Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-05-04
Words:
1,099
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
24
Bookmarks:
2
Hits:
562

Work Text:

"Kaiser," Itoshi Sae memanggil pelan. Kepalanya tertunduk memandang tempat dimana kakinya berpijak sebelum melanjutkan dengan nada sarat dengan ketidakpastian, "kalau semisal nanti—nanti," ia menekankan kemudian mengulang, "kalau semisal nanti aku ketemu sama orang yang bisa gantiin kamu, kamu gimana?"

Sae menunggu walau tahu pasti ia tidak akan mendapat jawaban untuk tanyanya. Ia menelan ludah, berusaha menghilangkan rasa tercekik di tenggorokannya saat bayangan tentang masa depan yang bukan dengan Kaiser melintas di benaknya, menciptakan satu senyum pedih yang terpatri pada wajahnya.

"Orang-orang bilang, nanti aku pasti bisa dapetin yang lebih dari kamu." Ia bergumam pelan dan Sae merasa seolah-olah sesuatu baru saja menghantam hatinya, membuat dadanya dipenuhi rasa sesak; membuat matanya panas dan pandangannya mengabur terhalang derai yang mengancam untuk jatuh. Ia mengusapnya dengan kasar. Dia tidak akan menangis. Tidak akan.

"Tapi aku gak paham, Kai, tentang gimana orang-orang bisa bilang begitu sementara aku udah lakuin semuanya." Sae dapat mendengar suaranya bergetar dan tenggorokannya kembali tercekat, membuatnya menjeda sejenak untuk mengatur napas yang mulai terasa berat. "Aku udah coba lupa sama kamu—berusaha buat gak inget apa-apa soal kamu waktu lagi sama orang lain yang aku pikir bakalan bisa gantiin kamu."

Ia tertawa lagi, kali ini merasa bodoh karena sempat berpikir begitu.

"Jahat, ya?" Nada tanya yang ia lontarkan hebatnya justru membuat kalimat yang Sae ucapkan terdengar seperti afirmasi. Kali ini satu air mata lolos dari pelupuknya, dan ia sudah terlampau lelah untuk berusaha agar tidak terlihat menyedihkan.

"Maaf. Aku minta maaf. Entah aku yang terlampau bodoh atau gimana, tapi aku mau kamu tau, Kai, kalo aku disini kesusahan karena kamu." Sae menarik napas dengan gemetar. "Seharusnya kalau kamu bakal pergi segini cepat, kamu gak perlu bersikap begitu cuma buat tinggalin aku disini sendiri—susah payah cari afeksi yang sama kayak yang selalu kamu kasih buat aku."

Egois; Sae terlampau paham. Ia tidak seharusnya salahkan Kaiser tentang hidupnya yang tidak berjalan maju walau dilalui waktu. Ia sendiri seharusnya sudah bisa melepas karena telah beberapa tahun berlalu. Tapi di saat dia sudah dibuat jatuh terlalu dalam karena Kaiser, dia bisa apa selain salahkan pemuda itu? Sebab jika dia boleh jujur barang sedikit, Itoshi Sae  tidak pernah dicintai oleh siapa pun seperti bagaimana Michael Kaiser mencintainya.

"Aku gak bisa, Kai, terlepas dari semua yang orang bilang soal nanti. Gak segampang itu." Satu isakan kecil terlepas tanpa kendali dan Sae terpaksa gigit bibirnya untuk tahan agar suara tangisnya mampu teredam. Dia berakhir tidak bisa sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian mengalir bersamaan dengan air matanya yang berderai teramat cepat basahi pipinya.

"Aku gak bisa jatuh untuk orang lain karena mereka bukan kamu. Dan kalaupun memang ada yang lebih baik dari kamu, mereka juga tetap bukan kamu, Kai. Mereka bukan kamu." Kesadaran telak yang sudah lama ia coba sangkal dalam logikanya itu akhirnya pecah bersama isakannya yang lain. Sae membenci dirinya saat ini yang mungkin terlihat bodoh di mata orang lain, tapi untuk kali ini saja, sekali ini saja untuk yang terakhir, di hadapan Kaiser yang tidak pernah dan tidak akan pernah bisa lagi menjawab satupun kalimat-kalimat yang telah ia ucapkan, Sae ingin mengungkapkan semua hal yang selama ini sudah terlalu lama ia simpan sendiri.

Ia tidak akan menuntut apa-apa—tidak akan menuntut Kaiser untuk kembali. Ia tidak akan menuntut tanya pada Tuhan atas mengapa Dia membawa Kaiser pergi teramat cepat. Sae tidak akan menuntut apa-apa walau semua ini terlampau terasa sangat tidak adil untuknya.

Ia menatap ukiran di atas keramik hitam mengkilap yang membentuk nama Michael Kaiser dengan teramat indah di hadapannya. Ironis. Tangannya menggapai, dan telunjuknya menyusuri ukiran itu lamat-lamat.

Sae pikir, ia mungkin tidak akan pernah bergerak maju; tidak akan pernah mampu hapus bayang masa lalu bersama Kaiser tiap mencoba menapaki cerita baru dengan orang yang juga baru. Tapi memangnya, apa lagi yang bisa ia lakukan?

Sae sudah jatuh terlalu dalam, dan untuk kali ini, di hadapan Kaiser, dia akan membiarkan dirinya begitu.

 

____________________________________

 

Sae merasakan satu dekapan hangat tiba-tiba lingkupi tubuhnya yang terbalut selimut. Ia bisa rasakan hangat saat Kaiser menempelkan wajah ke tengkuknya yang terekspos dan berbisik pelan sembari semakin mempererat pelukan, "Sae. Sayang." Suaranya pelan, senada dengan sunyi yang temani lingkup suasana di tengah mereka malam itu.

Sae menjawab dengan gumaman sarat akan kantuk. "Hm?"

"Kalau semisal nanti, nanti, aku tiba-tiba pergi, kamu gimana?"

Ada hening sejenak sebelum Sae balas berujar pelan, "Jangan ngelantur. Tidur, Kai. Udah malem."

"Semisal aja, Sayang. 'Kan, gak ada yang tau hari kita besok gimana."

"..."

"Sedih, gak?"

"..."

"Sedih, ya. Pokoknya kamu harus sedih kalau aku pergi. Soalnya aku juga begitu kalau kamu pergi."

"Stop ngomong yang engga-engga, Kaiser."

"Tapi serius, Sae. Kamu sedih, gak, kalau aku beneran pergi?"

"..."

"Gak sedih, ya? Jangan-jangan kamu langsung cari pengganti aku kalau aku udah gak ada."

"Iyalah. Ngapain galauin kamu?"

"Wah…aku, kok, punya pacar jahat banget."

"Lagian, pertanyaannya aneh."

"Cuma pengen tau, kok." Kaiser tersenyum manis. "Tapi aku berani taruhan, kamu pasti sedih mampus walaupun kelihatannya sok kuat begini."

Sepi. Kaiser pikir Sae sudah benar-benar tertidur sampai akhirnya suaranya yang sedikit parau karena kantuk kembali terdengar.

"Makanya jangan pergi."

"Huh?"

"Aku bilang jangan pergi, Kaiser."

Kali ini Kaiser tertawa, gemas waktu Sae putar tubuh dan sembunyikan wajah dalam dekapnya—tidak berani untuk bertukar pandang barang sebentar saja karena tahu Kaiser akan mengejek pipinya yang memerah.

"Semisal aja, Sayang. Aku gak akan kemana-mana, kok. Bakal terus temenin kamu disini sampai kamu muak."

"Gak muak. Gak akan muak."

"Hahaha. Gemesnya pacar aku."

"Diem."

"Ternyata sebahagia ini, ya, rasanya dicintai sama kamu."

"Aku bilang diem, Kai."

"Aduh, aduh, jangan dicubit. Sakit."

"Makanya tidur. Aku ngantuk."

"Oke, oke. Tidur. Sini, aku puk-puk kepalanya."

Sesederhana itu dan percakapan singkat mereka berakhir hanya untuk Sae kemudian merasakan usapan halus pada bagian belakang kepalanya dalam tempo yang teratur. Nyaman. Ia suka. Suasana damai yang temani mereka membuat dirinya hampir kembali terlelap sebelum ia mendengar Kaiser kembali berbisik terlampau pelan dan Sae bisa rasa hatinya berdegup menyakitkan waktu mendengar setiap kata yang diucapkan pemudanya.

"Kalau semisal nanti aku beneran pergi," Kaiser memulai. "Aku cuma pengen kamu tau, Mein Schatz; aku bersyukur ketemu kamu, dan aku harap kamu gak akan pernah bosen sama aku. Makasih karena udah jadi orang yang paling berharga buat aku."

Sae tidak membalas karena air matanya sudah lebih dulu jatuh dalam diam. Entah Kaiser menyadari atau tidak, tapi dekapan pemuda itu pada tubuhnya semakin mengerat, seolah-olah meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dan malam itu, sebelum ia jatuh terlelap dalam hangat peluk kekasihnya, Sae memanjatkan sedikit doa kepada Tuhan; meminta agar mereka diberi waktu banyak tanpa harus ada yang meninggalkan satu sama lain—

tanpa tahu bahwa di hari esok, Kaiser akan benar-benar pergi dan tidak pernah kembali lagi.