Actions

Work Header

Sugar Rush Night

Summary:

Seorang maniak sex yang menemukan mainan baru yang bisa mengimbangi permainannya, mungkin melampauinya.

Notes:

My first story, please be kind, ehe.

Work Text:

Hingar bingar malam di Sungai Han bukanlah hal yang baru bagi seorang pemuda bernama Choi Soobin, anak tunggal kaya raya yang sudah memiliki beberapa propertinya sendiri di area yang terkenal dengan kawasan paling kaya—secara ekonomi—di Korea Selatan itu.

Dan sebagai anak muda, Soobin tidak akan menghabiskan malamnya hanya dengan duduk saja di kamarnya dan bermasturbasi sambil menonton film porno koleksinya. Bukan tipenya hanya menikmati aksi seks di layar datar, dia tentunya akan menyewa seorang lonte—laki-laki atau perempuan— yang menjajakan diri mereka di pinggir jalan, atau di dalam bar.

Dan Soobin akan melakukan apa saja kepada lonte-lonte yang sudah dia sewa untuk memenuhi nafsunya yang bringas dan brutal,

Sayangnya tidak semua lonte bisa mengimbangi nafsu bejat seorang Choi Soobin. Hampir 90% dari lonte yang pernah Soobin sewa semuanya berakhir tidak sadarkan diri, pingsan setelah mereka melayani Soobin. Soobin sebenarnya tidak peduli dengan kondisi mereka, toh memang pekerjaan mereka untuk melayani setiap pelanggan yang menyewa jasa mereka, dan Soobin juga selalu membayar lebih karena perlakuan kasarnya selama di kasur, jadi dia tidak merasa bersalah kepada para lonte yang dia pakai.

Malam ini, cukup berbeda dari malam-malam biasanya.

Soobin sudah mengelilingi sekitaran Sungai Han, bahkan sudah hampir mengelilingi Kota Seoul, tapi Soobin tidak bisa menemukan lonte yang menarik perhatiannya. Dia hanya berharap untuk mendapatkan lonte di pinggir jalan, dia malas untuk masuk ke dalam bar atau club untuk mencari 'mainan'nya untuk malam ini.

Putus asa, Soobin memutuskan untuk meminggirkan sebentar lamborghininya dan menghisap sebatang rokok. Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka dating app, siapa yang tahu, mungkin dia bisa menemukan seseorang untuk memuaskan hasratnya malam ini.

Sayangnya, harapan itu hancur saat lelaki jangkung itu tidak menemukan seseorang yang menarik perhatiannya.

Soobin menghela pasrah sambil mengeluarkan asap rokok yang memenuhi paru-parunya.

Dia berencana untuk menikmati dahulu rokoknya itu sebelum akhirnya pulang dan terpaksa untuk bermasturbasi di kamarnya, entah mungkin salah satu adiknya mau menjadi mainannya malam ini—tapi Soobin hanya bisa berharap.

Sampai ponselnya bergetar, di layarnya terpampang nama salah satu adiknya yang menelponnya—Choi Beomgyu

"Apa?" Tanya Soobin dingin ketika mengangkat ponselnya. "Damn... halo juga hyung...." Balas Beomgyu dari seberang.

Soobin memutar matanya, "Apa maumu? Aku sedang gusar...." Kata Soobin sambil menginjak puntung rokoknya yang sudah pendek. "Gua ama Taehyun mau ke club tempat Hyuka baru dapat kerja, Mau ikut ga lu?" Tawar Beomgyu kepada Soobin. "Ngga, buat apa aku nemenin kalian ketemu pacar kalian...." Balas Soobin setelah mendengar nama pacar kedua adiknya itu. "Ya elah hyung, ikut aja udah, gue tau lu lagi sagapung...." Balas Beomgyu. Soobin mendecikkan lidahnya kesal, adiknya itu selalu tahu kalau Soobin sedang ingin merojok sebuah lubang dengan kontolnya.

"Dateng ya hyung, gue ama Taehyun ga mau jadi bulan-bulanan lu malem ini, besok kami ada jadwal date sama Hyuka soalnya," pinta Beomgyu final.

Melihat Soobin tidak mungkin berdebat dengan adiknya, dan juga karena dia tengah malas membujuk salah satu adikna itu untuk menyerahkan diri mereka sepenuhnya kepada abang mereka, dia akhirnya setuju untuk mendatangi club yang Beomgyu bilang. "Iya iya, share lokasinya,"

Tidak butuh waktu lama, Beomgyu sudah mengirimkan lokasi club tempat Hyuka bekerja.

"Gue tunggu ya hyung!" Seru Beomgyu sebelum menutup telponnya.

Soobin mengantongi ponselnya sebelum masuk kembali ke dalam mobilnya. Dia menarik anafs sejenak sebelum melajukan lokasinya ke lokasi yang diberikan oleh Beomgyu.

Beomgyu dan Taehyun yang menunggu Soobin di depan club melihat mobil abang mereka yang berhenti tepat di depan club.

"Hyung!" Panggil Taehyun sambil melambaikan tangannya ke arah abangnya. Soobin menghampiri mereka setelah memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet.

Soobin mengerutkan dahinya setelah melihat papan nama club itu.

"Sugar Rush Heaven?" Soobin menatap kedua adiknya, "Kalian ngebiarin pacar kalian kerja di sini?" Tanya Soobin, mengingat club ini bukanlah club biasa.

Sugar Rush Heaven adalah club malam yang menawarkan penampilan penari tiang dan stripper yang bisa para pengunjung sewa untuk memaskan hasrat mereka. Soobin sudah beberapa kali menyewa lonte di club ini, dia tidak mau merepotkan dirinya mencari lonte di sini karena dia sudah menyewa semua lonte di sini. Dari pria, wanita, wanita berkontol, dan pria bermemek, semuanya sudah Soobin dapatkan dari club ini.

"Yah, kau tahu Hyuka, dia memang tidak bisa hidup tanpa kontol di dalam memeknya," kata Taehyun melipat tangannya. "Dan sayangnya, gue sama Taehyun ga bisa terus-terusan muasin lobangnya dia," lanjut Beomgyu. "Mmh..." Soobin mengantongi tangannya, "Kenapa ga kasih ke aku aja? aku kan bisa muasin dia," usul Soobin menatap kedua adiknya. Beomgyu terkekeh, "Ga mau Hyuka ama lu bang," kata Beomgyu mengantongi tangannya juga, Taehyun mengangguk, "Kamu terlalu kasar hyung...." katanya. Soobin mengankat satu alisnya, "Terus kalian berharap pelanggan di sini akan lembut dengan pacar kalian?" Tanya Soobin. "Beruntungnya hyung, tidak sepertimu, pelanggan di sini masih tahu batasan," jelas Taehyun, "Dan manajer di tempat ini juga tahu kalau Hyuka milik kami, jadi orang itu akan memastikan kalau Hyuka mendapat pelanggan yang tidak akan berlaku kasar," tambah Beomgyu.

"Hm... kalian benar-benar sayang dia huh?" Tanya Soobin. Taehyun dan Beomgyu terkekeh, "Keunggulan punya pacar spek lonte, jarang-jarang tuh," kata Beongyu.

"By the way, ayo masuk, Hyuka udah nungguin," usul Taehyun.

Mereka bertiga masuk ke dalam dan disambut oleh gemerlap lampu club yang temaram dan remang.

"Taehyun! Beomgyu!" Panggil seseorang.

Mereka bertiga menoleh dan melihat sang pacar, Hyuka, yang mengenakan setelan jumpsuit bikini, lengkap dengan telinga dan ekot kelinci. Beomgyu bersiul melihat betapa seksi pacarnya saat ini, "Anjay juga lonte gue...." Kata Beomgyu mengecup bibir Hyuka sekilas sebelum memegangi pinggangnya, Hyuka hanya terkekeh sebelum mencium Taehyun juga.

"Eh ada Soobin-hyung juga," kata Hyuka saat melihat si jangkung. Soobin hanya mengangkat tangannya sambil tersenyum, mencoba menyembunyikan ke-sange-an nya sekarang saat melihat pacar kedua adiknya dengan pakaian terbuka seperti itu.

"Ini kamu ngga langsung perform kan di hari pertama?" Tanya Taehyun yang memiliki rasa cemburu dengan para pelanggan yang bisa melihat pacarnya dengan pakaian minim dan menggemaskan seperti ini.

"Tidak kok Tyun, aku hanya melayani meja saja hari ini, dan...." Hyuka kemudian menyingkap kain bikini di selangkangannya dan menunjukkan memeknya yang sudah tersumbat sesuatu, "aku masih pakai plug dari kalian, jadi aku bakal terus penuh sampai besok pagi," kata Hyuka tersenyum. Beomgyu menyeringai melihat memek Hyuka yang tersumbat plug, kontolnya sedikit menegang melihat itu, begitu juga dengan Taehyun. "Anak pinter... bisa kita pake seharian nih besok...." Kata Beomgyu menepuk-nepuk plug itu, membuat plug itu sedikit terdorong ke dalam memek Hyuka, sementara si empunya mengeluh singkat.

"BTW, Soobin-hyung, kau kalau sedang horny langsung saja ke belakang, lagi banyak lonte baru soalnya," usul Hyuka yang menyadari gundukan yang terpampang jelas di celana jeans Soobin. "Oh benarkah?" Tanya Soobin, seringaian nakal khasnya terpampang seketika saat dia mendengar adanya 'daging' baru di club langganannya ini. Hyuka mengangguk, "Coba aja cari-cari dulu... aku mau ngurusin dua 'pelanggan' ku terlebih dahulu," kata Hyuka sambil menangkup kedua dagu pacarnya itu, mencoba menghentikan mereka sebelum mereka meraup Hyuka lebih dalam.

Soobin tersenyum miring, "Ok, sampai ketemu besok kalau begitu, Hyuka," kata Soobin sebelum berlalu dari situ.

Tidak lama setelah Soobin pergi, Hyuka sudah ditarik kedua pacarnya ke dalam ruang VIP, meskipun seharusnya Hyuka tidak melayani jasa sex di hari pertamanya bekerja.

Soobin berjalan lebih dalam di dalam club itu.

Tidak ada yang berubah dari club itu semenjak terakhir kali Soobin datang kemari beberapa minggu yang lalu. Para penari tiang masih dengan rutinitas mereka, dan para pelanggan menikmati alkohol dan service dari para LC dan MC.

Soobin mengedarkan pandangannya di area itu. Hyuka benar tentang satu hal, banyak wajah baru di club ini, tapi tidak ada yang menarik perhatiannya, meskipun kontolnya hampir ngaceng sempurna.

Sampai matanya menangkap sesuatu yang—akhirnya—menangkap perhatiannya. Seorang pria di salah satu sudut area club itu, tubuhnya tidak terlalu kurus, tapi ototnya cukup terpahat dengan baik, seperti terlihat seseorang yang baru saja rutin berolahraga. Rambutnya cukup berantakan, tidak seperti kebanyakan pekerja di sini yang—biasanya—ditata dengan rapi dan sleek. Pria itu hanya mengenakan speedos hitam ketat yang membentuk belahan memeknya, memamerkan setiap lekuk tubuhnya, sebuah choker yang tersambung dengan sebuah rantai, dan gelang cuff yang melingkar di pergelangan tangannya.

Soobin menjilat bibirnya dengan rasa lapar di matanya, seakan dia sudah menemukan mangsanya. Dia berjalan mendekati pria itu.

"Hey there...." Sapa Soobin, pria itu mengangkat wajahnya, membuat Soobin dapat melihat dengan lengkap setiap lekuk wajahnya sekarang.

"Kau baru di sini?' Tanya Soobin, memegang dagu pria itu dengan jempol dan telunjuknya, "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Pria itu menyeringai, menatap mata si jangkung yang tengah 'kelaparan', "Kau langganan di sini huh?" Tanya pria itu. Seringai Soobin melebar, dia akan menyukai lonte satu ini.

"Soobin, manajer di sini sudah mengenalku seperti majikannya sendiri...." jelas Soobin. Wajah pria itu seketika berubah, atau lebih tepatnya, sumringah, "Jadi kau si Soobin itu..." kata pria itu, seakan dia tahu siapa itu Soobin. "Oh kau mengenalku...." Kata Soobin yang terkesan dengan pria itu, kedua tangannya sudah mendarat di pinggang pria itu. "Tentu saja... semua orang di sini mengenal siapa dirimu...." Kata pria itu menyapukan jarinya di garis rahang Soobin, "bahkan kami pekerja baru tahu namamu...." jelas pria itu. Soobin menyeringai, dia tidak menyangka namanya akan menjadi legenda di club ini.

"Namaku Yeonjun, by the way," kata pria itu mengenalkan namanya. Soobin menatap Yeonjun lagi, "Yeonjun..." Soobin kemudian mengeluarkan kartu hitam dari dalam kantung celananya, "Kau free malam ini?" Tanya Soobin.

Yeonjun menjilat mulutnya, "Tentu saja...." kata Yeonjun melingkarkan lengannya di leher Soobin. Soobin terkekeh sebelum menarik rantai yang tersambung ke choker Yeonjun, "Lead the way dog...." perintah Soobin.

Yeonjun mulai berjalan setelah memberikan satu sentuhan menggoda di rahang pelanggannya, sementara Soobin mengikutinya sambil tetap memegang rantai Yeonjun. Dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke area kamar VIP, dimana pelanggan club bisa menikmati keintiman mereka dengan lonte yang mereka pilih.

"By the way, Yeonjun...." Kata Soobin, membuat si lonte menoleh ke arahnya, "Kau tidak perlu terlalu formal denganku," kata Soobin dengan senyuman yang tidak pernah meninggalkan wajahnya.

Yeonjun seketika berhenti dan menghela berat, "Makasih banget! Anjing capek bat gue ngomong kayak gitu, fuck...." Kata Yeonjun yang seakan baru saja dilepaskan dari kandang, sebuah perputaran 180 derajat yang sangat bertolak belakang dengan Yeonjun yang baru dia temui tadi. Soobin hanya terkekeh melihat reaksi Yeonjun yang cepat itu.

"Kok lu bisa tau by the way?" Tanya Yeonjun sebelum kembali berjalan. Soobin mengangkat bahunya, "Just a hunch," jawab Soobin, Yeonjun tertawa, "Goblok anjing," balas Yeonjun.

Mereka akhirnya sampai di salah satu ruang VIP yang kosong. "Ruangan ini diciptain khusus buat pelanggan kayak elu," kata Yeonjun kemudian membuka pintu ruangan itu.

Soobin melihat ruangan itu tidak berbeda jauh dengan ruangan VIP lain. Sebuah sofa dengan platform untuk menari tiang di depannya dan sebuah queen bed untuk alasan yang jelas, yang membedakan dari euang lain adalah tembok di samping kasur itu. Ada banyak sex toys yang menggantung di tembok itu.

"Menarik...." Gumam Soobin mendekati tembok yang dihiasi oleh banyaknya dildo dan mainan sexual lain. "Dan ku kira tidak ada yang berubah dari club ini,"

"Well. tidak benyak yang berubah di area depan...." kata Yeonjun melingkarkan tangannya di leher Soobin dari belakang, "Tapi kami banyak berubah di belakang sini...." Yeonjun mencium leher Soobin. Soobin memegang tangan Yeonjun dan menikmati sentuhan mulutnya di lehernya. "Bagaimana kalau kau menari untukku terlebih dahulu?" Pinta Soobin.

Yeonjun menatap Soobin dengan senyuman sebelum menarik tangan Soobin untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Soobin duduk di sofa itu dengan kaki yang terbuka.

Yeonjun berjalan ke arah platform yang terdapat tiang dan mulai menari di sana, memamerkan tubuhnya yang meliuk dengan sexy dan seduktif. Soobin—yang pada dasarnya sudah sange, kali ini bertambah sange. Kontolnya yang masih terbungkus celana ketatnya semakin mengeras saat melihat tarian tiang Yeonjun di platform di depannya.

Soobin mulai mengelus gundukan di celananya sambil matanya tetap terpaku pada penampilan Yeonjun di depannya. Yeonjun melihat itu dan dia mulai merangkak perlahan ke arah Soobin dan mendaratkan dagunya di selangkangannya.

"Kau lapar huh?" Tanya Soobin menangkup dagu Yeonjun, mendekatkan wajahnya ke wajah Yeonjun. Yeonjun menyeringai, "Pertanyaan bodoh...." Jawab Yeonjun. Soobin terkekeh, "Buka hadiahmu kalau begitu," kata Soobin kembali bersandar ke sofa itu. Seringai Yeonjun melebar, "Don't mind if I do...." Kata Yeonjun meraba gundukan di celana Soobin sebelum membuka kancing dan retsletingnya. Soobin mengangkat sedikit pinggulnya agar Yeonjun bisa menarik celananya, menunjukkan celana dalam putih yang masih membungkus kontol si jangkung.

Yeonjun menjilat kontol Soobin dari luar celana dalam Soobin, membuat kain putih itu basah oleh ludahnya. Soobin menghela saat Yeonjun menjilati gundukan celana dalamnya.

Merasa cukup, Yeonjun menarik karet celana dalam Soobin dan melepas celana dalam Soobin, membebaskan monster yang sudah lama ingin keluar dari ketatnya kain itu. Yeonjun terbelalak melihat ukuran kontol Soobin, kontol terbesar yang pernah dia lihat, tidak heran lonte sebelumnya merasa kewalahan dengan Soobin. Ludah Yeonjun menetes saat dia melihat kontol Soobin, memeknya mulai becek saat membayangkan monster itu masuk dan bersarang di dalam rahim sterilnya.

"Anjing...." Suara Yeonjun bergetar karena senang, "Bangsat juga kontol lu...." Gumam Yeonjun menatap Soobin dari balik kontol yang menutupi wajahnya. Soobin menyeringai, "Jangan dianggurin kalau begitu...." Kata Soobin.

Yeonjun menjilat mulutnya sebelum mulai menjilat batang jati itu. Dia menjilat dari bola kembar Soobin—yang tidak kalah besarnya—kemudian naik ke atas hingga ke kepala kontol yang besar itu. Gerakan itu terus dia ulangi seperti dia tengah menjilat es krim yang tidak akan cair.

Soobin melenguh saat Yeonjun memasukkan kontolnya ke dalam mulutnya, dan entah bagaimana, bisa memasukkan seluruh panjang kontol Soobin ke dalam tenggorokannya. "Fuck..." Kepala Soobin terlempar ke belakang sambil dia menekan kepala Yeonjun agar dia menahan kontolnya di dalam tenggorokan sempit Yeonjun.

Soobin kemudian memegang kepala Yeonjun sebelum mulai memompa kontolnya di dalam mulut Yeonjun, membuat pria lonte itu tersedak-sedak, tetapi itu yang membuat Yeonjun senang. Yeonjun memasukkan tangannya ke dalam speedosnya dan memasukkan jarinya ke dalam memeknya yang sudah becek, menyamakan ritme kontol Soobin di mulutnya.

"Fuck... ah!" Soobin mendorong kontolnya lebih dalam ke kerongkongan Yeonjun dan cum, memuncratkan pejuhnya ke dalam perut Yeonjun secara langsung. Yeonjun tersedak karena kontol Soobin yang panjang dan besar masuk sangat dalam di dalam kerongkongannya, dia bisa merasakan sprema Soobin tersalur ke dalam perutnya. Di saat yang bersamaan, Yeonjun squirt, memeknya memuncratkan cairan kentalnya ke lantai.

Yeonjun menarik nafas dalam saat Soobin mendorong kepalanya agar kontolnya keluar dari mulut Yeonjun. Sisa sperma Soobin menetes dari pinggir mulut Yeonjun yang langsung dia jilat. "Anjing... kenyang gue sama pejuh lo," Kata Yeonjun sambil mengocok sedikit kontol Soobin yang masih keras sambil menciuminya. Tangan Yeonjun yang basah oleh cairannya sendiri meraba kepala kontol Soobin, membuat si jangkung sedikit berdesis karena kontolnya yang sensitif setelah bucat.

Yeonjun menatap kepala kontol Soobin, lubang kontolnya masih basah oleh bekas sperma Soobin. Yeonjun tersenyum nakal melihat itu. Dia menatap Soobin yang menatapnya balik. Tanpa bicara, Yeonjun mendorong telunjuknya ke dalam lubang kontol Soobin, membuat si empunya berteriak dengan kepalanya terlempar ke belakang, tubuhnya bergetar karena penetrasi yang tiba-tiba di kontolnya yang masih sensitif itu. Yeonjun tersenyum senang melihat reaksi Soobin, dia mengeluarkan jari telunjuknya dan meggantinya dengan jari tengahnya. Soobin mengerang saat Yeonjun mendorong seluruh jari tengahnya ke dalam urethra Soobin, sayangnya Yeonjun hanya bisa mencapai setengah panjang kontolnya Soobin. Yeonjun kemudian mulai menggerakkan jarinya, keluar dan masuk dari lubang kontolnya Soobin, sementara si jangkung hanya mendesah-desah, jari Yeonjun benar-benar menggaruk bagian sensitifnya.

"Tunggu, Yeonjun," Soobin mencengkram tangan Yeonjun, dia hampir cum lagi karena gerakan liar jari Yeonjun di dalam kontolnya. "Let me have a taste too," kata Soobin. Yeonjun tersenyum sebelum mengeluarkan jarinya dari kontol Soobin sejenak, membuat si jangkung merengek sedikit.

Yeonjun berjalan ke arah kasur yang dekat dengan tembok penuh mainan itu sebelum duduk dan membuka pahanya ke arah Soobin, "Well? Bon apetite,"

Soobin terkekeh sebelum berjalan ke arah Yeonjun dan berlutut di antara kaki Yeonjun. Memek Yeonjun benar-benar basah, ada beberapa tetes cairan yang keluar dari memek yang mengkilap di bawah lampu remang ruang VIP itu. "Damn... aku yang bukan pertama malam ini hah?" Tanya Soobin meraba lubang yang basah itu, mengusap klitoris Yeonjun, membuat si empunya memek menghela, wajahnya memerah. "Yah, tapi kontol orang itu bahkan tidak lebih besar dari jariku," jelas Yeonjun menatap Soobin.

Si jangkung tertawa, "Kalau begitu aku tidak perlu khawatir," kata Soobin sebelum mulai memasukkan lidahnya ke dalam memek Yeonjun. Yeonjun melenguh kencang, merasakan daging lunak milik Soobin menjelajah liang kenikmatannya, menjalar ke dalam seperti ular memasuki sarangnya.

"Fuck... anjing...." Racau Yeonjun ketika Soobin 'basically' memakan lubang Yeonjun, menghisap setiap tetes cairan memek Yeonjun, menjilat setiap nektar manis itu dengan lidahnya dan menelannya. Yeonjun hanya bisa mendesah dengan nakal, tanpa dia sadari, tangannya memainkan pentilnya sendiri, punggungnya melengkung seiring Soobin melahapnya hidup-hidup. "Bangsat Soobin...." Yeonjun menjabak rambut Soobin, berusaha menahan dirinya agar tidak menggila—yang tidak begitu membantu sebenarnya.

"Soo-Soobin, aku— AH!" Yeonjun berteriak saat dia orgasme di dalam mulut Soobin—membanjiri mulut si jangkung dengan cairan kental dan sedikit pipisnya yang bocor. Soobin menelan setiap tetes cairan yang dimuncratkan oleh memek Yeonjun, menjilat bibirnya dengan senyuman yang puas.

Soobin naik ke atas tempat tidur itu dan melihat kondisi Yeonjun yang sudah berantakan hanya dari lidahnya. Nafas Yeonjun memburu, dadanya naik dan turun dengan cepat, wajahnya memerah, dan rambutnya yang berantakan kini menempel di dahinya karena basah oleh keringat.

Soobin terkekeh sebelum membuka kausnya, satu-satunya kain yang tersisa di tubuhnya.

"Aku bahkan belum menggunakan kontolku...." Kata Sobin mencubit-cubit klitoris Yeonjun, membuat si lonte melonjak karena baru saja orgasme. Soobin membungkuk ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah Yeonjun, "Masih mau gue entot ga?" Tanya Soobin, dia sudah kehilangan kata-kata sopannya. Soobin yang dihadapan Yeonjun sekarang adalah seorang maniak dalam sex yang suka membuat partner sex nya pingsan.

Dan Yeonjun menyadari perubahan itu, rasa laparnya meninggi.

"Entot gue, hamilin gue pake kontol jumbo lu itu...." Kata Yeonjun sambil menggesekkan memeknya ke kontol Soobin yang masih keras seperti kayu jati. Soobin menyeringai, pandangannya menggelap saat melihat Yeonjun yang sange dengan kontolnya. Soobin kemudian membuka lebar kaki Yeonjun dan menarik rantai yang terikat di choker Yeonjun, "Kalau gitu, kita main sampai lu teler...." Kata bisik Soobin di depan wajah Yeonjun.

Yeonjun merinding mendengar itu, perubahan 180 derajat si jangkung membuatnya semakin becek. Tapi, belum selesai dengan kesenangannya, Yeonjun harus teriak—Punggungnya melengkung tinggi ketika dia merasakan sesuatu yang besar memasuki lubang kenikmatannya dengan kasar dan langsung menabrak dinding uterusnya, membuat tubuhnya mengejang, dia kembali orgasme hanya dengan Soobin memasukkan kontolnya ke dalam memeknya.

Soobin mengerang ketika dia dia merasakan pijatan otot rahim Yeonjun di kontolnya, memek Yeonjun yang orgasme membuat lubang itu semakin sempit. Soobin terkekeh, “Belom gue genjot padahal….” Kata Soobin bertumpu di sokunya, menempelkan dadanya ke dada Yeonjun yang naik turun dengan cepat. “Kontol lu kegedean bangsat… langsung mentok tadi,” kata Yeonjun menatap mata si jangkung sambil terengah, dia merasa sangat penuh di bawah sana.

Soobin mengelap dahi Yeonjun, menyeka rambutnya yang menempel karena keringat sebelum menangkap mulut si lonte dengan mulutnya, memberikan Yeonjun ciuman yang dalam dan posesif. Lidah Soobin menguasai setiap inci rongga mulut Yeonjun, mengabsen barusan giginya dan mengajak lidah si lonte menari dengan panas.

Dalam ciuman yang panas itu, mulai Soobin menggerakkan pinggulnya, memompa kontolnya di dalam tubuh Yeonjun. Yeonjun mendesah di tengah ciuman mereka.

Soobin mulai dengan gerakan pelan, tapi setelah sepuluh hentakan pelan, Soobin langsung mempercepat pinggulnya, membuat Yeonjun terbelalak dengan gerakan yang liar secara tiba-tiba di dalam tubuhnya. Yeonjun melepas ciumannya untuk berteriak, mendesah, merengek seiring dengan gerakan kontol oobin di dalam memeknya.

"Ah! Anjing! Mantap banget Soob— AH!" Racau Yeonjun sebelum Soobin mengarahkan mulutnya ke leher Yeonjun dan memberinya beberapa ciuman, meninggalkan bekas keunguan di sana.Yeonjun menjambak rambut Soobin, menerima setiap genjotan Soobin yang mengguncang dirinya dan kasur tempat mereka ngentot.

"Fuck..." Soobin mengerang, gerakannya semakin cepat karena orgasme yang mendekat. "AH!" Soobin menekan kontolnya lebih dalam di dalam memek Yeonjun, melepaskan oragmenya di dalam, memenuhi rahim Yeonjun dengan spera putih kental. Yeonjun sekali lagi mengalami orgame saat merasakan Soobin menekan dinding uterus sambil melepaskan carian hangatnya di dalam. Lidah Yeonjun terjulur, mata juling.

Keduanya terengah saat orgasme keudanya mulai mereda. Soobin kembali duduk tegak dan melihat kondisi Yeonjun yang kacau. Dia menengok ke bawah dan melihat perut Yeonjun yang sedikit mengembang karena sperma Soobin yang memenuhi rahimnya dan kontol jumbonya yang masih tertanam di dalam. "Lihat itu...." Kata Soobin sambil mengusap benjolan di perut Yeonjun, dia bisa merasakan kontol kerasnya dari jendolan itu, "Kau sudah terlihat seperti sedang hamil..." kata Soobin sambil menatap wajah merah Yeonjun. Yeonjun merengek ketika Soobin melakukan itu.

Soobin kemudian melihat ke arah tembok yang dipenuhi mainan itu, seringai lebar muncul di wajahnya.

Soobin kemudian menarik kontolnya keluar dari memek Yeonjun, membuat si lonte merengek karena merasa kosong di dalam—dia bisa merasakan rasa dingin dari AC di ruangan itu menggaruk bagian dalam lubangnya yang banjir dan menganga setelah Soobin merojoknya.

Soobin berjalan ke arah kumpulan mainan itu dan mengambil dildo terbesar yang dia lihat dan sebuah vibrator kabel sebelum berjalan kembali ke arah Yeonjun.

"Mari kita coba mainan-mainan ini ya?" kata Soobin sambil menunjukkan dildo yang dia ambil ke Yeonjun. Yeonjun menyeringai, "About time...." Kata Yeonjun melebarkan kembali pahanya, membuat sperma Soobin mengalir keluar dari memeknya seperti sungai. Soobin menyeringai dan langsung memasukkan dildo—yang tidak jauh berbeda ukurannya dengan kontolnya— ke dalam memek Yeonjun yang sudah menganga dengan cepat, membuat Yeonjun berteriak cukup keras. "Anjing..." Yeonjun menggeliat ketika kontol plastik itu bersarang di memeknya. Yeonjun menghela panjang, ukurannya memang tidak sebesar kontol Soobin, tapi cukup untuk memenuhi memeknya, ditambah dengan sperma Soobin yang masih menggenang di dalam rahimnya cukup untuk membuatnya sangat penuh.

Soobin kemudian sedikit memaju mundurkan dildo itu sedikit sebelum membiarkannya di dalam memek Yeonjun sejenak. Soobin kemudian mengaktifkan vinratornya dan menempelkannya ke itil Yeonjun dan mengusaknya, membuat Yeonjun mendesah kencang. Kepala Yeonjun pusing, memeknya penu dengan dildo dan itilnya digelitik oleh vibrator.

Vibrator yang dipegang Soobin mulai basah oleh cairan Yeonjun yang keluar dari memeknya. Setelah seluruh vibrator itu sudah terlumuri oleh cairan, Soobin mematikan vibrator itu sebelum memasukkannya ke dalam lubang kencing Yeonjun. Yeonjun terengah, punggungnya melengkung ketika lubang kencingnya ditembus oleh sebuah benda—yang dia tidak tahu kalau itu dapat dilakukan. "Lu masukin kemana anjing?" Tanya Yeonjun mengangkat kepalanya agar bisa melihat Soobin yang memegang remot berkabel yang tersambung ke vibratornya. "Ke lubang kedua lu," kata Soobin sebelum menyalakan vibrator itu ke mode maksimal, membuat Yeonjun berteriak, merasakan getaran yang sangat menggelitik lubang kencingnya, sensasi yang bekum pernah dia rasakan. Yeonjun menggeliat hebat karena kewalahan dengan sensasi enak yang membanjiri dirinya. "AH! Anjing!" Yeonjun orgasme sekali lagi, tapi kali ini, air kencingnya juga ikut keluar karena lubang kencingnya yang diisi vibrator.

Nafas Yeonjun terengah, tapi dia melihat Soobin seperti tidak mendekati kata selesai. Yeonjun menyeringai, dia tahu ini akan terjadi. Yeonjun mendengar banyak cerita dari lonte yang pernah dipakai oleh Soobin, pria itu benar-benar maniak dan tidak akan meninggalkan 'mainannya' sampai dia puas.

Aku menemukan lawan main yang gila... benar-benar hewan liar pikir Yeonjun

Soobin tidak langsung mematikan vibrator itu setelah Yeonjun mengalami orgasme yang hebat.

Soobin kemudian mengangkat kaki Yeonjun dan meluruskan kontolnya yang masih tegang ke lubang Yeonjun, tapi Soobin tidak mengarahkan kontolnya ke memek Yeonjun—yang masih diisi oleh sebuah dildo. Soobin mengarahkan kontolnya ke lubang pantat Yeonjun. Soobin meratakan cairan memek Yeonjun—yang bercampur dengan spermanya—yang mengalir keluar dari memek Yeonjun ke seluruh lubang pantatnya. Yeonjun mengangkat kepalanya saat merasakan kepala kontol Soobin mencoba menembus pantatnya, tapi dia terlalu lemas—setelah orgasme hebat itu—untuk protes.

Secara perlahan, kontol Soobin berhasil menembus lubang pantat Yeonjun yang belum pernah tersentuh. Yeonjun menarik nafas dengan kasar saat kepala kontol Soobin berhasil menembus lubang belakangnya—sementara dua lubang depannya sudah dipenuhi dildo dan vibrator. Lenguhan panjang keluar dari mulut Yeonjun ketika Soobin mendorong kontolnya lebih dalam. Soobin bisa merasakan dia bergesekan dengan dildo yang berada di dalam memeknya Yeonjun, membuatnya mengerang karena dildo itu membuat pantat Yeonjun semakin sempit.

Soobin mulai menggerakkan pinggulnya, memompa kontolnya di dalam pantat Yeonjun. Yeonjun bisa merasakan dildo yang berada di dalam memeknya ikut bergerak seiring dengan gerakan pinggul Soobin. Yeonjun kembali orgasme karena penetrasi di kedua lobangnya dan vibrator di lubang kencingnya membuat Yeonjun menyemprotkan air kencingnya.

Soobin mempercepat pergerakkan pinggulnya sebelum menghentak kencang dan orgasme di dalam perut Yeonjun.

Yeonjun merasa sangat penuh. Dildo di dalam memeknya—yang menahan sperma Soobin dan cairan memeknya sendiri, dan sekarang sperma Soobin memenuhi pantat dan perutnya, dia sudah resmi jadi pembuangan sperma bagi Soobin.

Soobin kemudian mengeluarkan dildo itu dari memek Yeonjun dan kontolnya dari pantat Yeonjun secara bersamaan, membuat Yeonjun merengek karena kekosongan yang dia rasakan di kedua lubangnya, meskipun lubang kencingnya masih diisi oleh vibrator.

"Nungging," hanya itu yang keluar dari mulut Soobin. Tanpa bicara, Yeonjun membalik tubuhnya dan mengambil posisi seperti anjing, menggoyangkan pantatnya ke arah Soobin—seakan sebuah undangan untuk Soobin memakai lubangnya yang sudah becek itu lagi.

Soobin kemudian memposisikan dirinya di belakang Yeonjun, mengucek memek Yeonjun dengan kontolnya—membuat si empunya melenguh—sebelum dia mendorong masuk kontolnya ke dalam memek Yeonjun dan langsung memompanya. Yeonjun mendesah kencang, dia mendongak sambil lidahnya terjulur keluar seperti anjing tengah dikawini.

Tapi Soobin memiliki hal lain di pikirannya. Melihat lubang pantat Yeonjun yang menganga dan mengalirkan spermanya seperti keran bocor membuat pikiran jahat Soobin untuk muncul ke permukaan. Soobin menggerakkan satu tangannya ke lubang pantat Yeonjun dan meraba lubang yang menganga itu dengan lembut sejenak sebelum memasukkan seluruh tangannya dengan paksa ke dalam lubang pantat Yeonjun—spermanya yang masih berada di dalam pantat Yeonjun benar-benar membantu mempermudah penetrasinya. Yeonjun yang merasakan penetrasi yang kasar itu langsung berteriak, punggungnya melengkung dan secara tidak sadar mendorong tubuhnya ke arah Soobin, membuat tangan Soobin masuk lebih dalam ke dalam lubang pantat Yeonjun.

Soobin tidak membiarkan Yeonjun terbiasa dahulu dengan tangan raksasanya. Dia langsung menggerakkan tangannya di dalam lubang pantat Yeonjun, beriringan dengan kontolnya yang bergerak di dalam memek Yeonjun.

"FUCK! Anjing! hah... hah...." nafas Yeonjun memburu dengan dua penetrasi itu, dia meracau banyak hal, tapi tidak terdengar jelas karena lidahnya kering.

Sementara Soobin menyeringai senang melihat mainannya yang sudah kacau, dia yakin otak Yeonjun hampir mencair karena nafsunya yang sudah tidak terbendung dari penetrasi yang Soobin merikan.

Soobin bisa merasakan memek dan lubang pantat Yeonjun menyempit beberapa kali, menghimpit tangan dan kontolnya yang berada di dalam.

Sesuatu terbesit di dalam kepala Soobin ketika tangannya bisa merasakan pergerakan kontolnya di memek Yeonjun. Soobin kemudian menghentikan pergerakan tangannya di pantat Yeonjun—tanpa menghentikan kontolnya—sebelum membuka tangannya dan mencengkram kontolnya dari dalam pantat Yeonjun, membuat memek Yeonjun menjadi lebih sempit.

Yeonjun tersentak ketika Soobin melakukan itu, pantatnya terasa terbakar, tapi sensasi itu malah membuat Yeonjun orgasme. "Bangsat! lu apain pantat gue?!" Teriak Yeonjun, tapi Soobin hanya tersenyum sebelum memacu lagi kontolnya, menghajar dinding uterus Yeonjun dengan brutal.

Tangan Yeonjun menyerah, dia terjatuh di atas kasur dengan kedua lubangnya di hajar dari dalam oleh si jangkung maniak itu, dia hanya bisa pasrah ketika Sopbin sudah benar-benar tidak melihat Yeonjun sebagai manusia, dia hanya mainannya saat ini.

Soobin mengerang, gerakan pinggulnya semakin kacau, orgasmenya semakin dekat. Soobin mempererat cengkramannya di kontolnya, membuat memek Yeonjun lebih ketat lagi. Yeonjun merengek, tenggorokannya kering karea mendesah tanpa henti sebelum mereka berdua orgasme secara bersamaaan.

Soobon sekali lagi mengisi rahim steril Yeonjun dengan spermanya.

Keduanya terengah. Pandangan Yeonjun sudah sangat buram, dia hampir pingsan, sebuah murni keajaiban dia bisa mempertahankan kewarasan dan kesadarannya sampai sekarang.

Soobin dengan perlahan menarik tangannya keluar dari pantat Yeonjun, ada sedikit darah di ujung kukunya, tapi dia hanya tersenyum melihat itu, sebelum dia menarik keluar kontolnya dari memek Yeonjun, membuat sperma dan cairan memek Yeonjun mengalir deras keluar dari rahim Yeonjun.

Yeonjun terjatuh seketika ke kasur setalh Soobin mengeluarkan kontolnya, tubuhnya lemas, ini seks tergila yang pernah dia alami—tapi ini Soobin, jadi dia sudah berekspetasi.

Soobin memutar tubuh lemas Yeonjun dan melihat hasil karyanya.

"Lihat dirimu... benar-benar berantakan... dasar lonte," kata Soobin sambil menarik keluar vibrator yang ada di lubang kencing Yeonjun. Yeonjun terkekeh lemah, tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, dia sudah tidak bisa berfikir apa-apa lagi sekarang. Soobin terkekeh sebelum berbaring di samping Yeonjun dan memutar Yeonjun agar menghadap ke arahnya.

"Jarang ada yang masih bangun setelah aku selesai main," kata Soobin mengusap rambut Yeonjun yang menempel di dahinya. Yeonjun terkekeh, "Ini juga gue udah lemes," katanya dengan suara serak karena terus-terusan mendesah.

Soobin tersenyum, "Tapi maaf ya Yeonjun...." Kata Soobin sebelum memasukkan kepalan tangannya ke dalam memek Yeonjun. Yeonjun langsung terengap ketika merasakan penetrasi tiba-tiba itu, "Tu—tunggu— Soobin!" Teriak Yeonjun, dia tidak siap dengan penetrasi itu. Tapi Soobin tidak mendengarkna, dia mengobok-ngobok memek Yeonjun yang udah penuh dengan spermanya itu, membuat si lonte menggeliat hebat. Tangan Yeonjun menjabak rambut dan mencakar dada Soobin cukup keras.

Yeonjun orgasme lagi, dan orgasme itu langsung menguras tenaganya yang terakhir. Dengan nafas terengah dan mata sayu, dia menatap ke arah Soobin, "Anak anjing..." itu yang terakhir diucapkan Yeonjun sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.

Soobin tersenyum sebelum mengeluarkan tangannya dari memek Yeonjun, dia menjilat cairan yang sudah bercampur-campur itu hingga bersih dari tangannya sebelum mengusap rambut Yeonjun, "Selamat tidur Yeonjun, mainan baruku," ucap Soobin sebelum menarik Yeonjun ke pelukannya dan terlelap di kasur itu.

Dan karena itu, manager Sugar Rush Heaven harus menarik biaya menginap ke Soobin—yang sebenarnya tidak masalah juga bagi orang kaya seperti Soobin. Selain itu, Soobin juga membeli kontrak Yeonjun dari si manager club agar dia bisa menikmati lubang Yeonjun setiap malam tanpa henti.

"Lu beneran beli dia hyung?" Tanya Beomgyu yang melihat Yeonjun yang masih tertidur di mobil Soobin. "Yah..." jawab Soobin berkacak pinggang, "Belum pernah ada yang bisa mengimbangi permainanku di kasur— dia yang pertama," jelas Soobin sambil menatap Yeonjun yang terlelap. Otaknya sudah diisi berbagai macam skenario yang akan dia lakukan kepada Yeonjun setiap malam, dia ingin tahu sampai berapa lama Yeonjun akan bertahan sebelum dia rusak sepenuhnya.