Work Text:
jujutsu kaisen by akutami gege
gojo/nobara
.
.
//WARNING INCEST//
.
.
"Apa kau tidak bisa memikirkan kembali untuk tidak pindah dari sini?" tanya ibunya untuk kesekian kalinya.
Tangan Satoru yang sedang memasukan buku-buku miliknya kedalam kardus berhenti. Kepalanya mendongak menatap ibunya yang sekarang menampilkan ekspresi sedihnya.
"Ibu, aku sudah di terima menjadi mahasiswa baru di Tokyo, jadi mau tidak mau aku harus pindah, dan ini adalah kesempatanku untuk menjadi pribadi yang mandiri, kalau aku tetap di sini bagaimana aku akan maju?" ucapnya dengan menggenggam tangan ibunya, mencoba meyakinkan bahwa ia bisa menjadi orang yang mandiri.
"Tapi Nobara-Chan,"
Satoru menghela napas lelah, "ada apa sih dengan gadis itu? Bukankah dia sudah besar?"
"Nobara-Chan, bukankah dia masih perlu dijaga?" Satoru yang sudah selesai memasukan semua bukunya, kini berdiri, kepalanya mendongak, merasa lelah dengan semua yang ia alami beberapa tahun terakhir ini.
"Apa yang harus aku jaga dari anak gadis galak seperti Nobara? Bukankah Nobara ikut kelas bela diri?"
"T-tapi, ibu tetap khawatir!" ucapnya dengan suara serat kekhawatiran.
"Ibu tahu dari mana asal kekerasan kepalaku ini, kan? Jadi aku akan tetap pindah dari rumah ini!" lalu Satoru kembali pada aktifitas sebelumnya, mengabaikan ibunya yang masih menampilkan ekspresi sedihnya.
Satoru meninggalkan kardus yang sudah terisi buku-buku miliknya, kini ia melanglah ke arah lemari untuk mengemas semua baju yang akan ia bawa nanti.
"Ibu tahu," ucapnya menggantung, membuat Satoru yang sedang membuka lemarinya terdiam sesaat.
"....apa?"
"Kau hanya ingin lari dari apa yang sedang kau rasakan ini, kan?" Satoru berbalik, menghadap ke arah ibunua dan melupakan untuk memilah-milah baju mana yang akan ia bawa nanti.
Kepalanya miring, Satoru memberikan ekspresi bertanya pada ibunya, berharap ia bisa menyembunyikan apa yang sudah ia sembunyikan selama ini.
"Sejak kapan?"
"Aku tidak mengerti!"
"Satoru, kau bisa saja membohongi Nobara dan ayahmu, tapi ibu tahu apa yang kau sembunyikan selama beberapa tahun ini," ucap ibunya sambil melangkah ke arah Satoru yang hanya bisa diam.
Satoru memejamkan mata lalu menghela napasanya dengan keras, tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa ketika semua kebohongan yang ia tutupi kini terbongkar semua oleh ibunya.
"Jadi, ibu tahu apa yang aku sembunyikan selama ini 'kan? Lalu menurut ibu aku harus bagaimana?" tanyanya meminta pendapat pada ibunya.
"Tapi Nobara adalah adikmu,"
"Benar Nobara adalah adikku, tapi bukan kandung. Dia hanyalah orang luar, tidak ada hubungan darah apapun dengan kami semua!"
"Tapi tetap saja!"
"Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah mencoba berbagai hal yang aku lakukan untuk membuat pandanganku padanya tetap seperti adik kandungku selama beberapa tahun ini, tapi apa? Semuanya sia-sia, aku tidak bisa membayangkan lagi bahwa Nobara adalah adik kecil manis ku, yang selalu aku bayangkan adalah Nobara gadis yang mulai beranjak dewasa, dengan segala pertumbuhan yang ada dalam diri Nobara. Aku selalu menjaga kewarasanku selama ini, tapi semuanya sia-sia. Setiap harinya, setiap kali aku memandang wajahnya ketika kami berpas-pasan kewarasanku mulai terkikis sedikit demi sedikit. Jadi untuk menjaga kewarasanku adalah aku akan pergi, memisahkan diriku dari Nobara dan ini adalah keputusan yang menurutku sangat tepat."
.
.
Setelah pertengkaran ia dan ibunya beberapa hari yang lalu. Kini akhirnya Satoru resmi pindah ke Tokyo, mengasingkan diri dari keluarganya demi kebaikan mereka semua. Satoru tidak ingin merusak jalinan persaudaraannya dengan Nobara.
Yha, walaupun Kadang-kadang Satoru tidak pernah memanjakan Nobara lagi seperti ia lakukan dulu, dan terkadang Satoru memberikan sikap pasif ketika Nobara mendekatinya untuk menceritakan kesehariannya.
Kemudian hari di mana ia akan pindah, Satoru hampir dua jam lamanya mendapatkan wejangan dari ibunya, akhirnya Satoru mendapatkan kerelaan dari ibunya. Ayahnya sendiri hanya mengucapkan untuk berhati-hati ketika ia menjalani kehidupan baru di tengah-tengah kota Tokyo.
Dan walaupun Satoru merasa lega karena kepergiaanya tanpa di ketahui oleh Nobara, tapi dalam hatinya ia merasa begitu bersalah. Tapi kalau Satoru tidak segera bertindak, Satoru tidak tahu bagaimana ia akan menahan semua perasaan yang ia pendam untuk adik kecilnya itu.
Adik kecil. Gumamnya dalam hati, dengan umur mereka yang kian bertambah, Nobara tidak bisa dikatakan sebagai adik kecilnya lagi. Nobaranya sudah tumbuh menjadi gadis yang begitu memikat, teman-teman kelasnya selalu menanyakan pada dirinya tentang Nobaranya yang Satoru yakini bahwa teman-temannya mungkin ada ketertarikan untuk menjadikan Nobara sebagai kekasihnya.
Dan dengan bertambahnya usia mereka, Satoru semakin hari ia semakin tidak bisa membedakan apakah ia menyayangi Nobara sebagai adik kecilnya atau sebagaimana perasaan pria pada wanita pujaannya.
Kemudian demi menjaga ikatan persaudaraan mereka dan menekan perasaannya terhadap Nobara, Satoru mulai menjauhi Nobara. Mereka yang dulunya sering menghabiskan waktu bersama, kini Satoru menjaga jaraknya dengan Nobara.
Atau yang setiap malam Nobara mencoba menyelinap kedalam kamar untuk tidur bersamanya, kini Satoru mencoba untuk mengunci pintu kamarnya. Satoru menegaskan kembali, bahwa mereka sudah cukup dewasa, kegiatan yang sering mereka habiskan akan memiliki makna yang berbeda. Apalagi Satoru tidak bisa menyangkal perasaan terhadap adik kecilnya.
Satoru tidak yakin bagaimana perasaan ini berkembang begitu saja. Yang Satoru yakini, setiap harinya Satoru melihat bagaimana perkembangan Nobara, maka ada perasaan aneh yang tumbuh dalam dirinya. Seperti Satoru merasa gugup ketika mereka menghabiskan waktu bersama di dalam kamarnya, dan jantungnya selalu berdegup kencang ketika Nobara ada di dekatnya.
Maka dari itu untuk menekan jauh perasaannya terhadap Nobara, Gojo Satoru lebih memilih untuk pergi jauh dan mencoba melupakan perasaan terhadap adik kecilnya.
.
.
Satoru menghela napas pelan, tangannya meregangkan dasi yang mengikat lehernya terasa begitu mencekiknya dengan erat. Tubuhnya lelah, Satoru hanya membutuhkan istirahat dari pekerjaannya.
Karena sudah satu minggu ini Satoru lembur terus menerus, menggantikan pekerjaan partner kerjanya yang sekarang sedang cuti kehamilannya.
Mengingat beberapa berkas yang ia kerjakan tadi, Satoru pikir besok adalah lembur terakhirnya. Tapi tidak bisa dipungkiri kemungkinan ada tambahan pekerjaan lagi yang mengharuskannya lembur.
Tangannya meraih ponselnya, membuka satu pesan Line dari ibunya yang mengingatkan dirinya untuk makan. Ibu benar-benar tidak pernah sangat perhatian padanya selama lima terakhir ini. Dan dari ibunya pula Satoru tahu bagaimana perkembangan Nobara selama lima tahun terakhir ini.
Dan dari ibunya pula Satoru tahu bahwa Nobara mengikuti jejaknya, meninggalkan rumah dan melanjutkan sekolahnya di Tokyo.
Benar di Tokyo. Satu kota dengannya. Tidak ada yang harus ia khawatirkan, lagipula bukankah Tokyo itu luas, jadi hanya beberapa persen kemungkinan bahwa ia akan bertemu dengan Nobara. Lagi pula kabar itu adalah dua tahun yang lalu dan Satoru tidak pernah memberitahukan alamat di mana ia tinggal selama ini.
Matanya terpejam, mengingat kembali tahun pertamanya yang terasa begitu sangat berat. Jauh dari kedua orang tuanya, dan jauh dari Nobara. Satoru mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlalu memikirkan bagimana keadaan orang rumah, bagaimana reaksi Nobara yang pasti kaget tidak menemukan dirinya di mana pun.
Tapi melihat keesokan hari bagaimana ponselnya yang berdering terus menerus, Satoru sangat yakin bahwa Nobara marah padanya.
Satoru ingat kalau tidak salah ia dulu pernah mencoba untuk membuktikan bahwa dirinya menyimpang atau tidak. Apakah Satoru benar-benar menyukai adik kecil atau tidak.
.
.
Saat itu liburan musim panas pertamanya saat ia berada di tingkat dua menengah ke atas dan Nobara berada tingkat terakhirnya di menengah pertama. Mereka seperti hari-hari biasanya, menghabiskan waktu berdua di dalam kamar miliknya.
Rumahnya sepi, kedua orang tuanya sedang menghadiri perjamuan dari kantor Ayahnya bekerja jadi mau tidak mau mereka berdua harus berada di dalam rumah dan menunda rencana liburan mereka.
Satoru yang sedang asik bermain video game yang ada pada komputernya menoleh sebentar ke arah Nobara yang sedang asik membaca novel-novelnya. Jarinya mengklik mouse untuk menghentikan permainannya. Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah Nobara dengan perlahan.
Nobara tidak menyadari kehadiranya yang ada di sampingnya, karena Nobara terlalu asik dengan novelnya. Lalu dengan perlahan Satoru merebahkan tubuh di samping Nobara dan memeluknya.
Nobara menoleh, menatap matanya dengan tatapan heran. Satoru hanya tersenyum dan menyelipkan rambut pendek Nobara kebelakang telinganya. Lalu Satoru dengan cepat mencium pipi Nobara.
Dan rona merah muncul begitu saja, membuat Satoru semakin tergoda untuk mencoba hal-hal lain pada Nobara.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan menyentuh bekas ciuman yang diberikan oleh Satoru.
"Mencium adik kecilku." jawabnya sambil mengelus rambut halusnya dengan sayang.
"Aku bukan adik kecilmu lagi." protesnya yang membuatnya semakin gemas di mata Satoru.
"Ne, Nobara-Chan, apakah kau mempunyai orang yang kau sukai?" tanya Satoru.
Pipi gadis itu semakin memerah, membuat Satoru curiga bahwa gadis kecilnya sudah mengenal yang namanya percintaan.
"Hmm, sebenarnya ada. Tapi aku malu untuk mengungkapkannya." jawabnya malu-malu, yang membuat Satoru sedikit tidak suka dengan responnya.
Mereka saling berhadapan, mata mereka saling memandang satu sama lain. Kemudian tangan Satoru membelai pipi merah merona milik Nobara, mengelusnya dengan pelan menikmati kelembutan pipinya.
"Apakah kau ingin mencoba sesuatu, Nobara?" bisiknya pelan, matanya kini tertuju pada bibir Nobara yang entah sejak kapan sudah memakai lipglose.
"Mencoba apa?" balasnya sambil berbisik juga.
"Nii-san tebak bahwa kau benar-benar sangat menyukai orang ini, kan?" gadis itu mengigit bibir bawahnya, membuat Satoru yang melihatnya hanya bisa menahan napasnya
"Itu memang benar." jawabnya pelan yang membuat Satoru mengalihkan pandangannya.
"Kalau begitu, kita akan mencoba ini, aku akan memberikan pengalaman pertamamu agar kau melakukan dengan orang yang kau suka tidak begitu canggung." Satoru mendorong tubuh Nobara kebelakang, membuat tubuhnya terlentang, lalu dengan perlahan Satoru beranjak ke atas tubuh Nobara. Mata Satoru benar-benar sudah begitu banyak kehilangan fokus ketika melihat Nobara yang pasrah begitu saja.
Dengan perlahan kepalanya menunduk, mata terpejam, nafasnya perlahan-lahan memberat dan hidungnya mengelus hidung Nobara dengan lembut. Satoru bisa merasakan cengkraman tangan kecil Nobara pada pinggangnya.
Lalu dalam seperkian detik Satoru mecium Nobara tepat pada bibirnya. Mereka terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi Satoru bisa merasakan bagaimana rasa bibir Nobara yang selalu ia bayangkan setiap malamnya.
Kemudian Satoru kembali mencium bibir Nobara, tidak seperti tadi yang hanya sebuah kecupan, kali ini Satoru mencoba untuk mencium lebih lama, mencoba untuk merasakannya, menikmati bayang-bayang bibir yang memenuhi kepalanya.
Matanya masih terpejam, lidahnya ia keluarkan untuk menjilat permukaan bibir Nobara yang tidak lama kemudian terbuka. Satoru seperti kehilangan akalnya, dengan ciuman menuntut, Satoru menekan bibirnya dengan kuat. Bibir bawah Nobara ia hisap dan ia gigit lalu ia memasukan lidahnya kedalam mulut Nobara.
Dan saat itu Satoru bisa merasakan bagaimana tubuh intinya yang dengan perlahan mulai tumbuh menjadi keras dan menekan permukaan perut Nobara.
Dengan cepat Satoru melepaskan ciumannya, menegakan tubuhnya, memandang Nobara yang benar-benar begitu berantakan di bawahnya. Napasanya memburu, jantungnya berdegup dengan kencang, ia masih berada di atas tubuh Nobara, menduduki Nobara dengan bagian intinya yang tumbuh keras dengan sangat lancangnya.
Dengan kepala yang linglung dan mendapatkan respon luar biasa dari tubuh intinya, Satoru langsung pergi meninggalkan Nobara yang berantakan di atas kasurnya.
Dan semenjak itu Satoru dengan perlahan menjauhi Nobara.
.
.
.
Ketika Satoru memasuki apartemennya, pandangan pertama yang ia lihat adalah highheels. Satoru terdiam sejenak, berpikir, dan tiba-tiba ia ingat bahwa beberapa hari yang lalu Hakari -teman sekamarnya- memberitahu bahwa ia akan mengajak dan mengenalkan kekasih baru padanya.
Tanpa adanya firasat apapun, dengan santai Satoru berjalan untuk memasuki lebih ke dalam apartemennya.
Kemudian ketika Satoru melewati ruang tengah, ia berhenti dengan tiba-tiba. Di depannya berdiri seorang gadis yang sudah lama tidak ia jumpai. Jantungnya yang tadi berdegup dengan normal, kini tiba-tiba berdegup dengan kencang.
Gadis itu sama kagetnya, mulutnya terbuka sedikit, tergagap dan Satoru yakin gadis itu ingin mengeluarkan kata-kata tapi tidak tahu apa yang ingin gadis itu katakan.
Satoru sendiri hanya diam berdiri, tidak tahu harus mengeluarkan reaksi seperti apa. Yang Satoru yakin, ia benar-benar tidak menyangka bahwa kekasih temannya adalah Nobara?
"Nii-san!" bisik Nobara yang membuat Satoru semakin tidak tenang. Ingatan akan tentang kejadian musim panas yang mereka lalu terputar dengan cepat di dalam kepalanya.
Suara itu, suara yang selalu memenuhi telinganya setiap hari dan selama beberapa tahun terakhir ini tidak pernah ia dengar kini terdengar lagi. Satoru menatap Nobara dari atas sampai bawah dan Satoru hanya bisa menyimpulkannya dalam satu kata, bahwa Nobara sangat cantik. Tidak, di mata Satoru, Nobara semakin sempurna.
Dengan cepat Satoru mengalihkan pandangannya, tidak ingin berlama-lama untuk memandangi Nobara yang ada pada jarak pandang terdekatnya.
Lalu dengan cepat pula Satoru kembali pada kepura-puraanya, ia kembali melanjutkan langkahnya, mengabaikan dirinya bahwa ia baru saja kaget melihat gadis kecilnya yang ada di depan mata.
Baru beberapa langkah, tangannya langsung di tarik dan membuat langkahnya berhenti begitu saja. Kepala Satoru menoleh, menatap Nobara yang menahannya agar tidak pergi.
"Kau mengabaikanku!" ucapnya dengan napas yang terdengar memburu. "Apakah sikap seperti ini yang kau berikan padaku setelah sekian tahun mengabaikan dan meninggalkanku begitu saja?" tanyanya dengan nada marah yang membuat Satoru terdiam.
"Nobara-chan, aku kembali." tiba-tiba teriakan Hakari terdengar dari lorong apartemennya. Satoru yang mendengar langkah Hakari semakin dekat, dengan paksa melepaskan cengkraman erat tangan Nobara pada pergelangan tangannya.
"Wah, Satoru kau datang dengan tepat waktu." ucapnya sambil berjalan kearahnya, "hmm, ada apa ini?" tanya Hakari dengan heran. Satoru yakin Hakari pasti akan merasakan atmosfer yang tercipta olehnya dan Nobara.
"Tidak ada. Aku hanya menyapanya sebentar." jawab Satoru berbohong dengan memaksakan senyumannya.
Matanya melirik ke arah gadis yang ada di depannya, kepalanya menunduk dalam, "tadi kami sudah berkenalan. Nobara, nama yang indah dan cantik." ucapnya sambil menatap kepala Nobara yang ada di depannya, "Ah, Hakari, panggil aku ketika kau membutuhkan sesuatu. Aku ingin beristirahat sebentar." Hakari menganggukan kepalanya, kemudian Satoru berbalik meninggalkan Nobara dan Hakari.
.
.
Setelah kemunculan Nobara dua minggu yang lalu di dalam apartemennya, Hakari semakin sering membawa Nobara untuk terus menerus mampir ke apartemennya.
Satoru tidak yakin, apakah Nobara yang merayu Hakari untuk mengizinkannya untuk mampir, atau Hakari yang memang sengaja untuk mengajaknya.
Bukannya Satoru tidak suka akan kehadiran Nobara, hanya saja semakin sering ia melihat Nobara, perasaan dulu yang dengan mati-matian ia lupakan dan padamkan, kini tanpa tahu malu muncul begitu saja.
Satoru merentangkan tubuhnya, ia ingin keluar dari kamarnya tapi Nobara dan Hakari masih berada di ruangan tengah apartemennya. Dan Satoru tidak ingin melihat mereka berdua yang Satoru yakini sedang asik bermesraan.
Kalau boleh jujur Satoru sangat iri dengan Hakari.
Kemudian matanya terpejam, mempertanyakan dirinya apakah ia akan memperlakukan Nobara seperti ini sampai mereka tua nanti?
Tidak, tidak. Hanya saja Satoru belum menemukan orang yang tepat, orang yang pas untuk menggantikan posisi Nobara yang paling teratas di dalam hati maupun pikirannya.
Tapi mengingat semua perjalanan asmaranya selama ini tidak begitu mulus, apakah ia bisa mendapatkan orang yang tepat? Ketika Satoru memulai hubungan baru, di kepalanya selalu membatu, selalu membanding-bandingkan antara mereka dan Nobara.
Dan karena itu pula hubungan asmara Satoru selalu berakhir dengan buruk.
Bahkan Satoru lupa kapan terakhir kali ia mengajak kencan seorang wanita? Satu tahun yang lalu atau tiga tahun yang lalu? Entahlah, Satoru lupa semua itu.
Mungkin Satoru bisa mencoba mengajak kencan Utahime. Mengingat dulu ia pernah ada naksir sedikit pada wanita galak itu.
.
.
.
-to be continued-
