Actions

Work Header

Sweet Seduction

Summary:

Sagara, Mahendra, dan lelehan es krim di musim panas yang menyeret mereka ke dalam panasnya gairah.

Work Text:

 

.

.

.




Hamparan langit biru tanpa adanya awan yang menghias terlihat dari balik kaca jendela, menandakan musim kemarau yang telah tiba. Matahari pun bersinar begitu cerah, bahkan saking cerahnya hingga sampai terasa membakar kulit. Hal itu pula yang membuat Sagara enggan untuk melangkahkan kaki keluar dari tempat tinggalnya. 

 

Beruntung ia tidak memiliki jadwal kuliah pada hari ini, sehingga ia dapat menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam unit apartemennya. Dan karena ia tidak memiliki kemampuan dan niat untuk membuat makanannya sendiri, maka untuk urusan makanan tentu saja ia menggunakan jasa pesan antar. Terlebih lagi kekasihnya yang seorang dosen itu juga dapat ia mintai pertolongan ketika ia menginginkan satu atau lain hal.

 

Seperti beberapa saat lalu, ia yang tidak tahan dengan panasnya cuaca musim kemarau ini tentu menginginkan sesuatu yang dingin serta menyegarkan. Maka dari itu, ia dengan tidak tahu malunya menghubungi sang kekasih—yang beruntungnya hanya memiliki satu jadwal mengajar di pagi hari—untuk membelikannya banyak es krim. Persediaan es krim di dalam kulkasnya memang sudah habis, sehingga ia tentu harus mengisi kembali kulkasnya itu dengan es krim favoritnya, serta beberapa jenis minuman kemasan lainnya. Dan pastinya kekasihnya itu juga akan membelikan camilan untuknya. 

 

“Sagara, Mas datang.” 

 

Suara maskulin sang kekasih memasuki rungu Sagara, membuatnya yang sedari tadi sibuk merebahkan diri di lantai sembari menonton kartun di televisi sontak membawa tubuhnya untuk berganti posisi menjadi terduduk. Ia dengan mata berbinar menatap sang kekasih yang berjalan menghampirinya sembari menenteng dua kantong belanja yang berisi titipannya. 

 

“Mas Mahen, ayo sini cepetan kasih es krim Sagara.” langsung saja tangannya terulur ke arah sang kekasih, merebut dua kantong belanja yang Mahendra bawa. 

 

Mendengar nada suara Sagara yang begitu antusias, Mahendra dengan segera meletakkan dua kantong belanja yang sedari tadi dibawanya tepat dihadapan Sagara yang tengah duduk bersila di lantai. Setelahnya, ia ikut mendudukkan dirinya di samping sang kekasih yang kini sedang mengaduk-aduk isi dari dua kantong belanja besar itu untuk mencari es krim titipannya. 

 

“Mas Mahen mau rasa apa?” setelah mendapatkan es krim yang ia inginkan, Sagara bertanya kepada sang kekasih yang hanya diam saja di sampingnya, tapi ia tahu jika kekasihnya itu tengah memperhatikannya.

 

“Coklat aja.” jawab Mahendra sembari mengulurkan sebelah tangannya, menunggu Sagara memberikan sebungkus es krim rasa coklat yang ia mau.

 

Sagara mengangguk dan bergumam kecil, tangannya dengan cekatan mengaduk-aduk kembali isi kantong belanja itu untuk menemukan es krim yang diinginkan kekasihnya. Setelah berhasil mendapatkannya, ia langsung saja menaruh sebungkus es krim rasa coklat itu di tangan Mahendra. 

 

Keduanya langsung saja membuka bungkus es krim di tangan mereka masing-masing, lalu memegang stik es krim berbentuk popsicles itu dan menikmatinya dengan tenang. Mahendra menggigit sedikit demi sedikit es krim coklatnya, seakan ia tidak merasakan ngilu menghampiri gigi-giginya, berbeda dengan Sagara yang menikmati es krimnya dengan mengemutnya dan sesekali menjulurkan lidahnya untuk menjilat lelehan es krim yang mengenai tangannya.

 

Tidak ada yang salah dengan bagaimana cara keduanya menikmati es krim mereka masing-masing. Namun, bagi Mahendra yang seringkali tidak dapat mengontrol nafsunya terhadap kekasihnya, pemandangan sosok Sagara yang tengah menikmati es krim tersebut terlihat begitu menggoda di matanya. Entah mengapa ia merasa jika es krim yang tengah Sagara lahap sekarang terlihat jauh lebih nikmat daripada es krimnya sendiri. Mungkin juga bukan es krim Sagara yang terlihat nikmat, akan tetapi bibir plum pemuda itu yang terlihat begitu sensual dan begitu menggoda di matanya. 

 

Dalam sepersekian detik pikiran Mahendra mulai melalang buana, mengingat banyaknya adegan panas yang telah mereka lewati bersama. Khususnya pada adegan dimana bibir plum Sagara yang melingkupi batang penisnya,  mengulumnya. Lalu lidahnya yang lihai menjilat di sepanjang batang miliknya, bahkan menusuk-nusuk lubang uretra hingga ia menyemprotkan sperma panas di mulut kekasihnya itu. 

 

Oh, tiba-tiba saja ia jadi ingin mereka ulang kegiatan panas mereka untuk yang kesekian kalinya. Pun dapat ia rasakan penisnya yang mulai bangkit di dalam celananya. 

 

“Sagara, Mas panas.” suaranya terdengar berat, tanda jika nafsu mulai menguasai. 

 

Namun, sayangnya Sagara tidak menyadari hal itu, fokusnya sekarang hanya tertuju pada es krimnya. Ia kira kekasihnya itu hanya kepanasan biasa sebab cuaca, terlebih Mahendra baru saja dari luar. Yah, mungkin hawa panas dari luar masih sedikit menempel di tubuhnya, pikirnya sederhana. 

 

“Mas turunin lagi aja suhu AC-nya,” ia dengan acuh tak acuh menjawab, fokusnya masih tertuju pada dinginnya es krim yang meleleh di mulutnya. “Atau Mas Mahen buka baju aja sekalian biar nggak panas lagi. Kayak Sagara gini, cuma pake kaus Mas yang kebesaran doang.” 

 

Pandangan Mahendra yang semula terfokus pada bibir Sagara, kini beralih untuk melihat penampilan sang kekasih. Baru ia sadari jika Sagara memang hanya mengenakan kausnya yang begitu kebesaran di tubuh kecil dan ramping itu. Bagian bawahnya terlihat begitu terbuka, kaki jenjangnya tidak tertutup sehelai benangpun. 

 

Ck, bagaimana bisa ia melupakan satu kebiasaan Sagara yang satu ini. Lelaki cantik itu tentu tidak akan mau repot-repot memakai celana jika cuaca sedang panas seperti ini, terlebih lagi jika dia tidak memiliki agenda yang mengharuskannya untuk pergi keluar. Pun tentunya bukan hanya tidak mau memakai celana, tapi ia juga tahu jika kekasihnya ini tentu tidak akan mau mengenakan celana dalamnya. 

 

Lekaki kecilnya benci rasa lembab di selangkangannya sebab keringat. 

 

Lalu, bukannya ini akan jadi lebih mudah bagi mereka untuk bersenang-senang setelah ini? Oh, ia tidak sabar untuk segera memulainya. 

 

Demikian, otak mesum Mahendra mulai bekerja dengan cepat. Ia dengan tergesa melahap semua es krimnya yang tersisa. Setelah melemparkan stik es krim yang sudah bersih itu ke sembarang arah, tangannya mulai melepas helai demi helai kain yang menutupi tubuhnya. 

 

“E-eehhh.. Mas Mahen kenapa sih? Kenapa tiba-tiba tarik tangan Sagara? Es krim Sagara jatuh ‘kan.” Sagara memprotes tak terima ketika Mahendra tanpa sepatah kata dengan tiba-tiba menarik tangannya. Tatapan nanar ia berikan ke arah es krimnya yang kini meleleh sia-sia di atas ubin lantai. 

 

“Kan Mas udah bilang, Mas panas, sayang.” ucap Mahendra ketika ia sudah mendudukkan dirinya dan Sagara di atas sofa. 

 

Omongan tidak jelas Mahendra membuat Sagara mengerutkan kening. Padahal ia sudah berkata untuk menurunkan suhu AC atau sekalian buka baju saja jika panas, tapi kenapa pula pria dewasa ini malah menarik tangannya. 

 

“Mas udah buka baju gitu,” matanya memicing, menatap tubuh bagian atas Mahendra yang sudah tak tertutup kain. “Terus? Mas mau Sagara yang turunin suhu AC-nya?” 

 

Mata Sagara segera beralih ke atas meja, mencari keberadaan remot AC. Namun, baru saja ia akan meraih benda itu, tangannya lebih dulu dicekal oleh sang kekasih. Lalu tangan besar Mahendra membawa tangannya untuk meraih benda besar, keras, dan panas di antara kaki lelaki itu. 

 

“Daripada nurunin suhu AC, mending kamu nurunin suhu kontol Mas, sayang.” 

 

Mata Sagara melebar mendengar ucapan kotor yang keluar dari mulut kekasihnya itu. Apalagi ketika ia menundukkan pandangannya, ia bisa melihat bagaimana tangannya dituntun untuk melingkupi batang besar Mahendra, serta digerakkan naik turun untuk mengocok penis itu. 

 

Sejak kapan? Sejak kapan tubuh bagian bagian bawah kekasihnya ini ikut terbuka? Dan sejak kapan pula penis besar itu menegang seperti ini? Ah, tidak. Tapi bagaimana bisa penis itu tiba-tiba menegang seperti ini? Lelaki itu terlihat biasa-biasa saja beberapa saat lalu. Jadi kenapa bisa kekasihnya ini tiba-tiba saja bernafsu. 

 

“Kenapa Mas Mahen bisa tiba-tiba tegang kayak gini? Atau jangan-jangan Mas nahan sange sejak sebelum berangkat ke sini?” hanya itu yang bisa dipikirkan oleh Sagara sekarang. Otaknya mulai tidak fokus sebab rasa panas dan kedutan dari penis besar di tangannya itu mulai membuat tubuhnya ikut bereaksi. 

 

“Mulut kamu waktu makan es krim kelihatan menggoda banget. Kayak kamu waktu makan kontol Mas,” pandangan Mahendra yang mulai tertutupi oleh nafsu, menatap dengan penuh goda ke mata Sagara. “Kamu bakal ngecup palkon sebagai pembuka, terus julurin lidah buat jilat batang kontol Mas, dari atas ke bawah sampai basah sama air liur kamu. Habis itu mulut kecil kamu bakalan mangap lebar, berusaha telan semua batang kontol Mas, tapi seberapa sering pun kamu coba, tetap aja yang masuk cuma setengah. Sesekali kamu bakal ngeluarin kontol Mas dari mulut kamu, terus lidah kamu jilat-jilat palkon dan nusuk-nusuk lubang kencing biar bisa ngerasain precum Mas. Terus waktu kontol Mas akhirnya ngeluarin peju, kamu bakal telan semuanya. Jadi begitu, Mas langsung ngaceng waktu lihat kamu makan es krim kayak gitu.” 

 

Kalimat demi kalimat yang begitu kotor itu keluar dengan lancarnya dari mulut Mahendra, membuat wajah Sagara memerah padam. Namun tidak hanya wajahnya saja yang terasa panas, tetapi tubuhnya pun ikut merasa panas. Rasa malu dan gairah bercampur menghantamnya. 

 

Sungguh ia tidak sadar jika caranya memakan es krim sama seperti caranya ketikaia memakan penis besar kekasihnya. Eh, tapi ia lebih dulu memakan es krim dengan cara seperti itu sejak sebelum ia tahu caranya memakan penis. Itu artinya, cara ia memakan penis sama dengan caranya makan es krim. 

 

Ah, sudahlah tidak ada gunanya memikirkan itu. Sebab yang paling penting sekarang adalah kekasihnya yang tampaknya sudah sangat terangsang dan siap untuk menyetubuhinya. 

 

“Kamu ‘kan udah dingin karena makan es krim. Jadi sekarang, gantian makan kontol Mas, ya. Biar kontol Mas ikutan dingin juga. Panas banget, Mas nggak tahan.” 

 

Sagara sedikit tersentak ketika tubuhnya diarahkan untuk berjongkok di antara kedua kaki Mahendra yang terbuka lebar. Wajahnya yang memerah padam, kini dihadapkan kepada batang penis besar, panjang, berwarna gelap, dan berurat yang mulai menegang sempurna serta berkedut itu. 

 

Ugh, penis kekasihnya kini terlihat lebih menggoda daripada es krim yang baru saja ia makan. 

 

Walaupun sejujurnya Sagara sekarang sedang tidak ingin berbagi cairan kelamin di cuaca yang sepanas ini, tapi kalau sudah seperti ini, ia tentu tidak mungkin menolak. Toh, sudah hampir dua minggu ini mereka tidak bercinta sebab Mahendra sibuk menilai projek demi projek yang telah dikerjakan oleh mahasiswanya—termasuk projek Sagara sendiri dan kelompoknya. Jadi biarlah mereka bercinta dengan hebat hari ini, mumpung kekasihnya itu ada sedikit waktu luang.

 

“Daripada Sagara buat dingin, mending Sagara buat lebih panas. Mas pasti lebih suka ‘kan kalau kontol Mas ini lebih panas? Apalagi waktu masuk ke memek panas Sagara. Kita berbagi panas aja kayak biasanya.” 

 

Tatapan penuh goda ia berikan kepada Mahendra, yang disambut oleh pria dewasa itu dengan seringai lebar. Tanpa memutus kontak mata di antara mereka, Sagara berikan kecupan di atas kepala penis licin berwarna merah gelap yang mulai mengeluarkan cairan pra ejakulasi itu. Ah, sungguh adegan pembuka yang begitu menggoda dan akan tetap selalu menggoda walau berapa banyak serta seringnya Sagara melakukannya. 

 

Dan seperti yang telah Mahendra jabarkan sebelumnya tentang kebiasaannya, Sagara pun beralih ke adegan selanjutnya, menjulurkan lidahnya untuk menjilat batang panas itu. Lidahnya dengan lihai bergerak di penis Mahendra seakan tengah menari. Bergerak turun dari kepala penis menuju ke pangkalnya yang berhiaskan rambut kemaluan yang terpangkas rapi, lalu kembali naik untuk membasahi seluruh batang gelap, besar, panjang, panas, dan berkedut itu dengan saliva. 

 

Namun, untuk kali ini Sagara akan menambahkan satu adegan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Karena bukannya langsung melahap batang penis itu agar memasuki mulutnya hingga menyentuh tenggorokannya, ia justru membawa mulutnya untuk berhadapan dengan dua kantong berat yang menggantung di pangkal penis Mahendra. 

 

“Argh! Sagara!” Mahendra memekik terkejut ketika mulut mungil kekasihnya itu mulai melahap salah satu kantong testisnya. 

 

Kedua tangan besar Mahendra meraih pipi sang kekasih yang menggembung karena menyimpan buah zakarnya, mengusapnya lembut. Seringai nakal muncul di bibirnya. 

 

“Biar Mas tebak, kamu habis nonton bokep baru? Terus sekarang kamu lagi praktekin apa yang kamu tonton?” anggukan kecil Mahendra terima sebagai jawaban. 

 

Mahendra tersenyum bangga, seakan-akan ia tengah melihat anak didiknya baru saja memenangkan lomba karya tulis ilmiah saja. Oh, tapi memang ia begitu bangga sekarang, ketika Sagara mulai berani berinisiatif untuk mempraktekkan adegan dari video porno yang ia tonton, karena biasanya ia yang akan melakukan hal tersebut. Sungguh pencapaian luar biasa dari mahasiswa sekaligus kekasihnya ini. 

 

Melihat senyum yang penuh akan rasa bangga muncul di bibir seksi sang kekasih, Sagara menjadi semakin bersemangat untuk menunjukkan apa yang telah ia pelajari dari video porno yang beberapa hari lalu ia tonton. Mulutnya mulai menghisap kantong sperma yang terasa berat di lidahnya itu, pun sesekali ia menggerakkan rahang serta giginya dengan pelan seolah-olah ia sedang mengunyah telur di mulutnya. 

 

Ketika satu kantong testis berada di mulutnya, maka satu kantong lagi berakhir dengan pijatan dari jari-jari lentik miliknya. Sagara melakukannya secara bergantian, mengulum dan mengunyah buah zakar sisi kanan ketika tangannya memijat buah zakar sisi kiri, lalu sebaliknya. Dan tentunya ia biarkan batang besar dan panas sang kekasih bersandar dengan nyaman di atas wajahnya.

 

Kemampuan baru yang Sagara pelajari untuk memuaskan Mahendra pun tidak sia-sia, sebab pria dewasa itu tampak begitu menikmatinya. Kepalanya mendongak tinggi, matanya terpejam erat, dan bibirnya terus menerus mengeluarkan desahan serta geraman. Kedua tangannya yang semula memegang lembut pipi Sagara, kini beralih untuk mencengkram rambut Sagara dengan cukup kuat.

 

Namun, meski dosen kesayangannya itu terlihat begitu menikmati kemampuan barunya, Sagara tidak mau terus menerus memakan buah zakar. Maka kini ia mengeluarkan buah zakar itu dari mulutnya dan segera meraih penis besar Mahendra, menjilatinya sekali lagi, lalu memasukkannya ke dalam mulut kecilnya. Pun seperti apa yang dikatakan sang kekasih sebelumnya, seberapapun lebarnya ia membuka mulutnya, ia hanya sanggup menelan setengah bagian dari batang penis besar dan pajang itu. 

 

Kepalanya mulai bergerak naik turun, mengulum penis itu layaknya ia memakan es krim. Sesekali pula ia akan mengeluarkan penis Mahendra dari mulutnya, menjulurkan lidahnya, menjilati kepala penis yang licin, serta menusuk-nusuk lubang kencing sang kekasih agar ia dapat lebih banyak merasakan cairan pra ejakulasi kekasihnya. 

 

“Mas, mau keluar. Telan semua peju mas ya, sayang.” bisik Mahendra pelan. 

 

Kepalanya kini sudah kembali menunduk, menatap pergerakan mulut Sagara yang tengah memainkan penisnya. Kedua tangannya yang semula diam kini bergerak, mendorong serta menarik kepala sang kekasih agar semakin cepat bergerak. 

 

Hingga beberapa saat kemudian, ia berhasil menjemput klimaks pertamanya. Sperma poten kental menyembur dengan deras dari lubang uretra, mengisi rongga mulut kecil Sagara. Kekasihnya itu terlihat sedikit kewalahan dan beberapa kali batuk tersedak. Tapi pada akhirnya, ia berhasil menelan semua cairan cinta Mahendra. 

 

“Pinter banget pacar Mas ini.” puji Mahendra ketika Sagara mengeluarkan penisnya dari mulut kecil itu. 

 

Dengan begitu perhatian, Mahendra membawa tubuh Sagara untuk duduk mengangkangi tubuh besarnya. Satu tangannya dengan posesif merengkuh pinggang rampingnya, sementara satu tangannya yang lain ia gunakan untuk mengusap sisa spermanya yang mengalir di dagu serta leher jenjang itu. Ciuman lembut namun syarat akan gairah pun ia berikan sebagai hadiah atas kerja keras sang kekasih. Tangan yang semula ia gunakan untuk mengusap lembut dagu Sagara, kini berpindah untuk menahan tengkuk guna memperdalam ciuman mereka. Liur Sagara yang bercampur dengan sisa spermanya, ia telan dengan rakusnya. Suara kecipak basah pergulatan bibir dan lidah keduanya pun mengisi udara, bersahutan pula dengan suara desah kecil yang sesekali keluar dari bibir Sagara. 

 

Sagara yang menerima afeksi dari kekasih besarnya dengan segera melingkarkan kedua lengannya untuk merengkuh leher Mahendra. Semakin ia tempelkan tubuh bagian atasnya yang masih berbalut kaus ke tubuh telanjang kekasihnya yang sudah mulai basah oleh keringat. Pun dengan penuh dengan semangat, ia turut menggesekkan tubuh bagian bawahnya yang tak tertutup sehelai benangpun dengan tubuh bagian bawah sang kekasih yang sama telanjangnya. 

 

“Mas, sekarang gantian mainin memek Yochi dong.” bisik Sagara parau ketika tautan bibir mereka akhirnya terlepas. Ia bawa tangan Mahendra yang berada di tengkuknya dan menuntunnya ke arah vaginanya yang sudah basah. 

 

Namun, bukannya menuruti permintaan kekasihnya, Mahendra justru mengangkat tubuh Sagara dari atas pangkuannya. Ia dudukkan tubuh Sagara dengan nyaman di atas sofa, sebelum ia beranjak berdiri dan berjalan menuju kantong belanja berisi berbagai jenis es krim yang masih tergeletak di atas lantai.

 

“Tunggu sebentar, sayang.” 

 

Tanpa menghiraukan tatapan kebingungan dari kekasihnya, Mahendra dengan terburu-buru mengaduk-ngaduk isi dari kantong itu dan mengambil sebungkus es krim berperisa strawberry. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, ia yang masih dengan gerakan terburu-buru, segera membawa dua kantong belanja berisi es krim serta camilan kekasihnya itu ke dapur. Langsung saja ia memasukkan kedua kantong belanja itu dengan asal-asalan ke dalam freezer walau ia tahu jika tidak hanya ada es krim saja yang berada di dalamnya. Yah, tapi apa pedulinya, karena yang terpenting baginya sekarang adalah Sagara yang sudah tidak sabar menunggunya. 

 

Wajah cemberut Sagara segera menyambutnya begitu ia kembali ke hadapan kekasih kecilnya. Namun, bukannya merasa bersalah, ia justru terkekeh pelan. Pun ciuman lembut ia berikan di atas bibir yang mengerucut lucu sebagai permintaan maaf. 

 

“Sini, Mas lihat memek basah kamu.” 

 

Walau tengah cemberut begitu, Sagara yang masih menginginkan kepuasan gairah langsung menurut saja. Ia buka kedua kakinya, mengangkang lebar menunjukkan penisnya yang sudah menegak, serta vagina di bawah testisnya yang sudah banjir. 

 

Oh, sungguh pemandangan yang begitu indah sekaligus begitu cabul di mata Mahendra. 

 

Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Mahendra segera berjongkok di antara kaki Sagara sembari membuka bungkus es krim yang menjadi penyebab tertundanya kegiatan mereka beberapa saat lalu. Tanpa peringatan, ia gesekkan es krim popsicle rasa strawberry yang dingin itu ke penis panas sang kekasih. 

 

“Eungh! Mas!” pekik Sagara terkejut. “Mas mau ngapain? Jangan aneh-aneh!” 

 

“Mas nggak aneh-aneh kok. Mas cuma mau buat itil sama memek kamu jadi dingin.” kini ia gerakkan es krim itu menuju liang vagina Sagara, menggesekkannya dilipatan basah itu hingga lelehan es krim bercampur dengan cairan kelamin. 

 

Jawaban yang Mahendra berikan membuat tubuh Sagara meremang kesenangan. Dinginnya es krim yang bertemu dengan vagina panas serta basah miliknya, membuat gairahnya terasa semakin memuncak. Walau sedikit kebas ia rasakan di vaginanya sebab dinginnya es krim, tetap saja ia menikmati sensasi baru yang dirasakan oleh tubuhnya. 

 

“Mmhh.. Ahhh..” 

 

Desahan lantang keluar dari bibir Sagara ketika Mahendra mulai mendorong es krim itu memasuki vaginanya. Kedua tangannya dengan kuat mencengkeram rambut Mahendra untuk menyalurkan rasa nikmat sekaligus menyiksa yang melanda tubuhnya. Kepalanya tertunduk. Mata yang mulai berurai air mata itu menatap dengan sedikit ngeri ke arah vaginanya yang sedang disodok dengan sepotong es krim. 

 

“Gimana, sayang? Enak kan memek kamu?” tanya Mahendra dengan nada menggoda. Seringai muncul di bibirnya ketika matanya menyaksikan kekacauan yang ia buat terhadap tubuh Sagara. 

 

Semakin cepat ia gerakkan es krim ditangannya itu untuk menyodok vagina Sagara. Mendorong masuk, menarik keluar, serta memutarnya. Panas vagina sang kekasih membuat es krim itu meleleh cukup cepat, sebagian tersimpan di dalam vagina dan sebagian lagi mengalir keluar bersama cairan vagina. 

 

“Aakkkhhh.. Ma-masshh.. Sagara mau sampai. Keluarin es krimnya!” teriaknya sembari menguatkan cengkramannya di rambut Mahendra. 

 

Tapi bukan Mahendra namanya jika tidak mempermainkan kekasihnya. Ia justru memasukkan es krim itu semakin dalam ke vagina Sagara, memutar beberapa kali hingga es krim dingin itu meleleh sempurna di dalam dan terlepas dari stiknya. 

 

“Keluar di mulut Mas.” 

 

Setelah membuang stik es krim itu sembarang arah, Mahendra kini membuka mulutnya lebar. Bibirnya meraup bibir vagina Sagara yang basah oleh lelehan es krim serta cairan kelamin. Ia dengan begitu rakus mulai menjilat, menghisap, serta menelan setiap tetes campuran kedua cairan itu. Tak lupa pula ia turut memanjakan penis kekasihnya yang sudah memerah itu dengan tangannya, mengocoknya dengan kecepatan yang selaras dengan gerak bibir dan lidahnya. 

 

“Ugh! A-aaahhh…” desahan panjang menjadi tanda jika Sagara mendapatkan klimaksnya. Baik vagina maupun penisnya mengeluarkan mani dengan deras.

 

Mahendra dengan segera membuka mulutnya lebih lebar lagi, meraup bibir vagina serta penis Sagara sekaligus. Lidahnya yang panjang pun bergerak liar di dalam vagina kekasihnya, membersihkan sisa es krim sekaligus mani yang bercampur. Setiap tetes cairan yang keluar dari dua lubang kelamin itu ia telan dengan rakusnya, seolah-olah ia tengah dilanda dahaga berat. Tubuh Sagara yang gemetar ia tahan dengan kedua tangan besarnya, agar ia bisa menikmati setiap tetes cairannya tanpa ada yang terbuang. 

 

“Manis.” ia jilat bibir bawahnya dengan sensual. Mengecap jejak rasa Sagara yang tertinggal. 

 

Sagara hanya berdengung tidak jelas. Tubuhnya yang lemas setelah mencapai klimaks ia rebahkan di sofa. Tentu ia sadar jika permainan mereka belum selesai, penis besar kekasihnya itu belum masuk ke dalam vaginanya. Maka ia biarkan saja kakinya tetap terbuka lebar. 

 

Dan benar saja, Mahendra yang sudah puas bermain-main dengan Sagara kini memperbaiki posisinya agar nyaman di atas sofa. Setelah memastikan sang kekasih sudah nyaman, ia mulai mengarahkan penisnya untuk memasuki lubang yang akan membawanya ke surga dunia itu. 

 

“Mmhh…” “Arrgghhh…”

 

Erang mereka bersamaan ketika kelamin mereka akhirnya menyatu. Akhirnya, setelah hampir dua minggu tidak bersenggama, kini mereka dapat kembali berbagi kehangatan tubuh serta cairan kelamin masing-masing. 

 

“Mas, ayo buruan gerak. Memek gatel Sagara udah kangen banget dirojok kontol Mas yang gede itu.” pintanya dengan tak sabaran ketika dosen kesayangannya itu hanya berdiam setelah melakukan penetrasi. 

 

“Sebentar, sayang. Mas lagi nikmatin memek kamu yang mijet kontol Mas.” matanya terpejam ketika ia menjawab. Ia tengah benar-benar menikmati pijatan dari dinding vagina Sagara di penisnya. 

 

Mendapati keinginannya tidak segera dituruti, Sagara kembali merajuk. Maka ia memutuskan, jika ia yang akan mengambil kendali. Dengan kesal ia melingkarkan kedua lengannya di leher Mahendra, menariknya mendekat agar ia bisa meraup bibirnya. Pinggulnya ia gerakkan dengan tidak sabaran, mencoba menggenjot penis kekasihnya. 

 

Mahendra yang dihadapkan dengan keburu-buruan Sagara hanya terkekeh pelan di antara ciuman mereka. Ia biarkan saja kekasih kecilnya itu memakan bibirnya dan menggeliatkan badan dengan tidak sabaran. Itu terlihat menggemaskan sekaligus begitu menggoda di matanya. 

 

“Satu ronde. Genjot dulu memek Sagara sampai peju Mas ngisi rahim Sagara. Habis itu nanti terserah Mas mau cock warming seberapa lama,” Sagara melancarkan sesi negosiasi ketika bibirnya sudah puas memakan bibir sang kekasih. “Ayo, Mas.” bujuknya lagi sembari melepaskan rengkuhannya di leher Mahendra, agar ia bisa membuka kausnya yang sudah basah karena keringat. 

 

Ah, jika sudah begini, Mahendra tentu akan dengan senang hati menerima tawaran dari kekasihnya. 

 

Kedua tangannya ia eratkan di pinggang Sagara. Pinggulnya mulai bergerak, merojok vagina legit itu sesuai perintah sang kekasih. Mulutnya pun tak tinggal diam, ia permainkan puting merah merona yang menegak seolah menantangnya itu. 

 

“Aghh.. Mmhhh.. Mas, lebih cepat! Ngh..” mulut Sagara begitu berisik mengeluarkan desahan ketika penis besar itu akhirnya bergerak di dalam vaginanya. Tapi itu masih kurang, Sagara inginkan lebih. Ia ingin penis kekasihnya itu merojok vaginanya lebih dalam serta lebih cepat. 

 

Mendengar permintaan Sagara, Mahendra gerakkan pinggulnya untuk bergerak lebih cepat dan menyodok vagina itu lebih dalam dengan penis kebanggaannya. Sampai-sampai buah pelirnya yang berat dan penuh dengan sperma itu berkali-kali menampar pantat Sagara. 

 

Suara pertemuan kulit basah beradu dengan desahan serta geraman, memenuhi udara di apartemen itu. Pun tingginya suhu tubuh mereka membuat dinginnya AC tidak lagi mereka rasakan di kulit. 

 

“Nghh… Aghh.. Aghhh…” desahan demi desahan keluar dari mulutnya. Kepalanya mendongak tinggi, sesekali menggeleng ke kanan dan ke kiri karena rasa nikmat yang membanjiri tubuhnya. Matanya yang berurai air mata terpejam erat, meresapi rasa dari manuver penis Mahendra di dalam vaginanya.

 

“Enak? Memeknya enak, sayang?” kalimat tanya yang tidak perlu dijawab itu Mahendra lontarkan. “Lihat, sayang. Lihat gimana kontol Mas ngerojok memek kamu. Ayo, lihat. Kamu suka ‘kan kalau lihat memek kamu dirojok sama kontol Mas yang gede ini.” 

 

Ya, Sagara begitu menyukainya. Maka dengan segera ia membuka matanya dan menundukkan pandangannya ke arah penyatuan tubuh mereka. Walau kabur sebab matanya yang dipenuhi oleh air mata, Sagara masih bisa melihat bagaimana penis berwarna gelap yang besar dan panjang itu bergerak di dalam vagina merah mudanya. Terlihat begitu kontras, tetapi sekaligus juga terlihat begitu pas. Terlebih lagi, dapat ia lihat juga gerakan penis besar itu yang tercetak di perut bagian bawahnya, bahkan hingga mencapai lubang pusarnya.

 

Oh, sungguh pemandangan indah. Ia suka. Tidak akan pernah bosan ia melihat pemandangan cabul sekaligus indah itu. 

 

“Mas, nggak mau mainin itil Sagara juga?” tanya Sagara dengan suara serak ketika ia sadar jika penisnya dibiarkan tidak tersentuh sedari tadi. Tapi walaupun bertanya demikian, tangannya sudah terlebih dahulu bergerak untuk memainkan penisnya. 

 

“Sini, Mas bantu mainin itil kamu sampai kamu pipis.” satu tangannya bergerak untuk melingkupi tangan Sagara yang memainkan penisnya, bergerak seirama untuk mengocok penis yang tidak seberapa ukurannya itu.

 

Mereka berdua bergerak untuk saling memuaskan gairah masing-masing. Penis Mahendra masih bergerak cepat di dalam vagina Sagara. Tangannya pun dengan terampil mengocok penis kekasihnya. Sagara pun turut merapatkan vaginanya, memijat penis Mahendra agar pria dewasa itu mendapatkan kepuasan yang sama besarnya dengan dirinya. 

 

“Sagara mau sampai.” baru saja mulutnya berucap, semburan panas yang deras keluar dari vagina serta penisnya. 

 

Tubuhnya bergetar dengan hebat, apalagi Mahendra sama sekali tidak memberinya waktu untuk menikmati klimaksnya. Pria itu masih bergerak tanpa mengurangi kecepatannya dan masih mengocok penisnya, membuat tubuh Sagara dibanjiri dengan kenikmatan yang menyiksa. Bahkan saking nikmatnya, cairan putih yang keluar dari penisnya kini tergantikan oleh cairan bening kekuningan dengan aroma arsenik yang kuat.

 

“Mas juga mau sampai, sayang. Mas isi rahim kamu sampai kamu hamil.” 

 

“Nghhh… Mmhhh...” 

 

Setelah beberapa hentakan, Mahendra menyusul kekasihnya mencapai klimaks. Ia tanamkan penisnya yang berkedut hebat itu dalam-dalam di vagina Sagara, ia benar-benar berniat menghamili kekasih kecilnya ini. 

 

Pun Sagara yang sedari tadi masih menyemprotkan cairan hasil ekskresinya, dihantam kembali dengan datangnya orgasme entah untuk yang keberapa kalinya. Vaginanya mencengkram erat penis Mahendra yang masih menyemburkan sperma di dalam rahimnya, sementara penisnya semakin deras mengeluarkan sisa cairan kemihnya. 

 

Keduanya terengah-engah. Dua tubuh dengan perbedaan ukuran yang signifikan itu sama-sama bergetar sebab kenikmatan. Mata mereka yang masih terhalang kabut nafsu menatap satu sama lain dengan tatapan penuh puja. 

 

Mahendra yang perlahan mulai turun dari kenikmatan, dengan penuh ketelatenan membawa kaki Sagara untuk melingkari pinggangnya. Dua lengan kekarnya dengan lembut menopang punggung Sagara dan merengkuhnya erat ketika ia memutar posisi tubuh mereka tanpa melepas penyatuan. Kini Mahendra yang berada di bawah dan Sagara berbaring telungkup dengan nyaman di atas tubuhnya. 

 

“Mandi dulu ya, biar kamu nyaman waktu angetin kontol Mas nanti. Soalnya Mas mau di dalam kamu sampai nanti malam.” Mahendra tepuk pelan punggung Sagara yang basah oleh keringat. 

 

Gumaman samar dan anggukan kecil dari kepala yang berada di atas dadanya menjadi jawaban atas pertanyaannya. Maka dari itu, Mahendra dengan Sagara di dalam gendongannya segera beranjak ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Sagara. 

 

Mahendra melepas penyatuan kelamin mereka dan menurunkan Sagara, lalu menyalakan shower hingga air membasahi seluruh tubuh mereka. Ya, hanya mandi di bawah guyuran shower, tidak perlu berendam di dalam bath up. Sebab mereka hanya ingin membersihkan diri dengan cepat, kemudian berbaring berpelukan di ranjang dengan kelamin yang menyatu kembali. 

 

Setelah membersihkan vagina Sagara dengan telaten hingga tidak lagi sisa spermanya yang tertinggal, Mahendra segera mencuci rambut serta meratakan sabun ke seluruh tubuh mungil itu. Selesai membasuh sang kekasih, ia beralih untuk mencuci rambut dan membalurkan sabun ke tubuhnya sendiri. Kedua tangannya bergerak dengan cepat, tidak ingin membuat kekasih kecilnya menunggunya terlalu lama dan berakhir masuk angin sebab tidak segera dikeringkan, terlebih Sagara kini menempelkan tubuhnya ke kaca pembatas sebagai sandaran. Begitu tubuhnya sudah terbasuh bersih, ia segera menuntun kekasihnya untuk mengambil handuk dan mengeringkan tubuh mereka. 

 

Selesai dengan sesi mandi singkat itu, Mahendra kembali menggendong tubuh Sagara keluar dari kamar mandi. Sesampainya di atas ranjang, ia dengan sembarangan melempar handuk yang melilit tubuh mereka. Tubuh telanjang mereka saling berpelukan erat. Pun seperti yang sudah mereka sepakati, Sagara akan melakukan sesi menghangatkan penis kekasihnya hingga malam nanti. 

 

“Mas, buruan masukin kontolnya ke memek Sagara. Sagara keburu ngantuk, mau tidur.” satu tangannya meraih penis yang walau sedang tidak ereksi tapi masih berukuran besar itu dan mengarahkannya ke pintu masuk vaginanya.

 

“Memek kamu kering, sayang. Nanti sakit.” dengan begitu, ia menahan tangan Sagara yang berusaha memasukkan penisnya ke vaginanya yang masih kering.

 

Mahendra mengulum dua jarinya, membasahinya dengan saliva sebelum memasukkannya ke dalam vagina Sagara. Ia gerakkan perlahan dua jarinya untuk merangsang vagina sang kekasih agar mengeluarkan cairan pelumas. Di rasa vagina itu sudah cukup licin sebab cairan pelumas alaminya, ia menarik keluar dua jarinya dan berganti memasukkan penisnya ke dalam vagina sempit dan hangat itu.

 

“Mmmhhh…” 

 

Lenguh nikmat keluar dari bibir mereka berdua begitu tubuh hangat mereka kembali menyatu. Rasa nyaman dan aman menyelimuti keduanya. Terlebih bagi Sagara, sesi berpelukan di atas ranjang setelah seks hebat dengan kelamin kekasihnya yang menyumpal vaginanya sungguh terasa amat sangat nyaman. Hal itu membuat kantuknya semakin tak tertahankan. 

 

“Mas, jangan lupa selimutin Sagara dan atur suhu AC-nya,” matanya yang sayu menatap dengan tak fokus ke arah Mahendra. “Sagara cinta banget sama Mas. Jadi nanti kalau beneran ada bayi di rahim Sagara, Mas nggak boleh kabur. Mas harus nikahin Sagara!” racauan tidak jelas diambang kesadarannya itu, ia tutup dengan kecupan ringan di atas bibir sang kekasih. 

 

Mahendra hanya bisa terkekeh melihat tingkah menggemaskan kekasih kecilnya itu. “Kalau kamu lupa, kita udah tunangan, sayang. Jadi nggak mungkin Mas kabur ninggalin kamu. Dan tujuan Mas ngehamilin kamu ‘kan biar kita bisa cepat nikah, sayang.” ia tahu Sagara tidak bisa mendengarnya sebab mahasiswa sekaligus kekasih yang sudah menjadi tunangannya sejak beberapa bulan lalu ini sudah lelap dalam tidurnya. Tapi meski demikian, tetap ia utarakan niatnya yang sebenarnya itu kepada tunangan kecilnya ini. 

 

Setelah menyelimuti tubuh mereka berdua dan mengatur suhu ruangan seperti yang dititahkan oleh Sagara kepadanya, ia eratkan pelukannya di tubuh Sagara. Tak lupa pula kecupan-kecupan lembut ia berikan di seluruh wajah manis dan menggemaskan itu. 

 

“Mas juga cinta banget sama kamu, jadi kamu harus hamil secepatnya biar kita bisa nikah secepatnya juga.”




.

.

.




-Fin.

 

 

 

 

Thanks for reading and hope y'all like it. I decided to upload this story here too, in addition to wattpad. And if you also want to read my other writings, you can visit my twitter account @takonaeko

Series this work belongs to: