Actions

Work Header

The Guardian Demon

Chapter 3: Penyelamatan

Chapter Text

Seorang pelayan pria melangkahkan kakinya dengan tegap memasuki lift yang bertujuan ke lantai paling atas. Di dalam lift, pelayan pria ini tak sendirian. Ia bersama seorang gadis berambut pirang dan bermata biru yang tak lain adalah Yodo. Pria ini terkejut setengah mati. Pasalnya tak ada seorangpun yang diperbolehkan memasuki area lantai paling atas. 

“Kudengar di atas banyak kamar yang mewah. Selain itu juga ada banyak makanan enak,” kata Yodo. 

“Mohon maaf, siapa yang melayani anda di meja resepsionis? Saya akan menegurnya,” kata pelayan pria ini. 

“Eh? Kenapa?” tanya Yodo. 

“Karena pengunjung biasa dilarang memesan kamar di lantai paling atas. Hanya tamu istimewa yang diperbolehkan memesan kamar di lantai paling atas,” jelas pelayan ini. 

“Bagaimana ini? Aku sudah terlanjur bayar. Barang-barangku pun sudah berada di sana,” tanya Yodo pura-pura panik. 

“Baik saya akan membantu anda mengemasi barang-barang anda dan juga mengembalikan uang anda,” kata pelayan ini tanpa merasa curiga sedikitpun pada Yodo. 

“Dia sangat kejam. Sayangnya dia polos,” batin Yodo. 

Keluar dari lift, pelayan ini mengikuti arah jalan yang dilalui oleh Yodo. Yodo berjalan menghampiri sebuah kamar dengan bertuliskan angka kanji empat. Tanpa pikir panjang pelayan ini mengeluarkan belati dari kantong celananya dan bersiap menusuk Yodo dari belakang. Tak lama kemudian, ada seseorang yang memotong tangan kanan sekaligus memenggal kepala pelayan ini. 

“Kau selalu saja ceroboh, Yodo,” kata Araya lalu membersihkan bilah katana-nya. 

“Terima kasih, Araya,” kata Yodo lalu mengambil potongan tangan pelayan itu lalu menempelkan ibu jarinya ke kunci kamar. 

Begitu pintu terbuka, Araya dan Yodo langsung dikejutkan dengan pemandangan sekumpulan anak remaja yang disekap di ruangan ini. 

“Tenang kalian semua! Kita sudah membunuh bajingan itu!” kata Yodo hingga salah satu dari remaja yang disekap teriak histeris setelah melihat potongan telapak tangan di tangan Yodo. 

“Yodo, taruh tangan itu! Kau menakuti mereka,” kata Araya. 

“Baiklah,” kata Yodo lalu menaruh tangan pelayan di atas meja. 

“Kita tak bisa melepaskan mereka begitu saja,” tiba-tiba Shinki datang dengan membawa setengah badan pelayan pria lainnya. 

“Shinki, untuk apa kau membawa mayat itu?” tanya Araya terkejut. 

“Wajah orang ini sangat berguna untuk menghubungkan iblis itu,” jawab Shinki. 

“Jadi kita biarkan anak-anak itu di sini dulu?” tanya Yodo. 

“Tentu saja. Jika kita membiarkan mereka lari dari sini, mereka akan dengan mudah ditangkap lagi oleh pasukan iblis itu. Di dalam tubuh mereka sudah dipasang sebuah tanda yang dapat melacak keberadaan mereka,” jelas Shinki. 

“Jadi kita harus mengalahkan iblis itu jika ingin menghilangkan tanda di dalam tubuh anak-anak itu?” tanya Yodo lagi. 

“Iya,” jawab Shinki. 

“Shinki, apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu?” tanya Araya. 

“Ayo kita makan dulu. Aku sudah lapar,” jawab Shinki lalu menyeret mayat pelayan itu ke dalam kamar ini. 

***

Saat ini terdapat pameran lukisan kuno di gedung serbaguna di distrik Shinju yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Tokyo. Pameran tersebut dilakukan secara terbuka sehingga para pengunjung dihadiri oleh semua kalangan mulai dari anak sekolahan hingga orang lanjut usia. Termasuk juga Boruto dan Himawari yang sengaja menghadiri pameran ini demi menemui seseorang. 

“Onii-chan! Itu dia!” kata Himawari menunjuk seorang lelaki berambut pirang pucat, berkulit putih pucat dan bermata biru muda yang sedang mengamati sebuah lukisan ukiyo-e dengan seksama. 

“Tidak apa-apa nih mengganggu dia? Dia terlihat serius,” tanya Boruto ragu. 

“Tentu saja tidak apa-apa. Ayo!” kata Himawari lalu menggandeng tangan kakaknya untuk menghampiri lelaki itu. 

“Inojin-kun!” panggil Himawari hingga lelaki itu menoleh ke arahnya.

“Himawari! Lama tak berjumpa!” kata Inojin dengan senyum merekah di wajah tampannya. 

“Inojin! Serius banget!” kata Boruto. 

“Tentu saja karena aku bersekolah,” kata Inojin masih tersenyum.

“Hei, jangan menyindirku, ya?” kata Boruto kesal. 

“Bagaimana onii-chan bisa sekolah SMA seperti Inojin-kun kalau SMP saja onii-chan tidak lulus?” tanya Himawari dengan wajah sedih. 

“Salah sendiri tidak lulus,” kata Inojin ketus.

“Karena aku sibuk latihan, muka pucat. Latihannya begitu berat sampai aku tidak ada waktu untuk bersekolah,” kata Boruto membela diri. 

“Zaman sekarang ada namanya ujian kesetaraan. Coba kau ikut ujian kesetaraan biar bisa satu sekolah denganku,” saran Inojin. 

“Benar. Aku akan meminta bantuan kepada guruku untuk mengajari onii-chan biar bisa lulus secepatnya,” kata Himawari. 

“Guru yang mana? Jangan bilang Aburame-sensei?” tanya Boruto panik. 

“Tidak kok. Aku akan meminta tolong pada Iruka-sensei. Gurunya papa dulu,” kata Himawari tersenyum. 

“Syukurlah,” kata Boruto lega lalu menatap sebuah lukisan kuno yang sempat dilihat oleh Inojin. 

Ukiyo-e dengan pelukis tanpa nama. Diperkirakan sudah berusia lebih dari 200 tahun,” jelas Inojin. 

“Seleramu gila juga. Omong-omong aku pernah melihat mereka,” kata Boruto menatap sebuah lukisan yang menampilkan seorang gadis berambut pirang yang ditata dengan gaya rambut icho-gaeshi dan mengenakan kimono berwarna merah, seorang lelaki berambut coklat kehitaman pendek runcing yang mengenakan kimono yang dipadukan dengan tattsuke-bakama berwarna serba hitam serta seorang lelaki berambut hitam panjang sebahu yang dikuncir kuda dengan mengenakan kimono berwarna jingga kecoklatan yang dipadukan dengan tattsuke-bakama berwarna hitam. Mereka bertiga berpenampilan layaknya manusia pada umumnya namun memakan jasad seorang pria dengan tangan dan mulut yang berlumuran darah yang menandakan bahwa mereka iblis pemakan manusia. Lukisan tersebut berlatar belakang di sebuah ruangan yang terdapat pintu shoji dengan warna merah layaknya bercak darah yang menambah kesan menyeramkan dari lukisan tersebut. 

Adegan beralih ke hotel di mana seorang pelayan pria membukakan pintu kamar yang dimasuki oleh Shinki dan rekannya. Kedua mata pria ini langsung terbelalak dengan tubuh yang bergetar melihat pemandangan yang mengerikan di mana Shinki dan rekannya memakan jasad seorang pria yang sangat ia kenal. Kumpulan anak remaja yang disekap di ruangan ini membalikkan badan dengan hidung yang ditutup sesuai perintah dari Araya. 

“I…iblis!” kata pelayan pria ini dengan ketakutan. 

“Kenapa kau kaget? Kami bukan penyusup. Kami semua sudah bayar. Mana mahal lagi,” kata Yodo dengan menunjukkan bukti pembayaran kepada pelayan itu.

“Pergi dari sini! Aku tak peduli kalian sudah bayar!” kata pelayan dengan suara yang berat dan tegas bermaksud untuk menghilangkan rasa takutnya. 

“Hei, apakah kau tahu nama pemilik hotel ini?” tanya Shinki. 

“Aku tidak akan memberitahukan orang itu kepada kalian,” jawab pelayan ini semakin ketakutan. 

“Tunggu sebentar, tenangkan diri anda. Jika anda membantu kami membebaskan anak-anak itu, kami akan melindungi anda dari atasan anda,” kata Araya dengan sopan hingga pelayan itu sedikit luluh.

Kembali lagi ke adegan Boruto, Himawari dan Inojin. Himawari sama sekali tidak berkesan atas karya lukis kuno yang dikagumi oleh Inojin. Biasanya ia selalu mengagumi apapun yang disukai oleh lelaki itu. 

“Seram banget,” kata Himawari bergidik ngeri. “Emang onii-chan pernah melihat mereka di mana?” tanya Himawari penasaran. 

“Di sebuah kafe yang sempat kita kunjungi,” jawab Boruto. 

“Eh? Iya juga. Aku baru ingat,” kata Himawari menyetujui kakaknya. 

“Aku tidak yakin mereka bereinkarnasi. Bisa saja mereka itu orang yang sama. Kudengar iblis dapat hidup selama ratusan tahun,” sahut Inojin. 

“Mereka memang iblis. Jangan bilang pada siapapun. Biarkan saja mereka selagi tidak membuat onar,” kata Boruto. 

“Mereka hanya ingin hidup normal,” kata Himawari. 

“Hidup normal gimana?! Sudah jelas mereka pemakan manusia!” kata Inojin kesal. 

“Mereka mungkin pemakan manusia tetapi aku yakin mereka tidak berbahaya. Bisa saja mereka memakan manusia yang sudah tewas,” kata Boruto. 

“Bagaimana kau bisa seyakin itu?” tanya Inojin tak terima. 

“Inojin-kun, percayalah pada onii-chan. Ada kok iblis kayak gitu,” kata Himawari. 

“Kalian ini kayak bukan manusia saja,” kata Inojin kesal. 

***

Satu persatu dari para remaja yang disekap telah dibebaskan oleh pelayan hotel ini. Pria ini berkeringat dingin merasakan punggungnya ditempeli pasir besi oleh Shinki yang bisa kapan saja akan membunuhnya. Di sisi lain, pria ini merasa lega tidak menyaksikan lagi pembantaian para remaja tak bersalah yang dilakukan oleh atasannya yang tak berperikemanusiaan itu. Sudah dari dulu dia ingin keluar dari lingkaran setan ini jika tidak teringat anak dan istrinya. Apalagi anaknya sedang sakit keras dan membutuhkan biaya yang banyak untuk pengobatannya. 

“Ini uang untukmu. Pergilah dari sejauh mungkin dan jangan lupa bawa keluargamu juga. Kurasa cukup untukmu,” tiba-tiba Araya menyerahkan sejumlah uang kepada pelayan itu. 

“Terima kasih,” ucap pria ini. 

“Cepat pergi dari sini!” desak Araya.

Pelayan itu langsung pergi dari sini dengan berlari sekencang mungkin. 

“Astaga! Dia sungguh mirip dengan temanku,” kata Araya. 

“Bukan saatnya untuk bernostalgia,” kata Shinki menatap tajam Araya. 

“Maaf,” ucap Araya. 

“Kau selalu saja seperti itu. Ingatlah bahwa kita tidak akan bisa memiliki teman manusia,” kata Yodo. 

“Iya iya aku tahu,” kata Araya dengan nada kesal. 

Seketika Yodo mendengar suara gerakan senjata yang akan mereka bertiga. Gadis ini hendak memberitahu serangan kejutan tersebut kepada temannya namun ia tidak sempat melakukan itu karena tubuh mereka mereka bertiga langsung dipotong menjadi beberapa bagian. 

“Iblis-iblis kroco,” seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berambut silver pendek klimis yang disisir ke belakang ini melangkahkam kakinya dengan angkuh menghampiri potongan tubuh Shinki dan kawan-kawan. Di tangan kanannya terdapat sebuah sabit besar tiga mata yang berlumuran darah. 

“Hidan-sama, apa yang harus kami lakukan terhadap mereka? Mereka pasti akan meregenerasi tubuh mereka,” tanya salah satu pelayan yang baru saja menghampiri Hidan. 

“Kau tak perlu ikut campur. Biar aku saja yang mengurusi mereka. Lebih baik kau tangkap kembali anak-anak itu. Jangan membuat Dewa Jashin murka,” kata Hidan. 

“Baik,” kata pelayan ini lalu berlari mengejar anak-anak itu. 

Darah segar yang menggenangi potongan tubuh Shinki telah berubah menjadi butiran pasir besi. Kemudian butiran pasir besi itu terbang lalu membentuk sebuah tombak untuk menghampiri pelayan itu. Tak lama kemudian, pelayan itu telah tewas setelah punggungnya ditusuk oleh tombak pasir besi. Bersamaan dengan potongan tubuh Shinki yang kembali menyatu bahkan pakaiannya juga. Mata hijau Shinki menatap tajam Hidan yang menjilati lumuran darahnya dan juga Araya dan Yodo. Lelaki itu pun juga menggambar simbol aneh berupa lingkaran dengan segitiga di dalamnya yang tampak seperti melakukan ritual. 

“Gawat! Dia telah menelan darah kami. Aku tahu ritual itu,” kata Yodo yang kini kembali seperti semula. 

“Dewa Jashin? Jadi itu iblisnya?” tanya Araya juga kembali seperti semula. 

“Lenyaplah dari dunia ini, iblis-iblis kroco,” kata Hidan. Tak lama kemudian, penampilannya berubah dengan kulit berwarna hitam dan putih menyerupai tengkorak. 

Kemudian Hidan menusuk tubuhnya sendiri secara brutal. Bukannya Hidan kesakitan justru Shinki dan kawan-kawan yang mengalami rasa sakit yang luar biasa. 

“Shinki! Araya! Bagaimana bisa? Bukankah ritual ini hanya untuk manusia?!” tanya Yodo dalam keadaan tubuhnya tercabik-cabik dan mengeluarkan banyak darah dari mulut, hidung dan bahkan kedua mata sekalipun. 

“Aku mantan ninja pemburu iblis. Tentu saja kekuatanku ini juga mempan kepada iblis, gadis bodoh!” kata Hidan dengan tersenyum lebar. Ia masih menusuk tubuhnya. 

Dengan sisa kekuatannya, Shinki mengendalikan pasir besinya untuk menyerang pria itu. Hidan segera menangkis serangan demi serangan yang dilontarkan oleh Shinki secara bertubi-tubi. Hidan pun juga menangkis serangan dari Araya yang berusaha memenggal kepalanya. 

“Yodo! Dimana titik lemahnya? Cepat bilang kepadaku!” tanya Shinki dengan berteriak. 

“Tidak ada! Dia manusia abadi! Kita tidak bisa membunuhnya! Dia sudah membuat perjanjian dengan iblis!” jawab Yodo juga berteriak. 

“Apa?!” tanya Shinki terkejut. 

“Jangan putus asa! Kita harus berpikir! Dia pasti bisa dikalahkan!” kata Araya lalu kembali menyerang Hidan dengan mengayunkan katana-nya. 

Tak lama kemudian, Shinki berhasil memenggal kepala Hidan dengan menggunakan pasir besi yang menyerupai katana. Shinki mengambil celah tersebut saat Hidan lebih fokus menerima serangan bertubi-tubi dari Araya. Dengan begitu kutukan Hidan terlepas dari tubuh mereka bertiga. Araya segera memotong tubuh Hidan yang tersisa menjadi beberapa bagian. 

“Biar kubakar tubuh si brengsek itu,” Yodo menuangkan minyak tanah ke potongan tubuh Hidan lalu. Setelah itu, Yodo melemparkan beberapa kertas peledak ke arah Hidan lalu tangan kanannya membentuk segel untuk mengaktifkan kertas peledak tersebut. Dalam hitungan sekejap, api berkobar membakar potongan tubuh Hidan. 

“Gadis sialan! Beraninya kau membakar tubuhku,” teriak Hidan dengan mengumpati Yodo. 

“Diamlah, bajingan sialan!” tiba-tiba Yodo memegang kepala Hidan dengan tersenyum lebar. 

“Ayo kita kubur dia!” seru Shinki. 

“Aku akan memanggil ahli segel kenalanku,” kata Araya lalu berlari dan melompat melesat menuju kediaman kenalannya. 

***

Yodo bilang kepada kedua rekannya bahwa ada seseorang yang telah membantai iblis yang disebut Dewa Jashin dan juga para pengikutnya. Yodo juga bilang kepada mereka bahwa kejadian tersebut berlangsung saat mereka diserang oleh Hidan. Karena penasaran, Shinki dan lainnya menyusuri setiap ruangan di hotel ini untuk memeriksa kebenaran yang diungkapkan oleh Yodo. Ternyata benar yang dikatakan oleh Yodo bahwa altar penyembahan di lantai paling atas telah hancur dengan genangan darah yang cukup banyak dan tumpukan mayat yang berpakaian serba hitam. 

“Yodo, apakah dia masih di sini?” tanya Shinki. 

“Sayangnya dia sudah pergi,” jawab Yodo. 

“Apa yang akan kau lakukan kepadanya?” tanya Araya. 

“Akan kubunuh dia jika dia mengusik kami. Aku merasa bahwa dia cukup brutal untuk ukuran pemburu iblis,” jawab Shinki. 

“Sudah cukup, Shinki. Jangan membuat kami menunggu lama lagi,” kata Araya. 

“Jangan salahkan aku. Kau juga ikut andil dalam penundaan pelepasan kutukan kita,” kata Shinki hingga Araya terdiam. 

“Sudahlah jangan memaksa diri kalian! Iblis seperti kita tidak akan mungkin bisa menahan diri untuk membunuh manusia! Bahkan Sesama manusia saja bisa saling membunuh! Kalian ini seperti orang bodoh saja! Bisa saja siluman brengsek itu menipu kita!” kata Yodo dengan penuh amarah. 

“Tapi kau berhasil menahan diri untuk tidak membunuh manusia dalam waktu yang lama,” kata Araya. 

“Karena kau selalu menolongku, Araya. Coba kalau tidak ada kau, sudah pasti aku akan membunuh mereka yang berusaha menyerangku dan orang-orang yang kukenal!” jelas Yodo panjang lebar. Seketika masa lalu Yodo yang pernah membantai satu desa terlintas dalam pikirannya setelah ia berdebat dengan kedua temannya. Tragedi tersebut terjadi selama ratusan tahun yang lalu dan sengaja dilakukan oleh Yodo karena mereka melakukan hal yang keji kepada para gadis muda dan anak kecil yang tak bersalah.

“Akhirnya kau paham juga, Yodo,” kata Araya hingga Yodo terdiam. 

“Siapapun itu….tolong selamatkan anakku…,” tiba-tiba, salah satu dari korban pembantai misterius angkat bicara hingga Shinki dan lainnya angkat bicara. 

Yodo menatap sebuah peti yang tertutup rapat. Gadis ini mendengar sebuah kehidupan dari dalam peti tersebut meskipun terdengar lemah seperti hampir mati. Gadis ini langsung menghampiri peti tersebut lalu membukanya. Mata biru Yodo terbelalak saat melihat kondisi anak perempuan itu yang cukup mengenaskan dimana organ dalam tubuhnya banyak yang sudah tidak tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam hitungan 10 menit anak perempuan itu akan menghembuskan nafas terakhirnya. 

“Untuk apa kami menyelamatkan putrimu? Bukankah kau sengaja menyakitinya?” tanya Shinki dengan menatap tajam wanita itu.

“Aku tak punya pilihan lain. Hanya itulah satu-satunya cara agar dapat menyembuhkannya. Tak ada satupun dokter yang dapat menyembuhkannya,” kata wanita ini dengan lirih. 

“Tapi putrimu mau mati, lo. Ikhlaskan saja dia,” kata Shinki. 

“Tolong….gunakan cara apapun….aku ikhlas,” kata wanita ini. Kali ini ia mengeluarkan air matanya. 

“Bagaimana ini? Masa’ kita mengubah anaknya menjadi iblis? Bukankah kita malah menyiksa anak itu?” tanya Araya dengan berbisik. 

“Sejak kapan kita bisa mengubah orang menjadi iblis?” tanya Shinki.

Tak lama kemudian, ada seorang gadis –yang ternyata Himawari– yang melompat menghampiri Yodo dan anak perempuan di dalam peti itu. Kedua tangan Himawari menyentuh tubuh anak perempuan malang itu. Dalam hitungan sekejap, cakra berwarna jingga yang menyelimuti gadis ini mengalir ke tubuh anak perempuan itu. 

“Rubah kecil brengsek! Mengapa kau mengubahnya menjadi siluman?” tanya Yodo dengan mengumpat lalu menarik tubuh gadis itu. 

“Jangan khawatir. Dia tetap manusia, kok,” kata Himawari dengan tersenyum manis. Perlahan-lahan kondisi tubuh anak perempuan dalam peti itu kembali bugar disertai dengan menghilangnya luka-luka di sekujur tubuhnya. 

To be continue....