Work Text:
Jika dirinya memiliki waktu luang yang beneran luang, maka Sieun akan mengujungi cafe favoritnya semenjak menginjak sekolah dasar. Cafe minimalis yang melebar ke samping dengan tembol kaca di sekitar area pintu, membiarkan pemandangan jalanan yang sibuk itu terlihat jelas dari dalam. Lagu Lo-Fi yang selalu disetel itu sering berhasil memasuki mood Sieun untuk belajar. Sendiri. Nilai tambahan untuk cafe ini adalah jarangnya ada pengunjung lain.
Sebelum Seongje tiba-tiba menganggu ritme belajarnya 2 minggu lalu. Pertama kali Seongje muncul, ia hanya melirik sebentar dan menertawai kecil terus pergi begitu saja. Kedua kali Seongje muncul, ia tiba-tiba memberi Sieun minuman, Iced Americano. Katanya sih, “Mana kutahu minuman kau kek gimana.” Lalu pergi meninggalkan nya lagi. Yah setidaknya Sieun mengapresiasi Seongje sudah membuang uang miliknya hanya untuk membelikan minuman. Meski sudah berubah total, Seongje tetap saja dirinya yang dulu. Peduli dengan Sieun.
duk.
Terdengar suara minuman tersimpan di meja. Sieun tak perlu untuk mendogak untuk mengetahui bahwa itu Seongje, siapa lagi yang akan menggangu dirinya saat ditengah kegiatan belajarnya?
Seongje lansung duduk di depannya, tangannya memegang minumannya sendiri sedangkan yang lainnya memegang ponsel. “Ngingetin gw sama masa lalu,” celetuk Seongje meski dirinya sendiri masih sibuk melihat ponselnya, “heh, beda banget ya sama sekarang.” Ia akhirnya menatap Sieun, menyimpan ponselnya dimeja.
Yang dimana sang lelaki yang ditatap itu menghentikan gerakan tangan yang awalnya sibuk menulis. Selama ia bertemu dengan Seongje disini, ia tak pernah mengira si kacamata bakal ngomongin masa lalu. “… Ya” gumamnya.
Memang benar, hari ini sudah sangat berbeda dengan waktu itu, namun hanya Seongje seorang yang banyak berubah ... Benar juga, kalau dipikir-pikir, Seongje sudah banyak berubah.
Dilihat dari personalitynya — dulu seinget dirinya, Seongje termasuk salah satu orang yang LUMAYAN baik. Kapitalkan kata lumayan itu. Dulu ia lebih jarang terlibat baku hantam dan hanya terlibat jika lawan sudah melewati batas, yaitu membicarakan Sieun.
Seongje tak akan memukul lawannya (karena sudah janji dengan Sieun) selama mereka tak membicarakan Sieun. Namun jika sudah melakukan kesalahan itu, mereka akan pulang babak belur ke rumah masing-masing, itupun jika mereka beruntung. Kalau tidak, mereka akan pulang ke rumah sakit.
Seongje sendiri akan pulang ke rumah Sieun dengan senyuman miringnya yang khas itu, meski Sieun melarangnya untuk berantem namun ia tetap saja merawati Seongje. Selalu.
Sieun akan mengobati luka-luka Seongje dengan hati-hati, selalu membicarakan bagaimana Seongje harus latihan menahan diri dan sebagainya.
Fisiknya tak banyak berubah, Seongje sepertinya tumbuh dengan normal. Namun satu hal yang menarik perhatian Sieun adalah kacamatanya. Saat pertama kali bertemu dengan Seongje setelah sekian waktu, ia bingung mengapa teman masa kecilnya ini tiba-tiba memakai kacamata. Toh kemungkinan terbesar yang terpikirkan adalah si kacamata ini kebanyakan main game.
“Back to earth, Princess.”
Tersentak, Sieun menyadari bahwa ia daritadi melamun, terus-menerus menatap bukunya. Dan tentu saja Seongje menyadarinya.
“Napa? Kangen ya sama diriku yang dulu?” komentar Seongje. “Yah, salah seseorang tiba-tiba menghilang dari hidupku.”
Sieun memegang pulpennya dengan makin keras saat mendengarnya meski tangannya gemetar, ia tak kuasa untuk melihat mata Seongje. Perasaan bersalah mulai menguasai dadanya, “… Maaf”
Seongje hanya bisa mengamatinya. Melihat bagaimana mata Sieun bergetar dan hanya terfokus dengan barang yang ada dibawahnya.
Barulah ia bergerak setelah menyadari ia menggunakan kata yang salah. “Jangan anggap aku serius. Aku udah gak peduli lagi dengan hal itu semenjak kamu cerita alasannya.” Dia mencondongkan badannya, tangannya bergerak ke rambut Sieun, mengacaknya sembari tersenyum. “Kaupun terpaksa pergi karena kesalahanku sendiri. Sorry, it’s my fault to begin with.”
Sieun bisa merasakan air mata mulai mengalir di matanya, mendengar Seongje berkata demikian dengan nada menenangkan. Tentu saja itu menghasilkan Seongje yang panik melihat Sieun tiba-tiba mengeluarkan air mata.
“Shit! Sieun???” Dia berkata dengan suara panik kecil seraya ia berjalan cepat ke sisi Sieun.
Seongje menangkup pipi Sieun dengan kedua tangannya, menyapu bersih matanya yang berkaca-kaca dengan air mata. “Sorry, gak bermaksud begitu …”
Meski Sieun sendiri ingin air matanya berhenti, namun tubuhnya tak bisa diajak kerjasama, air tetap saja keluar dari matanya. “Nggak … Emang salahku nggak kasih tau alasan aku pergi …” Sieun mengakui.
“Nah, Salahku. Aku nggak bisa kontrol emosi ku sendiri. Bukan salahmu Ibumu tiba-tiba ngeliat aku mukul itu orang.” Seongje masih tersenyum tipis — senyuman yang nyata dari lubuk hatinya.
Seongje membawa Sieun mendekat padanya sehingga dia bisa memeluknya, “Maaf ya?” Ia mengusap-usap belakang kepala Sieun.
Sementara Sieun menduselkan kepalanya makin dekat dengan tulang selangka Seongje. Tangannya memegang erat punggung Seongje. Ia menghirup aroma parfum Seongje, aroma kayu yang memiliki bau segar dan maskulin.
Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya tangisan Sieun mereda, namun ia tak menjauhkan dirinya dari pundak Seongje.
“You there?”
“Mm …”
Seongje terkekeh mendengarnya, “Ini juga ngingetin aku sama waktu dulu.” Tangannya kembali mengusap-usap rambut Sieun lagi, “Kita, dicafe ini. Kau meluk aku karena … Apa ya?”
“Keluargamu.”
“Ah … Ya.”
Akhirnya Sieun mendorong dirinya menjauh, matanya masih merah bekas menangis. Ia mengambil beberapa detik untuk memperoleh dirinya lagi untuk ke setelan awal, belajar.
Dan ya, Sieun lansung mengambil lagi pulpen nya yang berada di meja lalu fokus dengan bukunya.
Selagi Sieun fokus dengan bukunya, Seongje menatapnya tak percaya, “Kau baru aja beres nangis dan … Lansung kembali belajar?”
“Oje, beliin snack.” Tutur Sieun, tak menoleh sama sekali ke arah Seongje yang berada di sampingnya.
Hening. Tak ada suara apapun. Tak ada suara bergerak maupun berkata.
Barulah setelah itu Sieun menoleh ke Seongje. Ke Seongje yang matanya sudah melebar. Ke Seongje yang warna merah menghiasi pipinya.
“Seongje …?”
Seongje mengedipkan matanya berkali-kali, seakan tak percaya. “Kamu … tadi manggil aku apa …?”
“Seongje?”
“Sebelumnya.”
Alis Sieun mengerut, “ … Oje?”
Tangan Seongje lansung memegang bahu Sieun, “Kamu kenapa tiba-tiba manggil aku ‘Oje’?!?!?” Dia mengguncang pundaknya, “Dalam rangka apaan kamu manggil aku sama nickname waktu kecil?!?!?”
“Kukasih tau setelah kau ngasih aku snack nya.”
Seongje lansung berdiri. Berlari ke arah luar untuk membeli snack (Seongje menyadari bahwa di cafe tak ada yang menjual snack.)
Sekarang, Sieun hanya perlu memikirkan alasan macam apaan yang harus dikeluarkan. Jujur saja, ia memanggil Seongje dengan ‘Oje’ tanpa ia sendiri menyadarinya.
Sieun menghela nafas, membenarkan postur tubuhnya dan kembali fokus dengan belajarnya.
