Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of If Animals Could Talk...
Stats:
Published:
2024-10-11
Words:
1,064
Chapters:
1/1
Kudos:
34
Bookmarks:
2
Hits:
901

Lompatlah Kelinci Putih

Summary:

Kejarlah kelinci putih itu sampai tahu apakah semuanya memang benar nyata atau hanya khayalan semata.

Notes:

Everything happened in this story is FICTION and I miss cheolhan so much 💔

Enjoy reading!
( ◜‿◝ )♡

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Di pekarangan rumah tua yang diselimuti rerumputan hijau, melompat seekor kelinci seputih salju pertama di musim dingin. Ada lubang kecil di bawah pohon ceri yang sepertinya merupakan sarangnya. Seungcheol tahu, karena setiap hari ia memperhatikan binatang bersurai halus itu keluar masuk ke dalam sana.

Sampai pada akhirnya, di suatu pagi tepat setelah mentari menampakkan diri, kelinci putih itu menyelinap lewat pintu belakang rumah tua yang lupa dikunci oleh si empunya. Seungcheol tidak melarangnya, membiarkan hewan itu meminum air dari mangkuk kecil di dapur milik anjing peliharaannya yang juga berwarna bak awan ketika tidak hujan.

Semakin diberi kebebasan, kelinci putih itu bahkan menganggap rumah tua adalah tempat tinggal barunya. Saban hari sepulang kerja, Seungcheol tidak hanya membeli pakan untuk anak anjingnya, tetapi juga untuk si kelinci itu.

Rasa kesepian Seungcheol setelah ditinggal sang kekasih sirna sudah, sebab ia kini mendapatkan dua ekor peliharaan yang selalu menyambutnya sesaat setelah pintu utama terbuka.

"Hai, Kkuma! Halo, Hannie!" sapanya sembari melepas sepatu kulit hitam yang ia pakai.

Hannie.

Kelinci putih itu sudah Seungcheol beri nama tiga hari yang lalu. Hanya nama hasil sembarang bicara yang entah apa artinya. Sementara itu, Kkuma adalah nama anjing kecil pemberian mendiang belahan jiwanya yang sudah tertanam berbaur menjadi satu dengan cacing-cacing penghuni tanah.

Hannie—Si Kelinci Putih—tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Pemalu, pikir Seungcheol. Berbanding terbalik dengan Kkuma yang gemar menggonggong penuh semangat seakan-akan meminta diberi banyak perhatian. Digendong keduanya setelah tas kantor diletakkan di meja dekat gantungan mantel.

"Kalian pasti lapar," duga Seungcheol dengan suara yang dibuat-buat. "Sebentar, ya. Papa bersih-bersih dulu. Setelahnya, kalian berdua makan malam yang banyak. Sampai pingsan bila perlu," lanjutnya menjelaskan sambil tertawa sendiri.

Kkuma lagi-lagi menggonggong dengan kepalanya yang kecil dimiringkan. Sedangkan Hannie, kelinci putih itu masih terdiam. Yang berbeda darinya hanyalah kedua matanya membulat sempurna.

Di malam yang sunyi senyap, seluruh rumah tua tampak temaram karena tidak semua lampu yang terpasang dinyalakan oleh Seungcheol. Kedua makhluk kecil menggemaskan itu juga sudah terisi penuh perut mereka. Si pemilik sendiri belum menyantap apa pun. Masih kosong, hanya diisi secangkir kopi hitam dan sepotong roti keju yang keduanya bersamaan dinikmati sewaktu makan siang tadi. Belum lapar, katanya pada diri sendiri.

Biasanya kekasihnya yang mengingatkan Seungcheol untuk makan tiga kali sehari dan minum banyak air putih. Kini, berpulang sudah ia dan lelaki berlesung pipit itu tak lagi mengurusi dirinya dengan benar.

Persetan dengan semuanya.

Masa bodoh.

Lagi-lagi, Seungcheol tertawa kepada entah siapa. Ruang kamarnya gelap gulita. Yang menjadi satu-satunya sumber cahaya hanyalah layar monitor gawai yang ia pakai untuk menyusun semua pekerjaan yang terpaksa dibawa pulang karena belum usai.

"Sayang?"

Mungkin Seungcheol memang merindukan yang telah lama tiada. Mungkin juga ia berhalusinasi karena hari ini ia lupa meminum obat yang sudah diresepkan dokter spesialis kejiwaannya.

Mungkin…

Mungkin kesayangannya memang kembali setelah berhasil kabur dari rengkuhan bumi.

"Sudah berapa kali aku katakan padamu untuk jangan terlalu sering meminum kopi sialan itu," omel suara yang Seungcheol sangat rindukan. "Kamu juga belum makan nasi malam ini, ‘kan?" lanjutnya bertanya. Nada suaranya berubah melembut seketika.

Dari ranjang yang ia duduki, di ambang pintu ada siluet hitam yang Seungcheol sangat yakin awalnya berbentuk seperti seekor kelinci. Akan tetapi, bayangan itu berubah wujud seutuhnya menjadi seseorang yang selamanya akan dicintai olehnya.

Jeonghan kembali.

Rembulan menyinari punggungnya dari lubang-lubang kecil yang terdapat di langit-langit rumah tua. Wajahnya tetap sama seperti terakhir kali Seungcheol ingat, hanya saja rambut panjangnya berbeda.

Putih seperti warna surai kelinci yang menghuni lubang di bawah pohon ceri.

Seungcheol mengerjap. "Kamu kembali," ucapnya masih tidak percaya.

"Memangnya aku kemana?" timpal Jeonghan terkekeh. Separuh beban tubuhnya sudah dijatuhkan ke atas ranjang usang. "Aku selalu di sini, bersamamu."

Tanpa membalas, Seungcheol langsung menerjang tubuh ramping Jeonghan. Dia tersentak. Lelaki itu akhirnya membaringkan diri sepenuhnya. Pasrah. Diberikan semua izin kepada yang kini menitikkan butiran mutiara dari sepasang netra legamnya.

"Aku juga merindukanmu," ungkap Jeonghan sebelum bibir merah mudanya menyatu dengan milik Seungcheol.

Seungcheol tidak mengutarakan secara langsung, tetapi dari semua bahasa tubuhnya dapat diartikan demikian. Dia justru bersyukur karena Jeonghan mengerti emosi yang memegang kendali atas kemudi di pikirannya saat ini.

Rindu bukan main.

Namun, kini separuh jiwanya telah kembali.

Percumbuan masih berlanjut sampai-sampai air liur menetes dari sela-sela bibir mereka yang terbuka. Lidah keduanya bertaut. Lengan-lengan berusaha saling memeluk.

Rindu. Rindu.

Seungcheol amat rindu.

Samar-samar dapat didengar Kkuma yang kembali menggonggong. Untuk malam ini, Seungcheol terpaksa tidak peduli dengan anak anjing yang malang itu. Ada yang jauh lebih penting untuk saat ini; Seungcheol tidak akan membiarkan yang telah kembali untuk hilang lagi.

Hannie.

Kelinci putih itu pasti sedang tertidur malam ini. Dia tidak membuat suara. Tidak seperti Kkuma.

Tangan dengan jemari lentik menyelinap ke dalam celana piama yang Seungcheol kenakan. Meraih miliknya yang sudah setengah menegang, kemudian langsung dipuaskan.

Rindu.

Seungcheol rindu merasakan kenikmatan.

Sudah bosan ia setiap hari merasakan kesengsaraan.

Akan tetapi, pada malam ini, Jeonghan kekasihnya telah kembali.

"Jeonghan," lirih Seungcheol kala dirasa putihnya hendak sampai. "Jangan pergi lagi," gumamnya yang menyatu dengan erangan.

"Aku selalu di sini, sayangku. Bersamamu," janji Jeonghan yang Seungcheol harap bukan sebuah bualan.

Yang diingat terakhir kali oleh Seungcheol sebelum penglihatannya memburam sehabis mencapai puncaknya, yaitu Jeonghan yang berdiri mengawasi dirinya yang lemas di atas ranjang. Sebuah senyum simpul menghiasi wajahnya yang rupawan. Dari ambang pintu seperti awal tadi. Lambat laun, tubuh kecil lelaki itu menghilang seperti dimakan oleh kegelapan dan lagi-lagi kembali menjadi siluet hitam.

Mungkin…

Mungkin malam ini hanyalah sebuah bunga tidur.

Mungkin Seungcheol hanya memimpikan Jeonghan yang kembali ke dalam rangkulannya.

Mungkin juga ia memang sudah kehilangan kewarasannya.

Yang menjadi satu-satunya pertanyaan adalah seburuk apa halusinasi dan delusi yang Seungcheol derita hingga dirinya bisa melihat bayangan itu sekali lagi menjadi bayangan seekor kelinci?

Selanjutnya, tidak ada lagi suara-suara yang berbisik di dalam kepala sebab lelaki berlesung pipit itu akhirnya terlelap pulas.

Ketika kicauan burung-burung yang mendiami pohon ceri di pekarangan rumah tua membangunkannya dari tidur panjang dan nyenyak untuk pertama kalinya setelah malam-malam penuh kegelisahan, Seungcheol disambut hangat oleh dua ekor binatang mungil yang melompat-lompat penuh kegirangan di atas tubuhnya yang terbalut selimut.

Anak anjing yang berisik dan kelinci putih yang sekarang berdekus kecil.

Seungcheol terkejut, lalu ia tertawa lepas.

Pagi itu, ia memberi makan Kkuma dan Hannie seperti biasanya.

Pagi itu juga, Seungcheol menyadari kalau ia telah menamai si kelinci putih dengan panggilan kesayangan yang ia berikan pada Jeonghan dahulu kala.

Mungkin…

Mungkin malam tadi, ia benar-benar bermimpi.

Mungkin malam tadi, Jeonghan miliknya kembali hanya sekadar mengunjungi dirinya yang rindu seperti hampir mati.

Notes:

Posted on my Medium as well, Lompatlah Kelinci Putih by @latibulemeus

Series this work belongs to: