Actions

Work Header

lenyap bersama salju

Summary:

Lucy Gray melanjutkan perjalanan menuju Utara bersama janji yang diingkari dan hati yang patah.

Notes:

The Hunger Games is a series of young adult dystopian novels written by American author Suzanne Collins. I take no profit by writing this. I enjoy the suffering I went through to create this. I hope you'd too.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Aku tidak mengerti.

Aku ingin bertemu denganmu.

Kakiku mati rasa.

Aku ingin bertemu denganmu.

Aku tidak bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Aku serius ketika mengatakannya.

Aku ingin bertemu denganmu; di sisi dunia yang lain, di kenyataan yang lain, di jalan cerita yang berbeda.

Di dunia, kenyataan, dan jalan di mana; meskipun kita berbeda, kita berpijak di landasan yang sama.

Ada ranting yang menggores bahu.

Di mana semuanya sederhana.

Terjatuh. Aku terjatuh.

Aku ingin bertemu denganmu di dunia lain, di mana kita sesederhana kau dan aku bersama–tanpa permainan, dusta, dan tangan yang berdarah. Hanya kau dan aku.

Aku tidak cukup jauh.

Tapi tidak ada sesuatu yang sederhana tentangmu—tidak hari ini, tidak di masa depan, dan tidak di saat kita hanya memiliki sedikit perbedaan.

Lari. Dan lari.

Kau akan terus melangkah, meraup, menggerogoti—tidak ada yang bisa meyakinkanmu kalau semua sudah cukup. Bahkan jika aku mati, bahkan jika aku tenggelam di antara salju.

Jauh dari sini, kita berjanji akan pergi ke Utara.

Aku bersalah tapi kau berdosa.

Kau tidak bersamaku.

Aku ingin bertemu denganmu.

.

.

.

.

.

Utara, seberapa jauhkah dirimu?

Apakah aku harus berjalan, berlari, atau merangkak?

Utara, seberapa benar mereka tentangmu?

Apakah aku harus meninggalkan segalanya dan menghapus jejak?

Utara, seberapa jauhkah dirimu?

Apakah aku harus membunuh kekasihku dan menenggelamkan jasad?

Utara, seberapa benar mereka tentangmu?

Apakah aku bisa dilindungi dan disembunyikan,

Seandainya musim dingin kembali,

Dan merenggut lagi segalanya,

Seandainya salju tinggal,

Membuatku kedinginan selamanya,

Oh, Utara, seberapa jauhkah dirimu?

Aku berjalan tertatih dengan sebilah pisau,

Oh, Utara, seberapa benar mereka tentangmu?

Aku berharap kau menyelamatkanku,

.

.

.

.

.

.

“Bukankah itu sangat mirip dengan gitar lamamu?”

Aku nyaris terpeleset. Menoleh, aku menemukan kenyataan dari apa yang diucapkan Bibi. Gitar itu. Memang hampir sama. Kalau saja yang dipegang laki-laki itu tidak terlalu usang karena tidak pernah dipoles sama sekali.

“Aku tidak yakin,” jawabku pendek.

Senyum Bibi Tina runtuh, dia mengeratkan rangkulannya pada pinggangku. “Aku minta maaf,” bisiknya parau Buru-buru dia menggiringku menjauh dari musisi jalanan dan menggumam tentang persediaan musim dingin yang perlu dibeli sebelum hujan salju secara tak termaafkan akan mengguyur kota.

Hujan salju tak termaafkan.

Itu adalah dirimu, tahu?

“Aku mendengarmu sering menggumam dan melantunkan nada-nada kecil, kupikir mendengar petikan gitar akan membuatmu ingin menyanyi lagi,” ungkap Bibi Tina setelah menyalakan perapian.

Aku duduk dan menggeleng. “Aku tidak akan bernyanyi dalam waktu yang lama.”

Bibi Tina membuka mulut namun menutupnya lagi. Sudah tiga bulan dan dia masih tidak berani bertanya. Setelah menemukanku terkilir, basah, lebam, dan lecet di mana-mana pada suatu malam di perbatasan—dia tidak bicara apa-apa kecuali mengungkapkan kekhawatiran betapa kurusnya aku dan aku harus makan supaya luka-luka cepat sembuh. Dia hanya bertanya, apakah aku adalah Lucy Gray yang itu?

Aku baru menjawab dua hari setelahnya dan usai membuatnya berjanji untuk tidak memberitahu siapa-siapa.

“Kau punya suara yang sangat indah, Nak,” ujarnya, membawaku pada dekap hangat yang hampir selalu gagal kubalas. “Kau membawa cerita dengan lagu-lagu yang kau bawakan. Kau tidak harusnya berhenti bernyanyi. Oh, Nak, ketahuilah kau sangat berharga bagiku sekarang. Aku tidak ingin melihatmu sedih.”

“Aku minta maaf.”

“Tidak, tidak, Nak,” Dia melepas pelukan dan membawa tangannya ke kepalaku. Merapikan helai-helai pendek yang dipotongnya atas permintaanku sebulan lalu. “bukan salahmu. Siapa pun yang membuatmu sampai ingin berhenti bernyanyi, aku mengharapkan kesulitan tanpa habis dalam hidupnya.”

“Dia sudah mati.”

Aku bisa melihat kedua pupilnya yang melebar dengan cepat. Aku tidak menahan sudut bibirku untuk naik dan membentuk senyuman pahit.

Bibir Bibi Tina bergetar. “Nak, manisku … aku minta maaf kau melalui semua itu.”

“Aku berharap sudah menusuknya sampai mati.”

Bunyi kayu terjatuh ke tanah dan percikan api yang membesar di perapian mengisi sejenak keheningan yang kuciptakan.

.

.

.

.

.

Matahari terbit dan terbenam,

Dunia berputar sebagaimana mestinya,

Senapan dan pisau yang tenggelam,

Dunia kita sama dalam sesaat,

Bulan naik ke peraduan,

Aku berlari dan kau tertidur di antara merah,

Dunia kita berbeda untuk selamanya

.

.

.

.

.

Tapi kau menipuku.

Kau tidak akan mati.

Aku tidak bisa membunuhmu.

Kukira kita sungguhan setara untuk hal ini, tahu?

Kau pun tidak akan bisa membunuhku

Tapi kau menipuku seperti biasa.

Bibi Tina menutup mulut dengan tangan, menahan isakan yang memaksa keluar. Aku mengerjap dan berusaha mencerna kenyataan ini. Apakah aku terkejut? Apakah aku tahu ini akan terjadi? Apakah aku menyesal?

Apakah ada sesuatu yang bisa kulakukan supaya kenyataan ini tidak tercipta?

“Lucy ….”

Coriolanus Snow, Gamemaker of the 15th Hunger Games

Tidak ada.

Aku berusaha untuk tidak menampilkan senyum pahit yang selalu menemukan jalannya ke wajahku setiap kami menyentuh topik ini.

“Lucy, aku minta maaf ini semua terjadi padamu.”

Aku memeluknya erat. Bibi Tina yang manis. Penyelamatku. Berulang kali menyelematkanku, aku tidak akan bisa membayar hutangku padanya.

“Bukan salahmu, Bibi. Semuanya sudah berlalu.”

Salahku karena tidak menusukmu lebih dalam.

Salahku karena tidak memastikan napasmu sungguhan berhenti.

“Aku hangatkan supnya, oke?”

.

.

.

.

.

Kau datang dan pergi,

Di antara mimpi dan dinginnya kenyataan,

Mereka kutinggalkan dan pergi,

Di antara mimpi dan bintang yang gagal,

Aku mencintaimu, sekali,

Kita berkhianat dan menusuk hati masing-masing,

Aku mencintai kalian, selamanya,

Kita dan lagu-lagu yang bergema di malam larut,

Aku pergi, aku tidak akan kembali lagi,

Aku ingin bertemu dengan kalian lagi,


.

.

.

.

.

Jika aku kembali, sesuatu akan berputar dan menggerakkan kisah lain tertulis dan membuatmu tetap berdiri tinggi di sana—meraup dan menggerogoti segalanya sampai tak tersisa. Bahkan ketika orang lain bersikeras “sudah tidak ada lagi” kau akan membunuh mereka dan menjadikannya contoh bahwa tidak boleh ada habisnya—serakahmu itu tidak boleh ada habisnya.

Aku tidak akan kembali.

Bahkan ketika ada surat yang datang dan membuat Bibi Tina pingsan.

Bahkan ketika kau menulis, “Maaf, bisakah kita bertemu?”

Bahkan ketika aku ingin bertemu denganmu.

Bahkan ketika aku merindukanmu hingga rasanya sesak untuk hidup lagi,

Aku membakar satu dan lainnya yang datang.

Jika kau datang, aku akan membunuhmu—aku harap pesanku disampaikan oleh angin.

Jika aku datang, aku akan meruntuhkanmu.

Aku ingin bertemu denganmu, tapi tidak kali ini, Coriolanus Snow, tidak di dunia ini.

.

.

.

.

.

Aku berkata padamu dahulu,

Aku tidak akan menyanyi lagi,

Aku berkata padamu dahulu,

Aku tidak bernyanyi untuk sementara,

Aku berkata padamu dahulu,

Aku akan bernyanyi lagi, mungkin nanti, suatu hari nanti,

Kau berkata padaku,

Akan menunggu suara dan sajak cantikku selama yang aku mau,

Tetapi kau tidak menepati janji,

Aku tidak menepati janji,

Aku berkata padamu sekarang,

Aku bernyanyi untukmu sekarang,

Jangan tinggalkan aku,

Jangan tinggalkan aku,

Apakah suara ini bisa membuatmu tetap di sini?

Jangan tinggalkan aku,

Sudah terlalu banyak penyelamatku yang mati,

Jangan tinggalkan aku,

Apakah suara ini bisa membuatmu kembali?

Aku berkata padamu sekarang,

Aku bernyanyi untukmu sekarang,

Aku menyayangimu, aku menyayangimu,

Kuharap kita bertemu di mana tidak ada hidup dan mati,

Jangan tinggalkan aku,

Apakah suara ini bisa mengantarmu dengan aman?

Aku berkata padamu dahulu,

Aku menyayangimu, menyayangimu,

Aku berkata padamu sekarang,

Aku menyayangimu, menyayangimu,

Jangan tinggalkan aku.

.

.

.

.

.

Musim dingin menggigit kulitku lebih keras dari tahun lalu.

Ketiadaan Bibi Tina dan pelukannya akan berefek seperti ini. Aku tidak pernah tahu. Aku menghitung semua peluk yang tak kubalas atau pertanyaannya yang tak kujawab. Aku memasukkan kayu api dan menghitung penyesalanku. Apakah ada yang bisa kuubah? Betapa naifnya, berpikir bahwa aku bisa menggagalkan kematian dengan kata-kata.

Apakah kau pernah merasakannya? Penyesalan bertubi-tubi dan putus asa berkepanjangan atas semua hal yang memang harus terjadi? Aku yakin kau pernah.

Surat lain datang. Aku mengenal tulisanmu yang melengkung rapi, tanpa gagal menimbulkan impresi bahwa kau menulisnya dengan penuh kehati-hatian dan tampaknya ini adalah draf kesekian dan kau mengirimkannya dengan harapan besar. Bahwa aku akan membacanya. Bahwa aku akan membalasnya. Meski hanya dengan satu kata.

Suratmu kali ini lebih dari satu kalimat. Lebih dari kata maaf. Persuasif, manipulatif. Kau tidak berusaha menarikku, kau berusaha menggiringku. Ke jalanmu, bersamamu. Biarlah kenangan pisau dan senapan dan darah dan pelarianku dan segala yang mati di Pohon Penggantung lenyap bersama salju yang mencair.

Aku mendengus.

Aku mendengus.

Aku tahu kau di mana kau berada. Aku tahu sejak lama. Aku ingin bertemu denganmu, Lucy Gray. Tetapi aku tidak akan pergi kalau kau tidak mengizinkannya.

Biarkan aku bertemu denganmu, Lucy Gray.

Bahuku bergetar.

Aku selalu berusaha untuk tidak memikirkan kita atau pun kau atau segala yang telah kutinggalkan. Tapi sulit setelah Bibi Tina tiada. Segalanya sulit.

Aku berusaha menganalisis. Aku bersikeras pada diri sendiri bahwa aku tidak bodoh, setelah mengutuk kebodohanku selama bersamamu. Mengutuk semua tindakanku dan apa yang bisa kulakukan untuk mengubah setidaknya satu jalan cerita kita agar kau tidak berdiri di tempatmu sekarang.

Untuk kau supaya bersamaku. Setidaknya jika kau bersamaku, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke sana.

Tetapi tidak. Kau bersamaku saat itu, namun kau tetap pergi.

Semuanya sudah pernah terjadi sekali. Aku tidak akan bisa mengekangmu layaknya kau yang tidak bisa mengekangku. Kita terlalu berbeda. Meskipun cinta itu ada di antara kedipan mata dan kecupan kita. Di antara darah yang membasahi tangan kita, di antara semua nyawa yang kita lepaskan dari kehidupannya, di antara semua pengkhianatanmu, di antara semua lagu yang kutulis untukmu. Aku yakin kau mencintaiku, Coriolanus. Aku juga mencintaimu.

Kau mencintaiku, hanya saja tidak dengan cara yang sama.

Aku tidak menginginkan itu.

.

.

.

.

.

Utara, apakah kau tahu suatu tempat,

Di mana cuaca dingin dan salju tidak akan mengikutiku,

Di mana matahari bersinar dan anak-anak tertawa riang,

Utara, apakah kau tahu suatu tempat,

Di mana aku bisa menyanyikan lagu pengantar tidur,

Di mana aku bisa terlelap dengan tenang,

Utara, apakah kau tahu suatu tempat,

Di mana malam tidak akan mengalahkan siang,

Di mana aku bisa lenyap tanpa jejak,

Utara, antarkanlah aku ke tempat itu,

Di mana aku bisa bertemu dengannya,

Di mana dia bisa bertemu denganku,

Dengan nyanyian dan minuman ringan,

Dengan pesta dan gurauan riang,

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Salju dingin jatuh di atas kulitku, membuatku menggigil tapi kemudian mencair dan hilang jejaknya sama sekali. Kau selalu datang di waktu tertentu, konsisten dan gigih pada waktu untuk mengingatkanku padamu. Agar aku tahu bahwa kau ada, dan selalu ada. Tak pernah meninggalkanku. Layaknya aku yang tak pernah meninggalkanmu.

Aku dan lagu-laguku,

Salju—kau semurni salju yang terbang terbawa angin.

Orang mencintai dengan cara yang berbeda, aku belajar hal itu sejak lama. Namun aku tidak bisa menerimamu. Tidak ketika kau berbohong tentang orang ketiga, tidak ketika kau memburuku di danau, dan tidak dengan surat yang menuju alamatku setiap tahunnya. Tidak, Snow, tidak.

Maaf, maaf, maaf. Lucy Gray, aku minta maaf,

Tidak ada maaf, Snow. Kau membunuhku.

.

.

.

.

.

.

Utara, antarkanlah aku ke tempat itu,

Di mana aku bisa menetap selamanya,

Di mana aku bisa lenyap bersamanya,

Utara, apakah kau tahu tempat itu?

.

.

.

.

.



Notes:

I read tbosas and reread the entire trilogy and rewatch too at the beginning of the year just to find out I had no energy to even write a sentence about snowbaird because this ship is so unhinged. but i found my motivation after i watched the movie. tbosas has a perfect ending and i just can't put my girl lucy gray a minute longer beside snow. but i need to write this i'm sorry. the idea of doomed love just mesmerised me everytime.

please leave kudos and comment if you like it! thank you for reading!