Actions

Work Header

Keluarga Cemara

Summary:

"Sudah kuduga, kau terlihat lebih indah ketika bersimbah darah." Satoru terbahak mendengar ujaran Sukuna, menyeka darah yang mengucur dari pelipisnya dan mengalir ke matanya.

"Heee~ Berarti kau sudah menganggapku indah sebelumnya?" Goda Satoru sebelum mengangkat tangannya, Sukuna juga melakukan hal demikian dengan dua tangan atasnya, memutar keempat bola matanya.

"Domain Ex-"

"BERHENTIIIIII!!! JANGAN LANJUUUUTTTT!!!!"

Mereka berdua langsung menoleh ke arah sumber suara, menatap seseorang yang muncul dari balik semak semak.

"Gojo-sensei?"

Kedua mata Satoru langsung melebar ketika mendengar namanya disebut. Belum sempat ia merespon, si pemilik suara segera memeluknya dengan erat.

"Yuuji?"

Notes:

No promises that I will continue or finish this. I just want to get this story out of the confines of my notes app :p

Chapter 1: Reuni | Satoru

Chapter Text

 Bangkit dari kematian itu bukanlah sesuatu yang asing bagi Satoru. 

 Perasaan mengambang di awang-awang ketika dia membuka matanya, cahaya matahari menelisik di antara bulu matanya, jantungnya yang mulai memompa darah ke sekujur tubuhnya. Semua itu terasa familiar. Memang dia sebelumnya baru sekali saja mengalaminya, yaitu setelah Satoru dibelah dua semacam Kit-Kat oleh Zen'in Toji. 

 Yang kedua kalinya, dia juga dibelah dua lagi, seperti coklat batangan untuk yang kali ini. Membosankan deh, kenapa dibelah dua terus sih? Kenapa tidak tiga atau empat? Bukannya Sukuna bisa mencincangnya menjadi berkeping-keping- Oh shit, Sukuna! 

 Perkelahian mereka masih belum usai, dan tentu murid-muridnya Satoru-lah yang sekarang harus menghadapi Raja Kutukan untuk menggantikan Satoru yang menyembuhkan dirinya. Seluruh indranya kembali berfokus, tubuhnya menjadi awas, siap untuk kembali bergabung dalam pertarungan.

 Namun… Bukannya reruntuhan Shinjuku yang hancur lebur karena perbuatan dia dan Sukuna, ataupun pemandangan Shoko dengan wajah khawatir dan tengah menyesap rokok tidak menyambut kebangkitannya. Yang berada di hadapan Satoru sekarang hanyalah pepohonan, sejauh matanya memandang tidak terlihat apapun yang mengindikasi kalau dia masih berada di Shinjuku. Salju berjatuhan dari ranting-ranting pohon, menyatu dengan rambut putihnya yang berantakan. 

 Saat itulah dia baru sadar kalau kondisinya tidak seperti saat dia mati. Tubuhnya tidak bersimbah darah seperti sebelumnya, sensasi cairan yang telah mengering dan menempel di kulitnya itu pun tidak terasa. Pakaiannya juga berbeda. Dia memang masih mengenakan tobizubon-nya, namun sekarang bagian atas tubuhnya terbungkus hanten berwarna putih dan terasa hangat, cukup untuk menghalau udara yang dingin.

 Setiap langkahnya bergema di antara pepohonan, mulutnya meringis ketika shitouzu-nya menjadi basah akibat terendam salju. Satoru mungkin dapat menggunakan Limitless agar dia dapat memantau sekitarnya dari atas, tetapi dia merasa sangat lelah untuk melayangkan tubuhnya sekarang. Hutan ini terasa sangat sunyi, yang dapat Satoru dengar hanyalah suara setta-nya yang menggerus salju. Six Eyes pun tidak dapat mendeteksi apapun, manusia ataupun kutukan pun tidak ia temukan, dia benar-benar sendirian.

 Ini tidak bagus, tidak bagus sama sekali. Satoru harus segera kembali ke Shinjuku. Murid-muridnya pasti sedang berusaha keras untuk melawan Sukuna, melaksanakan tugasnya untuknya. 

 Semoga saja mereka masih dapat bertahan, semoga saja mereka semua masih bernafas.

 


 

 Jadi... Satoru ternyata terbangun di masa lalu, lebih tepatnya di zaman Heian.

 Awalnya dia cukup bingung ketika akhirnya sampai di pemukiman. Bangunan-bangunannya terlihat sangat tradisional, penduduknya pun juga berpakaian demikian. Satoru dapat merasakan tatapan mata mereka ke arahnya, mendengar bisikan-bisikan mereka tentangnya.

 Karena dia sudah terbiasa, Satoru tidak terlalu mengindahkan orang-orang tersebut. Awalnya dia mengira tempat ini adalah salah satu desa kuno yang biasanya dijadikan tempat wisata. Namun, ketika dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka, dia langsung menjadi awas.

 "Lihatlah orang itu, dia terlihat aneh sekali. Apakah dia jelmaan Yuki-Onna?"

 "Yuki-Onoko maksud kau?"

 "Aih, bukankah sama saja?"

 Satoru hampir saja tertawa mendengarnya, seperti orang tua saja menyamakannya dengan yokai

 "Eh, tapi dia mengingatkanku dengan gadis yang sering bersama Raja Kutukan itu."

 Alis Satoru langsung bertaut, kenapa mereka jadi membicarakan Sukuna? Bukankah mereka manusia biasa? Satoru tidak dapat mendeteksi energi kutukan apapun dari mereka.

 "Gadis? Apakah shaman yang memiliki kekuatan es itu yang engkau maksud? Rumornya dia bukanlah seorang gadis."

"Hee, aneh sekali memang. Orang itu pun sama anehnya, badannya tinggi sekali pula. Apa mungkin dia juga ada hubungannya dengan Ryoumen Sukuna?"

 Salah satu orang yang berbicara itu menunjuk ke arah Satoru, tangannya itu tentu saja langsung ditepis oleh lawan bicaranya.

 "Hush, jangan berbicara sembarangan. Kau tahu kalau Sukuna baru saja mengalahkan shaman terkuat di klan Fujiwara, bagaimana kalau dia melapor pada tuannya itu? Habislah kita semua!"

 Pemukiman kuno, pakaian tradisional, Ryoumen Sukuna, shaman es, klan Fujiwara... Satoru langsung dapat mengkoneksikan mereka semua. Dia entah kenapa sekarang berada di zaman Heian, dan di saat Sukuna memulai terornya.

 Satoru butuh waktu lama mencerna semuanya. Kenyataan kalau dia telah kalah melawan Sukuna, lalu dilempar ke zaman yang tidak familiar dengannya, sendirian di antah berantah, diberikan kehidupan baru yang tidak dia inginkan.

 Namun... Dia juga mendapatkan pencerahan. Ini juga dapat dikatakan sebagai kesempatan kedua. Dia sekarang jauh berada di masa lampau, apabila dia berhasil membunuh Sukuna sekarang, maka Raja Para Kutukan itu tidak dapat bereinkarnasi, dan kejadian di masa depan tidak akan terjadi.

 Otaknya mulai menyusun rencana. Rencana membunuh Sukuna dan juga mengubah masa depan agar kehidupan murid-muridnya menjadi lebih baik.

 


 

Mengambil alih klan Sugawara ternyata sangat mudah.

 Pertama Satoru membangun namanya sebagai shaman independen. Dia pindah dari desa ke desa, mengusir para kutukan-kutukan yang meneror mereka. Imbalan yang Satoru terima hanyalah makan dan tempat untuk tinggal sementara. Namun, lama-kelamaan dia juga mendapatkan uang dan benda-benda berharga lainnya dari orang-orang yang meminta pertolongannya.

 Satoru akhirnya berhasil sampai di Yamato, provinsi di mana klan Sugawara berdiam. Dia sudah terkenal sebagai shaman yang kuat, kekuatannya tentu saja telah sampai ke telinga klan Sugawara. Untungnya pemilik kekuatan Six Eyes telah lama tiada sebelum Satoru tiba ke zaman ini.

 Satoru mengarang sebuah skenario kalau dia adalah anak dari wanita yang pernah ditiduri oleh seorang lelaki dari klan Gojo, karena itulah dia dapat memiliki kekuatan Limitless dan Six Eyes

 Awalnya mereka menolak keberadaannya, tidak mau menerima seorang "anak haram" di klan mereka. Namun, dengan jentikan jarinya yang menembakkan Blue pada pepohonan disekitar membuat mereka bungkam, easy peasy lemon squeezy! Padahal Satoru tidak menggunakan output yang maksimal. Tapi tak apalah, semakin cepat dia dapat mengambil alih klan Sugawara, semakin cepat pula dia dapat mengetahui keberadaan sang Raja Kutukan.

 "Raja Kutukan mengalahkan si-"

 "Dia berhasil menghancurkan desa di daerah-"

 "Kekuatannya mengerikan sekali, dia dapat membakar-"

 Hanya itu kabar yang dia dapat dari para shaman yang dia kirim sebagai intel. Info-info yang tidak penting memang, Satoru sudah tahu kekuatan dan kebejatan sang Raja Kutukan, dia bahkan telah menghadapinya secara langsung. Tapi... Dia juga mendengar rumor yang cukup menarik. 

 Saat itu, Satoru tengah duduk di teras yang menghadap sebuah kolam yang berada di tengah-tengah taman, melepaskan penat setelah melakukan misinya.

 Dibandingkan yang pernah Satoru eksorsis di masa depan, kutukan-kutukan bencana alam di zaman ini lebih kuat, mungkin karena masih belum ada teknologi untuk menghalau bencana-bencana alam yang ada di jepang sehingga ketakutan manusia pada mereka lebih kuat.

 Satoru menutup matanya, menikmati kesunyian malam disertai suara riak air yang menenangkan. Dia merasakan keberadaan salah satu pelayannya yang cukup dipercaya berjalan ke arahnya, seorang pria muda yang entah kenapa mengingatkannya pada Ijichi. Terlintas di benaknya kalau pelayannya sebenarnya adalah leluhurnya Ijichi, sifat mereka cukup mirip sehingga Satoru dapat berpikir demikian.

 "Tuan Gojo, saya bermaksud untuk menyampaikan informasi tentang Raja Kutukan kepada tuan." Pria itu berucap, duduk bersimpuh di belakang Satoru yang masih memandangi langit malam.

 Satoru menatap bintang-bintang yang bertaburan, merasakan dadanya yang tiba-tiba menjadi sesak ketika dia mengingat memorinya bersama dua anak asuhnya. Langit di zaman ini masih belum terpapar polusi, semua kerlap kerlip bintang masih terlihat jelas. Satoru dapat menerka betapa senangnya Tsumiki apabila gadis itu dapat melihat apa yang tengah Satoru lihat sekarang.

 "Hmmm, apa dia berhasil mengalahkan shaman Fujiwara lagi?" Tebak Satoru, mengalihkan pikirannya dari kenangannya di masa depan. Tenggorokannya terasa kering, tangannya segera menyeka ujung matanya yang terasa sembab.

 "Tidak tuan, ini adalah sesuatu yang baru."

 "Lanjutkan."

 Satoru telah berbalik menghadap pelayannya itu, menatap pria muda yang berkeringat itu dengan alis terangkat. Dia masih merasa skeptis akan berita yang disampaikan, tetapi membiarkan pelayannya untuk melanjutkan laporannya.

 "Salah satu shaman kita tidak sengaja mendapatkan perhatian dari Ryoumen Sukuna."

 "Mhmm."

 "Namun sebelum dia mengalahkan mereka, seorang anak lelaki yang terlihat sangat mirip dengannya berhasil menghentikannya. Intervensi tersebut membuat shaman kita dapat kabur. Shaman itu mengatakan kalau anak lelaki itu kemungkinan adalah putra dari Raja Para Kutukan yang dirumorkan itu." Tutupnya dengan sedikit terbata, kepalanya masih tertunduk, menunggu respon dari Satoru.

 "Hmmm, seberapa mirip kah bocah itu dengan sang Raja Kutukan?" Dia telah lama mendengar tentang rumor tersebut, tetapi langsung dia tepis. Satoru sewaktu kecil sangat tertarik akan cerita tentang Ryoumen Sukuna, dan tidak satupun yang dia ingat menyebutkan bahwa Raja Para Kutukan mempunyai seorang putra. Kalau Sukuna mempunyai keturunan, sudah tentu informasi penting tersebut perlu dituliskan.

 "Anak lelaki tersebut memiliki warna rambut seperti bunga sakura, sama persis dengan milik Ryoumen Sukuna. Ia Pun memiliki kekuatan yang sama dengan ayahandanya."

 Gigi Satoru langsung mengatup mendengar deskripsi tersebut, mungkinkah putra Sukuna itu...?

 Tidak, tidak. Dia tidak perlu memberikan dirinya sendiri harapan palsu, dia harus memastikan kenyataan laporan tersebut terlebih dahulu.

 "Apakah kamu tahu dimana lokasi kejadian tersebut?" 

 Pria muda itu mengangguk mendengar pertanyaan dari tuannya.

 "Konfrontasi itu terjadi di sebuah desa petani di bagian ujung barat."

 "Baiklah." Satoru bergerak untuk berdiri, meregangkan tangan dan kakinya sambil bersenandung pelan. "Aku akan pergi ke sana." 

 Sebelum pelayannya itu dapat memprotes, Satoru sudah berteleportasi ke desa yang disebutkan sebelumnya. Satoru menemukan dirinya berdiri di tengah-tengah sawah. Udara dingin menerpa tubuhnya yang hanya berbalut kosode, membuatnya menyesali perbuatannya yang memutuskan untuk tidak mengganti pakaiannya terlebih dahulu.

 Meskipun terkenal akan kebengisannya, Sukuna sebenarnya tidak selalu menghancurkan desa-desa yang dia temui. Contohnya saja desa kecil yang Satoru datangi ini.

 Petani, nelayan, dan peternak. Orang-orang berprofesi itu biasanya mendapatkan pengecualian oleh Raja Kutukan, asal mereka mau menyisihkan hasil pekerjaan mereka pada Sukuna. Meski begitu, apabila mereka tidak dapat mencukupi perjanjian tersebut, maka Raja Kutukan itu tidak akan segan untuk membunuh dan mengkonsumsi mereka sebagai penggantinya.

 Satoru mengangkat tubuhnya dengan Limitless, matanya tertuju pada sebuah kuil yang berada di balik pepohonan. Dia melayang melewati sawah dan rumah-rumah penduduk, mengikuti energi kutukan yang bersumber dari kuil yang ia tuju, energi kutukan yang sangat familiar.

 Tersungging sebuah senyum di bibirnya ketika dia melihat siluet seseorang yang menyambut kedatangannya, siluet tinggi dan besar, lebih tinggi dari Satoru. 

"Six Eyes." 

 Satoru mendaratkan dirinya beberapa langkah di depan sumber suara, mengangkat perban putih yang membungkus bagian atas wajahnya, keenam matanya berfokus pada sosok yang berada di hadapannya.

 "Ah, sang Raja Kutukan mengetahui keberadaanku? Senangnya~" Balas Satoru dengan riang, tidak mengindahkan energi kutukan yang semakin menyesakkan sekujur tubuhnya ketika dia berucap.

 "Kau terlalu banyak bicara." Satoru dapat mengetahui kalau Dismantle dilemparkan ke arahnya, ia pun dengan cepat berpindah tepat di depan Sukuna dan meninju bagian bawah dagunya. Suara kepalan tangannya yang bertemu dengan wajah sang Raja Para Kutukan terdengar sangat nyaring di malam yang sunyi, pastilah tulang rahangnya telah retak akibat serangan dari Satoru.

 "Oh!" Sukuna menyeringai, menyeka darah yang mengalir dari bibirnya, mungkin karena tidak sengaja menggigit lidahnya. Satoru tersenyum balik, merasakan dahaganya untuk mengerahkan seluruh kekuatannya mengalir di seluruh nadinya. Mata mereka beradu, merah bertemu biru, empat bertemu enam. Kemudian...

"Domain Expansion."

 Langit malam yang indah dan penuh bintang sekarang menjadi hitam pekat, tanah penuh rumput yang Satoru pijak berubah menjadi lautan darah, tulang-tulang rusuk melingkari langit, seperti sebuah ornamen untuk menghias gelembung yang telah mereka buat. Tinju mereka saling beradu, Infinity-nya dengan mudah menyerap serangan dari Sukuna. Namun, keempat tangan milik Raja Kutukan juga memberikannya keunggulan. Dia dengan mudah dapat menangkis serangan dari Satoru.

 Satoru tak dapat menahan gelak tawanya ketika Domain-nya pecah, merasakan tubuhnya dicabik-cabik oleh Malevolent Shrine. Sambil menghadapi terjangan pukulan dan tendangan dari Sukuna, Satoru mengaktifkan RCT untuk menyembuhkan luka-lukanya. 

 Ketika Sukuna menonaktifkan Domain-nya, Satoru akhirnya dapat menyerang balik. Dia mementalkan Sukuna menggunakan Blue dan Red. Alih-alih menjadi kewalahan, Sukuna terlihat masih tenang, memberikan Satoru rentetan Dismantle saat tubuhnya masih melayang di udara. 

 Menghindari tebasan-tebasan yang diarahkan padanya, Satoru sekarang melayang di atas Sukuna, menghantamkan betisnya pada kepala Raja Para Kutukan. Namun, tendangannya itu dapat ditangkis oleh lengan atasnya Sukuna. Sementara itu, sepasang lengan yang bawah bergerak untuk meninju kedua sisi tubuh Satoru, tentu saja serangan tersebut di tahan oleh Infinity.

 Dentuman keras terdengar saat mereka mendarat, terdiam sejenak menatap satu sama lain sambil mengatur napas mereka.

 Sukuna dengan tubuh aslinya memang jauh lebih kuat daripada saat dia di tubuh Megumi, untungnya tidak ada Mahoraga yang dapat memberikan Sukuna kesempatan untuk beradaptasi dengan Infinity Satoru. 

"Sudah kuduga, kau terlihat lebih indah ketika bersimbah darah." Satoru terbahak mendengar ujaran Sukuna, menyeka darah yang mengucur dari pelipisnya dan mulai mengalir ke matanya. Kosode-nya sudah hancur lebur setelah menghadapi Malevolent Shrine, menampilkan bagian atas tubuhnya yang pucat dan penuh dengan luka sayatan.

 "Heee~ Berarti kamu sudah menganggapku indah sebelumnya?" Goda Satoru sebelum mengangkat tangannya, Sukuna juga melakukan hal demikian dengan dua tangan atasnya, memutar keempat bola matanya ketika mendengar perkataan Satoru.

"Domain Ex-"

 "BERHENTIIIIII!!! JYANGAN LANJYUUUUTTTT!!!!"

 Mereka berdua langsung menoleh ke arah sumber suara, menatap seseorang yang muncul dari balik semak semak. 

"Gojo-sensei?"

 Kedua mata Satoru langsung melebar ketika mendengar namanya disebut. Belum sempat ia merespon, si pemilik suara segera memeluknya dengan erat.

 "Yuuji?”