Work Text:
BAM! BAM! BAM!
Suara tapak kaki menginjak lantai kayu itu terdengar keras, membangukan Ichiro dari lelapnya. Saat dia membuka mata, sinar mentari pagi menerobos masuk melalui sela-sela gorden yang tidak sepenuhnya tertutup. Ichiro langsung bangkit keluar dari kasur, membangunkan dua anak berwarna rambut sama dengannya. Ichiro menoleh, meminta maaf dengan suara tertahan.
"BANGUN, BOCAH-BOCAH SIALAN! JANGAN MALAS SEPERTI WANITA ITU!" Suara keras wanita yang diikuti dengan gedoran keras di pintu ruangan itu, Ichiro langsung membuka pintu, menundukkan badannya, "maaf, ma. Aku telat bangun hari ini."
Tamparan keras diberikan wanita itu ke Ichiro, "siapa yang kamu panggil 'mama', hah? Jangan pernah memanggilku dengan panggilan itu lagi! Aku tidak ingin memiliki hubungan dengan anak-anak buangan seperti kalian!"
Ichiro menahan sakit di pipinya, "maaf…"
"Pergi kunjungi makam wanita itu nanti! Ingatkan lagi padanya bahwa aku sudah katakan jangan menikah dengan orang tua itu, dasar wanita bodoh!" Wanita itu sekarang menatap tajam dua anak yang terduduk di atas ranjang.
"Dan sekarang, orang tua itu pergi meninggalkan kalian di tanganku, hah! Untung saja dia mengirimkan uang setiap bulannya padaku, kalau tidak nasib kalian sama seperti wanita itu," diikuti dengan dengusan keluar dari wanita itu.
"Bangunkan dua anak itu, Ichiro. Kalian kira kalian adalah raja di rumah ini, hah? Jangan bermalas-malasan, kamu kira ini jam berapa?"
Ichiro hanya mengangguk sebagai balasan, tersenyum ke arahnya. Wanita itu tak peduli, berbalik pergi meninggalkannya.
Tak ada jam di ruangan itu, sayang sekali. Ichiro tersenyum lembut ke arah adik-adiknya, "maafkan kakak, ya. Seharusnya kakak bangun lebih pagi."
Anak termuda diantara mereka bertiga lari memeluk Ichiro, mukanya basah oleh air mata yang turun sedari tadi.
OwO
“Saburo, jam berapa ini?” Ichiro yang sedang memasang seragam di badannya melirik ke luar jendela, sepertinya hari ini dia akan telat.
Saburo menunjukkan 7 jari sebagai jawabannya, Ichiro tersenyum melihatnya, mengusap lembut kepala adik bungsunya dan berkata, ”terima kasih, Saburo. Sepertinya aku akan telat lagi hari ini.”
Mendengar hal itu, anak kedua dari tiga bersaudara itu memegang lengan Ichiro, “Kakak… Bagaimana kalau aku ikut bekerja juga?”
Langsung dijawab dengan gelengan kuat dari Ichiro, “Jiro, kita sudah bicarakan ini. Tugasmu hanya membantu mama dan menjaga Saburo saja, jika kamu bisa melakukan hal itu setiap hari, akan sangat membantuku.”
Ichiro tersenyum hangat dan memeluk kedua adiknya itu, “kalau begitu, hari ini juga, aku berharap banyak pada kalian.”
OwO
Jiro segera pergi meninggalkan ruangan itu setelah ia berganti baju, Saburo mengikutinya dari belakang. Berhenti di pintu, di depannya tersajikan tampilan ruangan yang seharusnya menjadi ruang keluarga, Jiro menelan ludah.
Sampah botol berserakan di atas meja, namun lebih banyak lagi samoah botol kaleng. TV yang Jiro yakini sudah menyala sejak tadi malam, sekarang menampilkan berita terbaru pagi itu–belum dimatikan. Dan sampah lagi berupa plastik-plastik makanan ringan yang sudah kosong.
“Kenapa diam saja, hah? Cepat bersihkan.” Wanita itu keluar dari kamar mandi, berjalan menuju kamarnya tak peduli.
Jiro mulai memungut sampah terdekatnya.
OwO
Jiro tak pernah suka dengan bau alkohol. Bau itu selalu ada jika ia melewati gang gelap saat pergi ke pasar–orang tak bertanggung jawab meminumnya disana, baunya bercampur dengan bau muntahan. Bau itu selalu menempel dengan ayahnya setelah ibu pergi–Kak Ichiro sibuk menggantikannya mengurusi kami sejak saat itu. Bau itu selalu ada setiap malam di apartemen ini–wanita itu selalu meminumnya diselingi dengan tertawa terbahak-bahaknya, Jiro tak bisa tidur karena itu.
PRANK!
Saburo menatap horor pecahan gelas di dekat kakinya, lalu menatap Jiro dengan air mata sudah terkumpul di ujung matanya.
“Menjauhlah pelan-pelan.” Jiro mengecilkan suaranya, takut terdengar oleh wanita itu. Saburo berlari kecil ke belakang kakaknya itu, memegang erat baju Jiro.
Jiro memungut pecahan gelas itu dengan cepat, namun suara gelas yang terjatuh itu sudah berhasil menarik perhatian orang di dalam kamar itu. Suara pintu terbuka, Jiro menghentikan gerakannya, menghadap ke arah wanita itu, wanita itu keluar dengan wajah tak senang. “Oy.”
“Membersihkan itu saja kalian tak becus?” mata wanita itu menyapu sekeliling ruangan hingga ia menemukan pecahan gelas di tangan Jiro, ia mendatanginya dengan cepat, tangannya terkepal di sampingnya, “membereskan ruangan ini saja kamu tak bisa, hah?”
Jarinya mengarah ke kepala Jiro, menjambak rambutnya dengan keras. Jiro meringis menahan sakitnya, hal ini sudah menjadi santapan sehari-harinya. Melihat tak ada reaksi yang diinginkan, wanita itu menjambaknya lebih keras dan mendorongnya ke samping. “ITU GELAS KESAYANGANKU, BODOH! Aku membelinya mahal sekali, dan kamu pecahkan begitu saja, hah? Kamu kira kamu bisa menggantikannya?”
“Maaf.” Jiro menahan sakit di kepalanya, sepertinya akibat benturan keras tadi cukup parah, Saburo berlari ke arah kakaknya.
Wanita itu menggaruk kepalanya, tak peduli dengan apa yang terjadi di depannya, “ah, untung saja aku orang baik, kalian tak perlu menggantinya, itu akan merepotkan sekali. Sekarang masaklah sesuatu untukku.” Wanita itu mendengus kesal, berjalan kembali ke kamarnya, “aku tunggu pukul 10 nanti.”
Suara pintu yang dibanting keras. Jiro melirik ke arah jam dinding diatas TV, 10 menit lagi pukul 9.
OwO
Saburo mengikuti langkah kaki kakaknya keluar apartemen itu untuk membuang sampah. Awalnya kakaknya itu akan pergi sendiri untuk melakukannya, tapi Saburo sudah memegangi tangan kakaknya itu sedari tadi, aku mau ikut.
Saburo cemas, butuh waktu cukup lama untuk membereskan ruang keluarga itu setiap harinya dengan hanya mereka berdua melakukannya, dan setiap mereka selesai membereskannya, waktu di jam dinding itu sudah menunjukkan pukul setengah 10. Saburo cemas, sesaat sebelum ia keluar dari apartemen itu, jarum jam memang menunjukkan pukul 9 lebih.
Saburo cemas, ia harap hari ini akan lebih baik daripada sebelumnya. Sambil berjalan, tangannya memegang erat tangan kakaknya itu.
OwO
Jiro memandangi isi kulkas itu dengan seksama, namun mengerutkan dahinya dengan hasilnya, tak mungkin akan ada keajaiban sesuatu muncul begitu saja di kulkas yang kosong itu. Dia menghela napas, membuka kembali celemek yang sudah terpasang, melirik ke arah jam dinding ruang keluarga itu, kalau wanita itu ingin semua selesai pukul 10, maka Jiro harus pergi secepatnya agar dia bisa tepat waktu.
Dan itu berarti ia harus pergi sendirian, akan lebih efisien jika ia tak membawa Saburo bersamanya.
OwO
Saburo menatap kakaknya lamat-lamat, aku ingin ikut.
Kakaknya itu menggeleng pelan, “aku akan kembali secepatnya.”
Saburo mengalah, melepaskan jarinya yang sedari tadi menggenggam erat tangan Jiro.
Saburo cemas, untuk pergi ke pasar terdekat dan kembali lagi ke apartemen ini butuh waktu setengah jam, ditambah dengan waktu untuk berbelanjanya, seharusnya Jiro sudah kembali sekarang. Saburo mendongakkan kepalanya ke arah jam dinding itu–sebentar lagi jam 10.
Suara pintu terbuka terdengar, namun bukan pintu masuk apartemen itu, melainkan pintu kamar wanita itu, “Oy, bocah.”
Menyadari hanya ada dirinya dan anak kecil di apartemen itu, wanita itu mendengus kesal, “mana kakakmu, bocah?”
Saburo tak menjawab, dari tadi ia hanya terduduk diam di lantai dekat dapur. Wanita itu berjalan ke arah dapur, tak menghiraukan Saburo yang gemetar saat didekatinya. Wanita itu membuka pintu kulkas, melihatnya tak ada isi, ia membanting pintu itu dan menatap ke arah Saburo, “mana kakakmu, heh? Bukankah seharusnya ada makanan untukku di meja sekarang?”
Wanita itu berjalan mendekati Saburo, menurunkan kepalanya agar matanya bertemu dengan mata Saburo, “kenapa kulkasnya kosong?”
Saburo memeluk lututnya, menghadap ke bawah, tak berani menatap mata wanita di depannya.
“JAWAB, BOCAH!”
Mulut Saburo terkunci, memeluk lututnya lebih erat, namun tidak menutupi gemetar di tubuhnya yang semakin hebat.
“Argghhh, kenapa tidak ada satupun anak orang tua itu yang benar, sih.” Wanita itu mendecak marah, pergi kembali ke kamarnya. “Bawakan aku bir.”
Saburo masih diam tak bergerak.
OwO
Suara pintu terbuka terdengar lagi, Jiro masuk ke dalam apartemen itu, termangu dengan suasana hening yang menyambutnya. Yah, bukan berarti ribut menjadi hal awam disana, hanya saja perasaan Jiro tak enak tentang hal ini. Dia berjalan cepat menuju dapur untuk meletakkan belanjaan di tangannya dan melihat Saburo duduk memeluk lututnya di lantai.
“Saburo, ada apa?” Tanyanya pelan. Saburo mendongakkan kepalanya, memeluk langsung kakaknya itu. Jiro mengusap pelan kepala adiknya, “maaf, tadi aku membantu orang dulu di pasar, aku tak mengira akan jadi selama ini… apakah wanita itu memukul-”
BRAK! Pintu kamar wanita itu terbuka, melihat Jiro sudah ada di hadapannya, dia langsung tersenyum lebar, “baguslah kamu sudah pulang! Temanku akan datang sebentar lagi, buatkan camilan.”
Jiro segera menarik tangan Saburo yang kembali gemetar itu ke dapur. Jarum jam perlu berputar satu kali penuh hingga Kak Ichiro pulang, “nanti kita main di taman, yuk!”
OwO
Ichiro membuka pintu apartemen itu, mengucapkan “tadaima~” walaupun dia tahu tak akan ada yang menjawabnya, mungkin juga dia tak pantas menganggap ini sebagai rumahnya.
Dari tempatnya berdiri, tercium kuat bau alkohol dan suara dari reality show kesukaan wanita itu. Ichiro berjalan menghampiri wanita itu yang sedang terbaring di atas sofa, “mama, sudah larut, tidurnya di kamar saja.”
Wanita itu membuka matanya, melihat Ichiro ada di depannya, ia tertawa kecil, “Ichiro~ kamu ganteng sekali~”
Satu kecupan di bibir Ichiro. “Mama, kamu mabuk, ayo pindah ke kamar du-”
Wanita itu tak menghiraukannya, ia mencium lagi bibir Ichiro. Tangannya terangkat, mengarah ke leher Ichiro, mengikat badan mereka.
Satu kecupan lagi, wanita itu menjatuhkan kepalanya ke pundak Ichiro, menghirup dalam-dalam, dan tertawa lagi. Ichiro terdiam, tak melakukan apa-apa, menyadari wanita itu sudah terlelap, ia menggendongnya ke kamar.
Ichiro keluar dari kamar untuk melihatnya adik-adiknya sibuk membersihkan sisa kegembiraan wanita itu. Ichiro berjalan ke arah mereka, ikut membantu.
OwO
“Apa yang kalian lakukan tadi?” Ichiro bertanya setelah kembali ke ruangan itu, dirinya yang baru saja mandi itu terasa segar kembali. Jiro menjawab pertanyaan itu, sesaat Saburo menarik lengan baju Ichiro.
“Ada apa, Saburo?” tanyanya lembut sambil mengusap kepalanya. Saburo menunjuk ke arah Jiro lalu ke arah kepalanya sendiri. Ichiro terdiam sebentar lalu menghadap ke Jiro, “kepalamu kenapa?”
Jiro menggeleng, menjawab tak apa-apa kemudian melanjutkan ceritanya. Saburo menggeleng keras, menarik lagi lengan baju Ichiro.
“Bagian mana?” Ichiro menatap tajam adiknya itu dan Jiro hanya diam tak menjawabnya. Saburo sekali lagi menarik lengan baju Ichiro, sekarang menunjuk bagian belakang kepalanya.
Ichiro menghadap ke Jiro sekali lagi, “t-tadi terasa sakit, sih, pas mandi…”
Ichiro menghela napas, “memendamnya tidak akan menyelesaikan apapun, kita ini bersaudara, Jiro. Aku harap kita akan saling terbuka besok dan besok lagi, disitu kita akan saling membantu. Kamu, aku, dan juga Saburo.”
Jiro menunduk, menahan tangisnya, “tak apa, Jiro.” Ichiro memeluknya.
Di sela tangisnya, Jiro membuka mulutnya “a-apakah ayah benar-benar akan kembali, kak?”
“Aku capai…”
“Aku dan Saburo terus diperlakukan seperti itu, kakak juga! Aku tak tahan…”
Sunyi, hanya ada suara sesenggukan Jiro di ruangan itu. “Setiap hari, wanita itu terus menjelek-jelekkan ibu! Kenapa kita harus tinggal bersamanya, kak?”
Sekali lagi Ichiro tak menjawab, memeluk lebih erat adiknya itu.
“Kak…”
Jiro memanggil, dibalas dengan gumaman dari kakaknya, “a-apakah ayah berbohong selama ini?”
Setelah menutup mulutnya dari tadi, akhirnya Ichiro menjawab, “ayah akan kembali.”
“Kapan?”
Tak dijawab lagi oleh Ichiro, Jiro bertanya lagi, sekarang dengan menaikkan suaranya, “kapan, kak?”
Tak ada jawaban apapun dari kakak pertamanya itu, Saburo mulai meneteskan air matanya. Ichiro yang menyadari itu, menghela napas, mendorong Jiro, menatapnya lamat, “ayah tak bilang pastinya kapan…”
Hening lagi, kali ini suara isakan Saburo yang mengisi ruangan itu.
“Tapi, bukankah mama bilang ayah mengirimnya uang setiap bulan? Berarti ayah masih ingat pada kita!” Ichiro tersenyum lebar, berusaha menghibur adik-adiknya.
Jiro terdiam, masih menunduk, sementara Saburo mengelap air mata dan ingusnya dari mukanya.
Ichiro terkekeh, “satu hari sudah berlalu, terima kasih sudah melakukan hal terbaik kalian untuk membantuku.” Ichiro memeluk keduanya.
“Satu hari lagi, ayo percaya ayah akan pulang!”
UwU
Saburo menatap datar layar komputer di depannya itu, disana tertulis nama yang dikenalnya setelah dia dan kakak-kakaknya keluar dari apartemen itu, nama ayah mereka.
Suara ketukan pintu terdengar, Saburo menoleh, Jiro memasuki kamarnya. “Saburo? Ada apa?”
Dia menggeleng, “ayah tidak akan kembali, dia sudah mati di luar sana.”
Jiro menggumam, tersenyum kecut mendengarnya, dia sudah memutus harapannya, “sebaiknya jangan beritahu kakak dulu.”
Saburo mendecak, “tentu saja aku tahu, bodoh. Aku tidak mau lihat kakak khawatir hal-hal tidak penting.”
“Jangan menghinaku seperti itu, sekarang kamu mirip dengan wanita itu.”
“Cih, aku hanya menyatakan fakta.” Saburo mengangkat bahunya.
“Ah, lalu wanita itu bagaimana?”
“Siapa yang peduli? Aku harap dia sudah kembali menjadi tanah.”
“Kamu judes sekali, Saburo. Padahal dulu kamu sering sekali menangis, imut~ sekali~” Jiro tertawa melihat muka adiknya memerah.
“Yah… bagaimanapun juga, bukankah hidup kita sekarang jauh lebih baik?” Jiro menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Kalau bisa, jika ada ibu akan lebih baik lagi.”
“Mana mungkin.”
Jiro hanya tertawa.
Pintu kamar itu terbuka lagi, Ichiro menampakkan mukanya, “ah, kalian berkumpul disini rupanya. Makan malam sudah siap, ayo keluar.”
“Kare,” Ichiro menjawab pertanyaan yang langsung dilemparkan Jiro ketika ia memasuki kamar itu, “kesukaan kalian, bukan? Ayo!”
