Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-02-10
Words:
3,779
Chapters:
1/1
Kudos:
34
Bookmarks:
1
Hits:
135

saat bunga berbicara

Summary:

saat mulut tak mampu berucap, biarkanlah bunga dan mahkotanya yang berbicara—tentang dua insan yang takdirnya tak diikat oleh benang merah. Tentang dua insan yang jelas berbeda jalan.

Mereka tahu ini salah, tapi kenapa semua terasa begitu benar?

Please mind the tags

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

disclaimerkarakter milik Masashi Kishimoto. the fanart I used for my stories are drawn by the perspective artists and commissioned by me.

warning: AU. contain cheating or disgusting acts (please don't do this kind of shit). not a fluffy story.


.

.

"Saat mulut tak mampu berucap,

.

...biarkanlah bunga dan kelopaknya yang berbicara."

.

.

Saat Bunga Berbicara...

.

.

Ino Yamanaka memang selalu memiliki ketertarikan tak wajar pada bunga.

Bunga.

Indah. Cantik.

Ino Yamanaka sudah terlalu familiar dengan flora. Bahkan semenjak ia pertama kali menarik nafas di muka bumi ini, di salah satu pagi di bulan September, bunga Aster turut mekar bersamanya.

Bunga.

Keindahan ciptaan Tuhan yang mahadaya mempesona bak gugusan surga.

Ada sesuatu yang membuat Ino jatuh cinta pada hamparan kelopaknya yang cantik namun rapuh. Yang berwarna-warni dan memiliki arti.

Ada perasaan tenang yang mengaliri nadi ketika pirusnya menjatuhkan pandangan di kelopak mereka yang indah bagai alegori. Ino bawa dirinya tenggelam lebih dalam, memahami dan menghafal arti bunga, sebanyak yang bisa ia kumpulkan dalam memori.

Banyak yang mengatakan bahwa kesukaannya itu hiperbolis, terlalu berlebihan.

Tapi Ino tak peduli, setangkai bunga, menurutnya, patut untuk dihargai untuk setiap arti yang mereka miliki.

Termasuk bunga anyelir yang kini ada di hadapan.

Anyelir putih yang tertangkap dalam keabadian sebuah lukisan.

Dilukis dengan sebegitu eloknya dalam spektrum rona dominansi putih. Putih yang melambangkan kesucian, menambah sakral momen penyebutan janji suci ini. Ya, saat ini Ino memang sedang berada di sebuah pernikahan. Pernikahan dengan sentuhan elegansi, bunga-bunga anyelir turut nampak menghias venue di sana sini. Dihias sedemikian rupa untuk menjadikan hari ini sebagai memori terbaik.

Jujur, Ino dibuat terkesan dengan tatanan dekorasinya. Banyaknya bunga yang menghiasi membuat Ino merasa seperti di rumah—familiar. Tenang.

Dan ia menyukainya.

Namun yang paling membuatnya terkesan adalah lukisan-lukisan yang dipajang di sekitar venue ini. Berdiri disangga oleh atelier dan kayu-kayu yang dipercantik dengan buket-buket anyelir cantik. Dan dari sekian deret lukisan yang ada, yang menjadi favoritnya adalah lukisan bunga Anyelir ini. Begitu indah, hingga tak kuasa membuat Ino untuk memilih mengamati setiap detail goresannya, ketimbang pergi menikmati kudapan seperti tamu lainnya.

Anyelir atau bunga carnation—dari kata 'incarnation' yang bermakna inkarnasi, inkarnasi untuk kisah cinta yang akan dirajut dalam lembaran baru sepasang pengantin. Ya, pilihan bunga yang cerdas untuk sebuah acara sakral penyantuan dua insan manusia.

Mungkin bunga anyelir menjadi bagian penting dari histori sepasang pengantin yang menikah itu, sampai sampai pernikahan mereka didominansi oleh anyelir di sana sini.

Ino tidak mengenal mereka berdua, ia juga hanya datang sebagai pendamping belaka. Bahkan Ino belum sempat menyapa mereka karena ia datang terlambat. Hanya sekilas saja, karena sepasang pengantin di atas atlar sudah terlanjur dikerubungi rombongan tamu. Maka ia pun memilih menyingkir dulu.

Ino hanya sempat mendengar bahwa si mempelai pria ini adalah seorang pelukis, dan ia harus akui pria ini memang punya talenta luar biasa.

"Apa kau masih akan terus-terusan memandang bunga-bunga itu dan mengabaikanku, hm?"

Suara lembut itu merasuki gendang telinga sang gadis Yamanaka, memaksanya untuk mengalihkan pandang dari cantiknya kelopak-kelopak bunga Anyelir yang terhampar di depannya.

Si pemilik suara, seorang pria berbalut tuxedo hitam itu ternyata sudah berdiri di sisinya. Bibirnya tertekuk dan alisnya mengerut ke bawah.

.

Pria ini...

Pria yang tak asing dalam hidup Ino Yamanaka.

.

Pria yang selama setahun ini telah resmi ia sandang nama belakangnya.

Ya, seharusnya dia tidak bisa menyebut dirinya sebagai Ino Yamanaka lagi. Dia sudah bukan Yamanaka.

Dia sekarang adalah nyonya Saiken.

Karena Utakata Saiken adalah suaminya.

.

Suaminya—tapi bukan cinta dan hatinya.

.

Mereka menikah bukan disatukan oleh perasaan agung bernama cinta.

Paksaan, tekanan, dan seikat kontrak yang diatur oleh keluarga, justru yang membawa dua insan ini naik ke atas atlar.

Pernikahan yang akhirnya menjadi topeng bagi mereka berdua. Mereka tahu mereka tidak saling mencinta, tapi mereka tak punya daya upaya. Terlalu banyak hal yang dikorbankan jika mereka membiarkan keegoisan mereka menang.

"Kau membuat ini menjadi tidak mudah, Ino," katanya lagi, alisnya naik ke atas dan iris hazelnya menyorot jenaka.

Ino melempar pria itu senyum kecil. "Ah, maaf. Kau tahu kan kalau aku—''

"Sangat menyukai bunga, ya, aku tahu. Hingga kau memilih memperhatikan bunga-bunga yang ada di pesta pernikahan ini, ketimbang suami sendiri," Pria itu menyela, mengibaskan tangan, "Aku sudah terlalu hafal, Ino. Kau melakukannya di semua tempat dimana disitu ada bunga,"

Ino hanya tersenyum, kaku. Tidak pernah ada yang mengerti akan kecintaannya pada bunga, termasuk Utakata. Ino dan dunianya sendiri, begitu mereka menyebutnya.

Bibir Ino hanya akan melengkung maklum ketika diejek aneh, ia tidak kecewa atau marah saat orang-orang itu tidak mengerti. Well, mereka terkadang hanya tak mau mengerti, menurutnya.

"Hei, kau sesekali harus meresapinya, Uta. Seperti bunga anyelir putih ini, apa kau tahu mereka melambangkan cinta yang murni, perasaan tak bersalah, kesetiaan, cinta yang menggebu serta keberuntungan?"

Dengusan pun berganti mengudara, "Bagiku bunga itu sama saja, tidak ada bedanya. Yang berbeda hanya warna mereka—"

Helaan nafas Ino pun mengiring sebagai tanggapan, "Tidak begitu, kau harus—"

"Utakata, kaukah itu?"

Perdebatan kecil mereka tertunda, teralihkan oleh suara yang mengalun penuh antusiasme dari seberang.

Disana, berdiri seorang wanita berpawakan mungil, dengan rambutnya yang digelung cantik.

Wanita itu melangkah menyebrangi ruangan. Gaunnya yang berwarna putih gading dijinjing di satu tangan, sementara seorang lelaki bertuxedo putih mengikuti dengan patuh dibelakangnya.

Utakata yang air mukanya sempat didominasi oleh kebingungan, menggantinya dengan seulas senyum lebar. Ia merentangkan tangan, menangkap tubuh wanita itu yang menghanbur ke pelukannya dengan suka cita, "Selamat atas pernikahanmu, Hotaru,"

Wanita yang dipanggil Hotaru itu tertawa renyah, sedetik kemudian melepaskan pelukannya dari Utakata, "Terima kasih, nii-san. Aku senang kau bisa datang,"

Satu tangan Utakata lantas terjulur, melingkar di pinggul Ino untuk menariknya mendekat, "Kenalkan, ini Ino, istriku. Kau belum bertemu dengannya kan, Hotaru?" kelakarnya, sambil tertawa kecil. Surai Utakata bergoyang, ketika ia menoleh ke arah Ino, dan tersenyum. Gestur itu tampak begitu afeksional—walau sebenarnya hanya sebuah tipu daya, "Nah, Ino, kenalkan dia ini Hotaru, adik tingkatku semasa kuliah di Melsbourne dulu,"

Ino bergerak otomatis. Senyumnya terlukis, tangannya terjulur anggun, berniat untuk menjabat tangan Hotaru yang ikut terarah padanya. Ia terlalu sempurna untuk ini. "Senang bertemu denganmu, nona Hotaru. Perkenalkan aku Ino Saiken," Ya. Dia ingat. Dia sudah bukan Yamanaka lagi.

Sang mempelai wanita membalas ramah, balas tersenyum dan sedikit menundukan kepala sebagai sapaan, "Senang bertemu denganmu juga, Ino-san," ia menolehkan kepalanya ke samping, bibirnya yang dipoles tint merah muda merekah cantik, "Ah iya aku belum memperkenalkan kalian ya," ia menggeser tubuhnya ke samping, membiarkan mempelai prianya yang sedari tadi berdiri di belakangnya itu nampak lebih jelas. Senyum Hotaru tertarik lebih lebar, tangannya yang dibungkus sarung tangan chiffon melingkar ke sekitar lengan pemuda itu, "Kenalkan, ini suamiku," katanya,

"Kami bertemu pertama kali di salah satu pameran seni..."

.

Eksistensi Utakata dan Hotaru seolah melebur. Poros dunia adam dan hawa itu hanya tertuju pada satu sama lain saat iris mereka akhirnya bersambut.

.

Biru dan hitam bertemu.

Tiba-tiba saja, racun itu berubah menjadi candu.

.

"Namanya Sai. Sai Shimura..."

.

Andai Ino tahu jika membiarkan dua bola mata itu beradu akan menjadi kesalahan pertama terbesar dalam hidupnya.

Kesalahan yang membuat dunianya jungkir balik, cinta dan rasa sakit yang menyerta.


.

.

Ino tak tahu ia harus mengutuk semesta atau membiarkan ucapan syukur melirih dari belah bibirnya saat ia tak sengaja bertemu dengan pria bernama Sai Shimura itu-untuk kali yang kedua.

Saat itu Ino tengah mendatangi sebuah pameran galeri lukis di Konoha, menemani Sakura yang ingin mendukung kekasihnya sebagai salah satu artist yang berpartisipasi di sana. Sementara Sakura mendampingi kekasihnya yang tengah diwawancarai oleh seorang jurnalis, Ino menemukan dirinya berdiri di sudut galeri, bingung harus berbuat apa.

Menghela nafas, ia akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri pameran agar ia tak terlihat awkward dan menjadi tontonan orang banyak. Lukisan terkahir yang menjadi destinasinya adalah lukisan setangkai bunga Krisan.

Lukisan itu entah kenapa terlihat... tidak asing.

Goresannya tampak familiar. Akrab. Membuatnya langsung teringat pada satu hal.

Anyelir putih.

Membuatnya teringat pada—

"Bagaimana menurut Anda?"

.

Ino berjingit.

Suara ini. Aroma ini. Presensi ini.

.

Kepalanya tertoleh dengan cepat sebelum ia sempat mencegahnya.

Sai Shimura.

Itu benar Sai Shimura.

Suami dari rekan suaminya. Suami Hotaru.

Tentu Ino langsung bisa mengenalinya.

Karena setiap paras milik lelaki itu terekam dalam setiap inci dalam kepala, segala pahatan Tuhan yang sempurna itu tak akan musnah begitu saja bagai hempas debu.

Sudut bibir Ino sengaja ia tarik ke atas, sengaja untuk menutupi kegugupannya. Menyamarkan jutaan sensasi tak karuan yang melanda dirinya saat itu juga.

"Eum...saya pikir lukisan Anda... bagus,"

Bodoh.

Sai memiringkan kepala, "Bagus?"

Ino mengalihkan pandangannya kembali ke lukisan. Pemandangan Sai yang mengerlingkan kepala tak seharusnya membuat pipinya memanas.

Bodoh kuadrat.

"Anda tahu saya bukan seorang pelukis," Ino mencoba memberi eksplanasi, "atau bahkan seorang pengamat seni sekalipun. Saya hanya seorang pengunjung biasa. Amatir. Dan jika Anda bertanya mengenai pendapat saya mengenai lukisan ini, maka... entahlah, saya tidak tahu apa kata yang tepat, tetapi lukisan Anda punya daya tarik sendiri," satu bahunya terangkat, "Bagus, yeah," simpulnya, pada akhirnya.

"Kenapa?" tanya Sai yang kini masih memandangnya dengan raut penasaran kentara, "Seperti yang Anda bisa lihat, diantara lukisan-lukisan yang terpajang di pameran ini, lukisan bunga Krisan ini adalah yang paling sedikit peminatnya. Tidak banyak yang tertarik melihat sebuah lukisan setangkai bunga Krisan, berdiri seorang diri. Berwarna putih. Kosong. Tanpa background dan komposisi warna yang lain," Kepalanya bergerak, sekarang ia memilih untuk turut mengamati karyanya sendiri, sama seperti Ino di sampingnya, "Membosankan ya? Aku kadang berpikir, lukisan ini justru lebih mirip hasil karya anak TK."

Sebuah kekeh kecil tak bisa Ino tahan untuk berdendang, "Dan saya rasa justru hal itulah yang membuatnya unik," luruhnya, "Saya hanya mencoba menerka, bahwa setangkai bunga Krisan ini tengah menggambarkan seseorang," kini bibir Ino terungkit dengan sendirinya, "atau mungkin Anda, yang sedang merasa kesepian di tengah kehampaan yang ada, yang Anda gambarkan dengan background polos tanpa goresan warna,"

Sai menoleh kepadanya, dan Ino pun menyambutnya.

Lagi-lagi hitam bertemu biru. Seperti saat itu.

Dan rasanya tak beda.

Candu itu masih ada.

Ino terdistraksi ketika ia bisa melihat bagaimana bibir Sai sedikit demi sedikit melengkung, membentuk senyum simpul, "Anda bisa menebaknya dengan benar. Dan Anda menyebut diri Anda amatir?"

"Sungguh, saya memang amatir," ia tertawa kecil. Ino menyadari pandangan mereka masih saling terkunci, dan entah perasaannya saja atau bukan, ada sorot lain yang memancar di sepasang jelaga itu—entah apa,

"Saya senang bisa bertemu dengan Anda disini,"

Ucapan pria ini diutarakan dengan nada kasual. Sekasual seperti kau tengah membicarakan cuaca hari ini. Biasa.

Tapi ucapannya itu punya efek luar bisa untuk Ino.

Ia dengan kurangajarnya mampu membuat jantung Ino berdebar seolah ingin melompat keluar. Saking kerasnya jantung itu bertalu, nafasnya turut berubah sesak. Sulit.

Maka Ino lagi-lagi memilih membuang pandangan, tak kuasa menahan sorot tak terbaca itu lebih lama.

Ia kalah.

.

Ya Tuhan. Apakah ia... apakah ia semurah itu?

Sungguh, Ino?

Dia suami orang, demi Tuhan.

Dan dia pun juga istri orang.

.

Bodoh triple kuadrat.

.

"Kenapa Krisan?"

Sai mengedip, sepertinya tak mengekspektasi pertanyaan itu akan terlontar, "Apa?"

"Kenapa Anda memilih bunga Krisan sebagai bunga yang Anda gambar?" ulang Ino, "Kenapa tidak bunga yang lain?"

Sai kembali menoleh untuk memandang lukisannya. Bagai fragmen yang menyusun memori, Sai bisa mengingat sensasi menyenangkan ketika ia menggerakan tangannya di hamparan kanvas, menyapukan kuas membentuk kelopak-kelopak yang kecil dan saling tersusun cantik.

Lagi-lagi senyum simpul itu hadir lagi, "Karena bunga Krisan selalu dianggap sebagai bunga yang ceria. Orang-orang melihatnya sebagai bunga yang kuat dan mempesona, namun mereka tidak mengetahui apa yang ada di baliknya. Mereka hanya melihat dari luarnya saja, tanpa ingin mengenalnya lebih jauh. Krisan tampak kuat, namun ia sebenarnya rapuh," Pria ity membiarkan kekehan ringan itu lepas dari bibirnya, "Tapi yang jelas, Anda setuju kan jika Krisan adalah bunga yang cantik?"

Ino ikut tersenyum, kali ini lebih lebar. Ia senang ia bisa mengenal seseorang yang punya sentiman sama dengannya, "Ya benar, mereka cantik," mata biru Ino berbinar-binar, antusiasme membuncah, "Krisan putih memiliki makna kekujuran... dan... kesetiaan..."

Ino menyadari suaranya melirih ketika ia mengatakannya.

Kulitnya serasa dicubit oleh tangan-tangan tak kasat mata.

Kejujuran dan kesetiaan...

Ya.

Berkebalikan dengan kelakuannya sekarang. Munafik.

Ia menggelengkan kepalanya, berusaha memfokuskan diri pada momen ini, mengabaikan otaknya yang merongrong dan mengutuknya tiada henti. Karena hatinya berkata lain.

"Yah, krisan putih itu sangat cantik," tanggap Ino, dengan sekulum senyum.

"Cantik," Sai mengangguk, ia tersenyum juga. Tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Senyumnya tipis, tapi mampu mendesirkan jiwa,

"Seperti Anda..."

.

Itu adalah kesalahan kedua yang diperbuatnya saat Ino memilih berpaling, mempertemukan kedua netra yang terpaku.

.

Andai saja ia tak memandang bola mata kelam itu, mungkin ia tidak akan jatuh dan tenggelam dalam jeratnya.

Dan benang merah terlarang itu juga tak perlu terajut dengan sendirinya.


.

.

Kelopak mata Ino perlahan membuka, mengernyit kala ia harus membiasakan diri dengan terpaan sinar mentari yang menyambar. Helaian kelopak bunga camellia berwarna merah terang menjadi pemanjanya di pagi hari.

Untuk kali pertama semenjak ia menginjakan kaki di umur dewasanya, Ino bangun dengan perasaan ringan dan menyenangkan yang menyelimuti sanubari.

Dengan sekali desah nafas panjang, Ino biarkan tangannya bergerak, terjulur untuk menyentuh permukaan kelopak bunga camelia di dalam vas yang berdiri di atas meja nakas. Ia sentuh permukaan lembut nan rapuh itu dengan penuh kehati-hatian, membiarkan diri dimandikan sensasi menggelitik yang adiktif.

Adiktif.

Seperti Sai.

Pertemuannya dengan pria itu setelah pameran pun berlanjut ke pesan singkat, sambungan telfon di malam hari yang sunyi, pertemuan-pertemuan rahasia, hingga akhirnya segala nafsu dan dorongan yang membuncah itu menuntun mereka disini.

Disini—di atas ranjang. Seluruhnya, dalam dekap satu sama lain.

Panggil Ino murah, panggil Ino menjijikan. Ia tahu. Ia sadar.

.

Ia mengerti jika ini hanya sementara dan tak akan bertahan lama.

.

Maka ia biarkan dirinya terlarut, terhanyut dalam arus dan pusaran yang dibuat seorang Sai Shimura dalam hidupnya. Menyerahkan segalanya, tubuh, hati—dirinya di genggaman lelaki itu, dalam sebuah lubang gelap dan terlarang. Sebuah lubang yang menjijikan.

Sebuah dosa dan petaka yang bernama perselingkuhan.

.

Seseorang mengecup pundaknya, beberapa kali, hingga turun ke punggung dan naik lagi ke leher, membuat Ino dibuat merinding dalam ekstasi saat dinginnya bibir lelaki itu menggores tubuhnya yang tak tertutup sehelai kain apapun. Tak ada batasan apapun diantara mereka, tubuh ke tubuh. Sai dan Ino—satu.

"Morning, ma fleur,"

Sai berbisik di bahunya, dengan suaranya yang berhasil membuat Ino gemetar.

Ma fleur. My flower. Bungaku.

Itu adalah panggilan khusus Sai untuknya.

Ino adalah bunga Sai. Bunganya.

Hanya dia seorang.

Dan Ino menyukainya.

Dia menahan senyum. Kepalanya mengerling ke belakang, melepaskan sentuhannya dari kelopak bunga camelia di dalam vas. Ino balas memberinya kecupan, kali ini di bibir. Pelan namun pasti mereka bergerak di atas bibir masing-masing.

"Morning, love,"

.

Meski ini salah, namun di saat bersamaan,

...ini terasa begitu benar.

.

Bangun dalam dekapan pria itu, disambut oleh wajahnya yang rupawan, dan kecupan yang akan mereka bagi—memang begitu seharusnya adanya.

Memang begitu yang diinginkan hatinya.

.

Tapi hidup tak berjalan seperti itu.

Biarlah. Biar.

Ijinkan Ino hidup dalam kefanaan yang semu ini.

Hanya untuk sementara.

.

Ya.

Hanya sebentar saja...


.

.

"Happy 1th month anniversary,"

Ino menutup tangannya, menahan senyum saat ia disodori bunga daisy yang tersusun rapi dalam buket plastik.

Ino menerimanya di tangan kanan, pada akhirnya menyerah juga untuk tak tersenyum, "Anniversary bulanan itu tidak eksis, tahu." ia memberitahunya, sembari ia menarik Sai untuk masuk ke dalam ruang studio lukis pria itu. Sai bilang bahwa tempat ini adalah destinasinya setiap ingin mencari ketenangan. Tempatnya mencari inspirasi.

Tempat itu sekarang disulap menjadi tempat pertemuan rahasia mereka berdua.

Tempat mereka bersembunyi. Dari Hotaru dan Utakata.

Dari dunia.

Sai kini mengambil alih tangan Ino dalam genggaman. Ia dudukan dirinya di atas kursi di depan sebuah canvas yang masih kosong, belum ternoda gores belum tinta apapun. Sai memaksa Ino duduk di kedua pahanya, membiarkan mereka mendekap satu sama lain dengan si gadis dalam pangkuan.

"Aku tahu anniversary bulanan itu tidak ada, aku hanya ingin sesuatu untuk dirayakan diantara kita," Sai mendongak untuk membagi senyum, "Aku hanya ingin kau tahu, meskipun kita hanya punya waktu sedikit untuk bertemu, setiap detik yang aku lewati denganmu adalah sesuatu yang spesial untukku," katanya dengan sungguh-sungguh, "Jadi bagaimana? Kau suka dengan bunga pilihanku?"

"Daisy..." Ino menggumam, memainkan kelopak bunga di dalam buket itu dengan jarinya. Bibirnya melengkungkan senyum, "Aku suka. Suka sekali. Pilihan yang bagus, Romeo," godanya pada pria itu.

Senyum yang Sai patri berubah melebar, meskipun hanya sepersekian senti, "Apa artinya?"

"Kesucian, ketulusan, sebuah awal yang baru. Sama seperti Krisan ..." suara Ino perlahan berubah mengecil, selaras dengan senyumnya yang berangsur-angsur menipis, "...ini juga berarti kesetiaan,"

Ino tertawa—tawa sendu.

"Ironis ya? Bunga ini bermakna kesetiaan, tapi kita justru..."

Pemuda bersurai hitam itu mengenggam tangannya lebi erat, lantas memberinya usapan kecil. Usapan itu mampu membuat senyum Ino perlahan terungkit kembali. Ungkapan nonverbal yang diciptakan Sai di tangannya seolah sedang memberitahu Ino bahwa beban yang ditanggungnya itu tidak seorang diri.

Ino balas memberinya remasan kecil, "Namun sebenarnya, Daisy memiliki satu arti paling penting,"

Kening Sai terkernyit, "Apa itu?"

"Cinta sejati," Ino menatap kedua jelaga itu dalam kesungguhan, "Aku mencintaimu,"

.

Sepasang bibir yang menyambut dirinya, cukup menjadi balasan bagi Ino malam itu.


.

Mereka memang bukan pasangan lazim.

Mereka memang bukan pasangan konvensional dan benar.

Terkadang, semua terasa berat. Hubungan mereka juga diwarnai pertengkaran dan air mata, seperti pasangan normal lainnya.

.

Pertengkaran paling besar itu terjadi dua bulan yang lalu. Rasa cemburu yang menjadi sebab.

.

Rasa cemburu yang membutakan arah hingga kata-kata menyakitkan itu saling terlempar. Namun mereka cepat menyadari bahwa hanya ke pelukan satu sama lainlah mereka hidup. Mereka terlalu bodoh untuk tak bisa bertahan tanpa eksistensi masing-masing. Pertengkaran itu hilang bagai derai angin, tak berbekas.

Semua seolah kembali seperti semula, seperti seharusnya.

.

Namun entah kenapa, hari ini Ino mendapat firasat tak mengenakan yang menghimpit dada.

.

Hari yang tadi sempat diramalkan menjadi hari yang cerah berubah begitu saja dengan kehadiran hamparan langit kelabu bagai gugusan raksasa.

Ada sesuatu yang tak biasa.

Sau sendiri terlambat tiga puluh menit dari kesepakatan mereka bertemu.

Sudah selama semingguan ini juga Sai... berubah.

Intensitas interaksi mereka menurun. Ia jadi jarang membalas pesan singkatnya, ia sukar dihubungi, apalagi di temui.

Sampai akhirnya kemarin malam, Sai mengajaknya bertemu.

Bukan kelegaan yang datang menyelimuti, tapi ketakutan, gundah dalam dada. Ada sesuatu yang terjadi, dan ini semakin dibuktikan oleh Sai yang tak kunjung datang kesini, seiring detik demi detik yang berlalu.

Jarum berdetik, waktu tak berhenti.

Hingga akhirnya Sai muncul di hadapannya. Ia membawa sebuket bunga di tangan kanannya. Genggamannya pada tangkai mengerat. Ino berjalan mendekatinya dan meletakan tangan di bahunya yang entah kenapa terasa begitu kaku. Belum sempat ia bertanya, Sai keburu menyelanya,

.

"Hotaru hamil,"

.

Kalimat sederhana itu mampu membuat Ino membatu.

Ia bisa merasakannya.

Ia bisa merasakan dunianya runtuh.

.

Ia bisa merasakan ini adalah akhir dari segalanya...

.

"Hotaru hamil—''

Tidak. "Anakmu?"

Tolong.

"Anakku," Sai mengonfirmasi, kepalanya tertunduk dalam. Kalimat itu laksana sebuah belati yang menggores ulu hatinya, "Kurasa karena malam pertengkaran kita. Aku marah dan aku... mabuk. Hotaru... ada disana, aku tak bisa mengendalikan diriku dan kami..." suaranya melirih, "Aku akan jadi seorang Ayah."

Kepala Ino otomatis terggeleng, tahu kemana pembicaraan ini akan mengarah. Tidak. Tolong jangan katakan

"Kita tidak bisa melanjutkan ini."

"Tidak, love," Ino menggunakan panggilan itu, berharap Sai akan berubah pikiran. Ia berulang kali menggelengkan kepalanya, berusaha menjangkau tangan Sai di hadapan.

Sai mengalihkan pandangan, tak sanggup membalas wajah terluka yang tepat mematri jiwanya, "Maafkan aku, aku tidak bisa..."

"Don't. Please,"

"Maaf, maaf, maaf," Sai melepas tautan tangan mereka, sebisa yang ia lakukan. 

Pelupuk mata Ino memanas, namun ia tahan kuat-kuat.

.

"Maaf, Ino. Aku benar-benar tidak bisa."

.

Ino baru menangis, detik ketika Sai berbalik pergi.

.

Ia baru menyadari jika kepergian lelaki itu benar-benar nyata. Benar-benar terjadi.

.

Tangisnya makin mengeras, saat ia menyadari bunga apa yang lelaki itu tinggalkan di atas mejanya.

Setangkai bunga cyclamen,

.

—selamat tinggal.


.

.

.

Sai mengamati dalam diam, bagaimana Hotaru itu menimang bayi mereka di gendongannya.

Seorang bayi laki-laki yang tampan.

Bayi lelaki yang selalu diinginkan Ino.

Ia memang pernah mengatakan itu pada Sai. Di salah satu sela malam yang mereka habiskan dalam erangan candu dan deru nafas yang memburu.

Sai benar-benar berharap gadis itu ada disini. Berrharap bahwa yang menimang bayinya adalah gadis itu.

7 bulan kemudian, dan Sai masih belum bisa menghapus bayangan Ino dari kehidupannya. Luka itu terlalu berbekas, terlalu dalam. Terlalu nyata.

Sai tak bohong. Setiap detik yang ia habiskan dengan Ino memang spesial-hingga tak ada satu keling memoripun yang ia tinggalkan.

Merasa sesak bernafas, Sai memilih mundur.

Ia memilih keluar dari ruang rawat inap untuk menghirup udara segar.

Selalu saja begitu.

Rasa sakit tak terkira menghujam dirinya setiap kali ia biarkan dirinya mengingat Ino. Walau hanya sedikit saja. Rasa sakitnya begitu luar biasa—

.

"Sai-san?"

.

Sai seketika mendongak. Irisnya membesar, terkejut.

Menemukan fakta bahwa Utakata telah berdiri tepat di hadapannya.

Utakata.

Suami Ino.

Sendinya berubah kaku, bibirnya mengering seketika. Jika Utakata ada disini, apakah Ino...

"Ini benar ruang rawat Hotaru kan?" tanya pria itu dengan seulas senyum.

Sai mengangguk, patah-patah, "Ya,"

"Syukurlah, aku tadi salah kamar sampai tiga kali," Utakata mendesahkan nafas lega. "Oh iya, Ino juga minta maaf ia tidak bisa datang menjenguk Hotaru dan bayimu."

Sai ingin membalas, apa saja. Bertanya kabar Ino, misalnya. Itu masih wajar kan? Masih oke untuk ditanyakan kan? Apa gadis itu baik-baik saja? Apa dia makan dengan benar?

.

Apa dia...

...masih mencintainya?

.

Tapi bibirnya terkatup. Rapat-rapat. Tak mengutara apapun jua.

Utakata menyerahkan buket bunga yang sedari tadi ia sangga di tangannya pada Sai, berkata, kemudian, "Ada hadiah dari kami, selamat untuk kelahiran bayi kalian ya. Kami ikut berbahagia. Oh—dan Ino sendiri yang memilihkan bunga ini untuk kalian, omong-omong. Aku tidak tahu apa artinya," Utakata terkekeh, "Tapi bukankah ini bunga yang cantik?"

Bibir Sai masih beku. Ia hanya bisa terdiam, menunduk menatap buket bunga di tangannya, hingga akhirnya Utakata undur diri untuk masuk ke dalam dan menyapa istrinya. Suara ucapan selamat yang sahut menyahut, dan konversasi dari dalam ruangan itu perlahan mengabur dalam gendang telinganya begitu saja.

Yang bisa di dengar Sai hanya detak jantungnya yang berdentum lebih cepat. Tak kuasa bertalu-talu.

.

Dan setes air mata itu lolos begitu saja, membentur kelopak bunga berwarna biru yang terpapar terbuka.

.

Menjadi saksi bisu seorang Sai Shimura yang membiarkan dirinya lemah.

Membiarkan pertahananannya runtuh akan rasa rindunya yang tak tertahan untuk Ino di sana.

Ia tahu apa arti bunga ini. Ino pernah mengajarinya.

.

Forget-me-not.

Bunga yang artinya membuat Sai meneteskan air matanya— tak berhenti, di koridor rumah sakit yang tak berpenghuni.

.

—aku mencintaimu,

.

.

...selamanya.

ta fleur.

.

.
Your flower. Bungamu.

.

Bunga seorang Sai, yang tak akan bisa ia gapai lagi. 

Selamanya.

.

 

saat bunga berbicara...

.

~O-O-O~

fin.


.

.

a/n:

halo, udah lama ga nulis lagi. dan saya malah bawa fic angsty ini di awal tahun xD fic ini sebenrnya remake dari fic di fandom sebelumnya tapi saya ngerasa ini juga cocok dijadiin saiino jadi ya begitulah. apakah angst-nya kerasa? Saya ga suka banget sama perselingkuhan makanya of course ini ga akan happy ending, despite saiino adalah faves saya haha, cuman fiksi aja sih ini. tapi please, tolong jangan pernah selingkuh ya, apapun alasannya. it's such a disgusting thing to do.

anyway, terima kasih sudah menyempatkan membaca sampai sini :D semoga tahun ini bisa menjadi tahun yang lebih baik untuk kita semua. Amin.

Notes:

Terima kasih sudah berkenan membaca fic gaje ini ^^