Actions

Work Header

Marriage of Convenience.

Summary:

When his age reaches 30, Renjun does something ridiculous out of his impulsive thoughts: Asks Jaemin, his old crush during high school, to marry him just to make his parents' happy about his marital status.

Against all odds, Jaemin agrees, and Renjun promises himself not to fall (harder) into that guy.

He fails, miserably, and Renjun has to accept all of the consequences. That includes he broke his heart over and over again.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Kosong. 

 

Hal yang pertama kali pria itu lihat ketika membuka kedua matanya adalah tidak ada siapapun di sebelahnya. Bentuk bantalnya tidak berubah, sprei yang terpasang juga tidak kusut– kondisi yang tetap sama semenjak Renjun menutup matanya semalam. Ia menatap sisi tempat tidur itu dengan kosong, lalu melirik sekilas figura yang diletakkan di atas nakas sebelah tempat tidur mereka. 

 

Renjun tersenyum getir. Ini bukan pertama kalinya ia tidur sendiri. Sebuah cincin yang melingkar manis di jari manis tangan kanannya tidak membuat ia terbangun di pelukan hangat pasangannya. Renjun tidak berani bermimpi terlalu jauh untuk hal itu. 

 

Matanya mulai berkabut dan segera ia memejamkan matanya erat. Ini bukan pertama kalinya, namun Renjun tidak akan pernah terbiasa. Akan rasa sakitnya. Perih yang menusuk hati kecilnya– sebuah fakta bahwa pasangannya sendiri yang melakukan ini. 

 

*

 

("Nah. Dengan ini, kamu bisa terus melihat wajahku setiap kamu bangun tidur!

 

Suara riang Renjun menggema di kamar tidur mereka sore itu. Matanya menyiratkan kepuasan melihat figura yang telah diletakkan rapi di atas nakas sebelah tempat tidur mereka– tepatnya di sisi milik pasangannya. Sebuah figura yang berisi foto keduanya di atas altar– wajah bahagia Renjun terlihat saat pasangannya mengecup pipinya (atas suruhan pastor untuk menciumnya karena mereka resmi menjadi pasangan secara sah). 

 

Pria itu berdecak pelan. "Memangnya kamu tidak akan bosan melihat itu?" Tanya pria itu dengan maksud bergurau.

 

Berkacak pinggang, Renjun melirik pria itu dengan tajam. "Tentu saja tidak! Memangnya kamu?" Protes Renjun. "Pokoknya, tidak boleh dipindah. Kalau kamu pindahkan, aku marah!" 

 

Kini suara tawa pria itu terdengar. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu beranjak mendekati tubuh Renjun. Sirine dalam otaknya berbunyi– meskipun mereka sudah resmi menjadi pasangan, Renjun tidak akan pernah terbiasa dengan pria itu yang memutus jarak mereka kemudian dengan mudahnya mengobrak-abrik ritme jantungnya. "Laksanakan, Yang Mulia." Bisik Jaemin tepat di telinganya. Renjun mengumpat dalam hatinya– karena efek yang dilakukan pria ini sudah membuat tubuhnya menghangat dengan cepat. "Aku akan melihat foto itu setiap harinya, agar aku juga teringat betapa besar rasa cintamu pada suamimu ini.

 

Tanpa berpikir dua kali, Renjun melayangkan tinju ke arah bahu pria itu dan mendorongnya menjauh. Pria itu tertawa, lalu menepuk kepala Renjun pelan sebelum beranjak ke kamar mandi mereka. Renjun yang masih terdiam di posisinya hanya mendengus sebal dan menenangkan ritme detak jantungnya yang terlampau cepat. Ia melirik pigura itu lagi dan tersenyum kecil.

 

Yah. Setidaknya ini usaha kecil yang aku lakukan agar kamu jatuh cinta padaku, Na Jaemin.)

 

*

 

Renjun pertama kali berinteraksi dengan Jaemin saat keduanya berada di bangku sekolah menengah atas, tepatnya di tahun kedua pertengahan musim semi. Kenaikan tingkat dari tahun ajaran sebelumnya membuat Renjun bertemu dengan banyak wajah baru yang belum ia kenal. Termasuk dengan Na Jaemin, seorang pria yang banyak dibicarakan oleh siswa di sekitarnya. Desas-desus yang terdengar oleh Renjun sendiri adalah– pria itu tinggi, tampan, pintar, dan juga kemampuan memainkan piano yang apik. Kalau tidak salah lihat, Renjun pernah sesekali melihat pria itu dikala acara sekolah berlangsung– pria itu akan duduk di belakang piano dan memainkan balok-balok nada itu untuk mengiringi paduan suara yang mengisi acara mereka. 

 

Dan, benar, pria itu– Na Jaemin, memang tampan. 

 

Rambut hitamnya yang berkilau saat terkena sinar matahari, lalu senyum manisnya saat ia berbicara dengan rekan sesama kelompok bermusiknya, juga wajah sumringahnya ketika ia tertawa saat bercanda-gurau dengan teman-temannya. Renjun yang waktu itu masih di tingkat 1, hanya bisa melihatnya dari jauh di barisan bersama teman kelasnya yang lain. Siapa yang menyangka, saat ia di tingkat 2 Renjun bertemu dengan pria itu lagi– dan bersama dengan Na Jaemin dalam satu kelas selama satu tahun kegiatan belajar mengajar. 

 

"Em.. Jaemin, ya? Kamu mau ke ruang studi matematika juga?" Tanya Renjun kala itu, saat melihat pria itu kebingungan melihat beberapa ruangan yang terdapat siswa di dalamnya. 

 

Jaemin mengangguk kikuk. Mungkin bingung karena Renjun sudah mengetahui namanya padahal mereka belum berkenalan, atau karena tertangkap basah tidak tahu harus ke ruangan mana karena pria itu belum mengenal siapapun di kelas barunya. 

 

"Aku Renjun, kita berada di kelas yang sama." Ucap Renjun dengan kikuk juga– karena Renjun bukanlah tipe seseorang yang mudah bergaul, apalagi memulai percakapan terlebih dahulu dengan orang asing. "Ada di ruang nomor 3. Ayo." 

 

Jaemin tersenyum kecil– lalu mengangguk, dan mengikuti Renjun yang berjalan terlebih dulu di depannya. 

 

Renjun mengepalkan tangannya di depan dadanya– meredakan perasaannya yang tidak bisa ia deskripsikan karena entah mengapa, pria itu membuatnya gugup.

 

Sejak pertemuan itu, hubungan pertemanan keduanya mengalir begitu saja. Keduanya saling membantu dalam akademis mereka, Renjun yang meminta tolong pada Jaemin saat barang elektroniknya rusak atau sistem operasi laptop-nya error (Renjun semakin merasa aneh di perutnya saat mengetahui pria ini pandai dalam programming. Istilah sekarang biasanya 'anak IT'), diselingi obrolan menjurus (flirting), lalu saling mencuri kesempatan untuk mengobrol berdua di dalam kelas. 

 

Tidak seperti kisah percintaan masa sekolah pada umumnya– tidak ada ajakan kencan, pergi atau pulang sekolah bersama, ataupun pegangan tangan yang dilakukan secara malu-malu. 

 

Kisah keduanya terukir dari Renjun yang tidak hentinya menyemangati Jaemin yang frustrasi dengan penelitiannya di laboratorium biologi yang tidak berhasil, Jaemin yang membantu mengirimkan catatan pelajaran bahasa asing saat Renjun tidak masuk, Renjun tersenyum dari jauh saat Jaemin tampil bermusik saat pengambilan nilai– dan Jaemin yang membalas senyumnya, keduanya yang tidak pernah terpisah dalam kelompok belajar kelasnya– seakan-akan para guru juga tahu keduanya tidak bisa dipisahkan. 

 

Yang paling Renjun ingat, kedua mata Jaemin yang berbinar saat Renjun hadir dalam pertandingan sepak bola yang dimainkan oleh Jaemin dengan teman regunya. Botol minuman diberikan oleh Renjun dan sentuhan halus yang terjadi di antara keduanya– lalu aura kegembiraan Jaemin yang terpancar meski di tengah kelelahan dan tubuhnya yang berkeringat.

 

Hari itu, Jaemin dan timnya menang. Senyum lebar Jaemin terpampang jelas di wajahnya dan kedua matanya tertuju pada satu titik– 

 

Huang Renjun seorang.

 

 

Duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang ponselnya, Renjun menghela nafasnya pelan. Ia baru saja mengirim pesan pada Jaemin, menanyakan apakah ia lembur lagi atau tidak karena tidak ada tanda-tanda pria itu akan pulang saat ia melirik jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tidak lupa, Renjun juga mengingatkan pria itu untuk memperhatikan jam makannya. Balasan yang ia dapat?

 

Hanya satu kata, iya, tanpa Jaemin menanyakan Renjun balik apakah ia sudah makan atau belum.

 

Ia sudah berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berharap lebih– setidaknya Jaemin juga mengingatkannya untuk makan juga, atau sekadar mengirim pesan 'semoga harimu menyenangkan', namun lagi-lagi ia dikecewakan oleh ekspektasinya sendiri. Ini bukan pertama kalinya, Renjun pun sadar jika hal ini menyakitinya, namun hati kecilnya selalu berbisik untuk menaruh harapan pada pria itu, walaupun pada akhirnya dirinya juga yang tidak mendapat apa-apa. 

 

Pernikahannya sudah berjalan enam bulan. Baru enam bulan, dan kondisi 'rumah tangga' mereka sudah seperti ini. Kedua orang tua mereka tidak ada yang mengetahui situasi dalam rumah kecil mereka– Jaemin yang tak acuh padanya, jarang pulang ke rumah berkedok lembur, juga sandiwara lainnya yang diperlihatkan mereka pada keluarga besar saat keduanya bersanding di hadapan pastor untuk mengucap janji suci pernikahan. 

 

Renjun akui, Jaemin itu seorang pria yang baik. Sangat baik– bahkan ketika tanpa ragunya Jaemin menerima ajakan spontan Renjun untuk menikah karena keduanya dipacu oleh usia dan desakan keluarga untuk mendapatkan pasangan. Impulsivitas Renjun dalam mengajak Jaemin ke ranah pernikahan bukan hal main-main. Pria itu sudah memikirkan baik buruknya jika ia akan melakukan hal itu, membuang rasa malunya saat pesan itu terkirim (benar, Renjun dan keberanian yang entah darimana ia dapatkan memutuskan untuk mengatakan hal itu melalui pesan singkat), dan menahan dirinya untuk tidak melompat girang karena Jaemin dengan tenangnya menerima 'proposal' yang diajukan Renjun. 

 

To: Na Jaemin

 

Jaemin

Aku tau ini begitu mendadak

Dan tanpa basa-basi sama sekali

Aku belum memiliki pasangan

(dan aku harap kamu pun begitu saat aku mengirim pesan memalukan ini)

Keluargaku sudah rewel sekali karena melihat anaknya ini masih kesana-kemari tidak jelas tanpa ‘pendamping’

Jadi..aku ingin menawarkan sesuatu untukmu.

Bagaimana kalau kita..menikah? For convenience.

Aku membutuhkan status pernikahan itu dan menyingkirkan omongan rewel itu dari telingaku.

Dan kamu..well, kita bisa bicarakan nanti

Itupun kalau kamu setuju.

Ini begitu impulsif, aku tau

Tapi aku harap kamu mempertimbangkannya.

 

From: Na Jaemin

.. Renjun?

Kamu baik-baik saja, kan?

Kamu Renjun yang aku kenal di sekolah dulu?

 

To: Na Jaemin

..iya

Tolong jangan tertawa

T____T

Aku sangat tidak tau malu, ya?

Maaf.

Biar aku hapus saja chat-nya.

Tolong lupakan saja dan anggap kamu tidak pernah baca itu.

 

From: Na Jaemin

…Begitu, ya?

Kalau..

Semisal aku menerima tawaranmu bagaimana?

 

To: Na Jaemin

Hah….?

JAEMIN? T__T

 

From: Na Jaemin

Hahaha

Aku juga sudah malas dengan omelan ibuku

Dan, yah, tidak ada salahnya memiliki teman bercerita saat pulang kerja nanti, kan?

 

Mengingat percakapannya dulu dengan Jaemin, Renjun hanya bisa tersenyum kecil. Ia masih mempertanyakan bagaimana bisa dirinya dulu menanyakan hal sakral tentang 'pernikahan' hanya melalui pesan. Jaemin juga tidak tersinggung sama sekali– seperti memahami kondisi Renjun kala itu dan juga Jaemin yang berada di posisi sama dengannya. 

 

("Ini tidak akan mudah. Kamu tentu paham, kan?" Jaemin bertanya waktu itu, ketika keduanya sudah saling duduk berhadapan dengan minuman pendamping masing-masing di meja mereka. 

 

Setelah ajakannya disetujui oleh Jaemin, Renjun mengajak pria itu untuk bertemu untuk membicarakannya lebih lanjut. Jaemin adalah kisah cinta lama Renjun yang tidak selesai– bahkan tidak ada permulaan disana, namun pria itu masih tersimpan rapi dalam memori kecilnya. Ia mengafirmasi dirinya sendiri jika pria itu hanyalah masa lalu– tidak akan berpengaruh padanya lagi suatu saat ia datang kembali, tetapi perasaannya tidak bisa berbohong. Degup jantungnya sebagai saksi jika pertemuan dengan Jaemin semenjak bertahun-tahun lalu menyiratkan Renjun masih memiliki perasaan pada pria itu. 

 

Penampilannya masih sama– rambutnya masih berwarna hitam, tetapi potongannya lebih pendek dan ia sampirkan ke atas, rahangnya semakin tegas, tubuhnya juga semakin berisi (berbeda dengan Jaemin masa sekolah yang kurus). Jaemin mengenakan kemeja berwarna biru langit dan bagian lengannya digulung sampai siku, membuat orang sekitarnya mau tidak mau menoleh dan bergumam pujian untuk Jaemin. Saat dihadapkan dengan Jaemin yang berpenampilan seperti ini, Renjun meneriaki dirinya sendiri untuk tidak bereaksi berlebihan. Mereka berdua memang teman semasa sekolah– dan keduanya juga tahu mereka saling menyukai, walaupun kisah keduanya terputus begitu saja tanpa ada permulaan, namun Renjun juga harus sadar posisinya saat ini. Tidak membawa masa lalu dalam cerita mereka saat ini. 

 

Renjun mengangguk setuju mendengar perkataan Jaemin. "Tentu saja. Keluarga pasti mempertanyakan hal itu. Makanya, kita harus menyamakan persepsi untuk menceritakan tentang 'kita' pada mereka.

 

Degup jantung Renjun kembali naik saat melihat Jaemin menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja. Menatap lekat kedua matanya. "Lalu, bagaimana kisah 'kita' ini terjadi, Renjun?

 

Tanpa permisi, kedua wajah Renjun memerah. Ia yakin pertanyaan Jaemin tidak ada maksud menyentil 'kisah' mereka di masa lalu. "Kita bertemu di sekolah, sempat dekat, putus kontak, dan bercengkrama lagi dalam beberapa bulan ini?

 

"Hmm." Jaemin diam sejenak untuk berpikir. "Atau kamu dulu suka denganku, tapi aku biarkan, lalu menyesal, dan sekarang aku ingin mengejar hatimu lagi?" Sialnya, sudut bibirnya naik– seperti menggoda Renjun dengan kisah masa lalu mereka. 

 

Renjun memukul pelan tangan Jaemin– kebiasaan jika pria itu merasa kesal dengannya sewaktu masa sekolah dulu, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Wow. Kisah yang sangat menyenangkan." Balasnya dengan sarkas. "Padahal realitanya, kamu yang tidak berani melakukan apa-apa." 

 

"Hei! Tidak boleh membawa masa lalu!" Protes Jaemin dengan lantang. Renjun hanya melengos mendengar itu. "Baiklah. Baiklah. Kita coba saja dulu cerita dariku. Kalau tidak berhasil, anggap saja kita putus dan tidak ada pernikahan.

 

"Kalau berhasil?"

 

Jaemin menaikkan bahunya. "Kita menikah. Bukankah itu perjanjian yang kamu minta?")

 

Berbohong bukanlah suatu hal yang senang dilakukan Renjun– bahkan sewaktu mendiang ibunya masih ada, ibunya melarang keras Renjun untuk berbohong tentang apapun. Walaupun pada realitanya, ia tetap menjadi anak yang sesekali berbohong untuk menutupi masalah pribadinya dari orang tuanya. Ia juga bisa mengetahui jika orang lain berbohong padanya– bukan karena ia cenayang, melainkan gerak-gerik serta gestur yang ditunjukkan orang itu sendiri ketika mereka mencoba berbohong. Meskipun begitu, demi melancarkan 'misi' yang ia jalankan sekarang, mau tidak mau, suka tidak suka, Renjun perlu berbohong pada semuanya– ayahnya, ibu Jaemin, juga teman-temannya. 

 

Pertemuan kedua belah pihak keluarga berjalan…alot. Rencana pernikahan mereka terkesan terburu-buru, banyak cerita yang sebenarnya sulit dipercaya, tetapi tidak dibantah oleh mereka, lalu Jaemin yang memiliki adik perempuan terlihat tidak menyukai Renjun. Ia juga mengerti– tidak ada upaya untuk memenangkan hati adiknya dan semuanya terkesan..dipaksakan. Renjun bisa memahami apa yang dirasakan oleh adik Jaemin itu. Lika liku yang mereka lalui tidak sampai disana saja– persiapan pernikahan yang perlu menyatukan pendapat dari kedua pihak keluarga, menyesuaikan tema dan biaya yang tentu tidak murah, dan terus menebarkan kebohongan dikala kolega keluarganya menanyakan tentang cerita mereka sampai berujung di pernikahan. 

 

("Kamu ingin mengadakan pesta meriah?"

 

Renjun terdiam. Kini keduanya duduk di tempat yang sama saat pertemuan pertama mereka– lembaran brosur beberapa pengurus pernikahan terhampar di atas meja mereka. Pertanyaan Jaemin membuatnya berpikir lagi. Bukannya ia ingin membuat acara ini meriah, melainkan– setidaknya, Renjun bisa mengingat acara pernikahannya sendiri meskipun tidak dilandasi perasaan saling mengasihi. 

 

Renjun memejamkan matanya erat mengingat fakta yang selama ini ia kubur di sudut hatinya.

 

"Bukannya sia-sia jika pestanya diadakan secara meriah dan …yah, aku tidak tau kedepannya bagaimana. Tapi, akan sayang jika pernikahan ini hanya sebentar dilakukan, bukan?" 

 

Renjun juga tahu, Jaemin merupakan pria yang logis. Perkataannya itu bermaksud baik– agar keduanya tidak mengeluarkan biaya berlebih. Ia paham maksud perkataan Jaemin, tapi sisi hati kecil lainnya berkata 'Jaemin akan menceraikanmu'. 

 

Renjun tersenyum tipis sebelum membuka kedua matanya. "Tidak perlu meriah. Pesta kecil-kecilan pun tidak masalah. Aku hanya ingin acara ini menjadi kenangan bagiku nantinya." Lalu, ia menambahkan. " Kenangan jika pernikahan ini nyata." 

 

Kedua mata mereka bertemu– Jaemin menatap Renjun penuh arti, sebelum Renjun mengangkat kedua sudut bibirnya lalu memalingkan wajah untuk memilih vendor terbaik dalam mempersiapkan pernikahan mereka.)

 

Ponsel yang masih berada di genggamannya tidak lama bergetar. Pesan dari editor naskahnya yang menanyakan progres lanjutan cerita yang sedang ia usung untuk terbit dua bulan ke depan. Renjun menghela nafasnya lagi– ia belum memulai harinya namun rasa lelah sudah menghampirinya. Ia melirik pada figura yang terpasang di nakas mereka, menatap dengan dalam ekspresi 'bahagia' yang ditunjukkan oleh foto itu. 

 

"Jika waktu diputar kembali, akankah kamu memilih jalan yang sama dengan waktu sekarang, Jaemin?" 

 

[...]

 

Tepat pukul 10 malam, layar laptopnya sudah mati, kacamata bacanya sudah diletakkan di atas meja. Renjun meregangkan tangannya yang terasa kaku, lalu menguap lebar karena rasa kantuknya yang sudah ia tahan sedari tadi. Gelas kaca bergambar rubah itu sudah kosong– malam ini Renjun hanya menyeduh teh camomile untuk membantunya mengurangi tekanan pikirannya. Ia tidak menyukai kopi– lambungnya tidak kuat menahan kafein pahit itu meskipun takarannya hanya sedikit. Berbicara tentang kopi, di antara keduanya, Jaemin yang menyukai minuman berwarna hitam itu. Awal mereka menikah, Renjun mengetahui kebiasaan pria itu untuk membuat secangkir kopi hitam setiap paginya. Ia pernah mencoba mencicipi kopi pasangannya itu, lalu mengerutkan wajahnya karena rasanya begitu pahit. 

 

"Aku pulang."

 

Monolog pikirannya berhenti. Renjun menoleh ke arah pintu ruang studinya lalu mendengar suara langkah kaki yang memasuki kediaman mereka. Dengan tergesa, Renjun memundurkan kursinya lalu beranjak dari posisinya untuk menghampiri pria itu. 

 

Penampilan kusut dengan wajah lelah itu menyapanya. "Belum tidur?" 

 

Renjun menggeleng. "Kamu nggak lembur hari ini?" 

 

Pria itu tersenyum tipis. "Kamu mau aku lembur?" 

 

Renjun menggeleng lagi, kali ini lebih cepat. "Sudah makan?" 

 

"Sudah. Atasanku mentraktir karena alasan kerja kami yang bagus." Jaemin menjelaskan, mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah mereka dan menyandarkan kepalanya disana. "Kamu juga sudah makan, kan?" 

 

Jujur saja, jika Renjun sudah menenggelamkan dirinya di pekerjaannya– menulis naskah, Renjun memiliki kebiasaan buruk yang ia kembangkan, yaitu melupakan jadwal makannya hingga perih di lambungnya harus menjadi panggilan bagi Renjun untuk mengisi perutnya. Ditambah lagi semenjak dirinya menikah, tanpa sadar Renjun mengembangkan kebiasaan untuk menunggu Jaemin pulang dan makan bersamanya. Walaupun pada akhirnya Renjun lebih sering makan sendiri meskipun telah menunggu Jaemin karena– Jaemin sudah makan, ataupun Jaemin tidak pulang. 

 

Tidak ingin menambah pikirannya karena baru saja menyelesaikan pekerjaannya, Renjun mengangguk pelan. "Sudah. Baru saja." 

 

Jaemin mengangguk, lalu memejamkan matanya. Renjun yang masih berdiri tidak jauh dari sofa mereka hanya memperhatikan pria itu. Hatinya berkecamuk– ia ingin menghampiri Jaemin, hanya sekadar memberinya pelukan hangat dan memberi ucapan 'kamu sudah melewati hari ini dengan baik', namun niatnya tak urung dilakukan karena Renjun tau batas yang Jaemin sendiri ucapkan, tiga bulan setelah pernikahan mereka.

 

("Renjun, aku minta maaf sebelumnya. Tapi, setelah ini, bisakah kamu izin dulu padaku sebelum memeluk atau memegang tanganku? Tidak ada alasan khusus, hanya saja… aku kurang nyaman tentang hal itu.")

 

Renjun juga mengerti– diantara keduanya memang dialah yang selalu menginisiasi sentuhan terlebih dulu. Tidak seintim yang dibayangkan– hanya menepuk pundaknya, memegang pergelangan tangannya, mengapit lengan Jaemin jika pria itu sedang merajuk, lalu memeluk pria itu jika Jaemin terlihat begitu runyam dari kantornya. Jaemin hanya menurut ketika Renjun memeluknya– tangannya terjuntai bebas di sisi tubuhnya. Tidak membalas pelukan Renjun, tidak pula menolak afeksi dari dirinya. 

 

Sejak saat itu, Renjun menahan dirinya untuk tidak melakukan kebiasaannya saat melihat pria itu begitu lesu. Ia hanya melihatnya dari jauh, berbincang sebentar dengannya– lalu kembali ke ruang studinya untuk bermonolog ria dalam pikirannya sendiri. Satu jam berikutnya, Renjun akan keluar dari ruangan itu dan menuju kamarnya– kamar dia dengan Jaemin. Pria itu sudah terlelap menyamping dan membelakangi Renjun, dan Renjun akan menyusul ke dalam selimut dengan posisi tubuhnya menghadap punggung pria itu yang tertidur dengan pulas. 

 

"–Jun? Renjun?" Panggilan Jaemin membuyarkan lamunannya. Pria itu ternyata sudah berdiri di hadapannya dengan raut khawatir. "Kamu tidak apa-apa?" 

 

Renjun meneguk liurnya dengan susah payah, sebelum mundur satu langkah dari kedekatan pria itu. "I– Iya. Nggak apa-apa." Jawabnya diikuti anggukan pelan. 

 

Pria itu masih memperhatikannya dengan lekat– seperti mencari sesuatu yang disembunyikan oleh Renjun. Setelah Renjun menganggukkan kepalanya lagi dengan lebih mantap, Jaemin puas akan jawabannya. "Baiklah. Aku ke kamar dulu." 

 

Renjun mengangguk lagi, lalu melihat Jaemin berjalan lunglai memasuki kamar mereka. Ia menghembuskan nafasnya lagi. Interaksi dengan Jaemin selalu membuat nafasnya tercekat– karena ia merasa gugup, dan tidak akan pernah terbiasa dengan hal ini. Saat siluet Jaemin sudah masuk ke dalam kamar dan pintunya dibiarkan terbuka, Renjun melangkahkan kakinya mengikuti pasangannya itu untuk ke kamar. Dalam kondisi seperti ini, saat Jaemin pulang ketika Renjun masih terjaga, ia akan naik ke tempat tidur terlebih dulu dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Membiarkan Jaemin menyelesaikan rutinitas malamnya sebelum ia juga ikut berbaring di sebelahnya. 

 

Malam ini juga sama. Renjun menaiki tempat tidurnya dengan perlahan, merubah posisinya menjadi menyamping, dan mencoba menutup matanya. Selimutnya ia sampirkan sampai menutupi setengah wajahnya– berharap Jaemin tidak akan pernah menyadari jika Renjun hanya pura-pura terlelap sebelum pria itu berbaring di sebelahnya. 

 

Lima belas menit berlalu, Renjun masih saja terjaga dan ia bisa merasakan gerakan di sebelah tubuhnya. Wangi sabun khas milik Jaemin menusuk indra penciumannya– lalu semakin kuat saat pria itu sudah berbaring di sebelahnya. Renjun semakin berharap keheningan di dalam kamar mereka tidak membuat Jaemin mendengar irama jantungnya yang begitu cepat saat ini. Renjun mendengar Jaemin menguap lebar, lalu pergerakan lainnya– mungkin merubah posisinya menjadi membelakangi Renjun, dan tidak ada pergerakan lainnya. Ia menunggu, lalu sedikit mengintip figur pria di hadapannya yang sudah naik-turun dengan konstan. 

 

Jaemin sudah terlelap– bersamaan dengan perutnya yang berbunyi. 

 

"Aish." Umpat Renjun dengan pelan, meringis karena perutnya yang perih karena belum diisi sejak siang hari. 

 

Perlahan, Renjun membuka selimut yang membungkusnya. Ia juga memperhatikan agar pergerakannya tidak membangunkan Jaemin yang baru saja terlelap. Setelah yakin ia tidak membangunkan Jaemin, Renjun berjinjit keluar kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju dapur rumahnya. 

 

[...] 

 

Layaknya orang kebanyakan, lapar di malam hari sangat cocok ditemani oleh semangkuk mi rebus ditambah dengan telur dan irisan sayur hijau. Mungkin ditambah beberapa potongan sosis lalu dimakan bersamaan dengan kimchi buatan rumahan. Namun, karena stok sayurannya sedang habis, lalu Renjun terlalu malas untuk memotong sosis, menu makannya malam ini hanya mi rebus dengan telur. Oh. Ia tentu tidak melupakan semangkuk nasi hangat yang baru dikeluarkan dari alat pemasak nasi. 

 

Setelah memasukkan mi itu ke dalam rebusan air mendidih, Renjun mengaduk olahan masakannya itu dengan asal dan pikirannya kembali berkelana. Memikirkan hal-hal yang sejatinya tidak penting untuk ia pikirkan– namun kebiasaan buruknya ini sulit dihilangkan, apalagi dalam kondisi sendirian dan sunyi seperti ini. 

 

"Katanya kamu sudah makan?" 

 

Suara berat pria itu– Na Jaemin, mengejutkan dirinya dan membuatnya terperanjat. Jaemin yang ikut terkejut mengecilkan api kompornya, lalu memastikan mi yang sedang direbus tidak terlalu matang sebelum melanjutkan perkataannya. "Apa setiap malam kamu seperti ini?" 

 

Kepalanya tiba-tiba pening. Akibat jam makannya yang tidak teratur dan juga Na Jaemin yang tiba-tiba muncul dan berbincang bersamanya di malam hari seperti ini. Renjun tidak tahu harus menjawab apa– kalau ia berkata jujur, Renjun yakin hubungan keduanya akan memburuk. Ia merasa akan membebani pikiran Jaemin jika Renjun berterus terang– tetapi jika ia berkata tidak, Jaemin mungkin akan terus tak acuh padanya, mengiris hatinya lagi untuk kesekian kalinya. 

 

Renjun memilih jawaban paling aman. Mengalihkan pembicaraan. "Bukankah kamu sudah tidur?" 

 

Jaemin meniriskan air mi rebus yang dimasak Renjun. Menuangkannya ke mangkuk yang sudah diberi bumbu terlebih dulu, lalu mengaduknya pelan. "Belum. Entah kenapa, aku tidak bisa tidur. Mungkin karena rasanya aneh karena kamu tidak di sebelahku." 

 

Deg.

 

Renjun melihat Jaemin meletakkan mangkuk mi di atas meja makan– tepat di sebelah mangkuk nasi yang telah diletakkan terlebih dulu oleh Renjun. Tidak sampai disana saja, hal yang lebih mengejutkan Renjun malam ini adalah melihat Jaemin menarik kursi makan di seberangnya dan duduk disana. Menoleh pada Renjun seakan-akan menunggu dirinya untuk duduk di hadapannya. "Kembalilah ke kamar. Aku tidak minta ditemani." Kalimat itu otomatis keluar dari bibirnya. Renjun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya– merasa sangat bodoh karena dengan mudahnya kalimat itu terucapkan. 

 

"Aku yang ingin disini." Jawab Jaemin sekenanya. "Duduk dan makanlah. Nanti tidak hangat lagi." 

 

Renjun menatap pria itu dengan intens– mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri 'sedang apa pria itu disini?'. Ketika Jaemin menunjuk menu makan malamnya dengan dagunya, Renjun tersadar dan menurut ajakannya. Duduk berhadapan langsung dengan Jaemin seperti ini membuat nafsu makannya menguap begitu saja. Bukan karena ia membenci pria itu– sebaliknya, Renjun merasa tidak sanggup melakukan apa-apa karena Jaemin yang terus menerus melihat ke arahnya. 

 

"Bisakah kamu tidak menatapku seperti itu?" Renjun akhirnya bersuara– tidak bisa menahan rasa gusar yang menghampiri dirinya. "Aku tidak bisa makan kalau kamu begitu terus." 

 

Kekehan pelan terdengar dari bibir Jaemin. "Tidak perlu gugup. Makanlah dengan santai. Lagipula, tidak ada siapapun selain aku disini." 

 

Justru karena itu kamu, Jaemin bodoh!

 

Renjun melihat skeptis ke arahnya lalu berdecak pelan. "Terserah kamu saja." Lalu mulai menyeruput makan malamnya.

 

.

.

.

 

"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Jun." 

 

Renjun terdiam saat mendengar nama itu keluar dari mulut Jaemin. Panggilan khas milik Renjun jika diucap oleh Jaemin seorang.  

 

Tanpa membalik tubuhnya, Renjun menjawab ucapan Jaemin dengan membelakangi tubuhnya– meletakkan peralatan makannya yang sudah selesai digunakan di tempat pencuci piring. "Yang mana?" 

 

Hening sejenak, lalu, "Apa kamu sering seperti ini?" Sebelum ada jawaban dari Renjun, Jaemin melanjutkan. "Makan sendiri saat aku pulang dan sudah makan ataupun aku tidak pu– lembur. Maksudku lembur."

 

Bibirnya tersenyum tipis. Renjun sebenarnya tau jika Jaemin mengabarinya 'lembur' tentu saja itu bukan karena pekerjaannya yang menumpuk– karena Renjun begitu paham dengan Jaemin yang membenci menunda pekerjaannya, melainkan karena ia tidak ingin bermalam di rumah bersama Renjun. "Tidak." Jawabnya berbohong– dan Renjun sampai saat ini masih membenci seseorang yang suka berbohong. Kontradiktif dengan omongan dirinya saat ini. "Kebetulan saja aku memang belum makan dan kamu belum tidur." 

 

"Begitu, ya?" Respon Jaemin– terdengar sedikit tidak percaya akan jawaban Renjun. "Besok aku akan pulang tepat waktu. Kita makan bersama besok malam. Bagaimana?" 

 

Mendengar penawaran dari Jaemin, Renjun langsung memutar badannya. "Benarkah?" 

 

Jaemin mengangguk pelan. "Sudah lama kita tidak makan bersama, kan? Pesan makan dari luar juga tidak masalah." 

 

Perasaannya terlampau senang. Membayangkan dirinya makan bersama dengan Jaemin sudah membuat hatinya bergejolak. "Kabari aku kalau kamu sudah jalan pulang." 

 

Berdiri dari kursinya, Jaemin menghampiri Renjun dan menepuk kepalanya dengan pelan. "Oke. Sekarang, ayo masuk kamar dan tidur. Aku mulai mengantuk." Ajak Jaemin lalu berjalan menuju kamar mereka terlebih dulu, meninggalkan Renjun dengan tubuhnya yang memanas dan wajahnya yang memerah. 

 

[...]

 

Seharusnya, Renjun sudah bisa memprediksi hal ini.

 

Seharusnya, Renjun tidak membayangkan sesuatu hal yang sangat tidak mungkin untuk terjadi.

 

Seharusnya, ia tidak boleh terlampau senang hanya karena ajakan sederhana– seperti makan malam bersama. 

 

Seharusnya, Renjun paham jika rasa kecewanya ini juga timbul karena ekspektasinya yang begitu tinggi pada seseorang yang melukainya.

 

Kesalahan demi kesalahan terus Renjun lakukan– meletakkan harapan pada seseorang yang sering membuatnya kecewa. 

 

Bukan, hati kecilnya menyahut. Ini semua salahku– tambahnya lagi. Pengerjaan naskahnya ia tunda– membiarkan telinganya mendengar ocehan editornya ketika ia mengangkat telepon selepas menyelesaikan masakannya, tidak membalas surel dari pihak penerbit, lupa memberitahu bagian desain halaman depan bukunya– semua Renjun sampingkan hanya demi memenuhi ajakan Jaemin untuk makan bersama di rumah. 

 

'Tepat waktu' dalam kamus Jaemin adalah pukul 6 sore– ia akan sampai di rumah sekitar jam 7 malam. Ekspresi Renjun masih terlihat senang saat ia melirik ponselnya dan waktu menunjukkan pukul setengah 8 malam– Renjun berpikir mungkin Jaemin terkena macet atau masih ada sedikit pekerjaan yang perlu diselesaikan. Sejauh ini, ia belum mendapat kabar dari Jaemin. Tentu saja pria itu tidak akan lupa, kan? 

 

Perutnya berbunyi. Satu jam telah berlalu dan waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam. Lagi-lagi Renjun harus menahan rasa laparnya karena sifat keras kepalanya yang masih ingin menunggu Jaemin pulang. Ia sempat menelpon Jaemin– namun tidak diangkat. Pikirnya lagi, mungkin pria itu sedang menyetir dan tidak ingin membahayakan dirinya jika mengangkat telepon dari Renjun. Waktu kembali berjalan, raut wajahnya kini sangat menahan untuk tidak bersedih. Pukul 10 malam, masih belum ada tanda-tanda Jaemin pulang. Renjun kembali melihat hidangan yang berada di atas meja– dan merasa hatinya sesak. 

 

Tidak ingin membuat perutnya sakit lebih lama lagi, Renjun mengambil sendok, lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. 

 

Perih. Renjun memang makan terlambat– tapi ini lebih perih dari biasanya.

 

Renjun tidak tahu apakah karena pencernaannya yang mengajukan protes– atau karena perasaannya yang berkecamuk karena lagi dan lagi, ia merasa dibodohi oleh seseorang yang sekarang menjadi 'pasangannya'. 

 

Untuk malam ini, Renjun biarkan air itu mengalir dari matanya– setidaknya, dengan menangis bisa mengurangi rasa perih yang ia alami sekarang. 

 

*

 

Memiliki sahabat selalu sigap akan seseorang yang 'berpotensi' menyakiti dirinya, Renjun sangatlah bersyukur karena hal itu. Mengetahui rencana pernikahan Renjun dan Jaemin yang begitu 'mendadak', para sahabatnya langsung meminta Renjun untuk bertemu dengan mereka dan melangsungkan 'rapat dengan sahabat' karena hal ini begitu krusial untuk kehidupan Renjun. Terkadang, Renjun tidak habis pikir dengan mereka karena begitu peduli memikirkan orang lain yang notabene-nya bukanlah keluarga. 

 

"Renjun, aku tau kamu memang memiliki perasaan padanya saat sekolah dulu, tapi bukankah ini terlalu mendadak? Terburu-buru?" Tanya salah satu temannya– teman sebangkunya sewaktu sekolah, Yangyang. 

 

Temannya yang lain– Jeno, menyahut. "Benar. Bukankah kalian tidak berhubungan lagi selepas sekolah?" 

 

"Aku dan Jaemin berada di universitas yang sama, kalau kalian lupa." Renjun berkomentar. "Lagipula, aku pernah sekali-dua kali bertemu dengannya." 

 

"Tidak jadi alasan tiba-tiba kamu menikah dengannya." Hardik Yangyang. "Apa yang kamu pikirkan, Jun? Bukannya kamu ini orang yang mau pernikahannya romantis, dicintai dan disayangi pasangannya seperti budak cinta–" 

 

Renjun menyumpal mulutnya. Malas sekali mendengar omongan Yangyang yang membuatnya malu setengah mati. Ia melirik sinis pada Jeno yang terkekeh di kursinya. "Mau bagaimana lagi. Rencana ini sudah sampai di tahap pertemuan keluarga. Mau diletakkan dimana wajahku kalau aku tiba-tiba bilang 'dibatalkan saja' padahal aku juga yang 'mengajak' Jaemin menikah lebih dulu?" 

 

Jeno menghela nafasnya pelan. "Aku masih tidak percaya kamu mengajaknya duluan. Seorang Huang Renjun, yang dikenal tsundere, tiba-tiba mengajak orang menikah? Astaga." Ia menggelengkan kepalanya, memikirkan tingkah Renjun yang berada di luar nalarnya.

 

Mendengar pernyataan itu, Renjun hanya tersenyum tipis. Ia sudah malas mendengar cibiran orang-orang di sekitarnya tentang status dirinya. Satu-satunya jalan agar orang-orang itu berhenti bertanya adalah merubah statusnya dari lajang menjadi menikah– dan memperlihatkan pasangannya pada khalayak publik dengan mengadakan pesta pernikahan. "Sekali seumur hidup, Jen. Kapan lagi aku impulsif seperti itu, kan?"

 

Jeno berdecak pelan. "Bukan alasan tepat mengajak orang untuk menikah. Lagipula, apa ada perubahan sikap Jaemin ke kamu? Yah– kalian memang sama-sama suka, tapi itu dulu." 

 

Renjun menggelengkan kepalanya pelan– sedikit raut sedih menghampiri wajahnya. "Tidak– maksudku, dia bersikap biasa saja. Aku pun juga begitu." 

 

Yangyang kini menanggapi. "Apa kamu yakin? Karena Jaemin memiliki tempat yang spesial di hati kecilmu, Jun." 

 

Renjun menatap minuman yang ada di atas mejanya dengan nanar. Sampai detik ini– perasaan itu mungkin masih ada. Apa yang dikatakan oleh Yangyang itu benar. Jaemin memiliki tempat yang spesial di hatinya– meskipun kisah mereka tidak selayaknya 'kekasih' pada umumnya. Walaupun pernikahannya nanti tidak dilandasi perasaan saling menyukai, selama Renjun bisa berada di dekat pria itu, tidak akan menjadi masalah baginya. "Iya. Aku yakin." 

 

"Kami hanya ingin kamu tidak terluka, Jun." Jeno menimpali dengan lembut. "Jaemin memang orang yang baik– tapi aku dan Yangyang tidak ingin melihatmu menangis lagi karena orang itu. Tangisanmu lebih baik disimpan untuk pria yang lebih pantas mendapatkanmu." 

 

Ia menunduk– tidak sanggup karena kedua sahabatnya itu sangat ingin melindunginya dari perasaan tidak terbalas. Mereka mengetahui masa kelam Renjun– dan keduanya tidak ingin hal itu terulang kembali. Tanpa Renjun sadari, air matanya ikut turun membasahi pipinya. Pundaknya berguncang, dan Renjun segera menutupi wajahnya dengan kedua tangannya ketika ia mulai terisak. 

 

Baik Yangyang dan Jeno langsung memeluknya– tidak peduli tatapan pelanggan lain dalam kafe itu yang melihat ke arah mereka. "Renjunie. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan kalau kamu tidak ingin mendengar cibiran orang sekitarmu lagi. Tidak perlu seperti ini." Yangyang bersuara di telinganya, tangannya menepuk pelan kepala Renjun yang masih menangis. 

 

"Tidak ada kata terlambat untuk membatalkan semuanya." Jeno menambahkan. "Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik, Ren. Mencintai dan menyayangimu lebih tulus, memperlakukanmu sebagai orang terpenting di hidupnya." 

 

Renjun lahir dan besar sebagai seorang people pleaser. Keluarganya sudah tahu kabar dia akan menikah, yang tentunya disambut hangat serta kegembiraan oleh mereka. Ia juga tidak enak jika mundur dari langkah yang sudah ia putuskan sendiri. 

 

Asalkan orang tuanya– Papanya bahagia, Renjun juga mencoba untuk bahagia. 

 

Perkataan Jeno hanya membuatnya semakin terisak. Kedua temannya merapatkan pelukan mereka, dan terus menepuk-nepuk punggungnya sampai tangisannya mereda. 

 

Keputusannya kali ini… tidak akan berakhir seburuk itu, kan?

 

*

 

Kepalanya terasa berat.

 

Kedua mata Renjun perlahan terbuka dan hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya terasa berputar. Matanya juga sakit, dan ia yakin kelopak matanya sedikit bengkak karena Renjun tertidur sambil menangis semalaman. 

 

Benar. Rencana makan malam yang dibicarakan oleh Jaemin batal begitu saja, tanpa ada sepatah kata dari orang itu sendiri– membiarkan Renjun terus menunggu dan menggantung harapannya pada pria itu, yang berakhir gagal dan ia dikecewakan lagi. 

 

"Jun?" 

 

Ah. Mungkinkah sekarang ia berhalusinasi karena Renjun sangat ingin mendengar suara pria itu? 

 

Tanpa menghiraukan suara itu, Renjun mulai mendapat kesadarannya dan peningnya mulai mereda. Penglihatannya mulai jelas– dan ia pasti berhalusinasi saat melihat figur pria itu di sebelahnya, mengenakan kaus hitam dan celana training kesukaannya, menatap ke arah Renjun dengan raut khawatir.

 

Tidak mungkin.

 

Renjun merintih pelan. Tidur semalaman sambil menangis bukanlah suatu hal yang bagus. Kepalanya masih terasa pusing dan ia merasa satu badannya lelah karena efek berkutat di dapur seharian kemarin. Saat ia memejamkan matanya sejenak, untuk sekadar mengurangi rasa sakit di kepalanya, sebuah tangan juga ikut memijat kepalanya– dan itu bukanlah tangannya sendiri. 

 

Renjun membuka matanya dan langsung menepis tangan itu. Seakan kesadarannya kini mulai penuh, Renjun terperanjat– bukanlah hal baik karena efek pusing di kepalanya makin menjadi dan ia sempat terhuyung sebelum berpegangan dengan nakas tempat tidurnya. 

 

"Renjun, pelan-pelan. Kamu terlihat pucat." Pria itu– yang sekarang Renjun bisa jelas melihatnya, beranjak dari posisinya dan ingin menghampiri Renjun yang berdiri lemah tidak jauh dari tempat tidur mereka. 

 

Dahinya berkerut. Itu juga salahmu, bodoh! "Kenapa belum berangkat?" 

 

Jaemin menatap Renjun seperti heran dengan pertanyaannya. "Lalu meninggalkanmu dalam kondisi seperti itu? Yang benar saja, Jun." 

 

Renjun tersenyum miring, tidak percaya dengan perkataan yang baru saja Jaemin ucapkan. "Sejak kapan kamu peduli?" 

 

"Renjun." Ucap Jaemin dengan tegas– seakan tidak menerima tuduhan yang dilayangkan oleh dirinya. 

 

"Terserah." Balas Renjun, final. "Maaf aku tidak bisa menyiapkan sarapan untukmu pagi ini." 

 

Tidak menunggu balasan dari Jaemin, dengan sempoyongan, Renjun berjalan keluar kamar sebelum pria itu bisa melihat air mata yang sudah mengalir di pipinya. 

 

[...]

 

Setiap orang memiliki kebiasaan dalam melampiaskan sesuatu ketika kondisi hatinya sedang tidak baik. Entah itu kebiasaan yang merugikan atau menguntungkan untuk dirinya sendiri. Kebiasaan Renjun jika kondisi hatinya sedang tidak baik berdampak pada dua hal. Pertama dan ini lebih pada sisi yang menguntungkan, dia akan menjadi lebih produktif dan menulis naskahnya tanpa henti. Efek lainnya, berhubungan dengan Renjun yang berada di depan laptopnya seharian, dia akan melupakan jam makannya dan membuat asam lambungnya kembali bereaksi. 

 

Sudah hampir setengah hari ia berada di dalam ruang studinya. Mengetik tanpa henti di layar laptopnya dan tidak memperdulikan apakah alur ceritanya sesuai dengan keinginan hatinya atau bukan. Kondisi Renjun yang seperti ini memang cenderung impulsif– ia bisa merangkai kata naskahnya hingga bertambah sepuluh halaman dalam aplikasi word, tapi bisa saja nantinya yang terpakai menjadi tiga halaman karena Renjun merevisinya sendiri. Mengetik naskah seperti ini membuatnya lupa akan segalanya– termasuk rasa sedihnya semalam dan amarahnya pada 'pasangannya' itu yang dengan entengnya melupakan janjinya sendiri dan membuat Renjun terus berharap. 

 

Renjun melirik ke arah jam yang berada di pojok layar– sudah waktunya makan siang. Ia berdesis pelan saat berdiri dari kursinya lalu merasa perih di bagian perutnya. Pening di kepalanya belum juga hilang, namun Renjun tetap memaksakan kakinya untuk melangkah menuju pintu ruang studinya karena ia perlu sedikit asupan untuk menjalani harinya. 

 

"Jun?" 

 

Terkejut karena Jaemin lagi-lagi berdiri di hadapan pintunya– dan apa pria itu duduk di luar ruang studinya?!, lalu Renjun refleks menutup pintu itu lagi dengan jantungnya yang berdegup cepat. Ia menahan pintu itu dengan tubuhnya– dengan nafasnya yang masih terburu-buru. 

 

Ketukan pelan terdengar dari luar ruangannya. "Renjun. Keluarlah sebentar. Ingat tentang penyakit lambungmu. Ayo makan dulu." Ucap Jaemin lembut dari balik pintu ruang studinya. 

 

Renjun terdiam. Ia berasumsi pria itu berangkat ke tempat kerjanya, karena Renjun yakin pasangannya itu hanya pulang untuk berganti pakaian lalu akan kembali ke kantor. Ia juga tidak mengecek ponselnya yang Renjun biarkan di sofa bed ruang studinya. Seingatnya, ia mengaktifkan mode senyap di ponselnya. Jadi, Renjun tidak terganggu dengan pesan atau panggilan di teleponnya– sekaligus satu cara Renjun untuk menenangkan diri jika suasana hatinya sedang kacau seperti semalam. Ia beranjak mengambil ponselnya– meninggalkan pintu ruang studinya yang Renjun yakin Jaemin tidak akan masuk begitu saja tanpa persetujuannya. 

 

Setelah ponselnya ada di genggamannya, Renjun terkejut melihat pesan yang masuk di kotak masuknya. 

 

From: Na Jaemin

Jun, aku tidak berangkat hari ini karena wajahmu pucat sekali. Kembalilah ke kamar dan aku akan mengecek suhu tubuhmu.

 

From: Na Jaemin

Kamu di ruang studi? Apa aku boleh masuk? 

 

From: Na Jaemin

Renjun?

 

From: Na Jaemin

Aku membuatkan sarapan untuk kita– juga teh camomile kesukaanmu. Aku antar ke ruang studi, ya?

 

From: Na Jaemin

Aku menunggu di dekat ruang studi dengan sarapanmu. Maaf teh camomile-nya sudah tidak hangat. Nanti akan aku buatkan kembali kalau kamu masih menginginkannya.

 

From: Na Jaemin

Jun.. aku tau kamu marah denganku, tapi keluarlah sebentar untuk makan, ya?

 

From: Na Jaemin

Aku khawatir. Sudah hampir waktu makan siang dan kamu belum juga makan. Perutmu akan perih jika tidak diisi seharian, Renjun..

 

Air mata mengalir begitu saja dari pipinya. Seakan tidak puas dengan semalam, Jaemin kembali mengacak-acak hatinya dengan mempermainkan hatinya seperti ini. Acuh lalu kembali peduli seakan pria itu adalah orang yang berbeda– Renjun begitu lelah dengan hatinya yang diperlakukan seperti ini dan bodohnya ia masih terus memaafkan pria itu. Ia meremas bagian depan bajunya– mengharapkan rasa sakitnya bisa hilang begitu saja dengan cengkraman kuat dari tangannya. Renjun sudah tidak peduli– tangisannya semakin menjadi sesenggukan, mengeluarkan emosinya yang tertahan selama ini. 

 

Pintu terbuka dan derap langkah tergesa terdengar di telinganya. Renjun sudah tidak peduli jika akhirnya– akhirnya, Jaemin melihat kondisinya yang seperti ini. Memperlihatkan sisi lemahnya yang selama ini ia sembunyikan. Pria itu menghampirinya dan langsung merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya. Renjun memukul dada pria itu dalam tangisannya. 

 

Jaemin semakin merapatkan pelukannya, membiarkan Renjun terus melampiaskan rasa amarahnya dengan memukul dadanya. "Renjun-ah, aku minta maaf. Aku minta maaf." 

 

Renjun tidak menjawab, melainkan air matanya turun semakin deras mendengar kalimat itu. Ia meremas baju Jaemin, sambil tetap memukul bahu pria itu. "Jangan– Jangan meminta maaf." Renjun bersuara parau, sedikit terengah karena ia sulit berbicara karena sesenggukannya. "Don't even say sorry if you don't mean it." 

 

"No. I’m sorry. I really am." Jaemin menyanggah, mengatakannya tepat di telinga Renjun. "Aku minta maaf karena semalam membuatmu berharap dan mengingkari janjiku. Aku minta maaf, Renjun." 

 

Mendengar tidak ada jawaban dari Renjun, Jaemin terus memeluknya dan mengelus punggung pria itu untuk menenangkannya. Tangisannya mulai mereda, hanya tersisa rematan lemah di bagian depan bajunya dan dahinya yang berkeringat– karena Renjun juga menahan sakit di perutnya. Jaemin menyampirkan rambut yang menempel di dahinya, lalu mengecup pelan kening itu. "Aku benar-benar minta maaf. Aku akan menjelaskannya nanti, tapi setelah kamu makan. Bagaimana?" 

 

Renjun menggeleng di pelukannya. Jaemin hampir saja protes jika Renjun tidak berbicara setelahnya. "Aku mau tidur. Kepalaku pusing." 

 

Jaemin terlihat tidak setuju. "Makan dulu, ya? Sedikit saja." 

 

"Nggak." Renjun masih menggelengkan kepalanya, lalu melepas dirinya dari pelukan Jaemin. Dengan sedikit terhuyung, Renjun berdiri dari posisinya dan mencoba berjalan sendiri ke kamarnya. Jaemin dengan sigap berada di sebelahnya– berjaga-jaga jika Renjun tidak kuat berjalan ia akan membantunya. Benar saja, Renjun hampir saja jatuh sebelum Jaemin memegang tangannya dan memapahnya berjalan. Renjun menepis tangan Jaemin sebelum berjalan lagi dengan memegang kepalanya. 

 

Tiba di ruang tengah, Renjun langsung merebahkan dirinya di atas sofa dan meringis karena kepalanya kembali berputar. Ia samar-samar mendengar Jaemin berjalan menuju arah lain– kemungkinan ke dapur rumah mereka, lalu kembali ke ruang tengah dengan segelas air putih di tangannya. “Kalau kamu belum mau makan, minum ini dulu. Nanti kamu dehidrasi.” 

 

Renjun menurut. Jaemin memudahkan dirinya untuk minum menggunakan sedotan– hanya satu seruput saja lalu Renjun menggelengkan kepalanya lagi. Jaemin meletakkan gelas di atas meja ruang tengah mereka, lalu duduk di sofa yang berbeda dengan tempat Renjun beristirahat. “Terima kasih, tapi kamu tidak usah berpura-pura memperdulikanku. Aku hanya perlu tidur.”

 

Tidak bergeming dari tempatnya, Jaemin hanya menatap Renjun dengan intens. Raut wajahnya juga kacau– Renjun tidak tahu apakah karena ia memang benar mengkhawatirkan dirinya, atau ada hal lain, misal pekerjaannya, yang ada di pikiran pria itu. “Bisa berhenti berkata seperti itu? Seolah-olah semua yang aku lakukan di matamu itu hanya palsu?”

 

Sakit. Pria itu memang menyakiti hatinya, tetapi perkataan Jaemin tadi juga terdengar sangat menyakitkan di telinganya sendiri. Suaranya begitu parau. Seakan memohon pada Renjun agar tidak menganggap sepele perasaannya juga. Renjun membalikkan badannya, enggan melihat langsung pria itu yang masih saja duduk di sana. Ia tidak menjawab pertanyaan Jaemin tadi, melainkan lagi-lagi air matanya kembali turun karena hatinya ikut sesak mendengar hal itu. 

 

Keheningan menyelimuti ruangan tengah kediaman kecil mereka. Walaupun langit masih memancarkan sinarnya yang begitu cerah, suasananya berbeda dengan kedua pria yang berada dalam satu atap ini. Hati keduanya mendung– yang satu penuh dengan kesedihan karena kekecewaan, dan yang satunya menyalahkan dirinya sendiri karena menyakiti seseorang yang seharusnya hatinya ia jaga. Ini merupakan pertengkaran mereka yang pertama– karena sebelumnya Renjun tidak pernah menurunkan tamengnya dan hati Jaemin yang begitu dingin dan tidak acuh pada pasangannya sendiri. Baik Renjun dan Jaemin diam-diam menyesali kejadian hari ini. 

 

Seharusnya, Renjun bisa mengendalikan emosinya dan tidak menangis di hadapan Jaemin.

 

Seharusnya, Jaemin bersikap seperti biasanya ketika ia tidak sadar menyakiti hati pria itu.

 

Jika sudah seperti ini, siapa yang perlu disalahkan?

 

Renjun– yang begitu mudahnya memaafkan pria itu setelah dikecewakan berkali-kali?

 

Jaemin– yang senang menarik-ulur perasaan Renjun dan tanpa sadar ia juga ternyata memiliki perasaan ‘sesuatu’ untuk pria itu?

 

[...]

 

Kesadaran Renjun perlahan datang. Kedua matanya perlahan terbuka– sesekali ia masih memejamkannya lagi karena sulit melakukan pergerakan. Ia bisa merasakan matanya bengkak karena menangis semalaman– atau seharian? Kepalanya masih pusing– tentu saja, terlebih perutnya belum terisi apapun sejak pagi hari. Renjun merubah posisinya– sepertinya sofa di ruang tengah mereka tidak sebesar ini karena tubuhnya tidak jatuh. Seakan tersadar, Renjun meraba sekelilingnya– tekstur kain yang ia yakin saat ini ia berada di tempat tidurnya; tempat tidur Renjun dan suaminya, Jaemin.

 

“Ya, hyung. Saya tidak bisa revise code hari ini. Bisa dibantu sama Minji dulu untuk running-nya, biar bisa ke-detect di awal ada error dimana.”

 

Suara Jaemin lalu masuk ke pendengarannya. Penglihatannya sekarang mulai jelas– Jaemin sedang berdiri di dekat jendela kamar mereka, berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Pakaiannya masih sama seperti yang ia lihat tadi pagi– kaos putih dengan celana training kesukaannya. Rambutnya juga terlihat berantakan– seperti disisir dengan jarinya secara acak. Satu tangannya diletakkan di pinggangnya, dahinya berkerut sembari mendengar ucapan dari seberang telefon, lalu berdecak pelan ketika penjelasan lawan bicaranya tidak sesuai yang ia inginkan. Kedua mata Renjun menatap sendu pria itu– sejak masa sekolah bahkan sampai detik ini, Na Jaemin memang pria begitu mempesona. Kesederhanaan penampilannya saat ini justru membuat hati Renjun kembali goyah– mengingatkan dirinya lagi jika ia memang jatuh kembali pada pesona pria itu. 

 

Tersadar sedang diperhatikan, Jaemin menoleh ke arah Renjun dan membulatkan matanya melihat ia yang sudah sadar. Jaemin lalu dengan sigap mengucap salam terakhirnya sebelum menutup telepon dengan orang kantornya. Jaemin menghampiri dirinya lalu duduk di tempat tidur dengan perlahan. "Renjun-ah?" 

 

Seandainya– seandainya saja pernikahan mereka dilandasi perasaan saling menyukai, apakah Jaemin akan memperlakukannya seperti ini hingga maut memisahkan?  

 

Renjun tersenyum getir dengan monolog pikirannya. Ia sudah lelah dengan perselisihan kecil mereka semalam. Renjun juga merasa tidak ada yang perlu dibesar-besarkan dari kejadian itu– ia hanya ingin meminta maaf pada Jaemin karena telah bereaksi berlebihan, lalu menjalani kehidupan rumah tangga mereka lagi seperti biasanya. 

 

Benar. Hanya sampai 6 bulan ke depan dan Renjun bisa lepas dari pernikahan palsu ini. 

 

(Saat Renjun menyuarakan pikiran impulsif dirinya untuk mengajak Jaemin menikah, pria itu tidak menyangka jika Jaemin akan bertanya hal ini terlebih dahulu padanya.

 

"Apakah kita ada semacam perjanjian? Seperti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pernikahan ini berlangsung?

 

Pertemuan ketiga mereka dilakukan di kafe yang sama– kali ini untuk memantapkan keduanya akan perencanaan pernikahan yang akan disegerakan setelah pertemuan ini selesai. Keduanya akan saling mempertemukan keluarga, lalu merencanakan acara yang kemungkinan dilangsukan dalam 6 bulan ke depan. Sejauh ini, tingkat komunikasi Renjun dengan Jaemin mulai meningkat– meskipun hanya berisikan pesan tentang rencana mereka berikutnya. Bukan pesan manis seperti mengingatkan untuk makan siang ataupun bertanya apakah ingin diantar atau dijemput ke rumah. Mungkin sesekali terselip pesan itu, lalu tidak akan ada lagi setelahnya. Renjun juga tidak berani bersikap demikian, karena ia merasa ia tidak memiliki status apapun dengan pria itu. Bisa saja pria itu memiliki seseorang yang ia sukai dan bisa mengganggu hubungan itu, bukan? 

 

Ah. Renjun tidak berani membayangkannya. 

 

Renjun terdiam mendengar pertanyaan Jaemin. Kedua matanya menatap kosong jalanan Seoul yang sedang dilanda hujan kecil. Pertanyaannya tadi membuat pikirannya kembali berkelana. Ia tidak memikirkan tentang hal itu sebelumnya– sebuah perjanjian yang akan dibuat jika keduanya menyetujui pernikahan ini. Tiba-tiba saja Renjun mengutuk dirinya sendiri. Tentu saja hal itu akan diperlukan jika ia mengajak seseorang untuk menikah secara 'paksa', bukan?

 

Ia kembali menatap Jaemin, yang masih menunggu dengan sabar jawaban darinya. "Akankah lebih baik jika kita membuatnya?

 

Jaemin mengangguk. "Menurutku, iya. Alasannya? Pernikahan ini dilakukan hanya di atas kertas– maksudku, tidak ada perasaan yang terlibat di dalamnya. Aku hanya ingin tau batasan masing-masing saat kita menjalaninya nanti.

 

Benar. Alasan yang sangat logis– namun, hati kecilnya beraksi sebaliknya, meringis, tidak mengenakkan untuk perasaannya sendiri. Renjun mengesampingkan perasaannya itu lalu mencoba bergurau. "Takut aku mengganggu kencanmu dengan orang lain?" Renjun tidak berani menatap pria itu, enggan melihat reaksinya. "Ayolah. Seperti yang kamu bilang, pernikahan ini hanya di atas kertas. Apapun yang akan kamu lakukan, siapapun orangnya, aku tidak akan ikut campur. Selagi kamu tidak membawanya ke rumah kita nanti. Malas dengan omongan tetangga yang paling tau segalanya.

 

"Aku bukan pria seperti itu, Renjun." Jawab Jaemin tegas. Renjun kembali terdiam, merutuki dirinya sendiri lagi yang kembali berbicara seenaknya. "Akan aku catat dalam perjanjian kita, 'tidak mengusik kehidupan pribadi masing-masing' bagaimana?"

 

"Maaf, Jaemin." Cicit Renjun, sebelum menjawab pertanyaan Jaemin selanjutnya. Pria itu menghela nafasnya pelan sebelum mengangguk, kemudian Renjun tersenyum kecil dan melanjutkan pembicaraannya. "Berapa lama kamu ingin mempertahankan pernikahan ini?

 

Jaemin berpikir sejenak. "Bagaimana dengan satu tahun? Terlalu cepat?"

 

Menggerakkan kepalanya, Renjun menggelengkan kepalanya, setuju dengan usulan Jaemin. "Satu tahun waktu yang cukup. Kalau boleh aku tambahkan, jika salah satu diantara kita menemukan seseorang yang cocok, kita bisa mengakhirinya lebih cepat. Baik aku atau kamu.

 

"Bukankah itu akan menjadi omongan buruk?" Tanya Jaemin, jelas sekali tidak setuju dengan pendapat Renjun. 

 

Renjun menggeleng lagi. "Bilang saja jika kita memang tidak cocok dan lebih baik berpisah. Itu saja." 

 

Jaemin lagi-lagi menghembuskan napasnya pelan. "Baiklah jika memang itu yang kamu inginkan. Aku hanya berharap ini tidak akan memberi dampak buruk bagimu, Renjun. Aku tidak ingin kamu yang dikenal anak begitu baik– dilabeli yang tidak-tidak hanya karena perjanjian pernikahan ini.

 

Hati Renjun sesak mendengarnya. Sebenarnya, ia juga tidak menginginkan pernikahan ini. Ia kalah dengan tekanan sosial di sekitarnya– omongan orang tidak dikenal, para kolega dan temannya yang sudah menikah lalu menggendong satu anak, juga omongan tidak enak yang sering ia dengar dari tetangga maupun keluarganya sendiri. Renjun kalah dengan segala tuntutan yang tidak seharusnya ia turuti, dan tetap mengambil langkah sedikit sembrono yaitu melangsungkan pernikahan (kontrak) dengan temannya sewaktu sekolah dulu. 

 

"Mau bagaimana lagi." Balas Renjun dengan pasrah. "Tidak mungkin ada keajaiban kita saling jatuh cinta dalam perjalanan itu bukan? Terdengar sangat mustahil bagiku." Renjun lalu tertawa– yang terdengar begitu hambar di telinganya sendiri. Jaemin tidak ikut tertawa bersamanya– ekspresinya mengeras, sulit untuk dibaca oleh kedua matanya. 

 

Mulut Jaemin terbuka– seperti ingin menyanggah perkataan Renjun, namun ia urungkan sebelum menganggukan kepalanya pelan. "Baiklah. Kalau kamu memang sudah yakin, aku tinggal mengikuti. Kita sudah mendapat dua poin dalam perjanjian ini, ada lagi yang perlu kita rundingkan?

 

Lalu, keduanya tenggelam dalam percakapan mengenai pernikahan (kontrak) mereka. Hujan masih mengguyur kota Seoul sore itu, membuat keduanya semakin larut dalam obrolan akrab seperti teman lama yang baru saja bertemu kembali. Terkadang percakapan mereka diselingi canda gurau satu sama lain, lalu dilanjutkan kenangan masa lalu mereka, sampai keduanya menyelesaikan perjanjian itu dengan tanda tangan keduanya yang tertera di atas kertas (yang penuh dengan coretan itu). 

 

"Aku sudah memberimu kesempatan untuk mundur sebelum kamu menandatangani kertas ini." Renjun menjelaskan, mengetuk kertas yang ada di atas meja itu sembari menatap Jaemin. "Sekarang, kamu tidak bisa melakukannya. Apa kamu siap menjalaninya, Na Jaemin?

 

Jaemin tersenyum kecil. "Aku tidak akan menandatanganinya jika aku tidak siap, Tuan Huang. Atau bisa aku panggil Tuan Na mulai dari sekarang?" 

 

Kedua pipi Renjun memerah– ia memukul lutut Jaemin yang bisa dijangkau olehnya. Keduanya tertawa, menutup hari itu dengan suasana hati yang ringan.)

.

.

.

 

Perjanjian Pernikahan

Marriage Convenience

 

  1. Tidak diperbolehkan mengusik kehidupan pribadi masing-masing.
  2. Mengizinkan kedua pihak untuk memiliki hubungan dengan orang lain, tapi tidak membawanya ke 'rumah'. 
  3. Merahasiakan perjanjian ini dari keluarga, terutama orang tua kedua pihak.
  4. Perjanjian ini bisa ditambahkan atau dihapus selama keduanya masih bersama.
  5. Untuk sementara Perjanjian ini berlaku sejak tanggal resmi pernikahan berlangsung sampai 1 tahun ke depan.

.

.

.

 

"Teman kantor?" Tidak menggubris panggilan dari Jaemin, Renjun langsung menebak obrolan yang baru saja diselesaikan Jaemin beberapa detik lalu melalui sambungan telepon.

 

Begitupun Jaemin. Tidak menjawab pertanyaan Renjun, melainkan langsung mengecek kondisinya. "Makan dulu, ya? Ini sudah sore, Jun. Perutmu masih kosong sejak pagi hari." 

 

Malas berdebat dan juga energinya sudah habis, Renjun menurut dan mengangguk lemah. "Maaf merepotkan." Ujar Renjun pelan, yang dibalas gelengan cepat dari Jaemin.

 

"Tidak sama sekali. Tunggu disini sebentar." Jaemin meremas pelan bahunya sebelum beranjak dari tempat tidur. 

 

Tidak lama kemudian, Jaemin kembali ke kamar mereka dengan nampan di tangannya. Ia tersenyum kecil sebelum duduk di tempat tidur berdekatan dengan Renjun. Ia melirik arah nampan itu– semangkuk bubur hangat dan juga secangkir teh camomile yang masih terlihat asapnya. Perutnya lalu berbunyi, memecah keheningan diantara keduanya. Renjun tersenyum malu, dan perlahan merubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala tempat tidur mereka. Jaemin lagi-lagi terlihat sigap– kedua tangannya menggantung di udara, seperti ingin membantu Renjun. Ia mengangguk kecil– menyatakan aku bisa, terima kasih, sebelum menemukan posisi nyamannya dan menjulurkan tangannya untuk meminta mangkuk bubur itu. 

 

Jaemin menggelengkan kepalanya, lalu ia sendiri yang memegang mangkuk itu dan bersiap menyuapi Renjun. "Ayo buka mulutmu."

 

"Tanganku baik-baik saja, Jaemin. Aku bisa makan sendiri." Sanggah Renjun, masih menolak suapan Jaemin yang belum sampai ke mulutnya. 

 

"Aku ingin melakukannya. Ayo, sekarang buka mulutmu." Malas berdebat lebih jauh lagi, Renjun melirik sekilas ke arah Jaemin yang menunggunya dengan sabar, lalu membuka mulutnya untuk menyantap bubur buatan suaminya itu. Matanya menangkap ekspresi Jaemin yang begitu senang karena ia berhasil menyuapi Renjun sampai suapan terakhir sebelum mengembalikan nampannya kembali ke nakas samping tempat tidur mereka. Jaemin duduk pada posisi sebelumnya dan menatap Renjun dengan lekat. “Bisakah kamu berjanji padaku?”

 

Renjun yang baru saja merasa sedikit lebih baik bingung mendengar pertanyaan Jaemin. “Maksudmu?”

 

“Perhatikan tubuhmu lebih baik. Aku tidak ingin melihatmu kesakitan seperti ini lagi, Renjun-ah.” Pinta Jaemin dengan nada memohon. Renjun menatap kedua mata pria itu– mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia ketahui. Ia langsung memalingkan wajahnya, menatap sesuatu yang menarik– seperti bayangan tubuh mereka yang terpantul di televisi yang tidak dinyalakan. 

 

Renjun ingin membalas, tapi aku begini juga karenamu, Jaemin, namun hati kecilnya menolak. Semakin lama ia menyalahkan orang lain– suaminya sendiri, ketenangan hati Renjun juga semakin sulit untuk diraih. Ia lebih baik mengalah. “Aku akan mencobanya. Maaf telah merepotkanmu.”

 

“Bukan seperti itu jawaban yang aku inginkan.” Sergah Jaemin. Renjun kembali menoleh pada pria itu, raut bingung semakin jelas terlihat di wajahnya. “Bukankah kamu marah padaku? Katakan itu, Renjun. Keluarkan dari mulutmu. Marahi aku!” Nada bicara Jaemin semakin naik, terlihat sekali ia juga menyimpan rasa bersalah.

 

Renjun meremas selimut yang menutupi setengah tubuhnya itu. “Tidak, Jaemin. Ini kelalaianku sendiri, tidak ada hubungannya denganmu.”

 

“Renjun, please.” Jaemin kembali memohon. “Aku membatalkan janji yang aku buat sendiri. Kamu pantas marah padaku, Renjun. Jangan seperti ini.”

 

“Lantas kamu ingin berbuat apa?” Suara Renjun mulai bergetar lagi. “Demi Tuhan, Jaemin. Aku baru saja merasa lebih baik– dan itu juga berkat kamu. Bisakah kita tidak membicarakan ini?”

 

“Tapi–”

 

Renjun kembali memotongnya. “Berhenti merasa bersalah. Ini kesalahanku karena makan tidak teratur. Itu saja. Sebenarnya aku juga bisa makan tanpa menunggumu pulang, tapi karena merasa baik-baik saja aku melewati jam makanku dan berakhir seperti ini.” Jaemin terdiam. Renjun enggan untuk melihat ke arahnya karena tidak ingin mengetahui ekspresi apa yang diberikan Jaemin padanya. Ia memejamkan matanya pelan sebelum melanjutkan perkataannya. “Ini akan yang menjadi terakhir kalinya. Selanjutnya aku akan memperhatikan waktu makanku dan tidak akan merepotkanmu lagi.”

 

“Demi Tuhan, Renjun, bukan itu yang aku maksud–”

 

“Istirahatlah. Besok kamu perlu ke kantor untuk mengecek pekerjaanmu yang menumpuk hari ini, kan?” Renjun kembali mematahkan kalimat Jaemin dengan nada final– tidak ada argumen lagi yang bisa diucapkan oleh pria itu. 

 

Hening. Renjun masih menatap layar televisinya dan menangkap Jaemin menatap dirinya selama beberapa detik. Jaemin memecahkan keheningan itu dengan mengacak rambutnya dengan gusar, lalu beranjak turun dari tempat tidur. Tanpa sepatah kata, ia mengangkat nampan berisi mangkuk dan gelas milik Renjun tadi dan meninggalkan kamar mereka. 

 

Untuk pertama kalinya, malam itu, Renjun yang terlelap terlebih dulu di tempat tidur mereka setelah satu jam percakapan mereka Jaemin tidak kembali ke kamar. Pria itu kembali dengan pakaian yang berbeda– karena dalam satu hari itu juga ia hanya mengkhawatirkan Renjun yang sakit dan tidak melakukan apa-apa selain memasak untuk Renjun. Kedua langkah kakinya terhenti saat memasuki kamar mereka– memperhatikan tubuh Renjun naik-turun dengan ritme konstan. Pria itu sudah terlelap, dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya– hanya menunjukkan setengah wajahnya. Jaemin menutup pintu kamar mereka dengan pelan, sebelum menghampiri Renjun dan berlutut di dekat pria yang sedang terlelap itu.

 

Kedua kelopak matanya masih terlihat sedikit bengkak– Jaemin yakin karena pria itu menangis semalaman karena kecewa ia tidak mengabarkan apapun pada Renjun. Jaemin juga baru tersadar, pria itu tidak mengganti pakaiannya seharian. Bibirnya dengan sendirinya tersenyum kecil. Jaemin yakin pria itu begitu lelah dengan pertengkaran mereka hari ini sampai tidak memikirkan dirinya sendiri. Rambutnya juga lepek pada bagian depan. Jaemin bisa membayangkan Renjun menahan sakit pada bagian perutnya tadi siang sewaktu ia masih berada di ruang studi dan enggan untuk keluar. Jaemin menggeleng kepalanya pelan. Baik dirinya maupun Renjun itu memang memiliki sifat keras kepala– tapi Jaemin berharap sifat mereka itu bisa berkurang disaat seperti ini. 

 

Jaemin mengangkat tangannya– ingin mengelus kepala pria itu sebelum meletakkannya di atas selimut yang menutup tubuhnya. “Aku minta maaf, Renjunnie.” Bisik Jaemin pelan. “Aku benar-benar minta maaf.” Ia menatap Renjun sejenak sebelum menepuk selimutnya kemudian beranjak untuk beristirahat juga di sebelah pria itu. 

 

Begitu saja– dua hari Renjun dan Jaemin yang dipenuhi ketegangan, ditutup dengan keduanya yang bersikap seperti semula. Seperti tidak ada apa-apa. 

 

Renjun– yang begitu pemaaf, sangat mudah membukakan pintu maaf pada mereka yang sebenarnya layak berlutut dan memohon ampun dengan kesalahannya yang diulang lagi dan lagi. Bertemu (atau dipertemukan?) dengan Jaemin yang masih belum sadar akan kebaikan hati pria yang berada di sampingnya.

 

*

 

Semenjak kejadian itu, satu minggu kemudian, baik Renjun maupun Jaemin bersikap seperti sedia kala. Tidak ada yang menyinggung hari itu ataupun membuka pembicaraan terlebih dulu mengenai pertikaian mereka kala itu. Kegiatan mereka juga masih berjalan seperti biasa– Jaemin bangun di pagi hari dan bersiap untuk berangkat ke kantor, diikuti oleh Renjun yang membantunya membuat sarapan pagi. Terkadang, Renjun juga ikut duduk di meja makan untuk menikmati makan paginya atau hanya sekadar menemani Jaemin dengan secangkir kopinya. Terkadang Renjun juga ditinggal pergi oleh Jaemin karena pria itu masih terlelap dan tidak ingin mengganggu kenyamanan tidurnya. Saat malam hari pun Renjun masih menunggu Jaemin– meskipun Jaemin sudah mengirimi pesan terlebih dahulu padanya jika ia pulang larut. Jaemin biasanya akan disambut dengan Renjun yang tertidur di sofa ketika ia sampai di rumah, atau pria itu yang masih asik menyiapkan makan malam di dapur. 

 

Tentu saja keduanya tidak saling diam. Interaksi mereka diselingi obrolan ringan– ataupun canda gurau satu sama lain. Keduanya bersikap seperti biasa, layaknya tidak pernah terjadi sesuatu pada malam itu. Memang tidak ada yang terjadi, pikiran Renjun berbicara. Jangan bohongi dirimu sendiri, hati kecilnya menyahut. Melakukan hal ini membuat Renjun merasa berjalan di atas es tipis yang kapan saja bisa retak. Lebih parahnya lagi, ia tidak bisa berpegangan pada apapun karena retakan itu akan menjatuhkan lalu menenggelamkannya. Dingin. Tidak bisa bernafas. Sulit mendapat pertolongan dari orang lain. 

 

"Kenapa melamun seperti itu? Apa kamu mendengarkan pertanyaanku tadi?" 

 

Mendengar suara Jaemin lalu diikuti decakan pelan membuat Renjun tersadar. Roti panggang yang sudah digigit olehnya kemudian ia kunyah, lalu tersenyum kecil saat Jaemin memperhatikannya tidak suka. "Maaf. Tiba-tiba saja aku mengingat tenggat waktu pengiriman naskahku." Renjun terkekeh canggung. "Kamu tanya apa tadi?" 

 

Menyeruput kopinya lagi, Jaemin lalu meletakkan cangkir itu di atas meja sebelum berbicara kembali. "Ibu akan berkunjung minggu ini." Mendengar Ibu mertuanya akan berkunjung, Renjun kembali fokus dan mendengarkan perkataan Jaemin selanjutnya. "Ibu bilang tidak menginap, hanya mampir sebentar ke rumah. Kalau kamu keberatan, tidak apa-apa, Jun. Nanti aku bilang ke Ibu kalau kita sedang ada dinas luar kota." 

 

Ibu Na– mertua Renjun yang jarang ia temui tanpa didampingi Jaemin. Kapanpun ada beliau, Renjun pasti bersama Jaemin. Acara keluarga Na, perkumpulan kedua keluarga Huang dan Na, makan bersama setiap sekali sebulan– Renjun tidak pernah bertemu dengan Ibu Na dalam kondisi sendirian. Ibu Na merupakan sosok wanita yang elegan– tutur bicaranya runut, lembut, namun tetap berwibawa. Tiap pertemuan keluarga dan Renjun bertemu dengan Ibu Na, ia otomatis menjadi pria yang begitu sopan dan juga mengikuti pembawaannya. Satu hal yang Renjun sulit taklukan saat berbicara dengan ibu mertuanya itu adalah– tatapannya yang bisa menembus relung paling dalam miliknya. Renjun juga sulit mendeskripsikannya– hanya saja, setiap ia mengobrol dengan Ibu Na, terlebih mengenai pernikahan mereka, degup jantung Renjun berirama lebih cepat dari biasanya dan ia menjadi sangat berhati-hati agar tidak salah berbicara. Selain itu, terlalu lama berbincang dengan Ibu Na terkadang membuat Renjun takut kebohongannya terbongkar. 

 

"Kamu juga di rumah?" Tanya Renjun memastikan. 

 

Jaemin terlihat berpikir sebentar. "Aku tidak bisa memastikan. Aku sudah cerita kemungkinan aku akan keluar kota minggu depan." 

 

Renjun menghela nafasnya pelan. "Bisa kabari aku dulu hari pastinya kamu keluar kota?" 

 

"Tentu." Jaemin langsung mengangguk. "Kalau kamu tidak nyaman, aku bilang saja pada Ibu tidak perlu kesini. Tidak apa-apa, Jun." 

 

Renjun menggeleng. "Aku hanya perlu tau jadwal pastimu keluar kota. Lalu, beritahu aku waktu kedatangan Ibu, ya." 

 

"Benar tidak apa-apa?" 

 

"Iya." Renjun menjawab dengan tegas. "Lagipula, aku yakin Ibu hanya ingin memastikan 'keadaan' kita karena waktu itu kita belum berada di satu kamar yang sama." 

 

(Pernikahan telah dilangsungkan– baik Renjun maupun Jaemin sama-sama memasang topeng terbaik mereka dalam menyapa tamu undangan. Senyum selalu merekah di kedua bibirnya, menjabat tangan para tamu yang memberi ucapan selamat lalu bercengkrama dalam beberapa waktu. Renjun mengapit lengan Jaemin– yang termasuk dalam sandiwara mereka juga, agar meyakinkan para tamu undangan (dan terpenting, dirinya sendiri) jika mereka sudah sah menjadi pasangan suami. Kedua orang tua mereka pun terlihat bahagia– terlebih Mama Huang yang sangat menantikan putra semata wayangnya itu berdiri di atas altar dengan pasangan pilihannya (yang Mama Huang tidak tau asal usul sebenarnya dari acara ini). Ibu Na juga tidak hentinya memperlihatkan senyumannya– seperti bangga jika anak laki-lakinya itu akhirnya menikah. 

 

Selesai menjamu para tamu dan juga keluarga serta kerabat yang datang di acara mereka, Renjun dan Jaemin pamit terlebih dahulu karena perlu mengurus beberapa hal dan mengikuti arahan panitia pernikahan yang telah membantunya. Jarak tempat acara dan hotel tempat mereka bersiap-siap tidak jauh– namun masih perlu menggunakan mobil untuk menjangkaunya. Ibu Na dan Mama Huang saling menatap haru ketika anak-anak mereka memasuki mobil dan harus berpisah. Begitu juga sahabat Renjun– Jeno dan Yangyang, ikut hadir disana. Manik mata Renjun menangkap gerak-gerik Yangyang yang diartikan– selamat menempuh hidup baru, Renjunnie! Bahagialah selalu dengan status barumu dan jangan lupakan kami! Renjun memutar bola matanya malas dan melambaikan tangannya pada kerabat terdekatnya itu. 

 

Dalam perjalanan ke hotel– mereka tidak hanya berdua, melainkan satu panitia dan supir masih mendampingi mereka, Renjun perlahan melepaskan lengan Jaemin dan bergeser dari posisinya. Sedikit menjauh dari pria itu. Renjun melirik ke sampingnya dan memperhatikan Jaemin yang tidak ambil pusing dengan sikapnya, melainkan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan menghela nafasnya panjang. 

 

"Energiku habis. Aku tidak menyangka acara pernikahan itu ternyata melelahkan." Keluh Jaemin dengan posisi yang sama, kini dengan kedua mata yang tertutup. 

 

Renjun mengangguk setuju. "Padahal kita sudah meminta bantuan Key Hyung dan tim. Aku tidak bisa membayangkan jika harus mengurusi semuanya sendiri.

 

"Yah. Pada akhirnya, semua selesai juga." Jaemin membuka matanya, lalu menoleh pada Renjun. "Kamu mau langsung istirahat atau bagaimana?

 

"Oi, oi, oi!" Key Hyung, kepala panitia acara pernikahannya tiba-tiba menyahut. "Aku tau kalian sudah sah, tapi tolong bicarakan hal seperti itu berdua saja. Gosh."

 

Kedua pipi Renjun memerah dengan sendirinya. Ia memukul bantalan kepala kursi yang diduduki oleh Key. "Hyung! Bukan itu maksudnya!" Protes Renjun tidak setuju. Jaemin hanya terkekeh pelan di sebelahnya, lalu ia menatap galak pria yang baru saja menjadi 'suaminya' itu. 

 

"Maaf, hyung. Aku hanya tidak sabar sampai di rumah." Ujar Jaemin lagi, semakin menggoda Renjun yang kedua pipinya sudah menjadi tomat matang di sebelahnya. 

 

"Na Jaemin!

 

"Ew. Tahanlah sedikit lagi, pasangan muda." Balas Key sambil menoleh ke arah mereka dan tersenyum penuh arti– ditambah dengan tawa pelan supir mereka yang ikut mendengarkan perbincangan tadi. 

 

Renjun menggembungkan kedua pipinya dan meniup rambutnya gusar. Sebaliknya, Jaemin hanya tertawa renyah dan membuka perbincangan dengan Key dan Tuan Kim– supir mereka saat itu. Tidak terasa, mereka sampai di hotel tempat mereka bersiap sebelum acara pernikahan dilaksanakan. Setelah mengganti pakaian dan berkoordinasi dengan panitia lain yang ada disana, Jaemin dan Renjun– dengan koper yang digeret masing-masing, berada di mobil kembali menuju rumah yang akan mereka tempati. 

 

Rumah yang akan mereka tempati adalah pemberian dari Mama Huang dan juga Ibu Na– hadiah karena akhirnya kedua 'bujang' mereka bisa dipersatukan dalam pernikahan. Rumah itu masih cukup kosong, belum banyak furnitur atau dekorasi yang dipasang di dinding bangunan itu. Rumah satu lantai dengan dua kamar tidur itu akan menjadi tempat singgah bagi keduanya– tempat pulang bagi Renjun dan juga Jaemin. 

 

Tiba di kediaman baru mereka, Tuan Kim memberi salam hormat pada mereka berdua– lalu Renjun memeluk pria itu karena telah membantunya dengan baik. Key yang tadinya banyak diam saat perjalanan kesini, akhirnya meneteskan air mata dan memeluk pasangan baru itu dengan erat. "Selamat untuk kalian berdua. Sebuah penghormatan bagiku bisa membantu acara pernikahan ini." Ucap Key sambil menahan tangisnya. "Tugasku sekarang sudah selesai. Silahkan nikmati status baru kalian!" Tambahnya, lalu menepuk punggung Jaemin dengan kuat lalu melepas pelukannya. 

 

"Jaemin, aku izin untuk memeluk pria kecil ini terakhir kali." Pinta Key pada Jaemin– dan raut wajah pria itu sulit untuk dibaca. 

 

"Hyung! Berhenti memanggilku seperti itu! Aish." Protes Renjun tidak terima.

 

Key hanya tertawa, lalu setelah mendapat anggukan kecil dari Jaemin, Key memeluk erat Renjun. "Pria kecilku ternyata sudah besar. Siapa yang tahu ternyata kamu menikah secepat ini?" 

 

Renjun yang berada dalam pelukan Key hanya tersenyum lemah. Selain Jeno dan juga Yangyang– pria ini juga sedikit mengetahui asal usul pernikahannya dengan Jaemin. Tidak secara rinci, namun Renjun memang bercerita jika pernikahannya ini tidak dilandaskan perasaan saling menyukai. "Kamu sudah dewasa. Aku yakin kamu mengerti konsekuensinya setiap keputusan yang kamu ambil." Renjun mengangguk pelan, mengisyaratkan jika ia masih mendengarkan. "Jangan lupa bahagia, ya? Kamu juga memiliki perasaan, Renjun.

 

Entah mengapa, kalimat yang baru saja diucapkan oleh Key membuat hatinya luluh. Ia tidak bisa menahannya dan terisak– membuat Key memeluknya lebih erat lagi dan menepuk-nepuk bahunya untuk menenangkan. Jaemin yang berdiri sedikit berjauhan dari mereka– memberi keduanya privasi untuk berbicara, langsung mengambil langkah melihat badan Renjun sedikit terguncang. 

 

"Hyung, kenapa..

 

Key memotongnya. "Sedikit petuah yang membuatnya berpikir dua kali karena menikahimu."

 

Jaemin terlihat terkejut mendengar pernyataan itu. Renjun menarik dirinya dari pelukan Key dan langsung melirik Jaemin yang tiba-tiba terdiam. Renjun melotot ke arah Key dan memukul bahunya. "Jangan mengada-ada. Kamu hanya iri karena aku sekarang sudah melepas status lajangku." 

 

Mendekatkan posisinya lagi dengan Jaemin, Renjun kembali mengapit lengan pria itu. "Jangan dengarkan dia. Key Hyung itu pembual ulung.

 

"Ya! Huang Renjun!

 

Renjun bersembunyi dibalik tubuh Jaemin dan membuat Key mendengus sebal sebelum melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya tajam, diarahkan pada Jaemin yang masih berdiri canggung disana karena tidak tahu harus berbuat apa melihat interaksi keduanya. Klakson mobil berbunyi, menandakan Tuan Kim sudah dipanggil kembali untuk ke hotel dan menyelesaikan urusan mereka disana. Mendengar tanda itu, Key kembali berbicara dengan nada serius. "Aku titip Renjun padamu, Jaemin. Perselisihan dan argumen pasti ada, tapi jangan lupa untuk saling meminta maaf, ya? Turunkan ego kalian masing-masing jika tidak ingin menyakiti satu sama lain.

 

Jaemin mengangguk pelan, diikuti Renjun melakukan hal yang sama dan tersenyum kecil. "Sekali lagi terima kasih, Key Hyung.

 

Key mengangguk sebelum meremas pundak Jaemin, lalu menepuk kepala Renjun sebelum melangkahkan kakinya menuju mobil yang menunggunya. Renjun melambaikan tangannya dari posisinya dan Jaemin membungkuk hormat pada mobil yang baru saja mengantar mereka. 

 

Suasana kembali sunyi. Renjun melepaskan tangannya lagi lalu memegang gagang kopernya dengan erat. " Jadi… sekarang kita masuk?

 

Jaemin mengangguk, lalu memasukkan sandi kunci rumah mereka dan membuka pintunya. Jaemin mempersilakan Renjun masuk terlebih dulu lalu ia mengikutinya di belakang. Kondisinya masih kosong, kotak-kotak kardus besar berisi barang-barang keduanya masih berantakan di atas lantai. Renjun menyeret kopernya lagi, lalu berjalan menuju pintu yang menurutnya adalah kamar tidur. Jaemin juga mengikutinya, lalu saat melihat terdapat dua pintu kamar, ia memilih berbelok dan memegang gagang pintu yang berbeda dari Renjun. "Biarkan saja barang-barang kita masih belum dibereskan. Istirahatlah dulu, Renjun-ah.

 

Renjun mengangguk ragu. "Kamu juga. Terima kasih banyak untuk hari ini, Jaemin." 

 

Kedua mata Jaemin menatap Renjun sejenak– yang tidak berani dilihat oleh Renjun. Ia mengangguk pelan, sebelum membuka pintunya dan memasuki kamar tidurnya. Sebenarnya tidak ada perjanjian tertulis yang menyatakan peraturan 'kamar tidur' mereka. Hanya saja, Renjun menyadari jika akan lebih baik jika keduanya tidur dalam kamar yang terpisah. Ia bisa lebih menghargai Jaemin yang terpaksa mengikuti pernikahan dengannya, dan juga melindungi hatinya sendiri agar tidak mengembangkan perasaannya lebih jauh pada pria tinggi berambut hitam itu. 

 

Keseharian mereka dilalui dengan canggung dan kikuk– saat pagi hari Renjun sudah berada di dapur rumah mereka untuk membuat segelas teh hangat, ia akan tersenyum kaku pada Jaemin dan berbasa-basi menanyakan ingin dibuatkan sesuatu atau tidak. Lalu hari berikutnya Renjun dibuat salah tingkah oleh Jaemin yang baru saja selesai mandi dan telah mengenakan kaos hitam dan celana pendeknya (juga rambutnya yang masih basah), keluar kamarnya dan ingin mengambil sesuatu di ruang tengah. Besoknya lagi Renjun yang sedang makan malam sendirian di meja makan terkejut saat Jaemin pulang dengan bungkusan makanan yang dibeli olehnya. Jaemin tersenyum kikuk, menawarkan makanannya itu untuk makan bersama. Sejujurnya Renjun sudah hampir menyelesaikan makan malamnya– namun, karena Jaemin sudah membawakannya, ia kembali memakannya bersama pria itu di satu meja yang sama. 

 

"Sadarkah kamu jika ini makan malam 'bersama' kita untuk pertama kalinya?" Renjun bertanya pelan, mengaduk jajangmyeon di mangkuknya itu secara acak. 

 

Jaemin mengangguk, lalu melahap makanan pendamping lain yang ada di meja mereka. "Ini juga kebetulan, bukan? Biasanya aku yang belum pulang, atau kamu yang sudah tidur. Mau dengar ceritanya tidak?" Renjun mengangguk antusias. Meletakkan sumpitnya di pinggir mangkuk. "Aku tidak pandai dalam mengingat hari penting dalam hidupku. Ulang tahun Ibu saja terkadang aku bisa meleset." Renjun tersenyum kecil. "Tiba-tiba saja aku teringat, 'sepertinya aku dan Renjun belum pernah makan bersama setelah acara itu'. Lalu, aku berharap dalam hati 'semoga hari ini waktu berpihak padaku'. Aku membeli dua porsi jajangmyeon dan makanan ringan lainnya, berharap malam ini bisa makan malam denganmu." 

 

"Dan harapanmu terkabul." Renjun menutup penjelasan Jaemin dengan senyuman kecil di bibirnya. 

 

"Betul sekali." Jaemin ikut tersenyum. "Ternyata memang menyenangkan bisa saling bercerita seperti ini, ya." 

 

"Aku rasa ini baru sedikit dari apa yang mereka cari dalam pernikahan." Renjun berkomentar. "Teman bercerita seumur hidup, tempat singgah di waktu lelah." 

 

Jaemin berdecak kagum. "Memang tidak salah kamu menjadi seorang penulis. Perkataanmu barusan puitis sekali." 

 

Pencahayaan di meja makan mereka malam itu tidak seterang biasanya. Renjun bersyukur dengan hal itu karena ia yakin pipinya kembali memerah. "Bicara apa kamu, sih? Biasa saja, kok.

 

"Jika ada kesempatan, aku ingin membaca karya-karyamu. Aku yakin semuanya bagus." Ujar Jaemin dengan yakin. Lalu, ia menambahkan. "Maaf karena aku tidak tahu sebelumnya jika kamu itu seorang penulis.

 

"Tidak masalah." Renjun menanggapi dengan santai. "Aku menulis untuk kesenanganku sendiri. Kalau ada orang yang menyukainya, bagiku itu sebuah bonus.

 

"Rendah hati dan juga tidak sombong. Aku ragu, apa benar tidak ada orang yang menyukaimu sampai saat ini?

 

Renjun tersedak– lalu segera mengambil segelas air minum dan meminumnya dengan tergesa. Jaemin terkekeh pelan dan Renjun melotot ke arahnya. Bisa-bisanya pria itu tertawa?! 

 

Obrolan keduanya berlanjut dan mengalir begitu saja. Setelah selesai makan, Jaemin merapikan peralatan mereka dan melarang Renjun untuk mencucinya karena malam ini adalah tugasnya untuk mencuci piring. Renjun menurut dan menunggu pria itu menyelesaikan tugasnya, lalu berjalan berdampingan menuju kamar mereka– lebih tepatnya, kamar masing-masing.

 

"Istirahatlah, Renjun. Selamat malam." Ucap Jaemin terlebih dahulu saat keduanya tiba di depan pintu kamarnya. 

 

Renjun mengangguk pelan. "Kamu juga, Jaemin. Sampai bertemu besok pagi." Ia tersenyum– yang juga dilakukan oleh Jaemin, sebelum keduanya masuk ke kamar dan menutup hari itu dengan suasana hati yang begitu tenang. 

 

Tidak ada yang menyangka, malam yang begitu tenang dan hangat untuk Renjun, tiba-tiba berubah menjadi kekacauan saat keesokan paginya Ibu Na sudah berada di depan rumah mereka, tanpa memberi pesan terlebih dahulu. 

 

Renjun mengetuk pintu kamar Jaemin dengan sedikit tergesa. "Jaemin! Jaemin! Bangunlah! Ini gawat sekali!

 

Menggaruk-garukkan kepalanya dengan kondisi wajah yang masih mengantuk, Jaemin membuka pintu dengan ekspresi malas. "Ada apa, Renjun-ah? Siapa yang bertamu pagi ini?

 

"Ibu! Ibu sudah ada dibalik pintu itu!" Jawab Renjun terburu-buru. 

 

Masih dalam kondisi baru bangun tidur, Jaemin belum mengerti maksud dari pernyataan Renjun. "Lalu kenapa? Bukakan saja pintunya." 

 

Renjun refleks memukul lengan pria itu. "Kamu gila?! Dengan situasi kita tidur di kamar yang berbeda? Bagaimana jika Ibu menginap?!

 

Suara bel terdengar lagi, diikuti suara Ibu Na yang berbicara melalui intercom. "Jaeminnie, Renjunnie, ini Ibu. Apa kalian belum bangun?

 

"Tidak ada masalah kalau Ibu menginap, kan?" Tanya Jaemin dengan polosnya. 

 

Demi Tuhan. Rasanya Renjun ingin memukul kepala pria itu karena masih belum mengerti situasi mereka sekarang. "Jaemin! Kita itu sudah menikah! Sekarang Ibu ada di depan dan kita tidur di kamar yang berbeda!

 

Seakan tersadar dengan fakta itu, Jaemin membulatkan matanya dan langsung memindahkan barang-barangnya ke kamar Renjun. Tidak semuanya– hanya beberapa seperti selimutnya, bantal, juga tas kerjanya yang sebenarnya tidak membuat kamar Renjun akan terlihat seperti ruangan yang ditempati mereka berdua. 

 

"Ya! Untuk apa kamu memindahkan selimutmu!" Renjun mengacak rambutnya gusar, lalu membiarkannya saja karena sudah tidak ada waktu untuk memusingkan hal itu. Bel berbunyi lagi dan Renjun memberi isyarat pada Jaemin ia akan membuka pintunya. 

 

Renjun mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum membukakan pintu rumahnya. "Ibu! Maaf tadi aku dari kamar mandi. Silakan masuk, Bu."

 

Ibu Na tersenyum penuh arti. "Ibu kira kalian mengatur kamar kalian dulu sebelum membukakan pintu." Renjun tertawa canggung mendengarnya, tebakan Ibu Na memiliki maksud tertentu yang tidak dihiraukan olehnya. "Jaemin mana?

 

Pria yang baru saja dicari muncul dengan kekehan pelan dari kamar Renjun– dan ia segera menutup pintunya. "Ibu, hai!" Sapanya (berpura-pura) antusias. "Kenapa tidak menelponku terlebih dulu?

 

Ibu Na memberikan tumpukan kotak makanan yang ia bawa pada Renjun dan berjalan masuk ke ruang tengah. "Maaf, Jaeminnie. Kegiatan Ibu banyak sekali kemarin jadi lupa mengabari kamu. Tidak apa-apa, kan?

 

Jaemin menghela nafasnya pelan. Renjun kini yang bersuara. "Tidak apa, Bu. Jaemin hanya cemas, rumah kami masih berantakan dan akan membuat Ibu tidak nyaman jika berkunjung.

 

"Begitukah?" Jaemin mengangguk setuju. "Baiklah, Ibu minta maaf, ya? Lagipula Ibu hanya berkunjung sebentar untuk mengantar makanan untuk kalian. Setelah ini Ibu masih perlu ke yayasan untuk bertemu para donatur disana.

 

"Makanlah bersama kami." Tawar Renjun sambil memberikan segelas cangkir teh hangat di hadapannya. Ia kemudian beranjak ke meja makan dan menata makanan yang telah dibawa oleh Ibu Na. "Ini banyak sekali. Akan sulit jika dihabiskan hanya berdua." 

 

Ibu Na menggeleng. "Terima kasih, Junnie." Panggilan kesayangan Ibu Na pada Renjun. "Tapi, Ibu memang terburu-buru. Ibu yakin ponsel Ibu sekarang sudah banyak pesan masuk menanyakan Ibu dimana." 

 

Renjun terkekeh pelan. Jaemin menyahut setelahnya. "Ibu naik apa kesini?

 

"Naik bus.

 

"Ke Yayasan berikutnya?

 

"Bus juga. Lagipula tempatnya dekat, kok." 

 

"Tidak boleh." Renjun tiba-tiba protes. "Jaemin, mandi dan setelahnya antar Ibu." 

 

Jaemin mengerutkan dahinya. "Kenapa aku?

 

"Pertanyaan macam apa itu, Jaemin?" Renjun berdecak tidak suka, kedua tangan di pinggangnya. "Mandi. Lalu antar Ibu ke yayasan." 

 

Keduanya saling berdebat dengan kedua mata mereka, sebelum Jaemin mengangguk pasrah dan melangkahkan kakinya ke kamar Jaemin– kamar aslinya. Renjun membulatkan matanya– ingin meneriaki Jaemin karena harusnya ia masuk ke kamar Renjun untuk melanjutkan sandiwara mereka, namun diurungkan karena pria itu sudah terlanjur ke dalam dan tidak bisa mendengarnya lagi. 

 

"Bukannya tadi Jaemin keluar dari kamar yang itu?" Tanya Ibu Na setelah ikut memperhatikan interaksi Renjun dan Jaemin.

 

Gawat, pikir Renjun dalam hati. "Uh. Iya. Kamar mandi di kamar kami sedang bermasalah, jadi dia mandi di kamar satunya." Jawab Renjun dengan cepat, sama dengan irama jantungnya yang mulai berdetak cepat karena berbohong. 

 

Ibu Na hanya menangguk, lalu beranjak dari kursi di ruang tengah untuk duduk di ruang makan berhadapan dengan Renjun. "Junnie. Bagaimana kabarmu?

 

Renjun terkejut dengan pertanyaan Ibu Na. "Aku baik, Bu. Ibu sendiri sehat juga, kan? Maaf belum bisa berkunjung ke Jeonju.

 

"Tidak apa-apa, sayang. Ibu mengerti jika kalian sibuk. Mama Huang bagaimana? Beliau juga sehat, kan?

 

Mama Huang– Ibu dari Renjun yang memang menetap di negeri seberang dan kembali ke negara asalnya lagi setelah acara pernikahannya selesai. "Mama juga baik. Mama bilang ingin sekali kesini untuk bertemu dengan keluarga yang lain. Sayangnya belum bisa karena toko belum bisa ditinggal.

 

Ibu Na mengangguk mengerti. "Ibu akan menelponnya nanti. Ibu juga rindu dengan celotehan Mama Huang." Renjun terkekeh mendengarnya. "Kamu sendiri bagaimana? Pernikahan kalian sejauh ini baik-baik saja?

 

Renjun langsung menyelam dalam pikirannya saat ditanya pertanyaan demikian. 

 

Jika dibilang baik-baik saja, jawabannya tidak juga– karena sejauh ini mereka tidak pernah melewati apa yang namanya perselisihan dalam berumah tangga. Keduanya hanya sibuk dalam dunia masing-masing. 

 

Lalu, jika dibilang tidak baik-baik saja, jawabannya juga tidak. Keduanya menjalani keseharian mereka dengan tenang– tanpa ada yang saling protes satu sama lain. Mereka saling menghargai batas masing-masing, tanpa perlu diingatkan berkali-kali. 

 

Jadi, jawaban apa yang harus Renjun berikan? 

 

"Junnie?" 

 

"Kami masih saling mengenal satu sama lain." Ekspresi wajah Ibu Na membuat Renjun berpikir lagi untuk menjelaskan kalimatnya. "Berada dalam satu rumah dan bertemu orang yang sama setiap harinya tentu saja perlu penyesuaian. Baik aku dan Jaemin masih saling beradaptasi dengan hal itu– dengan kebiasaan masing-masing, Bu." 

 

Ibu Na mengangguk. "Ibu harap Jaemin tidak terlalu merepotkanmu, ya? Karena Ibu sangat paham anak itu terkadang sangat ceroboh dengan hal-hal di sekitarnya. Termasuk dirinya sendiri, kalau Ibu boleh menambahkan." Wanita berusia 50-an itu tertawa setelahnya. 

 

Renjun tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak sama sekali, Bu. Justru kebalikannya, aku yang sering merepotkan dia."

 

"Bagus. Biar anak itu juga belajar menolong orang lain tanpa perlu diminta. Tingkat kepekaannya itu sangat kecil. Sedikit menyebalkan, bukan?

 

Tawa renyah Renjun mengisi percakapan mereka. "Biarpun begitu dia juga anaknya Ibu, dan sudah berkepala 3, kalau Ibu lupa." Ibu Na ikut tertawa setelahnya. 

 

Percakapan mereka terpotong saat Jaemin keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap dan sudah rapi untuk berangkat. Renjun melihat ke arah Ibu Na yang sudah menyipitkan matanya karena keanehan lainnya yang ia saksikan sendiri pagi ini di kediaman mereka. "Bajumu memang ada di kamar tamu?

 

Jaemin terperanjat. "Oh– itu– ini bajuku yang semalam. Aku meninggalkannya semalam setelah mandi disini. Aku baru saja ingin menggantinya di kamar sebelah." 

 

Renjun menepuk dahinya pelan. Tentu saja di kamar Renjun tidak memiliki sehelai pun pakaian milik Jaemin. Ia harus menengahi ini agar pembicaraannya tidak kemana-mana. "Kamu hanya mengantar Ibu ke yayasan, kan?" Jaemin mengangguk. "Kalau begitu, tidak masalah kalau pakai baju itu? Lagipula, kamu juga tidak keluar mobil." Jaemin mengangguk lagi, kini lebih kuat. 

 

Ia kini beralih pada Ibu Na. "Tidak masalah kan, Bu? Jaemin juga masih terlihat tampan, kok.

 

Renjun terdiam– menyadari ucapannya barusan yang sangat spontan keluar dari mulutnya. Ia melirik ke arah Jaemin yang sudah menyunggingkan bibirnya. Ibu Na memecah keheningan mereka dengan tawa renyahnya. "Ya ampun! Apa ini? Aku melihat sendiri anak-anakku yang berusia 30-an saling menggoda di depan mataku sendiri? Astaga!

 

Malu karena mendengar komentar Ibu Na, Renjun melahap satu buah tomat ceri ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan cepat. Ia yakin wajahnya sudah merah– ditambah dengan Jaemin yang berjalan ke arahnya dengan muka jahil menyebalkannya itu. Renjun berpura-pura menyibukkan dirinya membuat gulungan selada dengan daging di dalamnya. 

 

Saat sudah di sebelah Renjun, Jaemin berbisik pelan di telinganya. "Jadi, aku ini tampan, ya?

 

Renjun langsung memasukkan gulungan selada itu ke dalam mulut Jaemin dan mendorong pria itu menjauh. "Ambil kunci mobilmu dan segera antar Ibu! Aish.

 

Jaemin tertawa dengan mulutnya yang penuh gulungan selada itu, namun menuruti perkataan Renjun dan segera mencari kunci mobilnya. Ibu Na tertawa lagi, lalu beranjak dari kursinya dan mendekat ke Renjun. "Ibu harap kalian akan selalu seperti ini selamanya. Pertengkaran pasti ada, tapi jangan lupa kebahagiaan kecil yang kalian dapatkan hanya dengan kegiatan seperti ini, ya?

 

"Dan, Renjunnie. Jangan simpan semuanya sendirian. Kamu punya Mama, Ibu, juga sahabat dekatmu yang sayang denganmu." Raut wajah Renjun tercetak jelas bingung dengan apa yang Ibu Na katakan. Hatinya tiba-tiba sesak. Naluri seorang Ibu memang kuat, meskipun Renjun tidak pernah menceritakan tentang ini pada Ibu Na maupun ibunya sendiri. "Jangan pedulikan omongan orang lain, ya? Pikirkan dirimu sendiri." Renjun mengangguk lemah. Bahunya sudah dielus lembut oleh Ibu Na. "Walaupun Ibu juga berharap, kamu bisa di sisi Jaemin seterusnya. Karena Ibu melihat Jaemin menjadi orang yang berbeda jika bersamamu, dan hal itu menjadi lebih baik.

 

Ibu Na menambahkan. "Tapi, ingatlah. Kalau kamu sudah tidak sanggup menghadapi sifat Jaemin yang tidak cocok denganmu, Ibu hanya berharap kamu bisa mengambil keputusan yang baik untuk dirimu." Wanita itu meremas pundaknya dengan pelan, sebelum menarik Renjun ke dalam pelukannya. "Terima kasih karena telah menjadi pasangan baik untuk Jaemin, Junnie." 

 

Renjun hanya bisa terdiam dan tidak balas memeluk Ibu Na. Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh wanita itu begitu diresapi olehnya, seakan-akan Ibu Na sangat mengerti apa yang sedang dialaminya. Momen keduanya terhenti saat Jaemin keluar dari kamar Renjun dengan kunci mobil di genggamannya. "Wah. Aku baru meninggalkan Renjun sebentar. Lalu ibu membuatnya menangis?

 

"Bukan seperti itu." Sanggah Ibu Na. "Aku hanya memberi sedikit nasehat untuk pernikahan kalian berdua. Benarkan, Junnie?" Renjun mengangguk pelan, beradu pandang dengan Jaemin yang menyiratkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu Na menepuk bahunya lagi sebelum berjalan menuju Jaemin dan mengapit lengan pria itu. "Kalau begitu Ibu pamit. Yayasan sudah menunggu Ibu disana.

 

"Hati-hati di jalan, Bu. Terima kasih untuk makanannya.

 

Ibu Na tersenyum tulus sebelum menarik lengan Jaemin untuk keluar. "Renjun, aku berangkat. Makan saja duluan, ya? Tidak perlu menungguku.

 

Renjun mengangguk dan melambaikan tangannya ke arah ibu dan anak itu. Setelah keduanya tidak terlihat dan pintu sudah tertutup, kedua kaki Renjun mendadak lemas dan ia memegang kursi untuk menopang tubuhnya. Pernikahannya baru saja berjalan dua bulan, namun percakapannya dengan Ibu Na sangat menohok hatinya dan membuatnya berpikir berulang kali apakah keputusannya menikah merupakan keputusan yang benar. 

 

"Bagaimana ini.." Lirih Renjun seorang diri di dalam rumah itu. Hening dan sunyi tanpa ditemani siapapun– selain pikirannya yang sudah mulai bercabang dan menampilkan raut kecewa orang-orang kesayangannya jika mengetahui pernikahan keduanya ini hanya 'kontrak' belaka.)

 

Ucapan Renjun barusan mengingatkan Jaemin tentang Ibu Na yang tiba-tiba datang tanpa ada kabar sama sekali pada Jaemin. Ia mengingat sore harinya, setelah kedatangan Ibu Na, keduanya sepakat untuk tidur dalam satu kamar karena tidak ingin kejadian yang sama terulang. Renjun sedikit-banyak menceritakan gerak-gerik yang menurutnya membuat Ibu Na curiga tentang sandiwara mereka dan Jaemin langsung memindahkan barangnya ke kamar Renjun (yang sekarang sudah menjadi kamar mereka berdua). Awalnya, baik Jaemin dan Renjun sangat canggung berada di dalam kamar yang sama. Terlebih jika berada di akhir pekan dan Jaemin tidak berangkat kerja. Keduanya berbagi ruang di atas tempat tidur mereka di pagi hari, saling menjaga jarak agar tidak melewati batas masing-masing. Seiring berjalannya waktu, karena keduanya juga lelah bekerja setiap harinya (meskipun Renjun banyak bekerja dari rumah), mereka lama-lama terbiasa akan kehadiran satu sama lain di atas tempat tidur dan akan terlelap dengan sendirinya disaat energi mereka sudah habis. 

 

"Kamu benar." Jaemin mengangguk setuju. "Kalau begitu, aku akan menelpon Ibu untuk memastikan kedatangannya." 

 

[...]

 

Satu minggu berlalu, belum ada tanda-tanda Ibu Na mengunjungi rumah mereka. Jaemin juga sudah kembali dari dinas luar kotanya. Renjun sedikit heran saat Jaemin sudah kembali keesokan harinya– padahal sebelumnya pria itu berkata akan bepergian selama tiga hari. 

 

(Renjun mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya. Cuaca kota Seoul sudah mulai mendingin dan ia memakai pakaian yang menurutnya sudah cukup untuk keluar rumah. Tebakannya salah dan seharusnya ia lebih paham tentang dirinya sendiri yang mudah kedinginan setiap suhu di luar kurang bersahabat dengannya. Renjun juga lupa membawa sarung tangan, dan kepalanya tidak ditutup dengan koleksi beanie yang tersimpan manis dalam lemarinya. 

 

Ia baru saja menyelesaikan rapat dengan editornya. Pengerjaan naskah yang belum ada setengah dari keseluruhan cerita itu diminta pihak penerbit untuk menambahkan konflik di tengah cerita. Sejauh yang Renjun telah ketik, memang belum ada tanda-tanda karakter utama mengalami konflik. Ia memang merencanakan perselisihan keduanya akan muncul saat memasuki penghujung cerita. Klise memang, tapi menurutnya, hal itu dilakukan karena kedua karakter belum terganggu dengan dinamika masing-masing– dan belum ada sesuatu yang dapat memicu konflik itu. Pihak penerbit tidak setuju dan berpendapat sebaliknya– pembaca akan bosan jika sampai di tengah cerita alurnya masih monoton seperti ini, Tuan Huang. Bisa dipertimbangkan kembali untuk memasukkan konflik di tengah cerita? Tentu saja kami akan mengulasnya terlebih dulu sebelum menyetujuinya.

 

Renjun membuang nafasnya pelan. Rapat kali ini editornya sedikit berpihak pada penerbit. Ia tidak menyalahkannya– karena tugasnya sebagai editor menjadi pihak yang seobjektif mungkin dalam mengulas cerita yang telah ia tulis. Mungkin mereka ada benarnya, naskah yang telah ia ketik perlu sedikit bumbu konflik dan drama opera di tengah-tengah alurnya. Memikirkan itu saja membuatnya tiba-tiba sakit kepala, berarti berapa lembar yang perlu dirombak untuk memasukkan alur seperti yang mereka minta?

 

Ponsel yang berada di dalam saku jaketnya bergetar. Renjun mengambilnya dan terkejut saat melihat ada nama Jaemin di kotak pemberitahuannya. Bukan cuma satu, melainkan tiga pesan masuk dari pria itu. 

 

From: Na Jaemin

Renjun, kamu dimana?

Apa kamu lagi di kantor penerbit?

Kamu pakai jaket yang hangat, kan? Soalnya cuaca di luar dingin sekali..

 

Renjun mengerutkan dahinya dan menepi dari pedestrian untuk membalas pesan pria itu. Baru saja ia mengetik jawaban untuk Jaemin, pesan terbaru masuk lagi ke dalam kotak pesannya.

 

From: Na Jaemin

sent you a photo.

 

From: Na Jaemin

Aku hanya keluar kota dua hari dan lihat oleh-oleh yang aku bawa 😅 Pegawai disana sangat baik. Mereka membawakan kami berbagai macam makanan yang perlu dicoba oleh pendatang seperti aku. Nanti kita makan bersama, ya?

 

Oh. Oh.

 

Renjun baru sadar, ternyata Jaemin sudah di rumah. Lebih cepat satu hari dari yang ia katakan sebelumnya. Hatinya tiba-tiba berdebar. Walaupun cuma dua hari, rumah mereka terasa asing saat pria itu berada di luar kota. 

 

To: Na Jaemin

 

Iya, aku lagi di kantor penerbit.

Kamu sudah di rumah?

 

From: Na Jaemin

Oh! Maaf, apa aku mengganggumu? 

Iya. Baru saja sampai. 

 

From: Na Jaemin

Kamu masih lama? Jam berapa kamu pulang, Jun? 

 

From: Na Jaemin

Perlu aku jemput?

 

Hati Renjun berdesir. Jarang sekali Jaemin mengirimnya pesan beruntun seperti ini. Ia memencet tombol telepon, dan pria itu langsung menjawabnya di dering pertama.

 

"Renjun-ah? "

 

" Hai, Jaemin. "

 

"Kamu masih di kantor? Sudah selesai? Aku jemput, ya? "

 

Suara pria itu begitu antusias. Renjun tertawa mendengarnya.

 

"Tidak perlu, Jaem. Aku sudah di jalan, kok."

 

"Oh, begitu? Apa aku perlu menjemputmu di halte terdekat? Cuacanya sangat dingin, Jun. Kamu pakai jaket yang hangat, kan?"

 

"Tidak, tidak perlu. Kita bertemu di rumah saja, ya? Tenang saja, jaketku cukup hangat untuk sampai ke rumah."

 

"Hati-hati di jalan, Jun. Teh camomile akan menunggumu di rumah." 

 

"Sungguh baik sekali Tuan Na Jaemin ini. Tapi, bukannya kamu pulang besok? Kenapa sudah sampai di rumah?

 

"Pekerjaannya selesai lebih cepat, dan.. yah, daripada aku disana, lebih baik aku pulang dan menemanimu di rumah, kan?

 

Deg.

 

"Renjunnie? "

 

Deg. Deg. Deg.

 

"Aku jalan lagi, ya? Sampai bertemu di rumah." 

 

Klik. Renjun langsung mematikan sambungan teleponnya dan memeluk ponselnya erat. Rasa hangat memancar di seluruh tubuhnya. Hanya karena pria itu sudah di rumah lebih cepat dari yang ia katakan, dan Jaemin sedang menunggunya di rumah, hati kecil Renjun tidak hentinya bersorak senang. Suasana hatinya seketika membaik– dan untuk sejenak ia melupakan tentang hasil rapat yang baru saja ia datangi tadi. Ia berencana untuk mampir ke restoran makanan China favoritnya, lalu membeli makanan untuk menyambut Jaemin yang sudah ada di rumah. Tidak apa jika bukan ia sendiri yang memasaknya– toh bagi Renjun, yang terpenting adalah kebersamaan yang jarang didapatkan dari seorang Na Jaemin.)

 

Keesokan paginya, saat Renjun dan Jaemin masih sama-sama terlelap di tempat tidur mereka yang nyaman, posisi keduanya kini sudah berubah. Sebelumnya, keduanya akan saling memunggungi– atau Jaemin yang membelakangi Renjun, namun sekarang, setelah kejadian waktu itu, posisi tidur keduanya bisa dibilang lebih 'santai'. Terkadang Renjun terbangun dengan posisi Jaemin yang menghadap ke arahnya, atau keduanya saling telentang dengan tidak ada bantal yang memisahkan keduanya. Pagi ini, anehnya dan untuk pertama kalinya, Renjun tertidur di atas lengan Jaemin dan menghadap ke arah pria itu. Jaemin masih tertidur pulas– sama sekali tidak merasa terganggu dengan tangannya yang menopang kepala Renjun semalaman. 

 

Kedua mata Renjun terbuka, lalu ia dihadapkan dengan wajah Jaemin yang masih menutup matanya dan terlelap. Ia masih belum menyadari posisi mereka saat ini– dan saat Jaemin merubah posisinya menjadi menghadap ke arahnya, Renjun terperanjat, lalu langsung beranjak dan menjauh dari pria itu. 

 

Mendengar kegaduhan dari Renjun, Jaemin mengerang pelan dan membuka matanya. "Renjunnie?" 

 

Sejak kepulangan Jaemin dari dinas luar kotanya, pria itu terus saja memanggil Renjun dengan panggilan barunya– Renjunnie. Ia memang terbiasa mendengar itu, tapi jika sahabatnya yang mengucapkannya, bukan dari mulut Jaemin. Panggilannya itu membuat degup jantung Renjun tidak karuan, dan tidak akan pernah terbiasa mendengar panggilan itu diucapkan langsung oleh Jaemin. 

 

"Hm?" Jawab Renjun sekenanya. Saat ini ia duduk di pinggir tempat tidur, menoleh melalui bahunya dan melihat pria itu melakukan peregangan kecil. 

 

Jaemin menguap dan meringis saat melipat tangannya. "Tanganku kenapa pegal sekali, ya?" 

 

"Mungkin pegal karena kamu membawa oleh-oleh sebanyak itu." Jawab Renjun berbohong– mana mungkin ia dengan lantang menjawab aku tidur di atas lenganmu semalaman, kan? 

 

Jaemin mengangguk setuju, lalu melakukan peregangan lainnya sebelum ponselnya yang ia letakkan di atas nakas bergetar. Keduanya saling beradu pandang, sebelum Jaemin beranjak dari posisinya dan menjawab panggilan teleponnya. 

 

"Siapa?" 

 

"Ibu." 

 

Renjun mengangguk pelan sebelum ikut mendengarkan percakapan Jaemin dan Ibu Na dari posisinya. Sesekali ia ikut menjawab karena Jaemin merubah panggilannya menggunakan pengeras suara, jadi obrolannya bisa terdengar olehnya. 

 

"Ibu akan mampir pagi ini, sebentar lagi sampai. Paling tidak 20 menit lagi mungkin." 

 

Renjun melongo– melirik Jaemin yang sama-sama terkejutnya. "Bu, sudah aku bilang jangan dadakan seperti ini." Jaemin mencoba protes. "Bagaimana jika kami tidak di rumah?" 

 

"Oh, apa sekarang kalian tidak di rumah? Junnie?" 

 

"Di rumah, Bu." Jawab Renjun pasrah. 

 

Jaemin bertanya lagi. "Kenapa Ibu senang sekali kesini pagi-pagi, sih? Ibu naik apa lagi sekarang?" 

 

"Adikmu. Dia menawarkan sendiri mau mengantarkan Ibu. Menggemaskan sekali, kan, adikmu ini?"

 

"Ibu!" 

 

Jaemin melirik ke arah Renjun– sudah bukan rahasia lagi jika sejak awal adik Jaemin yang paling sulit untuk menerima Renjun. Interaksi mereka juga tidak banyak, bahkan Renjun yakin bisa dihitung menggunakan jari di satu tangannya. "Apa perempuan itu sekarang sudah jadi pengangguran? Jadinya bisa mengantar Ibu?"

 

Adik Jaemin kembali menyahut. " Oppa! Aku rela memotong cuti kesayanganku untuk bertemu denganmu, dan ini yang aku dapatkan? Ibu! Ayo kita kembali saja!"

 

Ibunya hanya tertawa dan kembali berbicara di telepon. "Ibu tidak akan melerai kalau kalian bertengkar saat bertemu nanti. Junnie, nanti mengobrol yang banyak dengan Ibu, ya?" 

 

"Bu, yang anak Ibu itu aku atau Renjun, sih?" Protes Jaemin karena merasa Ibunya lebih memihak pada Renjun. 

 

"Apa kamu masih perlu bertanya itu? Tentu saja Junnie yang paling Ibu sayang." 

 

Renjun terkekeh pelan mendengar pertengkaran kecil keluarga Na itu. Jaemin memutar bola matanya malas. "Terserah Ibu saja. Katakan pada perempuan di sebelahmu itu untuk tidak ugal-ugalan menyetirnya! Dah!" Jaemin memutus sambungan teleponnya sebelum adiknya itu membalas ledekannya. Ia melirik ke arah Renjun yang terlihat tegang– bukan hanya Ibu Na yang datang, melainkan adik perempuan Jaemin juga bersamanya. 

 

Jaemin beranjak dari posisinya, lalu menghampiri Renjun dan duduk di sebelahnya. "Hei. Tidak perlu dipikirkan, Jun. Ada aku disini. Kalau adikku berkata yang macam-macam, akan aku unggah foto menyedihkannya sewaktu kecil di SNS supaya dia jera."

 

Sudut bibir Renjun sedikit terangkat. "Tidak. Adikmu itu perempuan yang baik. Dia tidak pernah melakukan apapun yang menyakitiku. Hanya saja, dari rencana pernikahan hingga acara berlangsung, aku masih belum bisa meraih hatinya. Maksudku– yah, walaupun hubungan kita hanya kontrak belaka–"

 

"Renjunnie." Jaemin memotong ucapan Renjun. "Aku mengerti." Tambah Jaemin, lalu tersenyum setelahnya.

 

"Begitulah." Renjun berbicara kembali. "Aku hanya ingin mengenal lebih dekat adikmu itu. Karena menurut pandanganku, adikmu tidak suka denganku."

 

Jaemin menggelengkan kepalanya. "Itu hanya perasaanmu saja." Ia berhenti sejenak untuk memikirkan sesuatu. "Sebenarnya ini rahasia antara aku dengannya, tapi karena ini menyangkut kamu juga, aku rasa kamu berhak tau." Sebelum Renjun menanyakan maksud ucapannya, Jaemin melanjutkan. "Ini hanya intinya– Haeun, adikku itu, kagum denganmu, Renjunnie. Dia tidak bisa berlama-lama di dekatmu karena takut salah tingkah dan memalukan dirinya sendiri." 

 

Mengerjapkan matanya berkali-kali, Renjun menatap Jaemin tidak percaya dengan informasi yang baru saja ia terima. "Itu saja?" Tanyanya skeptis. "Tidak mungkin, Jaemin."

 

Jaemin menghela nafasnya pelan lalu berdiri dari posisinya. "Aku hanya memberitahu sedikit info saja. Selebihnya, kamu bisa tanyakan sendiri padanya nanti." Bibirnya tersenyum secara misterius, sebelum menepuk puncak kepalanya pelan dan keluar dari kamar mereka. 

 

Tanpa sadar, Renjun mengangkat tangannya dan menyentuh puncak kepalanya yang baru saja disentuh oleh Jaemin. Hatinya berdebar– dan Renjun yakin bukan karena penasaran akan alasan sebenarnya adik perempuan Jaemin terlihat tidak suka dengannya, melainkan Jaemin yang menepuk kepalanya barusan. Jarang terjadi, hampir tidak pernah. 

 

Dalam kesunyian suasana pagi kamarnya, Renjun memohon pada Sang Pencipta agar hatinya terus diberi kekuatan untuk menerima afeksi demi afeksi yang Jaemin berikan, baik secara sadar maupun tidak sadar. 

 

*

 

("Aku rasa adikmu itu tidak suka denganku, ya?"

 

Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut sang pemilik. Renjun sebenarnya sudah menyimpan pertanyaan ini sejak pertemuan keluarga mereka yang pertama kalinya– ketika Renjun dan Jaemin membicarakan 'keseriusan' mereka untuk menikah dalam beberapa bulan yang akan datang. Renjun menyimpulkan ini berdasarkan asumsinya sendiri– salahkan pikirannya yang terlalu berisik saat Renjun menangkap gerak-gerik 'tidak suka' yang ditunjukkan oleh adik perempuan Jaemin. 

 

Jaemin mengernyitkan dahinya. "Tentu saja tidak." Renjun membulatkan kedua matanya mendengar itu, namun Jaemin segera melanjutkan. "Kalau suka, pasti dia sudah marah besar karena aku yang menikah denganmu." 

 

Wah. Rasanya beban yang dipikul Renjun karena adik Jaemin tidak suka dengannya itu sedikit berkurang. Mendengar jawaban Jaemin sedikit menenangkannya, meskipun bukan itu yang ingin ia dengarkan. "Ayolah. Aku sedang tidak bercanda.

 

"Aku juga tidak."

 

Renjun berdecak. "Jaemin." 

 

Sudut bibir Jaemin naik dengan sendirinya. "Renjun.

 

"Ya, sudah! Aku nikahi saja adikmu kalau jawabanmu seperti itu." 

 

"Wow, wow, wow." Jaemin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak akan ku biarkan." 

 

Renjun semakin melongo. Apa maksudnya itu?! "Lalu, bagaimana? Setidaknya, aku harus 'terlihat' akur dengan adikmu sewaktu-waktu aku berkunjung ke rumahmu, bukan?

 

"Kita, Renjun." Sanggah Jaemin. "Dia memang pendiam dan sulit berinteraksi dengan orang lain jika baru pertama kali bertemu, tapi, percayalah tidak ada maksud seperti yang kamu simpulkan itu.

 

Mendengarkan penjelasan Jaemin– yang sebenarnya tidak menjawab apapun dari kekhawatiran yang ada di kepalanya itu, Renjun hanya mengangguk pelan, lalu kembali bersandar di kursinya dengan menenggak minuman hangat yang menemani mereka berdua sore itu.)

 

*

 

Kunjungan dua wanita keluarga Na pagi itu berjalan lancar. Ibu Na dengan senang hati memeluk dan berbincang dengan 'anak' kesayangannya itu– Renjun (dan Jaemin yang berusia menjelang 31 tahun itu merajuk pada Ibunya yang lebih banyak mengobrol dengan Renjun). Pembahasannya tidak jauh dari bagaimana kehidupan pernikahannya setelah kunjungan Ibu Na yang terakhir– lalu Mama Huang juga ikut obrolan via panggilan video dan keduanya jadi asik saling berbincang dan melupakan Renjun. Pria itu lalu melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana kakak-beradik Na itu berinteraksi di seberang sofa. 

 

"Katanya mau berkunjung kesana, tapi tiga bulan setelahnya kami juga yang kesini. Cih." Haeun berdecak pelan, lalu menatap sinis kakak laki-lakinya itu. 

 

Jaemin mengacak rambutnya. "Aku sibuk. Tidak sepertimu yang masih memiliki waktu luang untuk menonton Nedfliz sepertimu .

 

Haeun merungut lagi. "Apa hubungannya? Lagipula, aku yakin Oppa juga sulit meluangkan waktu untuk Renjun Oppa bahkan satu hari saja di akhir minggu. Benar, kan?" 

 

Sebentar, hati Renjun menyahut. Kenapa perbincangan mereka membawa namaku?

 

Jaemin melirik ke arahnya. "Dia juga sibuk, tau? Kamu cerita sendiri dia itu penulis ulung dan sekarang sedang menggarap cerita berikutnya. Benar, kan, Renjun?" 

 

Saat namanya terpanggil, Renjun melihat ke arah keduanya dan Haeun yang menyikut Jaemin di perutnya. Samar-samar telinga Renjun mendengar, oppa, kenapa kamu perlu memanggilnya dan kedua pipi Haeun yang memerah setelahnya.

 

Tersenyum kecil, Renjun beranjak untuk duduk di sebelah Haeun– jadi perempuan itu berada di tengah-tengah, tentu saja tetap memberi jarak dengannya karena ia ingin memberi kenyamanan pada Haeun, Renjun lalu mengangguk, membenarkan apa yang baru saja Jaemin katakan. "Aku memang sedang menyelesaikan ceritaku berikutnya. Kalau menginginkannya, aku bisa mengirimkan draft kasarnya padamu, Haeun." 

 

Kedua mata perempuan itu berbinar, sangat tertarik dengan tawaran Renjun. "Sungguh? Apa itu tidak melanggar etik dari pihak penerbit?"

 

Renjun menggelengkan kepalanya. "Tenang saja. Aku yakin kamu juga tidak akan menyebarkannya pada siapapun. Lagipula, itu juga masih draft kasar. Masih bisa ada perubahan di tengah penyelesaiannya."

 

"Oppa!!!" Haeun memekik kegirangan, langsung memegang kedua tangan Renjun dengan erat. "Kalau teman-temanku tau, mereka pasti akan sangat iri!" Ujar Haeun. "Banyak yang kagum dengan tulisanmu juga, Oppa. Karyamu itu benar-benar membuat pembacanya terhanyut dalam cerita." 

 

Jaemin yang memperhatikan interaksi keduanya, menyunggingkan bibirnya, lalu meledek Renjun. "Sudah aku bilang, bukan? Haeun itu sebenarnya kagum denganmu, karena dia penggemarmu, Renjun." 

 

"Ish! Kamu itu tidak diajak, Oppa!" Balas Haeun dengan ketus ke Jaemin. Ia beralih lagi pada Renjun. "Renjun Oppa, maaf jika aku terkesan tidak menyukaimu waktu pertama kali kita bertemu. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana saat mengetahui kakakku akan menikah denganmu." 

 

Renjun memiringkan kepalanya. "Kenapa begitu?" 

 

Haeun melirik sinis ke kakakknya, yang dibalas dengan tatapan galak dari Jaemin. "Awalnya, aku kira Jaemin Oppa itu berbohong– dia bercerita akan menikah dengan teman sekolahnya dulu. Aku sedikit banyak mengetahui kisah roman picisannya sewaktu sekolah, tapi nama Renjun Oppa begitu asing di ingatanku." 

 

"Memang aku saja yang belum menceritakannya padamu." Sahut Jaemin. 

 

Tidak menghiraukan kakaknya, Haeun melanjutkan. "Saat Jaemin Oppa menceritakan dia akan menikah dengan seseorang yang bernama 'Huang Renjun', aku benar-benar tidak bisa bereaksi apapun. Bagaimana bisa, seorang Na Jaemin, mendapatkan pasangan dibalik karya-karyanya yang sangat aku sukai?!" 

 

"Parahnya lagi," Haeun menambahkan. "Dia tidak tau kamu itu seorang penulis. Aku ingin menyentil dahinya dengan keras saat dia bilang dia tidak mengetahui kamu itu seorang penulis, Oppa." 

 

Renjun terkekeh pelan. Jaemin menyanggahnya lagi. "Dia tidak pernah memberitahuku. Renjun hanya bilang dia bekerja di kantor penerbit." 

 

Haeun menyipitkan matanya. "Untung saja Renjun Oppa masih mau menikah denganmu." 

 

"Ayolah, kalau dilanjutkan lagi tidak ada hentinya . " Renjun menengahi argumen kecil kakak-beradik Na itu. "Aku minta maaf ya, Haeun? Aku pernah menganggapmu tidak suka denganku karena tiba-tiba sekali masuk ke keluargamu." 

 

"Oppa, aku juga tidak memberi kesan yang baik padamu saat pertama kali bertemu. Aku juga minta maaf." Haeun membungkukkan kepalanya dan meremas kedua tangannya di atas lututnya. 

 

Membalasnya dengan perlakuan sama, Renjun menepuk puncak kepala Haeun dan menarik perempuan itu untuk memeluknya. Jaemin mengangkat kedua alisnya melihat Renjun memeluk adik perempuannya itu. Renjun menggeleng kepalanya pelan, lalu melepaskan pelukannya. "Aku lega bisa meluruskan hal ini. Sering-seringlah datang kesini, Haeun." 

 

"Wah. Apa ini? Baru satu hari berbaikan dan sekarang kamu berpaling dariku?" Jaemin pura-pura merajuk, mengerucutkan bibirnya.

 

Sebuah bantal dilemparkan ke arah tubuhnya. Haeun melotot pada Jaemin. "Begitu saja cemburu? Payah!" 

 

Renjun tertawa dan hatinya begitu ringan. Ibu Na juga selesai dengan perbincangan serunya dengan Mama Huang dan membawa ponselnya untuk bergabung dengan mereka. Renjun bertukar sapa dengan ibunya, begitu juga Mama Huang yang memberi petuah singkat pada Jaemin yang intinya usia pernikahan kalian masih sangat awal, perjalanan masih panjang dan jangan lupa saling mengasihi satu sama lain. 

 

Hati Renjun terenyuh, lalu membayangkan bagaimana reaksi mereka saat nantinya, Renjun berada di penghujung perjanjian kontrak dia dengan Jaemin, dan beberapa wajah yang sangat bahagia saat ini akan berubah 180 derajat ketika mengetahui pernikahan ini dilakukan hanya sekadar 'status' belaka. 

 

Apa hati Renjun kuat jika nantinya dia harus melanjutkan pernikahan ini demi melihat ekspresi bahagia itu, dengan mengesampingkan perasaannya sendiri yang mencintai pria itu sendirian?

 

*

 

Bulan November menandakan pernikahannya sudah berjalan 8 bulan lamanya. Renjun benar-benar menghitung hari demi hari yang ia lalui dan 'menikmati' statusnya sebagai pasangan sah dari Na Jaemin. Pria itu masih bersikap sama, memperlakukan Renjun dengan baik tanpa ada bumbu kata romantis di dalamnya. Renjun menilai semua sikapnya dilakukan hanya semata-mata 'basic manner' memperlakukan sesama manusia yang tinggal bersama dalam satu atap. Satu bulan ke belakang pria itu jarang lembur ataupun pulang terlambat, jadi hampir setiap malam keduanya tidur di tempat tidur yang sama dan Renjun akan bangun– lagi dan lagi, di atas lengan Jaemin. Renjun bersyukur Jaemin bukanlah tipe pria yang mudah terbangun jika ada sedikit suara, karena setiap kali Renjun bangun dan dihadapkan dengan wajah Jaemin yang dekat dengan miliknya sendiri, ia akan terperanjat dan membuat suara gaduh di pagi hari. 

 

Satu waktu, yang Renjun ingat dan simpan dengan baik di dalam memorinya, pagi itu Renjun membiarkan dirinya menikmati posisinya berbaring di atas lengan Jaemin. Ia bergeser, merapatkan tubuhnya pada Jaemin yang tertidur pulas dan mencari kehangatan di tengah dinginnya udara pagi memasuki musim dingin. Jangan tanya apakah jantungnya baik-baik saja. Iramanya tidak beraturan, sangat cepat, dan Renjun sendiri bisa mendengar betapa berisiknya jantungnya itu. Ia tetap melanjutkan gerakannya dan mengatur nafasnya agar bisa nyaman dalam posisinya. 

 

Berada dekat dengan wajah Jaemin saat ini membuat Renjun bisa memperhatikan secara detail figur indah dari pria yang menjadi suaminya sekarang. Alisnya yang tebal, bulu matanya begitu lentik dan juga panjang, kedua pipinya yang menggemaskan, lalu bibirnya yang sedikit kering dan sedang mengerucut itu. Renjun terkekeh pelan melihat bibir Jaemin bergerak kecil dan kembali lelap dalam tidurnya. Tangan Renjun beranjak untuk menepuk-nepuk dada Jaemin, menenangkannya untuk kembali pulas. 

 

Beberapa detik berselang, jantung Renjun kembali bereaksi ketika Jaemin bergerak dan merubah posisinya. Tanpa sadar– karena menurut Renjun, Jaemin masih terlelap, Jaemin memeluk tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas kepala Renjun. Jujur saja, dalam posisi ini ia akan sulit bernafas. Tangan besar Jaemin juga diletakkan di atas pinggangnya– menjadi tanda Renjun tidak akan bisa bergerak dan ada kemungkinan Jaemin akan terbangun dalam posisi seperti ini. Renjun menghirup dalam aroma natural pria itu– menenangkan dan mengingatkannya jika ia sedang berada di rumah

 

Dalam posisi seperti ini, Renjun dipastikan tidak akan bisa terlelap kembali sampai pagi. Ia menghabiskan waktunya dengan memainkan jari-jarinya di kaos hitam milik Jaemin. Sesekali memejamkan matanya dan mendengar ritme konstan milik Jaemin yang sedang tertidur. 

 

"Jaeminnie." Renjun berbisik di tengah keheningan pagi itu. "Aku takut." 

 

Takut dengan ketidakpastian semua ini.

 

Takut jika dari awal ini adalah keputusan yang salah.

 

Takut orang-orang yang ia sayangi kecewa dengan keputusan yang ia ambil nanti. 

 

Aku takut ketika kita berpisah nanti, kamu melupakanku dalam waktu yang sangat cepat.

 

Renjun menutup kedua matanya rapat-rapat. Terlalu banyak kekhawatiran yang datang ke pikirannya jika sudah seperti ini. Terlebih mengingat pernikahannya– pernikahan kontrak mereka yang sangat mengganjal dalam pikirannya. Renjun berasumsi, pria itu belum ada tanda-tanda untuk memperpanjang ataupun memperbarui 'kontrak' mereka. Renjun juga tidak berani mengangkat topik itu terlebih dulu karena menurutnya akan terlihat tidak tau malu jika ia meminta– memohon pada Jaemin untuk tetap melanjutkan pernikahan ini. 

 

Pikirannya yang semakin kalut lalu berhenti sejenak saat Jaemin mengeratkan pelukannya dalam tidurnya– mungkin Jaemin berpikir ia sedang memeluk guling yang membuat tidurnya semakin pulas. 

 

"Hmm. Renjunnie." Gumam Jaemin pelan. Renjun membeku dalam pelukannya, menunggu pria itu melanjutkan kata-katanya. "Lima menit lagi." 

 

Renjun tersenyum kecil. Apa pria ini bermimpi dibangunkan oleh Renjun dan Jaemin menolak karena masih ingin istirahat? 

 

Racauan Jaemin terhenti, bersamaan dengan jantungnya yang juga berhenti sejenak saat ia merasa bibir Jaemin mengecup puncak kepalanya dengan lembut. 

 

[...]

 

"Renjun-ah." 

 

Keduanya tengah bersiap untuk tidur. Jaemin di sisi sebelah kanan dan Renjun di sisi sebelah kiri tempat tidur mereka. Baik Renjun dan juga Jaemin menyelesaikan hari mereka bersamaan– Renjun yang menyelesaikan perbaikan naskahnya dan sudah mengirimkannya kembali pada editornya, lalu Jaemin yang sudah di rumah sebelum jam dinding menunjukkan angka delapan. Memasuki musim dingin membuat kedua pria itu menghangatkan tubuhnya di atas tempat tidur dan juga selimut tebal nan lembut di atas tubuh mereka. 

 

Renjun menoleh mendengar Jaemin memanggil namanya. "Hm?"

 

Tanpa melihat ke arahnya, Jaemin meneruskan ucapannya. "Apa kamu mengenakan cincin pernikahan kita setiap keluar rumah?"

 

Tiba-tiba sekali? Pikir Renjun malam itu. Ia mengangkat tangan kanannya dan kilauan emas putih yang terpasang di jari manisnya itu menjadi saksi pertanyaan dari Jaemin. "Iya." 

 

"Bahkan ke kantor juga?" 

 

"Tentu saja." Jawab Renjun dengan lugas. "Aku rasa ini bukanlah hal yang aneh pada pria yang sudah menikah, kan?" Sebelum Jaemin menjawab, Renjun menambahkan dengan suara pelan. "Walaupun pernikahan kita hanya di atas kertas." Renjun memalingkan wajahnya dan kembali melihat atap kamar mereka malam itu. 

 

Sekarang berbalik. Jaemin yang menoleh pada Renjun yang masih menatap lurus ke langit-langit kamar mereka. Kedua mata Jaemin menangkap jarinya mengelus pelan cincin yang melingkar manis di jarinya itu. "Apa kamu tidak merasa terikat dengan hal ini? Maksudku, meskipun hanya di atas kertas saja, dari awal kita sudah sepakat kita bisa berhubungan dengan orang lain walaupun kontrak kita masih berjalan." 

 

Gerakan Renjun terhenti. "Apa kamu menyuruh pasanganmu sendiri untuk selingkuh?" 

 

Lidah Jaemin menjadi kaku. "Tidak– bukan itu maksudnya, tapi– aish. Kenapa menjadi rumit begini." Renjun kembali memainkan cincinnya, menunggu Jaemin mengutarakan kalimat yang tepat. "Aku hanya ingin kamu tau, jangan sampai pernikahan ini mengikatmu untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai. Termasuk mengejar seseorang yang benar-benar kamu sayang, Renjun." 

 

"Kalau orang yang aku sayang tidak melihatku, apa yang harus aku lakukan, Jaemin?" 

 

Jaemin kembali terpaku. Jadi, Renjun memiliki perasaan pada orang lain? "Teruslah berusaha, tapi kalau kamu sudah sampai pada titik lelahmu dan orang itu masih saja tidak melihatmu, aku rasa kamu perlu mundur dan meninggalkan orang itu." 

 

"Begitu, ya?" Cicit Renjun pelan, lalu menoleh pada Jaemin. "Aku merasa berjuang sendirian dan aku rasa orang itu masih belum bisa melihatku. Apa aku benar-benar harus mundur?" 

 

Keduanya saling menatap satu sama lain. Lalu, dengan keberanian yang entah dari mana yang merasuki Jaemin, tangan pria itu singgah di pipi Renjun, mengelusnya dengan lembut. "Kamu patut diperjuangkan juga oleh orang yang benar, Renjunnie. Tinggalkan orang itu jika dia tidak bisa membuatmu merasa disayangi juga." 

 

Demi Tuhan..

 

Kalau kamu terus bersikap seperti ini, bagaimana bisa aku mundur dari pernikahan ini?

 

Dan, apakah kamu tidak sadar, kalau aku sedang membicarakan kamu, Jaemin? 

 

Bukankah itu berarti, kamu menyuruhku mundur dari pernikahan ini?

 

Renjun tersenyum kecil, lalu merubah posisinya agar tangan Jaemin terlepas dari wajahnya. Ia tidak ingin berlama-lama membahas topik ini. "Hebat sekali kata-katamu itu, Jaem. Belajar darimana?" 

 

Jaemin terkekeh pelan. "Siapa lagi kalau bukan ahlinya?" 

 

Satu bantal melayang ke atas wajah Jaemin. "Jangan meledek!" 

 

Jaemin memeluk bantal yang baru saja dilempar dan menyunggingkan bibirnya pada Renjun. "Percaya diri sekali. Memangnya itu kamu?"

 

"Ya! Na Jaemin!" 

 

Lalu obrolan serius mereka berubah menjadi perkelahian bantal dan diselingi serangan klitikan yang diberikan oleh Renjun maupun Jaemin. Keduanya melupakan pembicaraan mereka dan menikmati suara tawa yang menggema di kamar mereka malam itu. 

 

"Sebentar!" Jaemin mengangkat kedua tangannya, meminta jeda waktu dari Renjun. "Ini hanya sedikit informasi saja. Yah– siapa tau kamu juga penasaran dengan jawabannya."

 

"Cepatlah atau bantal ini akan melayang!" Sahut Renjun dengan galak.

 

Jaemin mengangguk dan mengangkat jari-jari tangan kanannya. Kilauan cincin juga terlihat di jari manisnya, bentuknya persis dengan yang melingkar di jari Renjun. "Aku juga memakainya– kemanapun aku pergi." 

 

Renjun melempar senjata bantal terakhirnya dengan kencang, meracau tidak jelas, lalu bersembunyi dibalik selimut hangatnya karena tidak ingin menunjukkan wajahnya yang terlanjur merah karena ucapan Jaemin barusan.

 

[...]

 

Pertengahan November dan cuaca semakin membuat Renjun merapatkan jaket dua lapisnya ke tubuhnya. Mendekati penghujung tahun juga berarti pihak percetakan maupun penerbit semakin sibuk dengan tenggat waktu yang ditargetkan untuk penulis. Ia baru saja menyelesaikan naskah lanjutannya yang terakhir, melakukan rapat dengan pihak produksi mengenai tanggal pastinya naik cetak– tentu saja diskusinya begitu alot karena keduanya berargumen untuk menemukan tanggal yang saling menguntungkan keduanya, dan berunding lagi dengan editornya bagaimana cara mempercepat alur kerja mereka.

 

Kepala Renjun tiba-tiba saja pening. Ini bukan kali pertama Renjun menerbitkan buku, tapi tekanan dan juga tingkat stresnya masih saja sama. 

 

Saat seperti ini, Renjun butuh asupan untuk mengisi tubuhnya. Mungkin minuman dingin juga bisa membantu menaikkan rasa senangnya– benar. Sebagian orang akan menganggapnya aneh karena mencari sesuatu yang dingin, dikala cuaca juga sedang dingin. Tidak masalah, yang penting itu bisa meredakan kepalanya yang panas setiap kali pulang dari kantor penerbitnya. 

 

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Selain Renjun yang semakin sibuk mendekati akhir tahun, perusahaan Jaemin pun demikian. Ini berdampak juga pada Jaemin yang kembali lagi pada ritme lembur dan jarang pulang sewaktu awal pernikahan mereka. Dalam sepekan terakhir, pria itu hanya dua hari di rumah dan sisanya ia menghabiskan waktu di kantor. 

 

"Kantorku pasti selalu begini menuju akhir tahun. Aku akan sering lembur mulai dari sekarang. Maaf ya, Renjun?

 

Tidak ada kabar darinya di siang hari– ataupun sekadar menelpon dan menanyakan kabar dirinya. Setengah hati Renjun berkata, Jaemin tidak memiliki kewajiban untuk itu– karena, kembali lagi, pernikahan mereka hanya di atas kertas. Mereka bukan pasangan sebenarnya, dan Renjun juga tidak memiliki hak untuk menanyakan hal itu. Karena, dia ini siapa? 

 

Setengah hatinya lagi tidak mau kalah. Renjun masih mencoba peruntungannya untuk malam ini. Ia memanggil pria itu melalui telepon genggamnya. Satu dering. Dua dering. Tiga dering. Tidak diangkat. Renjun kembali mencoba, namun kini melalui pesan singkat.

 

To: Na Jaemin

Ayo makan bersama malam ini. Kamu pilih, aku yang traktir.

 

Terkirim.

 

Renjun menunggu. Sepuluh menit. Tiga puluh menit. Lalu satu jam ia sudah menunggu balasan pria itu. 

 

Tidak ada. Bahkan dibaca pun tidak.

 

Dengan hidung yang memerah dan tubuhnya mulai kedinginan, Renjun kembali merapatkan jaketnya juga beanie di kepalanya lalu pulang dengan suasana hati yang berantakan.

 

[...]

 

From: Na Jaemin

Kamu lagi di kantor?

 

To: Na Jaemin

Tidak. Kenapa?

 

From: Na Jaemin

Di Kafe x tempat biasa kamu bersama editormu?

 

To: Na Jaemin

Tidak juga. Nona Kim sedang flu, jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat.

 

From: Na Jaemin

Lalu, sekarang kamu dimana?

 

To: Na Jaemin

Memangnya kenapa?

 

From: Na Jaemin

Aku hanya bertanya, Renjun-ah..

 

To: Na Jaemin

Apa pedulimu?

Oh. Ternyata kamu masih ingat denganku? 

Baru saja kembali dari rumah sakit.

 

From: Na Jaemin

???

Kamu sakit?

 

To: Na Jaemin

Iya. Sejak dua hari yang lalu.

Sudah hampir 3 hari dan kamu baru menyadarinya?

Tidak, aku menjenguk temanku saja. 

 

From: Na Jaemin

Oh.. syukurlah

Dua malam ke depan aku menginap di kantor

Tidak apa-apa, kan?

 

To: Na Jaemin

Yang penting pekerjaanmu selesai. 

Perhatikan juga jam makanmu.

 

From: Na Jaemin

Tentu saja.

dan, Renjunnie?

tentang obrolan kita waktu itu..

 

To: Na Jaemin

yang mana?

 

From: Na Jaemin

nanti saja deh.

akan aku luruskan sewaktu kita berdua di rumah :)

 

To: Na Jaemin

Baiklah

Itupun juga kalau kamu ingat dengan rumah, Jaemin

 

[...]

 

(Sewaktu 3 bulan pernikahan mereka, Renjun pernah berinisiatif mengantarkan makanan ke kantor Jaemin, setelah pria itu mengatakan akan lembur karena tenggat waktu pekerjaannya. Makanan itu tidak dimasak sendiri olehnya– Renjun belum memiliki kemampuan memasak seperti Jaemin, hanya membeli di restoran kesukaan pria itu dan beberapa cemilan lainnya untuk dimakan bersama rekan kerja kantornya. Masih dengan pakaian kerjanya– ia baru saja dari kantor penerbit, Renjun membawa dua bungkus plastik besar berisi makanan untuk Jaemin dengan ransel kecil yang berada di punggungnya. Hatinya sangat senang, memikirkan bagaimana reaksi pria itu nanti melihatnya datang dengan makanan kesukaannya. 

 

Kantor Jaemin bisa dibilang seperti kebanyakan gedung-gedung Seoul lainnya. Gedung kaca, tinggi, juga perlu kartu akses untuk memasuki area itu. Kebanyakan orang yang keluar masuk gedung itu berpakaian necis– pria yang berbalut jas dengan celana kain warna senada, begitu juga wanita dengan rok selututnya juga atasan blouse berbagai model. Penampilannya yang sekarang– celana denim, kaos putih dibalik kemeja bermotif garis-garis, membuat dirinya begitu mencolok diantara segelintir orang yang berlalu-lalang. Jaemin pernah bercerita, kantornya memang berada di satu gedung perkantoran orang-orang yang sangat rapi itu– sedikit berbeda dengan Jaemin yang kantornya tidak memiliki etik seragam tertentu– yang penting sopan dan semi formal. Renjun berpikir, kemungkinan karena tempat kerjanya sekarang berbasis IT, kantornya memiliki etika seragam seperti itu. 

 

Berada di lobi tanpa mengenal siapapun, Renjun langsung ke meja resepsionis dan mengatakan ingin ke kantor Jaemin di lantai 23. 

 

"Selamat sore. Saya ingin ke lantai 23." Ucap Renjun pada resepsionis wanita yang sepertinya berusia di bawahnya.

 

"Ke bagian mana ya, Pak? Sudah ada janji sebelumnya?" Tanya dia dengan sopan. 

 

"Ke kantor xx. Saya ingin menemui suami saya disana." Jawab Renjun pelan, masih malu menyebut 'suami' pada Jaemin. 

 

Wanita itu tersenyum kecil. "Oh! Manis sekali." Pekik wanita itu. "Silakan tinggalkan kartu identitas Anda disini dan kartu aksesnya langsung bisa digunakan.

 

Renjun mengangguk dan segera menukar kartu identitasnya dengan kartu akses yang diberikan resepsionis itu. "Terima kasih, Nona Yoon." 

 

Menaiki lift di gedung itu juga sama saja– ia perlu menyatu dengan para pekerja lainnya dan itu membuat Renjun sedikit tidak nyaman. Samar-samar ia bisa mendengar bisikan pekerja wanita di belakangnya, lalu pria yang berdiri di sebelahnya juga menatapnya dari atas sampai bawah. Renjun berdecak. Tidak sopan sekali.

 

"Mau mengantar makanan kemana?" Salah satu pria di antrian lift itu tiba-tiba bertanya pada Renjun. 

 

Renjun hanya tersenyum kikuk. Tidak ingin menjawab pertanyaannya. 

 

"Kamu dapat kartu akses, berarti keluarga dari pekerja disini, ya?" Pria itu masih melanjutkan. "Ayahmu? Ibumu?

 

Ia masih tidak menjawabnya– matanya menatap lantai lift yang masih berada di angka 4.

 

"Sudah punya pacar belum? Habis ini mau minum bersamaku?

 

Demi Tuhan.

 

"Oi, Jaehyun! Berhentilah menggodanya terus!" Seorang wanita di sebelahnya memukul bahunya. Pria itu– Jaehyun, meringis karena pukulannya. Rasakan, pikir Renjun dalam hati. 

 

Wanita itu sekarang berdiri menengahi mereka. "Maaf, ya? Padahal pria tua ini sudah menikah, tapi mulutnya itu memang tidak sopan sekali." 

 

"Noona! Aku tidak setua dirimu!

 

"Kita hanya beda dua tahun, bodoh!" Wanita itu menyentil dahinya lagi. Lalu, tersenyum manis ke arah Renjun. "Apa aku bilang, kan?

 

"Terima kasih." Renjun tersenyum canggung. Lift mereka sampai dan mereka masuk ke dalam bersama pekerja lainnya. Mau tidak mau, mereka kembali berhimpitan dan karena tidak ada yang menuju lantai 23, Renjun memencet tombol itu lalu kembali ke posisinya lagi. 

 

"Oh? Setauku di lantai 23 ada kantor IT, ya? Ah, benar. Namaku Wendy, by the way." Wendy berbisik pada Renjun, tidak enak dengan penumpang lift yang lain. 

 

Renjun membungkukkan kepalanya. "Namaku Renjun. Iya, benar. Ada kantor IT disana." 

 

Wendy berbisik lagi. "Renjun!" Sapanya dengan senang. "Ada kerabatmu yang bekerja disana?

 

Perlukah aku jujur? "Seperti itulah." Jawab Renjun sekenanya. 

 

"Apa kamu memasaknya sendiri?

 

"Noona." Sahut Jaehyun setelahnya, memotong pembicaraan mereka. "Kenapa jadi kamu yang mengobrol dengan pria itu?

 

Renjun terkekeh pelan. Untuk pria berbadan tinggi dan besar seperti Jaehyun, melihatnya merajuk sangat berkebalikan dengan tubuhnya itu. "Tidak. Aku membelinya di restoran dekat sini." Renjun melihat lantai lift-nya lagi. Angkanya masih menunjukkan lantai 17 dan segelintir pekerja sudah keluar satu demi satu di beberapa lantai sebelumnya. Sekarang hanya ada 5 orang di dalam lift– termasuk dirinya sendiri, Wendy, dan juga Jaehyun.

 

Lantai 20. Dua orang yang bersama mereka juga keluar dan tinggal mereka bertiga di dalam lift. Renjun semakin tidak nyaman– sebenarnya Wendy terlihat seperti wanita yang baik, tapi di dalam lift dengan orang 'asing' tentu saja wajar dia merasa tidak nyaman, bukan? 

 

"Bukankah itu berat? Nanti aku bantu bawakan boleh, ya?" Jaehyun berbicara lagi padanya, kini pria itu berdiri di sebelahnya karena lift yang mereka tumpangi sudah kosong. 

 

Renjun menggeleng pelan. "Tidak perlu. Terima kasih banyak." 

 

"Jaehyun! Berhenti mengganggunya!" Wendy memprotes pria itu lagi. "Kebetulan kami ada perlu juga di lantai yang sama, nanti aku antarkan ke lobi kantor kerabatmu itu, ya?

 

"Aku juga boleh ikut, kan, noona?" Tanya Jaehyun lagi, menaik-turunkan alisnya. 

 

Wendy memutar bola matanya pasrah. "Tapi jangan membuat kegaduhan."

 

"Laksanakan!" Jaehyun memberi gestur hormat pada wanita itu, kemudian menoleh pada Renjun lagi, dan mengambil satu bawaannya dari tangannya. "Ini berat sekali. Kamu membawanya untuk satu orang saja?

 

Renjun ingin merebutnya lagi sebelum pintu lift terbuka dan menampilkan seseorang disana.

 

"Hai, Jaemin!

 

Deg.

 

Renjun menoleh dan membulatkan matanya– begitupun ekspresi Jaemin yang sama kagetnya dengannya. Raut kebingungan jelas tercetak disana, membuat Renjun langsung merebut kantong plastik yang dipegang Jaehyun dan membungkuk kikuk pada Jaemin. Ketiganya keluar dari lift, dengan mata Jaemin yang masih menatap Renjun penuh tanya. 

 

"Mau kemana? Bukannya jam kerjamu sudah selesai?" Jaehyun bertanya pada Jaemin, menepuk bahu pria itu dengan pelan. 

 

"Ada perlu ke bawah sebentar. Kamu sendiri, hyung?

 

Oh. Gawat. Jaemin mengenal kedua orang ini, lalu Renjun harus bersikap bagaimana?

 

"Aku mengantar pria manis ini yang ingin bertemu kerabatnya di kantormu. Kamu tidak pernah cerita denganku kalau ada pria semanis dia dari kenalan di kantormu." Jaehyun tersenyum miring, lalu merangkul bahu Jaemin yang menegang setelah mendengar itu. 

 

Renjun masih terdiam, mengamati obrolan keduanya dari dekat. Wendy lalu mengapit lengannya dan menarik dia untuk masuk ke kantornya. "Ayo, Renjun. Kamu ingin bertemu dengan siapa?

 

Renjun bisa merasakan tatapan menusuk dari belakangnya– Jaemin dan Jaehyun berjalan persis di belakangnya dan Wendy. 

 

"Nona Wendy. Selamat sore." Salah satu pegawai kantor Jaemin– yang Renjun teliti lagi itu adalah atasan langsungnya Jaemin, Doyoung hyung, menyapa Wendy ketika mereka masuk ke area kantornya. "Ada perlu apa ke kantor kami?

 

"Doyoung! Long time no see!" Sapanya dengan ceria. "Aku sedang mengantar pria ini ke kantormu. Katanya ingin mengantarkan makanan ke kerabatnya yang bekerja disini.

 

Saat Renjun beradu pandang dengan Doyoung, Renjun mengangguk canggung dan melambaikan tangannya ke pria itu. "Hyung. Halo.

 

"Renjun? Jaemin tidak bilang kamu mau kesini.

 

"Ah, itu–"

 

Wendy memotongnya. "Jaemin? Kamu kenal dengan Jaemin?

 

"Woah, bro. Kamu kenal dengan pria ini? Kenapa dari tadi diam saja?" Suara Jaehyun juga masuk ke pendengarannya. 

 

"Sebentar, sebentar." Doyoung menengahkan keributan kecil mereka. "Jaemin? Bisa bawa suamimu dulu ke dalam? Sepertinya bawaannya berat.

 

Semuanya terdiam. Renjun merasa seluruh tatapan benar-benar tertuju padanya, termasuk Wendy yang membuka mulutnya dan sedikit menjauh dari posisinya, dan Jaehyun yang hanya mengerjapkan matanya. Jaemin– Jaemin hanya menghembuskan nafasnya pasrah, sebelum berjalan terlebih dahulu dan menyuruh Renjun mengikutinya. "Masuklah."

 

Renjun membungkuk pada tiga orang itu, lalu mengikuti Jaemin masuk ke dalam kantornya. 

 

"Jadi, Jaemin sudah menikah?"

 

"Iya, baru 3 bulan yang lalu." 

 

"Kenapa aku baru mendengar hal ini?"

 

"Karena dia memang tidak membesar-besarkan beritanya. Menjaga privasi pasangannya, katanya."

 

"Jaemin, anak itu. Tidak aku sangka dia bisa mendapat pria manis nan lugu seperti Renjun."

 

"Jangan menggodanya terus, Jaehyun. Apalagi ke Jaeminnya langsung. Jarang sekali aku mendengar Jaemin menceritakan tentang pasangannya itu."

 

"Kenapa? Apa dia tidak mencintainya? Sayang sekali Jaemin menyia-nyiakan pria seperti Renjun." 

 

"Lalu, apa urusanmu? Kamu juga sudah memiliki pasangan, bodoh! Jangan main-main!"

 

Sentilan di dahi Jaehyun dari Wendy menutup obrolan mereka sore itu. Baik Jaehyun dan Wendy kembali ke urusan mereka lagi, sedangkan Doyoung masuk ke kantornya untuk menemui kerabat dari bawahannya itu. 

 

.

.

.

 

Suasana pantri kantor Jaemin begitu ramai. Masih banyak para pekerja yang masih ada dibalik meja kerjanya, mengerubungi Doyoung– juga Renjun dan Jaemin, ketika mendengar beberapa wadah makanan dikeluarkan dari kantong plastik yang Renjun bawa. 

 

"Hyung, tidak apa-apa. Biar aku saja." Ucap Renjun tidak enak karena dia dibantu oleh Doyoung– atasan Jaemin. 

 

Jaemin berdiri tidak jauh dari Renjun, ikut membantu Doyoung menata beberapa wadah makanan yang dibawa oleh pria itu. "Kenapa tidak bilang padaku?

 

Renjun melirik Jaemin, tangannya masih sibuk menyiapkan alat makan yang dikeluarkan dari plastik itu. "Surprise!" Pekik Renjun senang. "Walaupun bukan masakanku sendiri, setidaknya kamu dan rekan-rekan kantor bisa makan enak dengan menu seperti ini.

 

"Jangan lakukan lagi.

 

Tangannya berhenti. Kepalanya menoleh pada Jaemin. "Apa?

 

Jaemin menegaskan perkataannya. "Jangan lakukan seperti ini lagi. Aku tidak ingin merepotkanmu.

 

Renjun membeku. Hatinya teriris mendengar langsung ucapan itu dari mulut Jaemin. Sebenarnya, Renjun tidak berharap apa-apa. Yah, mungkin sedikit– entah senyuman kecil dari bibir Jaemin atau ucapan terima kasih dari pria itu sendiri. Kalau begini, apa yang ia dapat? Rasa lelah, dapat ucapan terima kasih saja tidak. Yah– memang ini inisiatif dirinya sendiri. Seharusnya Renjun tidak berharap apapun dari perbuatannya sendiri. 

 

Doyoung yang sebenarnya tidak sengaja mendengar percakapan mereka, mengambil langkah untuk memanggil para juniornya untuk menyerbu pantri dan meramaikan suasana di ruangan itu. "Jiwoo, Minji! Kemarilah! Ajak yang lain dan suruh ke pantri. Kita pesta besar malam ini!

 

Kedua mata Renjun yang berkabut langsung ditepis olehnya saat rekan-rekan kerja Jaemin memasuki ruangan itu. 

 

"Wah! Makanan ini dari restoran x, kan? Bukankah itu mahal?"

 

"Apa boleh kita makan enak dikala lembur seperti ini?" 

 

"Siapa yang membawanya? Orang itu baik sekali!" 

 

"Oh! Bukankah itu pria yang ada di undangan yang ada di meja Tuan Kim waktu itu?" 

 

"Jadi, itu pasangannya Jaemin hyung?

 

"Jaemin oppa, tidak adil! Kenapa pasanganmu juga tidak kalah tampan sepertimu?"  

 

Renjun tersenyum malu mendengar celotehan dari rekan-rekan Jaemin. Ia mempersilahkan mereka untuk makan hidangan yang telah ia bawa, sembari membalas sapaan yang diterima olehnya. Ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan teman kerjanya Jaemin– mereka begitu ramah, ramai, dan juga sering bersenda gurau. Mereka juga berterima kasih karena telah membawa makanan ini ke kantornya, dan mengatakan akan memperlakukan Jaemin dengan baik karena Renjun sudah sangat baik melakukan hal ini. 

 

"Renjun hyung! Sering-sering datang ke kantor kami, ya? Makanan ini enak sekali!

 

Temannya menepuk kepalanya. "Jisung! Tidak sopan!" Lalu ia beralih pada Renjun. "Maafkan anak baru itu. Memang tidak tau malu kalau sudah soal makanan.

 

Renjun tertawa. "Tidak apa. Aku senang kalian menikmatinya.

 

"Jaemin hyung! Katakan padaku, bagaimana kamu bisa mendapat pasangan seperti ini? Atau bolehkah aku menikah dengannya juga?

 

Jaemin melotot padanya, lalu melempar sumpit yang tidak terpakai ke arahnya. "Jaga mulutmu, Sungchan!

 

"Kamu juga makan, Jaemin." Renjun berkata pelan pada Jaemin yang hanya mengambil cemilan ringan yang juga dibeli oleh Renjun. "Makanlah, lalu aku akan pulang setelah itu.

 

Lalu, Jaemin tidak mengambil makanannya juga. Ia hanya memisahkan porsi miliknya dari meja pantri, membawanya ke meja kerjanya, lalu menunggu Renjun makan dan mengobrol dengan rekan-rekan kerjanya. Setelah itu, Renjun pamit pada semua pekerja yang ada di kantornya, dan ia keluar dari area kantor Jaemin, bersamaan dengan pria itu di sebelahnya.

 

Jalan menuju lift berubah menjadi sunyi. Renjun berjalan dengan menunduk, dengan Jaemin yang berjalan di sebelahnya tanpa bersuara sama sekali. 

 

Sampai di depan lift, dan Jaemin masih menemaninya, akhirnya pria itu berbicara dengannya. "Ini untuk terakhir kalinya. Tidak perlu repot untuk mengantar makanan seperti itu.

 

Renjun rasanya ingin menangis. "Iya." 

 

Bersamaan dengan bunyi lift yang sampai di lantai itu, Renjun langsung masuk ke dalam saat pintunya terbuka dan tidak berkata apapun pada Jaemin lagi setelahnya. Ia bersandar pada sisi kiri lift itu, menghembuskan nafasnya pelan. Matanya kembali berkabut– dan sebisa mungkin Renjun tahan agar ia tidak menangis di tempat umum, terlebih di kantor Jaemin seperti ini. Dadanya sesak– dan Renjun mencoba mengatur pernafasannya agar setidaknya mengurangi rasa sesak dalam dirinya. Ia mengangkat jarinya yang terdapat cincin pernikahan mereka, lalu mengelusnya dengan pelan. 

 

Aku harus bagaimana lagi, untuk meraih hatimu, Jaemin?)

 

*

 

"Renjun! Tumben sekali kamu menelpon. Ada apa?" 

 

Suara Yangyang tidak berubah. Masih sama– penuh antusias tiap kali ia berbicara dengan Renjun. Terakhir kali Renjun bertemu pria itu– dan juga sahabat lainnya, Jeno, sepertinya sebelum menikah dan setelahnya mereka hanya berkabar melalui pesan singkat atau di grup obrolan mereka bertiga. Renjun pernah diledek mereka berdua, terlalu sibuk untuk membuat janji dengan Jeno dan Yangyang karena menjadi 'pasangan baru' dan tidak mendapat izin untuk keluar rumah. Ia membalas ledekan itu hanya dengan sumpah serapahnya, lalu membiarkan omongan itu tidak menyinggungnya lagi. 

 

Mereka sebenarnya peduli pada Renjun, ia tau itu. Namun, karena tidak ingin terlalu dalam menarik mereka ke permasalahan yang ia buat sendiri, Renjun memutuskan untuk tidak menceritakan rumah tangganya pada siapapun, termasuk ibunya dan kedua sahabat dekatnya itu. 

 

Mendekati penghujung bulan November dan sebelum memasuki bulan dengan suasana penuh kehangatan karena Hari Natal, Renjun berencana mengajak bertemu keduanya. "Apa hari ini kamu sibuk?" 

 

"Aku tidak pernah sibuk untukmu, Renjunnie." Balas Yangyang. "Ada apa? Kamu butuh seseorang untuk mendengarkan drama pernikahanmu?" 

 

Renjun tertawa. "Kamu selalu bersemangat untuk mendengarkan itu, ya." 

 

"Tentu saja. Aku harus mengumpulkan bukti kalau pria itu tidak memperlakukanmu dengan baik, Renjunnie."

 

"Bukan seperti itu, Yangyang." Sanggah Renjun. "Aku hanya ingin bertemu kalian. Bisa bertemu malam ini jam 8?" 

 

"Seorang Renjun mengajak bertemu terlebih dahulu?" Tanya Yangyang melebih-lebihkan. "Tentu saja aku tidak bisa menolak." 

 

"Kamu itu berlebihan." Cibir Renjun tidak suka. "Nanti aku akan menelpon Jeno juga. Di tempat yang biasa, ya." 

 

"Roger that! Tapi, apa tidak terlalu malam?" Yangyang bertanya lagi untuk memastikan. "Jaemin– suamimu bagaimana?" 

 

"Tidak masalah." Jawab Renjun tegas. "Lagipula dia juga tidak akan mengetahuinya." Karena pria itu sudah tiga hari ini tidak pulang. Tanpa menunggu jawaban Yangyang lagi, Renjun mengucap salam sebelum menutup telepon. 

 

Begitu juga dengan Jeno– yang juga ia ajak untuk bertemu malam ini. 

 

[...]

 

Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Renjun tengah bersiap dengan pakaian terbaiknya– karena ia ingin pergi ke kelab malam bersama dua sahabatnya. Jeno menentang keras ajakan Renjun pada awalnya, mencoba menjadi yang paling rasional disini– karena Renjun masih terikat dengan seseorang secara hukum dan cincin yang melingkar di jarinya menjadi saksi statusnya sekarang. Renjun melawan apa yang Jeno katakan, dengan alasan itu semua hanya palsu belaka. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selain karena keduanya tidak boleh menggubris kehidupan pribadi masing-masing, toh Jaemin juga pernah menyuruhnya untuk mencari orang yang tepat untuknya– yang bisa menerima Renjun apa adanya. Lalu melupakan Jaemin yang selama ini Renjun perjuangkan tanpa dilihat sama sekali jeri payahnya.

 

Sudah lama sekali ia mengenakan riasan di wajahnya. Walaupun hanya menebalkan alisnya, menggunakan eyeshadow tipis di kelopak matanya, lalu sedikit blush di pipinya, dan pelembab untuk memberi kesan plump pada bibirnya. Pakaian yang digunakan Renjun malam ini baju satin berwarna putih dengan dua kancing yang ia biarkan terbuka, celana denim warna hitam, dan sentuhan kalung emas di lehernya menambah rasa percaya diri Renjun malam itu. Rambutnya ia tata dengan membiarkan beberapa helai jatuh di bagian depan dahinya dan menyisir sisanya ke bagian belakang. 

 

Terlalu sibuk merias dirinya membuat Renjun tidak sadar jika Jaemin sudah berada di rumah dan memperhatikannya dari pintu kamarnya. "Wow. Renjun." 

 

"Astaga." Renjun berbalik, dan Jaemin memalingkan wajahnya– tanpa sadar Renjun juga menutup bajunya yang terbuka dengan tangannya. "Sejak kapan kamu disitu?" 

 

"Baru saja." Jaemin berpura-pura sibuk dengan gagang pintu mereka sambil berbicara dengan Renjun. "Kamu..tidak bepergian dengan baju seperti itu, kan?" 

 

"Memangnya kenapa?" Renjun balik bertanya.

 

Jaemin menghembuskan napasnya pelan. "Cuaca di luar dingin, Renjun. Baju yang kamu pakai– itu tipis sekali. Kamu juga tidak memakai turtleneck dibaliknya." 

 

"Tidak masalah. Nanti di kelab juga pasti akan panas." Jawab Renjun tak acuh, mempercepat dirinya untuk merapikan penampilannya. 

 

Mendengar kata 'kelab' membuat Jaemin masuk ke dalam kamar mereka, mendekati Renjun. "Kamu mau pergi ke kelab? Dengan siapa?" 

 

Renjun melirik dari cermin. Jaemin sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya. "Yangyang dan Jeno. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka." 

 

"Apa harus di kelab? Kenapa tidak di kafe biasa kalian bertemu?" 

 

"Kamu ini kenapa?" Renjun bertanya sinis, suaranya tiba-tiba naik. "Apa aku pernah mengaturmu untuk harus begini harus begitu kalau mau melakukan sesuatu? Apa aku pernah tau dimana kamu bertemu dengan teman-temanmu? Atau alasan kamu makan bersama dari kantormu dan aku tidak pernah menanyakan apapun tentang hal itu?" 

 

Jaemin terdiam. 

 

"Aku tidak menuduhmu macam-macam, Jaemin. Aku hanya menjalankan apa yang tertulis di kontrak itu– sama sepertimu. Aku tidak mengganggu ranah pribadimu, harusnya kamu pun begitu." Renjun melanjutkan. Napasnya terengah karena terlanjur dibalut emosi. 

 

"Renjun, maaf–"

 

"Jangan minta maaf." Potong Renjun dengan ketus, lalu berbalik dan berjalan keluar kamar mereka. "Aku tidak tau kalau kamu pulang lebih awal. Maaf aku tidak menyiapkan apa-apa untuk makan malam." 

 

Renjun terus berjalan menjauhi kamar mereka, tanpa melihat arah Jaemin sekalipun.

 

Jaemin yang terdiam disana, merasa hatinya sangat tertohok dengan omongan Renjun dan hanya bisa mengacak rambutnya gusar saat melihat cincin pernikahan milik Renjun ada di atas meja riasnya.

 

[...]

 

Semenjak kejadian itu– keduanya kembali menjadi canggung. Renjun menghindari Jaemin saat sarapan, begitu juga Jaemin yang terus pulang telat karena tidak ingin melihat Renjun yang menghindarinya. Tidak ada percakapan hangat, maupun interaksi kecil dalam rumah sederhana mereka yang ditinggali bersama. 

 

Memasuki bulan Desember, pihak penerbit mengumumkan akan libur dalam dua pekan– dimulai dari malam natal sampai satu minggu setelah tahun baru. Renjun tentu saja senang mendengarnya, karena ia bisa terbebas sejenak dari tenggat waktu pengerjaan penulisannya. Renjun belum merencanakan kemana ia akan menggunakan liburannya. Awalnya, ia ingin mengajak Jaemin untuk mengunjungi ibunya di China, namun karena perselisihan mereka yang terjadi minggu lalu, Renjun mengurungkan niatnya dan belum mencari rencana cadangan tempat liburannya. 

 

Penghujung tahun berarti kantor Jaemin juga mengadakan acara tahunan karyawan– kumpul bersama seluruh karyawan dan juga pasangannya bagi mereka yang sudah menikah. Jaemin pernah membicarakan ini sebelumnya, tapi Renjun belum mendengar ajakannya langsung sampai saat ini. Toh, mengingat waktu ia ke kantornya dulu, Renjun tidak yakin Jaemin akan mengajaknya ke acara kantornya itu. 

 

Renjun keluar dari ruang studinya– tempatnya untuk mengerjakan naskahnya saat bersamaan Jaemin juga pulang dengan kondisi sangat memprihatinkan. 

 

Kedua matanya lesu, hidungnya yang memerah, dan tubuhnya sempoyongan dan hampir jatuh jika saja ia tidak berpegangan dengan tembok di sebelahnya. Renjun yang melihat itu langsung bergegas dari tempatnya. "Jaemin!" 

 

Mendengar Renjun memanggilnya, Jaemin terkekeh pelan. "Renjunnie~" 

 

Ia langsung memegang kening Jaemin. Panas. "Astaga!" Lalu, dengan sigap ia membantu Jaemin berjalan menuju sofabed ruang tengah mereka. Jaemin meringis pelan saat berbaring disana, mencengkram kepalanya dengan kencang. "Badanmu panas sekali. Aku buatkan kompres sebentar, ya?" 

 

Anggukan lemah dari Jaemin dan Renjun langsung menuju dapur mereka untuk menyiapkan kompres air hangat, air minum, dan juga obat pereda panas untuk Jaemin. Setelah meletakkannya di meja, ia beranjak untuk mengambil baju tidur milik Jaemin dan juga selimut tebal. Meletakkan barangnya itu di sofa yang lain, Renjun langsung berlutut lagi di sebelah Jaemin dan membasuh kening Jaemin dengan kompresan air hangat yang telah ia siapkan. 

 

"Kamu itu tipikal orang yang jarang sakit. Kalau sudah seperti ini, berarti beban kerjamu sedang parah-parahnya, ya?" Renjun bergumam sendiri, membasuh kening dan wajah Jaemin dengan handuk hangat itu. 

 

"Sekalinya kita mengobrol, pasti ada yang sakit." Renjun terkekeh pelan. "Yah walaupun ini tidak terhitung sebagai 'mengobrol' karena kamu sedang tidur." 

 

"Aku waktu itu sudah keterlaluan, ya? Sebelum aku pergi bersama Jeno dan Yangyang." Renjun kembali berbicara. "Maaf. Aku tidak bisa mengontrol amarahku saat itu." 

 

"Tidak, Renjunnie." Balas Jaemin dengan suara parau. Renjun sedikit terperanjat, jadi pria ini belum tidur? "Wajar kamu melakukannya. Aku juga pasti marah jika berada di posisimu." 

 

"Sudahlah. Jangan dipaksakan dulu untuk berbicara." Renjun memotong Jaemin lagi. "Kita bicarakan nanti setelah kamu sembuh. Kamu bisa bangun sebentar? Ganti bajumu dulu." 

 

Jaemin menoleh ke arah Renjun. "Bisa bantu pakaikan?" Renjun melotot ke arah Jaemin dan memukul pelan perut pria itu. Jaemin (berpura-pura) kesakitan, lalu menyunggingkan bibirnya saat Renjun membantunya berdiri. "Renjunnie." 

 

"Hm?" 

 

Mendekatkan bibirnya ke pelipis Renjun, Jaemin mencium bagian itu dengan hidungnya. "Terima kasih." 

 

Renjun tidak bersuara, hanya wajahnya yang kembali menjadi merah, dan detak jantungnya yang tidak karuan saat Jaemin mengecup pelipisnya. 

 

[...]

 

Pertengahan Desember, Renjun telah menyelesaikan penyusunan naskahnya dan semua file telah dikirim pada editornya untuk disunting terakhir kali, sebelum diteruskan pada pihak penerbit dan percetakan. Ia hanya perlu datang ke kantor penerbit untuk memastikan berapa eksemplar yang akan dicetak untuk cetakan pertama novelnya, sebelum diserahkan ke pihak percetakan. 

 

Jaemin juga masih sibuk seperti biasa– dan ajakan untuk datang ke acara kantornya itu belum juga keluar dari mulutnya. Renjun tidak akan bertanya, toh itu acara dari kantor Jaemin dan ia tidak berhak untuk ikut. Pada akhirnya, Renjun mengabari ibunya jika ia akan berlibur kesana dan akan tiba 2 malam sebelum malam natal. Saat Mama Huang bertanya apa dia pulang bersama Jaemin, dengan berat hati Renjun menjawab, tidak, Ma, Jaemin sibuk dengan pekerjaannya . Mama Huang tentu saja sedikit kecewa, karena ia ingin melihat menantunya itu datang ke tempat asalnya. Renjun berkilah, nanti akan aku ajak lagi saat perayaan Imlek, ya? dan wanita itu kembali senang dengan tawaran Renjun. 

 

Ibu Na sebelumnya juga pernah menelpon, mengajak Renjun untuk berlibur di kediaman Na di Jeonju selama pekan natal. Jaemin yang waktu itu baru saja sampai rumah dan selesai bersih-bersih, melirik Renjun sejenak, sebelum memberi jawaban akan kami kabari lagi, Bu . Jaemin memberi alasan ia tidak bisa ke Jeonju selama sepekan karena bisa saja pihak kantornya tiba-tiba menelpon dan akan sulit berkoordinasi jika ia berada di luar daerah. Renjun membalasnya dengan bisa kamu lupakan pekerjaanmu itu setidaknya hanya untuk beberapa hari? Bukan untukku, tapi demi Ibumu, Jaemin. Jaemin hanya mengangguk dan tidur membelakangi Renjun pada malam itu. 

 

Renjun membuang napasnya pasrah. Jalan 10 bulan pernikahannya, Renjun merasa hubungan keduanya tidak kemana-mana. Ya– memang pada awalnya pernikahan ini diadakan untuk membantu Renjun untuk merubah statusnya. Lalu, seiring berjalannya waktu, setitik harapan dalam hatinya terus berharap agar Jaemin menyayanginya layaknya perasaan Renjun pada pria itu. Suatu kesalahan besar, karena sepertinya Jaemin tidak akan menyentuh ranah itu. Dia masih sibuk dengan dunianya sendiri, dan menjalankan peran 'pasangan' hanya karena formalitas belaka. 

 

Perih sekali. 

 

Memang seharusnya dari awal Renjun tidak mengambil langkah ini dan menjerumuskannya pada perasaan tak terbalas ini. 

 

Ia melirik figura yang berada di nakas sebelah tempat tidurnya. Foto itu memang tidak dipindahkan, tapi posisinya juga tidak membantu Jaemin untuk 'melihat' Renjun yang selalu ada di sampingnya. Bahkan ketika pria itu sudah menyakitinya lagi dan lagi, Renjun masih tetap di samping pria itu. Renjun beranjak dan mengambil figura itu. Memperhatikan wajah mereka yang tersenyum– Renjun dengan senyum tulusnya dan Jaemin dengan senyuman formalnya. Renjun merutuki dirinya sendiri– ternyata sejelas ini, ya?

 

Renjun mengeluarkan foto itu dari figuranya dan meletakkan kembali figura kosong ke tempat semula. Ia menatap foto itu lagi dan setetes air jatuh ke atas foto itu. Satu tetes. Dua tetes. Tidak lama kemudian, Renjun mulai sesenggukan. Tangisannya pilu, menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Renjun mendekap foto itu dengan kedua tangannya, dan meluapkan semua emosi yang telah ia pendam beberapa bulan ini. 

 

Keputusannya sudah bulat. Ia sudah yakin dengan banyak hal yang sudah ia pikir matang-matang. Walaupun nantinya ada pihak yang membencinya, Renjun tidak peduli. 

 

Yang terpenting, Jaemin bisa bahagia– setidaknya ia bisa menemukan dirinya sendiri dulu, sebelum bersama dengan Renjun lagi nantinya. 

 

***

Notes:

So, um, hi?

PLEASE DONT SUE MEEE. *hides behind Renjun and Jaemin*

Anyone who voted not to split the story into chapters.. I apologize. Ceritanya harus aku potong dulu sampai disitu karena kalau semakin dilanjutkan, menurutku sangat menguras tenaga alias SEDIHNYA BELUM KELAR SHAY. :)

REST ASSURED. Ini ADA lanjutannya dan HAPPY ENDING. Kelanjutannya akan ditulis dari POV Jaemin dan mengulik bagaimana pikiran Jaemin selama berjalannya pernikahan 'paksa' dengan Renjun. Nggak terlalu panjang (hopefully), dan lebih banyak narasi monolog pribadi Jaemin dibanding dialog antar karakter.

Oh! Satu lagi. Maaf karena ada beberapa member dreamies yang memang belum muncul di cerita ini. Alur ceritanya aku buat demikian karena akan muncul di POV Jaemin ;).

Kritik dan saran sangat terbuka untuk penulisanku berikutnya. Terima kasih bagi teman-teman yang sudah membaca sampai sini. Sehat selalu dan jangan lupa bahagia! <3

Kudos and comments are very much appreciated! <3

 

 

say hi!
lets hype jmrn together!

Series this work belongs to: