Work Text:
Di umurku yang baru saja menginjak sepuluh tahun, Papa membawaku pergi ke pelelangan budak yang dihadiri oleh para aristokrat. Papa bilang aku sudah pantas untuk mendapatkan "mainan"-ku sendiri. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Aku senang karena aku akhirnya mendapat privilese untuk memiliki seorang budak yang kupilih sendiri. Namun, sudah setengah jam aku menyaksikan bagaimana si pembawa acara menunjukkan koleksi-koleksi miliknya tidak ada satupun yang membuatku tertarik. Aku tidak tahu mengapa begitu, padahal sewaktu dalam perjalan di kereta kuda aku begitu antusias.
"Bagaimana, Nak? Ada yang kamu suka?" tanya Papa. Aku tidak segera menjawab karena khawatir jika aku mengatakan yang sebenarnya, Papa akan mengajakku pulang. Sampai akhirnya si pembawa acara kembali bersuara dan mengatakan sesuatu yang membuat peserta pelelangan berbisik-bisik. "Tuan dan Nyonya yang terhormat, kita telah sampai ke penghujung acara. Sebab pelelangan malam ini cukup meriah, kami hendak menutupnya dengan kemeriahan yang lebih besar lagi. Kami menawarkan kepada kalian yang tertarik untuk memiliki budak istimewa kami. Bawa dia!" Begitu perintah diucapkan, dari balik tirai merah yang menutup belakang panggung, sebuah sel seukuran 2 x 2 meter didorong ke depan.
Di dalam sel tersebut terkurung seorang pria berambut merah jambu sebahu dengan pakaian compang-camping dan luka seperti sehabis melewati penyiksaan. Tanpa perlu aku mengintip ke dalam pakaiannya, aku yakin telah banyak luka yang ia terima terlihat dari noda darah kering yang menempel di pakaian dan kulitnya yang seputih salju. Tidak seperti budak-budak sebelumnya yang memiliki tatapan mata yang telah meredup atau dengan sekumpulan rasa takut dan kalut di sana, pria itu justru memberikan tatapan tajam kepada peserta pelelangan yang menonton dari tempat mereka. Jika saja tatapan bisa membunuh, sudah pasti akan ada genosida di tempat ini. Hingga akhirnya tatapan kami bersirobok.
Aku tidak tahu perasaan asing apa yang menjalar di dalam dadaku. Aku masih sepuluh tahun, artinya masih banyak hal yang belum kuketahui di dunia ini. Bahkan buku dan literatur yang selalu pengajar berikan padaku tidak pernah menyebutkan tentang perasaan ini. Yang aku tahu pasti adalah aku ingin membawanya pulang bersamaku. Aku sudah menentukan hadiahku. "Pa, Rin mau dia," kataku pada Papa. Pembawa acara kembali bersuara. "Dia ini bukan sembarang budak, dahulunya adalah seorang pahlawan perang dari negeri seberang yang dijadikan tawanan perang. Kami membuka harga seratus keping emas!" Bisik-bisik dari peserta pelelangan semakin nyaring begitu mendengar sedikit latar belakang dari budak yang baru saja ditunjukkan.
"Dua ratus lima puluh keping emas."
"Lima ratus keping emas."
"Lima ratus lima puluh keping emas."
Penawaran demi penawaran saling susul-menyusul. Banyak aristokrat berlomba untuk membeli budak mantan pahlawan perang tersebut. Aku melirik Papa di sebelahku yang masih diam, 'tak tahu apa yang dipikirkan beliau. Sampai ketika salah seorang penawar menyebutkan angka delapan ratus keping emas, Papa masih bungkam membuatku khawatir jika ia tidak mau membelikanku budak yang ini. Namun, kekhawatiranku sirna ketika Papa tiba-tiba saja berdiri dan beujar tenang, "lima ribu keping emas." Aku terkejut mendengar nominal yang Papa sebutkan. Keluarga kami memang kaya raya, bahkan kami masih memiliki keturunan darah dengan keluarga kerajaan. Aku masih tidak percaya Papa mau mengeluarkan keping emas sebanyak itu hanya untuk membeli budak yang dihargai seratus keping emas awalnya.
Ketika Papa selesai berbicara, suasana pelelangan seketika hening. Tidak ada lagi yang menyerukan penawaran mereka bahkan si pembawa acara tadi sempat terdiam sesaat sebelum kembali menyita atensi peserta pelelangan. "Lima ribu keping emas! Ada lagi yang ingin menawar?" tanyanya yang terdengar seperti pertanyaan retorika sebab tidak ada satupun yang mampu menyediakan keping emas sebanyak itu dalam waktu singkat namun lain cerita bagi keluarga Haitanai. "Tidak ada? Baiklah, terjual lima ribu keping emas!" dan seketika senyumku mengembang.
Papa dan aku dibawa menemui budak yang telah kami tawar tinggi tadi. Papa mengurus transaksi sementara aku menemui budak tadi yang masih berada di dalam sel dengan rantai yang mengungkungnya kaki dan tangannya. Kedua matanya terpejam sehingga manik zamrud miliknya tersembunyi. Ketika aku membawa kedua tungkai kaki pendekku ke arahnya ia segera membuka matanya. Sekali lagi perasaan asing itu datang tanpa permisi. "Siapa namamu?" tanyaku. Kedua tanganku mencengkeram jeruji besi itu. Ia diam, hanya melihatku tanpa niat menjawab pertanyaanku. Mungkin ia tidak bisa berbicara? Maka aku mencoba bertanya sekali lagi. "Kamu tidak bisa bicara?" dan lagi pertanyaanku dibiarkan menggantung di udara.
Papa sudah selesai dengan urusannya dan ia menemuiku, berdiri di sebelahku dengan tangannya yang bertumpu pada bahuku. "Selamat ulang tahun, Nak. Pemilik sebelumnya bilang namanya Sanzu. Tapi, kamu bisa memberinya nama yang kamu inginkan." Aku melihat ke arah Sanzu sekali lagi yang masih terus mengamatiku. "Terima kasih, Papa." Sanzu dikeluarkan dari sel namun tetap dengan rantai yang terpasang agar ia tidak bisa kabur jauh. Ia menaiki kereta kuda yang berbeda dengan aku dan Papa dijaga oleh salah satu pengawal kami. Aku ingin berada di kereta yang sama dengan Sanzu, tetapi Papa melarangku karena ia masih kotor dan dikhawatirkan akan mencoba menyakitiku.
Sampai di kediaman Haitani, Sanzu dimasukkan ke dalam ruang bawah tanah. Hari sudah amat larut sehingga seluruh pelayan telah beristirahat. Sanzu akan dibersihkan besok pagi, sehingga ia hanya ditinggalkan begitu saja di ruang bawah tanah. Aku sendiri sudah berada di kamarku dengan mengenakan piyamaku. Kutatap langit-langit kamarku. Aku tidak bisa tidur sebab aku terus memikirkan Sanzu. Papa bilang Sanzu bisa berbicara, hanya saja ia memang jarang melakukannya. Aku jadi ingin mendengar suara Sanzu dan malam kuhabiskan dengan terus memikirkannya.
Aku rasa aku sudah berusaha untuk tidur dengan berbagai posisi namun tetap saja rasanya aku tidak berlama-lama memejamkan mataku. Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari tempat tidurku lalu keluar dari kamar. Aku tidak tahu mengapa bisa langkah kakiku membawaku ke ruang bawah tanah di mana tempat Sanzu dikurung. Kupijaki tiap anak tangga dengan hati-hati sembari membawa lilin yang menerangi jalanku menuju tempat Sanzu. Aku tiba di selnya, kulihat Sanzu sedang tidur meringkuk di lantai ruangan padahal ada tempat tidur gantung di sisi dinding meski kujamin kasurnya sekeras batu. "Sanzu..." panggilku. Aku pikir ia sudah tidur hingga kelopak matanya bergerak dan ia segera mengganti posisinya yang semula meringkuk kini duduk dengan lutut ditekuk dan punggung menempel di dinding.
Sanzu masih menatapku dengan pandangan yang sama seperti yang ia berikan padaku di tempat pelelangan. Aku tahu dia tidak akan berbicara sepatah katapun padaku jadi kuputuskan untuk bercerita saja. Kududukkan diriku di depan sel milik Sanzu. "Namaku Haitani Rindou. Aku punya seorang kakak, namanya Ran. Kak Ran mengikuti pertukaran pelajar di negeri tetangga dan ia belum pulang. Padahal hari ini ulang tahunku." Sanzu tidak bereaksi apapun seperti yang telah aku duga. Mungkin ia tidak tertarik mengetahui tentangku. Sebaliknya aku ingin tahu apa yang dipikirkan Sanzu sekarang.
"Besok pelayan akan membersihkanmu. Aku akan meminta mereka mengobati luka-lukamu," kataku lalu beranjak. Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Bisa gawat jika Papa menemukanku berada di ruang bawah tanah saat ini. Setelah berbicara dengan Sanzu, aku akhirnya bisa tidur. Hingga pagi menjelang dan tirai jendela disingkap oleh para pelayan berhasil menyilakan cahaya matahari masuk. Aku dibantu membasuh tubuhku dan memakai pakaianku. Dua jam kemudian aku sudah rapi dan wangi. Saat aku pergi ke ruang makan untuk sarapan, Papa tidak berada di sana seperti biasa. Kepala pelayan keluarga mengatakan jika Papa sudah pergi untuk urusan bisnis yang mendadak sehingga beliau sudah pergi dini hari tadi tanpa berpamitan padaku.
Aku menyelesaikan sarapanku sendiri lalu teringat soal Sanzu. Dia mungkin belum makan sejak kemarin. "Lene, bawakan aku sepiring makanan yang sama dengan yang kumakan tadi," perintahku pada salah satu pelayan yang berdiri di sebelahku. Lene mengangguk lalu permisi. Tidak berapa lama ia kembali dengan sepiring makanan yang kuminta. Aku mengambilnya lalu membawanya ke ruang bawah tanah. Saat aku sampai di sel, Sanzu sedang melakukan push-up di lantai. Karena kaki dan tangannya sudah tidak dibelenggu oleh rantai lagi ia jadi bisa sedikit bergerak bebas.
"Aku bawa sarapan buatmu," ujarku. Sanzu tidak melirik sama sekali, ia masih terus melanjutkan push-up-nya. Aku pun mendorong piring tersebut ke dalam selnya lalu duduk memperhatikan Sanzu dalam diam hingga ia menyelesaikan push-up-nya. Makanan yang kuberikan masih saja belum disentuh. "Aku tidak meracunimu," kataku dengan setitik harapan ia akan mempercayai ucapanku. Aku menyuap sesendok makanan ke mulutku untuk membuktikan ucapanku. Sanzu hanya melihat. Beberapa saat kemudian tidak terjadi apa-apa, karena memang tidak ada apa-apa di makanan tersebut. "Kamu tahu, kamu tidak bisa mendiamkan aku seperti ini. Aku ini majikanmu dan aku sedang mencoba menjadi majikan yang baik untukmu. Kamu mau aku mengembalikanmu ke pelelangan?" ancamku. Aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku hanya ingin sedikit menakuti Sanzu agar ia menurut.
Kurasa ancamanku cukup mempan karena Sanzu akhirnya bergerak mengambil piring dan mulai menyantap makanan tersebut. Aku memperhatikan di tempatku dalam diam. Awalnya Sanzu menyendokki makananya dengan pelan, hingga dua-tiga sendok kemudian ia makan seperti orang kelaparan. Entah berapa hari ia lewatkan dengan tidak menyantap apapun. Bahkan, tadi saja ia baru melakukan push-up. Kurasa fakta bahwa ia seorang pahwalan perang ada benarnya juga. Sanzu bukan budak sembarangan. Piring sudah bersih dalam sekejap, Sanzu meletakkannya ke tempat semula. Ia tidak mengatakan apapun; bahkan terima kasih pun tidak. Aku tidak mempermasalahkannya karena anjing memang tidak berbicara, kan?
Aku memanggil pengawal dan pelayan untuk mengurus Sanzu. Sesuai janjiku padanya kemarin malam jika hari ini Sanzu akan dibersihkan dan diobati. Mereka membawa Sanzu ke sebuah ruangan di mana ada bak mandi besar. Di sana Sanzu dimandikan dengan bantuan para pelayan dan dijaga oleh pengawal. Mereka memintaku untuk menunggu di luar, tetapi aku ingin melihat semuanya. Jadi, aku tetap tinggal dan menonton. Punggung Sanzu penuh dengan luka bekas cambukan. Ada yang terlihat sudah lama, ada juga yang masih merah-keunguan. Dadanya juga tidak jauh berbeda. Aku tidak bisa membedakan mana yang berasal dari luka siksaan dan luka pasca-perang.
Setelah membersihkan Sanzu, ia yang sudah wangi dan bersih kini diberi pakaian yang layak. Hanya dalam balutan kain murahan Sanzu terlihat begitu tampan dan gagah. Semakin meyakinkan jika ia adalah seorang pahlawan perang dengan postur tubuhnya yang menjulang dan rahang tegas. Dokter keluarga Haitani memeriksanya, memberinya obat-obat apa saja yang dapat menahan rasa sakitnya dan membantu proses penyembuhan luka-lukanya. Sekali lagi aku berada di sana untuk mendengarkan. Setelah dokter selesai dengan Sanzu, tersisa aku dan ia berdua di kamarku. Aku yang meminta agar Sanzu diperiksa di kamarku. Pelayan dan pengawal yang mengikuti kami tadi sudah kusuruh untuk pergi meninggalkan kami berdua.
Aku menaiki tempat tidur lalu duduk di sebelah Sanzu. Ia hanya duduk dengan posisi tegak tanpa melihatku. Aku pun meraih wajahnya agar tatapan kami saling bertemu. "Dokter bilang bekas luka yang di sini tidak bisa dihilangkan," ujarku menyentuh luka yang berada di sekitar mulut Sanzu dengan kedua tanganku. Ia tidak mengatakan apapun hanya menatapku. Tiba-tiba saja ia bergerak cepat mendorongku ke tempat tidur. Satu tangannya mengunci kedua pergelangan tanganku dan satu lagi mencengkram leherku seakan-akan ia mampu meremukkannya kapan saja. "Kenapa kau melakukan ini? Kau meremehkanku? Aku bisa membunuhmu sekarang sebab aku tidak sudi menjadi anjing bocah aristokrat. Kalian semua biadab!" Itu adalah kalimat pertama juga terpanjang yang Sanzu ucapkan sejak pertemuan kami.
Daripada merasa takut akan ancamannya yang kutahu bukan bualan belaka, aku dengan percaya diri berucap, "kamu bisa bunuh aku. Tapi, yang kamu dapat setelah membunuhku bukan kebebasan yang kamu inginkan. Keluarga Haitani akan mengeksekusimu, jika kamu berhasil kabur kamu hanya akan diburu sampai mati. Apapun usahamu kamu akan mati dan kita akan bertemu di neraka." Sanzu bungkam, sekilas sorot mata yang ia berikan padaku tampak berbeda dari sebelumnya. Namun, hanya sebentar sebelum kembali seperti semula. "Anak sepuluh tahun tidak ada yang berbicara seperti itu," katanya dan aku setuju. Anak seumuranku tidak ada yang sepertiku. Keluarga Haitani memang berbeda, harus kuakui.
"Masih ingin membunuhku?" tanyaku dan Sanzu tidak menjawab. Kurasa ucapanku sedikit banyak mempengaruhi keputusannya. "Kamu tidak perlu menjadi anjingku, kamu bisa jadi temanku," lanjutku ketika tidak ada tanda-tanda ia akan berbicara. Sanzu mengendurkan cengkeraman tangannya pada leherku. Aku tidak bilang jika aku tidak takut ketika ia berusaha mencekikku. Namun, kunci dari negosiasi adalah sebagai negotiator aku harus tetap tenang. Maka, kukesampingkan semua rasa takutku. Tiba-tiba saja Sanzu tertawa dan itu bukan tawa yang kusuka, dia sedang mengejekku. Apa ada yang aneh dengan ucapanku barusan? "Aku, jadi temanmu? Kau ini tidak punya teman atau bagaimana?"
"Tidak punya," jawabku. Aku hanya punya Kakak dan sekarang ia tidak sedang berada bersamaku. Rasanya sepi, seakan separuh dari diriku direnggut sebab aku selalu menghabiskan sebagian besar hidupku bersama Kakak. Belajar dan bermain, semuanya. Aku jadi merindukan Kakak. Aku tidak ingin ada yang menggantikan posisinya, tidak dengan Sanzu. Tapi, tidak ada salahnya menambah teman baru. Sanzu sudah berhenti tertawa, sekali lagi dia memberiku tatapan yang tidak dapat aku artikan. Aku menarik tanganku yang sudah tidak dikunci olehnya, kuraih tangannya dan kutaruh di depan dada. "Sanzu, sekarang kamu temanku." Aku tidak menunggu jawaban Sanzu. Mau atau tidak, ia harus menjadi temanku karena itu satu-satunya cara agar ia bisa hidup.
Sejak hari itu sikap Sanzu sedikit berubah kepadaku. Memang ia tidak langsung baik dan manis, Sanzu bukan penjilat. Ia mengejekku dan memarahiku. Ia memujiku dan membantuku. Ia benar-benar seperti teman. Sanzu makan di meja yang sama denganku dan tidak ada pelayan dan pengawal yang mempermasalahkan hal tersebut meski di awal mereka terkejut sebab aku yang memintanya untuk menemaniku makan. Sanzu tidur di kamar miliknya sendiri, bukan lagi ruang bawah tanah yang gelap dan dingin. Walau terkadang cukup sering aku memintanya untuk tidur bersamaku.
Papa tidak kunjung pulang dari urusan bisnisnya. Padahal sudah hampir sebulan berlalu. Bahkan sepucuk surat pun tidak pernah ia kirimkan padaku untuk memberi kabar. Kakak juga sama. Sudah sebulan ia berhenti mengirimkan surat kepadaku. Aku merasa sedih dan sepi tanpa dua anggota keluargaku. Untungnya Sanzu masih bersamaku. Sekarang ini aku hanya punya Sanzu. Aku tidak mau ia juga pergi untuk meninggalkanku. Maka, malam ini kuajak ia untuk tidur bersamaku. "Sanzu, kamu jangan seperti Papa dan Kakak," kataku sembari mengangkat kepalaku. Kami sedang berbaring di tempat tidurku dengan tangan Sanzu sebagai sandaran kepalaku. Aku selalu suka menaruh kepalaku di sana, lebih nyaman daripada tumpukan bantal di tempat tidurku.
Sanzu tidak merespons, tetapi aku tahu dia masih terjaga. Sementara itu aku merasa mataku sudah berat. Aku benar-benar tidak dapat menahan kantukku. Maka, ketika mataku mulai terpejam, sayup-sayup aku bisa mendengar Sanzu berkata, "aku tidak akan pergi." Aku tidak tahu apakah itu hanya imajinasiku saja atau Sanzu sungguh mengatakannya karena tahu-tahu saja aku sudah berlabuh ke alam mimpi.
Aku tidak tahu apa yang membuatku terbangun, aku tidak ingat. Ketika aku membuka mataku, Sanzu tidak berada di dekatku. Sisi tempat tidurku kosong. Saat itu tiba-tiba saja aku merasa sedih, barangkali karena aku masih kepikiran soal Papa dan Kakak. Aku melompat turun dari tempat tidur lalu keluar kamar. Kuputuskan untuk mencari Sanzu. Saat aku keluar dari kamarku, aku merasa keheningan yang janggal. Penerangan yang ditempatkan di beberapa titik padam membuat seisi ruangan menjadi gelap gulita. Namun, aku sudah lama tinggal di sini sehingga aku menghapal baik denah kediaman Haitani. Setiap satu langkah kuambil, semakin mencekam suasananya.
"Sanzu!" kuteriakkan namanya. Tidak ada jawaban. Aneh sekali, aku bahkan tidak melihat ada pengawal yang berjaga di tempat-tempat seharusnya. Aku sudah berjalan cukup jauh dan sampai di ruang belajar Papa yang pintunya terbuka lebar. Tidak sembarang orang boleh masuk ke ruangan itu, bahkan aku harus meminta izin dengan Papa. Lantas, siapa yang berani membukanya? Kuputuskan untuk memeriksanya. Namun, sebelum kakiku mencapai pintu ruangan aku merasa seseorang menarikku dari belakang. Ia membekap mulutku membuatku tidak dapat berteriak meminta tolong. "Sssh!" Irisku membulat, aku kenal suara ini. Suara Sanzu.
Sanzu sudah melepaskan tangannya dari mulutku. Aku berbalik untuk melihatnya. Dengan kegelapan ini, aku tidak bisa melihat Sanzu dengan jelas. Jadi, kusentuh wajahnya. Aku merasakan sesuatu yang basah, lengket, dan dingin ketika aku meraba-raba wajah Sanzu. Lalu bau amis tiba-tiba saja menusuk indera penciumanku. Darah, batinku. "Sanzu, kamu terluka? Apa yang terjadi?" tanyaku dengan setengah berbisik. Sanzu tidak menjawab pertanyaanku. "Aku akan membawamu pergi dari sini, tempat ini sudah tidak aman." Aku bingung dengan perkataan Sanzu. "Kita punya pengawal yang menja--" belum kuselesaikan kalimatku, Sanzu telah memotongnya. "Semua sudah mati." Seketika tubuhku membeku di tempat dan pikiranku terbang melayang pada Papa dan Kakak.
Aku yang diam saja sepertinya membuat Sanzu khawatir. Kedua tangannya menahan bahuku. "Rin, dengar aku. Ada yang mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi keluarga Haitani. Aku 'tak tahu bagaimana nasib Duke Haitani dan Kakakmu. Sekarang ini yang penting adalah kau. Aku akan melindungimu jadi kau percaya saja padaku." Ketika Sanzu menyebutkan soal Papa dan Kakak, aku kembali dilanda kesedihan dan ketakutan. Aku tidak siap untuk kehilangan mereka. "Sanzu, janji tidak meninggalkanku?" pintaku. Aku tidak bisa melihat Sanzu dengan jelas sampai sinar rembulan yang semula ditutup awan menyelinap masuk melalui celah-celah jendela memberi penerangan sehingga aku bisa melihat Sanzu yang berlumuran darah. Apa itu miliknya atau milik musuhnya, aku tidak tahu.
Sanzu mendekatkan wajahnya padaku, dalam jarak sedekat ini aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat menyapu permukaan kulitku. Dalam waktu singkat bibir Sanzu sudah menempel dengan milikku. Sanzu, ia baru saja menciumku. Aku cukup terkejut, tetapi tidak menolaknya. Hanya diam saja karena aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. "Aku, Sanzu Haruchiyo, berjanji akan selalu setia pada Haitani Rindou. Itu adalah sumpahku." Aku berkedip berkali-kali mendengarnya. "Haruchiyo namamu?" Ini kali pertama aku mendengar Sanzu memberitahuku namanya. Sanzu mengambil tanganku lalu mendaratkan kecupan lama di punggung tanganku. "Aku Milikmu. Kau bisa memberiku nama dan aku akan meninggalkan semuanya untukmu, Rin."
