Actions

Work Header

Aberasi

Summary:

“Saki, ayo nikah denganku”

Sakiko tidak tahu mana yang lebih gila, surat wasiat yang mengatakan bahwa ia harus menikah dengan seorang alpha yang memiliki koneksi dengan Togawa Group, sehingga dia yang sudah lima tahun didepak dari kediamannya akhirnya datang ke pesta yang diselenggarakan oleh tetek bengek perusahaan ini. Atau dilamar oleh anak berusia 11 tahun yang kerdil seperti ini di pertemuan pertama.

Notes:

Konfrimasi terakhir sebelum baca aja sih, ini udah baca tagsnya kan?

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Pertama

Chapter Text

Ada banyak hal gila di dunia ini yang membuat Sakiko berpikir “Oh-dunia-ini-sinting-jadi-tidak-apa-apa-bila-aku-sinting”. Lagipula kesintingan hanya bisa dihadapi dengan kesintingan. Agar tidak jadi lebih gila, Sakiko membalas dengan kegilaan yang nyaris gilanya. Lebih elegan, tentunya. Elegan sudah jadi nama tengahnya. Togawa Elegan Sakiko–begitu.

 

Kabur dari rumah di usia 14 tahun ketika kelas 3 SMP itu sudah cukup gila. Kemudian kerja paruh waktu, mempertahankan beasiswa, lalu bergabung dengan OSIS, sembari bersama ayahmu yang pemabuk? Semua orang bilang Sakiko itu gila. Mungkin dia memang gila. Tapi, kalau tidak begitu mungkin dia tidak akan seperti sekarang ini. Masuk universitas bagus di Tokyo dengan jurusan manajemen.

Sakiko sudah berpikir dia sudah cukup hafal dengan kegilaan di dunia ini. Namun ketika berpikir begitu, ada hal gila lagi.

 

Baru kemarin dia mendapatkan kabar bahwa dia bisa mengemban tahta pewaris Togawa group lagi, misalnya.

 

Padahal, Sakiko sudah susah-susah menanggalkan nama itu sejak umur 14 tahun. Sinting memang. Kakeknya dengan surat wasiatnya mengatakan bahwa Sakiko lah yang akan jadi penerus Togawa Group. Karena ya, memang siapa lagi? Siapa lagi yang memiliki darah Togawa di dalamnya selain Sakiko seorang.

Sebanyak apapun kakeknya membenci Sakiko dan begitu pula Sakiko membenci kakeknya, tidak ada lagi yang tersisa di keluarga konglomerat ini.

 

“Saki, ayo nikah denganku”

 

Sakiko mengerjap. Dari semua kegilaan yang pernah ia lalui dalam empat setengah tahun hidupnya. Mungkin ini yang paling gila. 

Terdapat gadis kecil, hanya berdiri sepantaran perut Sakiko, dengan bunga liar di tangannya, atau bunga itu dipetik dari kebun keluarga Togawa. Entahlah, itu tidak penting.

 

“Hah?”

 

“Karena Saki adalah takdirku”

 

Sakiko tidak tahu mana yang lebih gila, surat wasiat yang mengatakan bahwa ia harus menikah dengan seorang alpha yang memiliki koneksi dengan Togawa Group, sehingga dia yang sudah lima tahun didepak dari kediamannya akhirnya datang ke pesta yang diselenggarakan oleh tetek bengek perusahaan ini dan tidak bisa kabur.

 

Atau dilamar oleh anak berusia 11 tahun yang kerdil seperti ini di pertemuan pertama.

 

 

“Wa-Wah, Mutsumi-chan kamu ngomong apa?”

Minami Mori berkata sambil membawa anak tunggalnya itu, tapi, Mutsumi-chan tidak bergeming dan masih melihat Sakiko seperti patung. Netra keemasannya masih terfokus kepada Sakiko, tidak mengindahkan tawa gugup dari ibunya sendiri.

 

“Maaf ya, Sakiko-chan, aku juga gak tahu kenapa Mutsumi-chan ngomong begini”, tawa Minami Mori sedikit terlepas, gugup, bagaimanapun dia tentu saja tidak ingin merusak hubungan antara Wakaba dan Togawa yang ia dan suaminya bangun dengan susah payah selama 10 tahun belakangan ini.

 

“Mutsumi-chan, sepertinya masih terlalu kecil untuk mengerti, karena di sekolahnya baru ada pengumuman tentang diverifikasi Alpha, Omega, dan Beta. Mutsumi-chan mungkin terlalu kebanyakan ikutan teman-temannya atau menonton drama. Jadi, ngawur seperti ini. Tolong maafkan Mutsumi-chan, ya, Sakiko-chan?”

 

Ah, yah. Alpha, omega, beta. Kelas sekunder yang menjadi salah satu hal gila lainnya di dunia ini. Seakan gender utama tidak cukup, ada tambahan pula, yang menjadikan salah satu penentu sistem hirarki di dunia ini. Dan penerus Togawa Group yaitu dirinya sendiri bukanlah seorang alpha yang umumnya ada di atas, namun seorang omega.

 

Orang-orang sinting memang. Mereka seperti buta untuk tidak melihat kerja keras dan hasil yang Sakiko bawakan selama ia menanggalkan jubahnya sebagai seorang Togawa. Menjijikan bila dipikir bila anak-anak mereka yang notabene-nya adalah seorang tidak lebih baik daripada sampah.

Dan lebih menjijikan lagi, dengan dirinya harus menikahi salah satu dari sampah tersebut.

 

Najis.

 

“Ah, ya, tidak apa-apa, Minami-san”

 

Sudah begitu, anak ingusan ini pula yang mengatakan seperti itu. Apa Sakiko sebegitu rendahannya sebagai seorang omega, sehingga seorang alpha yang baru lahir kemarin sore ini melamarnya? Bagaimana sebenarnya Wakaba mendidik anak semata wayang mereka ini? Begitu vulgar, kah? Sudah begitu langsung gas memanggil nama kecilnya tanpa ada embel-embel apapun.

 

“Saki, marah? Maaf, aku tidak bermaksud membuat Saki marah…”

 

Ekspresi anaknya itu nyaris berubah, alisnya tertekuk ke bawah, tangan kecilnya mengenggam bunga itu dengan gugup, melihat ke tanah dengan aura sedih. Sakiko mendengus, dunia ini memang gila, tapi, dia tidak akan segila itu untuk membenci anak kecil yang polos seperti ini. Dan sepertinya memang dia tidak bermaksud buruk.

 

“Saya tidak marah”, Sakiko memutuskan untuk berjongkok, pelan-pelan mengambil bunga itu dari tangan Mutsumi, “Bunganya cantik, deh. Apakah boleh untuk saya?”

“Iya! Bunganya untuk Saki…!”

Dan senyuman merekah langsung seketika pada paras anak itu, Sakiko merasa seperti perubahan 180 derajat. Mutsumi tampak sumringah sekali.

 

“Terimakasih ya, Mutsumi”

“Aku senang kalau Saki senang…”

 

Dan Sakiko menghela nafas dan kemudian mengacak-acak rambut hijau halus milik alpha yang lebih muda itu darinya.

 

Kalau begini kan, susah untuk marah padanya. Sakiko mendengus tipis.

“Ahaha, Mutsumi-chan bisa saja”, Minami tertawa lega sepertinya melihat si calon penerus Togawa Group tidak marah kepada keluarga Wakaba.

 

“Baiklah, Mutsumi-chan. Ayo pamit kepada Sakiko-san dulu. Karena banyak yang ingin bertemu dengan Sakiko-san” Minami berkata lembut kepada anak perempuannya. Dan dia… Mutsumi nampak tidak ingin menurutinya. 

Hingga akhirnya setelah tiga detik penuh, Minami menambahkan, “Mutsumi tidak ingin membuat repot Sakiko-san, bukan?” tanyanya dan akhirnya Mutsumi mengangguk lesu. Lucu, Sakiko nyaris melihat dua kuping anjing yang layu di atas kepalanya yang mungil itu.

 

“Terimakasih, ya, Sakiko-san. Mohon maaf sekali lagi untuk Mutsumi-chan. Biasanya anak ini tidak begini”

 

“Ah, iya, tidak apa-apa”

 

Sakiko memutuskan mengangguk, kemudian melambaikan tangannya kepada Mutsumi yang sepanjang ia menjauh, tidak pernah melepaskan matanya dari Sakiko.

 

Sakiko memandang bunga liar di tangannya–dipetik dengan terburu-buru. Nilai artistiknya dan estetiknya jauh lebih rendah daripada buket bunga yang biasa ia terima dari orang-orang yang ingin menjadikannya seorang istri (dan budak catur bodoh politik ekonomi mereka), tapi rasanya lebih cantik dari itu. Hanya tiga tangkai bunga berwarna putih, dipetik dengan terburu buru-buru tanpa memikirkan komposisi maupun konsekuensi apapun, namun entah mengapa Sakiko tersenyum melihatnya.

Bak pelipur lara untuk rasa muaknya mencium bau para alpha yang kuat yang saling kompetitif untuk menarik perhatian dirinya.

 

Ah, mungkin dia sudah semakin sinting.