Actions

Work Header

Macan Kumbang

Summary:

Tolooong ada macaaan!!!

Notes:

FICTION.

How long has it been since the last time I posted a fanfic? More than six months, I guess. I don't know. I'm sorry for keeping you guys waiting. Besides having writer's block, last year was also one hell of a ride. Seriously, 2025 f-ed me up so badly. And this year, even the first two weeks of January, damn! Lost count of how many times I cried. Anyways, I don't mean to vent to you guys, I'm here to share a little something I wrote in the midst of chaos. I'm sorry if it's weird. I'm also aware that my writing style might feel kind of inconsistent, I'm just an amateur writer and still learning. But you know, if you guys pay attention more closely, there's always a piece of me in every work I write :)

Also, I wrote this because JEONGCHEOL AND MINWON HAD A DOUBLE DATE!!!

Okay, enough rambling.

Hope you guys like this one.

Enjoy reading!
(⁠ ⁠◜⁠‿⁠◝⁠ ⁠)⁠♡

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tenda kemah itu bergoyang. Bukan sebab angin yang bertiup kencang, melainkan ada dua orang lelaki yang sedang sibuk bersanggama dengan penuh gairah di dalamnya. Tak ada satu pun dari kedua lelaki tersebut menaruh peduli sama sekali jika kelak tenda kemah itu menimpa tubuh telanjang mereka yang basah oleh peluh yang meluruh bagaikan air terjun nan jauh di pedalaman yang belum terjamah tangan-tangan nakal tak bermoral.

Tenda kemah itu bergoyang. Terus bergoyang meskipun kini hujan mulai datang. Tik. Tik. Tik. Begitulah bunyinya. Rintik-rintik menggelitik ketika menyentuh kulit, tetapi kedua lelaki itu masih juga tak peduli sebab ada tenda kemah yang melindungi tubuh telanjang mereka yang kini telah berganti posisi menjadi lelaki satu merebah sementara lelaki yang lainnya duduk sedikit berjongkok di atas lelaki yang merebah, tepat di sekitar batang kemaluannya yang keras mengacung. Duduk sedikit berjongkok sambil bergerak naik-turun, lalu maju-mundur, kadang juga berputar-putar pinggulnya layaknya sedang berkuda, tetapi kuda yang ditunggangi sedikit gila. Oh, tunggu. Bukan gila, sebenarnya. Lebih seperti sedang dimabuk cinta.

Kedua lelaki dengan tubuh telanjang di dalam tenda kemah yang bergoyang itu bersanggama karena mereka memang saling cinta.

Cinta mati.

Cinta selama-lamanya.

Tenda kemah itu bergoyang. Masih bergoyang terus-menerus tiada henti bahkan ketika lelaki yang duduk sedikit berjongkok di atas batang kemaluan keras mengacung milik lelaki yang tengah merebah itu mencondongkan badannya ke depan dengan kepalanya yang dihiasi rambut kehitam-hitaman panjang sebahu tergerai indah mulai mendekati wajah lelaki yang merebah. Ia perlahan mendaratkan satu kecupan pada bibir tebal merah muda yang kian membengkak. Satu kecupan itu pun berubah menjadi sebuah sesi ciuman yang panjang. Ketika bibir-bibir yang bertemu saling melumat, dan di saat bersamaan itu pula lidah-lidah yang terjulur saling bertaut. Pun adakalanya sewaktu gigi-gigi putih saling terbentur, maka lahirlah tawa-tawa renyah yang membuat dada-dada bidang bergetar bersama.

Tenda kemah itu bergoyang. Tetap bergoyang bahkan saat lelaki yang merebah itu meremas bokong mulus milik lelaki yang duduk sedikit berjongkok. Diremas, dipijat, dan sesekali juga dicubit sampai-sampai melahirkan desahan di sela-sela ciuman mahadahsyat yang belum usai dilakukan oleh kedua lelaki tersebut. Beragam suara nista tanpa henti hadir akibat kenikmatan tiada tara dan terdengar bercampur di antara tangisan angkasa yang belum juga sirna.

Dan tiba saatnya ketika pagutan kedua lelaki dengan tubuh telanjang bersanggama di dalam tenda kemah yang bergoyang itu pun terlepas. Percumbuan panas akhirnya tuntas, sementara keduanya masih berusaha mengatur napas.

Tenda kemah itu bergoyang. Memang tidak bergoyang sekencang semenit yang lalu, tetapi kedua lelaki dengan tubuh telanjang itu masih melanjutkan sanggama mereka meskipun juga tidak sehebat sebelumnya. Lelaki yang merebah masih tetap merebah, sementara lelaki yang duduk sedikit berjongkok kemudian badannya menjadi condong ke depan itu justru lagi-lagi berganti posisi. Ia sudah tak lagi duduk sedikit berjongkok dengan badan yang dicondongkan ke depan sebab sekarang ia telah sepenuhnya berbaring di atas tubuh berotot lelaki yang merebah. Kedua kakinya yang panjang nan ramping menekuk canggung dengan pinggulnya yang masih bergerak itu terus naik-turun, lalu maju-mundur, dan kadang juga berputar-putar meskipun kini mulai perlahan-lahan melambat.

Tenda kemah itu bergoyang. Bukan lagi angin yang bertiup kencang ataupun persanggamaan bergairah dengan sejuta cinta yang membahana, melainkan sebab ada sesuatu di luar sana yang datang tak diundang.

Tenda kemah itu bergoyang.

Terus bergoyang.

Masih bergoyang.

Berguncang-guncang.

Kiri-kanan. Atas-bawah.

Sreet. Sreeet. Whooosshh.

Tenda kemah itu pun akhirnya tak bergoyang. Berhenti bergoyang sebab tak ada lagi tenda kemah yang bisa digoyangkan. Sesuatu yang datang tak diundang itu telah meluluhlantakkan semuanya. Segalanya hancur tak tersisa, kecuali dua orang lelaki dengan tubuh telanjang yang sibuk bersanggama. Hanya mereka berdua yang utuh tak tersentuh yang kini lantas mematung.

Keintiman tak lagi saling menyatu namun napas yang berembus masih berderu menggebu-gebu. Tik. Tik. Tik. Sialnya, tanpa ada tenda kemah yang melindungi mereka berdua, kedua lelaki itu pun tubuh telanjangnya mulai basah kuyup. Bukan sebab peluh hasil dari persetubuhan liar, melainkan guyuran hujan yang kian bertambah deras sederas-derasnya aliran air keran tembok yang lupa ditutup.

Tenda kemah itu sudah tak bergoyang. Sungguh berhenti bergoyang dan meninggalkan banyak kenangan. Kedua lelaki bertubuh telanjang kini telah kembali berpakaian. Sesuatu yang datang tak diundang yang merusak ketenangan mereka melangkah pergi meninggalkan jejak-jejak kaki bercakar tajam. Melangkah menjauh menerobos hamparan kabut tebal.

“Kenapa ia tak jadi memangsa kita, ya?” lelaki yang tadi sempat duduk sedikit berjongkok di atas batang kemaluan lelaki yang merebah itu bertanya keheranan. Rambut kehitam-hitaman panjang sebahu yang tergerai indah menghiasi kepalanya kini diikat tak beraturan dengan satu karet gelang. Kedua matanya yang sebesar biji badam menatap lurus ke depan.

“Sepertinya bukan kita yang macan kumbang itu cari.” Lelaki yang merebah sekarang sudah berdiri gagah. “Lagi pula menurutku ia tak suka dengan bau bercinta kita.” Ia melirik ke bawah, lalu menjulurkan satu tangannya yang dipenuhi urat-urat yang menjalar seperti akar. “Mau cari tahu?” ajaknya dengan lesung pipit di muka.

“Tapi, bagaimana dengan tenda kemahnya?”

“Tak apa. Biarkan saja. Ayo!”

Tenda kemah itu sudah tak bergoyang dan kini benar-benar dilupakan. Dua orang lelaki itu pun sekarang tak lagi telanjang. Tubuh bermandikan peluh dan terguyur air hujan telah seluruhnya tertutup pakaian. Keduanya berjalan beriringan menyusuri lebatnya pepohonan. Bersama-sama menerobos hamparan kabut tebal untuk mencari sesuatu yang datang tak diundang yang mereka sebut macan kumbang.

“Hujannya tambah deras. Aku jadi makin sulit melihat,” lelaki yang rambut kehitam-hitaman panjang sebahunya telah diikat tak beraturan itu bergumam. Ia melompat melewati kubangan di tengah jalan setapak. “Bukannya seharusnya ia bersembunyi di sarangnya saat hujan begini? Menurutmu, ia mau pergi ke mana?” lanjutnya bertanya masih keheranan.

“Mungkin ada yang mengganggu ketenangan macan kumbang itu,” jawab lelaki yang lesung pipit di mukanya tampak kian jelas. Ia berada di depan seakan menjadi pemandu jalan.

“Seperti ia yang mengganggu kita bercinta.”

“Bukan salah macan kumbang itu.”

“Tapi, tadi aku sudah hampir klimaks tahu.”

“Iya, tapi memang bukan salah macan kumbang itu. Ini rumahnya. Kita di sini hanyalah tamu.”

“Iya, tapi, kenapa pula ia merusak tenda kemah kita? Apa mungkin kita yang sebenarnya sudah mengganggu ketenangannya?”

“Pikirku bukan begitu.”

“Lalu, siapa?”

Tenda kemah itu sudah tak bergoyang dan kini tak lagi tampak di penglihatan. Ketika seluruh kabut tebal menghilang dan angkasa akhirnya berhenti meluruhkan tangisan, dua orang lelaki yang tubuh telanjangnya telah berpakaian itu pun berhenti sewaktu mendengar suara bedil yang dimuntahkan.

“Kau dengar itu?”

“Iya, jelas sekali.”

“Haruskah kita sembunyi?”

“Sepertinya.”

Tenda kemah itu sudah tak bergoyang dan kini tak lagi ada yang tahu kondisinya sekarang. Tak bisa jadi pelindung bagi dua orang lelaki itu dan pada akhirnya mereka berdua pun memutuskan bersembunyi di balik semak-semak. Deg. Deg. Deg. Entah jantung siapa yang berdegup lebih kencang, tetapi kedua lelaki tersebut sama-sama membelalakkan mata.

Kretek. Kretek. Duaarr!

Gedebuk!

“T-tolong… tolong…”

Bila saja tenda kemah itu masih bergoyang, dua orang lelaki yang saat ini bersembunyi di balik semak-semak tak harus menyaksikan peristiwa yang sedang terjadi tepat di depan mata kepala mereka sekarang. Oleh sesuatu yang datang tak diundang yang mereka sebut macan kumbang itu tergeletak bersimbah darah seseorang yang terus-menerus meronta-ronta meminta kepada keduanya agar segera diberi pertolongan. Ada banyak luka menganga di sekujur tubuhnya dan satu yang paling parah berada tepat di dada.

“Sebaiknya kalian berdua segera pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran. Jangan buat aku menyesali keputusanku yang telah membiarkan kalian berdua tetap hidup. Pergilah! Cepat pergi sekarang juga!”

Bila saja tenda kemah itu masih bergoyang dan dua orang lelaki itu belum juga menyelesaikan persanggamaan mereka, maka keduanya takkan pernah bertemu apalagi melihat secara langsung sesuatu yang datang tak diundang yang mereka sebut macan kumbang itu berdiri dan berbicara layaknya seorang manusia berakal. Makhluk itu menatap kedua lelaki tersebut dengan sepasang matanya yang tajam. Pun tak luput seringainya yang tampak mematikan ditunjukkan membuat keduanya seketika lari terbirit-birit tiada peduli sedikit pun untuk menengok lagi ke belakang.

Bila saja… 

Bila saja…

Tenda kemah itu telah lama diam dan takkan pernah kembali lagi bergoyang sampai akhir zaman datang. Ditinggalkan, dilupakan. Sebab dua orang lelaki yang dulu sempat bersanggama berbagi cinta seluas jagat raya di dalamnya itu tak lagi mempunyai keberanian untuk mengusik rumah milik ia yang pada hari itu datang tak diundang yang mereka sebut macan kumbang.

Bila saja…

Notes:

Posted on my Medium as well, Macan Kumbang by @latibulemeus

Series this work belongs to: