Actions

Work Header

The clock is ticking fine (but we're marching to a dead beat)

Summary:

it's newyear's eve, everybody is wasted, and keenan's one-sided crush is about to be put to an end.

Notes:

a part of yamajizen universe.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

20:00

 

Life of the party .

(idiomatic noun phrase.) someone who is very lively and amusing at a party or other social gathering; participates in a very enthusiastic manner and who has a leading role in inspiring others to join in the spirit of festivity.

 

The party is alive, and perhaps, we were one of the vessels. Kami semua— kami berempat, utamanya—ada sebagai titik tengah dari tempat hiburan dewasa ini walau nggak banyak yang dilakukan untuk menghibur. Ada aku, Reiner, Gemintang, dan Kafka; dikelilingi segerombolan yang kebanyakan laki-laki namun sedikit perempuannya, dan hampir semua datang sebagai mahasiswa-mahasiswi teknik yang sekampus dan sedang nggak sempat (atau nggak ingin) ikut acara keluarga masing-masing. 

 

Sebuah klaim yang nggak begitu jemawa: jika pesta ini ibarat hidup maka kamilah napasnya, dan jika pesta ini ibarat lagu maka kami ada sebagai progresi akordnya; Gemintang juga lagi melantun nada-nada pada dawai gitar akustik sementara Reiner memimpin nyanyian yang diikuti hampir segenap hadirin yang berbahagia. 

 

Don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
Cause I miss you babe
And I don't wanna miss a thing

 

Aku dan Kafka ada di masing-masing sisi. Ikut bernyanyi sambil kadang bantuin menuang minuman ke dalam gelas orang-orang, sekali-kali memprovokasi salah satu dari kami buat meneguk alkohol sekali jalan, padahal jam masih menunjuk pukul delapan. It is sweet but somehow also an utter chaos, yet perhaps it's gonna be how we'll live for the rest of the night. 

 

We'll give zero shit until it's midnight. Or maybe also a few hours after, if the party was still on by then. We'll be reckless, we'll set the night alight, but will we even be alright? 

 

Secara pribadi, aku nggak begitu yakin. Aku datang ke sini nggak dalam energi yang memadai— bukan salah siapa-siapa, memang dasarnya aku aja yang baterai sosialnya gampang bocor dan belum diservis lagi —dan suasana hati juga nggak seberapa bagus semenjak dipaksa Reiner untuk datang dua tahun berturut-turut.

 

Tahun lalu, di tempat ini juga, Reiner maksa aku untuk ikut, padahal aku sudah mau berangkat ke Kintan sama Adek, Mama, dan Papa. Alasan aku berujung mengalah dan ikut adalah karena perkataan Kafka; nanti ada Jericho, udah pasti ada demenan lo tuh, si Jonah. Bodohnya aku percaya-percaya aja, padahal ternyata Jonah nggak ada. Nggak datang. Kata Jericho, anaknya lagi di rumah Nenek. Rasanya kayak sia-sia, sumpah.

 

Tahun ini aku dipaksa lagi, dan aku sebetulnya nggak mau lagi. Mending juga di rumah, bakar-bakar daging kambing dan sapi sambil nonton televisi, padahal selama setahun benda itu selalu mati. Lalu pergi tidur sebelum jam sembilan dan kebangun karena kembang api, lalu tidur lagi. Tapi udah patungan booking sama Dipta anak mene, nih, yang dateng anak kampus kita doang , kata Gemintang, dan lagi-lagi aku dipaksa buat setuju dan datang. Jangan lupa dress to impress, iya. Nggak ada juga yang mau di- impress, padahal, tapi ya udah. Setidaknya malam ini bakal ada jepretan baru yang bagus buat Instagram yang hampir jamuran. 

 

Setidaknya juga speaker di Cobalt lagi waras dan nggak tiba-tiba dengung, sehingga jamming session- nya Gemi dan Reiner kedengaran asyik dan syahdu, lumayan buat ngisi waktu sebelum berganti genre jadi jedag-jedug mulai jam sembilanan nanti. Di tengah-tengah durasi lagu Aerosmith itu juga Kafka tiba-tiba mendekat buat merangkul aku lekat-lekat. Aku kira apa, rupanya cowok itu cuma mau ngobrol sambil bisik-bisik, supaya yang lain nggak ikut kedengaran.

 

“Don't freak out, Keen,”
“Ada Jonah, anjir.”

 

Aku hampir teriak bohong. Tapi sosok cowok yang sekarang berambut putih itu ( shade- nya persis sama kayak aku, by the way) kelihatan di antara orang-orang yang duduk di kursi bar, memandang ke arah kami dengan mata yang kayaknya penasaran. A cute curious cat, as always. Bahkan setelah aku sempat pindah hati ke yang lain-lain, Jonah tetap sama, dan aku kembalinya tetap ke dia juga. Dia ini pesonanya nggak main-main, soalnya, jadi aku nggak sepenuhnya salah juga.

 

Samperin, nggak? Begitu tatapan Kafka yang asal aku artikan, dan aku cuma mengibas tangan santai, bertingkah seolah nggak kenapa-kenapa, padahal sebenarnya ragu dan maju-mundur karena nggak tahu mau bahas apa sama dia. Nanti aja dulu. Lagian sepertinya Jonah juga baru datang; kelihatan rambutnya masih agak basah sehabis mandi, dan bagian meja di depannya juga belum ada apa-apa.

 

Or maybe I should buy him something after this song ends. A drink and a snack would do.

 

 

  20:20

 

“Hei?”
“Temennya Chiko, nggak, sih?”

 

Awful move, or so I thought. Seharusnya aku bisa komentar soal mejanya yang sekarang ditempati pilihan minuman alkohol manis dan segar itu; margarita slushie pakai garnish jeruk nipis dan daun mint, bersanding sama margarita on the rocks punyaku dan bagaimana pesanan kami sebetulnya sama, cuma beda konsistensi aja. Tapi awalannya nggak begitu buruk karena Jonah yang awalnya sedang pegang handphone itu langsung menoleh ke arahku, lalu senyumnya mekar. Iya, jawabnya, lalu aku ditanyai hal yang sama, dan adegan itu bikin aku ketawa. Lucu. Mau bagi orang lain nggak seberapa pun, menurutku dia selalu lucu.

 

“Banyak sih, ya, temennya,” Jonah ikut ketawa pelan.
“Jonah, by the way.”

 

Udah tahu. “Aku Keenan.”

 

Aku. Nggak biasa buat aku yang lingkar pertemanannya kebanyakan anak-anak ibukota, tapi entah kenapa aku bilang begitu. Dan yang lebih mengagetkan adalah ketika Jonah pakai aku juga waktu ngobrol sama aku, dan seketika pembawaan dingin nan gantengnya jadi luntur sedikit. Sedikiiit aja , nggak banyak. 

 

Dan kami akhirnya ngobrol setelah aku selama ini cuma lihat dia dari kejauhan, seringnya waktu dia sedang sama Jericho atau temannya yang satunya, yang tinggi dan putih kayak pangeran itu. Topiknya nggak jauh dari kenapa dia ke sini sendirian aja dan nggak bareng sama dua temannya, dan dia jawab kalau dia sedang nggak mood ikut tahun baruan sama keluarga Mamanya, jadi mendingan pergi ke sini. Lalu dia jadi cerita kalau biasanya dia tahun baruan sama Papa, tapi, ya, gitu. Aku mengerti maksudnya, tapi aku sengaja nggak bertanya-tanya karena takut kalau bahasan Papanya yang di penjara masih sensitif buat dia.



21:07

 

Now we also share snacks. Bentuknya snack platter di piring persegi panjang yang isinya ada potato wedges, onion ring, dan chicken nugget , lalu menurutku porsinya sudah cukup buat berdua. Kami makan selagi gantian aku yang cerita perkara konsep bajuku hari ini.

 

“Pak, tangkep saya, Pak!”

 

“Walah, tau gitu sekalian bawa borgol.”

 

“Anjiiiir, minat.”

 

Cekikikan. Kata Jonah, ide main peran jadi polisi agak aneh, dia nggak suka, tapi ide ngeseks sambil diborgol lumayan menggairahkan. Aku nggak punya komentar, tapi menurutku, omongan cowok ini sudah mulai keluar sadar, karena Jonah yang aku tahu biasanya cuma ngobrol yang bener-bener aja, apalagi kalau sama orang yang nggak lama dikenalnya. Tapi aku maklum. Orang mana yang nggak ngelantur kalau sudah minum tiga jenis koktail yang berbeda, ditambah sekarang dia minta segelas Ocho On The Rocks, lalu ngelantur lagi bilang mau beli sebotol Bacardi sekalian. Udah, udah! Pelan-pelan aja minumnya! Aku bilang, sambil mengode ke Bang Yudhis supaya pesanan dia di- cancel aja. Nggak ada yang buru-buruin. Aku nggak kemana-mana, lagian. 



21:30

 

Let's get it started in here.
And the bass keeps runnin’, runnin’, and runnin’, running.

 

Let's Get It Started by Black Eyed Peas. Ah, ini mah, lagu Papa aku! Terus Jonah ketawa, katanya ini lagu Papanya juga, lalu dia bilang kalau lagu ini cocok buat buka sesi jedag-jedug menyambut hitung mundur tahun baru, apalagi dipadukan sama ambiens yang juga ikut ganti; lampu yang terang sudah mati dan jadi gemerlap lampu disko warna-warni.

 

Lalu kami ditawari buat gabung kembali sama teman-temanku; di sana ada beberapa anak mene juga yang Jonah kenal tapi nggak sedekat itu (paling yang terdekat cuma Dipta sama Faris karena sisanya kebanyakan adik tingkat), lalu Kafka, Reiner, dan Gemintang di tengah rangkulan, menonton aku dan Jonah jalan mendekat sambil senyum jahil. Ah, bajingan. Alamat kami dicengin sampai tengah malam. Takut disuruh gantikan Reiner dan Gemintang yang tahun lalu ciuman juga, walau sebetulnya aku nggak akan ada hati buat menolak.

 

Khawatirku cuma di Jonah. Cowok itu nggak suka jadi pusat perhatian terlebih di ruang umum kayak begini. Buktinya, alasan terbesar kenapa Jonah cuti sesemester juga kayaknya karena dia pernah dikerubungi. Waktu itu aku lihat sendiri dia ditanya-tanya pasal Papanya, yang belum lama waktu itu masuk televisi karena kasus jejaring bisnis prostitusi dan narkoba. Dan walaupun dari sananya muka Jonah sudah kelihatan cukup mengintimidasi, aku nggak pernah lihat mukanya semarah dan se-nggak nyaman itu.

 

Tapi malam ini lain, pengetahuan aku soal dia macam dipatahkan karena cowok itu malah jadi pusat perhatian utama, semua gara-gara Dipta menyambut dia pakai segelas penuh yang diisi Corona. Anehnya Jonah juga menyambut minuman itu dengan riang gembira dan diteguk nggak pakai mikir, sampai aku sendiri bergidik ngeri. Aku tarik sedikit sisi pinggangnya supaya bisa leluasa aku bicara ke telinganya, senyampang dentum musik sudah mulai terlalu keras buat ngobrol yang biasa-biasa aja.

 

“Hey— easy!”
“Dibilang, pelan-pelan aja minumnya!”

 

“You nag like a mom, tau gak, sih?!”
“Santaaaaai.”

 

Lalu pipi kanan aku ditepuknya dua kali. Like he doesn't want me to worry. Wajah Jonah malah senyum jahil dan lidahnya sedikit dijulur, kepalanya geleng-geleng ikut irama lagu yang sudah ganti; Taki Taki by DJ Snake, lagu kebangsaan buat sebagian dari kami yang suka goyang.

 

Un besito bien suavecito, bebé
Taki taki, taki taki, ¡rumba!

 

“AAAAYYYY!”

 

Benar aja. Setengah dari kami bersorak sorai, setengah lain bokongnya goyang, even I see some of them grinding on their partners. Baik aku maupun Jonah nggak ada yang sanggup bergerak sebegitu sensualnya, tapi kami nggak sepenuhnya diam. Kami ikut bersorai, dan aku diajak menari kecil juga ketika tangan kiri cowok itu—yang masih pegang gelas minum yang sudah ditenggak setengah—merangkul aku, dan gelengannya juga semakin syahdu di ceruk leherku. Ya Tuhanku.

 

I'm so close to get him grind on me too, but I think it's not gonna happen, ever. Karena gerakan kami, ya, gini-gini aja, dan aku paling banter cuma bisa menarik pinggang Jonah dengan tangan kanan yang bersentuhan langsung sama kulitnya di sana, karena jaket denim Jonah yang kaku sekali-kali agak terangkat ikut tariannya. Hangatnya nggak cuma di situ. Ada juga deru napas Jonah di leherku, dan kayaknya aku bakal gila kalau stimulasi-stimulasi kecil ini bakal tahan lama.



22:25

 

“NJIR, EGAR.”

 

“BANGSAAAAT.”
“BELOM JUGA TENGAH MALEM, LU.”

 

Chaos. See? Ada anak Sisfor barusan muntah di lantai. Berdirinya dekat Jonah, lagi. Kayaknya Jonah juga bakal kena muntahannya kalau aja saat itu nggak ada aku.

 

Karena aku tarik badannya Jonah dengan spontan. Sekarang nggak sekadar menempel sedikit sama aku, tapi juga masuk ke pelukan selagi ada kesempatan. Jonah kelimpungan, dan dari cahaya yang minim ini, sekali lagi aku lihat wajahnya yang nggak nyaman. Kayaknya dia mau muntah juga. Aku yang terbiasa nggak minum banyak pun nggak bisa tahu pasti rasanya, tapi Jonah tetap aku tanyai buat jaga-jaga.

 

“Mual juga, Jo?”

 

“Mm— Nggak,”
“I think I just wanna get out of here.”

 

“My place?”

 

“Sure.”

 

Aku nggak mengira kalau Jonah secepat itu juga mengiyakan ajakan ke tempatku, padahal hitungannya kami baru resmi kenal beberapa jam yang lalu. Tapi kalau dilihat dari raut wajah terganggu dan sorot matanya yang nggak bersisa indikasi sadar sempurna, kayaknya Jonah bakal mau kemana aja. Kemana aja, asal nggak di sini dan nggak pulang. Kebetulan Jonah nggak bawa kendaraan, sehingga tempatku jauh lebih baik karena jaraknya yang cukup dekat buat jalan. 

 

(Sewaktu aku pamit ke Reiner, Gemi, dan Kafka, aku diketawain. Jangan gila lu, anak orang jangan diapa-apain, kata Reiner ngelantur, dan aku mengangkat bahu. Nggak janji, deh, ya.) 



23:07

 

Kata Jonah, kosanku bagus. Kataku, pindah aja ke sini kalau mau, tapi sama aku karena nggak ada kamar kosong lagi. Jonah ketawa, katanya nanggung kalau mau pindah karena sebentar lagi lulus. Iya juga, sih. Tapi dia juga bilang, walau nggak bisa pindah, dia mau-mau aja kalau ditawari menginap (padahal aku belum ada ajak dia juga, tapi nggak nolak!), maka aku suruh dia tidur di sini malam ini, sekalian. And it's all set.

 

Lalu sekarang kami ngobrol di balkon sambil merokok. Dia rokoknya kretek, kalau aku cuma sekadar pods yang liquid- nya rasa susu vanilla. Bentukannya beda, wanginya nggak cocok, tapi masih bisa dihembus sama-sama. Mungkin kami bisa begitu juga nantinya. 

 

Dan kosanku sepi. Dari dua belas kamar yang seharusnya berpenghuni, cuma kamarku yang diisi. Penghuni kos-kosan harga tiga jutaan di ruko dekat kampus ini semuanya pada pulang dari perantauan, cuma aku yang masih tinggal demi agenda tahun baruan ini, walau ujungnya nggak menyesal sama sekali karena kini kesini bisa sambil bawa Jonah. Bisa sambil bagi pods- ku sama dia karena dia penasaran sama rasanya, lalu asap vanilla bercampur tembakau sisa dari rokoknya tadi dihembus bebas ke depan sana. Manis, ya? Iya. Jonah mengangguk mengiyakan. 

 

“Tapi, serius, nih,”
“Never thought you'd be this nice, tau.”

 

“Emang selama ini aku kayak jahat, Jo?”

 

“Ya enggaaaak.” Jonah ketawa.
“Baik banget aja. We don't even know each other.”

 

“I know quite a lot about you, kok.”

 

Shit. Now I must sound like a total creep, but again, that's what I thought. Dahi Jonah awalnya berkerut bingung, yang aku kira setelah itu bakal menuduh aku penguntit aneh yang punya obsesi sama orang yang nggak dikenal, tapi dia malah penasaran dan minta aku buat jelaskan.

 

Ya sudah, aku jujur aja. Aku tahu Jonah suka masak dan suka belanja di Hero karena aku nggak sengaja ketemu dia dua kali di sana. Aku tahu Jonah pernah Go Karting sama Jericho di Bali karena aku sempat ditawari buat ikutan. Aku tahu soal Papanya Jonah—kalau ini, kayaknya semua juga sudah tahu, jadi aku nggak spesial-spesial amat. Aku tahu kalau natal kemarin Jonah sama Mamanya, dan aku tahu kalau kayaknya beliau punya anak kecil banyak, karena waktu itu aku sempat ngintip Jericho yang video call- an sama dia beberapa jam sebelum misa natal (aku nggak ikut, ya iya, lah). Aku juga tahu kalau Jonah pernah sama Nolan, entah pacaran atau enggak, tapi aku lihat di story- nya cowok exchange itu kalau mereka sempat pergi berdua ke Bali, Bandung, Lombok—

 

“Keen.”
“Don’t you think that’s too much to know for a stranger?”

 

Mampus. Risih, kah?

“Does that make you feel uncomfortable?”
“I’m so sorry.”

 

“Don’t.”

 

Lalu Jonah nggak lagi berkutat sama rokoknya. Pods- ku diambil, diisapnya dalam-dalam sebelum asap sekali lagi dihembus; kali ini tepat di mukaku, sementara badannya condong mendekat dengan lutut kanannya di antara dua kakiku. Anjing. Anjing. Anjing– Dikit lagi kena, anjing! Dan betul aja, awalnya cuma bergesekan sama kulit di paha dalam, lama-lama sampai selangkangan, dan untuk sepersekian detik lutut itu sedikit menyenggol penisku di bawah yang, untungnya, masih belum tegang. Atau mungkin sudah, tapi celana jins ini cukup efektif buat sembunyikan ereksinya.

 

“If anything, Keen,”
“I’m flattered.”

 

“The fact that I know a lot about you–”
“It turns you on?”

 

“Yeah. But probably also because you’re kind of cute.”

 

“Kiss me, then.”

 

Aku nggak sempat mengartikan seringainya, karena bibir itu nggak lama hilang dari pandanganku sejak Jonah langsung cium aku tanpa babibu. Aku peluk pinggangnya, sedangkan tangan kanannya menangkup pipiku, yang kiri mengalung di leherku sambil masih pegang pods- ku entah kenapa, yang ternyata buat curi-curi diisap di tengah lumatan bibir kami yang basah itu. Biar manis. Biar netral di antara pahit tembakau dan entah berapa jenis alkohol yang sudah masuk ke sistem kami malam ini.

 

Lalu yang di bawah. Ah, bangsat! Aku nggak mengerti sebetulnya aku lebih uring-uringan karena apa; karena lutut Jonah nggak lagi bergerak buat beberapa menit pertama, atau karena lutut itu tiba-tiba membelah celah kakiku supaya jadi lebih lebar, bersamaan dengan Jonah yang maju buat sudutkan aku pada dinding yang paling dekat. Uring-uringan saking enaknya. Saking aku mau lagi, mau yang lebih dari ini.

 

And now he’s deliberately rubbing his knee against my dick. As if he’s asking for it. Or maybe he is, in the way that he moaned my name between the kiss, and I swear I’ve never thought my name could ever sound so beautiful until now.

 

“Keen— Jesus Christ.”
“I really wanna fuck you right now.”

 

Ludah kutelan susah payah.
“Please, Jo,”
“Please do.”



23:43

 

“Fuck— Hold on.”

 

Ciuman kami tiba-tiba berhenti padahal Jonah sudah asyik mainkan penisku dari luar celana. Dicekik birahi, pandanganku ke dia nggak begitu bisa jelas dan napasku terengah melas.

 

“What is it?”

 

“Do you top?”

 

Aku mengangguk. “Usually, yeah.”
“But I want you to fuck me.”
“It makes me feel complete in a way.”

 

Jonah tersenyum singkat sebelum menyambung aksinya lagi.
“Okay, then.”



23:59

 

Sepuluh. Sembilan. Delapan.

 

Aku dihempas di atas ranjang sebelum kulit kami bersinggungan lagi. Aku ditindih, aku nggak bisa mikir jernih, dan bahkan aku sudah nggak ingat sejak kapan celanaku sepenuhnya lepas. Sedangkan Jonah di atasku dan ujung-ujung jemarinya yang dingin menyentuh abdomenku lalu turun sampai penis. Aku dibelainya lembut sebelum dikocok sadis. Pusing, sumpah, tapi aku mau rasa ini nggak habis-habis.

 

Tujuh. Enam. Lima.

 

Katanya, Jonah nggak tahan. Itu sebabnya cowok itu pakai satu dari beberapa simpanan kondomku, lalu pelumas dilumur sepanjang tegangnya dengan nggak sabaran. Bajingan. Aku juga nggak tahan. Aku mau Jonah rusak aku sampai nggak karuan.

 

Empat. Tiga. Dua.

 

“Ah- Anjing, Jo.”
“Mmm… Masukin.”

 

“Easy, Keenan.”

 

Dan aku yakin keinginanku bakal terkabulkan. Sebab di bawah sana, ujung hangat Jonah menempel lubang analku lalu digesek-gesekkan. And I fucking hate (and love) that he’s such a tease, how he grins and his little giggle echoes through; and it gets more and more impossible to hold these feelings in, too.

 

Satu.

 

“AAAH!”

 

Satu. Kami jadi satu . Tepat hari dan tahun berganti karena bisa aku dengar jelas suara kembang api bersahutan dari kejauhan, tapi rasanya nyalanya ada di dadaku, di kepalaku, di perutku, di analku, dan di kepala penisku— dan entah mana dulu yang bakal meledak dan merenggut sadarku.

 

“Happy new year, Keen.”

 

“Hhh— Happy new year to you too, Jo…”
“Jo—aah! Fucking move it, please…”

 

“Anything for you, Cantik.”



00:47

 

Perhaps it was the immaculate and obvious sexual tension that has built up ever since we talked at Cobalt a few hours ago, that it didn't take us too long to reach the climax. Padahal nggak banyak stimulasi; cuma ciuman rasa rokok, alkohol, dan susu vanilla, sisanya cuma sentuhan di sana-sini, penis yang dikocok sekali-sekali, juga omongan kami yang seperti nggak pernah belajar etika. 

 

And perhaps it was also the first time I ever had very straightforward sex. And a very sloppy one. Karena agaknya kami sudah kepalang dimakan nafsu sehingga gerakannya buru-buru. Atau ini juga pengaruh hangat pada sistem yang diinduksi alkohol sekian persen itu, dan kalau dalam kasusku, juga termasuk perasaan sukaku kepada Jonah yang nggak bisa lagi terbendung sejak setahun lalu. Kini puncaknya, dan aku nggak akan buang kesempatan ini sia-sia.

 

Dan ini juga kali pertama aku jadi penerima. Nggak sekadar coba-coba dengan dildo karet yang aku beli pakai nama palsu, tapi aku menerima penis betulan. Penisnya Jonah. Yang ternyata jauh lebih hangat, tebal, dan sakit sewaktu dilahap dinding rapat. Tapi enak. Aku mau lagi.

 

“Serius, lagi?”
“That desperate?”

 

“Oh, you have no fucking idea.”

 

He really doesn't. Kelihatan jelas dari raut wajahnya yang makin lama makin nggak percaya selagi aku mainkan puting di balik jaket denimnya yang belum lepas juga padahal kancingnya sudah copot semua, dan aku pun cerita soal beberapa kali aku lihat dia di kampus, serta sudah berapa lama aku ingin sama dia.

 

Sekitar setahun lalu, beberapa hari setelah aku tahu Jonah dari pelatihan manajerial mahasiswa, aku ketemu Jonah lagi saat arak-arakan wisudawan di gelanggang. He had his natural black hair with an undercut slit and sexy-ass exposed forehead, dan hujan turun basahi semua helai rambutnya sampai harus berkali-kali disisir ke belakang pakai jari tangan. Dan mungkin aku mau tangan Jonah juga begitu di rambutku. Mungkin juga sambil dijambak pelan. Atau keras. Entahlah. 

 

Juga satu sore ketika aku baru selesai kelas geologi rekayasa, aku lihat Jonah dan teman-temannya main futsal di gor samping gedung teknik. Pakai jersey- nya Mbappé, nomor punggung 29. Duh, kesukaannya persis Reiner banget , tapi pembawaan mereka pakai jersey itu berasa jauh beda. Jonah lebih ganteng, Jonah lebih keren, dan lebih seksi apalagi ketika kegerahan dan minum air putih sampai diguyur sebadan-badan. Mana bisa tahan. Itu juga alasan aku nggak jadi jalan ke parkiran, balik lagi ke dalam alih-alih berangkat pulang. Ke kamar mandi karena nggak tahan mau coli. 

 

Maaf kalau hormonal. Maaf kalau paling payah soal jaga iman. Maaf kalau gara-gara itu aku jadi beli dildo karet warna putih, dan sering dipakai sambil bayangin Jonah tiap kali aku kesepian. Maaf juga kalau aku bilang-bilang dan bikin Jonah kebingungan.

 

“So you're that desperate?”

 

“It's not my fault that you're hot, Jo.”

 

“Terus, sekarang, mana dildonya? Coba, dipake.”
“Kamu gimana pakenya kalo sambil mikirin aku?”

 

“Brengsek.”

 

Brengsek banget. Tapi ketawanya Jonah betul-betul usil dan puas, karena aku tahu dia tahu kalau aku nggak akan bisa menolak apa yang dia minta, apalagi setelah dia cium aku lagi, lembut, sambil kedua pipiku dielusnya. Please, mohonnya, nggak dalam nada tertentu yang gimana-gimana, tapi berhasil buat aku menurut dan meraih mainan sialan itu dari laci balik bantalku.

 

Taruhannya harga diriku, aku tahu, tapi aku tahan supaya nggak malu, semata-mata karena aku mau. Aku mau Jonah lihat aku. Lihat seberapa besarnya aku mau dia, siapa tahu nantinya dia bisa sama aku. Atau minimal malam ini jadi punya kami seutuhnya buat satu kali saling cinta tanpa ada satupun yang ganggu. 

 

“Gini, Jo.”
“Ahh— sambil ngocok gini, biasanya.”

 

“Emang enak, Cantik?”

 

Dipanggil cantik, lagi. Bangsat. 
“Enggak, Jo—” aku melenguh putus asa.
“Hhh— Enakan sama kontolnya kamu. Sumpah.”

 

Aku bertumpu pada lututku sambil menyiksa lagi lubangku yang masih sedikit ngilu. Naik, turun, naik, turun, kurang puas karena yang masuk tubuhku bukan penisnya Jonah. Naik, turun, naik, turun, kurang puas karena yang mengocok penisku dan mainkan putingku dari balik kaus hitam ini adalah tanganku, bukan tangan Jonah.

 

Naik, turun, naik, turun. Gelisah. Dan aku kira nggak akan ada yang bisa gantikan penis Jonah karena mauku cuma dia, tapi lihat Jonah di depanku sambil ikut mengurut jantannya karena terbawa suasana pun bikin birahiku naik juga. Makin naik makin mendongak, punggungku melengkung ke belakang dikejar Jonah yang makin serakah; nggak ada waktu buat lepas kausku sehingga dia ciumi perutku dengan gegabah.

 

Kemudian aku jatuh, lagi. Kali ini Jonah berdiri. Celana dalam dan jaket denimnya pun dilepas sempurna semuanya, dan sedetik kemudian tahu-tahu dia ada di antara dua kakiku. Dildoku diambilnya dan dibuang sembarangan, diganti dengan yang paling aku mau; kontolnya! Iya! Yang sudah mulai tegang lagi itu, kembali masuk jelajahi aku buat kali kedua, tapi rasanya nggak sama. Mungkin karena aku sudah merasa biasa sama ukurannya. Atau karena sentuhan dan pegangan pada pinggangku jauh lebih erat dari sebelumnya dan hentakan Jonah seakan mau bikin aku mati tanpa bisa sedetikpun dilepaskan.

 

“Hh! Ah! Hh! Ah!”
“Is this really what you want, now, Keen?”

 

“Mm-mm!”

 

“I’ll make it your best one so far, then.”



02:33

 

In this round he came twice. And I’m we, are also about to cum again, too.

 

It’s no longer the very violent butt-slapping that echoes through the room now, but it’s rather very wet, sloppy sucking, licking, and spitting, and—oh, God—the heavenly sounds of him almost gagging every now and then in a very fast but irregularly messy pace as my cock simultaneously reaches far back of his throat.  Now who’s the desperate one here,? It’s almost like him wanting to make me feel good was only a mere excuse to pleasure his own self and to show me how big of a slut he is for me. Not that I’m complaining, though, cause it’s surely a very pretty sight to see.

 

“Now that’s a good slut.”
“My pretty, good little slut.”

 

“Ggk– Ahh–”

 

“Duh, Jo— Ssh, mau keluar lagi,”
“Kamu telen, nggak?”

 

Jonah angguk-angguk keras.
Kocokan di kontolnya sendiri pun.

 

“Alright, then.”

 

“Ngghfk!”

 

He asked for it, physically and verbally, to have me pound my cock into his sweet little mouth. Dia juga yang minta aku keluar di dalam sana, dan jelas bukan salah aku kalau pelepasan kali ini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Atau sebetulnya sama, tapi kapasitas mulut itu terbilang nggak seberapa, dan itu sebabnya Jonah kelihatan menelan susah payah.

 

“Cantik.”
“Jonah anak baik.”

 

Jonah terisak. Tuhan, kayaknya tadi aku kelewatan sedikit. Mulut Jonah mengatup dan mata berairnya melihat aku, sedangkan badannya masih belum berhenti bergerak gelisah karena dia belum sampai lagi di puncaknya. Untuk itu dia aku bantu sekalian kasih Jonah tontonan singkat; tiga jari kumasukkan mulutku sendiri, sejenak keluar masuk sebelum aku ludahi beberapa kali, dan basah serta hangat telapakku itu aku bawa ke penisnya Jonah. Membuat yang licin makin licin, yang basah makin basah, termasuk bibir kami yang sekarang juga bertaut dan mengejar laju satu sama lain dengan susah payah.

 

“Nggmf–”
“Coming, Keen.”

 

“Hmm-mm.”
“Rebahan aja.”
“I’ll suck it off.”

 

Jonah menurut. Badannya terhempas begitu aja di sisi bawah kasur padahal di sana nggak ada bantalnya. Dan aku pun ikut turun, mengecupi kulit badannya dengan cepat sambil jalan, mulai dari dada hingga perut dan selangkangannya, sebelum melahap kontol yang sudah hampir sampai ujung itu. Stimulasi basah lidahku nggak perlu banyak beraksi sebab beberapa detik kemudian, kedutan pada tegang Jonah pun disusul dengan pelepasan putihnya.

 

“AAH– KEEN!”
“Anjing! Enak banget…”

 

Setuju. Kekehan kami lolos setelah aku selesai menelannya habis. Ujung kepala bawah Jonah itu aku ciumi pelan sebelum mengelap sisa-sisa pelepasan Jonah di ujung-ujung bibirku. Enak. Kenyang.

 

“A smoke break, Jo?”

 

“Mau lanjut lagi, emang?”

 

Aku mengedikkan bahu.
“Kalo kamu mau, sih.”

 

“Sure,” senyum jahilnya mekar.
“But I might need a can of beer, though.”

 

Aku ketawa. “Got you, sir.”

 

It’s the best sex so far, indeed. And I don’t need to end it to know it. 



03:46

 

And we’re cuddling— something I never thought we’d do. Malahan sejujurnya, lebih masuk akal kalau aku dan Jonah cuma ngeseks aja semalaman, tanpa ada Jonah rebahan dalam rangkulanku selagi kami berbagi pods dan kaleng ketiga dari stok bir rasa buah-buahan yang aku punya. Lebih masuk akal ngeseks sampai nggak bisa jalan daripada aku yang dengar Jonah cerita soal hidupnya sambil sekali-kali hirup wangi sampo di rambutnya. 

 

Aku pun dengar semua ceritanya; tentang bagaimana tebakanku sebagian benar soal alasan cowok itu ambil cuti satu semester kuliahnya, ditambah segala detail soal kehidupan keluarga dia yang nggak masuk kategori keluarga biasa-biasa aja. Jauh sama keluargaku yang hidupnya nggak kebanyakan drama. Tapi seharusnya Jonah nggak menghadapi semua itu sendiri. Karena menurutku, nggak ada yang hidupnya mudah dipaksa jadi normal setelah ayahnya jadi napi. Jonah nggak perlu merasa salah buat ambil sedikit waktu buat bikin benaknya sunyi.

 

Aku bilang, aku ada. Jonah nggak perlu ke rumah Mamanya kalau dia nggak mau. Karena kapanpun itu, dia bisa datang ke aku atau sekalian aku bawa ketemu keluargaku karena mereka nggak akan perlakukan Jonah kayak gitu. Malah menurutku Papa bakal suka sama dia dan nggak berhenti ngobrol dengan dia soal bola. Mama bakal suka sama dia dan ngajakin Jonah kulineran di tiap kesempatan. Adikku juga bakal suka sama dia dan bakal minta ketemu lagi karena menurutku mereka satu frekuensi.

 

“See,”
“You’re so fucking nice, Keen. I don’t deserve this.”

 

Jonah menghela napas. Aku pun. Tapi kemudian dahi Jonah aku ciumi beberapa kali, lalu rambutnya aku sisir ke belakang sebelum telinganya aku usap dan mainkan pelan-pelan. 

 

“You do.”
“Don’t you dare say you fucking don’t.”

 

“Oh, fuck.”
“You actually like me that way, don’t you?”

 

“...”

 

Dingin. Yang ini juga di luar ekspektasiku. Dari dalam rangkulanku dia melirik tajam dengan rahangnya yang mengeras. Sial. Dia marah, kah? 

 

“Anjing, Keen,”
“Then why are we even here?”

 

“You started it, Jo.”
“You fucking asked for it.”

 

“... Keen.”
“Aku nggak bisa mulai apa-apa, Keen.”
“I don’t wanna hurt you.”

 

“Apa yang bikin kamu kira aku gak tahu itu, Jo?”

 

Jonah kembali duduk tegak. Wajahnya diusap dan dipijat-pijat frustrasi sedangkan aku di sini tiba-tiba ingin mati. Aku nggak mau Jonah pergi. Setidaknya nggak dalam keadaan seperti ini. Maka setelah helaan napas beratnya keluar aku pun menahan pergelangan tangan Jonah supaya nggak beranjak. Dari Jonah juga nggak besar usahanya buat menepis kuasaku, sehingga tangan itu sekarang aku tarik hingga Jonah sepenuhnya menghadap aku.

 

“I just wanna fuck you and that’s it.”
“Nggak lebih, Jo.”
“And at this point, if you could just fuck me senseless and wreck me into pieces, I would even be more than grateful.”

 

“...”

 

Kedua tangannya aku raih dan ciumi beberapa kali.

 

“Or then you could just go and leave me, and never fuck me ever again, Jo— I don’t even care. Just please don’t leave me just yet. Make this our best new year.”

 

“Keen.”

 

“Please?”

 

Pandangan kami bertemu buat sementara waktu ketika aku bawa wajah resahnya ke dalam tangkupan tanganku. Lalu aku kecup ujung hidungnya. Lalu pipinya. Seluruh wajahnya. Lalu bibirnya. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Sampai Jonah menyerah dan menautkan bibir kami kembali dalam ciuman yang lebih sungguh-sungguh. Nggak banyak disetir nafsu walau aku tahu ujungnya bakal begitu. Manis. Nyata. Seakan rasa sayangnya ada.



04:27

 

“Ah… Ah— Ah! Anjing!”
“Keen, get off, I’m gonna cum.”

 

“Mmph!”

 

“KEEN!”

 

Nggak mau. Aku geleng-geleng. Gerakanku dalam pangkuannya sudah nggak karuan, tapi peduli setan. Aku keenakan. Sebab sakit nggak lagi ada tiap aku naik dan turun merasakan tiap inci jantannya mentah-mentah, dan jika ada pun, mungkin nggak akan bisa lebih dari sakitnya hati waktu bangun tidur nanti. Dan yang aku butuh saat ini cuma supaya tuntas. Supaya Jonah lepas di dalam aku. Sepenuhnya. Sedalam-dalamnya.

 

“Creampie me, Jo.”

 

Maka setelah itu aku dorong cowok itu sampai rebahan lagi. Kedua tanganku ambil kedua tangannya untuk diangkat di atas kepala, lalu aku sengaja tahan segala pergerakan yang dibuatnya; kecuali hentakan pinggulnya yang bikin kontolnya menusuk aku tajam-tajam, sekali, dua kali, tiga kali, sampai lima kali, dan akhirnya pelepasan Jonah pun tiba.

 

Maninya ditembak tiga kali. Ah! Ah! Ah— Hangat! Dan tiap tetes yang meluber agaknya juga membantu aku mencapai titik nikmat yang sempurna. Ah, ah, ah! Aku pun keluar juga. Masih dengan kontol basah di dalamku dan tangan Jonah yang aku tahan erat-erat di atas sana.

 

“Ah…”

 

Bruk!

 

Ambruk. Aku ambruk di sisi kiri Jonah. Sama-sama telentang dan dada kami sama-sama lari mengejar laju pernapasan yang normal. Pandangan kabur dilebur lelah dan kantuk yang sebetulnya sudah diperangi sedari tadi, namun nggak kunjung mengaku kalah karena lebih mementingkan hasrat dan birahi.

 

Jonah juga. Matanya bahkan kesusahan buat terbuka, tapi tangannya masih di nakas dan meraba-raba, mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap sisaan pelepasanku pada perutnya. Juga sisa pelepasannya di sekujur bokongku, dan geli menyapa dalam perutku ketika dia juga kecupi aku; dari kedua buah pantat, lalu bukaan lubangku, lalu betis, lutut, perut, hingga berakhir di bibirku dengan sedikit sisa tenaganya.

 

Dengan sedikit sisa tenagaku juga, aku belai rambutnya ketika Jonah melihat aku entah dengan pandangan yang artinya apa. Dari bawah aku elus juga pipi sampai lehernya, dan mendadak aku mau pastikan sekali lagi. Biar lega.



“So…”
“Aku boleh nunggu kamu, gak?”

 

Jonah geleng-geleng. “Please, no.”

 

“Okay,”
“In another life, then?”

 

“Probably.”

 

And it’s finally the closure that I need. Hurts so fucking much, but I needed it. At the very least, it’s a clear sign for me to move on, or to never meddle with a void as deep as his, thinking I could be a light to guide them out. It will never work. Ever.

 


 

09:37

 

Jonah meringis. Cowok itu bangun dengan badan sepenuhnya telanjang dan kepala yang sakitnya begitu sadis. Sinting, sih. Emang semalem minum berapa banyak? Jonah nggak ingat. Lebih nggak ingat lagi soal apa yang terjadi semalaman tadi, tapi ketika akalnya sudah menangkap interior ruang yang jauh beda dengan kamar apartemennya, ada satu-dua hal masuk kembali ke ingatannya.

 

Pertama, Jonah ngobrol sama Keenan. Lalu minum. Minum lagi. Minum terus. Lalu ada musik hiphop dan disko dan banyak orang sekitaran yang goyang, Jonah ikut juga. Lalu Edgar anak Sisfor muntah, hampir kena dia, untungnya Keenan tangkap dia lalu nawarin dia mampir ke kosannya— ANJRIT!

 

IT’S A FUCKING JACKPOT.

 

Jonah menutup mulutnya dramatis begitu cowok itu berhasil berdiri. Di kasur lebar itu, figur yang tidur damai sambil peluk guling itu , adalah Keenan Fareza. Keenan-Keenan itu, yang banyak disukai cewek-cewek angkatannya, yang disinyalir suka sama dia tapi kayaknya cuma ucapan asbun Chiko dan Sammy belaka. Jadi, yang semalam tidur sama dia, ya, si Keenan-Keenan itu, kah? Sumpah?

 

God, Chiko and Sammy should really hear about this. Maka ponsel pun jadi hal pertama yang diambilnya dari celana alih-alih pakai badan itu kembali ke badannya. Jemarinya cepat-cepat lari senyampang masih ada dua persen baterai yang tersisa.

 

You guys wouldn’t believe who I just bagged.

Sent.



10:05

 

Jonah sampai di apartemennya. Rencananya siang ini mau beberes kamar sekalian pesan antar makanan, lalu leha-leha di kasur sambil menonton seri yang sudah lama nggak dilanjutkannya. Sebelum itu, seperti biasa Jonah malas-malasan dulu, di atas kasur sambil mengisi daya ponselnya yang untungnya belum sempat mati itu.

 

Sambil ponselnya nyala, aplikasi Instagram jadi yang pertama ditujunya. Jemarinya pun pelan-pelan mengetik nama Keenan dalam kolom pencarian, dan akun dengan foto profil yang nggak asing pun muncul pada pilihan paling atas.

 

keenfr · follow back


Dahi Jonah mengkerut. Lah, anjrit. Udah di-follow duluan, ternyata? Parah, bisa-bisanya cowok itu nggak sadar kalau akunnya sudah diikuti Keenan entah sejak kapan. Rasa-rasanya omongan asal teman-temannya itu semakin valid dan bisa dipercaya, deh. Jangan-jangan si cowok teknik populer itu betulan suka sama dia, ya? Ah, gila, kali!

Notes:

follow me on twitter @jageunbyeori!