Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-03
Words:
2,096
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
196
Bookmarks:
10
Hits:
5,831

sedotan_mantap_tukang_jamu.mp4

Summary:

Arjuna adalah seorang tukang jamu yang dikenal di Desa Jagat. Selain jamu, ternyata ia seringkali menjual sesuatu yang bersifat terbatas karena tidak banyak orang yang tahu apa yang dijual oleh dirinya.

Notes:

find me on x : @carcualatte

Work Text:

Seperti hari biasa, Arjuna sedang berkeliling di desa jagat. Seperti biasa, dirinya mengendarai sepeda motor untuk membawa perlengkapannya dalam menjual jamu. Sesekali, dirinya berhenti untuk menyapa para tetangga dan melayani pelanggan yang ingin membeli, terkadang ia pun berhenti hanya sekedar menyapa para ibu-ibu yang senantiasa bergosip di dekat balai desa, dari situ pula terkadang Arjuna mendapatkan pelanggan dari beberapa warga yang melewati tempat tersebut. 

 

Warga di desa jagat menyukai jamu yang dibuat Arjuna tanpa terkecuali. Wajar sekali apabila para warga dapat melihat sosok Arjuna yang diundang setiap warga sedang melaksanakan hajatan atau semacamnya. Maka dari itu, tak heran jika para warga dapat melihat sepeda motor milik Arjuna terparkir di halaman rumah milik sepasang tuan kembar, Nakula dan Sadewa yang dikenal sebagai anak dari ketua Pak RT. 

 

Walau tidak ada yang bisa membayangkan apa yang terjadi di balik pintu tersebut. 

 

Tubuh Arjuna terbaring di atas dada Nakula dengan posisi bertelanjang dada. Kedua pahanya terbuka dengan lebar–di depan wajah kakak tertua dari sang kembar–Sadewa yang sudah sibuk menyapa vagina milik sang tuan yang sudah berlumuran dengan lendirnya. Melihat pemandangan di antara kedua pahanya, Arjuna pun sibuk menutup matanya karena merasa nikmatnya terbalut dengan rasa malunya. 

 

“Arjuna sayang, jangan malu-malu gitu… Kan katanya tadi mau dijilatin memeknya, kenapa sembunyi gitu, hm? Muka cantiknya mana?” Goda Sadewa yang mulai menggesekkan kedua jarinya untuk melakukan pergerakan memijat vaginanya perlahan untuk memberikan sensasi geli-geli yang membuat tubuh sang empu bergelinjangan tanpa karuan. 

 

Desahannya halus, namun tubuhnya tidak kian berhenti bergerak karena kedua jari Nakula yang sibuk memainkan pentilnya yang mulai memerah karena saking seringnya diberikan cubitan dan kasih oleh mereka. Walau begitu, Arjuna tahu betul untuk tidak banyak berulah karena mereka memang berani untuk membayar lebih akan kenikmatan ini, jadi dirinya juga tidak pernah masalah harus melayani keduanya. 

 

Setelah dirasa cukup basah, Sadewa pun kembali menarik paha Arjuna untuk melebar–dimana ia bisa melihat vaginanya sebagai pemandangan yang cukup indah–bohong apabila Nakula juga tidak semangat untuk melihat belahan kemaluan sang tuan tersebut. Karena tidak sabar, Sadewa akhirnya menurunkan kepalanya untuk menyapa vagina milik Arjuna dengan lidahnya. Dibawanya paha montok tersebut melingkari kepalanya sementara bibirnya sibuk bekerja untuk menjilat vagina sempit tersebut. 

 

“Eunghh… Hahhhh…” Suara desahan milik Arjuna pun makin jadi seiring dengan Sadewa yang sibuk menjilati area vaginanya. 

 

Jilatan pada vagina itu akhirnya dilahap dengan rakus oleh Sadewa, kedua matanya yang tajam menatap ke arah Arjuna dengan muka sayunya, lidahnya bergerak dengan hebat di dalam untuk merasakan seisi vagina ketat milik sang tuan untuk menghisapnya, memberikan kenikmatan berlebih untuk Arjuna.

 

“Enak, sayang? Cantiknya mas, enak yah memeknya dihisap gini, hm? Udah banjir banget memek kamu, cantik… Slrrrphh…” Suara hisapan Sadewa juga membuat Arjuna pusing tidak karuan. 

 

Disela itu, Nakula pun sibuk memelintir dan sesekali menggesekkan pentil milik Arjuna. Kepala tuan berambut biru muda itu juga sempat-sempatnya bergerak untuk menghisap pentil yang kian memerah bak wajahnya yang sudah mirip kepiting rebus itu, membuat Arjuna tidak berhenti bergelinjang di atas kasur king size itu. 

 

“Pentilnya makin centil aja, tegangnya gampang banget jadi jiplak gitu… Sengaja ya Jun biar bisa goda pengamen sama satpam desa juga ya, hm?” Goda Nakula, menimpali. Karena betul adanya bahwa Arjuna sering kali menghampiri balai pengamanan desa untuk bermalam disana, memuaskan orang-orang yang berada disana. 

 

“Ahhhh… Haahhh… Mmmhh… Mas Sadew—Nghhh… Haahhh… Mau keluarr… Sshhh…”

 

Hisapan Sadewa pada vagina dan hisapan Nakula pada pentil milik Arjuna membuatnya makin gila—ia dapat merasakan pahanya pun mulai basah karena aliran cairan vaginanya yang kian menetes—bahkan dari ujung bibir tuan yang berambut kuning itu karena ia baru saja mengeluarkan cairannya. 

 

Sadewa memberhentikan hisapannya tersebut dan mulai menatap ke arah Arjuna. Bukannya mengatakan sepatah kata, tangannya mulai menampar klitoris serta vagina sang tuan berkali-kali hingga tubuhnya mengejang tak karuan sambil menyemprotkan lendir kemaluan serta kencingnya secara asal hingga membuatnya malu untuk menatap keduanya. 

 

Melihat pemandangan Arjuna yang sudah berantakan serta penuh keringat membuat kembaran tersebut melirik dengan senang. Mereka sangat suka melihat perawakan Arjuna yang sudah setengah mampus, padahal baru saja diberikan foreplay yang tidak seberapa itu, dan bisa-bisanya sang tuan sudah kewalahan. Bagaimana saat digempur? Wajahnya mungkin akan lebih cantik dari yang dibayangkan. 

 

Setelah Arjuna keluar, Nakula pun memposisikan tubuh tuan yang melemas itu di atas kasur–dibuatnya terlentang–agar kepalanya bisa bersandar di atas bantal empuk. Selanjutnya, kedua tuan tersebut membuka baju serta celananya, menelanjangkan dirinya sebagaimana Arjuna sudah ditelanjangkan sebelumnya. Pemandangan batang kemaluan yang sama-sama besar membuat yang terbaring di atas kasur merasa sangat bersemangat. Ia membayangkan bagaimana batang kemaluan tersebut dapat mengisi baik lubang vagina dan juga analnya hingga penuh. Tidak lupa dengan hentakan mereka yang tidak kalah kerasnya. 

 

Tentu, bukannya itu duluan yang mereka lakukan–melainkan keduanya memposisikan diri mereka untuk mendekati wajah Arjuna–tak lupa mereka mengarahkan batang kemaluannya di atas wajah sang tuan yang sudah mulai membuka mulutnya, seakan meminta untuk menghisap kedua batang kemaluan itu segera. Arjuna pun mendekatkan dirinya kepada batang kemaluan milik Nakula, ditengah ia yang berusaha untuk menghisapnya, Arjuna sibuk memberinya jilatan-jilatan manis di ujung kepala batang kemaluannya, sementara Sadewa dibiarkan menggesekkan batang kemaluannya di area pipinya. 

 

Batang kemaluan milik sang tuan juga mulai dihujani dengan sedikit ciuman dan jilatan, kedua netra milik Arjuna sibuk menatap Nakula dengan wajah yang manis dan menggoda—membuat sensasi hisapan pada batang kemaluannya bertambah nikmat seiring waktu—bahkan membuat sang empu mendesah dalam kenikmatannya. Sadewa pun jadi tidak mau kalah, tangannya mulai mengelus batang kemaluannya sambil menatap ke arah wajah Arjuna yang sibuk mengulum batang kemaluan milik Nakula.

 

“Sssshhh… Enak banget sayangh… Enak ya disodorin dua kontol gini? Suka?” Goda Nakula sambil makin mengisi mulut Arjuna dengan batang kemaluannya yang cenderung lebih panjang, berkebalikan dengan milik Sadewa yang lebih tebal dan berurat. Kulumannya pun makin kuat hingga membuat Nakula mulai memegangi kepalanya agar lebih dalam menghisap batang kemaluannya tersebut.

 

“Mhmmm… Hmppph…” Tentu saja Arjuna tidak dapat menyuarakan pikirannya, ia sudah dimabuk oleh sensasi kedua batang kemaluan yang ada di hadapannya. Mulutnya yang mulai penuh malah tampak cantik di hadapan kedua tuan tersebut, bahkan Sadewa pun makin cepat mengocok batang kemaluannya di depan muka milik Arjuna. Nikmat sekali semuanya dirasakan oleh ketiga orang tersebut. 

 

Semakin dalam batang kemaluan itu masuk ke dalam, semakin nikmat juga Nakula menikmati rongga mulut milik Arjuna yang semakin lama mengetat. Ia pun mendesis karena merasa kenikmatan, hingga akhirnya batang kemaluan yang sudah makin membesar dan memuncratkan pejuhnya di dalam mulutnya–memaksa Arjuna untuk menelan seluruhnya–sementara Sadewa melukis wajah Arjuna dengan pejuhnya. 

 

Arjuna pun tentu kewalahan dengan banyaknya pejuh yang ia terima, wajahnya kewalahan dan memerah, tubuhnya pun terasa sangat lemas di atas kasur. Sadewa pun memposisikan dirinya untuk duduk bersandar pada dipan kasur–sementara Nakula membantu tubuh Arjuna untuk menduduki paha sang kembaran–membiarkan tubuhnya menatap ke arah Sadewa. Tatapan Arjuna sayu, seakan menggoda Sadewa–seksi sekali ditatapnya wajah manis tersebut–yang kian menggoda tuan kembar tersebut. 

 

Tangan Sadewa pun memegang kedua pinggang Arjuna, dengan segera pula ia memposisikan batang kemaluannya kepada vagina milik sang tuan. Dengan perlahan tapi pasti, Sadewa membenamkan batang kemaluannya ke dalam hingga tubuh Arjuna pun kembali mengejang karena sensasi kenikmatan yang lebih. Arjuna pun langsung memegang erat tubuh Sadewa, giginya sibuk menggigit bibirnya seiring batang kemaluannya terbenam makin dalam. 

 

Fuuuuck… Memek kamu enak banget sayang, legit banget sempitnya… Kayak jarang dipake gini Jun, perasaan minggu kemaren dipake…” Komentar Sadewa. 

 

“Pinter berarti, kalau gak ada kita memeknya ga dikobelin. Lagian, kenapa sih gak mau nikah aja sama kita, hm? Gak usah jadi tukang jamu, kerja aja buat muasin kita, jadi istrinya Sadewa, dapat uang juga.” Timpal Nakula. 

 

Ditengah erangannya, sempat-sempatnya Sadewa membalas, “kalau dia gitu, kita gabisa liat memeknya diisi peju cowok lain terus kita bersihin dan isi memeknya lagi. Gak asik kalau badan semontok dia gak dimainin cowok lain, sayang banget.” Nakula hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan kembarannya tersebut. 

 

Batang kemaluan milik Sadewa pun akhirnya masuk dengan sempurna, genggaman Arjuna pada tubuh Sadewa pun makin erat–membuatnya mengerang dengan hebat. Bulir keringat yang turun pun membuat sang tuan terlihat tambah seksi, membuat Nakula mulai mengangkat kedua lengan sang tuan–ia pun mulai duduk menghadap ke arah punggung Arjuna–lalu dirinya mulai menjilati ketiak sang tuan tanpa rasa jijik, sehingga empunya mulai mengerang tanpa karuan ditengah vaginanya yang masih sibuk merasakan tebalnya kemaluan milik Sadewa. 

 

Tak lama, Sadewa pun perlahan menggerakkan pinggulnya agar batang kemaluannya bergerak di dalam vagina milik Arjuna. Gerakan tersebut otomatis membuat tubuhnya merasa sangat di mabuk kepayang, nikmat dan nafsu yang membara bercampur aduk hingga membuat kepalanya pusing. Hentakkan batang kemaluan milik Sadewa benar-benar membuatnya kesakitan bercampur nikmat, semuanya sangat-sangat berantakan hingga Arjuna merasa dirinya teler dan nyaris pingsan.

 

Nakula yang sedari tadi menciumi dan menjilati ketiaknya pun jadi tak sabaran, ia juga ingin melesakkan batang kemaluannya ke dalam vagina milik sang tuan. Melihat sang kembaran yang mulai menunjukkan sedikit aba-aba membuat Sadewa mulai menarik pantat Arjuna untuk sedikit naik di tengah peraduan kelamin miliknya dan Arjuna. Pergerakannya pun berhenti agar tidak langsung menyakiti Arjuna. 

 

Batang kemaluan Nakula pun mulai diposisikan di dalam liang vagina milik Arjuna secara perlahan, enggan menunggu agar Sadewa mengeluarkan miliknya. Perlahan, batang kemaluan yang cenderung panjang itu membenam ke dalam vaginanya–hingga membuat Arjuna mengerang makin keras–sehingga vaginanya mengetat saking pusingnya ia merasakan kenikmatan. 

 

Tubuh Arjuna pun bergetar dengan hebat merasakan ini semua. Mengejang disertai vaginanya yang kian menyempit dan menghimpit batang kemaluan kedua tuan itu. 

 

“Wah anjing… Memeknya bisa begini ternyata, enak ya Jun disumpel dua kontol gini? Suka?” Ledek Sadewa sambil menciumi telinga milik Arjuna yang membuat sang empu mengerang tak karuan, Nakula hanya terkekeh mendengarnya sambil memainkan pentilnya yang terus menerus menegang. 

 

“Eungh… Enak—haahhh… Fuck, enak banget masshh…” Erang Arjuna dengan asal disaat vaginanya kian melebar seiring pinggul Sadewa dan Nakula mulai bergerak untuk menghentakkan batang kemaluannya ke dalam. Keduanya bergerak secara bergantian dengan Sadewa yang mengambil alih pergerakan tersebut. 

 

Ketiganya mengerang dengan bersaut-sautan dengan rasa nikmat yang seluruhnya tak terbendung. Erangan Arjuna menjadi suara indah bagi keduanya, menghiasi heningnya ruang kamar tersebut tanpa henti, bahkan membuat mereka dengan semangat terus-menerus menghentakkan batang kemaluannya pada vagina milik sang tuan. 

 

Dengan friksi yang kian tak berhenti dan membuat dirinya pusing, Arjuna pun sibuk mengerang karena ia merasa ia akan keluar. Bagaimana tidak? Pergerakan pada vaginanya semakin cepat, menekan rahimnya di tengah kantung kemihnya yang mulai ditekan pula oleh Nakula. Ia tidak lagi bisa santai dan kian mengejangkan tubuhnya, bulir keringat akhirnya mulai menyelimuti ketiga tuan itu sehingga tubuh mereka semakin lengket karenanya. 

 

“Hhahhh… Massh… Aku mau keluarhh… Eummmh… Mau pipisssh…” Erang Arjuna dengan kepalanya yang sibuk disandarkan pada leher Nakula. Mendengar erangan itu membuat Sadewa mengerang dengan hebat, ia benar-benar merasakan bahwa Arjuna juga tidak lagi kuat karena semakin sempitnya vagina tersebut mengeratkan pegangannya pada keduanya. 

 

“Sabar ya cantik… Sebentar lagi– Akhhh, Jun… Bentar lagi ya sayangh…” Ujar Sadewa sambil menggerakkan pinggulnya untuk mengejar kenikmatannya. 

 

Tentu saja, Nakula tidak ingin kalah juga. Tangannya sibuk memijat kantung kemih Arjuna sambil terus menghentakkan kemaluannya hingga pusing. “Mmmh… Fuck… Kalau kayak gini harusnya kamu mah udah hamil Jun… Tahan ya sayang… Bentar lagi kita isi memeknya… Rahimnya biar anget…”

 

Arjuna pun mulai mengerang tak karuan, tubuhnya mengejang dengan hebat tanpa permisi hingga ia langsung memuncratkan lendirnya serta kencing yang tiba-tiba membasahi peraduan kelamin ketiganya, membuat sosok Arjuna langsung melemah. Ia tidak kuat merasakan nikmat yang tidak bisa ia bendung itu, pusing sekali dirasanya. 

 

Mendapati tubuh Arjuna yang melemas, kedua tuan kembar itu akhirnya sibuk merojok dan menggunakan tubuhnya bak boneka seks untuk mengejar putihnya. Hingga akhirnya tubuhnya pun dilukiskan dengan peju di dalam rahim hingga di atas wajahnya yang cantik, bahkan lentiknya bulu matanya pun terlihat sangat menggoda saat ditutupi oleh peju tersebut. Arjuna pun otomatis pingsan setelah merasakan keduanya. 

 

 

Arjuna pun terbangun dengan kondisi rapi, tubunya seakan sudah dibersihkan, bahkan bajunya juga wangi. Ia tahu betul ini adalah perlakuan Nakula yang memang sangat perhatian padanya, enggan meninggalkan sosok Arjuna sembarangan karena ia tahu bahwa sosok itu berhak diberikan kasih sayang, tidak hanya digunakan bak boneka seks mereka.

 

Setelah dirasa kuat, Arjuna tentu tidak ingin beristirahat lebih lama. Ia pun keluar dari kamar tersebut.

 

“Lho, udah mau cabut kamu neng?” Tanya Sadewa yang sudah bekerja di depan komputernya, sementara Nakula sibuk membaca buku. 

 

Arjuna menganggukkan kepalanya. “Iya mas, mau keliling lagi. Terima kasih ya mas.” 

 

“Oke, sama-sama ya Jun. Hati-hati di jalan nanti.” Sadewa pun menganggukan kepalanya, ia tahu betul untuk tidak menahan sosok tersebut. Toh, lamarannya saja ditolak, untuk apa dirinya berusaha untuk mencoba lagi?

 

Setelah itu, Arjuna pun keluar dari kediaman mereka dengan sepeda motornya untuk kembali berkeliling di sekitaran Desa Jagat. Di sela perjalanannya ia pun mulai berpikir, sepertinya malam ini ia ingin singgah sebentar di pos pengamanan desa untuk menemui si pengamen serta penjaga keamanan desa itu nanti.

 

BERSAMBUNG

 

BERSAMBUNG.