Chapter Text
Hyunsuk terpaku diam, sumpit yang ia pegang menggantung di tangannya karena terlalu kaget atas apa yang baru saja keluar dari mulut Jihoon.
Mata Jihoon terus menatapnya lurus, tak bergeming sedikitpun. Sekaligus menegaskan setiap kata yang ia lontarkan barusan bukanlah sekadar impulsif belaka melainkan sesuatu yang sudah lama ia simpan rapat-rapat.
"Lo mabuk, ya?" tanya Hyunsuk.
"Nggak."
"Sakit?"
"Come on. Ini bukan waktunya bercanda."
"Lagian... aneh banget. Lo sadar nggak ngomong apa barusan?"
"Sadar. Seratus persen sadar," balas Jihoon mantap. "...gue mau kita lebih dekat dari ini, Hyun... jadi, gue harus memastikan di hati lo udah nggak ada orang lain."
Hyunsuk menelan ludah kasar, berusaha sekuat tenaga ia tenangkan diri dan jantungnya yang sudah berdebar tak karuan. Jemari tangannya yang tersembunyi di bawah meja bahkan bergetar tanpa bisa ia kendalikan.
"Emangnya kalau masih ada orang lain kenapa?" Hyunsuk kembali bertanya.
"Kalau masih ada orang lain... gue bakal singkirin dia dari hati lo. Gue nggak peduli siapa pun itu. Gue nggak peduli seberapa dalam lo pernah jatuh buat dia. Karena mulai sekarang, gue yang bakal isi tempat itu. Cuma gue."
"Dih?! Lo pasti lagi ngerjain gue, 'kan? Gue—"
"Ah! Gue cium juga lo lama-lama!" sela Jihoon dengan nada kesal.
"Lo nggak ngerti apa—"
"Gue ngerti!"
Jihoon tatap Hyunsuk dengan wajah serius. "...Justru gue ngomong begini karena gue ngerti. Gue nggak lagi main-main, Hyun. Lo bisa dorong gue pergi sekarang kalau lo mau, tapi kalau lo kasih sedikit aja celah, sedikit aja kesempatan... gue janji, gue nggak bakal sia-siain kesempatan itu."
Ruangan kembali hening. Hyunsuk menatap Jihoon lama, nyaris tak percaya.
Semesta, ke sini kah arah permainanmu sekarang? Setelah drama selesainya hubungan Hyunsuk dan Nalen, kini si biang kerok, Jihoon, malah menyukai Hyunsuk?!
Tidak pernah terbayang oleh Hyunsuk bahwa dia akan berhubungan dengan Jihoon, pria yang disukai oleh Nalen. Lucu sekali jalan hidup Hyunsuk.
"Gue mau istirahat. Capek."
Akhirnya, hanya itu yang mampu Hyunsuk lontarkan, seakan-akan lantunan kata dari Jihoon tadi tak ada harganya sama sekali. Ah, kepalanya kacau.
Memang bajingan. Jihoon menatap punggung Hyunsuk yang membisu dengan dada bergemuruh ribut.
Betapa sialnya malam ini. Setelah mengumpulkan keberanian, merangkai kata dengan susah payah, dan menumpahkan isi hatinya yang tak pernah ia bayangkan bisa terucap, Hyunsuk justru memilih meninggalkannya begitu saja... UNTUK TIDUR.
Pemuda itu bahkan tanpa basa-basi naik ke ranjang, lalu membalikkan tubuhnya dan membelakangi Jihoon dengan tidak peduli. Sialan!
Jihoon mendengus sambil menahan kesal. Rasa-rasanya seperti ditampar tanpa menyentuh.
Ia menghela napas, entah yang keberapa kali malam ini. Semestinya dia tidak begitu bodoh untuk mengatakan semuanya itu pada Hyunsuk, toh, semuanya malah berakhir mubazir dan sia-sia. Hatinya seperti diremas dan dimainkan.
Kurang ajar... gumam Jihoon lirih, sekadar untuk diri sendiri.
Apakah itu artinya Hyunsuk menolaknya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, memukul-mukul kencang kesadarannya sampai ia hampir gila.
Ia juga hampir lupa bahwa awalnya mereka sama-sama "lurus", tidak ada celah untuk hal-hal macam ini. Lalu, dalam satu malam, semuanya jungkir-balik begitu saja.
Dan sekarang? Hyunsuk malah membuatnya merasa seperti orang tolol yang berbicara sendiri.
Jihoon meremas ujung pakaiannya. Ingin rasanya dia mendatangi ranjang itu, membalik paksa tubuh Hyunsuk agar menatap wajahnya lalu menuntut jawaban yang jelas, meski itu artinya ia harus menelan penolakan paling menyakitkan sekalipun.
Tapi imajinasi itu segera pupus. Ia tahu Hyunsuk bukan tipe yang bisa digertak. Bisa-bisa malah berakhir dengan tinju mendarat di perutnya, lagi.
Frustrasi yang menggumpal di dadanya begitu menyesakkan, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Yang tersisa hanyalah tatapan nanar pada punggung Hyunsuk yang diam, keras kepala, dan tak memberi jawaban sedikit pun.
Jihoon akhirnya menyerah pada riuh di dadanya sendiri. Ia mendongak ke langit-langit, menatap kosong warna putihnya sambil meluncurkan kata-kata yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada siapa pun di ruangan itu.
"Keterlaluan. Bisa-bisanya lo malah tidur nyenyak setelah gue confess ke lo kayak orang bego... Kalau lo emang nggak suka atau nggak mau, tinggal bilang aja. To the point, mau atau nggak."
Jihoon tak berani mengeraskan suara, meski toh Hyunsuk sudah terlelap dan tak mendengar apa-apa. Ia mengusap wajahnya kasar dengan satu tangan.
"Gue nggak lagi main-main, Hyun... gue serius. Andai lo ngerti. Bodo amat soal masa lalu, gue nggak peduli sama masa lalu."
Keheningan menjawab tuturan kalimat itu. Hanya dengus napas tidur Hyunsuk yang terdengar samar dari ranjang sebelah. Jihoon tersenyum miris.
"Sialan, gue malah ngomong sendiri."
Akhirnya, ia bangkit, dengan langkah gontai menyeret tubuh lelahnya menuju kasur. Diseretnya selimut seadanya, lalu direbahkan tubuh itu. Matanya ia paksa untuk menutup meski pikiran tetap berisik.
Namun mau bagaimana lagi? Malam itu, ia harus menyerah.
Di lain sisi, sisi Hyunsuk. Pemuda itu memejamkan mata sejak tadi, dengan tubuh menghadap tembok pura-pura tertidur.
Mustahil dia mampu untuk tidur nyenyak setelah apa yang terjadi di antara mereka beberapa waktu lalu. Bahkan rasa kantuk pun enggan untuk datang. Yang mampu dia lakukan hanya diam, menutup mata, dan mendengar semua keluhan dari Jihoon.
Kalimat demi kalimat yang disuarakan oleh Jihoon, semuanya, seluruhnya masuk ke dalam gendang telinga Hyunsuk. Berulang-ulang hingga menetap tak kunjung pergi.
Sebenarnya, dia sedikit mereasa bersalah pada bocah itu, namun Hyunsuk tentu enggan untuk mengakuinya.
Hyunsuk sejujurnya juga ingin menoleh dan menjawab saat itu juga, namun lidahnya kelu. Sungguh, hatinya belum siap dengan kenyataan setelahnya. Ah, Hyunsuk memang masih pengecut untuk membalasnya.
Begitu Jihoon akhirnya menyerah, mengutuk dirinya sendiri dengan umpatan miris dan beranjak ke kasurnya, Hyunsuk masih tak bergeming. Ia tetap memunggungi arah Jihoon dan tetap berpura-pura tidur.
Hyunsuk hanya takut. Takut ikut jatuh cinta.
----
Lagi-lagi, seperti yang biasa terjadi di pagi hari setelah malam hadir. Sinar mentari kembali menampakkan keindahan warnanya melalui sela-sela jendela yang tertutupi tirai.
Jihoon perlahan-lahan terbangun dengan wajah kusut, rambutnya berantakan setelah rasa kesal dan jengkel tadi malam mengendap hingga pagi ini.
Ia mendengus pelan, mengingat kembali bagaimana tanggapan sikap Hyunsuk yang begitu tega membiarkannya ber-omong sendirian setelah dia mencurahkan isi hatinya.
Ah, persetan dengan itu semua!
Setelah menikmati rasa jengkel yang mengendap di dadanya, Jihoon bangkit dengan malas. Bahunya pegal, kepalanya sedikit pening, dan hatinya... ah, hatinya tentu saja masih kesal.
Namun begitu menoleh, Jihoon mendapati Hyunsuk sudah berada di dapur kecil mereka. Pemuda itu tengah sibuk menyiapkan sarapan, suara sendok beradu dengan panci yang pernah berubah warna setelah Hyunsuk mencoba masak.
Dia bisa masak? Kali ini apa lagi?
Jihoon sempat ingin melengos dan pura-pura tak peduli. Namun Hyunsuk mendahuluinya.
"Sudah bangun? Cuci muka dulu sana. Sarapan sebentar lagi siap," ujar Hyunsuk tanpa menoleh, lembut.
Jihoon tertegun sebentar. Tangannya yang tadi hendak mengacak-acak rambut malah berhenti.
"Lo... bikin sarapan?" tanyanya ragu.
"Ya menurut lo, gue lagi ngapain sekarang?" balas Hyunsuk, masih tidak menoleh.
Jihoon langsung mengerucutkan bibir, jujur saja separuh rasa kesal itu masih ada. Ah, sial. Padahal Hyunsuk biasanya selalu bodoamat dengan Jihoon, sarapan saja suka asal beli di luar.
Sambil berjalan ke wastafel untuk membasuh muka, Jihoon kembali bergumam.
"Nggak usah sok perhatian kalau cuma setengah hati, Hyun..."
"Kalau setengah hati, gue nggak akan repot-repot masak buat lo."
Jihoon berhenti seketika, air yang membasuh wajahnya masih menetes dari dagunya. Tatapannya lurus ke arah punggung Hyunsuk yang kini sibuk memindahkan nasi ke mangkuk.
Akhirnya, Jihoon melangkah mendekat dan duduk di sana sambil menatap hidangan sederhana yang tersusun di meja tersebut. Nasi putih hangat, telur orak-arik, beberapa sayur rebus, dan sup bening.
Sangat sederhana, namun bukan sesuatu yang sering Hyunsuk lakukan dulu.
Hyunsuk duduk di seberangnya, menghela napas sebentar sebelum menyuapi Jihoon dengan sendok untuk percobaan pertama.
"Buka mulut."
Jihoon menatapnya setengah ingin menolak, setengah ingin menyerah pada perhatian itu. Ia akhirnya membuka mulut dan menerima suapan itu dari Hyunsuk.
Ah, Jihoon benci perasaan ini.
Sepanjang sarapan, percakapan di antara mereka hanya seputar makanan dan panas, sesekali Hyunsuk juga mengerutkan alis atau menanggapi komentar sarkastik Jihoon sambil terus menyodorkan gelas, mengisi ulang piring, dan meniup sup.
"Perihal semalam, gue—"
"Masih mau nambah?"
Jihoon langsung menatapnya tak percaya. Rahangnya mengeras, alisnya naik, bibirnya menahan umpatan.
"Stop potong ucapan gue mulu!"
"Yaudah, kalau memang sudah kenyang. Gue mau cuci piring dulu."
Hyunsuk bangkit dengan gerakan buru-buru penuh niat untuk menghindar.
Namun sebelum sempat berdiri sepenuhnya, tangan Jihoon sudah lebih cepat menangkap pergela tangan Hyunsuk, menariknya untuk kembali duduk. Membuat tubuh kurus Hyunsuk kembali terjatuh ke dudukan semula.
"Duduk!" bentak Jihoon.
Jemarinya masih mencengkeram pergelangan tangan Hyunsuk erat, nyaris seperti takut pemuda manis itu akan menghilang begitu saja kalau dilepaskan.
Hyunsuk mendengus pelan, mencoba menghindari tatapan itu, tapi Jihoon justru mencondongkan tubuhnya dengan wajah yang semakin dekat.
"Gue lagi ngomong! Jangan dipotong!"
Jemarinya menekan makin kuat pergelangan tangan Hyunsuk, sampai-sampai tubuh kurus itu sedikit tersentak.
"Jihoon, lepasin..."
Lalu, senyum miring menghiasi bibir Jihoon. Ia mendekat lagi hingga jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti.
"Jangan bikin gue makin gila, Hyun..."
Hyunsuk hanya diam, matanya menoleh ke samping berusaha melarikan diri dari tatapan itu.
Dengan cepat, Jihoon mendorong tubuhnya sendiri lebih dekat hingga kedua kaki dan tangan Jihoon kini mengunci pinggang Hyunsuk. Dibawa tangan itu mengelus bahu itu dari luar.
"PARK JIHOON!"
"APA?!"
Hyunsuk sempat menarik napas panjang, bibirnya sedikit terbuka ingin berdebat, tapi Jihoon tidak memberi kesempatan.
"Sudah cukup gue sabar! Sudah cukup gue nunggu jawaban lo yang nggak jelas itu!"
Dengan gerakan tiba-tiba, ia menangkap dagu Hyunsuk, menahannya agar tidak bisa menghindar.
"Jihoon—"
Belum sempat Hyunsuk protes, bibir Jihoon sudah menabrak bibirnya dengan kasar dan penuh emosi yang selama ini ditahan. Hyunsuk terkejut, tubuhnya menegang sesaat, sampai kedua tangannya reflek mendorong kuat dada Jihoon.
"Eum...!"
Namun, semakin ia berusaha menolak, semakin erat Jihoon menahannya.
Hingga beberapa detik berlalu, Jihoon akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dan sedikit menjauh, ia menempelkan dahinya ke dahi Hyunsuk dengan napas memburu.
Belum sempat Hyunsuk mengeluarkan satu kalimat saja, Jihoon kembali datang dan melumat bibirnya. Kali ini lebih lambat dan lebih dalam. Tangannya menelusuri tengkuk Hyunsuk dan menahan agar pemuda itu tidak bisa berpaling.
"Ji─ eum..."
Sungguh, Jihoon tidak memberi celah sedikit saja untuk Hyunsuk bernapas lega.
Tangan kirinya masih kuat mencengkeram dagu si manis dan menarik tubuh itu semakin dekat hingga hampir tidak ada ruang di antara mereka. Bibirnya kembali menekan dengan lebih dominan, lebih berani, seakan-akan ingin mengukir klaim di bibir manis itu.
Hyunsuk meronta kecil, jari jemarinya terus mencoba menekan dada Jihoon kuat-kuat, tapi dorongan itu tetap terasa lemah dan tak sebanding dengan tenaga Jihoon yang sedang membara.
"Jangan sok nolak kalau lo juga suka," bisik Jihoon serak di sela ciuman, napas panasnya menerpa wajah Hyunsuk.
"Cukup... Gue─"
Lagi-lagi, Jihoon mencuri ciuman lagi sampai bibir Hyunsuk pun dipaksanya untuk membuka. Jihoon menahan suara tawa kecil yang bercampur antara kesal dan puas, melihat betapa pemuda itu kehilangan pertahanannya hanya karena sentuhan bibir.
Salah satu tangannya kembali meluncur ke pinggang Hyunsuk, mengunci agar pemuda itu tidak bisa lari ke mana pun. Sementara tangan yang lain berpindah untuk menekan belakang kepala Hyunsuk.
Si manis mendengus resah dengan suara teredam, tapi Jihoon justru makin menikmatinya. Ia menggoda dengan terus menekan bibir Hyunsuk, seolah jarak ciuman mereka masih bisa lebih dekat lagi. Gila!
Lalu pelan-pelan ia kembali mundur beberapa inci untuk menatap wajah dan bibir Hyunsuk yang kini memerah bengkak.
Belum sempat Hyunsuk sedikit saja meraup udara untuk paru-parunya, Jihoon sudah kembali lagi mencuri bibirnya, menyampaikan rasa frustrasi yang sejak awal ia simpan mati-matian. Bibirnya terus mencium, mengisap, dan melumat bibir itu dengan rakus.
Semua dikuasai oleh Jihoon, hingga udara pun hanya berputar di antara mereka berdua.
"Apa gue harus kayak gini terus biar lo ngerti?!" bisik Jihoon, setelah ia melepaskan ciuman untuk meraup sedikit pasokan udara. "...atau lo emang sengaja bikin gue kesal biar gue nyium lo, hah?! Jawab!"
Hyunsuk menggeliat dengan wajah memerah, dia berusaha menghindar tapi Jihoon menahan dagunya lagi agar tetap menatap pria itu.
"Lihat gue, Choi Hyunsuk!"
Jihoon berujar, dengan sengaja menyapu lembut bibir bawah Hyunsuk dengan jarinya. Ia terkekeh pelan ketika Hyunsuk menelan ludah gugup.
"Kalau lo beneran nggak mau... dorong gue sekarang..." tantang Jihoon sekali lagi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, Hyunsuk tak bergerak sama sekali.
Dan di momen itu, sesuatu dalam diri Hyunsuk akhirnya pecah. Kedua tangannya yang sedari tadi menahan gemetar akhirnya terangkat dan melingkar di leher Jihoon. Dan dengan satu tarikan tiba-tiba, Hyunsuk membalik keadaan dan mencium balik Jihoon sama kuatnya, tidak ingin kalah.
Jihoon terkejut sekejap. Hanya sekejap, sampai setelahnya ia ikut tenggelam dalam ciuman tersebut, menikmati bagaimana Hyunsuk yang keras kepala itu pelan-pelan melunak dan membalas ciumannya dengan ganas.
Semua berakhir dengan satu fakta, yaitu Hyunsuk menyerah. Atau... mungkin bukan menyerah, tapi akhirnya jujur pada dirinya sendiri.
