerka makhluk seperti apa yang mampu membunuh Gojo, si terkuat. Bahkan, ketika insiden Shibuya terjadi, pria itu hanya mampu disegel saja.

Tentu saja di atas langit, masih ada langit.

Tapi, Gojo Satoru adalah semesta itu sendiri. Dan jika ada yang mampu mengakhiri hiudpnya, tidak menutup kemungkinan oleh tangannya sendiri. Gojo Satoru bunuh diri.

 20 tahun kemudian.

Sebuah kebakaran besar terjadi di sebuah sekolah menengah dasar di Tokyo. Api berkobar ‘tak kunjung padam meskipun pihak pemadam kebakaran sudah datang dengan empat mobil besar sekaligus.

“Semuanya apa sudah keluar?” Seorang wanita bertanya.

“Sensei, Satoru-kun tidak ada di sini,” salah satu anak menjawab membuat wanita yang dipanggil sensei itu memasang ekspresi horor.

“Masih ada anak yan belum keluar?” Salah satu petugas pemadam kebakaran mendengar obrolan tersebut. Tidak menunggu Jawaban ia kembali bertanya, “bisa beritahu padaku di mana ia sekarang?” Guru dan murid itu memberi keterangan singkat dan jelas. Sang petugas pemadam kebakaran mengangguk. Setelah memberitahu rekannya, ia pun masuk ke gedung sekolah seorang diri. “Satoru-kun! Di mana?! Satoru-kun! Tolong jawab!” Sang petugas pemadam kebakaran terus meneriakkan nama si anak.

Api menjalar dengan cepat. Beberapa runtuhan kecil menghambat si petugas untuk mencari anak malang yang terjebak kebakaran tersebut. Hingga perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara isak tangis anak kecil. Ia pun mencari sumber suara dan menemukan seorang anak berambut putih tengah menangis di sudut ruangan.

“Satoru-kun!” Tidak salah lagi, ciri-ciri anak itu tepat seperti yang digambarkan oleh murid Dan guru tadi. Si petugas pemadam kebakaran melewati pagar api yang memisahkan dirinya dengan Satoru.

“Satoru-kun, jangan khawatir. Aku di sini untuk menolongmu.” Satoru mengangkat kepalanya. Manik biru langit bertemu cokelat madu. Sejenak ia melupakan tangisnya. “…siapa?” tanya Satoru dengan suara serak, efek terlalu banyak menangis.

“Yuuji. Kau bisa panggil aku Yuuji. Satoru-kun aman bersamaku. Ayo kita keluar dari sini.” Satoru mengangguk. Ia membiarkan Yuuji menggendongnya. Satoru tidak melepaskan Yuuji sama sekali Bahkan sampai mereka sudah berada di luar.

Yuuji benar, Satoru merasa aman bersamanya. Ia ingin berada di dekat Yuuji lebih lama. Si petugas pemadam kebakaran yang sudah selamatkan hidupnya.

Beberapa hari kemudian.

“Oi, Yuuji. Fansmu datang lagi, tuh,” Todo menepuk bahu Yuuji, membuat pemuda itu menoleh.

“Sudah datang?” Dari responsnya ia terlihat seperti menunggu si ‘fans’ ini. Yuuji bergegas meninggalkan posnya. Untung saja waktu jaganya telah usai. Fans yang dimaksud tidak lebih dari seorang anak sekolah dasar yang ia selamatkan beberapa minggu lalu ketika terjadi kebakaran besar di sekolahnya.

“Satoru-kun, halo!” sapaan ceria Yuuji untuk Satoru.

“Yuuji!” Satoru melebarkan senyum. Yuuji tanpa seragam, Yuuji dengan balutan kaus merah ketat yang memamerkan otot-otot dadanya, Satoru suka pemandangan di depannya.

“Hari ini bawa apa, Satoru-kun?” tanya Yuuji. Satoru setiap kali datang ke markas selalu membawakan sesuatu untuk Yuuji. Katanya, sih, sebagai ucapan Terima kasih karena sudah menyelamatkannya. Tapi, lama-lama jadi kebiasaan. Yuuji bilang itu sudah tugasnya untuk menyelamatkan manusia. Satoru bersihkeras untuk membalas jasa. Hadiah-hadiah dari Satoru telah memenuhi loker Yuuji sangking seringnya ia diberi. Satoru tiba-tiba saja canggung. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Yuuji. Kedua tangannya bermain di belakang, menyembunyikan sesuatu.

“Err… um… Yuuji…”

“Iya?”

Tiba-tiba saja Satoru sudah bersimpuh di depan Yuuji membuat pemuda itu terkejut. Benda yang ia Sembunyikan di punggungnya adalah sebuah kotak merah berisi cincin. Aduh, darimana pula anak SD ini memiliki barang mahal seperti ini?

“Yuuji, menikahlah denganku.” Oknum yang dilamar cuma bisa pasang ekspresi cengo. Ini beneran? Dia baru aja dilamar sama anak SD Di depannya ini.

Kedua telinga Satoru sudah memerah. Anak itu jelas malu bukan kepalanh, tetapi cukup berani. Yuuji berjongkok, menyetarakan tinggi dengan Satoru. “Hehehe, nanti ya, tunggu kamu besar dulu.” Tangannya sudah mengacak pelan rambut Satoru. Pipi Satoru menggembung sebal. Bukan itu jawaban yang mau ia dengar. Padahal telah memberanikan diri seperti ini.

“Tiga bulan lagi aku bakal masuk SMP!” Yuuji ingin tepuk jidat sendiri. Masih terlalu muda. Mau bicara apalagi dia ke Satoru kalau anaknya keras kepala.

“Kalau gitu tunggu lulus SMA ya?” Satoru tidak langsung protes. Dia memikirkan ucapan Yuuji ternyata.

“Langsung nikah ya?”

“Iya, langsung nikah.” Yuuji sudah menjawab cepat. Takut anak itu berubah pikiran dan minta tawar-menawar. Satoru yang dengar persetujuan Yuuji langsung senang bukan main. Dia langsung menghambur ke pelukan pemuda itu dan menghadiahinya sebuah kecupan di pipi.

Ulah Satoru barusan berhasil membuat Yuuji malu. Astaga, anak ini.

“Hore, Yuuji calon istriku.”