Work Text:
Washington, D.C.
"Black Coffee untuk Akai-san. Soda untuk Jodie." Camel menyerahkan dua kaleng minuman yang sedang ia pegang itu kepada kedua rekannya. Jodie berterima kasih sambil tersenyum sedangkan Akai hanya mengangguk dan langsung meneguk minumannya. Akai pun kembali melemparkan pandangannya ke arah luar jendela. Pemandangan kota yang sudah cukup lama tak ia lihat itu mencuri perhatian Akai untuk bernostalgia.
"Ah, sudah cukup lama semenjak Akai-san terakhir kali kemari, kan? Kira-kira sudah berapa tahun, ya? Tiga tahun?" tanya Camel yang ikut melihat pemandangan dari luar jendela.
"Lima tahun," ucap Akai sebelum kembali meneguk kopi pahitnya itu. "Aku bisa pastikan ada banyak perubahan di sini selama aku pergi menetap di Jepang."
"Tapi setidaknya kau bisa bertemu kembali dengan beberapa rekanmu di sini, kan?" Jodie tersenyum. Akai dapat melihat dengan jelas bahwa senyuman yang wanita itu berikan adalah sebuah ejekan untuknya.
"Tidak ada yang berubah dari mereka. Semuanya masih menyebalkan seperti biasanya."
"Aku yakin mereka juga merasa kau masih menjengkelkan seperti biasanya."
Akai hanya terdiam dengan wajah datarnya menatap Jodie yang sedang puas tertawa. Camel hanya bisa menggaruk kepalanya karena rasa canggung sambil ikut tertawa. Apa yang Jodie katakan memang ada benarnya. Walaupun waktu terus berjalan dan segala hal terus berubah untuk beradaptasi. Sifat Akai yang cukup misterius itu mungkin menjadi salah satu pengecualian.
Senyuman miring terukir di bibir Akai. "Aku tidak akan menyangkal. Aku memang menyebalkan."
"Walaupun begitu, Akai-san tetaplah rekan kerja yang baik. Bagaimanapun kinerja anda dalam pekerjaan terakhir tidak bisa dipungkiri adalah pekerjaan yang hebat." Camel tersenyum lebar sambil menepuk pundak Akai dengan bangga. "Berkat anda, organisasi berbahaya itu berhasil dikalahkan."
Black Organization.
Organisasi yang sudah cukup lama bersembunyi dalam bayangan dan menghancurkan banyak hal yang merugikan tanpa terlihat ataupun meninggalkan sisa apapun. Setelah bertahun-tahun menjadi salah satu kasus besar yang berhasil membuat FBI—dan juga badan intelijen lainnya—kewalahan, akhirnya organisasi itu pun hancur dan terungkap di mata dunia tujuh bulan yang lalu.
Akai tertawa kecil. Ia berjalan ke arah tong sampah yang berada di pojok ruangan meeting itu dan membuang kaleng minumannya yang kosong. Ingatannya kini membawa dirinya kembali pada memori di mana ia mengalahkan organisasi itu di Jepang. Dengan menyatukan kepala dan tenaga bersama rekan detektif andalannya, mereka berhasil menciptakan rencana besar untuk menghancurkan organisasi tersebut.
Edogawa Conan. Detektif cilik yang kini akhirnya berhasil kembali pada tubuh aslinya sebagai detektif SMA terkenal bernama Shinichi Kudo itu akan selalu berhasil membuat Akai takjub setiap dirinya mengingat bagaimana cerdasnya remaja tersebut.
"Aku tidak melakukan perkerjaan tersebut seorang diri," tutur Akai sambil kembali berjalan mendekati kedua rekannya dengan tangannya yang kini sibuk mengecek kantong jaket hitam yang sedang ia kenakan. "Aku menerima banyak bantuan dari mereka."
"Ah! Tentu saja! The cool kid!" Seru Jodie. "Aku rasa aku akan menemuinya ketika kita kembali ke Jepang nanti. Aku merindukan anak itu."
Camel yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pun mulai mengerutkan dahinya, seakan ada ingatan yang melintasi kepalanya untuk mengingatkannya pada sesuatu. "Bukankah ia juga ikut membantu saat itu?"
"Eh? Siapa?" tanya Jodie.
"Furuya Rei."
Akai yang kini menjadi perhatian Jodie dan Camel karena jawabannya yang menyebutkan satu nama agen PSB pun menatap keduanya dengan tatapan datar sambil mengeluarkan bungkus rokok yang sejak tadi ia cari. "Apa?"
Camel pun tersenyum kikuk dan mengibaskan tangannya dengan cepat, berusaha menyembunyikan sesuatu. "Tidak ada apa-apa! Hanya saja... uhm..."
"Kau berpacaran dengan Furuya-san?" tanya Jodie secara gamblang, membuat Camel menatapnya dengan wajah terkejut.
"Jodie!!!"
"Apa?! Aku tahu kau ingin mempertanyakan hal tersebut sejak lama!"
Keduanya pun mulai berdebat, membuat Akai hanya bisa menghela napas. Cukup lama untuk Akai terdiam dan tenggelam dalam pikirannya sebelum ia pun tersenyum. "Kalian justru lebih menyebalkan daripada yang lainnya."
"Akai-san! Aku tidak bermaksud bertanya hal yang personal seperti itu!"
"Kaulah yang pertama kali mencurigai mereka karena malam itu Akai menyelamatkan Furuya-san yang hampir tenggelam dan memberikan mantelnya," cibir Jodie yang kini melempar pandangannya kepada Akai. "Jadi? Apakah itu benar?"
"Ya. Bisa dibilang seperti itu," jawab Akai sambil mengeluarkan satu batang rokok dan mengapitnya di antara kedua bibirnya.
"Wah, siapa sangka musuh bebuyutan bisa menjalin hubungan seperti itu. Seingatku... dia sempat membencimu cukup lama, bukan?" tanya Jodie.
Akai mengangguk. "Benar."
"Jadi, Akai-san berpacaran bahkan sebelum malam itu?" Camel pun kini ikut bertanya. Topik percintaan antara Akai dan Rei memang adalah sesuatu yang selalu ia pertanyakan. Bagaimanapun ia adalah salah satu orang yang selalu berada di sekitar Akai dan bukan hal yang sulit untuknya menyadari adanya perubahan atmosfer di antara Akai dan Rei yang sebelumnya terasa begitu mencekam seketika menjadi begitu tenang.
"Yah, kita sudah berpacaran selama tiga bulan sebelum malam itu," jawab Akai. Ia mengecek bungkus rokoknya dan melihat bahwa hanya ada satu batang yang tersisa di sana. Akai pun mengembalikan bungkus rokok itu masuk ke dalam kantong jaketnya sebelum menyalakan batang rokok yang ada di sela bibirnya. "Apakah aku sudah menjawab semua pertanyaan kalian?"
Jodie tertawa kecil. "Setidaknya aku sekarang tahu mengapa kamu hanya ingin mengambil misi yang berbasis di Jepang akhir-akhir ini."
"Apakah itu kecemburuan dari mantan kekasih?" ledek Akai.
Tatapan sinis dilemparkan oleh Jodie kepada Akai yang langsung tertawa. Walaupun terdengar sedikit aneh untuk beberapa orang, fakta bahwa Akai dan Jodie adalah mantan kekasih sudah menjadi sebuah candaan yang sering digunakan untuk mereka. Keduanya kini sudah memiliki jalan mereka masing-masing. Bahkan sebelum Akai dan Rei resmi berpacaran, kabar perihal Jodie yang sedang dekat dengan agen FBI lainnya pun sampai di telinga Akai.
"Sebagai mantan kekasih, aku hanya ingin mengingatkan agar kau tidak mencampakkan pujaan hatimu itu," sindir Jodie yang berjalan ke arah pintu sambil mengecek jam tangannya. Ia pun membuka pintu dan menatap Akai. "Mulai hari ini aku akan memihak Furuya-san dibandingkan dirimu."
Akai mengangkat bahunya sambil tersenyum miring "Aku tidak masalah dengan hal itu."
Jodie memutar bola matanya dengan malas. "Baiklah. Sekarang saatnya kita pergi dan menemui James. Seharusnya ia sudah selesai dengan meeting-nya dan menunggu kita di parkiran."
Setelah melihat kedua pria itu mengangguk, Jodie pun berjalan menjauh dan membiarkan pintu terbuka untuk mereka. Camel pun berjalan mendekati Akai agar dirinya sejajar dengan sniper berambut hitam itu. "Akai-san! Aku berniat untuk mampir ke supermarket nanti. Perlukah aku pergi membeli rokok untuk anda? Rokok anda sudah hampir habis, kan?"
"Tidak perlu. Aku berniat untuk berhenti merokok setelah ini."
Camel terdiam, mencoba memproses ucapan Akai yang terdengar seperti sebuah lelucon. "Benarkah???"
Akai hanya tersenyum tipis dan berjalan mendahului Camel yang masih sedikit terkejut.
"KAMU MEMBERITAHU MEREKA?!!!"
Akai secara refleks menjauhkan ponselnya menjauh dari telinganya ketika mendengar teriakan Rei yang menggema di balik telepon. Satu helaan napas keluar dari mulut Akai. Aku jelas akan habis dimarahi olehnya malam ini, batin Akai.
"AKAI SHUUICHI! JANGAN DIAM SAJA!" Terdengar jelas bahwa Rei sangat kesal saat ini. Akai hanya bisa berharap bahwa dirinya akan bisa menenangkan kekasihnya.
"Aku di sini. Teriakanmu masih menggema di telingaku," goda Akai yang diikuti dengan tawa kecilnya, mencoba mencairkan suasana.
Rei yang baru saja selesai dengan sarapannya pun kini sibuk membersihkan piring dan juga gelasnya. Walaupun tangannya sibuk merapihkan, mulutnya tak henti memarahi Akai yang hanya bisa diam mendengarkan. "Diamlah! Kamu masih perlu menjelaskan banyak hal kepadaku, Akai! Bagaimana bisa mereka mengetahui hubungan kita? Bukankah kamu yang bilang bahwa kamu akan menjaga rahasia itu? Dasar Akai pembohong!"
"Aku tidak berbohong, Rei. Mereka hanya memiliki kemampuan membaca situasi yang bagus." Akai yang sejak tadi duduk di sofa pun akhirnya memilih untuk bangkit dan menikmati pemandangan malam kota dari balkon hotel. Dengan perbedaan waktu di antara keduanya, Akai menyadari bagaimana jauhnya jarak antara dirinya dengan Rei saat ini. "Bahkan bocah detektif itu mungkin sudah menyadarinya sebelum mereka berdua."
"APA!? CONAN... AH TIDAK... KUDO-KUN?"
"Ah... aku benar-benar merindukan dirimu yang terus berteriak seperti ini kepadaku. Apa aku perlu terbang kembali ke Jepang malam ini?"
Rei terdiam. Sudah hampir dua minggu semenjak Akai memberitahu dirinya bahwa ia akan pergi untuk beberapa saat karena pekerjaannya di FBI.
Sejujurnya, Rei sangat merindukan Akai.
"Diamlah...,"
Akai tertawa kecil. "Apakah kamu merindukanku?"
Rei kembali terdiam untuk beberapa saat. Tidak mungkin dirinya secara gamblang akan mengakui bahwa ia merindukan Akai. Bagaimanapun ia adalah Furuya Rei. Seseorang yang akan mendapatkan juara bertahan atas gelarnya sebagai manusia yang memiliki ego tertinggi dan juga sifat keras kepala yang tak tertandingi.
Alih-alih menjawab, Rei justru ikut melemparkan pertanyaan. "Kapan kamu akan pulang?"
"Akhir bulan ini. Sekitar dua minggu lagi sebelum aku pulang ke Jepang dan menetap di sana." Akai mengeluarkan bungkus rokok yang hanya menyisakan satu batang rokok terakhir. Ia pun mengangkat wajahnya, menatap langit malam sebelum kembali bersuara. "Setelah itu kita akan tinggal bersama, Rei."
Mendengar hal tersebut membuat pipi Rei mulai terasa hangat. Satu senyuman terukir di bibir Rei yang sedang berjalan ke arah kamarnya. Rei pun duduk di atas kasurnya sebelum mengangguk sebagai jawaban bisu yang tak dapat Akai lihat namun dapat ia rasakan. "Kita akan tinggal bersama."
Akai tersenyum. Ia pun menjepit ponsel miliknya untuk menempel pada telinganya dengan bahu kirinya selagi ia sibuk menyalakan batang rokok terakhirnya. "Aku berniat berhenti merokok."
"Eh? Sungguh?"
"Ya. Aku tidak ingin rumah kita nanti dipenuhi dengan asap rokok." Akai menghembuskan asap rokoknya. "Aku sedang merokok dengan batang rokok terakhirku saat ini."
Rei membaringkan tubuhnya. Cukup lama ia terdiam menatap langit-langit kamarnya selagi pikirannya terbang entah ke mana. Pikiran tentang dirinya dan Akai yang akan tinggal di satu atap yang sama membuat jantungnya sedikit berdebar. Mereka berdua memang sudah berpacaran cukup lama sampai saat ini. Namun semuanya akan terasa lebih berbeda saat mereka akan tinggal bersama. Keduanya akan lebih memiliki banyak waktu bersama. Berdua.
"Aku rindu."
Bisikan kecil itu terdengar dari balik telepon. Jikalau Akai tidak mendengarkan dengan baik, ia mungkin akan mengira bahwa dirinya hanya sedang berimajinasi. Tidak. Rei sungguh mengatakannya. Pria surai pirang itu baru saja meruntuhkan dinding egonya sendiri.
"Aku juga rindu kamu, Rei."
Jawaban Akai membuat Rei semakin tersipu. Tangan kirinya meraih jaket hitam yang tergeletak begitu saja di samping bantal tidurnya. Itu adalah jaket milik Akai yang tertinggal—yang sebenarnya secara sengaja Akai tinggalkan untuk Rei—di apartemennya. Rei memeluk jaket tersebut dengan erat. Wangi tubuh Akai masih menempel dengan sempurna di sana. Entah mengapa, jantung Rei semakin berdebar lebih kencang daripada sebelumnya.
"Aku rindu," bisik Rei. "Sangat rindu."
Akai memejamkan matanya. Ia terus meresapi bisikan Rei yang terus memanjatkan kerinduannya. Ini adalah pertama kalinya mereka terpisah oleh jarak untuk waktu yang cukup lama. Walaupun Akai dan Rei sering berpergian untuk pekerjaan, tidak pernah sekalipun mereka terpisah lebih dari seminggu.
Namun kali ini, keduanya harus memikul kerinduan itu untuk satu bulan penuh.
"Akai....," panggil Rei. Suara si manis terdengar begitu pelan, hampir seakan berbisik. Tidak. Akai tahu dengan jelas suara Rei saat ini adalah suara kekasihnya yang sedang berusaha menahan hasratnya.
"Kamu benar-benar merindukanku, ya?" Akai pun berjalan masuk kembali ke dalam ruangan hotelnya. Ia kembali duduk di atas sofa dan mematikan rokoknya di asbak yang terletak di atas meja di depannya. "Biarkan aku mendengar desahanmu, Rei."
Permintaan Akai membuat badan Rei bergetar seketika. Tangannya pun memencet tombol loudspeaker dan melempar ponselnya tepat ke samping badannya sebelum berusaha menurunkan celana pendek yang sedang ia kenakan. Dengan sedikit tergesa-gesa, ia melesakkan tangannya masuk untuk meraih penisnya sendiri. "Nghh..., "
"Lebih keras, sayang. Aku tidak bisa mendengarmu."
"Akai-hhhh!"
Suara Rei bagaikan lampu hijau untuk Akai. Ia pun menyandarkan punggungnya selagi melonggarkan ikat pinggangnya. Desahan Rei selalu berhasil membuatnya tegang dan sesak. Pikirannya mulai membawa Akai untuk membayangkan bagaimana keadaan kekasihnya saat ini. Cantik. Sangat cantik.
"Aku ingin sekali menciumi seluruh tubuhmu saat ini, Rei. Aku ingin mencium harum tubuhmu ketika tanganku sibuk melucuti pakaianmu secara paksa. Aku ingin mengigit dan mengecup seluruh sudut yang dapat aku jangkau hingga hanya ada tanda kepemilikanku di sana." Akai memejamkan matanya, membayangkan skenario yang baru saja ia lontarkan. Tangannya pun mulai memijat penisnya sendiri, membuat bayangan wajah Rei memenuhi kepalanya. "Masukkan jarimu, Rei."
Deru napas Rei terdengar oleh Akai yang masih menempelkan ponselnya di telinganya. Ia tidak ingin mengambil resiko untuk menyalakan fitur loudspeaker untuk saat ini. Rekan kerjanya dapat datang dan mengetuk pintu kamar hotelnya kapan saja.
Rei yang sedang menggeliat di atas kasurnya masih berusaha memasukkan jarinya ke dalam lubang analnya. Entah karena ia yang masih terlalu takut atau karena ia yang memang tidak pernah berpengalaman melakukan fingering pada dirinya sendiri, Rei kesulitan untuk melakukan perintah yang Akai berikan untuknya. "A-aku tidak bisa...,"
"Kamu bisa menerima ketiga jariku dan juga penisku selama ini, Rei. Kamu tahu kalau jariku bahkan lebih tebal daripada jari kurusmu itu."
"T-tapi...,"
"Masukkan jarimu itu, Rei. Sekarang."
Suara Akai yang mulai terdengar begitu berat membuat perintah tersebut sulit untuk Rei abaikan. Kedua mata Rei kini terpejam dengan erat. Ia pun menjilat jari-jarinya seperti apa yang selalu Akai lakukan ketika mereka sedang bersetubuh. Suara geraman rendah dari balik telepon membuat jantung Rei seakan ingin meledak saat itu juga. Dengan terburu-buru, Rei membasahi jarinya dengan frustasi dan langsung berusaha mendorong salah satu jarinya masuk.
"Nghhhh! Ahhhhh!!!"
Berhasil. Jari tengah Rei kini telah masuk secara sempurna. Perasaan aneh dapat Rei rasakan hingga membuat tubuhnya bergetar. Pikirannya kini dipenuhi oleh bayangan kekasihnya. Apakah ini yang selalu jari Akai rasakan ketika berada di dalamnya?
"Bagaimana rasanya, sayangku?" tanya Akai.
"A-aneh... dan rasanya berbeda," keluh Rei. Si pirang pun mencoba menggerakan jarinya keluar dan masuk sebelum Akai memerintahkannya. Tidak. Ini bukan sesuatu yang biasa ia rasakan. Ada sesuatu yang kurang. Ada sesuatu yang hilang.
"Ada apa? Merasa kurang, ya? Kalau gitu masukkan ketiga jarimu," perintah Akai yang langsung dilakukan oleh Rei. Telinga Akai dapat menangkap desahan tertahan Rei yang sepertinya berhasil melakukannya. "Walaupun sepertinya tidak akan pernah sebanding dengan tiga jari panjangku ini. Kamu pasti sangat senang jika aku yang mengocokmu habis-habisan, kan?"
Ah, sial. Batin Rei. Kalimat kotor dari Akai justru membuatnya semakin bergairah dan kehilangan akal. Apa yang Akai katakan ada benarnya. Walaupun Rei dapat memanjakan dirinya sendiri hingga ia dapat merasakan bahwa penisnya telah mengeluarkan pre-cum yang mulai membasahi seprai kasurnya, apapun yang ia lakukan sekarang masih terasa sangatlah kurang.
Pengalaman seks dengan Akai sungguh telah mempengaruhi dirinya. Sepenuhnya.
"K-kurang! Ini kurang!" Rengek Rei yang langsung bangkit dari kasur. Tangannya meraih laci dari lemari yang berada di samping kasurnya.
"Ada apa, Rei?"
Rei merangkak naik kembali ke atas kasurnya lalu berlutut di samping ponselnya. "S-sebenarnya... minggu lalu aku membeli dildo untuk diriku sendiri..."
Akai terdiam. Rei akui bahwa tindakannya merupakan sesuatu yang impulsif. Minggu lalu, ia kembali merindukan kekasihnya dan berusaha untuk mencapai puncak gairahnya seorang diri. Namun bukannya merasa puas, justru Rei malah dipenuhi oleh rasa frustasi. Tentu saja ia tidak bisa memberitahu Akai. Ia terlalu malu. Pada akhirnya ia pun memilih untuk memakai cara terakhir yang dapat ia pikirkan saat itu. Membeli dildo.
Tapi apa daya seorang Furuya Rei. Walaupun ia terkenal menjadi salah satu agen PSB yang sangat hebat dalam pekerjaan dan juga kepintarannya dalam menyelesaikan masalah, Rei justru sangat payah dalam hubungan seksual.
Bahkan ciuman pertamanya bersama Akai berakhir dengan satu tinju yang mendarat tepat di pipi sniper andalan FBI itu karena Rei mengira bahwa ciuman adalah salah satu bentuk penyerangan.
Akai adalah orang pertama yang ada untuk mengajarkan Rei mengenal lebih jauh tentang segala hal yang menyangkut hubungan seksual. Rei masih ingat secara jelas malam pertama ia berhubungan badan dengan Akai. Bagaimana dirinya menangis cukup lama sebelum ia tak henti meneriakkan nama Akai karena berhasil berkenalan dengan kenikmatan dunia yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Sejak saat itulah Rei merasa candu dari segala sentuhan Akai.
Namun rasa candu itu justru menjadi alasan mengapa ia menggila akhir-akhir ini.
"Kamu bisa menggunakannya?" tanya Akai.
Rei menggelengkan kepalanya seakan Akai dapat melihatnya. "Entahlah. Aku belum mencoba memakainya sama sekali."
Akai kini menyenderkan kepalanya, membiarkan dirinya menatap langit-langit kamar hotel. "Kamu masih punya sisa pelincir?"
"Ada. Aku perlu menggunakan itu?"
"Betul. Lumuri pelincir itu di sekitar lubangmu dan juga dildo milikmu." Akai memejamkan matanya. Ia kembali membayangkan bagaimana keadaan kekasihnya saat ini, melakukan sesuatu yang tak banyak ia pahami seorang diri. Bayangan wajah Rei yang kebingungan justru membuat Akai semakin tegang.
Di sisi yang lain, Rei melakukan apa yang Akai arahkan kepadanya. Dengan hati-hati ia melumuri dildo miliknya dengan pelincir yang tersisa setengah itu. Setelahnya ia pun membasahi sekitar lubang analnya. Sesekali ia mencoba memasukkan kembali ketiga jarinya ketika ia mengingat bahwa Akai selalu melakukan hal yang sama sebelum masuk ke dalam dirinya.
"Argh-hhhhh! A-aku sudah memasukkan jariku lagi-hhh..." Rei kembali mendesah. Ia pun berusaha bergerak untuk membuat punggungnya menempel pada dinding kamar. Kakinya ia biarkan terbuka lebar agar dirinya memiliki banyak ruang untuk menggerakan jarinya keluar dan masuk. "B-boleh... aku masukkan s-sekarang...? A-akai..."
Tangan Akai kini sibuk mengocok penisnya. Senyuman terukir di wajah Akai yang kepalanya sudah dipenuhi bayangan Rei yang bermain dengan dirinya sendiri di sana. "Ah, Rei... masukkan dan bayangkan itu diriku."
Tidak menunggu waktu yang lama untuk Rei mengarahkan ujung dildo tersebut tepat di lubang analnya. Napas Rei seketika terasa berat. Rasa gugup membuat jantungnya berdebar dengan kencang hingga membuatnya dapat mendengar detak jantungnya sendiri. Rei menelan ludahnya. Tangannya pun mendorong masuk dildo tersebut secara perlahan.
"A-akai.... sempit! S-sakit..," rengek Rei yang menggeliat tidak nyaman.
"Kamu suka kalau aku masuk ke lubangmu seperti itu, bukan? Apa kamu lebih suka kalau aku langsung menghentak habis lubangmu tanpa ampun, Rei?"
"A-aku suka semuanya. Aku suka penismu di dalam lubangku. Ahhhh!!!"
Jeritan Rei memenuhi seisi kamarnya. Kakinya bergetar hebat. Napasnya mulai terdengar berat dan lambat. Rei melihat ke arah lubang analnya. Dildo itu berhasil masuk secara sempurna di dalam dirinya.
"Penis aku sudah masuk di dalam lubangmu, Rei. Izinkan aku bergerak, ya?" Bisik Akai yang semakin erat memejamkan matanya. Penisnya saat ini terasa nyeri akibat pikiran kotornya yang mencoba mengingat kembali bagaimana sensasi sempit dan hangat ketika berada di dalam lubang anal kekasihnya. "Aku akan menghantam habis dirimu sampai akalmu hilang, Rei."
"H-hancurkan aku sampai aku tidak bisa berjalan, Akai."
Rei mengeluarkan dildo itu keluar dari lubangnya sebelum kembali mendorongnya masuk, membuat tubuhnya tersentak akibat tindakannya sendiri. Satu desahan panjang lolos. Hentakan lainnya terus ia lakukan hingga ia dapat menggerakkan dildo itu keluar dan masuk secara cepat. "Ahhhh! Akai! Enak sekali-hhh..."
"Putingmu saat ini sangat tengang, sayangku. Boleh aku mainkan?"
"B-boleh. Kamu suka menghisap putingku bahkan mengigitnya, kan? A-aku suka...sangat suka. Ahhh! Lidahmu selalu membasahi putingku, Akai-hhh!" Tangan kiri Rei kini sibuk mencubit putingnya secara bergantian. Bahkan ia mulai meremas dadanya sendiri dengan kasar sambil membayangkan bagaimana Akai selalu melahap tubuhnya dengan begitu ganas.
Yang sedang dibayangkan saat ini tenggelam dalam gairahnya sendiri. Suara desahan Rei dari seberang telepon membuatnya semakin semangat mengocok penisnya dengan cepat. "Ahhhh.... nikmat sekali. Kau sungguh nikmat sekali, Rei!"
"A-ahh! Di sana! Enak sekali!" Dildo itu akhirnya menyentuh titik nikmat Rei yang langsung ia arahkan kembali untuk menghantam titik yang sama berkali-kali dengan cepat. Lubang analnya mulai basah. Perutnya dipenuhi cairan dari penisnya. Seprai kasurnya basah dan kusut karena keringat Rei yang bercucuran. Mata si pirang itu tertutup dengan rapat. Ini nikmat sekali, batin Rei.
"Biarkan aku memenuhi lubang lacur ini, Rei!"
"Akai-hhh! Penuhi diriku dengan pejumu!" Teriakan Rei yang melengking itu diikuti cairan putih yang keluar dan membasahi tubuhnya tanpa henti. Lenguhan panjang keluar dari mulut Rei yang menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong sambil berusaha mengatur napasnya.
"Cepat pulang, Akai. Lubangku rindu panjangmu."
Mendengar lenguhan panjang dan juga ucapan sang kekasih, Akai pun ikut sampai di puncak kenikmatannya. Dadanya naik dan turun seperti ketika dirinya benar-benar bersetubuh dengan Rei.
"Aku juga rindu."
"Rindu masuk ke dalam diriku sampai mentok?"
Akai tertawa. Ia baru saja menyadari bahwa Rei beberapa kali mengatakan hal yang begitu binal. Sepertinya yang lebih muda itu sangat frustasi semenjak Akai pergi. "Belajar darimana kamu bahasa seperti itu, Rei?"
"Searching."
"Kamu nonton video porno, ya?"
Rei menganggukkan kepalanya dalam diam. Walaupun Akai tidak bisa melihat, ia dapat merasakannya. akai bahkan bisa membayangkan wajah Rei yang tersipu malu setiap dirinya tertangkap basah melakukan sesuatu yang sensual.
"Sabar, ya. Kalau aku pulang, aku bakal bikin kamu nikmat seperti biasa—," ucap Akai yang mulai sibuk membersihkan dirinya dengan tisu.
"Jangan," potong Rei. "Aku mau lebih."
"Lebih?"
"Kamu ninggalin aku selama sebulan, aku perlu lebih. Aku tersiksa di sini! Harusnya kamu mengerti keadaanku lebih baik! Bagaimana bisa kamu malah mau kasih aku yang seperti biasanya!? Aku gak mau! Aku mau lebih!" Omel Rei panjang lebar. Akai yang mendengarkan hanya bisa tertawa kecil.
"Kamu kecanduan seks, Rei."
