Actions

Work Header

Adore the way you tremble for me

Summary:

Reputasi Shen Wenlang sebagai prefek Ravenclaw sempurna tanpa cela. Namun, siapa yang menyangka di balik perawakannya yang penuh karisma itu, diam-diam ia senang membuat seorang Slytherin Gao Tu menangis tersedu-sedu hingga gemetar.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

 

------

[Adore the way you tremble for me]

Shen Wenlang x Gao Tu

LangTu // JiangLi oneshot hogwarts!AU

Written by Tehtiramisu.

♤ Rabu, 20 Mei 2026 ♤

Sebelumnya fanfict ini telah di-unggah di postingan Twitter/X, untuk akses linknya ada DI SINI

-----

 

-ooo-

cw // kissing, serta ada relasi kuasa antara yang lebih tua dengan yg lebih muda di mana satu pihak terlalu mendominasi pihak lain hingga ketakutan

CERITA INI HANYA FIKSI

Fanfict ini remake dari fanfict lamaku untuk otp kpop yang sebelumnya kutulis tahun 2021–2022, tentunya dengan pengubahan. Cerita ini mengadaptasi latar hogwarts!AU jadi mohon maaf apabila tidak sesuai dengan ekspektasi, ada kesalahan penggunaan istilah, atau malah membuat kalian kebingungan dengan istilah-istilah harpot yang ada di fanfict ini:”)))

Oh ya, di sini Wenlang lebih tua setahun dari Gao Tu, tapi tidak ada penggunaan honorifik yaa.

-ooo-

 

Apa yang ada di benak kalian setiap mendengar nama asrama Slytherin dan Ravenclaw?

Seperti sudah hal turun-temurun sejak dulu bahwa Slytherin selalu disangkut pautkan dengan hal yang licik dan manipulatif, serta kehidupan mereka yang cenderung mendalami sihir hitam. Berbeda dengan Ravenclaw yang terkenal dengan ketelitian dan kejeniusan otak mereka yang terlampau di atas rata-rata.

Namun, dari semua hal itu. Tetap saja terdapat segelintir orang, atau mari kita sebut lima belas persennya dari total keseluruhan bahwa pasti ada tipe orang yang berlawanan dari definisi asrama mereka masing-masing.

Sebagai contohnya adalah kisah antara kedua orang ini.

.

.

.

.

.

Bruk!

Senggolan keras yang terjadi itu membuat seseorang hampir saja terjatuh, jika saja orang yang sengaja disenggol itu tidak segera menggunakan tangan kirinya pada dinding di sampingnya sebagai tumpuan pelindung.

“Ups, apakah kau tidak bisa melihat? Dimana matamu freak?”

Pemuda yang menjadi korban tabrakan itu hanya balik menatap dengan datar. Justru hal itu malah membuat seseorang lain—yang bisa dibilang sebagai ketua—dalam sekumpulan orang yang menyenggol Gao Tu tadi melotot marah.

“Darah pengkhianat! Jangan berani-beraninya menatap kami seperti itu!”

Orang yang menghina itu sempat ingin melontarkan beberapa mantra penjebak pada Gao Tu. Namun, sang ketua beserta beberapa orang pengikutnya pun segera pergi dengan cepat begitu melihat kehadiran profesor yang tiba-tiba datang. Profesor Yufei adalah salah satu profesor yang memegang mata pelajaran ramuan, tapi beliau tampak terburu-buru melewatinya memasuki ruang kelas sehingga ia tidak menyadari bahwa Gao Tu sempat menyapa dengan gestur memberikan senyuman tipis padanya.

Pada akhirnya, Gao Tu hanya bisa mengedikkan bahunya tidak peduli.

Toh, sudah sering ia terlihat seperti kasat mata.

Gao Tu merupakan salah satu penyihir dari asrama Slytherin di Sekolah Sihir Hogwarts. Dia berbeda dari orang kebanyakan. Pada umumnya teman seasramamu pasti akan menjadi teman sekaligus keluarga untukmu selama tujuh tahun ke depan bersekolah di sini.

Namun, pada nyatanya, justru Gao Tu tertindas oleh teman asramanya sendiri. Dirinya disebut sebagai pemuda freak lantaran hanya ia satu-satunya orang dari asrama Slytherin yang tidak memuja ideologi darah murni yang agung.

Sebagai keturunan pure-blood yang juga merupakan bagian dari Slytherin, Gao Tu berbeda dari yang lain karena pemuda itu menolak keras pada ideologi ‘darah murni adalah segalanya’. Slytherin pada umumnya sangat menjunjung ideologi itu, tapi tidak dengan dirinya.

Kebanyakan yang menjauhinya adalah teman seangkatannya dan adik tingkat di bawahnya. Masih ada beberapa kakak tingkat yang meresponnya dengan biasa, meskipun tidak begitu hangat. Itulah perlakuan dari keluarga Slytherin padanya.

Sedangkan teman-temannya dari asrama lain memilih tidak ikut campur dengan urusan itu. Mereka tetap mengajak Gao Tu berteman, tapi hanya sedikit dari mereka yang benar-benar tulus berteman dengannya. Kebanyakan dari mereka juga tidak ada yang kuat dengan sifat Gao Tu yang cenderung aneh dan tidak jelas. Menurut mereka, Gao Tu selalu sibuk dengan pikirannya yang imajinatif dan tidak rasional, terutama ketika dalam kelas divination atau kelas ramalan. Kelas yang dianggap tidak penting, apalagi kalau harus mendengar Gao Tu yang kerap kali sering ditunjuk oleh profesor untuk menjelaskan ramalan ‘aneh’-nya.

Makanya, sematan nama 'pemuda freak dari Slytherin' untuknya itu diutarakan oleh anak-anak berbagai asrama. Namun, Gao Tu memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan hal itu.

Saat ini Gao Tu menginjakkan kaki di koridor ruangan bawah tanah, tempat dimana ruang kelas ramuan, asrama Hufflepuff, asrama Slytherin, dan berbagai ruangan lainnya berada. Pemuda itu menunggu kehadiran sahabat dekatnya, one and only, Shen Xifan dari asrama Ravenclaw.

Hanya Xifan yang rela bertahan dengan segala sifat Gao Tu yang sebagian besar orang bilang itu freak. Sedangkan Xifan sendiri menganggap bahwa Gao Tu itu keren, dikarenakan berani mengambil pilihan yang berbeda. Pertemuan pertama mereka berdua sebelum memasuki kereta, tepatnya ketika di peron 9 ¾ sangatlah cocok, hingga akhirnya mereka bisa bersahabat awet sejak tahun pertama bersekolah hingga kini.

“Tutu!”

Yang dipanggil segera menoleh dan tersenyum lebar begitu melihat kehadiran sahabatnya.

“Maaf menunggu lama.” Xifan berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah. Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal, “Tadi ada barangku yang tertinggal di kamar, tapi kamu tahu kan kata sandi untuk memasuki asramaku itu sulit? Harus membutuhkan waktu yang lama huft.

Gao Tu tertawa kecil. Kedua matanya membulat semakin besar dengan penuh binar lucu melihat tingkah laku sahabatnya. “Tapi kamu berhasil memecahkannya, kan?”

Setiap asrama tentunya memiliki kata kunci masing-masing untuk dapat memasuki asrama tersebut. Kata sandi tersebut akan berubah setiap tahunnya untuk asrama Slytherin, Gryffindor, dan Hufflepuff. 

Hanya Ravenclaw saja yang berbeda. Untuk dapat memasuki asrama tersebut, mereka harus menjawab teka-teki yang diberikan oleh penjaga burung elang yang menjaga di depan pintu. Teka-teki itu selalu berbeda setiap kali ada orang yang ingin memasuki asrama itu.

“Nggak bisa,” ujar Xifan dengan gelengan sebal. Bibirnya masih mengerucut lucu, “Otakku sudah keburu pusing. Beruntung ada Wenlang yang kebetulan datang juga dan menyelamatkanku.”

“Oh, si prefek itu?”

Xifan mengangguk.

Gao Tu ikut mengangguk paham. Keduanya pun kini berjalan beriringan menuju ruang kelas duel. Semacam mata pelajaran tambahan untuk siapapun yang ingin meningkatkan kemampuan pertahanan diri mereka.



-ooo-



Suatu hari, Gao Tu baru saja selesai dalam melakukan pertarungan di Klub Duel. Klub yang dirancang untuk para penyihir yang ingin menguatkan kemampuannya dalam bertarung sihir. Sayang sekali ia hanya bisa pergi sendirian, tidak ada Xifan yang bersamanya. Alhasil, selama mengikuti klub tersebut, Gao Tu beberapa kali terkena mantra penjebak oleh lawannya. Entah mengapa, setelah mengikuti klub tersebut malah membuat perasaannya menjadi buruk.

Awalnya kakinya ingin melangkah menuju ke Aula Besar, tapi melihat keadaan Aula Besar yang tampak padat di sore hari itu membuat Gao Tu memutar langkahnya ke arah lain. Pemuda itu ingin mencari ketenangan sejenak, jadi ia memutuskan untuk pergi ke menara astronomi. Ia tidak benar-benar pergi ke puncak atap menara, Gao Tu hanya pergi berjalan sampai ke anak-anak tangga menara itu. Gao Tu memutuskan untuk duduk bersantai di tangga seraya mengamati jendela di hadapannya yang menampilkan pemandangan awan indah di petang sore hari.

Manik hitamnya menatap ke satu titik dengan pikiran yang melamun. Saat ini Gao Tu merasa sendirian. Kesepian karena tidak ada kehadiran sahabatnya. 

Uhuk! Uhuk! Argh…”

Kelopak matanya mengerjap berulang kali. Mendadak tubuhnya menegak saat itu juga. Seketika ia tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara rintihan kesakitan yang tak begitu jauh darinya. Suara yang berhasil memecah keheningan di menara tersebut. Oh, apakah ada kehadiran orang lain di menara ini? batinnya bertanya-tanya.

Gao Tu segera bangkit berdiri ketika mendengar suara batuk kesakitan seseorang itu terdengar sekali lagi. Pikirannya menimang-nimang, apakah harus menghampirinya atau tidak. Namun, pada akhirnya, kakinya melangkah pelan menaiki beberapa anak tangga. Baru berjalan sebentar, Gao Tu mengintip kecil dari balik pilar besar ketika menemukan seseorang yang terlihat sedang berdiri meminum sesuatu dari botol ramuan. Tangan kanan orang itu bersandar pada dinding dengan tubuh yang gemetar. Entah ramuan apa yang diminum oleh laki-laki itu, tapi matanya refleks melotot terkejut begitu melihat tubuh laki-laki mencurigakan itu tiba-tiba ambruk.

Gao Tu segera melesat berlari menghampiri laki-laki itu. Tubuh laki-laki yang jatuh dengan posisi miring itu dibalik olehnya supaya Gao Tu bisa melihat wajahnya lebih jelas.

Oh, ini kan si prefek dari Ravenclaw itu…

Gao Tu sudah terbiasa melihat wajah laki-laki ini. Biasanya Shen Wenlang selalu menampilkan karismanya yang apik dan penuh wibawa. Kejeniusannya yang selalu dermawan dan tidak pilih-pilih pada orang lain itu selalu berhasil membawa suasana yang menenangkan untuk asrama Ravenclaw ketika semuanya sedang berkumpul di Aula Besar. Selain itu, penampilan memukau Wenlang dalam pertandingan quidditch juga membuatnya terbiasa mengamati wajahnya yang tampan ketika rambutnya berantakan diterpa oleh angin.

Namun, ini pertama kalinya Gao Tu mengamati wajah Shen Wenlang dari jarak sedekat ini. Wajahnya memang rupawan layaknya aristokrat yang sering Gao Tu dengar dalam dewa mitologi Yunani—cerita kesukaan ibunya. Hidungnya bangir dan garis rahangnya tegas, sesuai dengan ciri perawakannya yang merupakan bagian dari Klan Shen, salah satu klan darah murni yang sangat tersohor di kalangan penyihir.

Suara batuk disertai rintihan lemah pun kembali terdengar dari laki-laki itu. Gao Tu seketika tersadar dari kegiatannya mengagumi wajah Wenlang. Lantas tanpa ragu, tangannya bergerak meraih punggung Wenlang untuk bersandar di pahanya. Secara perlahan, tangannya menepuk pipi kanan Wenlang dengan lembut, berusaha membangunkannya. Sayangnya, kelopak mata laki-laki itu masih terpejam kuat.

Sebenarnya hal yang membuatnya miris adalah wajah Wenlang saat ini terlihat sangat pucat. Bahkan Gao Tu bisa melihat bahwa urat-urat nadi biru itu terlihat mencuat timbul di tubuhnya. Yang paling terlihat jelas olehnya adalah urat itu muncul di tenggorokan dan pergelangan tangannya. Gao Tu menggelengkan kepalanya berulang kali dengan heran bercampur prihatin.

Apa yang terjadi dengannya? Sang prefek itu benar-benar terlihat kacau.

“Hei? Shen Wenlang? Apakah kamu masih di sini?”

Gao Tu bertanya pelan seraya mengetes apakah kesadaran Wenlang masih pada tempatnya. Didekatkan kepalanya dengan pelan ke arah dada Wenlang untuk mendengar suara denyut jantungnya. Namun, Gao Tu tidak yakin apakah laki-laki Ravenclaw itu benar-benar pingsan atau tidak, lantaran sesekali terdengar suara rintihan kecil dari bibirnya itu.

“Halo…?”

Argh……” Wenlang merintih pelan. Netra hitamnya perlahan-lahan terbuka. Matanya mengerjap berulang kali melihat keadaan di sekelilingnya. Tepat di hadapannya ini adalah jendela menara yang semula menampilkan langit sore hari berubah mulai menggelap kelabu. Waktu terus berputar semakin cepat. Matanya melotot melihat keadaan langit.

“Sudah malam?!”

“Hm, belum sih, tapi sekarang sudah sudah jam enam, jadi ya…”

Gao Tu menggantungkan ucapannya berharap Wenlang paham dengan balasannya tadi.

Seketika laki-laki Ravenlaw itu baru tersadar bahwa ia terbaring di atas paha seseorang. Refleks tubuhnya langsung berdiri dan bergerak menjauh dari Gao Tu. Wajahnya memandang Gao Tu dengan kaku. Bibirnya bergetar pelan.

“Kamu melihatnya?!”

“Me-melihat apa?" tanya Gao Tu balik. Mendadak ia tergagap ketika Wenlang bertanya padanya dengan intonasi tinggi.

Wenlang mengamatinya sejenak. Ia menatap Gao Tu dengan pandangan menyelidik. Slytherin ya… batinnya begitu melihat seragam Gao Tu yang didominasi oleh warna hijau.

Gao Tu mengamati bagaimana sang prefek itu mengusap wajahnya dengan kasar seraya bibirnya berdecak kecil. Tangan laki-laki itu secara perlahan meraba saku celananya sendiri seakan-akan mencari sesuatu.

“Tadi apa yang kamu minum?”

Pertanyaan Gao Tu refleks membuat iris hitam Wenlang kembali melotot lebar. Laki-laki itu menoleh dengan pandangan wajah yang menegang.

“Kamu melihatnya ya ternyata….”

Gao Tu menelan ludahnya kasar. “Tadi aku melihatmu minum ramuan. Entah ramuan apa, tiba-tiba tubuhmu ambruk begitu saja!” Matanya melirik curiga. Ia berujar pelan, “Kamu… Jangan-jangan minum ramuan terlarang?”

“Jangan menuduh,” desis Wenlang tajam. Matanya memicing tidak suka.

Sekarang Gao Tu bisa melihat keadaan tubuh Wenlang yang mendadak bugar begitu saja. Aneh sekali. Padahal jelas-jelas beberapa menit yang lalu, tubuh laki-laki itu terkapar tidak berdaya seperti orang di ambang kematian. Dan yang lebih membuatnya heran lagi, urat-urat nadi yang semula terlihat jelas timbul dari tenggorokan dan pergelangan tangan Shen Wenlang mendadak hilang begitu saja.

“Apa yang kamu minum?” Gao Tu masih penasaran. “Jelas-jelas aku lihat tubuhmu tadi seperti orang penyakitan. Kenapa mendadak sehat begitu?”

Mind your own business.”

Gao Tu mendelik kesal. Ia ingin membalas ucapan yang terdengar menyebalkan itu, tapi pada akhirnya Gao Tu hanya bisa mengurungkan niatnya.

Shen Wenlang melihat lelaki di hadapannya hanya bisa diam, pada akhirnya membuang wajahnya ke arah lain. Sang prefek Ravenclaw itu menelan ludahnya kasar. Rahangnya mengeras. “Terima kasih,” ujarnya pelan dengan suara tertahan.

Tubuh laki-laki Ravenclaw itu berbalik memunggungi Gao Tu, lalu tungkai kakinya melangkah menuruni tangga. Meninggalkan Gao Tu sendirian dengan mulut menganga lebar. Pemuda Slytherin itu dibuat terkejut oleh sorot mata Shen Wenlang yang menunjukkan kilat aneh sebelum dirinya berbalik arah pergi tadi.

“Eh?” Gao Tu mengerjap pelan. “Matanya… merah?” gumamnya.

Lantas Gao Tu mendengar suara langkah kaki yang berjalan cepat ke arahnya. Shen Wenlang yang semula berjalan menuruni tangga, tiba-tiba datang menghampirinya kembali. Terdengar dari suara jubahnya yang didominasi warna biru tua itu beradu dengan angin. Tubuhnya berjalan mendekat ke arah Gao Tu kembali dengan pandangan mata yang terbelalak lebar.

Indra pendengaran Shen Wenlang itu tajam dan kebetulan saat itu ia belum terlalu jauh menuruni tangga, jadi perkataan Gao Tu itu masih terdengar olehnya. Yang padahal Gao Tu sendiri mengucapkannya dengan suara berbisik.

“Apa yang kamu lihat tadi?!”

“Hm….” Gao Tu mengernyit bingung. “Tadi aku melihat matamu seperti berwarna merah,” balasnya pelan dengan tidak yakin. Diamatinya wajah Wenlang dengan baik-baik di hadapannya. Jelas-jelas warna iris matanya adalah hitam. Gao Tu menggelengkan kepalanya karena mengira dirinya berhalusinasi.

"Tapi kayaknya aku salah lihat…” Gao Tu berujar pelan. Mendadak tubuhnya terasa merinding melihat Wenlang. Terutama bagaimana cara sang prefek itu menatapnya dalam seakan-akan ingin memberikannya hukuman saat itu juga.

“Aku pamit dulu. Permisi.” Buru-buru Gao Tu segera berpamitan pergi. Ia betul-betul dibuat tidak nyaman oleh mata setajam elang milik Shen Wenlang.

Kepergian Gao Tu yang meninggalkan Wenlang sendirian di tangga menara astronomi itu mendadak membuatnya hampa. Entah mengapa bisa Wenlang merasakan hal itu, laki-laki itu juga tidak paham.

Rambutnya berkibar diterpa angin malam. Manik hitamnya menatap ke arah luar jendela, lebih tepatnya ke arah langit malam dengan sorot mata datar. Ucapan terakhir dari Gao Tu terngiang kembali di benak pikirannya.

Lelaki itu mendesah pelan menatap bulan yang mulai bersinar menampilkan rupanya, meskipun hanya berukuran tiga perempatnya.

“Oh, sudah mulai ya?” Wenlang tertawa tanpa ekspresi. Sorot matanya datar. Rahangnya mengeras. Matanya menatap bulan yang membelah langit malam itu dengan pandangan tajam. “Hari-hari hidupku memang sudah dilahap olehnya."

Shen Wenlang memejamkan matanya pelan. Lelaki itu terdiam menikmati keheningannya di menara astronomi yang tidak ada penghuni siapapun, selain dirinya. Pikirannya berkelana memikirkan sesuatu yang membuat tubuhnya tersentak pelan. Dibuat terkejut oleh fakta yang baru saja diterima oleh saraf-saraf otaknya.

Matanya mendadak terbuka kembali. Namun, kali ini netra matanya menampilkan warna merah yang menyala terang.

Seringai lebar terbit di bibirnya. Dia tahu sesuatu.



-ooo-



Seperti biasanya, hari-hari yang dilalui Gao Tu memang tidak selamanya berakhir baik. Penindasan yang dilakukan oleh teman-teman satu asramanya sendiri tidak kunjung berhenti sampai kapanpun, kecuali jika Gao Tu memilih untuk mengakui menjadi pengabdi ideologi darah murni.

Sejak awal Gao Tu tidak ingin memusingkannya karena hal itu pasti dapat membuatnya stress.

Namun, hari itu ada satu hal yang mempengaruhi kondisi perasaannya.

Saat itu burung hantu miliknya datang mengirimkan kiriman berupa surat penting dari ibunya. Awalnya ia memutuskan untuk membaca surat itu di perpustakaan. Sangat berbahaya apabila ia membacanya di ruang rekreasi asramanya, tapi ketika melihat keramaian di tempat itu membuat Gao Tu memutuskan untuk memutar arah. Ia berlari kencang menuju ke arah menara astronomi.

Kakinya berlari menaiki berbagai anak tangga sampai pada akhirnya ia berhenti pada salah satu anak tangga yang berhadapan langsung dengan jendela besar. Gao Tu segera menyandarkan tubuhnya pada tembok yang berdekatan dengan sisi jendela. Tangannya dengan terburu-buru membuka surat tersebut dan membacanya dengan cepat.

Sayangnya isi tulisan pada surat itu mampu membuat perasaannya jatuh, bahkan tubuhnya melemas.

Ibunya mengatakan bahwa ayahnya baru saja diancam oleh pihak kelompok Death Eaters alias Pelahap Maut. Kelompok yang pemujaan pada Pangeran Kegelapan dan ilmu sihir hitamnya sangat tinggi. Ayahnya diancam untuk masuk ke dalam kelompok tersebut, jika menolak maka ayahnya akan dijebloskan ke dalam Penjara Azkaban.

Tentu saja ayahnya menolak dengan keras dan berusaha menentang semua pemaksaan itu.

Klan Gao adalah salah satu dari keluarga pure-blood alias darah murni yang cukup tersohor di kalangan para penyihir. Dulu klan tersebut merupakan bagian dari keluarga yang memuja sihir hitam. Namun, sekarang tidak lagi semenjak kepemimpinan diambil alih oleh ayah Gao Tu sejak dua dekade yang lalu. Ayah Gao Tu benar-benar mengembalikan martabat Klan Gao ke dalam reputasi yang baik lagi di kalangan penyihir.

Namun, hal itu membuat sekelompok klan lain yang juga memuja sihir hitam itu jengah dengan kebaikan yang terpancarkan oleh Keluarga Gao. Apalagi Klan Gao juga tidak lagi mementingkan ideologi darah murni adalah segalanya, sehingga hal itu membuat klan pemuja ideologi tersebut tersebut murka, terutama orang-orang Slytherin yang sebagian besar termasuk ke dalam pemujaan ideologi itu.

Gao Tu terkena imbasnya.

Tapi pemuda itu bersyukur karena setidaknya keluarganya berbuat hal baik, yang membela pada sisi putih. Sisi kebenaran.

Tetapi, tetap saja pengancaman yang menimpa keluarganya, terutama ayahnya itu membuat Gao Tu cemas.

Apalagi di surat itu ibunya mengatakan bahwa ayahnya sempat dirawat karena terkena luka sihir yang cukup kuat. Bayangkan saja seorang auror hebat sekelas Tuan Gao mampu terkena serangan semacam itu.

Gao Tu menangis tersedu-sedu ketika membaca bagian akhir dari surat itu. Ia khawatir dengan keselamatan orang tuanya.

Hi-hiks….”

Air matanya berlinang mengalir deras membasahi kedua pipi tembamnya. Gao Tu khawatir dan ketakutan, tapi saat ini dunia sihir tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jika keluarganya meminta perlindungan pada klan lain, maka hal itu hanya akan menimbulkan permasalahan lain yang lebih besar.

“Kamu baik-baik saja?” 

Gao Tu buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangannya begitu mendengar ucapan seseorang yang tiba-tiba muncul. Dia tidak ingin orang yang datang menghampirinya saat ini melihat kondisi wajahnya yang tampak sembap.

“Hei? Kenapa menangis, hm?”

Orang yang menghampiri Gao Tu saat itu masih kukuh berdiri di sampingnya. Mau tidak mau, Gao Tu harus menjawabnya. Ia menundukkan kepalanya sejenak sembari mengusap air matanya, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap orang itu.

Sosok yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Shen Wenlang. Lelaki itu menatapnya dengan pandangan menelisik.

Mendadak Gao Tu merasa deja vu.

Sekitar hampir dua minggu yang lalu, Gao Tu menghampiri dan menolong Shen Wenlang yang sedang dalam posisi rentan ketika menenggak ramuan. Kini kondisi telah berbalik. Sekarang gantian Wenlang yang menghampirinya ketika Gao Tu sendiri sedang dalam kondisi rapuh.

“Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah bertanya.”

Gao Tu berbicara pelan, lalu mengalihkan pandangannya lagi, ia tidak ingin bertemu pandang lagi dengan sang prefek. Apalagi dalam kondisi Gao Tu yang tengah tidak baik. Gao Tu sudah menyiratkan Wenlang untuk segera pergi, tapi sang prefek kebanggaan Ravenclaw itu tidak beranjak sama sekali.

Shen Wenlang dibuat termenung secara mendadak. Semula tubuhnya berdiri tegak, tapi kini ia mengubah posisinya. Wenlang segera duduk berlutut menghadap ke arah Gao Tu.

“Ka-kamu tidak pergi?”

Gao Tu menelan ludahnya gugup ketika Wenlang tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arahnya. Lebih tepatnya ia menghirup aroma rambut hitam Gao Tu dengan dalam. Wenlang mengernyitkan dahinya.

“Kamu pakai parfum?”

Gao Tu mengangguk pelan. Merasa bingung dengan pertanyaan aneh yang dilontarkan dari sang prefek. Apakah ada peraturan baru di Hogwarts semacam dilarang untuk memakai parfum? Gao Tu rasa tidak.

“Parfum apa? Sage?”

Gao Tu mengerjap dengan pertanyaan lanjutan itu, ia segera menggeleng. Kini arah pandangnya berubah ke arah jendela yang menampilkan rintik-rintik air hujan. Ia tidak berani menatap Wenlang kini yang persis ada di hadapannya.

“Eh? Aku tidak pernah punya parfum seperti itu.”

“Aku mencium bau sage,” ujar Wenlang. Lagi-lagi ia mengerutkan keningnya bingung.

“Tidak ada wangi sage di sini,” balas Gao Tu pelan. “Aku hanya pakai parfum citrus, tapi sepertinya wanginya sudah hilang karena digunakan sejak pagi.”

Aneh.

Padahal jelas-jelas Wenlang tidak mencium wangi citrus sama sekali.

Yang masuk ke indra penciumannya saat ini justru adalah aroma daun sage herbal menenangkan yang sepertinya bercampur dengan air hujan. Dari kombinasi wangi itu, samar-samar ia juga seperti mencium adanya aroma manis seperti madu. Shen Wenlang menoleh ke arah jendela besar yang dibelakangi Gao Tu saat ini. Menampilkan langit malam yang penuh akan gelap kelabu karena hujan deras yang membasahi bumi.

Hening. Tidak ada balasan apapun dari sang prefek. Wenlang masih menatap pemuda di hadapannya ini dengan pandangan menyelidik, tapi kemudian ia tersadar akan sesuatu.

“Jadi selama ini ternyata kamu pemilik aroma itu...”

Gao Tu menoleh, “Maksudmu apa?”

Kedua matanya yang bulat itu kini menatap Wenlang dengan tatapan bingung. Masih ada jejak air mata yang tertinggal di pelupuk mata Gao Tu. Bibir pemuda itu tampak bergetar. Nada suara Gao Tu yang masih sesenggukan karena habis menangis itu masih terdengar jelas oleh indra pendengaran Wenlang.

Sial. Wenlang memejamkan matanya sejenak sembari menarik napas.

“Ma-mau apa?”

Wenlang kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini targetnya adalah ceruk leher Gao Tu. Sang prefek menghirup dan mengingat baik-baik aroma segar nan manis menenangkan yang menguar dari perpotongan leher Gao Tu.

“Tidak salah lagi.”

Yang terjadi kemudian adalah suara Gao Tu yang menjerit kencang jika saja Wenlang tidak segera membungkam bibir pemuda itu dengan tangannya.

Kurang ajar.

Tindakan Wenlang yang mengecup dan menggigit kecil lehernya secara tiba-tiba itu membuat Gao Tu merasa jijik. Pemuda Slytherin itu buru-buru mengambil tongkat dari saku celananya, tapi tertahan karena Wenlang segera merampas tongkat miliknya itu dengan cepat.

“Ke-kembalikan to-tongkatku!” desis Gao Tu dengan terbata-bata. Pemuda itu beranjak berdiri dan mundur beberapa langkah ke belakang untuk menjauhi Wenlang. Air matanya kembali mengalir. Gao Tu kembali menangis.

Ia menangis karena kebingungan dengan segala hal yang didapatnya hari itu. Tubuhnya gemetar kuat.

“Ini menarik. Tak kusangka.”

Lagi-lagi Wenlang mengucapkan perkataan aneh yang membingungkan Gao Tu. Gao Tu sudah siap siaga akan berteriak mencari perhatian siapapun yang dapat menolongnya, meskipun ia tahu hasilnya akan nihil lantaran tidak ada siapapun yang saat ini menginjakkan kaki di menara astronomi. 

Namun, sikap waspadanya itu justru membuat Shen Wenlang tersenyum miring. Ia menunduk sebentar untuk menaruh tongkat milik Gao Tu ke salah satu anak tangga di dekatnya, kemudian kembali menegakkan tubuhnya. 

“Sampai jumpa lagi, Gao Tu.”

Wenlang berjalan pergi meninggalkannya dengan senyuman aneh, tapi menurut Gao Tu itu tampak menyeramkan.

Gao Tu hanya berharap bahwa ia tidak akan lagi berurusan dengan sang prefek Ravenclaw itu.

Namun, sayangnya takdir berkata lain.

 

-ooo-

 

Semenjak pertemuan antara Shen Wenlang dengan Gao Tu yang menangis di menara astronomi itu terjadi tempo lalu.

Ada sesuatu lain yang berhasil muncul. Hal itu membangkitkan hasrat terpendam yang selama ini terkubur dalam diri Shen Wenlang. Ada perasaan yang menggelitik sekaligus gairah ketika melihat sepasang mata bulat Gao Tu itu diliputi oleh air mata.

Melihat Gao Tu dalam keadaan menangis seperti itu membuatnya tidak puas. Sekali saja tidak cukup.

Shen Wenlang ingin melihatnya lagi.

Maka Shen Wenlang mulai mendeklarasikan rencana untuk menghancurkan Gao Tu tiap kali ia berpapasan dengan pemuda Slytherin itu.

Sejak itu semuanya berubah. Wenlang menghampiri Gao Tu setiap ada kesempatan dalam kondisi apapun.

Seperti saat ini, Gao Tu baru saja menyelesaikan kelas mantra dengan materi tambahan yang diajarkan oleh Profesor Tang Yi. Tiba-tiba saja ada seseorang yang datang entah dari mana itu langsung menariknya ke salah satu ruangan kosong yang tersedia.

“Apa-apaan?!”

Gao Tu yang baru saja ingin mengomel langsung terdiam begitu melihat wajah Wenlang di hadapannya.

Seseorang yang tidak ingin dilihatnya lagi.

“Ada urusan apa?” Manik hitamnya berputar ke segala arah, asal bukan ke arah Wenlang. “Aku tidak akan mengadukan perbuatanmu kemarin, lagipula pasti tidak ada siapa pun yang mempercayaiku. Jadi kamu bebas.”

Gao Tu mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu mencoba melesat pergi berusaha meninggalkan Wenlang. Namun, sang prefek menahan pergelangan tangannya.

“Ma-mau apa lagi?”

Ah, gagap ini….. Gao Tu merutuk kesal dalam hati karena gagapnya mulai muncul jika ia dilanda ketakutan.

“Tidak akan mengadukannya ya…” Shen Wenlang menatapnya dengan senyuman miring. “Kalau begitu aku boleh melakukannya lagi, bukan?”

Sial. Sepertinya Gao Tu salah berbicara.

“Jangan pura-pura bodoh…...” Suara Gao Tu mulai bergetar. “Seorang prefek sepertimu tidak boleh melakukan hal seperti itu!”

“Mengapa?” Wenlang menarik tangan Gao Tu untuk mendekat. “Prefek juga manusia, bukan? Itu hal manusiawi.”

Gao Tu menggeleng ribut. Mendadak air matanya mulai kembali turun. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dalam batinnya, ia bertanya-tanya mengapa dirinya bisa menjadi lemah seperti itu.

Gao Tu dibuat kebingungan dengan dominasi sekuat apa yang dimiliki Shen Wenlang hingga mampu membuatnya tidak berkutik. Padahal sekalipun sekelompok penindas itu berbuat sesuatu padanya, Gao Tu tidak pernah merasakan gentar yang begitu menyiksa, dia masih bisa melawan.

Namun, kali ini berbeda. Shen Wenlang terasa seperti pemicu segala mimpi buruknya.

Maka tanpa ragu-ragu, Gao Tu segera mengambil tongkatnya dan mengeluarkan mantra untuk melumpuhkan Wenlang. Namun, mantra tersebut seperti tertahan di udara karena Gao Tu langsung jatuh terduduk. Tidak bisa bergerak.

Hah…?

Kedua matanya mengamati baik-baik sang prefek di hadapannya. Gao Tu bisa jelas melihat bahwa tidak ada tongkat apapun yang dipegang oleh Wenlang, tapi mengapa Wenlang bisa melumpuhkannya balik?

Gao Tu mengamati baik-baik bagaimana tangan kanan Wenlang yang seakan-akan bergerak mengikuti irama mantra.

Ah…. Jangan-jangan?!

Wandless magic. Sihir tanpa tongkat,” ujar Wenlang. Bibirnya menyunggingkan senyuman remeh. “Salah satu keistimewaanku. Hebat kan, Sayang?”

“Ba-bagaimana bisa?” tanya Gao Tu terkejut.

Bahkan ayahnya yang merupakan auror ternama saja belum bisa menggunakan sihir tanpa tongkat itu secara maksimal. Itu merupakan keterampilan tingkat tinggi. Bahkan untuk seukuran penyihir muda bisa melakukan sihir tanpa tongkat saja terdengar mustahil.

“Sudah kubilang aku istimewa, jadi jangan remehkan diriku.” Wenlang berjalan menghampiri Gao Tu. Wenlang berjongkok menyamakan posisinya dengan Gao Tu, setelahnya mengangkat dagu pemuda manis itu dengan jari telunjuknya, “Tutu.”

“Ja-jangan dekat-dekat!”

Gao Tu beringsut mencoba menjauh, tapi Wenlang segera merengkuh pinggang kecilnya dengan kuat. Tubuhnya menegang ketika wajah Wenlang kembali menjumpai perpotongan lehernya. Tangannya berusaha mendorong rahang Wenlang, tapi kedua pergelangan tangan Gao Tu berhasil dicengkram oleh Wenlang dengan kuat.

“Gila. It’s fucking crazy! Bisa-bisa wangi tubuhmu menggoda seperti itu!”

Wenlang mengumpat. Ada geraman yang terdengar dari suaranya. Uap suara yang dihasilkannya terdengar panas menerpa leher Gao Tu. Hal itu malah semakin membuat tubuh Gao Tu gemetar.

“Ka-kamu yang se-seharusnya ja-jangan gi-gila!” Gao Tu tergagap karena ia benar-benar ketakutan. 

Oh, jadi seperti ini jika dia ketakutan?

Mirip sekali seperti kelinci kecil.

Shen Wenlang tersenyum miring ketika mengetahui sisi lain Gao Tu yang baru saja diketahuinya. Maka dari itu Wenlang tidak segan-segan melakukan hal yang sama seperti di menara astronomi tempo lalu. Bibirnya secara perlahan mengecup dan menggigit pelan permukaan leher Gao Tu yang halus.

Setelah dirasa kecupannya telah meninggalkan beberapa jejak tanda. Wenlang bangkit dan ikut membantu Gao Tu berdiri. Lelaki itu merengkuh pinggangnya dan kembali mengantarkan Gao Tu kembali menuju asramanya.

“Terima kasih.”

Sang prefek mengucapkan terima kasih yang padahal Gao Tu sendiri juga enggan menerimanya dengan sukarela. Akhirnya di malam itu, Gao Tu hanya bisa menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan melamun, tapi matanya memerah sembab lantaran perbuatan Wenlang yang masih terbayang-bayang olehnya.



-ooo-



Hari-hari pun berjalan seperti biasanya lagi. Hingga saat ini sekelompok penindas itu tak hentinya menghampiri Gao Tu layaknya pemuda itu adalah cemilan mereka sehari-hari. Gao Tu tidak peduli dan memilih mengacuhkan mereka.

“Apa matamu hilang?!” ejek orang-orang itu.

Gao Tu menatap mereka dengan pandangan pura-pura polos, “Mataku ada di sini sejak tadi,” ujarnya sambil menunjuk kedua matanya. “Kalau begitu justru apakah kalian yang tidak bisa melihat jelas-jelas posisi mataku ada dimana?”

Balasan telak dari Gao Tu itu membuat mereka murka. Salah satunya memojokkan Gao Tu seraya berteriak,

“Darah pengkhianat seperti keluargamu pasti akan mendapatkan karma!”

Julukan darah pengkhianat adalah sebutan untuk penyihir darah murni yang memiliki rasa simpati atau berurusan dengan muggle dan darah campuran. Julukan untuk penyihir yang beraninya menentang kehebatan darah murni.

“Orang yang berani menentang kehormatan darah murni akan hidup tidak tenang,” lanjut orang-orang penindas itu. Terdengar nada kelicikan dari suaranya, saat itu juga Gao Tu merasa bahwa sepertinya akan ada hal boomerang yang menimpanya tak lama lagi.

“Penindas sepertimu juga akan mendapatkan karma yang setimpal.”

Cih. Gao Tu menatapnya datar. Kemunculan orang yang tidak diharapkannya itu selalu membuat perasaannya campur aduk, antara kesal, marah, tapi rasa takut lebih mendominasinya.

Shen Wenlang.

Selalu saja si prefek bermuka dua itu yang menolongnya.

Padahal sendirinya sama saja.

Mempermainkan Gao Tu layaknya boneka hingga pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa.

“Tidak ada ucapan terima kasih?”

Itu adalah ucapan yang ditorehkan oleh Wenlang ketika lelaki itu telah sukses mengusir sekelompok penindas itu dari hadapan Gao Tu.

Gao Tu hanya menatap lelaki di depannya ini dengan raut wajah datar. Dalam hatinya ia bertekad untuk memasang tameng pertahanan yang kuat untuk melawan Wenlang.

“Hm, apakah tata kramamu sudah hilang?” Wenlang menaikkan sebelah alisnya. Tidak suka dengan Gao Tu yang menatapnya seakan-akan menantang lelaki itu.

Harusnya aku yang bertanya begitu padamu! batin Gao Tu menjerit keras. Namun, ia tidak berani menyuarakannya.

“Tolong minggir, aku masih ada kelas,” ujar Gao Tu acuh. 

Namun, secara tiba-tiba Wenlang kembali menabrakkan tubuhnya cukup keras ke dinding. Kedua manik Gao Tu melebar terkejut, ia takut ada orang lain yang memergoki mereka saat ini.

“Mi-minggir!” desis Gao Tu terbata-bata. Ia benar-benar khawatir ada orang lain yang tiba-tiba muncul di koridor.

“Kupastikan tidak ada siapapun,” ujar Wenlang telak. Ia benar-benar yakin dengan pemikirannya sendiri.

Wenlang menghela napasnya pelan. Gao Tu semakin menegang ketika merasakan napas Wenlang terasa dekat, hingga akhirnya lelaki itu mempertemukan bibirnya dengan Gao Tu.

Gao Tu dibuat blank secara mendadak, sebelum akhirnya ia mulai memberontak mendorong dada Wenlang dengan kedua tangannya. Lagi-lagi sang prefek tidak gentar dengan pemberontakan itu. Wenlang menahan kedua tangan Gao Tu cukup erat, tapi tanpa menyakitinya.

Dikecupnya pelan bibir halus itu. Setelah dirasa Gao Tu mulai tenang, Wenlang mulai melumat bibir tersebut dengan hati-hati. Gao Tu mengerang kecil seraya memejamkan kedua matanya. Sedangkan Wenlang menatapnya dengan seringai kecil.

Pada akhirnya hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. 

Gao Tu benci dengan dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apapun untuk mempertahankan harga dirinya.



-ooo-

 

Ada kabar buruk yang tiba-tiba menimpa keluarga Gao. Ibunya mengirimkan surat bahwa ayahnya menjadi salah satu penyihir yang dirumorkan terkena kasus penggelapan dana oleh Kementerian Sihir. Kasus tersebut masih diusut, tetapi daftar perkiraan penyihir yang menjadi terdakwa sudah dipublikasikan ke masyarakat.

Kini nama ayahnya tersebar berada di berita apapun sebagai salah satu kemungkinan penyihir yang akan menghiasi Penjara Azkaban.

Gao Tu menangis kencang ketika membaca surat itu. Bohong. Ia tahu bahwa tidak mungkin ayahnya akan berbuat hal seperti itu. Ayahnya sudah bersumpah untuk melindungi dan memperbaiki nama keluarganya hingga akhir hayatnya.

Ibunya berpikir bahwa ini salah satu rencana Pelahap Maut menggertak mereka untuk bergabung ke dalam kelompoknya. Gao Tu juga berpikiran hal yang sama. Namun, ayahnya meminta mereka berdua untuk tidak bertindak gegabah dan tetap tenang. Perlu membutuhkan waktu yang lama untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Namun, tetap saja Gao Tu tidak tenang. Ini menyangkut nama baik keluarganya!

“Oh, Gao Tu? Masih punya muka kau rupanya?”

Gao Tu hanya bisa menatap tanpa ekspresi sekelompok orang yang ada di hadapannya saat ini. Perjalanannya menuju Aula Besar bersama Xifan harus tertahan karena sekelompok penindas itu menghalangi jalan mereka.

Melihat wajah Gao Tu yang terlihat pucat pasi itu membuat orang-orang itu tertawa.

“Ayahmu mengkorupsi uang milik kementerian sihir sebanyak 100 juta galleon! Tidakkah itu gila?”

“Itu masih belum pasti!” teriak Xifan membela. “Jangan menuduh yang tidak-tidak tentang keluarga Gao!”

“Darah campuran sepertimu lebih baik diam!”

Setelahnya orang-orang itu mulai siap mengeluarkan mantra untuk mempermalukan Gao Tu dan Xifan. Shen Xifan sudah siaga dengan tongkat miliknya, sedangkan Gao Tu berdiri di belakangnya sembari bersandar di dinding. Tubuh pemuda Slytherin itu lemas.

Namun, mantra itu berbalik ke para penindas karena seseorang yang datang secara tiba-tiba membalikkan keadaan.

Shen Wenlang datang menolong.

“Bukankah yang lebih baik diam itu kalian? Beraninya melakukan penindasan seperti itu. Aku selaku prefek Ravenclaw bisa saja mengambil poin kalian, wahai Slytherin Yang Terhormat.”

“Ambil saja!” tantang anak-anak itu.

"Baik, seratus poin dari Slytherin karena telah melakukan penindasan dan membuat kericuhan."

Ucapan Wenlang membuat anak-anak Slytherin itu panik.

“Hei, Gao Tu, kau tidak ingin membela asramamu sendiri?!”

Si ketua kelompok penindas itu kembali berteriak. Sedangkan Gao Tu hanya terdiam seraya menggeleng lemah. Dia sudah terlalu lelah, rasanya ingin pingsan.

“Gao Tu!” Shen Xifan berteriak khawatir ketika melihat keadaan Gao Tu yang hampir limbung. Gadis itu dengan segera memapah tubuh Gao Tu untuk tetap menyadarkan keadaannya.

“Jika kalian tetap bertingkah seperti ini, aku tidak akan segan-segan mengirimkan surat rekomendasi pada Kepala Sekolah supaya mengeluarkan kalian,” ujar Wenlang tajam. Setelahnya anak-anak penindas itu pergi.

Gao Tu benar-benar tidak kuat. Namun, tubuhnya mendadak menegang ketika Wenlang secara tiba-tiba menggendong tubuhnya. Punggung Wenlang terasa hangat, tapi tetap saja Gao Tu tidak suka dengan segala tingkah seenaknya yang lelaki itu sering lakukan padanya.

“Kamu harus istirahat,” ujar Wenlang lembut, lalu ia menyiratkan Xifan untuk mengikuti langkah mereka berdua.

Wenlang mengantarkan Gao Tu ke ruang kesehatan. Salah satu perawat yang ada  di sana dengan sigap membantu untuk menyiapkan salah satu ranjang kosong. Wenlang membaringkan tubuh Gao Tu ke atas ranjang tersebut dengan hati-hati.

Gao Tu sudah merasa lebih baik, tapi tetap saja pemuda itu tidak tenang jika masih ada Wenlang di sisinya. Beruntung Xifan yang duduk di sampingnya langsung menggenggam tangan Gao Tu dengan erat seakan-akan membantu untuk melupakan segala kegelisahannya.

Wenlang berdeham. Matanya memicing menatap gadis itu dengan tidak suka, “Kita harus pergi. Biarkan Gao Tu istirahat.”

“Ta-tapi—” Xifan mencoba menolak.

“Xifan,” panggil Wenlang telak. Suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya, “Kau tidak lupa kan Profesor Li Yang selalu mengadakan pertemuan untuk anak Ravenclaw setiap hari Selasa.”

Xifan berdecak malas. Gadis itu bangkit berdiri seraya mengerucutkan bibirnya sebal.

“Baik, bilang padaku kalau terjadi sesuatu,” ujar Xifan final. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan sahabatnya itu sendirian, tapi apa boleh buat ada pertemuan asrama yang tidak boleh ditinggalkannya. 

Xifan dengan lembut mengelus rambut Gao Tu, disertai dengan senyuman yang menatapnya dengan penuh rasa akan kasih sayang.

Hal itu membuat Wenlang hanya bisa menatap pemandangan di depannya seraya mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sialan! Akan kuhapus jejaknya nanti! batinnya menggeram kesal.

Wenlang dan Xifan pun pergi meninggalkan ruangan kesehatan. Kini keduanya berjalan beriringan menuju asrama Ravenclaw. Meskipun keduanya berasal dari klan yang sama, yaitu Klan Shen. Namun, ada garis pembatas yang hebat di antara keduanya, lantaran Wenlang berasal dari garis keturunan Shen yang paling didahulukan dalam kondisi apapun dibandingkan Xifan.

“Sahabatmu itu setiap harinya selalu mendapatkan perlakuan seperti itu?” tanya Wenlang basa-basi.

“Hm, begitulah. Pasti kamu tahu sendiri seperti apa ulah para ular Slytherin itu padanya,” balas Xifan kesal.

Wenlang tersenyum geli. “Tapi sahabatmu itu juga bagian dari mereka, bukan?”

Xifan menoleh. Matanya melotot sebal ke arah Wenlang seakan-akan siap memberinya aura permusuhan. “Meskipun Gao Tu juga bagian dari Slytherin, kenapa para ular itu membully teman asrama mereka sendiri? Jangan samakan Gao Tu dengan mereka!”

“Aku menyayanginya!”

Entah mengapa ada sesuatu hal yang berbeda dari ucapan terakhir yang keluar dari bibir Xifan. Nada suaranya itu mengingatkan Wenlang bahwa akan ada boomerang yang datang. Tatapan yang penuh berapi-api dari mata Xifan seakan memperingati Wenlang bahwa—

—ada duri kecil lain yang ikut menghalangi jalannya.

Wenlang berniat menyusun rencana strategis untuk menyingkirkan Xifan, tapi begitu matanya menangkap sekelebat bayangan objek lain yang ternyata diam-diam ikut mendengarkan percakapan mereka berdua. Hal itu membuatnya tersenyum tipis.

Baik, kubiarkan saja gadis ini. Toh, akan ada serigala lain yang siap memberikan pelajaran untuknya.

 

-ooo-



Beberapa hari telah berlalu. Setelah menyelesaikan kelas transfigurasi, Gao Tu berniat untuk pergi ke Aula Besar dan menikmati waktu sore harinya dengan Xifan. Namun, ketika kedua iris hitamnya melihat kehadiran Wenlang di koridor tempatnya berada, Gao Tu segera melesat pergi melarikan diri.

Hingga tanpa sadar dia menabrak orang di belakangnya.

“Gao Tu.”

Orang yang ditabraknya itu adalah He Suye, murid tahun ketujuh yang menjabat sebagai kapten tim quidditch dari asrama Slytherin.

“Ikut aku sekarang.”

Suye segera menarik pergelangan tangan kiri Gao Tu dengan kencang. Pria itu membawanya menuju ke tempat Danau Hitam, setelah memastikan sekitar mereka dalam keadaan sepi, Suye segera menghempaskan tubuh Gao Tu begitu saja, hampir saja dirinya menabrak pohon besar jika saja tidak segera menahan keseimbangannya.

“Ada hubungan apa kau dengan Shen Xifan?”

Gao Tu tidak menjawab, justru dia meringis kesakitan seraya mengelus pergelangan tangannya yang memerah.

“JAWAB!” bentak Suye yang langsung membuat Gao Tu mundur selangkah. Ia ketakutan.

Tidak disangka dirinya bisa melihat sang kapten quidditch kebanggaan Slytherin itu dalam keadaan emosi yang meluap. Biasanya He Suye selalu terlihat tenang dan memiliki pembawaan wibawa yang tinggi.

Hal itu mengingatkannya dengan Shen Wenlang. Mereka berdua sama saja.

Namun, mengingat saat ini penyebab amarah Suye adalah dirinya. Hal itu membuat Gao Tu bertanya-tanya.

Kesalahan apa lagi yang tak pernah ia perbuat, tapi harus ditanggungnya lagi kali ini?

“Jawab aku, Gao Tu!”

“Sa-sahabat,” cicit Gao Tu terbata-bata. Ia menahan napasnya, “Dia sahabatku sejak dulu. Bukankah kalian semua memang sudah tahu?”

Sejujurnya Gao Tu merasa heran dengan pertanyaan He Suye yang menurutnya tak masuk akal. Padahal jelas-jelas seluruh anak Slytherin—ralat—seantero sekolah ini juga tahu bahwa Gao Tu, si pemuda freak dari asrama Slytherin itu hanya memiliki satu sahabat dekat, yaitu Shen Xifan.

Begitu mendengar penuturan si yang lebih muda membuat Suye hanya bisa memijit pelipisnya dengan pelan seraya memejamkan matanya. Amarah masih menguasainya. Pikirannya teringat kembali tempo lalu ketika ia  dengan sengaja mengikuti Xifan dan Wenlang yang berjalan menuju asrama Ravenclaw. Pengakuan secara terang-terangan dari ucapan Xifan tempo lalu masih terngiang-ngiang di benaknya. 

Ucapan yang penuh akan rasa sayang itu tentunya membuat Suye tahu bahwa Xifan pasti memiliki perasaan lebih terhadap Gao Tu.

“Sialan!” Suye mendesis kesal. Ia memejamkan matanya, tapi kemudian kelopak matanya kembali terbuka cepat. 

Gao Tu dibuat terkejut begitu melihat ada kilat merah bersinar yang muncul di antaranya. 

Mata yang berkilat merah itu hanya dimiliki oleh kaum tertentu, yaitu werewolf.

Ternyata He Suye selama ini adalah keturunan dari manusia serigala itu…

“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang. Berani membocorkan ini kepada siapapun, aku tidak akan segan-segan menggigitmu menjadi kawananku saat itu juga.”

Gao Tu mengangguk kaku, meskipun dalam batinnya ia meringis. Siapa juga ada orang yang berani mempercayai ucapannya? Meskipun Gao Tu berbicara jujur sekalipun, paling siapapun hanya menganggap ucapannya sebagai omong kosong.

Suye menatapnya tajam, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya, “Sebenarnya aku ingin memberimu pelajaran. Berani-beraninya kau merebut sesuatu yang harusnya milikku.”

Lagi-lagi Gao Tu dibuat bingung karena ia sama sekali tidak paham. Milik? Aku merebut apa darinya?! Kenapa semua orang di tahun ini menjadi semakin aneh?! batinnya mengutarakan kefrustrasian berulang kali. 

Namun, Gao Tu segera terkesiap waspada begitu pandangan Suye kembali mengarah padanya disertai dengan seringai lebar, “Tapi sepertinya sudah ada orang yang lebih dulu memberikanmu pelajaran dengan menjadikanmu sebagai boneka. Ckck, pintar sekali orang itu dalam bermuka dua.”

“Dibandingkan membuang waktu denganmu, lebih baik aku menghukum Xifan untuk mengingat kodrat dirinya yang sesungguhnya.”

Meskipun belum secara resmi, tapi kehidupan He Suye yang secara harfiah adalah manusia serigala tentu saja ingin memiliki Xifan. Baginya, Shen Xifan itu adalah hak paten miliknya seorang sebagai mate.

Gao Tu melotot begitu mendengar tekad pernyataan dari Suye. Apa yang ingin sang kapten Quidditch itu lakukan pada sahabatnya? Tidak! Itu tidak boleh!

“Tidak! Jangan sentuh sahabatku!”

Gao Tu berusaha menghentikan langkah Suye. Tangannya yang rapuh itu segera mengambil tongkat dari balik saku celananya, tapi gagal karena Suye dengan segera melucuti tongkat dari genggaman Gao Tu dengan mantra expelliarmus.

Kekehan menyeramkan dari Suye mengudara, “Xifan itu milikku. Jadi itu bukan urusanmu. Ngomong-ngomong, silahkan terjebak dengan Shen Wenlang untuk selamanya, Gao Tu.”

Suye pun beranjak pergi meninggalkan Gao Tu di tengah keheningan air danau yang bergemericik terkena udara di sore hari.

Gao Tu mengamati kepergiannya dengan bibir yang bergetar kelu. 

Jadi selama ini Suye tahu?

Tapi apa yang dimaksud dengan terjebak untuk selamanya?

Namun, otaknya kembali memutar memori ketika iris mata Suye yang berwarna merah darah itu menatapnya tajam. Seketika tubuhnya lemas karena ia baru mengingat sesuatu.

Teringat oleh Shen Wenlang yang pernah menampilkan kilat mata merah serupa. Namun, Gao Tu masih tidak yakin apakah ingatannya saat itu benar atau tidak, lantaran mata merah itu hanya muncul sekejap, tiba-tiba saja mata Wenlang kembali hitam seperti sedia kala. Bahkan semenjak Gao Tu sering dicegat oleh Wenlang dalam berbagai kesempatan, ia tidak pernah lagi melihat mata merah yang berpendar dari sang prefek itu.

Gao Tu masih tidak yakin apakah Shen Wenlang adalah salah satu bagian dari werewolf seperti He Suye atau tidak.

Tangannya memijat dahinya yang kini mulai pusing. Pada akhirnya, Gao Tu hanya bisa menghabiskan waktunya di Danau Hitam dengan menangis pilu atas semua kejadian buruk dan membingungkan yang mulai dilaluinya semenjak kedekatannya dengan Shen Wenlang.

 

-ooo-

 

Sepertinya He Suye tidak benar-benar serius dengan ucapannya.

Xifan terlihat masih sama seperti biasa. Senyumnya bersinar layaknya kelinci yang menggemaskan. Tidak ada hal yang berubah darinya. Gadis itu sepertinya aman.

Gao Tu bisa meyakinkan hal itu karena Xifan akan selalu jujur padanya jika terjadi suatu masalah. Berbeda dengan dirinya yang terkadang masih menutupi segala permasalahannya pada sahabatnya itu.

Bukannya Gao Tu tidak mempercayai Xifan, tapi ia tidak ingin sahabatnya itu akan mendapatkan musibah lain karena terlibat dengannya. Biarkan saja seperti itu.

Lagipula Gao Tu bersyukur karena Xifan saat ini terlihat baik-baik saja dan sehat.

Ada hal lain juga yang patut disyukuri olehnya. yaitu keberhasilannya dalam menghindari Wenlang.

Sejak kemarin, Gao Tu berusaha mengantisipasi akan pertemuan yang mungkin secara tiba-tiba dilakukan oleh Wenlang. Pemuda itu menyusun berbagai strategi untuk menjauhi Wenlang sejauh apapun yang ia bisa.

Terbukti bahwa selama dua minggu, Gao Tu berhasil menjauhi sang prefek Ravenclaw itu. Namun, dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia bingung kenapa Wenlang dengan mudah seperti tidak menemukannya lagi.

Apakah Wenlang sudah tidak tertarik dengannya lagi?

Kalau begitu, Gao Tu merasa sangat bersyukur. Setidaknya tekanan yang ia alami dari berbagai sisi telah berkurang, meskipun hanya berkurang satu.

Setelah menyelesaikan makan malam di Aula Besar. Gao Tu memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat.

Tetapi ketika pemuda itu baru saja menapakkan kakinya di ruang rekreasi asrama Slytherin. Tidak sengaja matanya menangkap dua orang yang dikenalnya, yaitu ada Suye dan Yishen yang ada disitu. Keduanya terlihat mencurigakan, makanya Gao Tu memutuskan untuk mendengar percakapan mereka dari balik dinding lain.

“Hari ini bulan purnama akan datang…”

“Kau harus bergerak cepat. Bawa Xifan bersamamu sekarang!”

“Tunggu dulu! Ini terlalu terburu-buru!”

“Ck, kalau kau menolak lagi, lebih baik minum ramuan penahan itu sekarang hingga kelebihan dosis!”

“Berisik! Aku akan pergi menemui Xifan sekarang.”

Kedua matanya terbelalak terkejut. Bulan purnama, ramuan, Xifan? Pasti yang terjadi setelah ini bukanlah hal baik.

Bulan purnama yang akan datang menandakan transformasi perubahan werewolf yang mulanya adalah manusia. Gao Tu teringat dari buku bahwa umumnya mereka—kaum werewolf—akan merasakan kesakitan saat bertransformasi. Perubahan yang mendadak itu sangat menyeramkan. Mereka akan menjadi beringas.

Apalagi mendengar nama sahabatnya disebut membuat Gao Tu tidak bisa berpikir jernih.

Ia segera berlari keluar menuju asrama Ravenclaw. Apapun yang terjadi pokoknya Gao Tu harus memastikan bahwa Xifan selamat dan aman dari gangguan Suye!

Namun, nahasnya takdir baik tidak berpengaruh padanya.

Tinggal menaiki anak tangga, maka ia akan sampai ke asrama sahabatnya, tapi tubuh Gao Tu terpental ke dinding karena suatu mantra yang menimpanya. Dia menoleh ke belakang dengan gerakan patah-patah. Lehernya terasa sakit.

Terlihat tubuh besar yang berdiri menjulang di hadapannya. Kedua maniknya membulat terkejut karena melihat kehadiran Suye. Sepertinya Gao Tu keluar dari asramanya dengan terburu-buru hingga menarik perhatian Suye yang menyadari kehadirannya.

“Beraninya kau!”

Suye segera menerjang tubuh Gao Tu hingga mereka berdua terjatuh di lantai. Hampir saja sebuah pukulan akan menimpa rahang Gao Tu, jika saja orang yang akan meninjunya saat ini tidak terpental jauh ke arah lain.

Ada orang lain yang datang.

Fuck!”

Suye mengumpat kesal. Laki-laki itu bangkit berdiri dengan cepat.

“Bangsat kau Shen Wenlang!”

“Jangan berbuat gila di sini, Suye,” ujar Wenlang datar. “Profesor akan memergokimu, kau tahu?”

“Aku belum selesai berurusan dengannya!” Suye kembali berseru. Dia kembali berjalan menghampiri Gao Tu yang masih terduduk di lantai. Namun, Wenlang segera berjalan cepat berdiri di depan Gao Tu untuk melindunginya.

“Minggir!”

“Maka langkahi dulu mayatku.”

shen Wenlang membalas dengan dingin. Kini keduanya saling berpandangan tajam. Wenlang tersenyum miring mengamati tubuh Suye yang mulai dibanjiri keringat dingin.

Sebentar lagi purnama akan mulai menampakkan rupanya. Wajar saja jika tubuh Suye mulai bereaksi. Waktu transformasinya akan segera tiba.

“Kau tahu, Suye?” Shen Wenlang memberikan senyum miring. “Aku bisa saja memberikanmu ramuan yang lebih poten untuk menghadapi bulan purnama itu. Tentunya aku paham bagaimana menyakitkannya harus bertransformasi hingga dalam kondisi terburuk.”

Perkataan Wenlang sukses membuat Gao Tu yang kini masih terduduk di atas lantai menatapnya terkejut. Mata pemuda itu terbelalak lebar.

Suye menarik napasnya sejenak. Tubuhnya mulai semakin dingin, tapi ia menahannya. “Kau… juga?” tanyanya pelan.

Wenlang mengangguk acuh. “Daripada berlama-lama disini, lebih baik kau segera menghampiri Xifan, bukan? Tanpa mate, transformasimu akan semakin sakit dan tidak terkendali.”

Gao Tu melotot begitu mendengar ucapan Wenlang. Ia berteriak, “Tidak! Tolong jangan Xifan!”

Suye menyeringai lebar, “Tidak kusangka kau ternyata orang seperti itu.”

Wenlang memajukan tubuhnya dan menarik kerah baju Suye. Pandangan matanya menajam, “Aku izinkan untuk menemui Xifan asal kau berikan petuah pada anak-anak Slytherin lain untuk berhenti menyakiti Gao Tu!”

“Itu hal mudah.” Suye mengedikkan bahunya. Ia berjalan menuju asrama Ravenclaw, tapi setelahnya Suye kembali menoleh ke belakang.

“Kutahu pasti hanya kau yang boleh menyakitinya, kan?”

Gao Tu menatap mereka berdua dengan ketakutan. Sedangkan Wenlang tidak menjawab, tapi ada senyuman miring yang menghiasi bibirnya. Suye menatap puas lalu segera melesat pergi meninggalkan Wenlang dan Gao Tu.

“Ti-tidak! Xifan! Xifan!”

Gao Tu berteriak kencang, tapi terdengar nada putus asa dari suaranya. Wenlang tidak peduli. Lelaki itu menarik, atau lebih tepatnya menyeret Gao Tu untuk mengikutinya menuju menara astronomi.

Gao Tu benar-benar tidak kuat lagi menopang tubuhnya sendiri. Akhirnya Wenlang dengan cepat mengambil alih, ia menggendong Gao Tu ala bridal style dan membawanya menaiki berbagai anak tangga, sebelum akhirnya mereka benar-benar tiba di atap bagian tertinggi menara astronomi.

Langit malam itu menampilkan berbagai bintang yang bersinar indah. Bulan purnama juga mulai tampak. Pancaran sinar itu seakan menembus manik hitam Gao Tu. Ia dibuat terbuai dengan keindahan itu, tapi setelahnya Gao Tu sadar bahwa keadaannya saat ini tidak aman. Ia juga khawatir dengan keadaan Xifan.

Ketika Wenlang menurunkannya dari gendongan lelaki itu secara hati-hati, Gao Tu segera berjalan mundur beberapa langkah. Intinya ia harus menjauh darinya.

“Xifan…” cicit Gao Tu pelan. Bulan purnama mulai tampak semakin pekat kehadirannya.

“Dia aman,” balas Wenlang tenang.

Gao Tu menggeleng ribut, “Tidak! Dia bersama Suye!”

“Serigala itu tidak akan tega menyakiti pasangan sejatinya sendiri,” ujar Wenlang merotasikan matanya malas. “Xifan akan baik-baik saja. Kupastikan itu!”

“Ka-kamu juga serigala…”

Napas Gao Tu kini mulai terengah. Terlebih matanya terbelalak lebar ketika Shen Wenlang memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali menatapnya. Mata hitam yang biasanya menghiasi wajah aristokrat itu kini telah berubah dengan iris yang berkilat merah.

Gao Tu terperangah. Dia benar-benar tidak percaya bahwa Shen Wenlang kali ini menunjukkan buktinya secara terang-terangan bahwa dirinya juga bagian dari werewolf. Selama beberapa detik, ia mencoba menetralkan napasnya pelan.

“Ka-kamu tidak berubah?

Wenlang memberikannya senyuman tipis mendengar pertanyaan Gao Tu yang sepertinya menyiratkan tentang tranformasi serigala. “Tenang saja. Aku telah meracik ramuanku lebih poten. Kamu tidak akan melihatku macam mayat lagi, seperti yang kamu lihat di beberapa waktu yang lalu,” balasnya santai.

Gao Tu terdiam sejenak. Mata pemuda itu berputar ke segala titik sembari meremas ujung seragamnya dengan kuat. Bibirnya terlihat sekali ingin kembali bertanya, tapi pada akhirnya Gao Tu mengurungkan niatnya. Pemuda itu hanya mengangguk kemudian berbalik, ia ingin segera pergi dari jeratan Wenlang yang radiusnya terlalu dekat dengannya.

“Berani mengambil langkah lagi, kupastikan akan benar-benar menghancurkanmu saat ini juga, Gao Tu.”

Yang diancam hanya bisa menelan ludahnya kasar. Ia berbalik kembali menatap Wenlang yang kini tampak fokus menatap langit malam.

“Tidak adakah hal yang ingin kamu tanyakan? Mungkin, kamu penasaran dengan kedekatan kita yang secara tiba-tiba ini.”

Wenlang berujar santai masih dengan pandangan mata yang mengarah ke arah bintang di langit.

“Ke-kenapa kamu selalu me-mengejarku?”

Gao Tu benci dengan gagap yang akan melingkupi dirinya ketika ia ketakutan. Namun, saat ini ia berusaha mengumpulkan seluruh tekad beraninya untuk melawan si lelaki bermuka dua yang sialnya adalah penyihir kebanggaan asrama Ravenclaw.

Ada suatu alasan mengapa Shen Wenlang selalu mengejarnya. Bukan semata-mata Wenlang hanya ingin melihat Gao Tu menangis.

Namun, aroma yang menguar dari tubuh Gao Tu itu memang membuatnya gila.

Semula diawali oleh kelas ramuan yang diikutinya. Pada tahun ini pertama kalinya diajarkan materi mengenai ramuan amortentia. Ramuan tersebut sangat terkenal di  semua kalangan. Konon aroma itu bisa juga disebut love potion dikarenakan aroma yang dicium oleh ramuan itu memiliki wangi yang berbeda bagi indra penciuman setiap orang. Tak ayal disebut juga ramuan amortentia itu akan menuntunmu pada cinta sejati.

Ketika membuat ramuan amortentia, seluruh indra penciuman dan pikiran Wenlang dipenuhi oleh aroma yang memabukkan. Wangi daun sage menenangkan yang bercampur dengan air hujan dan sedikit manisnya madu itu selalu membayangi Shen Wenlang sepanjang waktu. Ia berusaha menerka-nerka dimana dirinya pernah mencium aroma itu.

Hingga akhirnya pertemuannya dengan Gao Tu di menara astronomi tempo lalu itu mengubah segalanya.

Sebagai manusia serigala, Wenlang berusaha semaksimal mungkin untuk menahan atau membuat transformasinya supaya tidak menyakitkan. Namun, dikarenakan dirinya terus-terusan mengonsumsi ramuan poten supaya dirinya tidak bertransformasi itu, membuatnya menimbulkan efek samping. Kemampuan serigalanya untuk mendeteksi belahan jiwanya agak sedikit menurun.

Wenlang tahu nama Gao Tu, bahkan reputasi pemuda Slytherin itu di kalangan penyihir Hogwarts tidak begitu bagus. Awalnya Wenlang memilih tidak peduli, tapi ketika melihat Gao Tu yang menangis pilu di menara saat itu membuatnya luluh.

Mulanya Wenlang sebagai prefek yang baik hanya berniat ingin membantu menenangkan pemuda itu. Namun, ia dibuat salah fokus terhadap parfum sage yang dikenakan Gao Tu sampai hal itu dibantah oleh si pemuda Slytherin dengan cepat.

 

“Tidak ada wangi sage di sini. Aku hanya pakai parfum citrus, tapi sepertinya wanginya sudah hilang karena digunakan sejak pagi.”

 

Itu berarti indra penciumannya kala itu mencium aroma asli yang berpendar dari tubuh Gao Tu. Wangi tubuh pemuda itu yang seharusnya.

Sampai akhirnya Wenlang menyadari akan sesuatu.

Bahwa aroma amortentia yang diciumnya kala itu sama persis dengan wangi harum yang menguar dari tubuh Gao Tu.

Wangi tubuh itu merupakan aroma yang menjadi candu Wenlang akhir-akhir ini. Wenlang tidak ingin lepas dan selalu menghirup aroma candu itu hingga akhir hayatnya.

Makanya sejak saat itu, memang Wenlang sudah bertekad sejak awal tidak akan membiarkan Gao Tu pergi kemanapun. Selain dari aroma sage, ada petunjuk lain yang membuatnya yakin bahwa Gao Tu merupakan sosok mate untuknya.

Pada pertemuan mereka di menara astronomi tempo lalu, Gao Tu dapat melihat mata merah miliknya yang berkilat cepat. Padahal saat itu, Wenlang sama sekali tidak berusaha untuk menampilkan iris merah tersebut. Jika Gao Tu bisa melihatnya, maka Shen Wenlang yakin bahwa serigala di dalam dirinya memang sengaja menunjukkannya pada pemuda manis itu.

Serangkaian bukti sudah sejelas itu, tentu saja Shen Wenlang tidak akan membiarkan Gao Tu pergi dari genggamannya.

Pertanyaan Gao Tu tadi masih belum terjawab karena Wenlang sedari tadi hanya diam. Sang prefek itu tenggelam dalam memorinya sejenak, tapi pada akhirnya ia berjalan menghampiri Gao Tu.

“Aku melihatmu di ruang ramuan beberapa hari yang lalu,” ujar Wenlang. Bukannya menjawab pertanyaan Gao Tu, ia malah membahas hal lain.

Gao Tu mengantisipasi apa yang lelaki itu katakan selanjutnya. Sedangkan Wenlang tersenyum menyeringai, “Diam-diam membuka panci ramuan milik Profesor Yufei. Beruntung, aku memilih tidak melaporkanmu.”

“Itu tidak sengaja,” kilah Gao Tu pelan. Saat itu ia berniat mencari buku pelajarannya yang tertinggal di ruang kelas ramuan. Tidak sengaja ia menyenggol tutup panci milik sang profesor hingga terjatuh. Sepertinya Wenlang memergokinya di waktu yang salah.

Wenlang menatapnya dengan senyum miring. Sang prefek tahu bahwa Gao Tu saat itu memanglah tidak sengaja dikarenakan pria itu telah mengikuti Gao Tu sejak awal. Namun, ia sengaja melakukan hal itu.

Mencari kesalahan untuk menekan Gao Tu. Sekaligus menggali informasi lain yang penting.

Informasi krusial yang akan menentukan kelanjutan hubungan menarik antara Shen Wenlang dan Gao Tu.

“Kamu tahu saat itu profesor sedang membuat ramuan apa?”

Gao Tu menggeleng kaku. Namun, pertanyaan selanjutnya dari Wenlang justru membuat ia semakin menegang.

“Apa aroma yang kamu cium dari ramuan itu?”

Wenlang benar-benar tidak mempertimbangkan gelengan kepala Gao Tu sebelumnya. Ia memilih mengajukan pertanyaan selanjutnya. Dikarenakan lelaki itu tahu bahwa pemuda kecil di hadapannya ini berbohong.

“A-aku ti-tidak tahu,” balas Gao Tu ketakutan. Sebenarnya ia tahu ramuan apa yang dibuat oleh sang profesor. Namun, semakin ia berbicara jujur pada Wenlang, maka kehidupannya setelah ini akan semakin sulit.

“Oh, Gao Tu bukannya salah satu bagian dari murid pintar? Itu ramuan terkenal lho di kalangan anak muda. Kamu benar-benar tidak tahu?”

“Ti-tidak ta-tahu.”

Wenlang menggeram, “Jangan bohong.” Setelahnya lelaki itu semakin memojokkan tubuh Gao Tu ke dinding, “Gagapmu semakin terlihat ketika kamu ketakutan.”

Gao Tu menundukkan kepalanya. Sejujurnya Wenlang merasa jengah, tapi justru sikap Gao Tu yang defensif itu membuatnya semakin tertantang.

“Jawab pertanyaanku, Gao Tu.”

“Ra-ramuan amortentia.

“Lalu aroma apa yang kamu cium?”

Gao Tu kembali tidak merespon, dehingga Wenlang harus kembali menekan tubuhnya. Kali ini tangan kanannya dengan kokoh memegang dagu Gao Tu dengan erat.

“A-aroma perkamen beludru, kayu, bunga iris, dan musk...”

Wenlang tersenyum miring. Jantungnya berdebar dengan kencang. Dugaannya semakin kuat, tapi ia ingin memastikan lebih jelas kalau Gao Tu memang soulmate-nya. 

“Siapa orang yang memiliki aroma seperti itu?”

Gao Tu terdiam. Dipejamkan kedua matanya dengan erat. Ia tidak berani menjawab. Namun, ketika Wenlang mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat, maka Gao Tu tidak punya pilihan lain.

“Ka-kamu…”

Pemuda Slytherin itu hanya bisa menjawab dengan cicitan ketakutan. Seperti korban mangsa yang siap dilahap pasrah oleh predator. Air matanya sedikit demi sedikit mulai mengalir turun.

Lantas saat itu juga Gao Tu merasa tubuhnya melayang. Kakinya tidak lagi berpijak pada lantai. Shen Wenlang secara tiba-tiba merengkuh pinggangnya erat dan menggendong tubuhnya. Secara refleks Gao Tu melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Wenlang lantaran tubuh pemuda itu sudah lemas dan ia takut terjatuh. Dipejamkan matanya dengan erat karena Gao Tu benar-benar tidak kuat lagi.

Tak hanya sampai disitu, Shen Wenlang benar-benar mengungkung tubuh Gao Tu dengan erat ke dinding menara. Lelaki itu juga menghujani berbagai kecupan di seluruh wajah Gao Tu, berawal dari kening, pelipis, mata, pipi chubby-nya, hidung hingga akhirnya di bagian akhir, Wenlang saling mempertemukan bibirnya dengan bibir Gao Tu.

Tangan Shen Wenlang bergerak mengunci tengkuk Gao Tu, memastikan tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka, seolah ingin menyesap habis seluruh sisa kesadaran yang dimiliki pemuda manis di hadapannya.

Awalnya Gao Tu hanya bisa terpaku, mencengkram ujung baju Wenlang dengan jemari yang gemetar. Namun, gigitan kecil yang sengaja Wenlang berikan di bibir bawahnya membuat Gao Tu refleks melenguh pelan. Celah kecil itu langsung dimanfaatkan Wenlang untuk memperdalam lumatannya, membawa ciuman mereka ke dalam radius hasrat yang semakin intens.

Suara napas yang memburu dan kecapan basah memenuhi keheningan malam di menara astronomi itu. Shen Wenlang tidak memberikan kesempatan bagi Gao Tu untuk berpikir. Setiap lumatan dan hisapan dalam yang ia berikan terasa begitu mendominasi, memabukkan, dan perlahan menenggelamkan akal rasional yang sebelumnya masih dimiliki Gao Tu. Kini pemuda manis itu tidak lagi bersikap defensif, rasa pasrah sudah mengelilinginya.

Sang prefek melumat bibir pemuda Slytherin dengan rakus. Jujur, sudah lama Gao Tu sudah tidak merasakan sensasi ciuman itu. Sejak ia kucing-kucingan berlari menjauhi Wenlang selama dua minggu membuat ia lupa bagaimana rasa ciuman yang Wenlang berikan padanya sebelumnya.

“Aw, sa-sakit…” Gao Tu mengerang kecil ketika Wenlang kembali menggigit bibirnya, tapi kali ini cukup kencang. Wenlang melesakkan lidahnya ke dalam bibir Gao Tu. Setelahnya Wenlang kembali memberikan lumatan pada bibir kenyal Gao Tu berulang kali.

“Hm…” Kelopak mata Gao Tu pun kembali terbuka. Jantungnya semakin berdebar ketika kedua maniknya saling bertemu pandang dengan mata tajam milik Wenlang. Apalagi dalam kondisi mereka sedang berciuman kali ini, bahkan Wenlang tidak ada hentinya memberikan lumatan pada bibirnya hingga membuat tungkai kaki Gao Tu melemas, jika saja Wenlang tidak menggendong tubuhnya sejak tadi.

“Su-sudah plis…”

Ciuman ini benar-benar membuatnya gila. Gao Tu merasakan bahwa napasnya mulai memendek, akhirnya Wenlang pun melepaskan ciuman mereka. Terdapat benang saliva yang terjulur di antara mereka.

Shen Wenlang menyeringai senang. Sedangkan Gao Tu menarik oksigen yang banyak.

Setelah dirasa Gao Tu cukup tenang, Wenlang kembali mempertemukan mereka berdua dalam ciuman panjang. Gao Tu hanya bisa pasrah menerima segala kecupan, gigitan, dan lumatan dalam dari Wenlang pada bibirnya. 

Hingga akhirnya manik hitam Gao Tu tidak sengaja menangkap suatu objek yang membuatnya terperanjat kaget.

Saat itu kaus lengan panjang yang dikenakan Wenlang tersingkap sebagian ke atas di bagian lengannya. Gao Tu hanya bisa terdiam mematung pada gambar menyeramkan yang ada di pergelangan tangan kiri Wenlang.

I-itu kan…

Wenlang tersenyum remeh begitu menyadari mata Gao Tu yang mengarah pada tangannya. Sebuah tato bergambar tengkorak dengan ular yang keluar dari mulutnya itu menghiasi pergelangan tangan kiri Wenlang dengan apik. Ia melepaskan ciuman mereka. Semakin direngkuhnya pinggang Gao Tu yang ada di gendongannya ini dengan erat.

“Ka-kamu? Death Eater?!”

Wenlang menyeringai lebar. “Menurutmu gimana?”

“Ta-tapi kamu kan—” Gao Tu tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi, lantaran Wenlang tertawa keras, lalu setelahnya mata lelaki itu menyorot tajam. Mata merahnya berkilat layaknya api yang berkobar.

“Apa, hm? Mau bilang bahwa aku adalah Ravenclaw, jadi diriku tidak pantas untuk sebagai bagian anggota Death Eater?!”

Gao Tu menggeleng panik. Memang setengah dari apa yang Wenlang ucapkan saat ini memanglah benar, tapi Gao Tu hanya tidak menyangka bagaimana bisa seorang Ravenclaw merupakan bagian dari sekelompok pemuja ideologi gelap itu.

“Ta-tapi… Ke-kenapa?” Gao Tu bertanya ketakutan. Tubuhnya kembali gemetar.

Shen Wenlang menatap sinis  “Kenapa bertanya? Justru kunci kehidupan yang tentram sebagai penyihir ada di kelompok itu.”

“Omong kosong!” teriak Gao Tu terbata-bata. “Jadi kamu mendekatiku untuk memaksaku bergabung ke kelompok gila itu?!”

Wenlang menggeleng. Matanya memicing. Ia menggeram kesal. “Itu beda lagi. Aku murni mendekatimu karena hal lain. Bukan karena suruhan Pelahap Maut!”

“Ta-tapi hiks—” Air mata Gao Tu mulai berlinang. “Ka-kalian mengancam orang tuaku….”

“Aku bisa pastikan orang tuamu selamat—” Wenlang mengecup dahi Gao Tu dengan lembut. “—asal kamu bersedia menjadi pasanganku.”

“Pada ujungnya aku akan menjadi bagian dari kelompok gila itu kan?” Gao Tu menggeleng tidak rela. Tangannya mencengkram pundak Wenlang dengan kencang.

Wenlang tersenyum menenangkan, “Sudah kubilang bahwa menjadi Pelahap Maut akan menjamin kesejahteraan hidupmu, Tutu.”

Gao Tu berjengit kecil begitu mendengar panggilan nama kecilnya dari bibir Wenlang, tetapi lelaki itu mengucapkannya dengan nada yang sarat akan afeksi dan penuh pemujaan. Gao Tu hanya bisa menundukkan kepalanya seraya menangis kencang. Wenlang tertawa keras, dia kembali menghujani berbagai kecupan di wajah Gao Tu sampai akhirnya diciumnya bibir Gao Tu dalam, sampai akhirnya dilepaskannya lagi.

“Gao Tu.” Shen Wenlang memanggil namanya dengan nada remeh. Ia terkekeh kecil, “Sejauh kamu berlari kemanapun, kamu tidak akan bisa menghindar dari Pelahap Maut. Camkan itu, Sayangku.”

“Pangeran Kegelapan akan segera bangkit kembali. It’s our time.

Wenlang menyeringai senang melihat Gao Tu hanya bisa menangis pasrah di dekapannya. Wenlang kembali melumat bibir Gao Tu dengan panas sebagai aktivitas pembuka hubungan mereka berdua.

Menara Astronomi di malam itu kini telah resmi menjadi saksi bisu atas kisah yang terjalin di antara Shen Wenlang dan Gao Tu.

Hal itu justru membuat Gao Tu tertawa miris, ia berusaha menjauhkan segala apapun mengenai kelompok Death Eater dari hidupnya, bahkan orang tuanya selalu memperingatkan dirinya untuk selalu berhati-hati terhadap hal tersebut.

Tapi Wenlang menariknya untuk mendekat dan pada akhirnya…

Gao Tu tidak bisa kabur.

.

.

.

.

-end-




 

Notes:

Terima kasih banyak sudah baca hingga akhir😁
Semoga para pembaca sehat selalu~❤