Chapter Text
Semuanya dimulai dari tujuh tahun yang lalu...
Tunggu,
Apa begini kalimat yang biasa orang-orang pakai untuk mengisahkan tentang cinta pertama mereka?
Hmm.. Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Renjun tak pandai dengan kata-kata—itu bukan spesialisasinya. Ia lebih familiar dengan angka-angka dan rerumusannya. Orang bilang, dirinya pintar. Bintang kelas yang disukai guru-guru karena mampu menjawab pertanyaan, serta rajin mengajukan pertanyaan. Orang bilang, Renjun sulit dijangkau. Tidak punya banyak teman karena mereka sungkan, atau bahkan tidak begitu menangkap apa yang tengah Renjun bicarakan. Orang bilang Renjun aneh, lelaki bermata sipit yang suka sekali makan buah stroberi. Saking anehnya sukanya dengan stroberi, Renjun bahkan bisa makan nasi dengan lauk stroberi. Orang bilang- banyak sekali yang orang bilang tentang Renjun. Tetapi, yang paling melekat adalah,
Huang Renjun tidak punya perasaan.
Ia spontan, terus terang, dan selalu mendahulukan logika. Mungkin hal inilah yang membuat label tersebut lekat dengannya. Namun, ilmuwan jenius sekalipun tak luput dari perasaan cinta kepada sesama manusia. Dan Renjun, tidak lebih dari seorang lelaki muda biasa yang hidup ditengah-tengah masyarakat sosial. Ia bukan ilmuwan, bukan pula tak berperasaan. Jadi, biarkan Renjun—dengan keterbatasannya dalam menguntai kata—untuk coba merajut sebuah cerita. Cerita romansa dimana dirinya yang jadi pemeran utama. Dimana Ia yang menahkodai setiap alur peristiwa dan segala hal berpusat pada dirinya.
Babak pertama kisah itu diwarnai dengan langit kelabu dan hari yang istimewa. Tujuh tahun yang lalu...
Tanggal 10 Bulan 10 Tahun 2010.
Hari itu adalah hari yang spesial. Langit mendung bahkan tak mampu menudungi betapa cerahnya senyum Renjun kala itu. Ia bersenandung kecil sembari menenteng sebuah kotak berukuran sedang yang dibalut kertas warna-warni dihias dengan pita cantik diatasnya. Warnanya biru muda. Manik hitam Renjun berbinar sejak pertama kali menemukan pita biru muda tersebut. Sebuah pita yang akan menyempurnakan pemberiannya untuk sosok yang juga secantik kotak kado miliknya.
Pukul 10.15...
tak mengapa, baru lewat lima menit. Mungkin Yangyang—sosok yang spesial itu—masih memerlukan waktu lebih untuk tiba di lapangan basket. Masih ada lima menit lagi. Iya. Pukul 10.20 juga cantik. Jadi tak mengapa. Renjun senantiasa menunggu.
Kalau ditanya kenapa harus menunggu jam yang cantik? Alasannya simpel. Renjun teramat menghargai estetika dan keindahan. Ia menyukai angka-angka cantik, benda-benda cantik, warna-warna cantik, buah stroberi yang bentuknya cantik—apapun itu yang cantik.
Apalagi untuk seseorang se-istimewa Yangyang, Renjun harus mengucapkannya disaat-saat paling cantik.
Hari ini tanggal cantik.
Langit mendung juga cantik.
Semak-semak bunga di sekitar lapangan basket, terlihat cantik.
Ada lagi yang terlihat cantik?
Ah...
Laki-laki itu, ya... Akhirnya.
Berjalan mendekat dalam balut seragam yang sama persis dengan yang Renjun kenakan (tapi entah bagaimana terlihat jauh lebih sedap dipandang daripada yang Renjun kenakan). Bunyi Sepatu homyped hitamnya terdengar nyaring setiap kakinya melangkah. Bola matanya yang sebesar mata boneka teddy bear berbinar dari kejauhan. Akhirnya datang juga, sosok paling cantik yang pernah Renjun lihat di-sepuluh-tahun-lebih-tujuh-bulan hidupnya.
Liu Yangyang—bahkan nama lelaki itu terdengar cantik dibenaknya.
Haruskah Reyhan eja? C-A-N-T-I-K.
Sempurna.
Astaga, Yangyang... Kamu laki-laki, tapi kenapa cantik sekali? Bahkan bunga melati yang tumbuh di pojok lapangan jadi kalah menarik dibanding sorot mata boneka-mu itu. Padahal, bunga di sana sudah berusaha keras agar terlihat paling cerah dibawah awan kelabu, tapi kamu—yang tidak berusaha mencuri perhatian siapa-siapa—malah terlihat jauh lebih cerah daripada bunga itu.
Sungguh tidak adil.
Renjun tidak mengerti. Kok bisa, ya, ada manusia se-rupawan ini di muka bumi?
"Apa?"
"Hah?" Renjun mendadak amnesia. Tadi barusan Yangyang yang bicara?
Lelaki dengan potongan rambut mirip mangkuk itu memiringkan kepalanya. Bulu mata lentiknya ikut mengerjap bingung. Menatap balik sosok lelaki bermata sipit dan gigi gingsul dihadapannya. Aduh! Reyhan jadi salah tingkah. Wajah melongo-nya pasti terlihat sangat bodoh. Ia coba untuk menyugar rambutnya yang dipotong cepak. Renjun rasakan satu wajahnya memanas dengan cepat—langitnya mendung, Jun. Kenapa pipi-mu menghangat? Sungguh memalukan.
"Renjun mau bilang apa? Katanya ada yang mau diomongin sama aku?"
Ya Tuhan. Otak kopong Huang Renjun, ayo bekerjalah! Itu malaikat Yangyang sedang menunggu jawabanmu.
Tidak ada waktu untuk menyalahkan suara merdu Yangyang yang mendistraksi. Sekarang tepat pukul 10.20—Reyhan melirik arlojinya—waktu yang tepat untuk menyerahkan kotak warna-warni ditangannya kepada Si Paling Cantik.
"Ah.. itu.. Ehm—Ini. S-selamat ulang tahun, Haha! ha-Happy Birthday, ya, Yang.. semoga kamu bahagia terus! Sering-sering main sama Injun, Sering-sering senyum—" Yangyang cantik kalau senyum. Renjun jadi suka. Suka sekali sama Yangyang.
KRRRIIIIINGGG!!!!!!!
Belum sempat Reyhan selesaikan kalimatnya, bel tanda masuk berdering nyaring—memecahkan gelembung magis tak kasat mata di antara mereka.
"U-udah ya, itu aja! Udah masuk, Yaaaang! Nanti kalau telat masuk kelas, dimarahin Bu Lee!"
Renjun melesat pergi dari lapangan; mengikuti kemana saja kakinya membawanya. Jantungnya berdegup kencang bak habis maraton keliling lapangan sebanyak tiga putaran. Nafasnya tersengal. Mulutnya kering-kerontang. Tenggorokannya seperti disayat pedih. Namun, wajah rupawan Yangyang yang tersenyum saat menerima kado warna-warni itu enggan meninggalkan ruang kepala Reyhan. Membuat segala sakit dan perih tak karuan yang Ia alami beberapa saat lalu, luluh lantah begitu saja. Renjun pikir Ia hampir mati. Ia pastilah tak akan sanggup untuk menatap rupa cantik lelaki itu setelah hari ini. Semua perasaan yang menghantam dadanya datang terlalu tiba-tiba. Saat kaki gemetarnya mulai merasakan kembali pijakannya, barulah Renjun sadar Ia tengah bersandar di balik tangga di sudut lorong. Peluh mengucur deras hingga ke punggungnya. Perlahan Renjun atur kembali pola nafasnya, satu, dua.. menenangkan diri seraya memudarkan senyum manis Yangyang dari dalam kepalanya.
Renjun melirik arloji dipergelangannya. Pukul 10.20—Huh? Jamnya ikut berhenti? Apa mungkin baterainya habis?
Renjun memejamkan mata. Kepalanya Ia gelengkan ke kanan dan ke kiri, kedua pipinya turut ditepuk-tepuk konstan, menunggu sampai kesadarannya benar-benar kembali.
Sekali lagi, Renjun lirik arlojinya—memastikan. Jarum panjang dan pendek di sana tetap menunjukkan arah pukul sepuluh lewat dua puluh menit. Rupanya, jam tangan itu benar-benar mati. Renjun menghela nafas panjang. Ia harus memberi tahu mami untuk mengganti baterai arlojinya nanti. Akan tetapi untuk sekarang, Renjun terlalu lelah. Ia pikir dirinya baru saja diisi sampai kelewat penuh. Terlalu penuh hingga rasanya Ia bisa meledak kapan saja. Ada begitu banyak emosi, kata-kata, dan, perasaan yang ingin melompat keluar diwaktu yang bersamaan. Campur aduk. Acak-acakan.
Tapi tak mengapa.
Renjun tak apa-apa.
Setidaknya, sudah ada satu perasaan yang berhasil Ia utarakan. Iya, kan?
Iya... kan?
Tadi Renjun sempat mengucapkannya, bukan?
Saat menyerahkan kotak kado? Saat Si Cantik mengambilnya, lantas tersenyum, dan, dan...
Oh, God! Tak mungkin Ia tak mengatakannya!
Tak mungkin Renjun tidak bilang kalau Ia suka hal-hal yang cantik. Dan Yangyang adalah salah satunya. Tak mungkin Renjun tidak bilang kalau Yangyang punya senyum yang cantik. Tak mungkin Renjun tidak bilang kalau... kalau Ia terlanjur menyukai lelaki cantik yang berhasil curi atensi dan logikanya beberapa bulan ke belakang itu?
Astaga!
Renjun menepuk dahinya dengan keras. Kakinya hilang keseimbangan. Ia terduduk lemas dibalik tangga.
Renjun bodoh sekali.
.
.
.
Haa- ya sudahlah. Biar Renjun coba lagi esok hari. Walaupun tanggalnya tidak secantik hari ini, tapi Renjun yakin, sosok Liu Yangyang masih tetap sama cantik. Hari apapun, dalam seragam apapun, Yangyang tetaplah sosok paling menarik di muka bumi.
Cinta pertama Renjun yang teramat cantik...
Semoga, meski seribu tahun berlalu-pun, akan selalu terlihat cantik ya..
