Work Text:
Kalau boleh jujur, Chanyoung benci pesta dansa sekolah. Meskipun teman-temannya yang lain selalu antusias tiap kali obrolkan topik acara itu sepanjang tahun ini, ia diam-diam akan selalu menyumpah serapahi kebijakan sekolah yang menjadikan acara itu sebagai kewajiban.
Chanyoung boleh bersyukur karena dikaruniai wajah yang terlampau memikat dengan kecerdasan otak mengagumkan. Semua orang selalu menyebutnya sebagai lelaki sempurna, tapi, tunggu saja apakah kata itu masih akan lekat dengan nama Chanyoung saat dirinya mulai menggerakkan badannya di hadapan mereka.
Bayangkan jika seisi sekolah menyaksikannya berdansa seolah badan dan kakinya bak dua entitas berbeda yang bergerak tanpa arah, dengan kedua lengannya mengayun payah seperti boneka puppet? Atau lebih parahnya, bagaimana jika ia sampai menginjak kaki Vivianne, partner dansanya? Gadis itu terkenal suka sekali bergosip. Apa kata orang-orang soal dirinya nanti? Citra bagus ia selama ini akan menjadi kacau dalam semalam.
Makanya, Chanyoung telah bersumpah tidak akan menghadiri pesta dansa sekolah bagaimanapun juga. Tapi, di sinilah ia sekarang; dengan sisa waktu 30 menit di tangan sebelum sesi dansa dimulai, langsung menelusup keluar dari ballroom ketika pasang mata orang-orang lengah darinya.
Ia berjalan sejauh mungkin dari area sekolah selagi tangannya merogoh ponsel di saku celana dan mengirimkan pesan pada teman-temannya jika perutnya mendadak sakit, sehingga ia memilih kembali ke rumah. Pokoknya, Chanyoung lebih terima dicaci maki temannya karena pulang duluan daripada mereka melihatnya berdansa layaknya badut.
Langkah kaki lelaki itu spontan terhenti ketika netranya secara tak sengaja menangkap siluet seseorang di dekat taman sekolah. Ketika ia mengambil langkah mendekat, siluet itu perlahan menyerupai figur seorang gadis berambut cokelat almon.
Chanyoung buru-buru bersembunyi di balik air mancur dan stagnan dalam posisinya selama beberapa saat. Segala atensinya kini terpusat pada gadis itu─yang sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia meliuk ke sana ke mari dengan indah dan lincah, tapi tetap tampak anggun dan lembut. Ia berdansa bak taman sekolah ini adalah ballroom mewah yang cuma diisi oleh dirinya sendiri. Terang sinar rembulan yang jatuh menyinari sang gadis membuatnya tampak semakin magis. Chanyoung baru ingat untuk bernapas ketika tarian sang gadis berhenti.
Ketika gadis itu memutar badannya ke belakang, ia langsung menjerit kaget begitu pandangnya dan Chanyoung bertemu untuk beberapa sekon.
“Maaf, aku nggak maksud ngagetin,” ujar Chanyoung menyesal seraya mendekat perlahan.
“Terus, kenapa kamu berdiri di situ?” tanya sang gadis seraya memegangi dadanya yang berdebar kencang karena kehabisan napas sekaligus kaget.
“Aku cuma lagi lewat… terus nggak sengaja lihat kamu dansa sendirian.” Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Terus, aku penasaran kenapa ada orang dansa sendirian di sini.”
Sang gadis tetap diam dan mengambil langkah mendekat, lalu menelengkan kepala ke samping ketika sinar rembulan menerpa wajah Chanyoung. “Kamu Lee Chanyoung, kan?” tanyanya tiba-tiba.
Chanyoung mengangguk ragu, diam-diam bertanya dari mana perempuan ini tahu identitasnya. “Kamu kenal aku?”
“Siapa, sih, di sekolah ini yang nggak kenal kamu memangnya?” kekeh sang gadis, seolah pertanyaannya barusan adalah lelucon konyol. “Kamu kenapa ada di sini bukannya di dalam?”
“Kamu sendiri kenapa di sini?” tanya Chanyoung balik.
“Aku nggak punya partner dansa, jadi aku bebas ada di mana aja,” jawab gadis itu enteng, “kalau kamu?”
O-oh. “Ya, aku mau cari udara segar aja. Pengap di dalam, berisik juga.” Alasan klasik, tapi semoga saja berhasil.
Kalau pun gadis itu curiga jika dirinya kabur karena tidak pandai berdansa, ia tak menunjukannya. “Jangan lama-lama cari udaranya, kamu pasti dicariin orang-orang.” Gadis itu menyunggingkan senyum penuh arti.
“Kenapa kamu peduli kalau aku dicariin orang-orang?” Chanyoung balas mengukir senyum yang sama. “Emang, temen-temenmu juga nggak bakal nyariin kamu?”
“Temenku cuma satu dan aku yakin yang sekarang ada di kepalanya cuma ingin cepat-cepat dansa. Mungkin dia nggak bakal kepikiran aku sampai selesai acara,” tanggapnya kelewat santai, “lagipula, aku bukan orang kayak kamu.”
“Orang kayak aku?” Chanyoung menaikkan sebelah alisnya.
Yunah mengangguk. “Populer, banyak temen, disukai satu sekolah.”
Chanyoung cuma berdecih mendengarnya. “Berarti, maksud kamu orang biasa aja, kan?”
“Iya, nggak perlu merendah gitu di depanku.”
Jawaban gadis itu mengundang kekehan dari Chanyoung. Sekonyong-konyong, ia teringat suatu hal. “Oh ya, kamu belum bilang nama kamu siapa, omong-omong.”
“Oh.” Rupanya ia juga baru tersadar. “Aku Yunah. Noh Yunah.”
“Yunah.” Chanyoung menyukai bagaimana lidahnya bergerak saat mengucapkan nama gadis itu. “Yunah.” Ia berucap sekali lagi.
“Namaku Yunah, bukan Yunah Yunah,” protesnya yang cuma Chanyoung tanggapi dengan senyum tipis.
Chanyoung mengerti sains, tetapi ia tidak yakin ada penjelasan ilmiah atas reaksi berdebar yang terjadi dalam rongga dadanya saat Yunah dan dua kelereng matanya yang jernih itu menatapnya. Ia mengeratkan jari-jemarinya kuat-kuat, berusaha kendalikan sensasi berdebar yang sesakkan dadanya itu.
Tanpa sengaja, atensi Chanyoung kemudian jatuh sepenuhnya pada sepasang stiletto merah yang tergeletak asal di atas tanah, tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Netranya kemudian berpindah fokus pada kaki Yunah─yang baru ia sadari─dari tadi riang berdansa tanpa mengenakan alas kaki apapun.
“Kenapa sepatunya nggak dipakai?” tanyanya khawatir.
“Ukurannya terlalu kecil, tapi dari tadi aku paksa pakai, akhirnya jadi begini….” Yunah sedikit menyibak gaun merah sepanjang pergelangan kakinya dan memperlihatkan sebuah luka kecil di mata kaki.
“Boleh aku lihat?” tanya Chanyoung pelan, tak bisa menahan khawatir dalam suaranya.
Yunah mengangguk. Chanyoung menuntunnya duduk di salah satu anak tangga batu terdekat, kemudian melihat lebih teliti luka di kaki Yunah. Ada memar merah di sana serta sedikit kulit terkelupas yang mengeluarkan darah. Dia dari tadi berdansa dan melompat dengan keadaan seperti ini?
“Tunggu di sini sebentar.” Chanyoung langsung berdiri, tapi dengan sigap Yunah menahan lengannya.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya heran.
“Sebentar aja,” pintanya, kemudian berlari pergi entah ke mana.
Lima menit berlalu dan Chanyoung kembali seraya menenteng peralatan P3K yang Yunah sendiri bingung dapat dari mana. Keheranannya makin membumbung ketika Chanyoung meraih kakinya yang terluka dan menaruhnya di atas lutut lelaki itu.
“Kamu mau ngapain?” Ada perasaan aneh menggulung-gulung dalam dada Yunah ketika kulit mereka bersentuhan.
“Aku bantu obatin,” kata Chanyoung seraya membuka kotak P3K.
“Ini cuma luka kecil aja.” Yunah terkekeh. “Lagian aku bisa sendiri, kok.”
Pandangnya kemudian bertemu dengan milik Chanyoung. “Boleh, ya, aku yang obatin?” pinta lelaki itu dengan suara yang lebih lembut.
Perasaan ragu yang tadinya merayapi hati Yunah mendadak hilang entah ke mana. Tanpa alasan jelas yang tidak diyakini kenapa, ia ingin membiarkan dirinya memercayai Chanyoung; jadi, ia mengangguk.
Dengan penuh hati-hati, Chanyoung menyapu bagian yang luka dengan tisu antiseptik dan memicu sedikit desisan dari Yunah─kini baru merasakan sakitnya. Ia kemudian mengolesi salep antibiotik dan menutupnya dengan sebuah plester luka bermotif jerapah.
“Makasih,” gumam Yunah setelah Chanyoung menurunkan kakinya dan dibalas anggukan oleh sang lelaki.
“Jangan lupa rajin diganti plesternya setiap hari. Kalau basah atau kotor, plesternya harus cepat diganti.” Yunah tertawa. Persis seperti pesan dokter saja.
“Oh, bintang!” Chanyoung tiba-tiba berseru sekaligus menunjuk ke atas langit.
Kelereng mata Yunah langsung ikuti arah pandang Chanyoung, kepada bentang langit yang malam ini berwarna gradasi hitam dan biru tua dengan selimut bintang kilau bersebaran. Samar-samar, didengarnya orkestra jangkrik dan hewan malam lainnya bernyanyi mengiringi malam; lalu, telinganya menangkap alunan orkestra musik yang lebih kencang.
“Pasti pesta dansanya udah dimulai,” gumamnya pelan, kedambaan kentara dalam suaranya.
Chanyoung memandangnya sesaat sebelum kembali menatap langit. Yunah mungkin bisa bersikap seolah tak acuh di depannya, tapi dirinya yakin betul jika gadis itu sesungguhnya sedih karena tak memiliki partner dansa. Apalagi, ini kali pertama dan terakhir mereka akan menghadiri pesta dansa sekolah untuk seumur hidup.
Ia berkontemplasi sesaat dengan pikirannya sebelum akhirnya mendesah pelan. “Aku nggak bisa dansa,” akunya kemudian. “Tapi, semua orang suruh aku buat ikut, makanya aku sekarang kabur.”
Yunah menatapnya kebingungan. “Erm, oke... kenapa kamu bilang ini ke aku?”
Peduli apa dirinya soal rasa malu? Semua malunya sudah menguap sejak ia bertemu gadis ini. Pokoknya, Chanyoung cuma ingin berterus terang.
“Karena aku sebenarnya mau nawarin kamu dansa bareng, tapi aku takut itu cuma bakal bikin kaki kamu makin sakit karena terinjak aku.”
Satu detik, dua detik. Lalu, pecah tawa nyaring Yunah sampai mengagetkan Chanyoung sendiri.
“Maaf,” ucap gadis itu di sela-sela tawa. “Aku nggak nyangka kamu bakal sepengertian ini.” Ia masih tertawa lepas. Chanyoung cuma bisa memberikan cengiran malu.
Usai menghabiskan tawanya, Yunah berkata, “Kamu nggak perlu dansa kalau kamu memang nggak suka, Chanyoung. Aku bukannya sedih karena nggak punya partner dansa. Aku cuma ngerasa, apa ya… sendirian mungkin? Semua orang yang datang ke sini pasti punya partner, sementara aku nggak.”
“Kalau gitu, aku bisa temenin kamu biar kamu nggak sendirian lagi.” Chanyoung menjawab tegas. “Partnerku juga dari tadi nempelnya sama orang lain.”
Yunah mengulas senyum terlebar yang pernah ia tunjukkan malam ini. Timbul keinginan yang mendesak dalam hati Chanyoung untuk menjaga senyum itu sampai akhir hari ini.
“Kamu serius?” Suaranya berseru nyaring.
Chanyoung tidak bisa menyembunyikan bahagianya. Ia mengangguk. “Kamu lapar, nggak? Suka panekuk? Di dekat sini ada kedai kopi kesukaanku yang jual panekuk enak.”
Dari binar mata yang menyala dalam kelereng matanya, Chanyoung tahu betul jika ia tidak perlu jawaban verbal apapun. “Ayo ke sana!” seru Yunah.
“Oh, sebentar, aku pinjamin ini tadi buat kamu.” Ia pergi mengambil sesuatu yang disembunyikannya di balik pot bunga terdekat, lalu meletakkan sepasang sepatu kets putih di dekat kaki Yunah. “Ini punya temenku. Jangan lupa dibalikin lagi besok,” katanya mengingatkan.
“Kamu curi sepatu buat aku?” Yunah tergelak lepas. Intensitas tertawanya malam ini lebih banyak dari hari-hari biasa. Malam ini sungguh sangat aneh. “Kamu baik banget,” pujinya sambil memakai sepatu.
Chanyoung kemudian mengulurkan sebelah tangan kirinya pada Yunah yang cuma ditatap oleh sang gadis.
“Kenapa diam?” Chanyoung menggoyangkan tangannya di udara. “Ayo kabur, sebelum kita ketahuan curi sepatu orang.”
Seberkas senyum terpatri di wajah Yunah. Diraih sepasang stiletto-nya, lalu menyambut uluran tangan Chanyoung dengan erat di sebelah tangan yang lain. Tungkai kaki mereka dibawa berlari sejajar meninggalkan orang-orang di dalam gedung yang masih terlena akan ingar-bingar acara. Tak peduli sama sekali bagaimana reaksi teman-teman mereka nanti ketika mengetahui bahwa keduanya hilang.
Namun, paling tidak, malam ini harapan keduanya terkabul. Chanyoung berhasil meninggalkan acara pesta dansa sekolah yang tidak pernah ia sukai dan Yunah tidak lagi sendirian.
