Work Text:
pagi itu tiba-tiba sebuah telepon dari nama yang familiar mampir pada layar ponsel yudistira yang berpendar samar. suara pamannya yang dahulu paling dekat dengannya itu menyapa indra pendengaran yudistira. paman bagas membawa kabar perihal beberapa berkas peninggalan orangtua yudistira yang perlu diurusnya.
mengurus berkas berarti yudistira harus pulang kampung. bertahun-tahun dirinya hidup dengan tenang di perantauan hingga yudistira hampir lupakan kampung halaman yang berada jauh di seberang pulau, pun dengan orang-orang dan kenangan-kenangan yang ada di sana.
dengan berat hati yudistira mengangguk, lantas berkedip sekali ketika menyadari paman tidak dapat melihat anggukannya dari sambungan telepon. maka yudistira menjawab seadanya bahwa dia akan pulang kampung hanya untuk beberapa hari, berdalih bahwa pekerjaannya yang begitu banyak membuatnya tak bisa berlama-lama di sana nanti.
yudistira lahir dan besar di sebuah kota yang terasa begitu sesak memenjarakannya. bagi yudistira, tidak ada hal bagus di kota kelahirannya itu. apalagi semenjak dirinya beranjak dewasa dan telinganya mulai dapat mencerna cibiran dari keluarga besarnya. seringkali yudistira akan merasakan perasaan marah yang begitu besarnya. orangtuanya pernah begitu baik dan dermawan pada mereka. menghamburkan uang untuk membantu keluarga besar yang tengah kesusahan. namun dikala keluarga yogendra jatuh tersungkur dari masa kejayaannya, semua orang yang dulu pernah mengelu-elukan keluarganya berbalik, menunjukkan punggung mereka dengan dingin tanpa peduli dengan kondisi keluarganya yang semakin jatuh. hingga pada akhirnya yudistira tersisa seorang diri sepeninggal orangtuanya. lantas yudistira yang pada masa itu masih berusia begitu muda setelah lulus sekolah menengah atas memutuskan untuk pergi jauh merantau ke seberang pulau. harap-harap hidupnya akan menjadi lebih baik di sana. harap-harap dirinya tak perlu lagi bertemu tatap dengan semua orang yang telah dengan sadis mengabaikan teriakan minta tolong ayah dan ibunya.
“jun, aku mau pulkam ya.”
“ngapain?” arjuna, yang paham betul akan masa lalu pacarnya yang lebih muda itu menatap dengan risau. yudistira tersenyum melihatnya, tangan bergerak mengusap lembut surai gelap arjuna.
“ada berkas punya papi yang harus diurus. dua hari aja, kok. abis itu langsung pulang.”
arjuna terlihat menimbang-nimbang sesuatu selama beberapa menit. yudistira duduk di sampingnya, menatap wajah yang lebih tua itu lekat-lekat. perasaan sayangnya melimpah ruah untuk tuan bermanik kelabu ini, yudistira selalu bisa menemukan kembali ketenangan dan kenyamanannya hanya dengan menatap wajah rupawan arjuna yang cenderung terlihat manis ketika tengah bersantai di rumah mereka—atau harus yudistira sebut rumah arjuna, sebab dirinya hanyalah menumpang tinggal di sini. yudistira mendengus kesal pada dirinya sendiri. beberapa tahun lalu ketika dirinya meninggalkan kampung halamannya, yudistira berharap akan hidup dengan lebih baik di perantauan. namun sekarang yudistira menumpang hidup di rumah kekasihnya. pekerjaannya pun tidak stabil sehingga beberapa kali dirinya harus meminjam uang pada arjuna untuk sekedar membeli makanan. arjuna sih tidak masalah dengan itu. namun ego yudistira yang tinggi membuatnya begitu membenci dirinya sendiri atas situasi hidupnya. namun tak dapat dipungkiri bahwa yudistira begitu sering mengucap syukur sebab dari sekian banyak manusia yang lebih baik dari yudistira, arjuna tetap memilihnya sebagai pasangannya.
“... dis? yudis kamu ngelamun?” arjuna melambaikan tangan di depan wajah yudistira. yang lebih muda mengerjap, lantas menggeleng dan tersenyum.
“sori sori. kenapa tadi, jun?”
“aku mau ikut pulkam.”
“ya pulkam aja? kamu lagi kangen aya, ya?”
arjuna menggeleng, “bukan. aku mau ikut kamu pulkam ke kampung halamanmu.”
“loh ngapain?”
“liburan.”
lantas yudistira tertawa. sejauh yang bisa yudistira ingat, tidak ada hal spesial yang bisa menjadikan kota kelahirannya itu sebagai tujuan berlibur. hanya ada satu mall besar di kota. lalu ada sebuah jembatan besar yang akan bersinar dengan lampu berwarna-warni saat malam. ah, yudistira ingat ada satu pasar yang unik. sepertinya hanya itu.
“gak ada yang spesial di banjarmasin, jun.” yudistira tertawa.
“ada, kok.”
“apa tuh?”
“aku. aku spesial. makanya aku ikut nemenin kamu ke sana.”
yudistira terpana. lantas tawanya menggema nyaring. pacarnya ini jarang sekali bertingkah manis seperti ini. yudistira luluh. tangannya mencubit dua sisi pipi arjuna masih dengan sisa tawanya.
“ya udah nanti aku extend jadwalnya. dua hari buat aku ngurusin berkas, dua hari kita keliling kota.”
“GASSS!”
yudistira lagi-lagi tersenyum melihat antusiasme arjuna. diam-diam berharap semoga yang lebih tua tidak menyesal ikut menemaninya pulang kampung ke kota yang bagi yudistira begitu menyesakkan itu.
bertahun-tahun pergi, lantas kembali menjejakkan kaki di kota kelahirannya ini. yudistira rasa tak banyak hal yang berubah. hanya beberapa bangunan yang dicat agar terlihat seperti baru, dan kafe-kafe yang kini begitu banyak mengisi ruang-ruang kosong di sudut-sudut kota.
mereka memutuskan untuk menginap di hotel saja meski paman bagas menawarkan agar mereka menginap di rumah beliau untuk menghemat pengeluaran mereka. namun arjuna menolaknya dengan sopan sebab lagi-lagi arjuna begitu paham akan yudistira yang merasa tak nyaman tinggal seatap dengan keluarga besarnya meski hanya untuk beberapa hari.
dua hari pertama yudistira habiskan untuk mengurus berkas yang menjadi tujuan utamanya pulang ke kampung halaman. arjuna memilih untuk berdiam diri di hotel sebab dirinya tak ingin mengganggu urusan yudistira agar cepat selesai dan mereka bisa berkeliling kota dengan tenang setelahnya.
“pagi! mau kemana kita hari ini?” suara yudistira yang menyapa rungunya pagi itu di hari ketiga mereka berada di kota kelahiran yudistira. arjuna tersenyum malas, beringsut mendekat mencari kehangatan dari tubuh yudistira.
“mmmngantuk … you decide, yudis. aku ngikut kamu aja.” gumaman pelan dari arjuna disambut kekehan kecil.
“jujur aku juga gak begitu tau soal kota ini.” yudistira mengelus surai hitam arjuna yang berantakan sebab dirinya baru bangun tidur. “udah hampir siang sih ini. mau makan dulu aja gak? aku pernah denger ada tempat makan soto yang lumayan terkenal, viewnya sungai.”
arjuna mengangguk-angguk, “boleh tapi aku mau bobo sebentar lagi.”
“dih kebo. bangun, sayaaaang.”
arjuna terkikik geli, yudistira menghujani seluruh wajahnya dengan kecupan ringan. yudistira di sisi lain diam-diam mendengkur puas. saat ini mereka terlihat seperti sepasang suami yang sedang berlibur bersama.
“sungainya coklat ya, yud.” adalah celetukan arjuna yang mengundang tawa yudistira begitu mereka duduk di tempat lesehan yang bersisian dengan sungai.
arjuna melihat beberapa kapal kecil yang berlalu lalang. beberapa mengangkut barang, namun ada juga yang mengangkut orang-orang yang sepertinya adalah warga yang tengah berlibur.
“itu kapal?”
“itu namanya kelotok.”
“ketolok?”
“kelotok.” yudistira ikut menatap ke arah jemari arjuna menunjuk. “ya kapal. tapi kapal kecil. orang sini sih nyebutnya kelotok. terus ada juga yang gak ada mesinnya, mereka bilangnya jukung.”
“cukung?”
“jukung, juna.”
“oh … namanya lucu.”
“lucuan kamu sih.”
“ah kocak lu!”
yudistira tersenyum lebar. hari itu rasanya soto yang mereka makan begitu lezat. entah memang karena tukang masak di warung ini begitu pandai memasak, atau karena yudistira memakannya bersama arjuna.
“ini namanya siring nol kilometer.” yudistira menjelaskan. tangannya erat menggenggam tangan arjuna sebab kerumunan manusia di tempat ini begitu banyak.
“penuh banget orangnya.”
“mungkin karena sekarang malam minggu.” yudistira mengeratkan genggaman tangan mereka. berharap tak ada manusia yang menyadari tautan tangan mereka. “mau jagung bakar gak, jun?”
“mau. eh, yud itu ada takoyaki juga ayo beli.”
malam itu ditutup dengan dua buah jagung bakar yang asapnya mengepul hangat. aroma manis dari mentega oles menggugah rasa lapar mereka. lantas mereka berdua makan jagung dengan lahap. kemudian serentak menertawakan takoyaki yang diberi topping keju.
“takoyaki banjar gini kah?”
“iya kali, hahaha.”
hari keempat, arjuna bangun terlebih dahulu.
arjuna tengkurap di atas kasur, telapak tangannya menumpu wajah dengan malas. senyumnya terkembang dengan mata yang masih sayu digelayuti kantuk. mata obsidian itu menatap wajah yudistira yang terlelap dengan begitu damai, nyaman.
arjuna mengucap syukur yang begitu besar dalam hati. kemarin yudistira terlihat begitu lepas, begitu bebas dan bahagia. tidak seperti saat sebelum mereka berangkat ke kampung halaman yudistira hingga dua hari pertama mereka di kota ini. saat itu kerutan nampak pada jarak di antara kening yudistira. kemarin, yudistira begitu banyak tertawa ketika mereka berkeliling kota dengan menggunakan bis umum yang kata yudistira merupakan hal baru yang dulu tidak ada di kota ini.
“pagi, juna sayang.” suara yudistira yang serak sebab baru bangun tidur memecahkan gelembung lamunan arjuna. sepasang manik obsidian bersirobok dengan manik zamrud menawan yudistira yang berkilau diterpa lampu tidur yang berpendar hangat.
“pagi! mau kemana kita hari ini?” arjuna melontarkan sapaan yang sama seperti yang kemarin pagi diucapkan oleh yudistira, yang lebih muda terkekeh geli.
“karena kita bangun subuh, ayo ke siring yang tadi malam. aku pernah dengar ada pasar terapung di sana.”
“pasar terapung?”
“pasar tapi yang jualan itu ada di atas jukung. masih inget apa itu jukung gak?”
“masih kok. aku mandi dulu, ya!”
“mandi bareng.”
“mesum!”
sejujurnya yudistira tak pernah sekali pun datang ke tempat ini. makanya pengalaman pertama ini membuat yudistira takjub. banyak pedagang yang dengan begitu semangat menawarkan dagangan mereka dari atas kapal kecil.
“mau coba nasi kuning banjar gak, jun?”
“mau!”
pagi itu ditutup dengan yudistira dan arjuna yang duduk berhadapan dan memakan nasi kuning yang mereka beli di salah satu ibu pedagang tadi. yudistira diam-diam tersenyum merasakan nostalgia dari rasa makanan yang tengah mereka makan.
siang hari mereka lalui dengan duduk di atas kapal kecil—kelotok—yang mesinnya menderu halus membelah sungai. cuaca yang tidak begitu terik ditemani angin sepoi membuat perasaan yudistira semakin membaik.
“jun, liat.”
“apaan?”
“kembaranmu.”
“KOCAK LU!”
yudistira tertawa, arjuna bersungut-sungut menggumam kesal. yudistira baru saja menyebut kawanan monyet di tempat wisata ini saudara kembar arjuna. diam-diam arjuna mengucap syukur. sepertinya yudistira benar-benar sudah bersemangat kembali.
malam hari mereka habiskan dengan berburu kuliner di tempat yang disebut sebagai kota lama. yudistira bilang ini adalah kawasan wisata baru. arjuna mengangguk-angguk, matanya melirik ke sana-kemari. kepala kecilnya sibuk menimbang-nimbang makanan apakah yang harus mereka beli.
mereka berakhir memborong banyak sekali makanan. beruntung perut karet mereka dapat menampung semuanya sehingga tidak ada satupun makanan yang terbuang.
“pulang nanti aku harus diet.” arjuna mengusap perutnya yang membulat kekenyangan.
“ah kamu gini lucu kok, kayak hamil.”
“kocak lu, yudis!”
mereka pulang keesokan paginya.
yudistira dan arjuna duduk bersisian di mobil yang akan membawa mereka ke pelabuhan. yudistira menatap jalanan kota tempatnya lahir dan tumbuh besar yang dulu terasa begitu menyesakkan baginya.
dua hari belakangan, yudistira merasa kota ini tak seburuk yang selama ini dirinya pikirkan. barangkali semua itu sebab arjuna yang selalu berada di sisinya. pun dengan pengalaman-pengalaman baru yang dulu tak pernah yudistira rasakan, dan tempat-tempat yang dulu tak sempat dirinya kunjungi, yang pada akhirnya didatanginya bersama dengan presensi arjuna yang selalu bisa membawakan senang dan tenang padanya. rasa-rasanya, dua hari tak cukup. ingin rasanya yudistira menghabiskan waktu lebih lama di kota ini bersama arjuna.
yudistira tersenyum, tangannya mengeratkan tautan jari jemari mereka yang tersembunyi di bawah jaket miliknya. barangkali akan ada waktu yang lain untuknya membawa arjuna kembali menjejaki kota tempat yudistira lahir dan dibesarkan ini. dengan durasi yang lebih lama, dengan tempat tujuan yang lebih banyak.
