Work Text:
Gojo Satoru x Kugisaki Nobara
Jujutsu kaisen by akutami gege
commission fanfiction by ryuchan
Malam itu sebelum peringatan badai salju di siarkan secara mendadak, keluarga Kugisaki sudah lebih dulu bepergian menuju Distrik Kamikatsu. Hujan salju terus turun, suhu dingin di luar membuat kaca mobil berembun. Kondisi di dalam mobil tidak kalah dingin, sebab kedua orang tua di sana sempat mempeributkan soal waktu tujuan mereka ke Kamikatsu.
Sang ayah bersikeras untuk datang saat pagi besok, sementara ibunya ngotot harus tiba sebelum acara dimulai. Meski pada akhirnya menuruti keinginan istrinya, pria berusia tiga puluh lima itu berangkat dengan suasana hati yang buruk.
Sikap kedua orang itu membuat seorang gadis kecil di kursi belakang terus menerus diam sembari memeluk boneka katak. Dia tidak suka perasaan yang dirinya sendiri tidak tahu tepatnya, selain ayah dan ibunya tidak mengobrol dan saling diam dalam waktu yang lama.
Kugisaki Nobara, anak itu lantas memalingkan wajah ke jendela, sekadar memandangi butiran salju yang menabrak kaca mobilnya.
Pukul delapan malam, Badan Meteorologi Jepang mengumumkan adanya badai salju secara mendadak di beberapa wilayah di Jepang, termasuk di sekitar Distrik Kamikatsu. Stasiun televisi menayangkan berita secara besar-besaran, pun dengan seluruh frekuensi radio yang serentak menyiarkan informasi tersebut.
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa menghubungi Kugisaki-san?" tanya seorang wanita dengan ekspresi cemas. Dia terus menerus mencoba menghubungi nomor temannya, tetapi sama sekali tidak terhubung.
Pria itu menggeleng, "belum. Nomor teleponnya tidak bisa dihubungi."
"Ponsel Nobara-chan dimatikan. Aku tidak bisa menghubunginya," timpal seorang bocah lelaki berambut putih, usianya sekitar sepuluh tahun.
Wanita itu semakin panik, keluarga Kugisaki tidak bisa dihubungi, sementara berita akan adanya badai salju semakin ramai dan muncul di setiap saluran. Dia lantas mematikan televisi, kemudian duduk di samping anaknya yang masih memegang ponsel berwarna hitam.
"Mereka ... pasti baik-baik saja, 'kan?" racau wanita itu sembari mengepalkan tangan erat-erat.
"Tentu saja! Berita badai salju ada di mana-mana. Mustahil mereka tidak mengetahuinya."
Kenyataannya, keluarga Kugisaki sama sekali tidak mendengar peringatan badai salju. Mereka sudah pergi jauh dari Tokyo, berada di jalanan yang naik turun gunung dengan kondisi internet yang tengah memburuk akibat badai. Ponsel ayah dan ibu Nobara kehilangan koneksi, sementara ponsel Nobara sengaja dimatikan.
Ayah Nobara terus melajukan mobil dengan kencang tanpa mendengar apapun mengenai badai salju. Bahkan ketika volume salju yang turun lebih lebat, dia tidak memikirkan apapun sebab perasaannya masih dongkol. Sedangkan ibu Nobara beberapa menit yang lalu memilih tidur di samping Nobara.
Nobara merasakan aneh, salju-salju yang turun terlalu lebat, dan jarak pandangnya semakin sempit ketika dirinya menghadap ke depan. Namun, ayahnya masih tenang-tenang saja di balik kemudi.
"Otousan? Bukankah malam ini saljunya terlalu lebat?"
"Tidak apa-apa. Kau tidur saja, Nobara."
Ayahnya memang pribadi yang tegas, ucapannya seringkali tidak bisa dibantah, kecuali jika ibunya berada dalam situasi mendesak. Lantas, Nobara menuruti omongan ayahnya, diam dan tidak perlu mencemaskan sesuatu.
Kugisaki terus melajukan mobil tanpa mengurangi kecepatan, bahkan ketika mobilnya menuruni jalanan terjal. Pria itu memiliki jabatan penting di pekerjaannya, sebagai ketua tim pemadam kebakaran. Jadi, menuruni jalanan terjal sudah bukan masalah baginya.
Jalanan licin, dan seringkali mobilnya oleng. Namun, dia bisa mengendalikan semua itu.
"Otousan, hati-hati. Sepertinya akan ada badai. Lebih baik kita berhenti dan menunggu!"
"Diamlah, Nobara! Ibumu ingin kita sampai sebelum acara di mulai!"
Nobara mendadak takut, bukan karena bentakan ayahnya, melainkan kondisi di luar yang semakin parah. Ayahnya masih saja mengemudikan mobil meski jarak pandang terbilang sudah tidak ada. Mobil mereka bisa saja menabrak kendaraan di depan, atau mungkin tergelincir dan berguling ke dasar gunung.
"Otusan, aku takut!" pekik Nobara. Tangannya berpegangan erat pada sabuk pengaman.
"Okaasan? Bagunlah!"
Belum sempat sadar sepenuhnya, tiba-tiba mobil mereka mengalami ban selip, lalu tergelincir menabrak pembatas jalan di sisi kanan sampai bemper mobilnya hancur bersamaan dengan beton yang ditabrak. Beruntungnya ayah Nobara bisa mengendalikan dan dengan cepat membanting stir ke kiri. Namun, kemalangan tidak bisa dihindari, apalagi ditolak. Dari sisi kiri atasnya, tumpukan salju longsor besar-besaran menghantam mobil mereka hingga kembali menabrak pembatas jalan sampai hancur. Mobil mereka terjerembab, berguling ke dasar yang ditumbuhi tanaman merambat.
Nobara memejamkan mata, menggenggam erat tangan ibunya yang kini memeluknya dengan rasa cemas tiada akhir.
Dengan isak tangis penuh ketakutan, Ibunya mengelus kepala Nobara dengan lembut. Meski tubuhnya berkali-kali mengalami guncangan, dia tetap berusaha tenang agar Nobara tidak panik.
Kugisaki sudah tidak sadarkan diri, kepalanya berdarah dan kakinya terjepit dashboard, sementara Nobara bersembunyi di pelukan ibunya.
"Tidurlah Nobara ... kalau sudah sampai, Okaasan akan membangunkanmu ..."
|Satoru x Nobara|
Nobara mengalami shock. Dia dirawat di rumah sakit setelah polisi menemukan mobil mereka tiga jam setelah badai reda. Ayah dan ibunya meninggal sebelum mereka ditemukan pengemudi yang lewat dan melihat jejak kecelakaan, sementara Nobara tidak mengalami luka serius selain robek di bagian punggung.
Setelah mendengar kabar duka itu, Nobara hilang kesadaran. Dia tak sadarkan diri selama dua hari.
Pemakaman ayah dan ibunya sudah dilakukan saat dirinya pingsan. Nobara terenyuh, kemudian menangis di atas ranjang rumah sakit saat mendengarnya. Dia tidak tahu harus bagimana, harus kepada siapa dia marah, harus kepada siapa dia menyalahkan.
Tepukan di punggung membuat Nobara semakin keras menangis, bahkan teman laki-lakinya pun menangis diam-diam saat Nobara tidak bisa menahan kesedihannya.
Sepeninggal ayah dan ibunya, Nobara tinggal di rumah kakek dan neneknya di distrik Kamikatsu. Mereka menjual rumah Kugisaki di Tokyo sebab Nobara tidak ingin hidup di sana. Terlebih cara dia berpisah dengan keluarganya sangatlah menyedihkan, di saat keduanya sedang tidak akur pula.
Nobara menjadi anak yang tertutup dan tidak banyak bicara. Bahkan ketika anak-anak di sekitar rumah kakeknya mengajak bermain, Nobara menolak tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya sedikit lebih ceria ketika teman lelakinya yang berambut putih datang.
Gojo Satoru, bocah lelaki itu pandai merayu, dan banyak akal untuk membuat Nobara bisa tersenyum. Keluarga Gojo rutin datang seminggu sekali, menganggap hal itu sebagai pengobatan bagi kondisi Nobara yang terguncang. Kepala keluarga Gojo bahkan sempat meminta Nobara kepada kakek dan neneknya untuk mengangkat Nobara sebagai anak dan adik dari Satoru.
Hal ini bukan berarti membuang atau melepas tanggung jawab terhadap Nobara, tetapi melakukan hal terbaik untuk kesembuhan cucu kesayangan mereka. Nobara tidak bisa membuka diri selain kepada Satoru dan keluarganya, Nobara lebih banyak tersenyum bersama Satoru. Mungkin jika Nobara bersama mereka, keceriaan gadis itu akan kembali tanpa harus melupakan sosok ayah dan ibunya.
"Aku tidak tahu harus berterima kasih atau meminta maaf, tetapi tolong jaga Nobara seperti anak kalian sendiri ..."
"Saya mengerti. Nobara adalah anak Kugisaki. Kami akan menjaganya dengan baik."
"Dan ini," nenek Nobara menyodorkan sebuah buku tabungan. "Ini adalah uang dari hasil menjual rumah anakku. Tolong gunakan uang ini untuk hidup Nobara."
Awalnya ayah dan ibu Satoru menolak mentah-mentah. Mereka mengatakan akan merawat dan menanggung semuanya dengan milik mereka, tetapi kakek dan nenek Nobara terus memaksa dengan alasan hanya anak itu yang berhak atas semua uangnya. Lantas dengan hati terbuka, ayah dan ibu Satoru menerima buku tabungan tersebut.
Demi kebaikan Nobara, ayah dan ibu Satoru akhirnya menjual rumah mereka dan membeli hunian baru di perfektur Chiba. Rumah mereka dan rumah keluarga Kugisaki bersebelahan, mereka tidak ingin membuat Nobara semakin larut dalam kesedihan. Itulah mengapa mereka memilih untuk menjual rumah dan pindah ke Chiba.
Satoru perlahan merasa terganggu dalam tidurnya, merasakan sesuatu yang menggelitik hidungnya yang mancung. Sayup-sayup terdengar suara gadis kecil di sampingnya saat benda itu terus bergerak di hidungnya. Tak butuh waktu lama untuk sadar, Satoru lantas bangun dan berteriak, "Nobara-chan! Sudah kubilang jangan membangunkanku dengan cara seperti ini!"
Nobara terkekeh sembari memutar alang-alang di tangannya, "cuma dengan cara ini Satoru-nii bangun. Aku sudah memakai banyak cara, tapi Satoru-nii tetap tidur seperti orang mati!" seru Nobara.
Satoru kembali merebahkan tubuh, berniat melanjutkan tidurnya dengan nikmat. Namun, Nobara kembali bertingkah dengan menyumbat lubang hidung Satoru dan membuatnya terpaksa bangun.
"Nobara ...!"
"Oh ya ampun, ternyata Oniichan memang tidak ikut ke pantai, ya? Ya sudah kalau begitu."
Lelaki itu sontak melotot, dia sama sekali tidak ingat dengan acara keluarga musim panas kali ini. Yang dilakukan olehnya saat liburan musim panas hanya tidur dan main game, lalu keluar bersama teman-temannya seharian penuh.
"Tunggu sebentar! Aku harus mandi!"
Nobara tertawa melihat Satoru terbirit-birit menuju kamar mandi, padahal masih pukul lima pagi, dan mereka akan berangkat pukul delapan. Nobara lagi-lagi berhasil mengelabui Satoru yang pelupa. Laki-laki yang akan segera masuk ke jenjang SMA itu masih sama seperti empat tahun yang lalu, kekanakkan.
Derap langkah Satoru terdengar marah menuruni anak tangga, sementara Nobara tengah berlindung di samping ibunya yang tengah memasak bekal untuk nanti.
"Katakan di mana Nobara-chan ...!" teriak Satoru yang terdengar amat garang. Dia sudah melihat Nobara bersembunyi di dekat ibunya, tetapi dia memiliki keusilan untuk balas dendam.
"Awas kau, Nobara-chan! Kali ini aku tidak akan tinggal diam!"
Keusilan Nobara memang membuatnya sedikit kesal sebab hal itu membuat waktu tidurnya berkurang selama beberapa jam. Sangat disayangkan, padahal niat Satoru adalah menghabiskan waktu bersama Nobara nanti di pantai tanpa merasa lelah. Dia ingin Nobara banyak memiliki kenangan indah dan menyimpan kenangan buruk cukup di dalam otaknya saja. Satoru bukannya kasihan, tetapi dia sungguh-sungguh ingin Nobara bahagia selama tinggal bersama keluarganya.
Satoru mengendap-endap, berusaha menyembunyikan suara langkahnya di atas pasir pantai. Ketika dia berjarak sangat dekat dengan Nobara yang tengah berdiri menunggu ombak, Satoru dengan tiba-tiba mendorong Nobara hingga gadis itu terjatuh bersamaan ombak datang.
Nobara terkesiap, dia menjadi gugup saat tubuhnya diterjang ombak. Tangan dan kakinya berusaha menahan dorongan, sementara kepalanya dia usahakan untuk tetap berada di luar air.
Ketika ombak itu pergi, Nobara berusaha berdiri. Dia menahan napas dan memejamkan mata dengan gemas. Ini tidak lucu. Satoru mencari gara-gara di saat dirinya ingin Nobara bahagia.
.
"Satoru-nii?" panggil Nobara dengan tekanan. Dia menatap Satoru dengan senyuman, tetapi jelas terlihat jika dia sedang jengkel.
"Menyenangkan sekali, 'kan?" timpal Satoru sembari mengambil ancang-ancang. Sedetik kemudian, Nobara berlari mengejar Satoru yang sudah kabur duluan.
Mereka menciptakan jejak-jejak kaki yang indah dan berdampingan, lalu hilang saat ombak datang.
"Nah, makan ini."
Satoru meletakkan irisan daging pada nasi Nobara, kemudian mengambil kacang-kacangan yang sudah Nobara pisah dari nasinya.
"Aku suka daging, Satoru-nii suka kacang."
Setelah merasa lelah bermain kejar-kejaran, Satoru dan Nobara menghampiri orangtuanya di bawah tenda yang mereka dirikan. Pantai itu bukan tempat wisata umum, dan tidak banyak orang yang berada di sana.
"Makan yang banyak, anak-anak ..."
"Okaasan, aku sudah kelas satu SMA!" protes Satoru. Dia sudah hampir dewasa, tetapi ibunya masih saja menganggapnya sebagai anak-anak seusia Nobara.
"Aku juga sudah menjadi siswa SMP, Kaasan."
"Baiklah, baiklah ... kalian sudah besar sekarang. Makan yang banyak!"
Ini adalah liburan terakhir Satoru sebelum dirinya masuk menjadi siswa SMA. Dia sama sekali tidak sadar, ternyata waktu begitu cepat berlalu. Dulu, saat Nobara resmi menjadi keluarganya, dia masih duduk di bangku kelas enam, seorang laki-laki yang tingginya tidak seberapa. Namun, sekarang tingginya sudah melampaui tinggi sang ayah. Bahkan dia memiliki tubuh yang sehat di balik kaos pantai yang saat ini dia pakai.
Satoru menyantap sushi sembari memandang cara makan Nobara yang lucu. Gadis itu tersenyum manis saat mereka bertemu pandang.
Nobara-chan sudah bukan anak kecil yang menggemaskan lagi rupanya.
|Satoru x Nobara|
Nobara berlari dan masuk ke dalam kamar Satoru yang berada di sebelah kamarnya, lantas membangunkan lelaki itu dengan cara menarik selimut dan memukuli dada Satoru sedikit agak keras. Dia ingin menunjukkan betapa pantasnya dirinya memakai seragam SMP di hari pertama.
"Ah ... apalagi kali ini, Nobara-chan?"
"Satoru-nii, coba lihat aku!"
Nobara lantas berputar-putar di hadapan Satoru yang masih mengantuk. Rok rempel yang panjangnya di atas lutut, juga atasan putih yang memiliki kerah lebar lengkap dengan dasi bergaris sewarna dengan roknya.
"Wah! Siapa gadis kecil ini?"
Rasa kantuknya hilang saat melihat Nobara yang begitu cocok dengan seragam barunya. Dia lantas meraih ponsel di atas meja dan mengambil foto Nobara dengan asal.
Rambut Nobara yang kecoklatan dibiarkan tergerai, jepit rambut mutiara menghiasi di atas telinga. Perempuan itu juga memakai pelembab bibir berwarna, sehingga bibirnya terlihat lebih segar dan manis.
Satoru tercengang. Dia tidak tahu jika adiknya memiliki wajah yang cantik, mata lebar, hidung mancung dan bibir yang manis. Nobara pasti banyak menarik perhatian laki-laki di sekolah, dan gadis itu bisa saja tidak fokus belajar, malah terbuai dengan asiknya menjadi remaja.
Satoru tiba-tiba beranjak, mengusap bibir Nobara menggunakan tangannya dan warna manis di sana telah terhapus.
"Jangan pakai lipstik! Tidak pantas untuk anak-anak sepertimu!"
"Oniichan! Kenapa menghapusnya? Aku sudah susah payah memakainya!" bentak Nobara kesal. Memakai pelembab bibir memang perkara mudah, tetapi yang membuat Nobara jengkel adalah Satoru berubah pikiran dengan cepat.
Nobara menatap tajam Satoru, lalu pergi dengan suasana hati yang berubah menjadi buruk. Ini hari pertamanya masuk SMP, tetapi Satoru sudah membuat gara-gara. Benar-benar merusak suasana hati.
"Tidak punya hati!"
Nobara pergi dengan suasana hati yang sangat buruk di hari pertamanya masuk SMP. Kakinya melangkah cepat menghindari Satoru yang terus mengikutinya dengan kayuhan lambat. Lelaki itu terus meminta maaf dan merayu, tetapi Nobara tetap tidak menghiraukan Satoru.
Sudah terlalu sering Satoru membuatnya jengkel selama setahun belakangan, dengan berbagai macam cara yang selalu berhasil membuat Nobara marah-marah. Meskipun begitu, Nobara akan memaafkan Satoru dengan penyesalan setelahnya.
"Nobara-chan, tolong maafkan aku, ya ...?"
Nobara memberinya dengkusan keras.
Dasar laki-laki. Dia juga sama saja dengan lainnya. Menyebalkan!
Jarak sekolah mereka tidak jauh, hanya berselisih sekitar seribu meter. Satoru seringkali mengantar Nobara, lalu kembali ke sekolahnya yang lebih dekat. Saat pulang, Satoru menjemput Nobara jika perempuan itu tidak terlihat di sekitar sekolahnya. Karena kepeduliannya itulah Satoru seringkali dituduh sebagai seseorang yang overprotektif, terlalu menyayangi adiknya, bahkan ada beberapa temannya yang bilang jika dia sister complex.
Satoru selalu menyangkal jika hal itu dia lakukan sebagai bentuk kasih sayang terhadap adiknya. Dia tidak ingin Nobara bergaul dengan orang-orang salah, dia juga tidak ingin laki-laki nakal mendekati adiknya.
Saat dirinya tidak melihat sosok Nobara, Satoru lantas mengayuh sepedanya menuju sekolah adiknya. Dia yakin sudah waktunya Nobara pulang, tetapi gadis itu belum juga menampakkan hidungnya.
"Nobara-chan? Dia sudah pulang lima belas menit yang lalu. Dia tidak menunggu Satoru-nii?"
Ah ... dia masih marah padaku, ya?
"Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati di jalan, ya!"
Satoru bergegas pergi setelah membuat gadis-gadis itu berteriak kegirangan. Bagaimana tidak, Satoru adalah salah satu siswa yang cukup terkenal karena wajahnya. Dia juga memiliki warna rambut mencolok seperti suku Albino, ditambah lagi kepribadiannya yang begitu perhatian menjadi sesuatu yang harus digilai.
Saat pintu rumahnya dibuka, Satoru melihat Nobara tengah asyik menonton televisi dengan camilan di pangkuannya. Agak sedikit kesal, Satoru berjalan dan memukul kepala Nobara. Tanpa menanggapi teriakan Nobara yang keras, dia berlalu ke dalam kamar.
"Sumpah! Dia ini punya masalah apa sih ...!"
Semakin hari Nobara semakin pandai merias wajah, peralatan riasnya terus bertambah, pakaiannya semakin bergaya. Satoru merasa jengkel tanpa alasan jelas. Dia tidak suka Nobara berdandan dan berpakaian aneh-aneh, dia juga tidak suka Nobara sering keluar dengan teman-temannya meski itu adalah kerja kelompok.
"Satoru-nii ...?" Nobara mengetuk pintu kamar Satoru.
"Aku belikan oleh-oleh untuk Satoru-nii ... yakin tidak mau?"
Nobara terus merayu, lantaran Satoru sudah berhari-hari marah dan sering mengabaikannya kali ini.
"Aku letakkan di depan pintu, ya."
Setelah meletakkan paper bag tersebut, Nobara kembali ke kamarnya. Tidak lama kemudian, Satoru membuka pintu dan mengambil tas berisi sandwich itu.
Di dalam kamar, Satoru memandang oleh-oleh itu dengan perasaan campur aduk. Dia menjadi terlalu mengurusi hidup adiknya, dia tidak suka ketika Nobara melakukan hal ini dan itu, ketika Nobara berdandan cantik, atau saat Nobara berpakaian minim.
Omongan teman-temannya terlintas saat dia memikirkan Nobara. Bagaimana jika Satoru benar-benar menyayangi Nobara bukan sebagai adik? Bagaimana jika dia memang menyukai Nobara?
"Tidak mungkin." sangkalnya.
Itu tidak boleh.
Satoru lantas merebahkan tubuhnya dan menepis semua pikiran-pikiran yang membuatnya tersiksa. Meski memang benar dia menyukai Nobara, tidak sepantasnya perasaan sayang terhadap adik berubah menjadi sesuatu yang spesial. Walaupun mereka tidak berhubungan darah, Nobara adalah adik sekaligus anak dari orangtuanya secara hukum.
Semenjak Satoru meragukan sikapnya, dia menjadi lebih berhati-hati saat berhadapan dengan Nobara, bahkan jika beruntung, Satoru lebih dulu menghindar. Berangkat sekolah lebih pagi, tidak lagi menawarkan boncengan sepedanya kepada Nobara meski gadis itu berlari dan berteriak ingin bersama. Bahkan ketika mereka sama-sama naik ke kelas tiga, Satoru belum juga kembali ke pribadinya yang dulu.
"Nobara-chan, kau pasti melakukan kesalahan, 'kan?"
"Aku serius, aku tidak melakukannya!" timpal Nobara malas. Dia sendiri bertanya-tanya apa yang sudah dia lakukan sampai-sampai Satoru mengabaikannya selama ini.
Tidak sekali dua kali Nobara bertanya, tetapi Satoru terus menghindar dan memberinya jawaban yang mengecewakan. Satoru terus bilang tidak ada apa-apa, tetapi lelaki itu masih saja terlihat enggan bertemu dengannya.
"Lantas kenapa selama ini dia tidak pernah mengantar dan menjemputmu? Padahal aku sangat ingin melihat wajahnya ..."
"Benar ... ketampanan Satoru-nii sudah berada di level berbeda. Iya kan, Nobara-chan? Kau mengakuinya juga, 'kan?"
Apanya yang tampan! Dia laki-laki jelek dan menjengkelkan!
Salah satu teman Nobara tiba-tiba menggenggam tangannya, "Nobara-chan, apa kau tidak bisa membantuku untuk bertemu dengannya?"
"Aku tidak sudi kalau kau bertemu laki-laki seperti Satoru-nii! Kau bisa mendapatkan yang lebih tampan dan perhatian, Yuu-chan!" tegas Nobara.
Benar, Satoru bukan laki-laki yang baik. Temannya berhak menemukan lelaki yang jauh di atas Satoru. Jikapun teman cantiknya itu ngotot, Nobara tidak akan berhenti melarang. Satoru tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan teman-temannya.
|Satoru x Nobara|
Mereka berdua berada di lingkup yang sama, hidup di bawah atap yang sama. Meskipun Satoru terus berusaha menghindari Nobara, dia tidak akan berhasil dengan mudah. Mereka makan di meja yang sama, menonton televisi si ruangan yang sama, termasuk berbagi kamar mandi dan lain-lain.
Adakalanya Satoru kembali ke dalam jika dirinya dan Nobara kebetulan keluar kamar di waktu yang sama, dia juga sering melewatkan makan malam dan membuat orangtuanya kehabisan kata-kata.
Mereka sempat heran ketika Satoru mulai bertingkah aneh, tetapi sekarang mereka lebih membiarkan kemauan anak lelakinya yang sedang puber. Ibunya, Hoshikawa yakin jika Satoru tengah merasakan hal-hal baru yang mempengaruhi suasana hatinya, lantas tanpa banyak bicara, wanita itu memberikan waktu untuk Satoru terbiasa.
Satoru-nii sedang jatuh cinta, ya?
Sudah lima menit dia mendiamkan pesan Nobara begitu saja tanpa berniat membukanya. Pertanyaan Nobara terlalu tepat, hingga dirinya tidak berani menjawab, tidak berani menjelaskan jikalau Nobara bertanya lebih banyak.
Siapa dia? Teman sekelas? Apakah dia cantik?
Tunjukkan padaku. Aku bisa menilai seseorang hanya dengan melihat wajahnya, lho ...
Satoru-nii ... kau masih hidup, 'kan?
Nobara mengebuskan napas kasar. Berkali-kali dia mengirim pesan dan mencoba membuat Satoru berbicara, tetapi lelaki itu sama sekali tidak membalas semua pesannya. Nobara semakin heran mengapa Satoru berubah begitu drastis. Jika memang kakaknya tengah mengalami masa pubertas seperti yang dikatakan ibunya, tidak seharusnya Satoru bertingkah begitu setiap hari selama setahun lebih.
Nobara bahkan merasa jika Satoru berubah hanya kepada dirinya, sebab dia pernah mendapati Satoru bergurau dengan ayah dan ibunya seperti dulu. Namun, Satoru akan mengubah sikapnya saat Nobara datang bergabung.
Satoru-nii, apakah kau begini karena membenciku?
Satoru terperanjat dengan pesan terbaru dari Nobara. Sungguh bukan karena dia membenci Nobara sehingga dia bersikap dingin selama ini. Satoru hanya sedang berusaha mengontrol dirinya agar tetap berada di posisi yang sama seperti waktu itu; menjadi kakak Nobara. Namun, semakin dia menoba menepisnya, perasaan Satoru semakin sulit dikendalikan. Seperti ketika dia menahan lapar, perutnya akan semakin sakit, atau ketika dia menahan batuk, dia tidak bisa menahannya terlalu lama.
Ujian kelulusan sudah lewat, mereka berdua lulus dengan nilai yang memuaskan. Nobara melanjutkan sekolahnya di sekolah yang sama dengan Satoru, sementara Satoru masih mencoba merayu untuk bisa kuliah di Tokyo, jauh dari rumah. Satoru pikir perasaannya akan memudar jika dia tidak bertemu dengan Nobara, dia juga berpikir dia bisa jatuh cinta dengan perempuan lain di luar sana.
Ketika Satoru hendak turun, dia berhenti dan mengamati tingkah Nobara yang sedang memamerkan seragam SMA miliknya. Dia berputar-putar di hadapan orangtuanya, memperlihatkan betapa senangnya dia menjadi murid SMA yang selama ini dia pandang keren.
Dia cantik dengan seragam itu.
Ujung bibir Satoru sedikit melengkung, agak menyesal sudah bersikap jahat kepada Nobara. Namun, jika dia merasakan sesuatu yang aneh di dada, Satoru tidak bisa menahannya dan memilih untuk tidak perhatian lagi kepada Nobara.
"Aku akan naik dan memperlihatkannya kepada Satoru-nii!" seru Nobara.
Nobara lantas bergegas menuju tangga, tetapi saat dia menghadap ke atas dan bertemu pandang dengan Satoru, langkahnya terhenti. Satoru dengan tatapannya yang dingin berbalik begitu saja seolah dirinya tidak ingin melihat Nobara.
Dadanya mendadak sakit dan perutnya terasa mual ketika lagi-lagi Satoru melayangkan tatapan tidak suka. Lelaki itu benar-benar membuatnya serba salah dan berpikiran yang tidak-tidak. Jika memang Satoru tidak lagi menyayanginya, lebih baik katakan saja, bukan terus menghindar dan bersikap menyebalkan. Nobara tidak akan tahu.
Belakangan ini memang Nobara merasakan sesuatu mengganjal di dalam hati, tetapi dia tidak bisa jujur kepada siapapun. Dia terus bersikap acuh tak acuh dan tetap menjadi Nobara yang selama ini ada. Nobara yang ceria dan menyayangi keluarganya, Nobara yang terus mencoba mencairkan sifat dingin Satoru.
"Selamat pagi, Satoru-nii!" sapa Nobara dengan ceria. Dia masih berusaha mendapatkan kembali perhatian Satoru yang dulu. Namun, dia hanya mendapat sapaan dingin seperti biasa.
"Iya, selamat pagi." Satoru mulai menyantap sarapannya.
Saat ini, saat liburan tiba, Satoru sangat-sangat benci dengan hidupnya. Dia menjadi lebih sering bertatap muka dengan Nobara yang semakin cantik. Suara lembut Nobara selalu terdengar, canda tawanya yang manis tak pernah luput dan perasaan menggelitik di dadanya semakin jelas.
"Otousan, aku diterima di Universitas Tokyo, jadi kuharap kalian mengijinkan aku untuk tinggal di sana."
Ibunya membanting sendok, "di mana? Tokyo?"
"Aku sudah mengajukan untuk tinggal di asrama, dan sepertinya aku dapat peluang besar."
"Lalu siapa yang akan menjaga Nobara kalau kau pergi?" tanya ayah Satoru dengan nada rendah. Dia sangat tidak setuju jika anak lelakinya harus pergi jauh meski dengan tujuan belajar.
Di Fukuoka masih banyak universitas besar yang tidak kalah dengan universitas di Tokyo, Satoru bisa pulang-pergi dengan mudah dan tentu saja bisa menjaga Nobara.
"Nobara sudah besar, dia bisa menjaga dirinya sendiri."
Nobara tertegun, dia menghentikan makannya ketika mendengar perkataan Satoru. Bahkan tanpa memandangnya, Satoru dengan mudah berkata seperti itu. Ucapan lelaki itu seperti sudah tidak peduli lagi , suaranya lebih terdengar jika lelaki itu tidak akan lagi ikut campur atas dirinya.
"Benar. Aku sudah dewasa, tidak perlu dijaga seperti anak kecil lagi."
Dia memanggikku Nobara, hanya Nobara.
Rupanya Satoru memang sudah tidak lagi menganggapnya sebagai adik, bahkan ada kemungkinan jika Satoru tak lagi menganggapnya ada.
Baiklah jika dia ingin begitu.
Sudah tidak menjadi urusannya lagi jika kemauan Satoru begitu. Nobara harus menerima apapun itu, termasuk kehilangan kakak bernama Satoru. Lagi pula sejak awal memang mereka bukan kakak-adik, mengalami perubahan setelahnya sudah pasti ada. Namun, Nobara tidak tahu mengapa hal itu membuatnya sangat sakit.
|Satoru x Nobara|
Satoru mengakui sikapnya yang keterlaluan, dia juga menyadari keegoisannya selama ini. Sebab dengan begitu Nobara bisa saja menjauhinya, tidak lagi mengirimkan pesan, atau bersikap manis kepadanya. Satoru ingin semua itu terjadi, lantas dia menjadi sedikit lebih bisa mengatasi perasaannya.
Masalah kuliah di Tokyo sudah selesai, tetapi soal asrama yang Satoru bilang terakhir kali, dia sama sekali belum mengajukan permintaan. Dia bahkan tidak berminat dan hanya menjadikannya sebagai alasan yang mendukung. Satoru pikir dia harus segera pergi sebelum orangtuanya mencurigai sesuatu. Dia tidak ingin ayah dan ibunya malu atas perasaan yang timbul dari seorang kakak kepada adiknya.
Perubahan Satoru tidaklah singkat, yang bisa dianggap sebagai angin lalu, atau sebagai bentuk pemberontakan seorang anak. Satoru mulai berubah saat dirinya berada di pertengahan kelas satu SMA, semakin jelas dan nyata hingga anak itu lulus.
Awalnya sang ibu mengira jika Satoru mengalami pertengkaran kecil dengan temannya, tetapi suasana hatinya tak kunjung membaik. Bahkan semakin hari semakin jelas perubahannya. Satoru menjadi lelaki yang tidak banyak bicara, sikapnya semakin dingin, dan dia tidak lagi menampakkan kepeduliannya terhadap Nobara.
Hoshikawa semakin yakin dengan prasangka yang selama ini dia pendam. Anak laki-lakinya bukan hanya tengah mengalami masa puber, tetapi wanita itu tidak bisa menebak dengan pasti tentang masalah yang sedang dialami Satoru.
"Okaasan, aku berangkat, ya. Sepertinya nanti aku pulang lebih lama, aku ada tugas kelompok."
"Iya, Nobara-chan. Hati-hati, ya!"
Nobara-chan juga berubah. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Wanita itu terus memandang punggung Nobara yang semakin jauh, memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa saja menjadi jawaban atas pertanyaannya. Dia merasa keadaan di rumahnya sudah tidak lagi sama, Satoru dan Nobara terlalu cepat dewasa, keduanya tidak lagi menggemaskan seperti beberapa tahun yang lalu.
Sudah hampir satu bulan Satoru memindahkan barang-barangnya satu persatu dan yang tersisa saat ini hanyalah dirinya dan ransel hitam yang dia gendong. Sekarang Satoru hanya perlu pamit kepada orangtuanya untuk tinggal di Tokyo, di sebuah share house yang tak jauh dari kampus.
"Kenapa tiba-tiba menyewa kamar? Bukankah kau bilang akan tinggal di asrama?" tanya Hoshikawa kebingungan. Waktu itu dia yakin betul jika Satoru memiliki peluang tinggi untuk bisa bergabung ke asrama, tetapi tiba-tiba saja anaknya bilang sudah menyewa kamar dan selesai pindahan tanpa dia duga-duga.
"Aku tidak bisa apa-ap. Pihak asrama bilang tidak bisa menerima semua barang-barangku. Okaasan tahu sendiri kalau mereka sangat aku butuhkan."
"Apa tidak bisa kau pikirkan lagi? Kau bisa kuliah di sini, Satoru-kun!"
"Okaasan ... sudah kukatakan aku tidak bisa. Aku harus kuliah di Tokyo!" tegas Satoru.
"Biarkan saja. Terserah apa yang akan dia lakukan, jangan ikut campur!" geram ayahnya yang sudah tidak bisa menahan emosi.
Orang-orang bilang jika anak-anak akan berubah saat usianya di atas lima belas tahun, dan sekarang dia memercayai hal tersebut. Satoru menjadi anak yang tidak menurut, sering membuatnya sakit kepala, dan sekarang memaksanya untuk tidak mengacuhkan kehidupan anaknya sendiri.
Jika hal itu adalah kedewasaan, maka itu bukanlah yang diinginkan olehnya. Pria yang telah memiliki uban di kepalanya itu lebih memilih Satoru tetap menjadi anak-anak seperti dulu; tidak banyak tingkah. Ditambah lagi Satoru secara mendadak akan pindah ke Tokyo hari ini juga tanpa memberitahu mereka berdua.
Sang ayah lantas pergi ke dalam kamar, tak ingin lagi dibuat jengkel oleh Satoru yang semakin hari semakin menjadi. Mau jadi apa dia nanti!
"Terlalu tiba-tiba, Satoru-kun! Nobara-chan bahkan tidak tahu kau akan pergi hari ini!"
"Itu ... dia tidak perlu tahu, Bu."
Matanya bergetar, seperti ingin menghindari sesuatu.
Hoshikawa melepaskan genggamannya pada lengan Satoru, merasakan sesuatu yang entah kenapa begitu membuatnya gusar. Dirinya adalah seorang ibu pada umumnya yang sangat mengenali anaknya, dia juga bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Satoru jika anak itu lebih terbuka. Namun, Hoshikawa sedikit terlambat untuk menyadari hal itu.
Mata Hoshikawa bergetar, ragu-ragu untuk menyinggung sesuatu yang mungkin saja bisa membuatnya kehilangan kata-kata.
"Satoru-kun, kau ... Nobara-chan ..."
Sungguh, untuk menanyakan hal itu tidaklah mudah. Sangat sulit dan tidak bisa dia percayai. Mereka berdua, Satoru dan Nobara adalah kakak beradik. Mau bagaimanapun menyangkalnya, mereka tetap saudara secara hukum.
"O–okaasan ..."
Entah seperti apa saat ini Satoru di mata ayah dan ibunya setelah mereka mengetahui keadaan yang sebenarnya, alasan mengapa Satoru bersikap diluar perkiraan mereka, mengapa lelaki itu ngotot harus kuliah dan tinggal di Tokyo. Semua itu dia lakukan untuk mengenyahkan perasaan menjijikan yang selama ini mengganggu hidupnya.
Bahkan dengan hati terbuka dan penuh harap, Hoshikawa mengijinkan Satoru untuk pergi selama dia bisa melupakan perasaan cinta itu. Ibunya tidak ingin Satoru dan Nobara berubah setelah semua yang terjadi selama ini sebagai satu keluarga.
Keadaan rumah sangat hening. Sang ayah tidak muncul bahkan ketika Nobara memanggilnya tiga puluh menit yang lalu, sementara ibunya masih sibuk dengan kegiatan dapur tanpa banyak bicara seperti sebelumnya, bahkan terlihat kacau dan banyak pikiran.
Satoru ... pasti tidak akan keluar dari kamarnya, pikir Nobara tanpa mengetahui jika Satoru sudah pergi.
Satu hari, dua hari bahkan tidak membuat Nobara penasaran mengapa dirinya belum juga bertemu Satoru, sebab belakangan ini mereka berdua memang sangat jarang bisa bertatap muka. Pernah dalam satu Minggu Nobara hanya satu kali melihat Satoru di rumah saat lelaki itu hendak pergi bersama teman-temannya.
"Nobara-chan! Kenapa kau tidak bilang kalau Satoru-nii sudah pindah?"
Nobara menyimpan bukunya, menatap Yui yang datang membuatnya terkejut dengan sebuah pertanyaan.
"Kau tahu dari mana, Yuu-chan?" tanya Nobara seolah-olah dia sudah tahu perihal pindahan Satoru.
"Kau tahu kan aku punya sepupu di Tokyo? Dia mahasiswa tahun kedua dan dia bilang Satoru-nii membuat keributan di antara mahasiswa baru di sana!"
"Maksudmu?"
"Apalagi? Tentu saja membuat semua gadis tergila-gila!"
Nobara mengembuskan napas, bukan karena Satoru membuat gadi-gadis di sana kepanasan, tetapi dirinya yang pergi tanpa bilang apapun pada Nobara. Lelaki itu pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal, seperti mereka tidak pernah kenal sebelumnya. Namun, daripada itu, ibunya lah yang paling keterlaluan. Dia sama sekali tidak memberitahu hal tersebut!
Rasanya semua orang menjadi berubah, mereka tidak lagi bersikap hangat dan perhatian. Bukan hanya Satoru yang membuangnya, kali ini ibunya pun seolah tidak menganggapnya sebagai anak.
Saat Nobara bertanya mengapa, ibunya menjawab, "itu bukan hal besar, Nobara-chan. Satoru-kun juga tidak selamanya di Tokyo!"
Ada nada marah dan juga resah dalam suara ibunya, Nobara tidak tahu kenapa. Dia hanya merasa jika semua orang memang perlahan tidak menginginkannya lagi. Memangnya apa yang sudah kulakukan?
Nobara lantas beranjak menuju kamar, menenangkan dirinya dengan berbagai macam cara yang semuanya sia-sia. Dia marah kepada ibunya, dia marah kepada Satoru, dia rindu dengan Satoru, aku ingin bertemu Satoru.
|Satoru x Nobara|
Jauh dari rumah pikir Satoru akan lebih baik, tetapi kenyataannya tidak. Dia masih memikirkan Nobara, penasaran dengan keadaan gadis itu sekarang. Ingin rasanya mengirim pesan, tetapi dia tahan untuk tidak melakukannya.
Apakah dia baik-baik saja tanpaku? Apakah dia sudah memiliki kekasih?
"Satoru-kun!" Panggil seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di sebelah Satoru.
Perempuan berambut hitam itu kekasih Satoru, mahasiswa tahun kedua jurusan seni. Mereka bertemu saat Satoru memilih jurusan, dan perempuan itu —Tachibana Rui mempromosikan jurusannya. Namun, Satoru tidak tertarik dengan seni, dia lebih tertarik dengan mesin dan otomotif.
Rui tak ingin membuang kesempatan, perempuan itu tak henti-hentinya mengejar mahasiswa baru yang mendapat banyak perhatian itu. Namun, tidak seperti yang dibayangkan Rui, Satoru sangat mudah didapatkan. Dia bahkan belum memakai cara terakhir mendapatkan seorang pria, tetapi Satoru lebih dulu mengajaknya berkencan.
"Aku lapar, ayo makan!" ajak Rui. Dia datang ke perpustakaan hanya untuk itu; membawa Satoru untuk berduaan di tempat lain.
"Mau makan apa?"
"Hm ... aku ingin nasi sup di depan kampus. Bagaimana?"
Satoru tersenyum, "Ayo ke sana! Rui-ku ingin makan nasi sup!"
Satoru sering tersenyum manis kepada Rui, dia juga selalu menggenggam tangan Rui saat jalan berdua. Mereka berpelukan dan berciuman, menonton bioskop dan opera. Mereka bertengkar, lalu melakukan hubungan intim saat suasana mendorong mereka.
Hubungan Satoru seperti percintaan orang lain, terkadang mulus, terkadang juga membosankan. Namun, dia tidak menikmati semua itu. Saat Satoru tersenyum, dia mengingat Nobara. Saat memeluk dan berciuman dengan Rui, wajah Nobara yang terus dia bayangkan. Bahkan saat dirinya bercinta dengan Rui, Nobara lah yang ada di bawah kungkungannya.
Satoru tidak bisa melupakan Nobara sejauh ini.
Satu bulan, dua bulan,
Satu tahun,
Tiga tahun,
Satoru mulai magang di suatu perusahaan otomotif, sementara Nobara menyelesaikan SMA-nya.
Gadis itu memaksa untuk kuliah di Tokyo, dekat dengan Satoru. Semenjak Nobara mengetahui biaya yang ditinggalkan orang tuanya, dia menjadi lebih egois, mementingkan keinginannya adalah yang paling utama, meski ibu angkatnya melarang kuliah di Tokyo.
Nobara rindu kepada Satoru, dia ingin bertemu, lalu memeluknya selama mungkin hingga debaran-debaran di dadanya mereda. Awalnya memang Nobara tidak yakin, tetapi saat dirinya mendengar Satoru memiliki kekasih, Nobara menjadi marah. Dia ingin memisahkan keduanya, dia ingin merebut Satoru.
Nobara cemburu, dia menginginkan Satoru lebih dari apapun.
Demi mengejar Satoru, Nobara langsung mendaftar kuliah untuk semester yang akan datang. Dia tinggal di asrama dengan tiga mahasiswi lainnya. Mereka tidak saling kenal, tetapi Nobara yakin itu bukan menjadi masalah. Mereka bisa menajdi dekat dalam beberapa waktu.
Tujuan pertamanya saat tiba di Tokyo adalah mengunjungi Satoru. Dia mendapatkan alamatnya dari sang ayah yang saat ini memilih untuk tidak menghalangi jalan keduanya. Namun, saat Nobara tiba, Satoru tidak berada di kamarnya. Teman serumah Satoru bilang jika lelaki itu masih bekerja.
"Kau adik Satoru? Benarkah?" tanya salah satu lelaki di sana. Dia kurang yakin dengan pengakuan Nobara lantaran Satoru bilang jika dia adalah anak tunggal. Namun, seorang gadis cantik datang dan mengaku sebagai adiknya.
"Adik angkat—"
"Oh ...!" ketiga lelaki itu serempak mengangguk.
"Kau sudah menghubungi Satoru, 'kan? Anak itu biasanya pulang telat," ujar lelaki yang memakai kaos basket sembari beranjak mengambil air minum.
"Belum. Kalau aku menghubunginya bisa-bisa dia tidak pulang."
"Kenapa begitu?" tanya lelaki berambut pirang. Di antara dua laki-laki lainnya, dia lah yang paling banyak bicara, tipe orang yang penasaran.
"Yah, pokoknya begitu lah."
"Aku jadi penasaran ..."
Lelaki bernama Hayashi itu memicingkan mata, mencari sesuatu yang disembunyikan Nobara yang mungkin saja bisa dia tebak dengan mudah.
Sudah hampir pukul lima petang, Satoru belum juga pulang. Nobara harus cepat-cepat kembali ke asrama sebelum pintu ditutup.
"Katakan, ada apa di antara kalian? Sejak tadi aku berpikir, tetapi tidak bisa mendapatkannya!" Hayashi frustrasi. Hubungan Satoru dan Nobara terlalu misterius, dua kakak-beradik yang tidak terikat darah itu membuatnya pusing.
"Apa maksudmu? Ada apa di antara siapa dan siapa?" tanya Satoru kebingungan. Sepulang bekerja dia langsung diseret ke ruang tamu tanpa alasan pasti, dan tiba-tiba diberi pertanyaan yang membingungkan.
"Dia bilang namanya Nobara—" lelaki tampan yang baru saja duduk menggantungkan ucapannya, melihat reaksi Satoru saat mendengar nama Nobara, "dia datang dan menunggumu selama dua jam." lanjutnya.
"Nobara?"
"Iya, adikmu." jelas Sosuke, lelaki tampan itu.
Satoru mengalihkan pandangan, dia tiba-tiba bereaksi sedikit aneh. Matanya bergerak tak tentu arah sembari menggigit bibir bawahnya. Dia cemas, tetapi resah. Sosuke menyadari hal itu. Terlintas dipikirannya jika hubungan Satoru dan Nobara sedikit rumit dan butuh diperjelas. Namun, dua orang itu terlihat saling menghindar dan membuat kesalahpahaman.
"Ada apa?" tanya Sosuke setelah mengunci kamar Satoru. Dia harap bisa menjadi penengah antara Satoru dan Nobara, lantas keduanya sama-sama mengerti atas perasaan masing-masing.
Sosuke mengambil duduk di kursi, menunggu penjelasan Satoru yang saat ini masih terbaring di ranjangnya.
Lelaki itu menatap langit-langit tanpa berkendip dengan napas yang sangat tenang. Namun, pikirannya melayang kesana-kemari semenjak dia tahu Nobara datang.
"Jadi, bagaimana kau bisa menyukai Nobara?"
"Aku tidak tahu, Sosuke."
Entah sejak kapan perasaan Satoru berubah, dia tidak ingat. Dia hanya ingat tiba-tiba Nobara begitu cantik hingga membuat matanya tidak bisa berpaling, jantungnya berdebar-debar saat melihat Nobara terseyum, bahkan di beberapa kesempatan, Satoru menjadi menginginkan Nobara berada dalam pelukannya. Bercumbu, saling menyentuh, menjeritkan namanya—
"Sudah tidak tertolong rupanya."
dan bercinta hingga mereka tertidur.
"Ya. Jauh-jauh aku ke Tokyo untuk menghindar, dia malah—"
Datang kepada Satoru tanpa memikirkan perasaannya dan membuat cinta Satoru semakin berkobar hingga lelaki itu tidak bisa mengendalikannya. Dia akan menggila, bahkan ketika Satoru memberikan hatinya kepada Rui.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu." Satoru menyalakan rokok, menghisapnya beberapa kali sampai kamarnya berbau nikotin.
Semua ini tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa Nobara akan mengusulnya ke Tokyo, mengganggu dan membuatnya bimbang. Bahkan Rui semakin tidak berarti setelah selama ini Satoru mencoba untuk mencintai wanita itu.
Embusan napas pelan keluar dari mulutnya, memandangi sosok perempuan yang tiba-tiba datang menghalangi jalannya dengan cara bergeming di depan pintu.
Nobara menatap tajam kepada Satoru. Ada perasaan marah dan benci ketika melihatnya, tetapi rasa rindu dan ingin memeluknya jauh lebih besar. Sudah lama sekali dia tidak bertemu Satoru sejak lelaki itu pindah ke Tokyo. Meski rutin pulang setiap satu bulan sekali, Satoru sengaja datang di saat Nobara sibuk atau sedang tidak berada di rumah.
"Kenapa kau ada di sini, Nobara?" tanya Satoru, nada bicaranya dingin.
"Aku rindu padamu, Satoru." Nobara lantas memeluk Satoru erat hingga lelaki itu terkejut.
Dadanya mendadak bereaksi, berdetak cepat tanpa bisa disembunyikan. Satoru lantas melepas paksa pelukan Nobara, berharap gadis itu tidak merasakan getaran hebat di dadanya.
"Kenapa kau seperti itu padaku?" tanya Nobara putus asa. Dia menjadi sakit hati ketika pelukannya dilepas begitu saja, padahal Nobara sedikit merasa lega dan tenang, menerima kehangatan dari tubuh Satoru yang besar serta suara detak jantung yang begitu menenangkan.
"Aku hanya merasa tidak enak di hadapan semua orang." Satoru lantas menghindar menuju sofa ruang tamu diikuti Nobara.
"Bagaimana kabarmu?"
Nobara mengambil duduk di depan Satoru. "Kupikir kau tidak penasaran dengan keadaanku."
Satoru melihat jam tangannya, sudah pukul delapan pagi. Masih satu jam sebelum dia berangkat kerja, tetapi hari ini dia memiliki janji dengan Rui.
"Nobara, maaf sekali. Aku harus pergi," ujar Satoru, dia mengecek ponselnya sekali lagi.
Rui sudah menghubunginya beberapa kali. Wanita itu mungkin sudah menunggu sedikit lama hingga menelponnya sebanyak tiga kali.
Nobara pergi setelah Satoru lebih dulu meninggalkannya. Tak jauh dari share house yang ditinggali kakaknya, Nobara melihat Satoru bersama seorang wanita. Mereka saling tersenyum dan bergandengan tangan.
Indah sekali, aku tidak suka.
Mengapa Satoru dengan mudah bertemu seseorang ketika dirinya meninggalkan Nobara dengan banyak luka? Dia menjauhi Nobara, tidak lagi peduli padanya, bersikap tidak perhatian, bahkan terang-terangan menunjukkan jika dia tidak ingin bertemu Nobara.
Nobara menghela napas, menahan perasaan yang begitu mencekik hingga rasanya dia tidak akan bisa bertahan. Dalam suasana hati yang kacau, Nobara memasuki sebuah bar yang ada di sekitarnya.
Sudah hampir pukul tujuh malam, Nobara masih berada di luar. Selama mata kuliahnya berlangsung, dia sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya melayang jauh kepada Satoru, memikirkan di mana lelaki itu sekarang, apa yang sedang dia lakukan dengan kekasihnya?
Apakah mereka berciuman? Apakah mereka melakukannya?
Nobara meneguk habis anggur beralkohol rendah untuk gelas keduanya, mencengkeram kuat gelas itu seakan rasa cemburunya bisa reda.
"Nobara-chan?" sapa seseorang. Lelaki itu mengambil duduk di samping Nobara.
Namanya Eiryu, mahasiswa baru dari jurusan desain seperti Nobara. Mereka beberapa kali bertemu dan Nobara sadar jika Eiryu tertarik padanya.
Dia sering menyapa Nobara, mengajaknya bicara berbagai macam hal, lelaki itu juga sering memberi minuman hangat pada Nobara tanpa diduga-duga.
"Eiryu-kun? Apa kau kebetulan lewat sini?" gurau Nobara sebab Eiryu sering memakai kesempatan bernama kebetulan untuk hal-hal yang dia lakukan terhadap Nobara, seperti memberinya minuman hangat.
Eiryu tertawa malu. "Tidak. Aku melihatmu masuk ke sini, jadi ... aku mengikutimu."
"Wah ... Eiryu-kun, kau memang tertarik padaku, ya!"
Eiryu mengangguk, "Iya. Jadilah pacarku, Nobara-chan!"
Nobara kehabisan kata-kata. Dia menatap Eiryu yang terlihat sangat tulus.
Bagaimana ini? Nobara sama sekali tidak memiliki ketertarikan terhadap Eiryu, tetapi kenapa dia ingin menerima Eiryu sebagai kekasihnya?
"Aku butuh waktu," ujar Nobara dengan senyum tipis.
Iya, Nobara sudah menderita dengan menerima sikap dingin Satoru. Dia juga menderita jika menerima perasaan Eiryu. Dia butuh waktu untuk itu semua.
Beberapa hari kemudian, Nobara menerima permintaan Eiryu untuk menonton bioskop. Meski belum menerima jawaban, Eiryu sering mengajaknya keluar. Dia pikir dengan begitu peluangnya menjadi kekasih Nobara akan semakin besar.
Berkat hal itu pula, Nobara memiliki keuntungan. Dia memang jahat, memanfaatkan perasaan Eiryu untuk kepentingannya sendiri. Namun, perasaan cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Nobara tahu dia salah, tetapi dia tidak bisa membiarkan Satoru menikmati hidupnya.
Nobara ingin Satoru cemburu, dia ingin Satoru melihatnya seperti beberapa malam yang lalu ketika dirinya tidak sengaja bertemu Eiryu.
Nobara memanfaatkan kebetulan tersebut, meminta Eiryu mengantarnya. Dia sengaja melewati share house Satoru, dan beruntung sekali orang-orang itu berada di teras rumah.
Nobara menyapa sebentar, melihat bagaimana reaksi Satoru. Namun, pria itu bersikap tak acuh.
Kali ini dewi keberuntungan tampaknya sedang menyukai Nobara. Dia mendapat kursi tepat di sebelah Satoru yang saat ini tengah terkejut bertemu dengannya.
Nobara tersenyum, lantas duduk tanpa menyapa Rui. Dia sengaja memakai rok pendek sebab dia berencana akan mengunjungi Satoru bersama Eiryu. Namun, Nobara bisa menggagalkan rencana tersebut lantaran dia sudah bertemu Satoru lebih awal.
Helaan napas Satoru ambil, dia merasa gerah melihat cara berpakaian Nobara yang terlalu terbuka. Gadis itu memang memakai blouse berlengan panjang, tetapi rok yang dipakai olehnya terlalu pendek. Satoru tidak suka, apalagi Nobara datang bersama seorang lelaki.
Dia tidak kedinginan, ya?
Dilepaskannya mantel yang Satoru pakai, lalu dia lempar ke pangkuan Nobara untuk menutupinya.
"Tidak perlu," kata Nobara seraya mengembalikan mantel tersebut.
"Rokmu pendek sekali, Nobara! Kau ingin orang-orang menggodamu?!"
"Bukan urusanmu, Satoru!"
Embusan napas keluar dari mulut Satoru. Dia dibuat kesal oleh tingkah laku Nobara yang semakin keras kepala. Berkat dirinya selama ini. Jika saja Satoru memperhatikan Nobara, gadis itu tidak akan menjadi sulit seperti itu.
A Man And A Woman, film yang sedang mereka tonton. Sebuah film dengan konflik yang terjadi di antara seorang pria dan wanita yang sudah menikah dan memiliki anak. Sebuah cerita yang mempermainkan kedua orang hingga pada akhirnya mereka bertemu dan menjalani hubungan yang salah.
Itu adalah film dewasa, entah mengapa Eiryu dan Rui membeli tiket untuk film tersebut. Namun, yang pasti untuk Satoru sedikit membuatnya kesulitan. Harus menonton film dewasa dengan Nobara di sampingnya.
Naluri lelakinya muncul, detak jantungnya berpacu, sementara matanya beberapa kali melihat kaki Nobara yang bersih.
Ketika di layar memperlihatkan sesuatu yang sensitif, Satoru membayangkan dirinya dan Nobara. Hal itu membuatnya semakin resah dan ingin segera pergi dari sana.
"Rui, aku harus ke toilet," ujar Satoru.
Sebelum beranjak, dia membisikkan sesuatu kepada Nobara. Selang beberapa waktu, Nobara pergi menyusul dengan alasan yang sama.
Rui dan Eiryu sama sekali tidak tahu jika kedua orang itu tidak akan kembali ke kursinya.
Ada pikiran yang terlintas begitu Nobara menuruti perintah Satoru. Dia tidak yakin, tetapi berharap jika apa yang dipikirkannya menjadi benar.
Tidak tahu sejak kapan, tetapi Nobara menginginkan tubuh Satoru. Dia ingin merasakan kehangatan seperti di film yang barusan ditonton, dia ingin didamba seperti perempuan lain.
Saat Nobara keluar dari ruang film, tiba-tiba saja tangannya dicengkeram seseorang. Satoru menariknya keluar dari gedung bioskop, meninggalkan Eiryu dan Rui yang masih menonton film tanpa sadar jika keduanya dicampakkan.
Tanpa menolak sedikitpun, Nobara mengikuti Satoru yang sudah tidak bisa mengendalikan diri. Cengkraman tangannya kuat, langkah kakinya lebar dan tergesa-gesa, seperti detak jantungnya yang seolah akan segera meledak.
Mereka menaiki taksi menuju share house Satoru. Tidak ada tempat lain selain rumah itu, kamar itu dan ranjang kecil di dalamnya. Dia sudah merasa resah, bagian tubuhnya terus mengalami ereksi ketika Nobara duduk di sebelahnya, memakai rok pendek yang membuatnya berfantasi di dalam gedung bioskop.
"Satoru, bukankah lebih baik kita ke tempat lain?" tanya Nobara, menghentikan Satoru saat hendak membuka pintu rumah.
"Mereka sedang tidak ada di rumah, sampai lusa."
Suaranya menjadi serak, napasnya tersengal-sengal setiap bertatapan dengan Nobara. Satoru lantas menarik Nobara masuk ke dalam kamarnya.
Tangannya mendorong bahu Nobara hingga terbaring di ranjang, lantas menindih gadis itu dan mengunci tatapan, hingga keduanya larut dalam perasaan yang membuat mereka ingin berciuman satu sama lain.
Rasanya semua usaha yang Satoru lakukan demi menepis perasaannya menjadi sia-sia, sebab Nobara tetap berada di lingkup kehidupannya. Bahkan ketika mereka terpisah jarak, Satoru masih tetap memikirkan gadis itu, tanpa sedetikpun berhenti.
"Nobara, apa kau tahu? Kau membuatku serba salah saat dirimu semakin besar." Satoru membelai wajah Nobara, ringan dan penuh keinginan.
"Aku sudah berusaha menghindarimu dengan pergi ke Tokyo, tetapi kau —datang dan membuatku resah seperti ini," kata Satoru pelan. Dia masih menahan untuk tidak menyentuh Nobara dan membuatnya menjadi lelaki brengsek, seorang kakak menodai adiknya.
Jarinya bergerak mengikuti lekuk wajah Nobara, berhenti pada bibir Nobara yang manis. Satoru ingin mengecupnya.
"Katakan, apa yang kau lakukan dengan lelaki itu setiap kalian keluar malam?"
Satoru mengembuskan napas berat. Rasanya dia sudah tidak bisa menahan gejolak di dadanya yang semakin besar.
"Dia menciumku," ujar Nobara. Satoru memejamkan mata setelah mendengarnya.
Kesal sekali.
"Aku berusaha menjaga hubungan kita tetap baik, Nobara. Namun, apa yang kau lakukan? Kau membuatku tidak waras!"
Akhir-akhir ini setiap malam Satoru memikirkannya, membayangkan apa yang dilakukan Nobara dan Eiryu di luar sana.
Satoru menyerah. Dia tidak bisa menjaga hubungan mereka sebagai kakak dan adik. Dia menyukai Nobara, ingin menciumnya, memeluknya dan menyentuh Nobara dengan bahagia. Satoru ingin bersama Nobara mulai sekarang, sebagai lelaki yang mencintai wanitanya tanpa merasa bersalah.
Nobara menggerakkan tangan, melingkarkannya pada leher Satoru yang berada di atasnya. Dia lantas menekan kepala Satoru, membawanya kedalam ciuman yang menggebu-gebu tetapi manis.
Mata mereka terpejam, merasakan debaran-debaran yang tercipta saat lidah mereka saling bertemu dan bertukar Saliva.
"Ahh ...!"
Sesekali keduanya menghela napas, kemudian kembali melumat bibir hingga decapan yang erotis terdengar begitu merdu.
"Katakan, sudah berapa kali kau berciuman?" tanya Satoru dengan senyum puas. Dia tidak percaya jika Nobara sangat pandai dalam berciuman hingga dia kehabisan napas.
"Entahlah ... mungkin tiga kali waktu kelas dua?" jawab Nobara tidak yakin.
"Selain berciuman, apa lagi yang sudah kau lakukan?"
Wajah Nobara mendadak memerah. Dia tidak ingin mengingatnya, tetapi begitu mendengar pertanyaan itu dari bibir Satoru, Nobara mengingat sesuatu yang cukup membuatnya malu.
"Ada apa di balik ekspresi itu? Kau sudah melakukan hal itu rupanya."
Nobara menggeleng, "Aku belum pernah melakukannya. Hanya saja ... memikirkanmu membuatku—"
"Apa? Katakan." Satoru membelai rambut Nobara, kemudian memainkan telinga gadis itu dan membuatnya merinding.
"Aku tidak bisa, itu memalukan."
Satoru mengecup bibirnya,
Lagi,
Lagi dan lagi, lantas membutanya semakin dalam dan panas, memacu detak jantung hingga gairahnya membeludak.
Tangan kanan Satoru bergerak turun meraba perut Nobara, gadis itu mengerang di sela-sela ciuman. Saat jemari Satoru meremas dadanya, dia menyudahi ciuman, mengigit lengannya sendiri sebagai reaksi dari rasa menggelitik itu.
Satoru tertawa geli, rupanya gadis itu memang belum pernah pada tahap sedalam ini. Dia yang pertama, yang akan bercinta dengan Nobara.
Buru-buru Satoru melepas blouse panjang yang dikenakan Nobara dan membuangnya tanpa tahu kemana.
Satoru kembali menciumnya, lebih agresif dan penuh gairah. Kali ini tangan kirinya bermain-main pada dada Nobara, terkadang meremas, terkadang memilin bagian ujungnya.
Saat Satoru tak lagi mencumbu, Nobara mendesah menerima semua sensasi menggelitik pada tubuhnya. Rasa asing yang menggelikan, tetapi sangat menyegarkan. Dia suka.
Permainan tangannya berubah, Satoru membawanya untuk meraba paha Nobara yang hanya memakai rok pendek. Tangannya berjalan-jalan di sana, memberi rabaan yang membuat Nobara meremang dan merasa panas di bagian selangkangan.
"Sato–ru ...!" Nobara menjerit.
Dia merasa aneh ketika jemari Satoru menyentuh miliknya yang masih memakai celana dalam. Nobara menatap Satoru yang benar-benar bergairah. Mata lelaki itu terlihat sangat terangsang dan Nobara pikir itu sangat seksi. Lantas dia membiarkan Satoru memainkan jarinya di dalam.
Nobara menatap ke atas dengan guncangan yang baru dia rasakan. Rasanya aneh, memalukan, tetapi begitu denyutan-denyutan hadir saat Satoru semakin cepat menggerakkan jarinya, Nobara menjerit, memanggil nama Satoru sebagai pelampiasan pertamanya.
"Seperti ini rasanya saat memikirkan aku?"
Nobara tersenyum malu, lantas menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.
Kali ini bahkan lebih liar daripada saat Nobara melakukannya sendiri. Satoru membuatnya mengalami klimaks hanya dengan foreplay, sungguh luar biasa.
"Aku akan melakukannya," kata Satoru sembari melepas bajunya, kemudian jeans yang dia pakai, menyisakan celana dalam abu yang terlihat jelas bagaimana miliknya berereksi.
Saat Satoru menarik celana dalam, Nobara membulatkan mata. Milik Satoru besar sekali, berbeda dari milik pemain film dewasa yang pernah dia tonton bersama Yui.
Dia lantas mendekat dan melebarkan kaki Nobara untuk bisa berada di tengah-tengahnya, lantas perlahan mendorong miliknya dengan pelan, sebab ini yang pertama bagi Nobara.
"Aw! Sakit ...!"
Satoru tahu, sebab dia pernah belajar soal seks edukasi. Pengalaman pertama perempuan adalah yang paling menyiksa, bahkan yang kedua dan ketiga kalinya pun masih akan menyakitkan.
Satoru memeluk Nobara, membelai rambutnya, kemudian mencium Nobara dengan mesra.
"Sakit, ya?" Nobara mengangguk, "Kalau begitu siksa aku."
Satoru mencoba masuk lagi dengan jeritan Nobara memekak telinga. Untung saja orang-orang sedang bertugas di luar kota, jadi tidak masalah.
Satoru terus memaksa masuk, tidak peduli dengan punggungnya yang dicakar dan bahunya yang digigit Nobara. Semua itu tidak sepadan dengan Nobara yang sudah dia robek kewanitaannya.
Hanya rasa perih dan panas yang dapat Nobara rasakan, sementara Satoru merasa miliknya diberi kenikmatan oleh pijatan-pijatan milik Nobara. Dia ingin bergerak, mengeluar-masukkan miliknya seperti orang gila dan mendapat kepuasan. Namun, kali ini dia tidak bisa.
Tangannya lelah harus menopang tubuh, sementara Satoru belum berani bergerak saat Nobara masih meringis di bawahnya.
"Sakit sekali, ya?"
Nobara hanya mengangguk dengan mata berair.
Dia lantas memeluk Nobara, mengangkatnya dan membiarkan keduanya duduk dalam penyatuan. Ini lebih baik. Satoru bisa merasakan cairan hangat membelai di sekitar miliknya.
"Nobara, kau bisa bergerak?"
Memang sulit, tapi Nobara berusaha. Dia tidak ingin Satoru kecewa lantaran dirinya menjadi wanita yang cengeng.
Nobara lantas memegang bahu Satoru, perlahan bergerak naik dengan rasa perih yang tidak separah tadi. Dia kemudian bergerak turun, menelan habis milik Satoru.
"Benar be–gitu ..."
Satoru memejamkan mata. Rasanya begitu nikmat, bercinta dengan seseorang yang dia cintai rupanya menambah perasaan bahagia saat melakukannya.
Nobara mempercepat gerakannya, hingga dia merasa sedikit lelah dengan posisi seperti itu. Lantas, Satoru membaringkannya lagi seperti semula, kemudian menarik dan mendorong miliknya dengan sedikit cepat.
Pikirannya kosong, penuh dengan bayangan-bayangan sensual saat dia bergerak seperti itu. Desahan Nobara membuatnya semakin hilang akal meski dia tahu Nobara masih merasa sakit. Satoru memang harus egois jika ingin malam-malam berikutnya mereka sama-sama menikmati dan merasakan nikmatnya bercinta.
"Satoru—!"
Nobara menarik rambut Satoru kuat, tetapi pria itu justru semakin cepat mendorong miliknya hingga dia merasa Nobara akan segera sampai.
Satoru menegakkan tubuhnya masih dengan melakukan gerakan tarik ulur, sementara tangannya bermain-main dengan dada Nobara yang bergerak menggemaskan.
Pijatan yang Satoru rasakan semakin jelas, jemari Nobara meremas sprei hitam saat dia menggigit bibir. Satoru mempercepat gerakannya untuk mendapatkan pelepasan yang sempurna.
"Nobara—!"
Satoru ambruk begitu menerima gelombang nikmat. Tubuhnya bereaksi kejut di saat-saat yang melegakan itu.
"Aku tidak memakai kondom," ujarnya.
"Apa kau bilang?"
"Memangnya kau tidak bisa membedakannya?"
Nobara menggeram. Bagaimana dia bisa membedakan hal itu jika yang baru saja mereka lakukan adalah pertama kalinya bagi Nobara?
Satoru tertawa keras setelahnya, melihat bagaimana Nobara terkejut, cukup membuatnya puas.
Dia lalu berbaring di samping Nobara. "Aku memakainya, jangan khawatir."
Melegakan sekali, batin Nobara.
Dia menyembunyikan wajahnya merasa malu, bahkan setelah apa yang mereka lakukan selama tiga puluh menit tadi. Bercumbu, saling menyentuh tanpa rasa malu, hingga mencapai kenikmatan yang begitu indah.
Dimainkannya rambut Nobara yang berantakan, lalu membelainya pelan dengan penuh kasih.
"Ayo jujur kepada Otousan dan Okaasan, jika kita memiliki hubungan seperti ini."
Nobara memandang Satoru, "Bagaimana kalau hal ini membuat mereka tertekan?"
"Sejujurnya ... mereka sudah tahu kalau aku menyukaimu."
Nobara membulatkan mata. Dia tidak percaya akan apa yang dia dengar. Apakah itu alasan mengapa ibunya tidak memberikan alamat Satoru kepadanya? Apakah karena itu juga ibunya tidak memberitahunya soal pindahan Satoru?
"Pantas saja Okaasan begitu. Ternyata kau sudah memberitahunya." Nobara memeluk tubuhnya sendiri.
Sekarang dia sedikit merasa bersalah. Sebab bagaimanapun juga, dia telah membuat ibunya berpikir. Nobara yakin selama ini Ibunya tertekan dan menderita, mengetahui Satoru menyukai Nobara, anak yang sudah dia angkat menjadi anaknya.
"Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya. Okaasan pasti mengerti."
Iya, Satoru bilang dia akan mengurus semuanya, berbicara dengan ayah dan ibunya dengan baik dan mendapatkan persetujuan. Namun, Nobara tidak bisa tenang. Masih ada beban mengganjal di hati lantaran dirinya terus menerus mengingat kebaikan ibunya selama ini.
Ponsel yang dia pegang sedari tadi berbunyi, seseorang yang sedang Nobara pikirkan menelpon.
"Halo, Okaasan," sapa Nobara.
Ibunya menanyakan kabar dan rutinitas lain seperti, apakah Nobara makan dengan baik, apakah anaknya mengalami kesulitan di tempat baru?
Sikap ibunya yang perhatian sudah kembali, dan itu membuat Nobara semakin tertekan.
"Apa kau ... sering bertemu Satoru?"
Pertanyaan itu membuatnya bergeming. Sangat mudah untuk dijawab, tetapi dia memikirkan sesuatu yang mereka lakukan terakhir kali.
"Okaasan, aku ... menyukai Satoru ..."
Telepon yang berada di telinganya merosot setelah mendengar ucapan Nobara. Dadanya nyeri seiring dengan air matanya yang menggenang di pelupuk mata.
Terdengar beberapa kali Nobara memanggilnya, tetapi Hoshikawa tidak menyahut dan menangis tanpa mengeluarkan suara dalam rengkuhan suaminya. Dia tidak tahu bagaimana ini semua bisa terjadi, tetapi dirinya tidak bisa melakukan apapun jika kedua anak itu sama-sama memiliki perasaan.
"Okaasan, aku minta maaf." Satoru menunduk dalam di hadapan ibunya. Dia tahu jika dirinya sudah membuat ibunya kecewa, dia juga tahu jika saat ini bukanlah saat yang tepat untuk meminta maaf.
Hoshikawa menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya untuk mendapat ketenangan. Jujur saja, dia tidak merasa kecewa ataupun sedih. Dia hanya terkejut dan merasa semua itu hanya omong kosong. Namun, wanita itu masih waras untuk menyadari jika apa yang dia dengar bukanlah omong kosong, tetapi kejujuran dari dua anaknya.
Hoshikawa bisa saja menghalangi mereka berdua, tetapi tidak sanggup untuk menerima keputusan Satoru dan Nobara setelahnya. Membayangkan kedua anak itu akan pergi jauh meninggalkan dirinya sangat menyakitkan.
Iya, mereka bukan kakak adik, batin Hoshikawa meyakinkan diri.
"Otousan akan menarik surat adopsi terhadap Nobara," ujar sang ayah tegas. Selain menghalangi hubungan anaknya, dia memiliki pilihan lain yang harus dia pilih. Mencabut surat adopsi Nobara adalah satu-satunya cara supaya Satoru dan Nobara bisa menjalani hubungan mereka dengan normal.
Satoru memegang ucapannya. Dia membawa persetujuan dari ayah dan ibunya setelah sempat membuat Hoshikawa menangis tersedu-sedu. Untuk yang satu itu memang sangat disesalkan, tetapi Satoru tidak bisa menyerah hanya karena ibunya menangis.
Dia menyukai Nobara, ingin bersama Nobara. Jika Ayah dan ibunya menolak, tidak ada pilihan lain selain membawa kabur Nobara, sebab dirinya tidak bisa hidup hanya sebagai kakak untuk Nobara.
"Jadi, sejak kapan kau memiliki perasaan padaku?"
Satoru berpikir, mengingat-ingat di mana dia merasa terganggu dengan wajah Nobara, ketika dia berdebar-debar melihat senyum Nobara, bahkan merasakan sesuatu yang meluap-luap dalam dirinya ketika Nobara berubah menjadi gadis dewasa.
"Semenjak kau kelas dua?"
"Bohong! Waktu aku kelas dua, kau sudah kabur ke Tokyo!"
"Sumpah, aku masih ingat kau memakai seragam SMP saat itu."
Nobara ternganga, dia tidak percaya jika Satoru mulai tertarik padanya sejak saat itu.
"Dasar cabul! Aku masih di bawah umur!" serunya sembari memukul bahu Satoru agak keras.
Satoru mencengkeram, kemudian mengecup bibir Nobara dan membawanya ke dalam pelukan, "benar, aku memang cabul. Lebih cabul daripada seorang adik yang berfantasi dengan kakaknya—"
"Hentikan! Jangan ungkit soal itu." Nobara merengut, kemudian membelakangi Satoru yang masih tertawa.
"Baiklah ... aku tidak akan mengungkitnya lagi." Satoru menyelusupkan tangannya di antara leher dan bahu Nobara, merengkuhnya erat penuh dengan syarat.
Tubuhnya bergeser mendekati Nobara, menghirup dalam-dalam aroma Nobara yang begitu memabukkan. Tidak lama setelah itu, napasnya tersengal-sengal dan sesuatu dalam dirinya mendadak terbakar.
Bisa Nobara rasakan dengan jelas jika Satoru terangsang dibelakangnya. Lantas, Nobara berbalik dan menatap mata Satoru yang berkilat penuh hasrat.
Jemarinya bergerak menyentuh wajah Satoru, membelainya dengan lembut hingga pria itu meremang.
Nobara mengecupnya singkat, "Satoru, tidurlah denganku."
