Actions

Work Header

Wrongly Yours

Summary:

Ini bukan sebuah kisah cinta romantis.

Ini hanya sebuah rencana bodoh dan konyol yang dilakukan oleh seorang pengecut yang tak bisa balik menghajar.

Semuanya bermula dari sebuah kebohongan dan harapan agar para bajingan itu berhenti mengganggunya. Park Gyujin berlakon, dengan sengaja menatap terlalu lama, putus asa, dan mengungkapkan perasaan palsunya kepada Kang Seongjun. Ia hanya ingin Seongjun merasa jijik dan menjauh darinya, tak lebih dari itu. Namun, beberapa kebohongan dapat berbalik menyerang si pembohong.
Gyujin hanya berharap satu hal. Semoga kebohongan ini tak akan pernah berubah menjadi kebenaran.

.

Cerita ini tidak dimaksudkan untuk meromantisasi perundungan (bullying) dan pelecehan. Reader disrection is advised. Thank you!

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: First Part

Chapter Text

“Oi, Fuck-gyu, buang ini.” Sebuah kotak ramyeon yang sudah habis dilemparkan ke arah seorang pemuda yang kini berdiri di hadapan sekelompok pemuda seusianya. Satu kotak itu kemudian diikuti oleh beberapa bungkus makanan lainnya. Meskipun sampah-sampah itu dilemparkan padanya sampa-sampai celananya kotor terkena kuah ramyeon, pemuda itu tak mengatakan apa-apa. Ia hanya membungkuk, kemudian mulai memungutnya.

Kepasrahan sang pemuda membuat salah seorang dari kelompok itu mendengus. Dialah yang paling pertama kali melemparkan sampahnya pada pemuda itu. Berdiri, ia mendekati si pemuda dan menyentuh rambutnya. Sentuhan itu membuat si pemuda berhenti untuk sementara, tetapi ia tetap membungkukkan badannya.

“Jilat itu sampai bersih, anjing kecil. Jangan sampai ada yang tersisa.” Kata-katanya mengundang tawa dari kelompoknya.

Dengan tawa puas, mereka akhirnya beranjak, meninggalkan si pemuda yang masih sibuk memungut sampah.

Park Gyujin, nama yang tertera di name tag-nya. Namun, ia lebih sering mendengar kata “Fuck-gyu” dialamatkan padanya. Tidak semua orang memanggilnya seperti itu, hanya sekelompok kecil pemuda yang berada di sekolah yang sama dengannya. Hanya Kang Seongjun dan anggota kelompoknya yang brengsek itu.

Gyujin menghela napas, menenteng kantong berisi sampah itu dan menyeretnya ke bak sampah. Bahkan ia harus menjadi petugas kebersihan pribadi mereka? Hah... Gyujin benar-benar sudah tak bisa lagi melarikan diri sebagai mangsa mereka.

Selesai melemparkan sampah itu ke dalam tempat sampah, Gyujin menoleh ke arah di mana Seongjun dan teman-temannya tadi pergi. Ia sudah tak bisa melihat mereka lagi, dan karena itulah ia berani mengangkat kepalanya sekarang.

Tak lagi menemukan selera makannya, Gyujin menyerah untuk makan siang. Ia memilih untuk duduk di tempat di mana Seongjun dan teman-temannya tadi duduk, di antara kursi-kursi rusak yang dibiarkan bertumpuk di belakang sekolah.

Gyujin hanya diam, tak mengatakan apa-apa, bahkan tak ada satu pun makian yang ia ucapkan. Bukannya Gyujin tak mau, tapi ia sudah terlalu sering melakukannya dan sama sekali tak menemukan keuntungan dari hal itu. Tak peduli seberapa keras Gyujin berteriak, memohon, dan mencoba untuk kabur, di lehernya masih terpasang rantai yang tak akan pernah dilepaskan oleh Seongjun, kecuali Seongjun sendiri yang sudah bosan dengannya.

Hanya itu satu-satunya cara untuk lepas dari genggaman Seongjun. Gyujin tak bisa pergi begitu saja, sehingga harus Seongjun sendiri yang melepaskannya. Namun, hal itu tak akan terjadi dalam waktu dekat. Bahkan, tak akan pernah terjadi. Gyujin adalah mainan favorit Seongjun, dan tak mungkin ia akan dibiarkan berkeliaran bebas begitu saja. Sungguh, Gyujin sangat berharap untuk segera dibuang oleh Seongjun.

“Bagaimana aku bisa membuatnya membuangku?” tanya Gyujin pada langit, berharap jika seseorang di atas sana akan menjawabnya, merasa kasihan padanya. Apa pun. Apa pun akan Gyujin lakukan agar dapat membuat Seongjun menjadi enggan untuk dekat-dekat dengannya.

Saat itulah, pertanyaannya benar-benar dijawab. Atau setidaknya, Gyujin yakin jika inilah jawaban yang diberikan padanya.

Sama-samar, Gyujin mendengar obrolan beberapa orang, tak jauh dari tempatnya duduk. Awalnya, Gyujin pikir Seongjun dan teman-temannyalah yang masih ada di sana, tetapi saat Gyujin berjalan mendekat, ia mendapati tiga siswa yang sedang merokok, bukan bagian dari kelompok Seongjun. Gyujin pun tak punya niat untuk menguping pembicaraan mereka, ia murni hanya kebetulan mendengarnya saja.

“Anak sialan itu sungguh membuatku jijik padanya,” ucap salah seorang dari mereka. “Ini pertama kalinya ada laki-laki yang mengungkapkan perasaannya padaku. Aku merinding setiap kali mengingatnya. Dasar menjijikkan, bisa-bisanya dia suka padaku. Aku bersumpah, kalau dia muncul di hadapanku, maka aku akan langsung lari menjauh darinya.”

Kedua pemuda lainnya tertawa terbahak-bahak. Mereka sama sekali tak mencoba menghibur temannya, malah menyelamatinya karena berhasil membuat sesama laki-laki menyukainya. Keduanya bahkan tertawa makin keras saat dia menyuruh mereka untuk berhenti tertawa.

Kata-kata “menjijikkan”, “kotor”, dan “gila” terus diulang-ulang dalam obrolan itu. Gyujin yang hanya mengintip pun dapat melihat kekesalan pemuda itu dari raut wajahnya yang benar-benar jijik.

Gyujin tak tahu siapa mereka, dan ia juga tak tahu siapa laki-laki lainnya yang kini tengah mereka katakan “menjijikkan” itu. Sedikit saja, Gyujin merasa kasihan pada laki-laki yang tidak ia tahu siapa orangnya itu. Bisa-bisanya dia menyukai bajingan seperti ini. Namun, Gyujin juga tak bisa mencegah dirinya untuk bersemangat.

Gyujin buru-buru beranjak dari sana, tak mau ketahuan tengah menguping. Gyujin memilih untuk pergi menuju toilet terdekat dan duduk di atas bidet yang tertutup. Ia memikirkan kembali pembicaraan yang tak sengaja didengarnya itu.

“Apa aku bisa membuat Seongjun jijik padaku kalau aku berpura-pura menyukainya?” Memikirkan bagaimana kepribadian kasar Seongjun, Gyujin yakin sekali jika pemuda itu tak akan tahan saat tahu ada seorang laki-laki yang menyukainya. Seongjun akan jijik, mengata-ngatai Gyujin seorang homo, dan betapa Gyujin tak keberatan dengan hal itu. Selama hal itu dapat membuat Seongjun menjauh darinya, maka Gyujin akan dengan senang hati melakukannya.

.

.

Terjaga di kamarnya, Gyujin sebenarnya tak berencana untuk bergadang. Ia duduk di sudut ranjang sambil bersandar di dinding, sementara pandangannya lurus, menatap kosong ke arah meja belajarnya. Diam, begitu lama, hingga tiba-tiba Gyujin mengernyit dan merinding.

“Ugh, apa aku benar-benar akan melakukannya?” tanya Gyujin pada dirinya sendiri, tidak percaya. Ia bahkan berusaha keras untuk tidak muntah saat ini juga.

Gyujin mengacak rambutnya saking bingungnya ia sekarang. Idenya untuk berpura-pura menyukai Seongjun benar-benar terdengar luar biasa. Namun, bagaimana ia harus melakukannya? Perlukah Gyujin mengatakan “Aku menyukaimu, Seongjun!” dengan wajah tersipu malu? Tidak! Itu sangat memalukan! Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan?

Gyujin menghela napas panjang dan tubuhnya merosot hingga akhirnya berbaring. “Apa yang umumnya dilakukan saat menyukai seseorang?” Ah, sekarang barulah Gyujin sadar jika ia tak punya pengalaman dalam cinta.

Gyujin tak pernah diam-diam menyukai seseorang, apalagi pura-pura suka pada orang lain. Perlu ditekankan pula bahwa orang itu adalah Kang Seongjun. Membayangkan dirinya harus pura-pura menatap Seongjun dengan penuh cinta dan damba sudah membuat Gyujin sudah merasa tak tahan. Namun, ia harus tetap mencobanya. Gyujin harus bisa membuat Seongjun merasa jijik padanya, hingga untuk menatapnya pun Seongjun tak akan mau.

“Baiklah,” ucap Gyujin dengan tegas. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan tenang. Raut wajahnya serius dan pasti, begitu yakin bahwa ini adalah langkah awal untuk kebebasannya. “Kau bisa melakukan ini, Park Gyujin. Kang Seongjun, tunggu saja pembalasanku.”

.

.

Hari pertama untuk misi nekat Gyujin. Ia benar-benar gugup, bahkan jantungnya berdebar kencang saat baru sampai di gerbang sekolah. Benarkah ia akan melakukan hal konyol ini?

Gyujin celingak-celinguk, mencari keberadaan Seongjun dan para kacungnya. Ia mengepalkan tangannya yang berada di dalam kantong jas seragamnya. Ia mencoba untuk tetap tenang, bersiap melancarkan rencananya begitu menemukan Seongjun.

Begitu hampir sampai di kelasnya, Gyujin akhirnya menemukan Seongjun. Berdiri bersandar di jendela, Seongjun tengah tertawa bersama teman-temannya. Gyujin tak tahu apa yang mereka tertawakan, tetapi sepertinya seorang junior yang kini menundukkan kepalanya itu baru saja menjadi bahan olok-olok mereka.

Gyujin menatap Seongjun lama, berpikir apa langkah awal yang harus ia lakukan. Gyujin tak mungkin langsung berlari menghampiri Seongjun dan menyatakan cintanya, kan? Apa cara paling tak kentara namun akan sangat efektif untuk membuat Seongjun berpikir jika Gyujin menyukainya?

Terlalu lama diam, berpikir apa yang harus ia lakukan, Gyujin sampai tak sadar jika dirinya menatap Seongjun terlalu lama. Saat pandangan mereka bertemu, Gyujin terlonjak saking kagetnya ia. Gyujin buru-buru mengalihkan pandangan, berpura-pura tak melihat.

Namun, apa gunanya kalau Seongjun sudah menangkap basahnya? Kini Seongjun berhenti tertawa, mendengus, dan akhirnya berjalan ke arahnya.

Percuma saja kalau Gyujin lari sekarang. Meskipun pintu kelasnya hanya berjarak tiga langkah lagi, Gyujin tetap terpaku di tempatnya. Kakinya tak bisa bergerak, sehingga ia hanya diam dengan kepala yang tertunduk. Menunggu dengan jantung yang berdebar, sementara suara langkah kaki Seongjun semakin mendekatinya.

“Oh, ternyata kau sudah datang, ya?” Suara berat Seongjun menyapa indra pendengaran Gyujin. Kini Seongjun sudah berada tepat di depan Gyujin, berdiri terlalu dekat sampai membuat Gyujin otomatis mundur. Sayangnya, ia tak bisa pergi terlalu jauh karena Seongjun menahan pundaknya.

Tangan kanan Seongjun yang kini berada di pundaknya menekannya dengan sedikit terlalu keras. Oh, kalau saja bisa, Gyujin sudah mengangkat kakinya, menendang Seongjun tepat di selangkangannya. Betapa inginnya Gyujin melihat Seongjun merengek kesakitan hingga berlutut di lantai.

“Ini masih pagi, dan kau sudah memasang tatapan menyebalkan itu? Hah.... Kau benar-benar membuatku muak padamu.” Seongjun mendengus, tak melepaskan pandangannya dari Gyujin. Ia sudah melepaskan pegangannya pada pundak Gyujin dan kini menekukkan sedikit lututnya untuk menyejajarkan wajahnya dengan Gyujin.

Kali ini, Gyujin tak bisa menundukkan wajahnya lebih dalam dan terpaksa bertemu pandangan dengan Seongjun. Sungguh tatapan sialan yang ingin sekali Gyujin ludahi. Ugh... Gyujin jadi bimbang lagi. Apakah ia benar-benar harus berpura-pura menyukai bajingan ini? Haruskah Gyujin memikirkan rencana lainnya?

Ah, tapi, tunggu dulu. Seongjun baru saja menangkap basah dirinya yang sedang menatap, kan? Bukankah salah satu hal yang paling biasa dilakukan oleh orang yang diam-diam menyimpan perasaan adalah mencuri pandang? Gyujin tak pernah melakukannya pada orang lain, tapi ia tahu sedikit soal hal ini. Haruskah Gyujin menggunakan kesempatan ini untuk membuat Seongjun berpikir jika ia menyukainya?

Namun, sebelum Gyujin sempat bertindak lebih jauh, bel tanda masuk berdering nyaring. Murid-murid yang ada di koridor langsung masuk ke kelas. Tentu saja Gyujin tak bisa langsung pergi karena Seongjun masih berdiri di depannya. Gyujin tak akan bisa pergi kecuali ia mendorong Seongjun, dan hal itu tak akan terjadi.

“Hei, hei, kenapa kalian masih di luar? Cepat masuk ke kelas!” Untungnya, seorang guru yang ingin masuk ke kelas sebelah langsung menegur mereka. Seongjun pun tak punya pilihan lain selain menjauh dari Gyujin. Namun begitu, tatapan tajamnya masih tak lepas dari Gyujin yang kembali menundukkan pandangannya.

Secepat kilat, Gyujin pergi meninggalkan Seongjun dan masuk ke kelas. Ia menghela napas lega begitu sampai di kursinya.

Astaga, jantungnya berdebar kencang sekali. Perlu diketahui bahwa jantung Gyujin berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena gugup parah. Ia gugup karena bingung harus mengatakan apa agar Seongjun bisa salah paham. Percayalah, Gyujin hampir saja bilang “Aku hanya suka melirikmu dari jauh karena aku menyukaimu.”

Meskipun Gyujin sudah siap untuk dimaki-maki dan dicaci sebagai manusia menjijikkan oleh Seongjun dan gengnya, tapi sejujurnya Gyujin sendiri masih belum siap untuk mengatakan kata “suka” kepada Seongjun. Seolah, ia bisa saja muntah mendengar pengakuan palsu itu.

Hah.... Mungkin, lain waktu Gyujin akan mendapatkan kesempatan yang lebih bagus. Gyujin juga akan memastikan kalau ia akan berakting sepenuh hati. Akan ia pastikan Seongjun jijik padanya.

.

.

Saat jam istirahat, seperti biasa, Gyujin akan makan sendirian. Namun, kalau biasanya ia hanya peduli pada makanannya sendiri, kali ini Gyujin tak bisa fokus makan dan sibuk mencari keberadaan Seongjun. Ke mana anak badung itu pergi? Padahal, hampir setiap hari Seongjun tak akan membiarkan Gyujin sendiri.

Setelah beberapa saat melirik ke kanan dan kiri, Gyujin akhirnya menemukan Seongjun. Ia melihatnya duduk beberapa meja di depannya bersama dengan teman-temannya yang lain.

Bagaimana caranya agar Seongjun bisa menyadari keberadaan Gyujin, sehingga Gyujin pun bisa secara tidak langsung mengungkapkan perasaannya? Haruskah Gyujin berteriak padanya? Ah, tidak, yang ada Gyujin nanti malah menarik perhatian seluruh orang di kantin. Si samsak langganan yang tiba-tiba menyerahkan dirinya pada Kang Seongjun akan terlalu menarik perhatian.

Pada akhirnya, Gyujin hanya bisa terus menatap Seongjun seperti yang ia lakukan pagi tadi. Suara hatinya berisik dari tadi. Ayo, lihat ke sini! Lihat aku! Seongjun, aku sudah menatapmu dari tadi. Lihat aku! Ah.... jangan sampai jiwa seseorang yang benar-benar sedang kasmaran merasuki Gyujin.

Tak perlu menunggu waktu lama, Seongjun akhirnya menyadari tatapan yang diberikan oleh Gyujin. Saat pandangan mata mereka bertemu, sejujurnya Gyujin begitu terkejut sampai hampir refleks mengalihkan pandangannya. Namun, Gyujin menahan, setidaknya hingga tiga detik, agar Seongjun benar-benar tahu bahwa Gyujin sudah memperhatikannya sedari tadi.

Begitu Gyujin memalingkan pandangannya, ia langsung bisa merasakan kehadiran Seongjun yang mendekatinya. Gyujin menggenggam sumpitnya dengan erat dan tak mengangkat kepalanya bahkan setelah Seongjun dan gengnya mendekat ke mejanya.

“Fuck-gyu,” panggil Seongjun yang sudah berada di samping Gyujin. Ia duduk di atas meja, tak melepaskan lirikannya pada Gyujin yang masih menundukkan kepalanya.

Er... apa rencananya tadi? Gyujin sampai lupa bahwa seharusnya ia diam-diam menaruh rasa suka pada Seongjun.

Seongjun membungkukkan badannya, menatap lekat-lekat pada Gyujin dengan jarak yang terlalu dekat. Kenapa Seongjun suka sekali bicara tepat di depan wajahnya? Gyujin bahkan yakin kalau Seongjun hanya melakukan ini padanya. Seongjun tak pernah menyudutkan orang-orang yang dirundungnya sedekat ini selain Gyujin. Apakah Seongjun sebegitunya ingin menunjukkan dominasinya terhadap Gyujin?

Hah.... Sungguh, kapan Gyujin bisa melepaskan label sebagai mangsa abadi Seongjun?

“Kau melirikku sedari tadi, kan?” tanya Seongjun dengan suara rendahnya. Tatapannya yang setajam mata ular itu tak sedetik pun berpaling dari Gyujin.

Sementara Gyujin masih menundukkan kepalanya. Sekali lagi, perlu diketahui bahwa Gyujin bukannya takut. Ia sedang berpikir keras, mencari tahu apa yang harus dilakukannya agar Seongjun tak berpikir jika Gyujin ingin cari masalah dengannya. Jangan sesuatu yang gamblang. Gyujin tak ingin pengakuan cinta palsunya didengar oleh semua orang di kantin.

Kemudian, karena Gyujin yang tak kunjung menaikkan pandangannya, Seongjun memaksa Gyujin untuk mendongak, menarik dagu Gyujin dengan jemarinya. Hal ini sedikit membuat Gyujin terkejut karena ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Mau tidak mau, Gyujin harus bertemu pandang dengan kedua manik gelap Seongjun.

Seongjun sedikit menyipitkan matanya, seolah sedang memperhatikan setiap detail dari wajah Gyujin. Pun, Gyujin tak bercanda saat ia mengatakan jika menurutnya, yang menjadi objek pengamatan Seongjun adalah tahi lalat di wajahnya.

Jarak mereka terlalu dekat, sampai-sampai Gyujin bisa merasakan napas hangat Seongjun menerpa wajahnya. Sungguh, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Seongjun? Kalau saja Gyujin tak tahu malu dan sedikit saja terlalu percaya diri, maka ia akan berpikir kalau Seongjun menyukainya. Namun sungguh, cukup Gyujin saja yang pura-pura suka padanya. Gyujin tak bisa membayangkan penderitaan apa yang akan diterimanya kalau sampai Seongjun benar-benar menyukainya.

“Fuck-gyu, kau sebegitunya ingin membuatku kesal, ya? Jujur saja, kau pasti suka setiap kali aku mengganggumu, kan?” Seongjun mendengus di ujung kalimatnya, dilengkapi dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan di mata Gyujin.

Bagus! Gyujin akan menjadikan gertakan ini sebagai percikan kecil yang ia harap dapat membuat Seongjun merasa terganggu.

Menanggapi perkataan Seongjun barusan, Gyujin mengalihkan pandangannya dan mengangguk pelan. Meskipun sulit untuk menggerekkan kepalanya karena Seongjun masih menahan dagunya, tetapi Gyujin berhasil. Sungguh, Gyujin kagum pada dirinya sendiri. Anggukan kecil itu benar-benar terlihat ragu-ragu dan sangat kaku. Benar-benar persis seperti orang yang tak sengaja mengikuti kata hatinya, padahal yang diinginkannya adalah menyembunyikan perasaannya.

Namun, kenapa Seongjun tak bereaksi? Gyujin kembali membawa sorot matanya menatap Seongjun. Pria itu masih menatapnya, bahkan tak memundurkan wajahnya satu inci pun. Benar-benar tak ada reaksi besar yang didapatkan oleh Gyujin. Yang sedikit berubah hanyalah tatapan Seongjun yang tak lagi setajam sebelumnya. Oh, betapa Gyujin berharap jika ia tak salah lihat. Seongjun tak lagi menatapnya dengan tajam, tetapi ada sedikit keterkejutan di raut wajahnya.

Benarkah Seongjun terkejut? Apakah Seongjun menyadari arti dari anggukan Gyujin sebelumnya? Gyujin ingin mengatakan bahwa ia memang sangat ingin mendapatkan perhatian Seongjun, dan apakah Seongjun mengerti? Gyujin harap, Seongjun tak salah mengira jika ia ingin menantangnya.

Seongjun mendengus pelan, dan akhirnya melepaskan dagu Gyujin. Ia juga memundurkan tubuhnya, tak lagi membungkuk ke arah Gyujin. Namun, tetap saja tatapannya tak lepas dari Gyujin.

Sungguh, apa yang sedang ada di kepala Seongjun sekarang? Gyujin ingin tahu! Ia sangat penasaran!

“Berandalan ini tak henti-hentinya menatap.” Suara Sangtae yang berada di belakang Seongjun sedikit membuat Gyujin terkejut. Karena terlalu fokus pada Seongjun, Gyujin sampai lupa dengan teman-teman Seongjun yang lainnya.

Terdengar pula kekehan dari belakangnya. Yuseok mendaratkan tangannya di pundak Gyujin dengan sedikit terlalu keras. Yuseok lalu beralih pada Seongjun yang masih belum memutuskan kontak matanya dengan Gyujin. “Seongjun, apa yang harus kita lakukan pada bocah ini? Dia sepertinya serius ingin menantang kita.”

Oh, sepertinya Gyujin malah membuat yang lainnya berpikir kalau ia menatap karena ingin menantang. Ah, apakah Seongjun juga berpikiran sama? Kalau iya, maka Gyujin harus memikirkan rencana lainnya untuk membuat Seongjun menyadari perasaannya.

“Katakan,” ucap Seongjun tiba-tiba. “Katakan, ‘Maafkan aku, Seongjun. Ampuni aku,’ begitu.”

Hah? Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba malah menyuruhku minta maaf padamu? Gyujin mengernyit bingung. Namun, tetap saja ia mengangguk dan akhirnya berucap pelan. “Maafkan aku, Seongjun. Ampuni aku.”

Begitu Gyujin menyelesaikan kalimatnya, ia langsung memanen tawa dari Seongjun dan kelompoknya. Ah, ternyata itu yang mereka mau. Mereka hanya ingin mendengar mangsa kecil mereka ini tunduk dan patuh pada mereka.

Benar-benar sialan. Gyujin hanya bisa diam-diam mengumpat, memaki, dan mengutuk mereka semua dalam hati. Gyujin tahu, ia masih harus bersiap untuk penderitaan berikutnya. Namun, Gyujin pastikan jika ia tak akan menyerah. Ia akan mencari kesempatan lagi untuk mengungkapkan perasaan palsunya kepada Seongjun.

.

.

Hari kedua untuk rencana pengakuan cinta palsunya, dan Gyujin belum mendapatkan ide apa pun. Tadi pagi, ia hanya bisa diam, menundukkan kepalanya dan membiarkan Seongjun mempermalukannya di hadapan gengnya tanpa bisa berkutik. Gyujin tak bisa memikirkan sesuatu yang bisa membuat Seongjun salah paham padanya. Kalau begini terus, Gyujin tak akan bisa membuat Seongjun menjauhinya.

Gyujin berpikir keras sambil terus melangkahkan kakinya di koridor. Alisnya sampai menekuk saking seriusnya ia berpikir sekarang.

“Oh, Gyujin-ah.” Suara seorang guru wanita menghentikan Gyujin. Saking fokusnya ia berpikir, Gyujin sampai tak sadar jika ia berjalan melewati ruang guru.

Gyujin berhenti dan menghadap guru Ilmu Sosial yang barusan memanggilnya. Gyujin bertanya apa yang dibutuhkan oleh wanita itu.

“Bisa kau berikan ini ke ketua kelasmu? Hanya kelas kalian saja yang belum mengambilnya karena wali kelas kalian tidak datang hari ini.” Guru itu memberikan beberapa lembar kertas HVS kepada Gyujin, di atasnya tertulis jadwal pembelajaran baru dan beberapa pengumuman di lembar lainnya.

Gyujin menerimanya, membungkuk kecil setelah sang guru berterima kasih padanya. Kemudian, Gyujin lanjut berjalan menuju kelasnya. Sungguh, ini hanyalah pekerjaan yang mudah. Halangannya hanya satu, yaitu Seongjun yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

“Yo, Fuck-gyu!” Seongjun memanggilnya dari belakang, dan Gyujin tak bisa menahan helaan napasnya.

Kali ini, Gyujin tak langsung berhenti seperti yang biasa dilakukannya. Ia pura-pura tidak mendengar dan tetap berjalan lurus. Namun, Seongjun sudah menyusulnya dengan kaki-kaki panjangnya.

Oh, ingin sekali rasanya Gyujin menyikut Seongjun yang kini merangkul pundaknya seolah mereka adalah teman lama. Gyujin juga ingin sekali menendang satu persatu wajah dari para kacung Seongjun yang kini terkekeh, menertawakannya.

“Wah, Fuck-gyu, kau pasti sudah berani sekarang. Kau bahkan pura-pura tidak mendengarkanku?” Seongjun mendengus dan menyeringai. Tatapan tajamnya kembali menatap Gyujin, seolah sedang mengulitinya.

Hah, haruskah Gyujin memberikan jawaban yang jujur? Haruskah Gyujin mengatakan kalau ia tak hanya berpura-pura tak mendengarkan Seongjun, tapi juga berharap bisa melemparkan Seongjun ke luar jendela dari lantai dua ini? Oh, ya, hanya jika Gyujin bisa mengatakannya. Untuk sekarang, kalau Gyujin berani mengatakan hal itu, maka dirinyalah yang akan dilemparkan oleh Seongjun. Lebih baik Gyujin fokus memikirkan cara membuat Seongjun mengira kalau ia menyukainya.

“Ah.... Apa ini, hm?” Seongjun yang awalnya hanya menaruh perhatiannya pada Gyujin menurunkan pandangannya. Ia menatap kertas-kertas yang kini digenggam Gyujin dengan kedua tangannya. Sebuah seringai kembali menghiasi wajah tampannya.

Gyujin seharusnya tak memegang kertas itu dengan terlalu erat, sehingga Seongjun tahu jika kertas itu pastilah sangat penting. Tangan Seongjun terangkat untuk mengambilnya, dan Gyujin dengan secepat kilat mengamankannya. Gyujin tak tahu persis apa yang akan dilakukan oleh Seongjun dengan mengambil kertas-kertas ini, yang pasti, hal itu akan membuat Gyujin terpaksa kembali ke ruang guru dan meminta maaf pada sang guru. Dan sungguh, Gyujin tak ingin hal itu terwujud.

Seongjun mendecih kesal dan langsung melepaskan rangkulannya pada Gyujin. “Aish... sialan,” desis Seongjun sambil menatap tajam ke arah Gyujin. Seongjun kemudian memperhatikan jemarinya.

Gyujin, yang masih menundukkan kepalanya, diam-diam melirik ke arah Seongjun. Ia punya firasat jika dirinya baru saja membuat kesalahan besar dan pasti akan membuat Seongjun mengamuk.

“Ah... kau ini benar-benar tahu bagaimana cara membuatku marah, ya?” Suara dingin Seongjun begitu mengintimidasi. Seongjun memiringkan sedikit kepalanya, memandang rendah ke arah Gyujin yang masih menundukkan kepalanya.

“Kenapa? Kenapa?” tanya Yuseok yang penasaran dan ikut melihat jemari Seongjun.

Ternyata, Gyujin tak sengaja menggores jari telunjuk Seongjun dengan kertas di tangannya. Ah, bagaimana mungkin Gyujin lupa kalau kertas putih ini sama tajamnya dengan pisau. Pastilah Seongjun akan menghajarnya sekarang.

“Wah... Fuck-gyu benar-benar mendeklarasikan perang denganmu.” Yuseok mendengus, menyeringai, dan menepuk pundak Seongjun untuk semakin membakar Seongjun.

Gyujin tanpa sadar menahan napasnya saat Seongjun mengambil satu langkah mendekatinya. Seongjun berdiri terlalu dekat dengannya, sampai-sampai pundak Gyujin bersentuhan dengan dada Seongjun. Apakah ia benar-benar akan dihajar di sini? Di tengah koridor ini?

Sungguh, kenapa Seongjun harus punya tatapan ular ini? Gyujin selalu merasa jika tubuhnya dililit dan dicekik. Tak ada kesempatan baginya untuk bernapas, dan hanya bisa pasrah saat bisa ular itu mulai menjalar di tubuhnya.

“Oi,” panggil Seongjun dengan suara rendahnya. Entah kenapa, Gyujin hanya bisa mendengar suara Seongjun yang menggema. Kebisingan di ujung koridor sama sekali tak terdengar olehnya.

Seongjun menendang pelan kaki Gyujin yang masih terpaku di tempat. Jelas bahwa Seongjun menyuruh Gyujin untuk menoleh ke arahnya. Jujur, Gyujin enggan untuk melakukannya, tetapi ia tetap memutar sedikit badannya.

Gyujin tetap menundukkan kepalanya, tetapi pandangannya naik untuk bertemu pandang dengan Seongjun. Sekarang, Gyujin bisa melihat dengan jelas raut wajah dingin Seongjun. Hah.... Jika saja Seongjun bukanlah manusia sialan dan paling brengsek di dunia ini, Gyujin mungkin akan mengakui bahwa Seongjun itu tampan. Bahkan, di tahun pertama mereka, ketika Gyujin pertama kali bertemu Seongjun, Gyujin yakin jika pemuda ini akan menjadi bintang sekolah. Ya... walaupun ini sekolah khusus laki-laki, tapi pasti akan banyak yang setuju kalau Seongjun pantas menjadi visual kebanggaan sekolah. Sayangnya, pemuda tampan itu hanyalah seorang berandal yang bertingkah seenak jidat.

“Fuck-gyu, lihat apa yang kau lakukan padaku.” Seongjun bicara sambil menunjukkan luka kecil di ujung jari telunjuknya pada Gyujin.

Benar-benar menyebalkan. Memangnya, Seongjun sendiri tak tahu apa yang telah dilakukannya pada Gyujin? Luka kecil itu tak sebanding dengan apa yang diterimanya.

Gyujin tahu, Seongjun mengharapkan kata maaf darinya. Gyujin pun sudah bersiap untuk membuka mulutnya dan meminta maaf. Namun, Gyujin teringat akan sesuatu. Ia teringat pada plester yang kebetulan ia bawa hari ini. Oh! Ini dia kesempatannya!

Gyujin buru-buru merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah plester. Tangannya sempat terhenti saat ingin memberikannya pada Seongjun. Ia menyadari tatapan bingung para anak badung di sekitarnya. Lalu, apa yang harus ia katakan?

Tangan Gyujin sedikit gemetar saat menyodorkannya pada Seongjun. Ternyata, untuk menyukseskan misi membuat Seongjun jijik padanya, Gyujin harus menanggung malu sebesar ini.

Seongjun, dengan raut bingung sekaligus terkejut, bahkan tak bisa langsung membuka mulutnya dan mengeluarkan umpatan seperti biasanya. Ada sedikit rasa puas menghampiri Gyujin karena berhasil membuat muka bodoh itu muncul. Apakah ini akan menjadi kesuksesan pertamanya?

“Seongjun-ah, dia memberimu plester, tuh!” Suara Yuseok menggelegar, kemudian diikuti oleh tawa dari yang lainnya.

“Wah, Fuck-gyu ternyata seperhatian itu padamu. Seongjun, sepertinya dia mencoba untuk membuatmu tidak marah lagi.” Sangtae ikut tertawa, bahkan menyikut Seongjun yang masih diam menatap lekat ke arah Gyujin.

Kenapa mereka harus tertawa kencang sekali? Gyujin benar-benar merasa seperti seseorang yang mencoba menarik perhatian orang yang disukainya, tapi orang itu terang-terangan menolaknya di hadapan teman-temannya. Namun, itu artinya Gyujin berhasil memberikan clue bahwasanya ia punya perasaan pada Seongjun, kan?

“Seongjun...” panggil Gyujin pelan. Tangannya masih mengambang di udara, memegang plester yang tak kunjung diambil oleh Seongjun. “Maafkan aku.... La-lain kali berhati-hatilah....” Pada akhirnya Gyujin tetap meminta maaf. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena ia takut, melainkan karena malu. Kalau saja bukan karena keberhasilannya membuat Seongjun kebingungan, maka Gyujin sudah kabur dari tadi.

Namun ini adalah sebuah kesuksesan besar. Seongjun bahkan masih terdiam, menatap plester itu dengan bingung. Meskipun Seongjun mencoba mempertahankan raut wajah datarnya, tetap saja Gyujin masih bisa melihat kebingungan di wajah itu. Oh, Gyujin harap Seongjun segera menyadari perasaan palsunya ini agar Gyujin bisa menikmati kebebasannya.

Hanya saja, saat Seongjun benar-benar mengambil plester dari tangannya, gantian Gyujin yang terkejut. Gyujin tak menduga jika Seongjun benar-benar akan mengambilnya. Namun, itu wajar saja, kan? Mengingat Seongjun yang tak akan mudah melepaskannya, pastilah Seongjun akan bermain-main dengannya sedikit lagi.

Seongjun kembali menyungging seringai menyebalkan itu di wajahnya. Gyujin hampir saja kelepasan menghela napas jengkel saat bertemu pandang dengan Seongjun.

“Fuck-gyu.” Kenapa Seongjun malah kembali bicara dengan suara rendah itu? Bahkan Seongjun kembali mendekatkan wajahnya, membuat Gyujin bisa merasakan napas hangatnya menerpa wajahnya.

Kalau saja bukan karena Kim Yunsu yang berdiri tanpa niat beranjak di belakangnya, maka Gyujin pasti akan langsung mundur. Gyujin tak tahan harus berdiri sedekat ini dengan Seongjun. Ia selalu tak suka.

Seongjun tak melanjutkan perkataannya dan malah menundukkan pandangannya. Gyujin mengikuti ke mana Seongjun menoleh, dan ternyata Seongjun menengok ke jarinya. Gyujin sungguh tak menduga jika Seongjun benar-benar akan memakai plester pemberiannya itu. Seongjun membukanya, kemudian menempelkannya di jari telunjuknya yang terluka tadi. Setelah plester itu terpasang sempurna, Seongjun kembali menaikkan pandangannya dan menatap Gyujin.

Oh, sungguh, bagaimana caranya Seongjun bisa membuat seringai menyebalkan itu? Kalau saja Gyujin sedikit lebih berani dari sekarang, maka ia sudah mendaratkan bogem mentah di wajah Seongjun. Kapan senyum sialan itu akan menghilang dari wajahnya?

“Aku malas kalau harus menghajarmu di sini. Kalau sampai ketahuan guru, bisa gawat, kan?” Seongjun akhirnya memundurkan tubuhnya. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan berdiri sambil memandang rendah ke arah Gyujin. “Fuck-gyu, jangan kabur sepulang sekolah. Temui kami di belakang sekolah.”

Ah... ternyata Gyujin masih harus menjadi mainan mereka, ya? Baiklah, Gyujin akan menerimanya. Namun, ia pastikan untuk segera membuat Seongjun menjauh darinya.

Gyujin menganggukkan kepalanya, begitu pelan. Ia juga menjatuhkan pandangannya, tak lagi bertemu pandang dengan Seongjun karena Gyujin tahu jika itulah yang Seongjun inginkan. Percayalah, sesungguhnya Gyujin bisa saja tetap mengangkat dagunya dan menatap Seongjun tanpa gentar. Namun, jika Gyujin benar-benar melakukannya, maka ia harus membawa pulang memar-memar di tubuhnya lagi hari ini.

Seongjun mendengus puas, kemudian mulai melangkahkan kakinya menjauh. Semua teman-temannya juga mulai mengikutinya. Tentu saja mereka tak lupa untuk meninggalkan beberapa lagi kata-kata umpatan kepada Gyujin. Bahkan, Yuseok dengan sengaja menyenggolnya begitu keras sampai Gyujin hampir saja terjatuh.

Gyujin hanya bisa menarik napas dalam begitu para berandal itu menjauh. Ia menatap lama ke arah di mana mereka menghilang.

Menghela napas seperti seorang pengecut, Gyujin pun kembali berjalan. Ia masih harus bertahan sedikit lagi. Hanya sedikit lagi.

.

.

Kini, Gyujin kembali berdiri di depan Seongjun. Tentu saja ia harus menuruti perintah Seongjun yang menyuruhnya untuk datang ke belakang begitu sekolah berakhir. Sayangnya, Gyujin tak bisa kabur begitu saja karena tasnya kini berada di tangan Sangtae. Ya, tasnya menjadi sandera agar Gyujin tetap di sini. Namun, tujuan utama mereka mengambil tasnya hanyalah untuk mempermainkannya. Sangtae bahkan dengan seenaknya melempar tas tersebut ke tanah.

Gyujin pun tak bisa mengeluh karena itu bukanlah haknya. Bahkan, ia tak bisa pergi memungut tasnya karena di hadapannya kini berdiri Seongjun yang tanpa sopan santun menangkup wajahnya. Atau, mencengkeram wajahnya? Pipi Gyujin sampai sakit saking kuatnya Seongjun menekan wajahnya.

Sungguh, Gyujin tak mengerti kenapa Seongjun selalu memaksa untuk menatapnya. Apakah Seongjun tahu kalau Gyujin sangat muak melihat wajahnya? Seongjun dengan sengaja membuat Gyujin menatapnya agar membuat Gyujin semakin muak, kan? Oh, menyebalkan sekali.

“Fuck-gyu,” panggil Seongjun yang akhirnya melepaskan genggamannya pada wajah Gyujin. Namun, Seongjun tak lupa untuk memberikan tamparan-tamparan kecil di pipinya. Meskipun hanya tamparan ringan, tetap saja rasanya perih.

Gyujin akhirnya dapat menurunkan kembali pandangannya. Ia benar-benar tak tahan harus menatap wajah tampan Seongjun terlalu lama. Bukan karena ia suka, tapi karena ia membencinya. Jangan salah paham. Meskipun Gyujin mengakui kalau Seongjun itu tampan, tapi bukan berarti Gyujin menyukainya. Ia tetap bisa membenci seseorang walaupun menganggapnya tampan, kan?

“Oi, kalian ingin bermain dengan Fuck-gyu? Tanganku masih sakit, nih.” Seongjun menunjukkan jari telunjuknya yang terbungkus plester. Ia mendengus, tersenyum miring karena mungkin niatnya untuk meledek Gyujin.

Kalau boleh jujur, meskipun Gyujin sangat senang karena rencananya untuk menunjukkan perasaan palsunya pada Seongjun mulai berhasil, tetap saja ia malu akan semua ini. Ia sempat menyesali keputusannya memberikan plester itu pada Seongjun. Sepertinya, Gyujin benar-benar harus menyiapkan mentalnya, agar nanti saat ia benar-benar mengungkapkan perasaannya secara gamblang, Gyujin tak akan lebih dahulu pingsan karena malu.

“Biar aku saja!” Yuseok mengajukan dirinya dengan sangat bersemangat. Ia langsung melompat ke arah Gyujin, memberikannya tendangan yang membuat Gyujin terhempas ke tanah. Ah.... Gyujin harus berbohong lagi pada ibunya, mengatakan kalau celananya kotor hanya karena terpeleset.

Gyujin meringis sambil memegangi sisi perutnya yang barusan ditendang oleh Yuseok. Sayang sekali karena Gyujin tak bisa membalasnya. Gyujin hanya bisa mendongakkan sedikit kepalanya untuk menatap Yuseok, dan sialnya Gyujin tak bisa menahan tatapan muaknya. Ia menatap Yuseok tanpa takut meskipun hanya dari lirikan kecil.

Lirikan itu berhasil menyinggung Yuseok. Tentu saja Yuseok menganggap kalau Gyujin bersikap kurang ajar sekarang. “Wah, kau benar-benar tidak tahu malu sekali akhir-akhir ini.” Yuseok kembali mendekat dan menendang ringan kaki Gyujin. Tendangan itu tidak menyakitkan, tetapi jelas merendahkan.

“Mungkin dia tidak takut padamu,” sahut Sangtae yang diikuti oleh tawa.

Yuseok mengumpat dan mengarahkan jari tengahnya pada Sangtae. Pun, meskipun Sangtae yang bicara, tapi Gyujin tetaplah yang harus dihajar di sini. Yuseok berjalan ke belakang Gyujin dan menaruh kakinya di punggungnya. Tanpa perlu bertanya, Gyujin yakin jika jejak sepatu Yuseok sudah tercetak di sana.

“Fuck-gyu, Bagaimana rasanya diinjak? Apa kau suka?” Yuseok menekan punggung Gyujin, membuatnya harus membungkukkan badannya. Yuseok benar-benar menginjaknya seperti ingin membunuh seekor kecoak yang tak melakukan apa-apa, tapi semua orang setuju menganggapnya menjijikkan.

“Hei, hei, aku juga mau melakukannya! Kau jangan senang-senang sendirian saja, dong!” Sangtae berpindah dari tempatnya berdiri.

Hah.... Gyujin benar-benar ingin meludahi mereka semua. Kapan ia akan mendapatkan kesempatan itu?

Sangtae berdiri di samping Yuseok yang sudah menarik kakinya dari punggung Gyujin. Tentu saja Gyujin hanya bisa mendapatkan satu detik untuk menegakkan punggungnya karena Sangtae sudah menaruh kakinya di punggungnya. Sama saja seperti Yuseok, Sangtae juga menginjak seolah ingin meremasnya dengan kakinya.

Gyujin bahkan tak memaksa dirinya memohon kepada mereka berdua untuk berhenti. Apakah ia sudah terbiasa? Atau, Gyujin hanya sudah lelah dengan semua ini? Tubuhnya yang kesakitan pun tak mengeluh lagi.

Meskipun kaki Sangtae memaksanya untuk membungkuk, tetapi Gyujin tetap menaikkan pandangannya. Ia sesekali melirik ke arah Seongjun yang kini tengah menghisap rokoknya. Kedua netra gelap Seongjun juga balas menatapnya, dan Gyujin tetap saja tak mengalihkan pandangan. Gyujin melakukannya dengan sengaja agar Seongjun menganggapnya kurang ajar. Gyujin benar-benar ingin Seongjun mendekat ke arahnya sekarang.

Lihatlah, bukankah seharusnya Gyujin mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik? Gyujin yakin sekali jika caranya mencuri-curi pandang ke arah Seongjun sekarang benar-benar seperti orang yang putus asa dalam cinta. Gyujin hanya perlu menunggu hingga Seongjun tertipu oleh sorot menyedihkannya.

Sementara Sangtae masih sibuk menendangi punggungnya dan ia ditertawakan oleh semua anak badung ini, Gyujin akhirnya berhasil membuat Seongjun terpancing. Hampir saja Gyujin menyungging senyum saat Seongjun akhirnya berjalan kembali ke arahnya.

“Oi, menyingkir,” perintah Seongjun dengan suara dinginnya pada Sangtae dan Yuseok. Ia kemudian berjongkok di hadapan Gyujin yang masih terduduk di tanah. Seongjun menghirup rokoknya dan meniupnya ke arah wajah Gyujin.

Ugh, ini benar-benar menyebalkan. Gyujin sampai tak bisa menahan diri dan memalingkan wajahnya. Suatu saat, Gyujin pastikan ia akan melempari Seongjun dengan ratusan batang rokok yang menyala.

Seongjun kemudian membuang rokoknya yang masih sisa setengah itu ke tanah. Ia menatap rokok yang masih menyala itu, hingga akhirnya api rokok padam dengan sendirinya. Seongjun kemudian kembali menaikkan pandangannya untuk menatap Gyujin yang sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Seongjun. Tatapan itu membuat Seongjun mendengus.

Gyujin benar-benar tak gentar dan tetap memandang Seongjun seolah ia memang menikmati pemandangan di depannya.

Apakah Gyujin terlalu banyak melirik Seongjun akhir-akhir ini? Gyujin sampai harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia menatap Seongjun hanya untuk membuatnya salah paham. Kalau tidak waspada, bisa-bisa malah Gyujin yang salah paham dengan cara Seongjun menatapnya.

Kadang, Gyujin penasaran. Apa orang lain juga berpikir jika tatapan Seongjun begitu tajam? Seringnya, Gyujin menganggap tatapan Seongjun seperti ular yang melilitnya, tetapi adakalanya pula Gyujin berpikir jika tatapan Seongjun seperti serigala yang memiliki hak atas dirinya. Cara Seongjun menatapnya juga terasa berbeda dari kebanyakan orang. Seolah-olah menatap tepat ke dalam jiwanya. Kenapa Seongjun harus menatapnya dengan begitu dalam? Gyujin yakin, jika ada gadis yang diberikan tatapan yang sama oleh Seongjun, gadis itu akan secara sukarela menyerahkan dirinya. Untungnya, Gyujin tak perlu khawatir akan terperangkap oleh tatapan itu. Seongjun terlalu bajingan untuk bisa membuatnya jatuh cinta.

Seongjun mengangkat tangannya, meraih rambut gelap Gyujin dan menggenggamnya dengan sangat erat. Seongjun tak benar-benar menarik rambutnya, tapi tetap saja rasanya perih. Gyujin tak mengerti apa yang membuat Seongjun suka menarik rambutnya begini.

“Fuck-gyu,” panggil Seongjun pelan. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, saking dekatnya Seongjun berbicara, Gyujin bisa merasakan napas hangatnya menerpa wajahnya. “Kau benar-benar makin kurang ajar dan tidak tahu diri. Kau tidak lihat kalau kami berbaik hati padamu? Kenapa kau masih saja membuatku muak dengan tatapan itu? Kau benar-benar ingin menantang? Oke, baiklah.” Seongjun mendengus.

Akhirnya, Gyujin menurunkan pandangannya, tak lagi menatap Seongjun. Bukan karena takut, tapi karena Gyujin tak mau kebenciannya terlalu kentara terlihat. Tujuannya adalah membuat Seongjun salah paham, mengira jika ia menyukainya, bukan salah paham mengira ia menantangnya. Makanya, Gyujin menutup bibirnya rapat-rapat dan pura-pura takut seperti anjing kecil yang menyedihkan.

Kepura-puraan itu berhasil membuat seringai di wajah Seongjun mengembang. Ia tersenyum puas karena merasa telah membuat Gyujin kembali tunduk padanya. Masih memegang rambut Gyujin, Seongjun menariknya agar wajah Gyujin semakin mendekatinya. Ia lalu kembali bicara dengan suara dingin itu. “Katakan, siapa yang kau mau? Siapa yang kau inginkan untuk memberimu pelajaran hari ini? Kau ingin Yuseok menendangmu lagi?” tanya Seongjun.

Perkataan Seongjun segera membuat Yuseok bersemangat dan menggoyang-goyangkan kakinya. Beberapa anak lainnya menyahut, mengatakan kalau mereka juga ingin kebagian kesempatan menendang atau memukul Gyujin.

Mereka semua benar-benar bajingan. Dasar kacung-kacung pengecut yang mengekori Kang Seongjun seperti lalat. Kapan Gyujin bisa meneriakkan itu keras-keras?

Menahan gejolak amarahnya, Gyujin masih mempertahankan akting ketakutannya. Ia akhirnya kembali melirik Seongjun, walaupun matanya sedikit gemetar. “A-aku....” Gyujin menelan ludahnya karena gugup. Sumpah, ia gugup sekaligus jijik pada kata-kata yang akan diucapkannya. “Aku... hanya mau... Seongjun....” Gyujin langsung menutup mulutnya lagi setelah bicara.

Kenapa? Kenapa?! Kenapa malah jadi hening begini?

Begitu Gyujin selesai menjawab, Seongjun hanya diam. Sekali lagi, Gyujin melihat mata Seongjun sedikit melebar karena terkejut. Bahkan, seringai menyebalkan di wajah Seongjun juga luntur untuk beberapa detik. Wajahnya yang menunjukkan keterkejutan dan kebingungan itu masih saja mencoba untuk terlihat biasa saja.

Tak hanya Seongjun, bahkan Yuseok dan yang lainnya juga terdiam. Mereka saling pandang, lalu melirik Seongjun yang masih saja terdiam. Barulah saat Sangtae keceplosan mendengus, mereka semua tertawa.

“Wah, Fuck-gyu, kau benar-benar berani! Di antara kami semua, kau pilih Seongjun yang bisa menghancurkanmu sampai ke tulang-tulang? Kau pasti sudah bosan hidup!” Sangtae menertawakannya sambil menepuk-nepuk Yunsu yang juga tertawa. Di matanya, Gyujin pasti benar-benar terlihat seperti orang bodoh yang cari mati.

Namun Gyujin tidak peduli. Ia tidak ada urusan apa-apa dengan mereka. Gyujin hanya memerlukan reaksi Seongjun, dan ia puas dengan apa yang didapatkannya.

Seongjun melirik ke belakang, ke tempat di mana Sangtae dan yang lainnya berdiri. “Diam kalian.” Ia langsung berhasil membungkam mereka. Setelah semuanya diam, barulah Seongjun kembali menoleh ke arah Gyujin. Tatapan matanya kembali tajam dan malah menatap Gyujin makin penuh kegeraman.

Akhirnya, Seongjun melepaskan genggamannya pada rambut Gyujin dan berdiri. Lega sekali rasanya, sampai-sampai Gyujin tak tahan untuk mengusap kepalanya. Gyujin mendongak, melirik Seongjun yang kini berjalan mundur menjauhinya. Apakah Seongjun ingin kabur?

Tch. Ayo kita pergi. Dia membuat mood-ku hancur.” Seongjun melewati teman-temannya dan berjalan duluan.

Meskipun bingung, Sangtae dan yang lainnya tetap menurut dan mengikutinya dari belakang. Namun tentu saja, mereka tak lupa untuk memberikan salam perpisahan pada Gyujin. Beberapa mengambil kesempatan untuk menendang Gyujin, dan Yuseok menendang tasnya sampai tepat mendarat di wajah Gyujin.

Benar-benar sialan. Gyujin mencengkeram erat tasnya, sampai rasanya mau robek. Gyujin menatap kepergian kelompok berandal yang sudah menghilang di balik belokan itu. Gyujin diam lama di tempatnya, dan perlahan, sebuah seringai tipis mengembang di wajahnya.

Ah.... Sungguh Gyujin tak sabar lagi. Hari kebebasannya pasti akan segera datang.

.

.

Begitu tak sabarnya menunggu hari di mana Seongjun merasa jijik padanya, Gyujin sampai tak bisa berhenti berakting. Setiap kali mendengar suara Seongjun atau bahkan suara anak buahnya, Gyujin akan langsung menengok. Ia akan memperhatikan Seongjun dari jauh, menunggu hingga Seongjun menyadari kehadirannya. Gyujin bahkan beberapa kali hampir tak bisa menahan senyum saat melirik Seongjun saking bersemangatnya ia. Oh, mungkin kalau ada yang memperhatikannya, orang itu akan percaya kalau Gyujin benar-benar menyukai Seongjun.

Hari ini, seperti biasanya, Gyujin akan menatap begitu lama setiap kali ia melihat Seongjun. Kelas mereka baru saja selesai jam olahraga, dan Gyujin masih belum mengganti seragam olahraganya. Ia ingin terlebih dahulu mendinginkan badan dengan air dingin dari kran. Namun, saat menemukan Seongjun dan gengnya di sana, Gyujin langsung berhenti.

Para berandal itu mengusir beberapa siswa lainnya yang ingin membasahi rambut, dan kini mereka sudah menguasai semua kran air yang tersedia. Seperti anak kecil, mereka bahkan saling siram dan bersenang-senang. Sungguh kekanak-kanakan. Namun tetap saja, Gyujin tak mengalihkan pandangannya dari Seongjun.

Seongjun, dengan tawa lebar di wajahnya, menyiram Sangtae yang baru saja ingin berkumur-kumur. Tawanya makin pecah saat Sangtae yang mengeluh langsung membalas, tapi yang kena malah Yuseok yang ditarik oleh Seongjun untuk menjadi tamengnya. Kenapa semua perundung ini bertingkah seperti anak-anak?

Sangtae tak dapat menyelesaikan pembalasannya pada Seongjun karena Yuseok sudah lebih dahulu membalaskan dendamnya. Sehingga, perang air itu kini terjadi antara Sangtae dan Yuseok. Pun, meski mereka berdua yang berperang, Seongjun dan yang lainnya juga kena imbas dan kebasahan.

“Oi, oi! Kalian membuat semua orang kena!” Seongjun langsung menyingkir. Tawanya benar-benar terlihat nyata, tak sama seperti tawa yang selalu ditampilkannya saat merundung orang lain.

Gyujin tak tahu bagaimana ia bisa melihatnya, tetapi begitulah yang ia tahu. Seongjun tampak seperti laki-laki yang bersenang-senang, bukan seorang bajingan sialan yang hanya tahu cara menindas orang. Bahkan, Seongjun malah terlihat seperti model majalah remaja yang tengah pemotretan edisi musim panas.

Perang air yang diciptakan oleh Sangtae dan Yuseok membuat seragam Seongjun kebasahan. Rambutnya juga mendadak keramas hingga menempel di keningnya. Ia pun menyisir rambutnya ke belakang, membuatnya semakin terlihat seperti model majalah.

Bahkan, semua orang yang ada di sana juga menyadarinya. Yuseok adalah yang pertama berkomentar. “Wow.... Kang Seongjun, apa kau mencoba terlihat keren sekarang?” Komentar itu membuat perang air terhenti sementara.

Semua mata kemudian tertuju pada Seongjun. Mereka juga ikut bersiul dan menggoda Seongjun yang dengan senang hati menerima semua pujian itu. Siapa juga yang tidak suka dipuji, kan?

“Tapi, tidak seru kalau cuma kau sendiri yang masih keren, sedangkan kami sudah seperti pakaian yang siap dijemur begini.” Sangtae mengambil selang yang sedari tadi tergulung, diam, dan tak dipedulikan sama sekali. Seringai jahil langsung muncul di wajahnya saat ia bertukar pandang dengan Yuseok. “Terima ini!” Dan Sangtae langsung memutar keran, mengarahkan ujung selang pada Seongjun.

“Sialan!” Seongjun langsung berbalik dan menghindar dari serangan itu. Sementara Sangtae sibuk mengarahkan air padanya, dan Yuseok berlari untuk menangkapnya.

Baiklah, Gyujin tak boleh berbohong untuk yang satu ini. Meskipun tidak ada yang melihat, tapi Gyujin sedang menyungging senyum sekarang. Gyujin pun bukan tersenyum karena merasa puas melihat Seongjun disiram oleh teman-temannya, tapi memang hanya merasa lucu saja melihat pemuda itu bersenang-senang. Kalau saja Kang Seongjun hanyalah pemuda biasa yang riang begini, maka Gyujin tak akan membencinya.

Aish.... Kalian ini benar-benar sialan.” Seongjun mendesis kesal setelah berhasil menjadi target. Sementara Sangtae dan Yuseok tertawa puas karena berhasil mengenai Seongjun.

Sekarang, seragam olahraga Seongjun benar-benar basah. Ia harus segera berganti pakaian. Namun, sebelum Seongjun sempat mengajak semua anggotanya untuk pergi, ia akhirnya menyadari keberadaan Gyujin yang berdiri dari jauh dan sama sekali tidak menyembunyikan dirinya. Gyujin benar-benar lupa untuk bersembunyi.

Kontak mata yang terjadi membuat Gyujin tersentak. Ia terkejut, sungguh, bukan sekadar akting. Gyujin tahu jika Seongjun pasti akan tetap menyadari keberadaannya, tapi ia tak menyangka jika Seongjun akan menemukannya saat Gyujin malah dengan bodohnya tersenyum. Ya, Gyujin tertangkap basah sedang memperhatikan Seongjun dari jauh dengan senyum konyol terlukis di wajahnya.

Gawat, wajah Gyujin memanas. Ia hanya bisa berharap jika tidak ada rona merah di wajahnya.

“Oi, lihat siapa itu.” Seongjun mendengus sambil menyisir rambut basahnya ke belakang. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang juga sudah menyadari keberadaan Gyujin. Mereka semua saling bertukar senyum, mengerti isi kepala masing-masing.

Gyujin, jujur saja, sedikit gugup. Melihat perang air yang mereka lakukan sebelumnya, Gyujin punya firasat jika sekarang adalah gilirannya untuk basah-basahan.

“Fuck-gyu!” teriak Seongjun yang langsung disambut umpatan diam-diam oleh Gyujin. Seongjun mengangkat tangannya, memberi gestur agar Gyujin datang mendekatinya.

Hah.... Memangnya Gyujin punya pilihan apa selain menurut seperti anjing yang patuh?

Gyujin menyeret kakinya mendekati Seongjun dan gengnya. Meskipun Gyujin menundukkan kepalanya dan hanya melirik sekilas, Gyujin bisa melihat ujung selang yang sudah diarahkan oleh Sangtae ke arahnya. Ya, ini sudah takdirnya untuk jadi bahan hiburan mereka.

“Fuck-gyu,” panggil Seongjun begitu Gyujin sudah berdiri di hadapannya. “Kau pikir aku tidak melihatmu menertawakan kami? Apa yang kau tertawakan, huh?” Seongjun mendorong pundak Gyujin dengan keras sampai hampir membuat Gyujin terjatuh.

Gyujin hanya diam, tak mengatakan apa-apa karena ia tahu jika itulah yang seharusnya ia lakukan. Meskipun Gyujin ingin sekali mengumpat saat tadi didorong oleh Seongjun, tetapi ia berhasil menahan diri. Ini adalah salah satu taktik Gyujin untuk membuat Seongjun bingung dengan dirinya. Sisinya yang lemah dan tak berdaya namun penuh harap ini pasti bisa membuat Seongjun salah paham padanya.

Gyujin sesekali mendongak untuk melirik Seongjun yang masih berdiri terlalu dekat dengannya. Aroma keringat yang perlahan mulai hilang karena sudah disiram air menyapa indra penciuman Gyujin. Air yang menetes dari rambut Seongjun yang basah mengenai kepala Gyujin yang lebih pendek darinya. Hanya untuk beberapa saat, sungguh, hanya sebentar saja, Gyujin sempat terdiam karena penampilan Seongjun yang tak seperti biasanya.

Sebelumnya, saat Gyujin hanya melihat dari jauh, ia sudah menganggap kalau Seongjun cocok sekali menjadi model majalah remaja. Hanya saja, Gyujin percaya bahwa pendapatnya itu hanya didukung oleh suasana khas musim panas tadi. Namun, siapa sangka jika Gyujin juga harus mengakui kalau Seongjun benar-benar pantas untuk menjadi model.

Apakah Gyujin sudah membahas betapa gaya rambut itu mengubah Seongjun? Ya, Seongjun memang terlihat bagus dengan gaya rambut apa pun, tapi karena Gyujin tak terbiasa melihat Seongjun jidatan begini, ia jadi gugup.

Gugup? Kenapa pula harus gugup? Gyujin mengutuk dirinya sendiri karena bisa-bisanya terpesona pada Seongjun. Pasti terjadi korsleting di kepalanya. Gyujin yakin itu.

“Oi, kenapa diam saja?” Seongjun kembali mendorong pundak Gyujin dengan ujung jarinya. Ia kembali mengambil satu langkah mendekat. Seongjun meraih dagu Gyujin dan mengangkatnya agar bisa bertemu pandang dengannya.

Dua pasang manik gelap itu kembali saling memandang. Tatapan tajam Seongjun masih terasa begitu dingin dan... penuh akan peringatan agar Gyujin tak berpaling. Gawat, Gyujin bisa mendengar sendiri suara debaran jantungnya yang entah kenapa begitu kencang. Gyujin sungguh berharap jika Seongjun tak menyadarinya. Atau, Gyujin malah berharap jika Seongjun menyadarinya.

Seongjun kembali bicara karena Gyujin tak kunjung bersuara. “Oi, Fuck-gyu, kau ini bisu atau apa, sih? Jawab, apa yang kau tertawakan? Kau menertawakanku?”

Gyujin buru-buru menggeleng, meskipun agak sulit karena Seongjun menahan dagunya. “A-aku... tidak menertawakanmu.” Gyujin kesulitan menelan ludahnya karena kerongkongannya terasa sangat kering. Jantungnya berdebar makin kencang karena apa yang akan dikatakannya berikutnya. Suaranya begitu pelan, berbisik, seolah hanya ingin didengar oleh Seongjun seorang. “Aku... hanya suka... melihatmu. Gaya rambut itu... t-terlihat bagus padamu....”

Apakah Gyujin bicara terlalu pelan? Kenapa Seongjun sama sekali tidak bereaksi? Bahkan, Seongjun tak terlihat terkejut ataupun bingung seperti sebelumnya. Seongjun malah terlihat makin dingin menatapnya.

Ah! Apa jangan-jangan Seongjun sudah mulai terganggu? Mungkinkah Seongjun mulai tak nyaman dengan semua petunjuk yang diberikan oleh Gyujin? Oh, betapa Gyujin berharap demikian. Ia hanya perlu menunggu hingga Seongjun memakinya, mengata-ngatainya, kemudian mendorongnya penuh rasa jijik.

Namun, sebelum kesenangan itu datang, Gyujin harus terlebih dahulu pasrah dengan keadaannya sekarang.

Baik Gyujin maupun Seongjun sama-sama terlonjak kaget saat tahu-tahu saja mereka disembur oleh air. Sebenarnya, hanya Seongjun yang diserang, karena Gyujin berada tepat di hadapannya dan tubuh besar Seongjun menjadi perisainya.

“Brengsek! Oi! Sialan kalian!” Seongjun berbalik dan langsung memelototi Sangtae yang sedang menutup mulutnya yang hampir tak bisa menahan tawa. Ia buru-buru melempar selang di tangannya ke arah Yuseok yang dengan panik menerimanya.

“Oh Sangtae! Kenapa kau memberikannya padaku?!” Yuseok langsung membuang selang itu kembali ke Sangtae yang kini mau tidak mau harus berhadapan langsung dengan Seongjun.

“Hei, hei, sabar dulu, jangan langsung memelototiku begitu, dong.” Sangtae mengangkat tangannya, menahan Seongjun yang ingin mengambil langkah menuju ke arahnya. “Aku ingin mengenai Fuck-gyu, tapi kau menghalangi. Sumpah, aku tidak sengaja mengenaimu.” Sangtae membuat tanda V dengan kedua jarinya.

“Ck.” Seongjun berdecak kesal. Ia menyentuh seragam olahraganya yang bagian belakangnya benar-benar sudah basah. Seongjun pun beranjak, pergi menuju Sangtae dan mengambil selang di tangannya.

“Kim Yunsu, nyalakan kerannya,” perintah Seongjun yang langsung membuat Yunsu tersenyum lebar dan menyalakan keran. Semua orang langsung tertawa melihat Sangtae yang kini berlarian menghindari serangan air Seongjun.

Gyujin sendiri bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia bahkan tak menggerakkan kakinya dan hanya memperhatikan apa yang terjadi dengan wajah tertunduk. Gyujin tak peduli dengan Sangtae yang terus menghindar sambil meminta Seongjun untuk berhenti menyerangnya. Gyujin masih belum puas. Ia masih menginginkan reaksi yang lebih banyak dari Seongjun.

Sementara itu, Seongjun akhirnya puas menyerang Sangtae. Masih dengan wajah kesalnya, Seongjun menoleh ke arah Gyujin. Ia kembali berdecak kesal dan akhirnya mengarahkan selang ke arah Gyujin.

Kena. Gyujin sampai menegang di tempatnya berdiri saat dinginnya air langsung mengenai wajahnya. Meskipun yang langsung terkena serangan air adalah puncak kepalanya karena Gyujin menunduk, tetap saja ini menyebalkan. Gyujin hanya bisa mengangkat tangannya, menjadikannya perisai karena ia sudah pasti tak diperbolehkan untuk berpindah oleh Seongjun.

Tak terlalu lama, Seongjun kemudian menurunkan selang dan menyuruh Yunsu untuk mematikan air. Seongjun kemudian melemparkan selang itu ke tanah.

Gyujin, yang seluruh badannya sudah basah, hanya bisa menatap ke tanah yang becek sambil bernapas dengan berat. Ia sedang berusaha keras menahan amarah yang memuncak. Tangannya terkepal erat, tetapi tak bisa ke mana-mana dan hanya bergantungan di sisi-sisi tubuhnya.

Seongjun mendengus. “Ayo,” ajaknya pada teman-temannya. Seperti biasa, mereka akan meninggalkan Gyujin begitu saja di belakang.

Gyujin akhirnya bisa mengangkat kepalanya setelah Seongjun dan yang lainnya pergi. Ia berdecak kesal dan menatap kepergian Seongjun. Yang bisa ia lakukan hanyalah memelototi punggung Seongjun yang semakin menjauh, seolah ingin menantangnya padahal hanya berani melakukan itu di belakang. Saat Gyujin terus menatap dan Seongjun kebetulan menoleh ke belakang, Gyujin pun buru-buru memalingkan wajahnya.

Setelah beberapa saat, Gyujin melirik dari ekor matanya. Ia memastikan jika Seongjun sudah hilang sepenuhnya dari pandangannya.

Menghela napas, Gyujin menatap tanah becek yang penuh jejak sepatu di hadapannya. Gyujin kemudian termenung, mengingat kembali saat di mana ia dengan malu-malu mengungkapkan pengakuan palsunya soal rambut Seongjun. Ia juga mengingat kembali tatapan dingin yang diberikan oleh Seongjun padanya tadi.

Gyujin jadi makin yakin kalau Seongjun sadar dengan perasaannya sekarang. Perasaan palsunya. Oh, kenapa Gyujin sendiri jadi pelupa kalau ia seharusnya sedang berpura-pura, bukan benar-benar menyukai Seongjun?

“Dia pasti mulai jijik padaku.” Gyujin tersenyum agak lebar, bangga pada dirinya sendiri. Ia pun beranjak dari sana, ingin pergi mengganti seragamnya.

Tak seperti biasanya, Gyujin tak sepenuhnya merasa dongkol setelah diganggu oleh Seongjun dan gengnya. Ia malah merasa bersemangat, tak sabar hingga hari pengakuannya datang.

.

.

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian siram-menyiram itu, dan sudah tiga hari pula Gyujin tak mendapatkan tamparan, pukulan, maupun tendangan dari Seongjun. Tentu saja para berandal itu masih mengganggunya. Gyujin tetap tak punya hari libur untuk menjadi mainan mereka. Hanya saja, Seongjun tak sama seperti biasanya. Seongjun hanya memberikan perintah pada para kacungnya, kemudian menatap Gyujin dengan sorot yang tajam dan dingin.

Hal ini tidak bisa membuat Gyujin berhenti berpikir bahwasanya rencananya untuk membuat Seongjun salah paham dan jijik padanya berhasil. Namun, tetap saja bukan ini yang Gyujin inginkan. Ia masih belum sepenuhnya yakin apakah Seongjun benar-benar jijik padanya.

Apakah... Gyujin benar-benar harus mengungkapkan perasaannya secara langsung? Gyujin mengingat kembali saat di mana ia tak sengaja mencuri dengar obrolan siswa yang jijik karena ada laki-laki lain yang suka padanya. Jika Gyujin ingin mendapatkan reaksi yang sama, bukankah sebaiknya Gyujin juga melakukan hal yang sama?

Gyujin, yang kini berada di toilet untuk mencuci mukanya, menatap pantulan dirinya di cermin. Gyujin menghela napas lelah. “Haah.... Bagaimana aku harus mengatakannya?” Gyujin pusing sendiri. “Aku bahkan tidak yakin kalau Seongjun menangkap petunjuk yang aku berikan. Aku juga tidak sanggup untuk berhadapan dengannya dan mengatakan kalau aku menyukainya. Kenapa sih, dia ke mana-mana selalu dengan teman-temannya? Mana mungkin aku bisa mengungkapkan perasaanku di depan mereka semua!” Gyujin memukul wastafel dengan tinjunya.

Sungguh, Gyujin tak menyangka jika ia akan sebegini capeknya hanya karena permainan peran yang sedang dilakukannya. Benar apa kata orang, berbohong itu ternyata melelahkan. Namun, Gyujin tak akan menyerah. Bukankah terlalu nanggung untuk berhenti di tengah jalan?

Gyujin mengangguk, menatap pantulan dirinya dengan pasti. Ia mengangkat kepalan tangannya dan menyemangati dirinya sendiri. “Aku tidak boleh berhenti. Aku harus membuat Seongjun menyadari perasaanku padanya. Lalu, begitu ada kesempatan, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya!”

Betapa Gyujin bersemangat untuk hal ini. Ia akan memastikan kalau Seongjun menyadari perasaan palsunya hingga jijik padanya. Namun, siapa sangka, jika kesempatan itu datang lebih cepat dari yang Gyujin kira.

“Omong kosong apa yang dari tadi kau ucapkan?”

Seluruh tubuhnya langsung menegang. Gyujin bahkan yakin jika jantungnya sempat berhenti bekerja selama satu detik. Rasa panik dan takut langsung menggerogoti tubuhnya, membuat Gyujin bahkan tak sanggup untuk mengangkat kepalanya. Perutnya tiba-tiba mulas, membuatnya ingin kabur dari sana secepat mungkin. Namun, bagaimana caranya Gyujin bisa pergi kalau Seongjun sudah berada di belakangnya?

.

.

.