Actions

Work Header

Seasalt and Petrichor

Chapter 12: Extra chapter: Seriously unserious

Notes:

ini fluff sebenernya, tapi ada smutnya dikit di bawah (read with your own risk, ya)
Warning dulu: ini tidak di beta read dan sejujurnya saya tidak pandai menulis adegan smut jadi mohon maaf di atas materai kalo cringey haha ini murni impulsif mumpung libur aja

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text

Suara alunan lagu penutup episode drama mengalun dari televisi memenuhi ruang tengah yang lengang. Sejak selesai sarapan tadi, Soonyoung memilih menonton drama di televisi dengan tubuhnya yang terjulur memenuhi sepanjang sofa. Setelah dua minggu penuh ia hampir selalu pulang overtime saat akhir pekan, akhirnya ia bisa sedikit bernafas lega. Tidurnya semalam terasa nyenyak sekali, bahkan pagi ini ia terbangun tanpa alarm dengan kondisi tubuh yang cukup segar.

Bungkus besar keripik kentang rasa mentega di pangkuannya sudah nyaris tandas. Ia menggulir remote TV di tangannya, memilih judul seri lain setelah akhirnya berhasil menyelesaikan tontonan maratonnya yang sebenarnya sudah ia tabung entah sejak kapan.

Bulu kuduk Soonyoung mendadak meremang. Bukan karena sosok gaib atau apa, melainkan ujung matanya menangkap Jihoon yang mendadak sudah duduk di sofa tunggal di sebelah kanannya. Sejak kapan suaminya itu duduk di sana? Seingatnya tadi Jihoon bilang masih ingin mengerjakan sesuatu di ruang kerjanya. Soonyoung bisa menangkap sesekali mata suaminya menatap padanya sebelum kembali sibuk menggulir entah apa di ponselnya.

Soonyoung bergerak dari posisi  tidurnya dan menyodorkan bungkusan keripik ke arah Jihoon.

“Mau?”

Jihoon menaikkan sebelah alisnya melihat dasar bungkus keripik yang hampir kosong kemudian menggelengkan kepalanya.

Sabtu pagi ini kebetulan bertepatan akhir pekan panjang sampai dengan hari Senin. Putri kecil mereka memilih untuk ikut pergi berjalan-jalan dan belanja bersama kedua neneknya ke Seoul. Sebuah momen yang cukup langka mengingat sejak mereka resmi menikah tahun lalu, Kwon Jieun selalu menunggu momen akhir pekan untuk menempel 24/7 dengan papanya. Rumah mereka terasa jauh lebih sunyi dari biasanya tanpa celotehan anak kecil itu. 

Soonyoung bangkit dari posisi tidurnya, membuang bungkus keripik, kemudian berpindah ke samping Jihoon yang kini sudah duduk di sofa utama.

“Kamu nggak mau jalan-jalan, Ji? Pergi belanja atau makan di luar gitu?”

Jihoon kembali menggelengkan kepalanya.

“Kota ini sempit. Males ah nanti ketemu sama orang-orang yang dikenal. Baterai sosialku udah habis kemarin.”

Soonyoung hanya bisa menanggapi dengan senyum. Ia ingat beberapa hari ini Jihoon bilang banyak sekali turis yang mampir ke restoran mereka. Entah para pelanggan itu berdatangan dari mana dan bukannya ia tidak bersyukur karena itu artinya uangnya berputar cepat. Jihoon hanya lelah. Makanya ketika Ibunya memutuskan akhir pekan ini kedua Ibunya akan pergi liburan sekaligus bertemu kerabat mereka ke Seoul, Jihoon berteriak kegirangan dalam hati. Ditambah lagi, putri mereka dengan senang hati menerima ajakan untuk pergi bersama dengan neneknya. Teriakan girang dalam hati itu berulang lagi. Meskipun sekarang, belum dua puluh empat jam anak itu pergi, ia sudah merindukannya.

Jihoon menghela nafasnya. Kali ini diikuti setengah melempar ponselnya ke ujung lain sofa. Pesannya ke ruang percakapannya dengan sang Ibu berisi ‘Ibu jangan asal turuti semua kemauannya Jieun ya’ barusan dibalas Kwon Jieun dengan voice note ‘Ayah bawel’ dan suara tertawa kedua neneknya di latar belakang. Kelakuan menyebalkan anak itu semakin hari semakin mirip Kwon Soonyoung.

Soonyoung yang memperhatikan perubahan mood dan air muka sang omega menarik Jihoon dari tempatnya duduk, memeluknya, kemudian membuat mereka berdua bergulingan di sofa sambil sesekali mencium pelan ujung pipi dan bibir Jihoon. Ia selalu menyukai Soonyoung yang seperti ini. Kelakuan suaminya yang seringkali terlihat random  sebenarnya bentuk perhatian padanya. Jihoon tertawa, tangannya mendorong dada Soonyoung agar menjauh darinya tapi sepertinya tidak terlalu banyak berpengaruh karena selain pergerakannya yang terbatas, Jihoon melakukannya dengan setengah hati. Ia sejujurnya merindukan waktu-waktu berdua dengan suaminya yang akhir-akhir ini super sibuk.

“Udah ah, geli tau. Isengmu tuh nular ke anakmu, Young. Dasar menyebalkan.”

Soonyoung semakin mengeratkan pelukannya kemudian menggigiti bahu Jihoon yang terbuka karena kerah kaus longgarnya sedikit melorot.

“Apa-apaan itu? Anakku? Anakku saja?”

“Iya, iya. Anak kita. Udah puas?”

Soonyoung membalikkan posisi Jihoon sehingga mereka berhadapan kemudian menyodorkan sebelah pipinya yang disambut Jihoon dengan mencubit kencang pipi gembul itu dengan sebelah tangannya yang bebas.

“Aww. Aduh, jangan gitu dong, Ji. Sakit tau.”

“Makanya berenti bersikap kekanakan. Emangnya berapa umurmu sekarang? Lima tahun?”

Soonyoung kali ini menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Jihoon sembari mencuri ciuman di bibirnya yang tengah merengut lucu.

“Kwon Soonyoung, udah cukup.”

Sebuah kalimat larangan yang tentu saja berakhir sia-sia karena Soonyoung masih tetap menciuminya kecil-kecil sampai Jihoon berhasil sedikit mendorong bahu suaminya menjauh dengan tatapan jengkel namun wajah yang memerah seperti tomat sampai ke ujung telinga.

“Kenapa tadi ngeliatin kayak gitu?”

“Hmm? Emang kapan aku ngeliatin?”

“Kamu pikir aku buta?”

Jihoon memutar matanya. Sebenarnya ia tidak memiliki alasan khusus saat mencuri pandang ke arah suaminya tadi.

Pertama. Ia hanya merasa lucu melihat Soonyoung yang bergelung dengan mulut penuh makanan, persis seperti seekor hamster yang tengah menyimpan persediaan makanan di kedua pipinya. Tapi Jihoon tidak mungkin juga mengungkapkannya jujur karena ia tahu suaminya itu tidak suka disamakan dengan salah satu spesies keluarga rodentia itu. Padahal jelas-jelas tingkahnya sangat mirip, bahkan putri mereka setuju dan sering memanggil Soonyoung dengan ‘Papa Hammy’.

Kedua. Ia masih sedikit kesal mendengar voice note Kwon Jieun yang tingkat menyebalkannya mirip seperti sang Papa. Jadilah matanya secara tak sadar ikut memerhatikan suaminya yang sebenarnya tidak bersalah itu.

“Aku udah lupa tadi mau bilang apa. Sini pinjam handphonemu.”

Soonyoung memutar matanya kesal tapi tetap mengambilkan ponselnya yang tergeletak di sandaran sofa dan memberikannya pada Jihoon.

“Nih, mau liat apa emangnya?”

“Mau cek history chatmu, kalau-kalau suamiku udah mulai genit.”

“Ck. Periksa saja, kamu tau sendiri aku nggak pernah benar-benar dekat dengan orang lain. Paling banyak mungkin chatku dengan Junnie aja.”

“Kamu bisa aja selingkuh sama Jun.”

“Ya Tuhan. Lebih baik aku jadi perjaka tua daripada berpacaran dengan manusia galak seperti Jun.”

“Kamu udah lama nggak perjaka.”

Soonyoung terkekeh kemudian mengeratkan pelukannya. Ia hanya diam memerhatikan Jihoon yang bukannya membuka chat malah memainkan permainan puzzle yang sejak beberapa hari lalu tak kunjung naik levelnya. Dengan mudah, Jihoon menyelesaikan level super hard dan beberapa level setelahnya sambil mengomel betapa bodohnya Soonyoung yang menghabiskan hampir semua bantuan tapi tidak juga berhasil melewati level itu. 

Beberapa menit kemudian, Jihoon sudah mengganti gim menjadi tayangan vlog liburan dari sebuah kanal siaran video. Awal tahun ini, mereka berdua sebenarnya sudah merencanakan untuk pergi ke tempat orangtua Soonyoung dilanjutkan liburan beberapa hari tapi gagal karena putri mereka mendadak demam tinggi. Melihat tayangan liburan seperti ini seperti membangkitkan keinginannya yang lalu. Ia memang tidak terlalu suka menghabiskan waktu di luar ruangan, tapi kapan terakhir kali ia pergi kencan berdua dengan suaminya? Sepertinya beberapa bulan sebelum menikah dan itu sudah hampir dua tahun yang lalu.

“Young, gimana kalau kita pergi ke tempat yang belum pernah kita datangi bersama. Jalan-jalan tanpa tujuan pasti, makan apa yang ada di sepanjang jalan.”

Soonyoung memerhatikan perubahan feromon sang omega yang tiba-tiba menjadi lebih bersemangat. 

“Seriusan seorang Lee Jihoon mengajakku bertindak impulsif? Kita nggak lagi tukeran otak kan ya?”

Jihoon mencubit cuping hidung suaminya kecil. Membuat si korban berteriak kesakitan karena kuku Jihoon membekas kemerahan di permukaan kulit hidungnya.

“Mana ada yang kayak gitu. Kata orang pasangan yang udah nikah tuh lama-lama jadi mirip. Mungkin aku ketularan kamu yang suka random.”

Soonyoung menekuk bibirnya pura-pura cemberut.

“Kalo yang jelek-jelek aja semuanya ketularan aku, ya?”

“Udah nggak usah pake acara ngambek gini. Jadi? Ya atau nggak? Kita bisa kembali besok, lusa juga masih libur jadi masih ada waktu istirahat. Tapi kalau kamu capek ya nggak papa lain kali aja.”

Seorang Lee Jihoon mengajaknya jalan-jalan yang bukan belanja bulanan atau pergi makan itu sudah suatu keajaiban. Mungkin perlu ada bintang jatuh di halaman rumah mereka agar kejadian ini terulang. Maka anggukan semangat tentu saja refleks Soonyoung lakukan.

“Ayo siap-siap? Mau ke mana? Bawa apa aja? Mau naik apa?”

Jihoon mendorong suaminya masuk ke dalam kamar mandi. 

“Pelan-pelan, Soonyoung. Mending sekarang kamu mandi dulu aja.”

Tidak banyak barang yang mereka bawa. Hanya sebuah daypack di punggung Jihoon dan tas selempang berisi kamera, dompet, ponsel, dan charger di bahu Soonyoung. Mereka memutuskan untuk pergi ke Gyeongju pun impulsif saat sudah berapa di stasiun kereta cepat. Hanya dua stasiun dari Busan, udaranya lumayan sejuk, dan mereka bisa kembali nanti malam jika tidak menemukan penginapan yang cocok.

Sialnya, karena keimpulsifan itu mereka sampai di Stasiun Gyeongju menjelang jam makan siang. Terlalu siang karena bus ke Kuil Bulguksa di kawasan perbukitan, atraksi utama kota itu baru saja berangkat dan masih cukup lama untuk menunggu kedatangan bus selanjutnya. Dengan perasaan sedikit kecewa, mereka memutuskan membeli sebuah sandwich dan memakannya berdua kemudian berjalan-jalan di museum yang berada tidak jauh dari stasiun.

Waktu terasa berputar jauh lebih lambat di kota ini. Bangunan-bangunan pertokoan dari era lama masih banyak mengisi pusat kota. Meskipun ada juga bangunan gedung tinggi modern, namun jumlahnya berbeda jauh dibanding kota tempat mereka tinggal. Hembusan angin sejuk di akhir musim semi membuat langkah mereka terasa jauh lebih ringan. Berjalan di taman dengan bunga-bunga bermekaran, mengelilingi bangunan istana dari jaman Dinasti Silla, dan menjelajah museum selama hampir tiga jam seakan tidak terasa. Bunyi perut keronconganlah yang pada akhirnya membuat mereka memutuskan untuk singgah di sebuah kedai makanan vegetarian yang menurut ulasan cukup terkenal di kota itu.

Soonyoung menghentikan kunyahan makanannya kemudian mengerutkan keningnya. Sumpit di sisi mangkuk Jihoon masih tertata rapi tak tersentuh. Pandangan suaminya itu mengarah tepat ke wajahnya. Suaminya itu terlihat berkonsentrasi penuh memandanginya dengan bertopang dagu kemudian sesekali tersenyum.

Soonyoung menyapukan sebelah tangannya di depan wajah Jihoon yang seperti baru tersadar entah dari dunia mana.

“Ngapain ngeliatin gitu, nggak makan?”

“Lucu liat kamu ngunyah. Pipinya gede kayak pipi ham—”

Jihoon menutup mulutnya sendiri.

“Pipi apa?”

“Nggak jadi.”

Jihoon buru-buru mengambil sumpit dan mulai menyuapkan lauk ke dalam mulutnya. Soonyoung masih menyipitkan matanya, memandang Jihoon dengan penuh curiga.

“Ayo dimakan, nanti supnya keburu dingin nggak enak.”

Soonyoung akhirnya menyerah karena perutnya butuh diselamatkan dari rasa lapar. 

Ketenangan di antara mereka berhenti saat perut mereka sudah terisi. Jihoon hampir saja meninggalkan Soonyoung sendiri karena kesal suaminya secara sepihak sudah membooking penginapan mereka malam itu tanpa konfirmasi. Menghabiskan hampir enam ratus ribu won hanya untuk bermalam di kota ini menurut Jihoon adalah sebuah tindakan pemborosan.

“Astaga Soonyoung, kita cuma butuh uang dua puluh dua ribu won untuk pulang.”

Soonyoung menarik telapak tangan Jihoon yang berjalan cepat mendahuluinya ke arah stasiun. Hotel mereka berada di arah sebaliknya.

“Jihoon, dengarkan dulu.”

“Apalagi?”

Jihoon berhenti dan berbalik, memandang wajah Soonyoung dengan ekspresi kesal yang kentara jelas.

“Kita bahkan nggak pernah bulan madu atau pergi liburan sejak kita menikah. Sekali ini saja? Kita nggak akan jatuh miskin hanya karena menginap di kamar suite hotel semalam. Aku mohon.”

Pada akhirnya Jihoon hanya bisa mengalah dan membiarkan Soonyoung menggandengnya berjalan berbalik arah. 

“Selamat menikmati liburan anda.”

Petugas elevator yang mengantarkan mereka menundukkan badan saat pintu lift terbuka dan mereka keluar dari sana. Kamar yang berjajar di sepanjang lorong itu tidak terlalu banyak dan kamar mereka berada di paling ujung. Sebuah jendela kaca besar dengan pintu balkon yang bisa dibuka menyambut mereka. Jendela yang menyajikan pemandangan tepat ke arah danau dan perbukitan membuat Jihoon akhirnya mengerti kenapa harga kamar ini tidak murah. Bahkan dari kejauhan dinding benteng istana dan deretan pohon cherry blossom yang bunganya tengah mekar sempurna terlihat jelas dari sana.

Jihoon meletakkan tasnya sembarangan dan langsung membuka pintu balkon dengan Soonyoung yang mengekor di belakangnya.

“Ya Tuhan, aku nggak tahu ada tempat seperti ini hanya setengah jam dari rumah.”

Jihoon mengedarkan pandangannya, berpegangan pada pegangan kayu balkon. Soonyoung meletakkan kedua tangannya di sebelah tangan Jihoon dan menyandarkan dagunya ke bahu sang suami sambil tersenyum puas.

“Senang?”

“Kapan-kapan kita ke sini lagi bertiga ya?”

“Tentu saja.”

Mereka menghabiskan waktu duduk di kursi balkon, memandangi danau sambil membicarakan hal-hal tidak penting sampai matahari benar-benar terbenam sebelum masuk ke dalam kamar.

Jihoon merapat ke celah sofa kosong di sebelah Soonyoung duduk dan mengatur posisi kamera ponsel miliknya agar keduanya tertangkap jelas di layar. Beberapa nada dering berlalu sebelum layar menampilkan seorang anak kecil dengan sisa-sisa es krim coklat di pinggiran bibirnya.

“Ayahhh… Papa… Nenek beli es krim enak!”

Anak itu mengangkat cup kertas berisi es krim coklat dengan taburan kacang almond ke arah kamera. Senyumnya mengembang ceria.

“Ih… Papa juga mau satu, bawain pulang yaa.”

Anak itu tertawa kemudian menjulurkan lidahnya.

“Nggak bisa, Papa. Kata Nenek nanti cair.”

“Yaudah kalau pelit Jieun nggak kami ajakin liburan. Nih liat, Papa ngajak Ayah jalan-jalan, nginep di hotel bagus.”

Jihoon mengangkat ponselnya dari meja kemudian mengedarkannya ke sekeliling ruangan hotel mereka. Soonyoung mengikutinya dari belakang sambil tertawa dan mencubit lengan suaminya.

“Jihoon, sayang, jangan gitu ah. Nangis nanti anaknya.”

Setengah berbisik mengatakan, “Biarin”’ kemudian Jihoon mencubit balik suaminya dan mengarahkan kamera ponselnya ke jendela yang mengarah ke balkon kamar mereka. Pemandangan danau dan lampu gemerlapan serta bunga-bunga yang mekar sempurna di kejauhan terlihat dari sana. Tidak butuh waktu lama sampai mood di seberang sana berubah.

“Papa jahaaaat…”

Terdengar suara isakan tangis yang semakin lama semakin keras dari seberang sana kemudian digantikan suara seorang wanita dengan nada kesal.

“Lee Jihoon, kau ini udah dewasa tapi hobi sekali sih menggoda putrimu sampai nangis kayak gini.”

“Memangnya cuma Ibu sama Jieun yang bisa liburan ke luar kota? Aku juga bisa.”

Jihoon menjawab tak mau kalah, masih tertawa-tawa meskipun Soonyoung berusaha menyikut pinggangnya dari tadi sambil menunduk-nunduk minta maaf pada Ibu mertuanya.

Panggilan ditutup setelah tangisan di seberang sana berhenti ketika akhirnya Soonyoung mengemis maaf dan menjanjikan liburan keluarga di akhir tahun. Putri mereka sempat menyebut kata Jepang yang ditawar Soonyoung dengan ‘Papa usahakan, tapi kalau uangnya nggak cukup yang penting naik pesawat ya?’ Yang disahuti dengan gumaman pelan dan tangis yang perlahan memelan. 

Jihoon melemparkan punggungnya ke kasur, masih ada sisa tawa yang keluar sesekali dari mulutnya.

“Kasur mahal emang beda.”

Ia mengambil bantal dan memeluknya, kemudian berguling ke sisi lain kasur dan menelentangkan kedua tangan dan kakinya. 

Soonyoung menimpa punggung Jihoon dengan tubuhnya. Kemudian menggesekkan kepalanya di perpotongan leher tepat di samping bite mark milik Jihoon. Hidungnya menyesap pelan aroma menenangkan yang keluar dari sana. Ia tersenyum puas saat aroma dedaunan segar miliknya berbaur sempurna dengan aroma jeruk bergamot Jihoon. Aroma yang ketika bercampur menurut Jihoon mirip dengan Teh Earl Grey. 

Soonyoung kembali menggesekkan kelenjar feromon mereka. Aroma yang menguar semakin kuat memenuhi ruangan. Semua orang akan tahu bahwa Jihoon hanya miliknya. Perasaan bangga yang menurut Jihoon adalah kesombongan khas seorang alpha yang menyebalkan. 

Jihoon menepuk-nepuk sebelah wajah Soonyoung agar sedikit menjauh darinya.

“Jangan main timpa gini. Berat, sayang. Geseran dikit, ah.”

Soonyoung tetap bergeming dari posisinya. Ia semakin mengusalkan hidungnya di sepanjang perpotongan leher dan samping wajah suaminya hingga Jihoon memilih untuk pasrah saja.

“Kenapa iseng banget jadi orang sih? Sampe nangis banget gitu, loh kasian.”

“Kan ketularan kamu isengnya.”

“Emang iya?”

Jihoon mencoba melepaskan diri dari posisinya dan kali ini berhasil. Soonyoung masih memeluknya, tapi dengan posisi menyamping seperti sekarang, nafasnya terasa jauh lebih lega.

“Maaf deh, aku cuma iseng aja tadi. Nggak tau kalau bakalan sampe nangis parah.”

“Dimaafin tapi yang kubeliin tadi dipake dulu.”

“Mesum.”

Jihoon membenamkan mukanya yang memerah sempurna dengan bantal, membuat suaminya tertawa geli. Mereka sudah lebih dari setahun menikah, namun untuk hal-hal seperti ini Jihoon masih saja sering terlihat malu-malu. Bahkan saat mereka telah menghabiskan masa heat dan rut bersama berkali-kali.

Yang dibelikan Soonyoung untuknya tadi siang adalah sepasang lingerie berbahan campuran mesh semi transparan dan lace di ujungnya dilengkapi garter dan collar berwarna merah muda. Hasil dari Jihoon yang kalah taruhan menghitung berapa banyak pohon cherry blossom yang mereka lewati dari pintu kastil sampai stasiun. Taruhan bodoh yang menjerumuskan Jihoon ke dalam jurang penuh rasa malu saat Soonyoung menyeretnya berkeliling ke sebuah toko lingerie mahal di pusat perbelanjaan dan memilihkan model yang menurut Jihoon terlalu terbuka dan memalukan.

“Leluhur kita akan marah kalau tau keturunannya menghamburkan uang yang didapat susah payah hanya untuk dua lembar kain transparan kurang bahan. Itu namanya pemborosan.”

“Leluhur kita juga sepertinya akan marah kalau kamu menyia-nyiakan barang yang sudah dibeli. Itu juga namanya pemborosan.”

“Stop membalikkan kata-kataku dan membawa-bawa leluhur untuk memberi pembenaran otak mesummu, Kwon Soonyoung.”

“Kamu yang mulai duluan, Lee Jihoon.”

“Kamu kan tadi bilang hanya membelikannya untukku, nggak ada kewajiban aku harus memakainya juga. Gimana sih? Nggak adil banget.”

“Makanya jangan ngeselin. Kalau kamu nggak bikin Jieun nangis juga nggak bakal aku minta pake. Yaudah nggak aku maafin. Nanti liburan akhir tahunnya kalian berangkat berdua aja.”

“Nggak lucu ah, bercandanya. Lagian aku pake juga nggak lama pasti udah kamu lepas lagi. Nggak guna banget.”

Soonyoung membalik tubuh Jihoon menjadi berhadapan dengannya.

“Sekarang siapa coba yang mesum?”

Soonyoung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah plastik berisi tablet yang tertata melingkar dengan penunjuk angka yang beberapa isinya sudah kosong. 

“Udah kubawain nih, mau alesan apa lagi?”

Muka Jihoon sekarang sudah jauh lebih merah daripada udang rebus. Siapa juga yang menyangka suaminya itu terpikir membawa pil kontrasepsinya.

“oh, Tuhan. Matahari baru aja terbenam terus kamu udah ngomongin ini. Nggak tau malu sama sekali suamiku ini.”

Jihoon merebut plastik itu dari tangan Soonyoung, mengeluarkan isinya sebutir, lalu menenggaknya dengan air minum yang ada di nakas. Soonyoung bersiul melihat kelakuan suaminya yang kontras dengan ucapannya.

Masih dengan ekspresi (pura-pura) marah, Jihoon mengambil baju ganti dari ranselnya dan beranjak menuju kamar mandi. Sebelum suara pintu tertutup, Jihoon mengeluarkan kepalanya dari sana dan berseru dengan nada kesal.

“Kamu janji mau ngajakin jalan-jalan liat jembatan terus makan malam. Jangan macem-macem.”

Soonyoung hanya menanggapi dengan cengiran dan acungan jempol. Suara pintu yang dibanting dan suara shower yang menyala terdengar tak lama setelah itu.

“Jihoonie, kacanya nggak digelapin tuh sengaja ya? Iya, udah tau kok suamiku emang paling seksi sedunia.”

Suara shower kemudian mengecil lalu diikuti saklar yang ditekan buru-buru dan kaca transparan yang mengarah ke dalam kamar berubah menggelap. Dalam hatinya Soonyoung bersumpah serapah. Sepertinya ia harus mandi ulang dengan air dingin untuk menenangkan tonjolan yang tercetak jelas di celananya. 

Jihoon pikir, harinya akan berakhir dengan tenang setelah mereka selesai berjalan-jalan hari ini. Tadi pagi saja suaminya itu sedikit enggan beranjak dari sofa setelah sarapan. Ternyata total lebih dari dua puluh ribu langkah mereka hari ini tidak melunturkan semangat suaminya sampai dengan mereka menginjakkan kakinya kembali di kamar hotel pukul setengah sepuluh malam.

Jadilah ia di sini. Mematut dirinya di depan cermin kamar mandi setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian. Lingerie merah muda itu menempel sempurna di balik piyama longgarnya. Tanpa collar, karena ia tidak percaya diri ketika memakainya dan memutuskan untuk melepaskannya dan memasukkannya ke dalam saku piyama. Mungkin lain kali. Atau mungkin juga tidak sama sekali. Jihoon menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas sesekali membuang nafasnya untuk menenangkan diri. ‘Ayolah tidak akan terjadi apa-apa,’ pikirnya setelah beberapa saat berdiri di sana.

Ia tidak yakin Soonyoung masih mengharapkannya memakai ini. ‘Ini hanya untuk berjaga-jaga saja,’ batinnya sambil keluar dari kamar mandi dan bergerak ke arah suaminya yang sudah berada di tempat tidur dengan piyama hitam yang sama dengannya. Tanpa memakai atasannya. 

Jihoon hanya bisa menelan ludahnya melihat pemandangan di depannya. Ia berjalan sedikit ragu menuju ranjang mereka. Ia lebih dari sekedar tahu dari ikatan mereka bahwa Soonyoung menginginkannya, begitu juga sebaliknya. Tergambar jelas dari feromon mereka yang menguar semakin manis dan pekat memenuhi kamar.

Soonyoung berdiri dan mematikan beberapa lampu kamar, menyisakan satu yang paling remang kemudian menarik Jihoon ke atas ranjang bersamanya.

“Soony—sebentar, jendelanya masih—”

Soonyoung mengabaikan protes Jihoon, meraup bibir merah merekah suaminya dengan kecupan-kecupan basah dan lidah yang tak lama sudah saling berbelit. Tangannya menjelajah di sepanjang torso Jihoon, mengusap-usapnya pelan kemudian turun membuka satu persatu kancing piyama sang omega.  Ia melepaskan ciuman mereka ketika menyadari tangannya menyentuh sesuatu yang lembut di balik piyama. Kain mesh transparan yang bahkan seperti tidak berguna menutup kedua puting Jihoon yang ujungnya sudah mencuat sempurna. Tak sabar, Soonyoung menarik karet pinggang celana Jihoon ke bawah dan yang menyambutnya adalah thong dengan warna merah muda yang sama sekali tidak dapat menutupi penis yang sudah menegang sempurna dan slick yang mulai membasahi sisi lain secarik kain itu.

“Ya Tuhan, kau benar-benar bisa membuatku gila.”

Jihoon tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Soonyoung, meskipun dengan seluruh permukaan wajah dan ujung telinga yang memerah sempurna. Ia menarik wajah sang suami mendekat dan berbisik.

“Selamat makan.”

Yang tentu saja disambut dengan kecupan-kecupan berintensitas jauh lebih intim dari sebelumnya. 

Bertukar tatapan saling menginginkan satu sama lain, lidah yang kembali berbelit, diikuti sentuhan langsung kulit dengan kulit. Jemari Jihoon yang dilingkarkan di pundak sang alpha dibalas dengan dekapan erat di pinggang yang lama-kelamaan menjadi remasan di paha dalam sang omega. Tempat favorit di mana sang alpha meninggalkan jejak-jejak posesif percumbuan mereka. 

Semuanya dilakukan tanpa tergesa yang sebenarnya membuat Jihoon hampir kehilangan kesabarannya. Beberapa kali ia hampir merasakan putihnya, namun selalu ada cara Soonyoung untuk menghentikannya.

Pertama, lelaki itu menghentikan gerakan jemarinya di dalam lubang Jihoon sesaat sebelum ia mencapai pelepasan kemudian membalik posisi mereka. Jihoon membiarkan apa yang diinginkan suaminya dan memutuskan mengulum dan menjilati penis di hadapannya sampai membesar sempurna. Ia memuji refleksnya sendiri yang mampu menahan benda sebesar itu hampir mengenai ujung kerongkongannya. Satu hisapan lagi, ia yakin sang alpha akan mencapai puncaknya. Namun urung, ketika sang empunya menarik penis besar itu dan membuat Jihoon duduk di atas wajah sang alpha.

Kedua, sang alpha mencengkeram erat pinggangnya dan memosisikan wajahnya tepat di antara kedua kakinya. Jihoon tidak bisa menahan desahannya ketika lidah sang alpha menjilat kecil mengelilingi lubang kenikmatannya kemudian menelusup mengenai titik nikmatnya. Gerakan itu dilakukan berulang kali, kadang seperti sengaja  menghindari titik yang membuat pikirannya seakan terbang ke awang-awang. Jilatan-jilatan semakin dalam sesekali dibantu dengan jemari yang menahan lubang itu tetap terbuka, membuat slicknya mengalir hampir seperti saat ia sedang heat. Gerakan yang hampir membuatnya seperti kehilangan kewarasan saat kenikmatan itu dihentikan tiba-tiba ketika punggungnya mulai melengkung sempurna.

Soonyoung melepaskan cengkeramannya kemudian membuka paksa bibir Jihoon dengan lidahnya. Jihoon tidak pernah menyangka merasakan cairan slicknya sendiri akan membuatnya merasa terangsang seperti sekarang. Sang alpha membuatnya menelan cairan yang lelaki itu raup dari lubang kenikmatannya sendiri. Soonyoung menjilati sekitar kulit di perpotongan leher omeganya, membubuhkan tanda kepemilikan sekaligus memperkuat percampuran aroma keduanya.

Soonyoung masih menggesekkan penisnya tepat di sekitar lubang sang omega yang berkedut, sesekali menggoda dengan menusukkan ujungnya sedikit ke dalam kemudian menariknya menjauh.

“Young—aku udah ngg—nggak kuat.”

“Nggak kuat? Mau apa?”

Tangan Jihoon meraba dan mengurut penis Soonyoung. Membuat benda yang sudah cukup besar itu semakin menegang. Jihoon menelan ludahnya. Kapan terakhir kali mereka bercinta? Seingatnya penis suaminya tidak sebesar ini. Dan ini belum termasuk knot-nya nanti. 

Oh Tuhan.

Ia refleks mengangkangkan kakinya lebar-lebar, memberi isyarat bahwa ia sudah lebih dari siap.

“Alpha, breed me.”

Hanya butuh tiga kata itu sebelum benda itu perlahan melesak ke dalam lubangnya. Jihoon menyadari ini tidak lama setelah mereka menikah. Bahwa alpha-nya memiliki kepuasan sendiri dengan kata-kata pujian dan ajakan membuahi. Dan Jihoon akan dengan senang hati menjadi seorang yang manipulatif jika dengan itu penderitaannya akan cepat berakhir. 

Jihoon mendesah tertahan. Penis milik sang alpha masuk perlahan inchi demi inchi. Bahkan dengan slick sebanyak itu, pergerakan masuknya masih sedikit sulit.

Soonyoung mengerang merasakan lubang hangat yang membalut penisnya terasa berdenyut dan semakin menyempit, memijat penisnya nikmat tapi sedikit mempersulit pergerakannya. Bahkan sekarang penisnya belum masuk sempurna dengan usahanya sejak tadi.

“Ji, sayang—rileks dikit. Aku dorong kencengan dikit lagi,ya? Bilang kalau sakit.”

Soonyoung menyeka peluh yang membasahi dahi sang omega dengan punggung telapak tangannya dan menyibakkan helaian rambut Jihoon ke belakang telinga. 

Desahan keduanya memenuhi ruangan ketika ujung penis akhirnya tertanam sempurna. Soonyoung meletakkan kedua kaki sang omega di pundaknya dan mulai menggerakkan pinggulnya setelah cengkeraman di bagian bawahnya sudah terasa jauh lebih rileks. 

Erangan dan desahan kembali memenuhi ruangan setelah beberapa saat. Soonyoung menampung slick yang mengalir keluar dari celah lubang dengan telapak tangannya dan mengusapkan ke permukaan kulit perut sang omega. Penisnya sesekali tercetak menonjol saat ia lesakkan dalam-dalam, dan Jihoon yang menyambutnya dengan hentakan pinggul yang berlawanan.

Jihoon meracau tak karuan ketika pelepasannya kian dekat. Ucapan yang didominasi kata-kata kotor memohon untuk disetubuhi lebih kencang. Erotis. Permukaan knot sang alpha terasa semakin membesar dan gesekannya menyentuh prostatnya setiap kali penis itu ditarik dan didorong ke dalam.

Di tengah kesadarannya yang kian menipis, Jihoon meregangkan lehernya dan mengarahkan wajah Soonyoung ke perpotongan lehernya.

“Gigit lagi. Aku—nghh, Young—Aku mau—nggh.”

Soonyoung paham apa yang Jihoon inginkan. Suaminya menginginkan gigitan kedua di tempat yang sama seperti yang ia gigit tujuh tahun yang lalu. Ia tahu gigitan kedua akan memperkuat ikatan mereka, tapi rasanya akan jauh lebih sakit bagi sang omega.

“Ji—kita nggak—”

Jihoon menahan wajah Soonyoung yang akan menjauh dengan sisa-sisa tenaganya.

“Gigit sekarang—”

Bibir Soonyoung masih tak bergerak dari semula. Ia menjilati sekitar area bite mark sambil memompa penisnya semakin cepat. Ia membiarkan knotnya membesar sempurna dan Jihoon mendapatkan pelepasannya sebelum melesakkan kedua taringnya tepat di atas permukaan kulit dengan bekas gigitannya. Putihnya datang tepat saat kedua taringnya merobek permukaan kulit dan memecahkan sisa-sisa kelenjar feromon milik sang omega. Cairan pelepasannya memenuhi lubang kenikmatan sang omega hingga mengalir sebagian bersama slick lewat celah-celahnya.

Tanpa melepaskan penyatuan mereka, Soonyoung mengubah posisi mereka menyamping agar lebih nyaman. Knotnya masih membesar dan melepaskan cairannya di bawah sana, memenuhi liang kawin sang omega yang dindingnya masih berdenyut dan meremas seakan takrela penyatuan mereka berakhir sekali itu saja. Soonyoung kembali menyeka peluh yang mengalir di dahi sang omega, sesekali ia menciumi pelan bekas gigitan memerah di perpotongan leher Jihoon sambil menghujani kata-kata cinta yang tidak ada habisnya. 

“Makasih, sayang.”

Adalah dua kata yang meluncur dari mulut Jihoon ketika kesadarannya mulai kembali. 

“Tidurlah, knottingnya masih lama. Capek kan?”

Jihoon hanya menjawab dengan gumaman pelan dan kedua tangan yang semakin erat memeluk pinggang Soonyoung.

Cahaya matahari terang yang masuk lewat kaca jendela adalah pemandangan yang pertama Jihoon lihat ketika berusaha membuka kelopak matanya yang berat. Dering telepon dari nakas memenuhi ruangan kamar. Ia bersyukur kemarin sempat meminta wake up calls pada resepsionis sebelum ia mandi. Jika tidak, mereka berdua akan melewatkan sarapan mahal dan checkout dengan tergesa-gesa. Meskipun perjalanan Jihoon menuju dan kembali dari restoran hotel sebenarnya penuh perjuangan. Soonyoung sudah menawarkan untuk memapah atau menggendongnya tapi ia tolak halus dengan alasan malu kalau ada yang melihat.

“Jihoon, jangan tiduran dulu kalau habis makan. Kebiasaan jelek.”

Jihoon hanya menanggapi dengan gumaman kesal yang kurang lebih menyalahkan gara-gara Soonyoung dia jadi capek begini pagi-pagi. Ia tersenyum puas sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit setelah diisi beraneka macam makanan pagi ini—dan sperma Soonyoung tadi malam, tentu saja. Ia sadar tidak akan hamil karena rutin menelan pil kontrasepsi, tetapi omeganya rasanya puas dengan knotting mereka semalam.

Soonyoung memilih untuk membiarkan suaminya bertindak sesuka hati dan memutuskan untuk membereskan barang bawaan mereka saja. Tadi pihak hotel bilang mereka mendapatkan fasilitas antar gratis sampai stasiun, jadi mereka tidak perlu terburu-buru sampai waktunya check-out nanti.

Ia merebahkan tubuhnya di samping Jihoon saat semuanya sudah beres. 

“Masih sakit nggak bekas gigitannya?”

Jihoon meraba perpotongan lehernya lalu sedikit meringis ketika permukaan tangannya bersentuhan dengan bekas robekan kulit yang memerah.

“Nggak sakit kok.”

“Pembohong.”

“Dikit.”

Soonyoung menghela nafasnya sebelum melanjutkan bicara.

“Sebenarnya apa perlu sampe digigit ulang kayak tadi malam? Nggak malah bikin infeksi?”

Jihoon mengangkat bahunya tak peduli kemudian menolehkan wajahnya ke samping, bertatapan langsung dengan wajah Soonyoung yang dari ekspresinya menyiratkan perasaan khawatir.

“Nggak papa, aku justru ngerasa lebih baik sekarang. Tanda yang sekarang jelas-jelas bukan karena kesalahan, kan suamiku?”

Soonyoung menangkup wajah Jihoon dengan telapak tangannya dan mengecupi seluruh permukaan wajahnya pelan.

“Aku mencintaimu.”

Jihoon berusaha menjauhkan wajahnya dari serangan kecupan-kecupan suaminya.

“Menjauh dariku dasar monster ciuman. Iya iya aku mencintaimu juga.”


 

Notes:

Hai makasih udah baca sampe sini. Chapter ini ditulis impulsif dan sekali duduk, jadi mohon maklum kalau ada typo dan kesalahan setting karena riset yang terbatas. Anw happy belated valentine's day dan happy birthday buat 218 bros.