Work Text:
Senyum muncul di wajah Jiwoo saat ia menatap langit yang indah sambil rebahan di lantai rooftop. Ia suka hembusan angin yang menyentuh tubuhnya, suka aroma udara segar di tempat ini.
Tiba-tiba terdengar suara pintu berderik terbuka. Langkah kaki mendekat, lalu seseorang duduk di sampingnya.
“Kok bolos kelas?”
“Karena aku tahu kak Jiwoo butuh temen bolos”
Haram tersenyum lebar, lalu menjulurkan tangan dan mencubit hidung Jiwoo pelan. Jiwoo tertawa kecil, menatap Haram beberapa detik sebelum menarik lengannya supaya ikut rebahan di sebelahnya.
Mereka tak bicara apa-apa. Hanya berbaring berdampingan dalam diam. Haram bisa mendengar hebusan nafas Jiwoo, juga detak jantungnya sendiri. Terlalu nyaman dengan suasana ini Haram memejamkan matanya, mungkin dia beneran ketiduran.
Jiwoo terduduk mengeluarkan sebuah kamera digital kecil dari saku seragamnya. Ia mengarahkan kamera itu ke Haram yang sedang rebahan.
Suara tombol kamera yang di pencet membuat Haram membuka matanya menoleh ke Jiwoo yang sedang memotret dengan kamera saku canon berwarna hijau tua.
Haram tersenyum dan berpose membiarkan Jiwoo mengambil fotonya sebanyak mungkin. Puas dengan jepretannya kini Jiwoo mengecek lagi foto-fotonya.
“Kamera siapa itu, kak?” tanya Haram, duduk mendekat ikut mengecek foto-fotonya.
“Aku baru beli buat wisuda nanti biar bisa ambil foto kenangan sebanyak mungkin”
“Sini pinjem, aku fotoin”
Jiwoo mengajari Yuha cara kerja mekanik kamera itu sebelum memberikan kameranya. Yuha mulai memotret dari berbagai sisi wajah Jiwoo tanpa henti, Jiwoo juga berpose tanpa henti selama 5 menit.
“Udah ah, capek” Jiwoo terbaring lagi tak peduli Haram yang masih memotretnya. Jiwoo tersenyum dengan mata terpejam. Side profile wajahnya sangat sempurna, sangat cantik membuat Haram dari balik kamera terpesona untuk kesekian kalinya.
Gimana caranya kamu bikin aku jatuh cinta tiap hari, kak Jiwoo?
Haram mengulurkan tangan ke arah wajah Jiwoo, tapi sebelum menyentuh pipinya, pintu rooftop terbuka keras. Jiwoo langsung membuka mata dan menarik Haram berlari ke pintu samping.
“Hei! Kalian balik ke sini!” teriak seorang guru laki-laki.
Mereka terburu-buru menuruni tangga sampai akhirnya hampir saja menabrak kepala sekolah yang baru keluar ruangan. Sepatu mereka berdecit nyaring karena berhenti mendadak.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Jiwoo cemas sambil memeriksa badan Haram. Haram mengangguk.
Jiwoo menghela napas lega, lalu menoleh dan mendapati kepala sekolah menatapnya tajam. “Choi Jiwoo! Kamu bolos kelas lagi?!”
Jiwoo cuma bisa tersenyum lemah.
“Seperti yang bapak lihat, hehe.”
“Ini salah kamu.”
“Lho, kok jadi salahku?”
“Kalau kamu nggak bolos, aku juga nggak bakal bolos.”
Jiwoo mengernyit. Jelas-jelas Haram yang mau bolos sendiri tak ada yang mengajaknya tapi malah menyalahkan Jiwoo. “Hufftt” Jiwoo menggerutu.
Senyum kecil terbit di bibir Haram. Tingkah Jiwoo benar-benar kelihatan super imut. Ia ingin menggodanya lebih jauh.
“Apaan sih muka kamu? Jangan sok polos gitu kamu kan yang bikin kita ada di situasi ini,” kata Haram sambil menyilangkan tangan dan mengerutkan hidungnya.
“Aku nggak maksa kamu buat bolos kelas,” protes Jiwoo.
“Kamu sendirikan yang milih bolos” tambahnya.
“Aku bilang ini salah kamu berarti emang salah kamu sampai kita dihukum kayak gini,” balas Haram sambil memukul bahu Jiwoo main-main, lalu memukulnya lagi saat Jiwoo mengejek omelannya. Mereka sekarang sedang di hukum berdiri dengan satu kaki di depan ruang kepala sekolah.
“Kalian berdua sedang dihukum bisa diam tidak?!” bentak guru yang lewat depan mereka.
“Maaf,” jawab mereka bersamaan. Begitu guru itu kembali ke kelasnya, mereka langsung cekikikan bersama.
Menghabiskan waktu bersama tetap terasa menyenangkan meski itu berarti mereka harus dihukum atau dimarahi.
Jiwoo sedang berjalan di lorong saat mendengar keributan. Ia mempercepat langkah dan melihat Haram bersandar di dinding, dihadang oleh dua siswi.
“Berani-beraninya kamu nolak kakakku! Kamu juga mempermaluin dia dihadapan banyak anak!” bentak salah satu dari mereka. Gadis itu berteriak marah sementara temannya memanas-manasi situasi dengan menceritakan betapa sedihnya saudara laki-lakinya yang ditolak Haram.
“Maafin aku, tapi aku nggak punya perasaan yang sama ke kakakmu,” jawab Haram sambil menunduk.
“Maaf? Maaf apaan! Kamu pergi gitu aja ninggalin kakakku kayak orang bego dan jadi bahan tertawaan satu sekolah!” gadis itu berteriak marah sampai menarik kerah seragam Haram kasar. Haram mengerang kesakitan.
“Eh stop-stop! Ini ada masalah apa?” Jiwoo bertanya dengan dingin setelah keluar dari tempat persembunyiannya, menatap siswi yang menyakiti Haram.
“Kak Jiwoo…uh um- nggak ada apa-apa kok,” kata mereka gugup dan langsung melepas Haram memberi Jiwoo senyuman kecil.
“Beneran? Aku lihat kamu narik kerah baju Haram. Ada salah apa dia sama kalian?” Tatapan dingin Jiwoo bergantian mengintimidasi kedua siswi itu
“Ng-nggak apa kok kak, kita cuma main doang. Ya kan, Haram?”
Jiwoo mengalihkan pandangannya ke Haram dan Haram mengangguk. Kemudian dia berjalan mendekat, berdiri di depan Haram seolah melindunginya sebelum berbalik menghadap yang lain.
“Aku senang kalian cuma main-main karena kalo aku tahu kalian ngebully dia, aku nggak bakal diem.” Jiwoo berkata dingin, menatap mereka dengan tatapan tajam yang membuat keduanya menelan ludah ketakutan.
“I-iya kak” Mereka berkata dengan cepat, membungkuk pada Jiwoo sebelum meminta izin untuk pergi dan langsung kabur. Terdengar tawa kecil di belakangnya, Jiwoo menyadari Haram sedang tersenyum.
“Kok kamu malah senyum? Mereka hampir mukul kamu,” kata Jiwoo.
“Tapi nggak jadi, kan?”
“Hahh jadi orang jangan kelewat baik. Bilang aja kalau mereka berani macem-macem sama kamu nanti aku hajar sekalian.”
“Jangan buang waktu buat hal-hal yang gak penting deh kak, mending fokus belajar biar bisa masuk universitas favorit”
“Kamu bukan hal-hal yang nggak penting. Kamu orang yang penting buatku.”
Orang yang penting. Aku gak salah denger,kan?
Wajah Haram memerah, ia bisa merasakan pipinya memanas. Gadis yang lebih muda itu menoleh ke samping, menghindari tatapan khawatir Jiwoo. Ucapan itu buat Haram langsung salah tingkah.
“Makasih, kak.”
“Buat apa?” tanya Jiwoo, meraih tangan Haram dan menyeretnya ke kantin.
“Karena udah bantuin tadi.”
Jiwoo mengendikkan bahunya seolah bukan hal yang besar.
“Kak Ezra” Haram memanggil anak laki-laki yang biasa dipanggil Ejak, hendak melewatinya. Ezra berhenti dan menatapnya dengan salah satu alisnya terangkat. “Ya?”
“Nih buat kakak.” Dia menyerahkan sekaleng cola sebelum memberikan senyum manisnya. Anak laki-laki itu tak bisa menahan diri, pipinya memerah. “Minum sekarang deh, kak.” Dia memiringkan kepalanya, bertingkah imut.
“O-Oke.” Ezra sedikit gemetar, dia membuka kaleng cola lalu meminumnya. Senyum Haram sampai ke telinganya karena dia tahu Ezra sepertinya menyadari ada sesuatu yang salah dengan cola yang diberikannya.
Ezra meneguknya, lalu langsung berhenti.
“Kenapa, kak?” tanya Haram polos, berusaha keras menahan tawa. Ia bisa melihat butiran keringat bermunculan di dahi Ezra saat ia minum.
“Kamu beran gentlemen, Jak” Jiwoo tiba-tiba muncul, menepuk bahu sahabatnya dengan lembut sambil terkekeh. Seketika, Ezra berhenti minum dan menatap temannya dengan mata lebar.
“Sialan! ini prank ya?!” Ucapan Ezra itu membuat Jiwoo dan Haram tertawa terbahak-bahak, bahkan mereka sampai memegang perut saking gelinya. Mereka bertiga tertawa keras.
“Jak, kamu harus liat wajahmu! Lucu banget! Hahahaha.” Jiwoo ber-high five ria dengan Haram setelah berhasil melakukan prank ke Ezra. “Anjir! pantes aja rasanya asin banget.” Desisnya
“Ga usah ngomel kayak guru gitu. Seenggaknya kita tahu kamu naksir berat sama Haram.” Jiwoo menggoda, sambil memukul bahu temannya dengan bercanda. Haram terkikik melihat betapa lucunya kedua sahabat ini, sementara wajah Ezra memerah.
“Diem anjir!”
Jiwoo berada di perpustakaan, mencari buku-buku yang diinginkannya. Dia memilih dua buku sebelum berjalan dan duduk di sudut yang sepi, spot favoritnya di tempat ini. Dia duduk dengan nyaman di kursi, membaca bukunya dengan tenang.
Haram yang baru saja masuk ke perpustakaan dengan cepat menghampirinya, menaruh barang-barangnya di atas meja lalu duduk di sebelah Jiwoo. Gadis yang lebih tua itu masih fokus pada bukunya, menikmati isi buku tersebut.
“Lagi baca apa sih? Serius banget” tanya Haram penasaran lalu mengintip sampul buku yang dibaca Jiwoo, ia menaikkan sebelah alisnya “Ramayana?” Haram cekikikan kecil melihat Jiwoo ternyata membaca buku dongeng dengan fokus.
Haram memutuskan untuk membiarkan Jiwoo menikmati bukunya. Ia mengeluarkan tugas matematika dari dalam tas, lalu mengerjakan dengan tenang.
Meski Jiwoo tidak mengatakan apa pun padanya, Haram sama sekali tidak merasa kesal. Mereka sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Jiwoo membaca bukunya, sementara Haram mengerjakan tugasnya. Duduk diam berdampingan seperti itu saja sudah cukup membuat mereka merasa bahagia.
“Gimana?” tanya Haram dengan cemas, menatap Jiwoo yang masih mengunyah sandwich buatannya. “Enak nggak?” tanyanya lagi nggak sabaran, khawatir soal rasanya.
Setelah mengunyah sebentar, Jiwoo tersenyum lebar lalu mengacungkan jempol.
“Mhmm enak banget, kamu harus bikinin aku tiap hari. Aku suka” katanya ceria sambil menggigit sandwich itu lagi.
Ucapan Jiwoo membuat senyum Haram langsung melebar. Melihat Jiwoo sebahagia itu benar-benar bikin harinya jadi cerah. “Serius? mau nyoba dong,” kata Ezra yang duduk di sebelah Jiwoo.
“Nggak boleh! Ini punyaku!” Jiwoo buru-buru mengangkat sandwich itu tinggi-tinggi supaya nggak direbut sahabatnya.
“Cuma satu gigitan!” protes Ezra sambil berusaha meraih sandwich itu.
“Duh, kalian berdua bukan anak kecil lagi stop,” omel Carmen kesal, lalu menjitak kepala mereka berdua sampai sama-sama meringis. “Bodoh.”
Haram terkikik melihat pemandangan itu. Tiga sahabat itu kelihatan konyol tapi lucu banget.
“Haram,” panggil Carmen sambil menoleh ke arah gadis yang lebih muda.
“Iya, kak?”
“Kenapa kamu bikinin sandwich buat Jiwoo?”
Haram terkejut, nggak tahu harus jawab apa. Jiwoo dan Ezra langsung berhenti ribut lalu menoleh ke arahnya.
“Carmen bener. Kenapa kamu cuma bikinin sandwich buat Jiwoo yang bego ini?” tanya Ezra.
“Woi!” Jiwoo menyikut bahu Ezra karena dipanggil bodoh. Setelah itu ia kembali menatap Haram dan mendapati gadis itu terdiam, kebingungan.
“Ka-karena…-karena…” Haram benar-benar kesulitan menjawab. Ia sama sekali nggak menemukan alasan yang masuk akal. Carmen sepertinya menyadari perasaannya pada Jiwoo, dan Haram sangat nggak suka senyum menggoda di bibir Carmen.
“Karena dia memang mau. Kenapa sih kalian harus nanya detail gitu? Kepo banget” Jiwoo akhirnya menyela sambil mengangkat bahu santai.
“Yang aku tanya itu Haram, bukan kamu, Jiwoo diem deh” kata Carmen sambil menunjuk Haram, lalu melambaikan tangan.
“Lagipula kamu nggak perlu jawab. Kayaknya aku sudah tahu jawabannya.”
Carmen tersenyum ke arah Haram yang wajahnya memerah, lalu pergi sambil menarik Ezra ikut bersamanya.
“Aneh,” gumam Jiwoo.
H-7 kelulusan
Tinggal seminggu lagi sebelum kelulusan. Haram berdiri menunggu Jiwoo keluar dari kelasnya. Ia bersandar di dinding dekat pintu kelas Jiwoo, sambil memikirkan bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya pada kakak kelas itu.
“Haram? Kamu ngapain di sini?” tanya Carmen yang kebetulan lewat. Ia heran kenapa anak kelas 11 ada di gedung kelas 12. Tatapannya lalu jatuh ke pintu kelas Jiwoo, dan senyum jahil langsung muncul di wajahnya.
“A-aku nunggu Kak Jiwoo,” jawab Haram gugup, merasa Carmen sudah tahu alasan kenapa ia ada di sana. Ia menunduk, menghindari tatapan Carmen.
“Biar aku tebak… kamu punya sesuatu yang penting buat kamu omongin ke dia, ya?” Carmen mencolek pundaknya sambil tersenyum usil, bikin Haram makin gelisah.
“Nggak, kak. A-aku cuma mau ngucapin selamat aja. Kak Jiwoo kan lulus ujian masuk universitas favorit.”
“Iya sih, dia emang pinter meski kelihatannya kayak orang bego,” kata Carmen sambil terkekeh. “Kalau gitu aku duluan ya. Ejak lagi nungguin.”
“Iya, nggak apa-apa kak, duluan aja.” kata Haram sambil tersenyum dan mengangguk ke arah Carmen.
Carmen melambaikan tangan lalu berjalan pergi, tapi baru dua langkah, ia berhenti.
“Haram,” panggilnya.
“Iya, kak?”
“Jangan nunggu sampai Jiwoo keburu pergi.”
Carmen tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya, meninggalkan Haram yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Jiwoo menatap kotak kecil di tangannya selama beberapa menit, penasaran dengan isinya. Tadi, setelah keluar dari kelas, ia melihat Haram sudah menunggunya, lalu gadis itu menyerahkan kotak kecil ini sebagai hadiah.
“Hadiah buat apa?” tanya Jiwoo sambil menggoyang-goyangkan kotaknya pelan, mencoba menebak isinya.
“Kamu lulus ujian dan masuk univ favorit jadi kak Jiwoo pantas dapet hadiah.”
“Serius, kamu nggak perlu repot-repot beliin aku hadiah.”
“Aku cuma pengen aja, oke?” Haram menyilangkan tangan sambil mengerutkan hidungnya, membuat Jiwoo menghela napas kecil.
“Emangnya apa sih?” tanya Jiwoo.
“Daripada nanya, mending dibuka aja.”
“Oh iya juga!” Jiwoo tersenyum konyol lalu buru-buru membuka hadiah itu. Di dalamnya ada gelang perak dengan inisial J H.
“J H?”
“Iya. J buat Jiwoo dan H buat Haram. Jadi setiap kamu lihat ini, kamu bakal inget aku terus,” kata Haram dengan bangga. Ia mengambil gelang itu lalu memakaikannya di pergelangan tangan kiri Jiwoo.
“Ini cantik banget. Makasih, ya” kata Jiwoo sambil tersenyum, mengusap kepala Haram dengan lembut sambil menatap gelangnya tanpa sadar kalau tindakannya itu bikin wajah Haram langsung memerah padam.
“Kalau kamu nggak ngasih aku hadiah apa pun toh aku tetap bakal inget kamu.”
Begitu selesai bicara, Jiwoo tiba-tiba memeluk Haram erat, bahkan mengangkat tubuhnya sedikit sambil berputar dan tertawa seperti anak kecil yang lagi bahagia.
“EH! Semua orang lagi lihat kita, turunin gak!” protes Haram sambil menepuk punggung Jiwoo pelan.
“Biarin.”
“Kamu tuh konyol banget,” gumam Haram pelan sambil membalas pelukan Jiwoo dengan erat dan senyum manis di wajahnya. Ia memang suka banget memeluk kakak kelas yang satu ini.
Jangan nunggu sampai Jiwoo keburu pergi.
Ucapan Carmen tiba-tiba terngiang di kepalanya. Haram sadar, ia harus mengaku sekarang, sebelum semuanya terlambat.
“Um.. kak, kita bisa ngobrol sebentar nggak?” bisik Haram pelan.
“Bukannya kita lagi ngobrol?” jawab Jiwoo bercanda, sampai Haram menepuknya ringan.
“Aku beneran mau ngomong sesuatu. Ini penting banget.”
“Apa?” Jiwoo melepaskan pelukannya dan menatap Haram, menyadari wajah gadis itu terlihat sangat serius.
“Kak Jiwoo, aku su-”
“Jiwoo! Miss Helen manggil kamu,” teriak seorang siswa sambil menunggu Jiwoo.
Haram cuma bisa menghela napas. Ia mengangguk ke arah Jiwoo yang menatapnya dengan wajah bersalah, seolah minta izin.
“Pergi aja.”
“Nanti kamu ceritain ke aku, ya?” tanya Jiwoo.
Haram mengangguk pelan.
Jiwoo memeluknya sekali lagi sebelum pergi mengikuti siswa itu menemui gurunya. Haram menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke dinding saat lututnya terasa lemas. Perlahan, ia menekan dadanya sendiri, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup terlalu cepat.
Haram berdiri di rooftop sekolah, menatap langit yang terlihat indah. Ia bisa merasakan angin menyapu kulitnya tapi itu sama sekali tidak membantu. Perasaan tidak nyaman di dadanya justru makin mengganggu.
Kenapa rasanya sakit banget ya?
Ia bertanya pada dirinya sendiri. Haram tak mau kisah cintanya berakhir bahkan sebelum sempat dimulai. Tapi ia juga nggak tahu gimana cara mengungkapkan perasaannya pada Jiwoo. Ia takut Jiwoo tak memberi jawaban yang ia harapkan, takut akan penolakan.
Kakak kelas dan adik kelas.
Ia benci dua kata itu. Ia benci label yang membuat seolah Jiwoo cuma melihatnya sebagai adik. Haram ingin Jiwoo memandangnya sebagai seseorang yang dewasa, bukan anak kecil yang belum bisa mengurus dirinya sendiri.
Haram merasa cukup dewasa untuk tahu apa yang ia rasakan dan apa yang ia inginkan. Masalahnya, ia sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Jiwoo terhadapnya. Haram menghela napas pelan.
“Kamu ngapain di sini?”
Haram tersentak mendengar suara yang tiba-tiba muncul. Itu Jiwoo, yang baru saja melangkah ke area rooftop.
“Sama kayak kamu. Aku bolos kelas,” jawab Haram sambil mengangkat bahu, sementara Jiwoo sudah merebahkan diri di lantai. Haram menatap kakak kelas itu beberapa detik, lalu akhirnya memutuskan untuk ikut berbaring di sampingnya.
“Kamu tahu kan, kebiasaan bolos kayak gini nggak baik.”
“Aku tau.”
“Kamu harus lebih rajin biar bisa ngejar pelajaran.”
“Iya.”
Setelah itu, mereka terdiam. Saling menatap tanpa kata-kata. Anehya, keheningan itu justru terasa lebih nyaman dibanding ngobrol basa-basi.
Tiba-tiba Jiwoo duduk, seolah baru ingat sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah kartu kecil dari sakunya lalu menyerahkannya pada Haram.
“Ini apa?” tanya Haram bingung.
“Gak tau?” Jiwoo mengangkat bahu sambil memiringkan kepala, menatap kartu kecil yang kini ada di tangan Haram.
“Kok kamu nggak tahu?” gumam Haram pelan sebelum membuka kartu itu dengan hati-hati.
Aku cinta kamu, Haram.
Detak jantung Haram flangsung berpacu kencang. Matanya membesar, pipinya memerah. Ia cepat-cepat menoleh ke arah Jiwoo dengan tatapan nggak percaya.
“Oh, ini kartu pengakuan Ivan,” kata Jiwoo santai, malah terdengar agak kagum.
Tunggu… siapa Ivan?
Haram menatap kartu itu lagi dan akhirnya melihat nama Ivan di bagian bawah. Ia menghela napas kecewa. Jiwoo yang menyadari reaksinya langsung menyikutnya pelan sambil tersenyum jahil.
“Kenapa reaksinya gitu? Nggak seneng?”
“Nggak.”
“Kenapa? Ivan itu ganteng dan pinter. Oh iya, dia juga baik.”
“Aku kan nggak kenal dia, kak. Terus kenapa aku harus seneng?”
“Kamu punya seseorang yang suka sama kamu. Itu kan hal bagus?”
“Iya, tapi itu nggak ngubah apa-apa. Orang yang aku suka nggak punya perasaan yang sama kok.”
“Hah? Kamu udah punya orang di hati kamu? Kenapa nggak bilang ke aku?”
Kamu bener-bener nggak peka, Choi stupid Jiwoo!!
Haram menghela napas frustasi sendiri sama ke-gak-pekaan Jiwoo. Ia pun berdiri, lalu pergi begitu saja meninggalkan Jiwoo yang terdiam kebingungan. Ia belum siap mengaku. tidak sekarang, bukan saat Jiwoo malah mendorongnya ke orang lain.
Hari Kelulusan.
Haram memeluk erat boneka my melody di tangannya sambil menunggu acara kelulusan selesai. Para siswa kelas akhir masih berada di aula, satu per satu menerima ijazah mereka.
Satu jam kemudian, para kelas 12 mulai keluar dari aula. Mata Haram langsung mencari satu sosok yang paling ia tunggu, sampai akhirnya ia menemukan seseorang yang paling ia suka. Jiwoo sedang merangkul Ezra yang tertawa bersama Carmen. Senyum bahagia di wajah mereka menunjukkan betapa senangnya mereka hari itu.
Jiwoo lalu menyadari keberadaan Haram yang tersenyum ke arahnya dari sudut gedung. Ia pamit sebentar ke teman-temannya, lalu berlari menghampiri Haram.
“Itu punyaku, kan?” tanya Jiwoo sambil menunjuk boneka my melody di pelukan Haram, tersenyum lebar.
“Nggak, ini buat kak Ezra,” jawab Haram. Raut wajah manyun langsung muncul di wajah Jiwoo, membuat Haram tertawa kecil.
“Bercanda. ini buat kamu.”
“Makasih, princess,” kata Jiwoo sambil membungkuk seperti ksatria sebelum mengambil boneka itu. Haram langsung memerah karena dipanggil princess.
“Kamu lucu deh, Kak,” kata Haram sambil tertawa kecil, berusaha menutupi rasa malunya.
“Selamat ya.”
“Makasih, Haram. Eh, ngomong-ngomong, aku baru inget kamu kemarin-kemarin mau bilang sesuatu ke aku, kan?” tanya Jiwoo, teringat kalau Haram belum sempat menyelesaikan ucapannya. Hari kelulusan yang sibuk membuat mereka hampir tidak punya waktu berdua.
“Iya, kita bisa ngobrol di tempat lain nggak?”
“Boleh, ngikut aja aku.”
Haram terkikik kecil mendengar jawaban Jiwoo yang terdengar manis baginya. Ia menuntun Jiwoo menuju gerbang depan sekolah tempat pertama kali mereka bertemu. Jiwoo mengikutinya dalam diam, penasaran dengan apa yang ingin Haram sampaikan.
“Kamu masih ingat tempat ini?”
“Inget dong. Ini tempat pertama kali kita ketemu. Aku waktu itu lari kayak orang kesetanan karena takut telat, terus BOOM! nabrak cewek cantik,” kata Jiwoo sambil terkekeh, teringat bagaimana Haram sempat memarahinya karena lari tanpa lihat jalan.
“Lucu ya, setelah itu kita bisa jadi sedeket ini. Kayak nempel terus, seolah kamu itu aku dan aku itu kamu.”
Senyum pelan terukir di bibir Jiwoo saat mendengar ucapan Haram. Ia menatap tempat itu, mengingat semua yang terjadi di hari pertama mereka bertemu rasanya baru saja terjadi kemarin karena hari-harinya terasa jadi lebih menyenangkan.
Haram menatap sosok yang sudah sepenuhnya mencuri hatinya dengan penuh rasa sayang.
“Kak, sebenarnya aku su-”
“Aku harap persahabatan kita bisa bertahan lama,” potong Jiwoo sambil menoleh ke arah Haram dengan senyum lebar.
“Sampai jadi nenek-nenek, sampai maut misahin kita.”
Sesuatu di dalam diri Haram terasa retak. Hatinya yang hancur jadi ribuan keping. Ia berusaha keras menahan air mata yang sudah siap tumpah, lalu memaksakan senyum di wajahnya. Sebuah penolakan telak bahkan dia belum memulai.
“Sahabat sampai nafas terakhir.”
Jiwoo yang sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi langsung menarik Haram ke dalam pelukan erat, tanpa tahu kalau itu justru membuat Haram ingin menangis lebih keras.
“Jiwoo! Foto dulu!” teriak Ezra dari depan gedung kelas 12.
Jiwoo melepaskan pelukan itu, menatap Haram seolah minta izin.
“Jangan biarin mereka nunggu, Kak. Pergi aja.”
“Sampai nanti, Haram,” kata Jiwoo sambil tersenyum sebelum berlari menghampiri teman-temannya.
Perlahan, air mata memenuhi mata Haram. Ia menatap punggung Jiwoo untuk terakhir kalinya dengan penuh rasa sayang, membiarkan air matanya jatuh begitu saja.
“Selamat tinggal, Jiwoo.”
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Jiwoo masih terlelap di tempat tidurnya, bergerak mencari posisi yang paling nyaman. Ia mengayunkan lengannya ke sisi kiri, menarik sesuatu ke dalam pelukan erat, mengira itu bantal.
“Aku cinta kamu, Choi Jiwoo.”
Mata Jiwoo langsung terbuka lebar. Ia buru-buru duduk di ranjang, menoleh ke kiri lalu ke kanan.
“Itu barusan.. suaranya Haram?” gumamnya pelan, masih bingung dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur.
“Aku cinta kamu, Choi Jiwoo.”
Suara itu terdengar lagi. Jiwoo menoleh ke sisi kirinya, menatap penuh tanya boneka my melody dari Haram yang sedari tadi ia peluk, mengira itu bantal. Ia duduk, menatap boneka itu beberapa detik, lalu menekan bagian perutnya.
“Aku cinta kamu, Choi Jiwoo.”
Jiwoo ternganga.
Ini boneka rekaman?!
Tanpa buang waktu, Jiwoo terlonjak dari tidurnya langsung bangun, meraih boneka my melody itu, lalu berlari keluar.
Haram kini dalam perjalanan menuju sekolah dengan lesu. Tempat yang dulu selalu terasa hangat karena ada Jiwoo, kini terasa kosong dan dingin. Kehidupan sekolahnya tidak akan sama lagi sejak mereka terpisah semuanya terasa hambar dan membosankan.
Saat melihat gerbang sekolah dari jauh, ingatannya kembali ke kejadian kemarin. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua rasa sakit yang menyesakkan dada.
Ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Move on dan menerima kenyataan adalah hal yang harus ia jalani saat ini.
“Haram! Hei! Yu Haram!!”
Langkah Haram terhenti kaku.
Kak Jiwoo?
Ia tak berani menoleh ke arah suara itu, takut kalau yang ia dengar cuma halusinasi karena terlalu merindukan Jiwoo.
Tiba-tiba tubuhnya ditarik ke belakang, lalu ia mendapati dirinya berada dalam pelukan yang sangat familiar. Orang yang memeluknya terengah-engah, seperti baru saja berlari jauh.
Aroma ini, rasa ini, dan kehangatan ini sangat tidak asing.
Haram tahu itu Jiwoo yang memeluknya erat. Tapi ia sama sekali tidak mengerti kenapa orang yang ia cintai tiba-tiba ada di sini, memeluknya seperti ini.
“Aku cinta kamu, Choi Jiwoo.”
Suara itu keluar dari boneka my melody saat Jiwoo menekannya. Wajah Haram langsung memerah, teringat kalau ia pernah merekam pengakuannya ke dalam boneka itu.
“Kak, aku-”
“Dan aku juga jatuh cinta sama kamu, Yu Haram”
Hati Haram terasa mekar mendengar pengakuan serius dari Jiwoo, jantungnya berdetak terlalu cepat. Ada rasa berdebar dan kupu-kupu yang menari liar di perutnya. Pelukan Jiwoo terasa begitu hangat sampai rasanya Haram bisa meleleh di dalamnya. Semua rasa sakit yang dulu ia rasakan mendadak lenyap, seolah tak pernah ada.
“Maaf aku nggak bilang dari awal. Aku takut kamu nolak aku, apalagi kamu bilang udah punya seseorang di hati kamu,” jelas Jiwoo sambil berusaha mengatur napasnya yang habis berlarian dari rumah.
“Nggak apa-apa. Yang penting perasaan kita berbalas. Aku juga cinta kamu, Kak Jiwoo.”
Jiwoo tersenyum manis.
Haram lalu melepaskan pelukan itu untuk menatap lebih jelas sosok yang kini sepenuhnya menjadi miliknya. Begitu melihat Jiwoo dari atas sampai bawah, dia nggak bisa menahan tawanya karena Jiwoo memakai kaos oversize putih dan boxer hitam.
“Eh jangan diketawain dong, aku tadi buru-buru, tau!” protes Jiwoo kesal.
“Seenggaknya kamu ganti baju dulu kek sebelum keluar rumah. Semua orang pada lihatin kamu,” kata Haram sambil cekikikan lihat beberapa siswa yang juga berjalan menuju sekolah memandangi mereka.
“Bodo amat. Pikiranku cuma pengen lari ke kamu, aku sampai nggak bisa mikir apa-apa selain kamu” jawab Jiwoo.
Haram mendadak berhenti tertawa. Wajahnya memerah samar. Ia menoleh ke samping, berusaha menyembunyikan senyum yang tetap muncul di bibirnya.
“Hei, lihat aku,” kata Jiwoo sambil menangkup pipi Haram, memutar wajah gadis itu dengan lembut. Haram menatap mata lebar Jiwoo rasanya seperti ada mantra yang menariknya untuk tenggelam lebih dalam.
“Yu Haram, mau nggak kamu jadi pacarku?”
“Bodoh! ngapain nanya, kan kamu udah tahu jawabannya?”
“Aku cuma mau mastiin status kita” balas Jiwoo.
“Iya, Kak Choi Jiwoo… aku mau jadi pacarmu.”
Senyum bodoh langsung merekah di wajah Jiwoo. Jantungnya berdetak seperti mau meloncat keluar saat bibir lembut Haram menyentuh bibirnya. Ciuman itu terasa sangat manis dan hangat karena di dapatkan dari gadis pujaannya.
“Ew…kayaknya kamu belum gosok gigi ya?” Haram menarik diri dengan senyum jail, menggoda seseorang yang kini resmi jadi pacarnya.
“Hehh!” Jiwoo merangkul leher Haram dan tersenyum mencium pipinya. Haram tak menolak. Ia merasa hari-harinya sebagai anak kelas 12 di sekolah kini jadi tak terlalu buruk.
-fin-

MILKZJAYANEVERKARAM (Guest) Fri 02 Jan 2026 12:06PM UTC
Comment Actions
Frenchfrieslolo Fri 02 Jan 2026 12:23PM UTC
Comment Actions